Volume 8 | Nomor 2 | Tahun 2025 | Halaman 409Ai422 E-ISSN 2615-8655 | P-ISSN 2615-725X http://diglosiaunmul. com/index. php/diglosia/article/view/1154 Transformasi penerjemahan bentuk seksisme dalam novel Pasung Jiwa ke dalam novel Bound Translation transformations of sexism in the novel Pasung Jiwa into Bound Arina Haque1,* & Sajarwa2 Universitas Gadjah Mada Bulaksumur. Depok. Sleman. Indonesia *Email: arinahaque@mail. Orcid: https://orcid. org/0009-0007-7301-8593 Email: sajarwa@ugm. Orcid: https://orcid. org/0000-0002-4862-2664 Article History Received 3 January 2025 Revised 22 April 2025 Accepted 4 May 2025 Published 8 June 2025 Keywords transformation in translation. Pasung Jiwa. Kata Kunci transformasi penerjemahan. Pasung Jiwa. Read online Scan this QR code with your smart phone or mobile device to read online. Abstract This research aims to seek the transformation that occurs in the translation of the sexism forms in the novel Pasung Jiwa, and its translation of the novel Bound. Research data was collected by observing and taking notes, which were then analyzed using the translational equivalence method and then described descriptively-qualitatively. The form of sexist speech is identified using the theory of Glick and Fiske. The meaning of the data obtained was searched using the KBBI VI monolingual dictionary and the Merriam-Webster dictionary. The types of transformation found in the translation is identified using the theory of Proshina, and the transformation will be analyzed lexically. The research results show that there are 48 forms of sexism by Glick and Fiske out of a total of three types of sexism, namely Hostile sexism. Benevolent sexism, and Ambivalent sexism. After identifying the forms of sexism that were found, the next transformation of lexical changes was that a total of 63 data were found with details of the data that appeared most frequently to those that appeared least, namely generalization, modulation, specification, compensation, metaphorical transformation, and finally differentiation. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat transformasi yang terjadi dalam penerjemahan bentuk seksisme dalam novel Pasung Jiwa dan terjemahannya novel Bound. Data penelitian dikumpulkan dengan simak-catat yang selanjutnya dianalisis dengan metode padan translasional lalu dijabarkan secara deskriptif kualitatif. Bentuk ujaran seksisme diidentifikasi menggunakan teori dari Glick dan Fiske. Data yang diperoleh dicari maknanya menggunakan kamus ekabahasa KBBI VI dan Merriam-Webster dictionary. Jenis transformasi yang terdapat dalam terjemahan diidentifikasi menggunakan teori dari Proshina, dan hanya akan dianalisis transformasinya secara leksikal. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 48 bentuk seksisme yang dikemukakan Glick dan Fiske dari total tiga jenis seksisme, yaitu seksisme Hostile, seksisme Benevolent, dan seksisme Ambivalent. Setelah diidentifikasi bentuk seksisme yang ditemukan, selanjutnya transformasi perubahan secara leksikal yang ditemukan sejumlah 63 data dengan rincian data yang paling sering muncul hingga yang paling sedikit yaitu generalisasi, modulasi, spesifikasi, kompensasi, transformasi metaforis, dan terakhir A 2025 The Author. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya by Universitas Mulawarman How to cite this article with APA style 7th ed. Haque. , & Sajarwa. Transformasi penerjemahan bentuk seksisme dalam novel Pasung Jiwa ke dalam novel Bound. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya, 8. , 409Ai422. https://doi. org/10. 30872/diglosia. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya is an open access article under the terms of the Creative Commons Attribution-Share Alike 0 International License (CC BY-SA 4. Arina Haque & Sajarwa Pendahuluan Ujaran ataupun perilaku terkait seksisme seolah menjadi tolak ukur perempuan dan laki-laki dalam menjalani peran berkehidupan di masyarakat. Sebagai contoh, stereotip memasak identik dengan pekerjaan domestik yang harus dilakukan perempuan dan akan dipandang tabu bila dilakukan laki-laki. Sudut pandang mengenai citra perempuan adalah sebagai manusia yang berkarakter lembut, identik dengan bunga, sedangkan laki-laki adalah sosok yang digambarkan cerdas, memiliki jiwa kreatif, dan aktif (Gani & Marizal, 2. Stereotip ini dibentuk bukan hanya oleh laki-laki, melainkan juga perempuan itu sendiri. Perilaku semacam ini disebut dengan Permasalahan terkait seksisme sering menjadi suatu hal yang kontroversial di kalangan Kesetaraan identitas gender, yang menjadi respons dari wujud seksisme, sering digaungkan ketika banyaknya kasus bagaimana masyarakat hanya melihat gender dari dua jenis, gender feminin . mumnya berkaitan dengan hal yang serba perempua. dan gender maskulin . mumnya berkaitan dengan hal yang serba laki-lak. Seksisme, atau yang dikenal juga sebagai ketidaksetaraan dalam gender, adalah perilaku dan pembenaran terhadap nilai suatu gender di mana salah satunya dianggap kurang dari gender lainnya (Manggarrani et al. , 2. Dalam masyarakat heteroseksual, identitas gender yang tidak termasuk dalam kategori feminin dan maskulin, sering dipertanyakan oleh sebagian besar kalangan dan menganggap variasi gender . i luar feminin dan maskuli. sebagai hal yang janggal dikarenakan bertentangan dengan tatanan sosial yang telah dianut dan dijalankan oleh masyarakat heteroseksual selama ini (Razan et al. Selain di masyarakat, fenomena stereotip seksisme ini dapat ditemui dalam berbagai media, salah satunya novel. Dalam novel berjudul Pasung Jiwa karya Okky Madasari yang terbit tahun 2013, ditemukan bentuk seksisme yang kebanyakan ditujukan kepada tokoh utama karena berperilaku tidak sesuai stereotip masyarakat yang terbentuk. Sebagai latar belakang penulis. Okky, yang merupakan lulusan Magister Sosiologi di Universitas Indonesia, terkenal dengan kritik sosialnya dengan karya-karya yang menyoroti isu-isu sosial, seperti ketidakadilan dan diskriminasi, dan terutama, tentang kemanusiaan. Dalam novelnya. Pasung Jiwa. Okky mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang umat manusia dan kemanusiaan. Sebuah perjuangan muncul antara dua tokoh utama. Sasana dan Jaka Wani, dalam pencarian kebebasan dari semua hambatan pikiran dan tubuh, hambatan yang dipaksakan oleh tradisi dan keluarga, masyarakat dan agama, hingga dominasi ekonomi dan belenggu otoritas (Team, 2. Novel Pasung Jiwa merupakan AosuaraAo Okky mengenai bentuk diskriminasi stereotip yang dituangkan dalam bentuk Ketika novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, maka terjadilah transformasi sebagai proses ekuivalensi bahasa karena penerjemah akan menyesuaikan target pembaca di bahasa Catford . menjelaskan bahwa inti dari penerjemahan adalah proses ekuivalensi isi pesan teks bahasa sumber (BS. ke bahasa sasaran (BS. Proses ekuivalensi yang terjadi menjelaskan bahwa unsur yang diterjemahkan dalam teks bukan hanya kata per kata, melainkan isi pesan yang ada dalam teks antara BSu dan BSa. Transformasi dalam kegiatan penerjemahan sering kali menjadi tantangan bagi penerjemah, karena untuk mendapatkan hasil terjemahan yang akurat, berterima, dan terbaca secara natural, penerjemah perlu memiliki sikap dalam memilih teknik dan mampu menyesuaikan perspektif sesuai target pembaca atau penonton. Terlebih, kegiatan penerjemahan yang bersangkutan dengan isu sensitif seperti fenomena stereotip yang menjadi nilai-nilai sosiokultural baik dalam teks sumber (TS. maupun teks sasaran (TS. akan sangat mampu memengaruhi sudut pandang menjadi positif, negatif, maupun netral bagi pembaca atau penonton (Tumbole & Cholsy, 2. Penelitian terkait gender dan seksisme telah cukup banyak dikaji dari berbagai perspektif, yaitu dari sudut pandang budaya, linguistik, karya sastra, psikologi, dan teknologi. Muhtadin . dan Zubaidi . menganalisis dari sisi Al-QurAoan dan hadis yang membahas tentang ketidakadilan pada perempuan. Dari sisi linguistik. Alyatalatthaf . menggunakan pendekatan analisis wacana kritis untuk mengetahui bentuk-bentuk seksisme di dunia digital serta Riquelme et al. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 409Ai422 Transformasi penerjemahan bentuk seksisme dalam novel Pasung Jiwa ke dalam novel Bound 2. melihat bagaimana para feminis menggunakan humor sebagai AoalatAo untuk melawan bentuk seksisme yang terjadi di masyarakat. sementara Nuraisiah et al. Manggarrani et al. dan Qiu . menggunakan pendekatan studi penerjemahan untuk mengetahui teknik, metode, ideologi, dan kualitas dalam praktik penerjemahan. Penelitian selanjutnya, yang dilakukan oleh Todiho & Djumati . Sultoni & Simanungkalit . , serta Wulandari & Amir . mengkaji dari perspektif pendekatan karya sastra. Sementara Tojjib . menggunakan pendekatan psikoanalisis dan gender dalam karya sastra. Jiang et al. menggunakan korpus sebagai bahan analisis terkait seksisme di media sosial. Meskipun penelitian mengenai gender dan seksisme telah dibahas dari berbagai perspektif, penelitian ini memiliki perbedaan dari penelitian sebelumnya, yaitu dari segi objek formal. Selain itu, novel Pasung Jiwa mengandung kompleksitas isu-isu sosial yang mengarah pada seksisme, seperti kritik terhadap kaum transgender serta objektifikasi dan eksploitasi tubuh perempuan terhadap buruh pabrik perempuan dan pekerja seks komersial. Penelitian dengan pendekatan dari perspektif linguistik, khususnya penerjemahan, sebagai objek material, telah dikaji sebelumnya untuk mengetahui teknik, metode, ideologi, dan kualitas dalam praktik penerjemahan. Penelitian ini mengkaji lebih dalam lagi dari sisi penerjemahan untuk melihat bagaimana transformasi hasil penerjemahan berdampak pada bentuk frasa maupun kalimat dan makna dari BSu ke BSa. Seperti yang dikemukakan oleh Catford . , transformasi dalam penerjemahan terkait dengan proses sifat dan kondisi kesepadanan terjemahan dari BSu ke BSa. Penelitian ini bertujuan untuk . menjabarkan bentuk seksisme yang ditemukan dalam novel Pasung Jiwa ke dalam novel Bound, serta . menjelaskan bagaimana transformasi dalam penerjemahan novel Pasung Jiwa ke novel Bound dan bagaimana dampaknya pada makna dari BSu ke BSa. Metode Penelitian ini merupakan jenis penelitian bidang penerjemahan dengan metode kualitatif dan dijabarkan dengan pendekatan deskriptif. Moleong . menyebutkan bahwa pendekatan deskriptif adalah metode pendekatan yang digunakan untuk menganalisis suatu hasil penelitian namun tidak digunakan untuk menarik kesimpulan secara luas. Metode penelitian ini meliputi beberapa tahapan: . tahap penyediaan data, . tahap analisis data serta, dan . penyajian hasil Tahap penyediaan data dilakukan dengan metode simak-catat untuk memperoleh data yang mengandung unsur seksisme. Data akan diambil berupa frasa dan kalimat dari kedua bahasa Sumber data dari penelitian ini berupa novel karya Okky Madasari berjudul Pasung Jiwa (Madasari, 2. beserta novel terjemahannya dalam bahasa Inggris berjudul Bound (Madasari, 2. yang telah diterjemahkan oleh Nurhayat Indriyatno Mohamed. Konflik dalam novel ini menceritakan bagaimana gejolak batin dalam diri tokoh utama yang terjebak dengan jati dirinya hingga peristiwa ketidakadilan yang kembali mengingatkan kita kepada peristiwa-peristiwa tentang hak asasi manusia yang terjadi di Indonesia pada tahun 90-an. Pengambilan novel ini sebagai sumber data karena ditemukannya bentuk-bentuk frasa maupun kalimat yang menunjukkan unsur seksisme. Lini masa latar waktu novel di tahun 90-an menggambarkan masyarakat yang menormalisasi diskriminasi terhadap stereotip gender selain laki-laki dan adanya objektifikasi terhadap tubuh perempuan, tokoh utama dan beberapa tokoh lainnya yang menggambarkan bahwa isu gender telah ada dan menjadi budaya bahkan tanpa disadari oleh masyarakat itu sendiri bahwa hal tersebut merupakan bentuk seksisme. Dalam novel, gender lakilaki digambarkan sebagai sosok yang memiliki kuasa dalam hal apa pun sehingga kehendak mengatur ritme peran sosial didominasi oleh laki-laki. Ramdani et al. menyebutkan bahwa dalam perannya, laki-laki sering mendapatkan AukeuntunganAy dari masyarakat, akan tetapi, ironinya, laki-laki juga mengalami tekanan ekspektasi dari masyarakat di mana mereka AodilarangAo untuk menunjukkan sisi emosional sebagai manusia karena akan dianggap lemah, seperti Bentuk seksisme yang ada kemudian digunakan sebagai data dari penelitian, sehingga ketika diterjemahkan akan mengalami transformasi dari sisi bentuk dan maknanya. Data Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 409Ai422 Arina Haque & Sajarwa dikumpulkan dengan menggunakan metode simak-catat (Sudaryanto, 1. Keseluruhan isi novel disimak dengan cara dibaca baik dari BSu dan BSa, kemudian diidentifikasi bentuk-bentuk ujaran seksisme menggunakan teori dari Glick & Fiske . Pada tahap analisis data, frasa dan kalimat yang mengandung unsur seksisme selanjutnya dicatat sebagai bahan data penelitian menggunakan kamus ekabahasa bahasa Indonesia KBBI Edisi VI dan bahasa Inggris Merriam-Webster Dictionary. Untuk mengidentifikasi jenis-jenis transformasi yang terdapat dalam terjemahan, digunakan teori dari Proshina . , dan hanya akan dianalisis transformasinya secara leksikal. Analisis transformasi secara leksikal dilakukan karena inti dari penerjemahan sendiri adalah penyampaian makna dari BSu ke BSa. Selanjutnya, penulis menggunakan metode padan translasional karena penulis akan membandingkan dua bahasa dari hasil identifikasi yang akan mengarah pada transformasi bentuk seksisme dalam penerjemahan novel Pasung Jiwa ke bahasa Inggris yang berdampak pada makna dari BSu ke BSa. Pada tahap penyajian hasil analisis, data dari penelitian ini akan disajikan secara informal, yaitu dengan cara memaparkan secara deskriptif bentuk-bentuk transformasi terjemahan seksisme dalam novel Pasung Jiwa. Tahapan terakhir, penelitian ditutup dengan kesimpulan mengenai hasil temuan penelitian. Pembahasan Dari hasil analisis bentuk seksisme yang ditemukan dalam novel AoPasung JiwaAo beserta terjemahannya. AoBoundAo, ditemukan sebanyak 48 bentuk seksisme dari total tiga jenis seksisme, seksisme Hostile, seksisme Benevolent, dan seksisme Ambivalent. Bentuk seksisme dalam novel tersebut beserta kategorisasinya dapat dilihat dalam Tabel 1. Tabel 1. Jenis Seksisme menurut Glick & Fiske . Jenis Seksisme Hostile Ambivalent Benevolent Total Jumlah Dari hasil penjabaran Tabel 1, dapat diketahui bahwa jenis seksisme yang paling banyak ditemui yaitu seksisme Hostile, sebanyak 32 buah. Jumlah seksisme Hostile sendiri lebih dari setengah total keseluruhan data yang ditemukan. Seksisme Ambivalent, menjadi nomor dua yang paling banyak ditemui, sejumlah 11 buah, diikuti seksisme Benevolent, menjadi yang paling sedikit, sejumlah 5 buah. Seksisme Hostile, yang disebut juga sebagai seksisme agresif, merupakan seksisme yang terjadi karena adanya bentuk antipati kepada seseorang atau kelompok berdasarkan gender tertentu, yang lebih sering terjadi pada perempuan (Glick & Fiske, 2. Seksisme ini secara terang-terangan menunjukkan sikap diskriminasi dan prasangka yang memandang rendah bahwa salah satu pihak lebih superior dan yang lainnya lebih rendah. Tidak hanya ditemukan pada perempuan, seksisme ini juga dapat terjadi pada laki-laki. Contoh seksisme Hostile yang ditemukan dalam novel AoPasung JiwaAo dan terjemahannya. AoBoundAo, akan dijabarkan dalam Tabel 2. Tabel 2. Seksisme Hostile menurut Glick & Fiske . BSu Pergaulan dengan sesama laki-laki akan menghindarkan aku dari hal-hal buruk. Aku benci perkelahian, aku tak mau ada Aku benci dunia laki-laki. BSa Father and mother thought that being around other boys would keep me out of I hated fighting. I didnAot want there to be any blood. I hated the world of boys. AuDasar bencong! Tidak bisa ngomong yang Memang harus dibikin agar mulutnya itu ngomong apa adanya,Ay katanya. AuGoddamned tranny! CanAot even talk right. Seems weAove got to fix that mouth of yours so you can talk right,Ay he said. Penjelasan Menganggap perempuan adalah sumber dari setiap masalah sehingga perlu Menjelaskan bahwa laki-laki adalah gender yang tidak pantas dicintai karena padanya melekat hal-hal yang pantas Laki-laki yang menyerupai perempuan dari segi penampilan dan perilaku dianggap memiliki kemampuan kognitif yang rendah. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 409Ai422 Transformasi penerjemahan bentuk seksisme dalam novel Pasung Jiwa ke dalam novel Bound Seksisme Benevolent, adalah seksisme yang memiliki sifat kebalikan dari seksisme Hostile, dianggap memiliki bentuk yang halus dan memiliki citra positif pada subjek namun tetap terdapat prasangka yang menganggap salah satu gender lainnya lebih rendah sehingga perlu untuk dilindungi dan dihargai (Glick & Fiske, 2. Bentuk dari seksisme Benevolent muncul karena adanya pertentangan pada bentuk seksisme agresif (Hostil. karena pengekspresian bentuk seksisme yang terbuka atau agresif mendapat tekanan norma sosial dari masyarakat (Sarrasin et al. , 2. Namun, seksisme Benevolent sama-sama memiliki hasil akhir yang sama: menjaga peran tradisional gender agar tetap dipegang oleh laki-laki (Glick & Fiske, 2. Tabel 3 adalah contoh dari seksisme Benevolent yang ditemukan. Tabel 3. Seksisme Benevolent menurut Glick & Fiske . BSu Sekarang aku tahu kenapa ayah tiba-tiba mau memindahkan aku ke sekolah lain. Sekolah yang lebih nyaman, sekolah yang diisi banyak perempuan. Sekolah yang penuh dengan orang-orang yang lembut, indah, dan tak suka kekerasan. AuSaya dulu punya suami. Punya anak Kok rasanya malah bikin saya sengsara saja. Ay BSa Now I understood why father all of a sudden wanted me to switch to a better school, one with girls in it. He wanted a school that was gentler, more beautiful, averse to violence. Penjelasan Menganggap perempuan adalah ciptaan yang indah, baik, penuh kasih sayang, dan mampu memberi kebahagiaan bagi dunia dan laki-laki. AuI used to be married. I had a kid too. But it was miserable. Ay AuSaya butuh duit. Mas. Kebutuhan anak makin banyak. Saya mesti kerja,Ay kata Ellis. AuI need the money. My child has a lot of I have to work,Ay Ellis said. Menjelaskan bahwa menjadi istri seharusnya menjadi seseorang yang mendapat kebahagiaan dari suami, lahir dan batin. Seorang istri adalah orang yang perlu diayomi, dilindungi, dan dihargai oleh suami. Tokoh melihat bahwa ia terpaksa bekerja karena menjadi orang tua tunggal dan harus menghidupi dirinya serta anaknya. Sudut pandangnya mengenai mencari nafkah menjadi terpatahkan, karena dalam konstruksi sosial yang terbentuk di lingkungan tokoh, peran pekerjaan mencari nafkah . ang merupakan pekerjaan lapanga. dilakukan suami sementara perempuan berada di rumah dan menerima nafkah. Terakhir, seksisme Ambivalent, adalah bentuk seksisme yang terlihat seperti dua mata koin, yang terdiri dari gabungan seksisme Hostile dan seksisme Benevolent. Seksisme ini melihat suatu gender dari sisi positif namun juga memiliki prasangka didalamnya. Tabel 4 adalah contoh seksisme Ambivalent yang ditemukan dalam novel. Tabel 4. Seksisme Ambivalent menurut Glick & Fiske . BSu Tapi aku heran, kenapa ayah yang paling ingin aku masuk sekolah khusus laki-laki itu justru mengambil keputusan seperti ini. BSa But it puzzled me why my father, who had wanted me to go into an all-boysAo school to begin with, would now change his mind. Goyanganku ini tentu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan goyangan-goyangan mereka yang tubuhnya semok, pantat menyembul kencang, dan dada yang mentul-mentul. Surely my moves paled in comparison to those of dancers whose bodies were more voluptuous, whose butts were more rounded and breasts were fuller. Kalau ada rombongan laki-laki, selalu saja ada yang suit-suit. If there was a group of men together, there was Bound to be someone in there wolfwhistling. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 409Ai422 Penjelasan Menganggap bergaul dengan sesama lakilaki lebih baik namun akhirnya sang ayah pula yang membatasi pergaulan anaknya dengan laki-laki dengan cara memindahkan sekolah. Menggambarkan penampilan fisik perempuan dengan serba indah dan tidak patut dicela, namun berkonotasi dengan makna bahwa tubuh perempuan mampu mengundang hawa nafsu serta menjadi objek visual seksual karena Menganggap banci merupakan orang yang pantas diperlakukan semena-mena dalam hal godaan yang mengarah pada unsur pelecehan namun tidak akan mendapat perlakuan kekerasan selama banci tersebut menerima. Arina Haque & Sajarwa Dari ketiga jenis seksisme di atas, telah terjadi transformasi dari sisi leksikal yang memengaruhi makna bentuk seksisme ketika diterjemahkan dari BSu . ahasa Indonesi. ke BSa . ahasa Inggri. Transformasi ini terjadi karena adanya perbedaan struktur kalimat dan pemilihan kata dari kedua latar belakang masing-masing bahasa. Pemilihan kata ini berkaitan erat dengan makna yang dikandung dalam leksikon yang disebut semantik leksikal (Verhaar, 2. Sebagai contoh, pada AuSaya dulu punya suami. Punya anak juga. Kok rasanya malah bikin saya sengsara saja,Ay yang diterjemahkan menjadi AuI used to be married. I had a kid too. But it was miserable,Ay terjadi penggantian frasa pada dulu punya suami menjadi used to be married. Pemilihan penggantian frasa oleh penerjemah ketika diterjemahkan dalam BSa merupakan wujud asas penerjemahan dari sifat bahasa yaitu arbitrer atau manasuka. Sifat arbitrer dalam penerjemahan mengacu pada fakta bahwa tidak ada hubungan alami atau logis antara tanda bahasa . dan makna yang Hubungan antara kata dan makna dalam bahasa bersifat sembarang, bukan karena sifat fisik atau logis dari benda atau konsep yang diwakilinya. Meskipun tidak memiliki hubungan alami antar kedua bahasa, namun frasa yang dipilih tetap memiliki ekuivalensi di kedua bahasa agar makna pada konteks kalimat dapat tetap tersampaikan pada pembaca (Saussure, 2. Selain dari perbedaan tersebut, perbedaan latar belakang budaya antara BSu dan BSa juga memengaruhi terjadinya transformasi leksikal yang memengaruhi makna pada BSa. Latar novel yang berada di Jawa tahun 90-an di mana didominasi budaya patriarki, akan berpengaruh ketika diterjemahkan pada BSa yang memiliki latar budaya barat yang mengenal gerakan feminisme. Feminisme adalah paham yang memandang perbedaan hak-hak perempuan berdasarkan kesetaraan perempuan dan laki-laki. Feminisme bukanlah pemberontakan perempuan terhadap laki-laki, tetapi suatu upaya untuk memerangi dan mengingkari kodratnya terhadap institusi sosial seperti keluarga dan perkawinan, serta untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi terhadap perempuan (Wibowo et al. , 2. Karena perbedaan latar belakang budaya ini, hasil terjemahan akan berpengaruh terhadap diksi yang merepresentasikan suatu objek atau konsep. Dalam praktik penerjemahan. Nida dan Taber . menyarankan untuk mencari padanan kata yang paling mendekati makna dari BSu dan terbaca natural dalam BSa. Dalam mencari padanan kata terkadang menemui titik di mana adanya ketidaksepadanan. Baker . menyebut perihal ketidaksepadanan dalam penerjemahan tersebut dengan istilah Aucommon problems of non-equivalenceAy yang salah satu penyebabnya dikarenakan adanya Aoculture-spesific conceptAo di mana konsep yang ada dalam suatu bahasa tidak ditemukan dalam bahasa lain. Contoh data yang ditemukan sebagai BSu: Jangankan punya langganan. Membedakan wedokan satu dan wedokan yang lain saja aku masih kesulitan. BSa: I didnAot have a regular girl here. I couldnAot even tell most of the girls apart. Dalam penerjemahan novel AoPasung JiwaAo dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, ditemukan transformasi secara leksikal yang berpengaruh pada makna dalam BSa. Transformasi leksikal mengubah makna dasar semantik dari bahasa yang diterjemahkan (Proshina, 2. Untuk menganalisis makna kata, digunakan kamus ekabahasa berjenis daring Kamus Besar Bahasa Indonesia VI (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2. untuk bahasa Indonesia dan Merriam-Webster dictionary (Merriam Webster Dictionary, 2. untuk bahasa Inggris. Transformasi perubahan makna yang ditemukan sejumlah 63 data dengan rincian data yang paling sering muncul hingga yang paling sedikit berupa generalisasi sebanyak 25 kali, modulasi sebanyak 18 kali, spesifikasi sebanyak 7 kali, kompensasi sebanyak 6 kali, transformasi metaforis sebanyak 4 kali, dan terakhir diferensiasi sebanyak 3 kali. Generalisasi Transformasi generalisasi terjadi ketika penerjemahan dilakukan dengan mengganti kata atau frasa atau kalimat dari BSu yang memiliki makna lebih spesifik menjadi lebih luas pada BSa. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 409Ai422 Transformasi penerjemahan bentuk seksisme dalam novel Pasung Jiwa ke dalam novel Bound Transformasi generalisasi, salah satunya terjadi karena kosakata dalam BSa tidak memiliki padanan spesifik yang sesuai dalam BSu, sehingga penerjemahan dilakukan dengan menerjemahkan ke dalam kata atau frasa atau kalimat yang lebih umum. Alasan lain, generalisasi terjadi saat penerima BSa tidak memerlukan informasi detail yang ada pada BSu karena tidak akan memengaruhi makna dalam BSa. Oleh sebab itu, penerjemah dapat melakukan transformasi generalisasi ini (Proshina, 2. BSu : Jangankan punya langganan. Membedakan wedokan satu dan wedokan yang lain saja aku masih kesulitan. BSa : I didnAot have a regular girl here. I couldnAot even tell most of the girls apart. BSu : Tapi kemudian ketika tangan itu kembali meremas tonjolan dadaku, tangantanganku tak lagi bisa dikendalikan. BSa : But when he grabbed at me again I couldnAot control my emotion. Pada kalimat . , dalam BSu digunakan kata wedokan yang berarti menunjuk pada seorang perempuan namun memiliki arti khusus lain, yaitu merujuk pada perempuan simpanan atau lonte atau pelacur yang memiliki konotasi negatif. Wedokan disini menunjukkan bahwa terdapat penekanan makna lain lebih dari sekadar Auseorang perempuan. Ay Ketika diterjemahkan dalam BSa, kata wedokan diganti dengan kata yang lebih umum, yaitu girl. Dalam kamus ekabahasa bahasa Inggris Merriam-Webster dictionary, girl memiliki makna Auseorang perempuanAy atau Auanak Ay Penggunaan kata girl dalam BSa memiliki makna yang lebih umum dibandingkan dengan makna pada BSu yang merujuk pada sebuah makna khusus tertentu. Pada kalimat . , ditunjukkan perihal objek spesifik yang dikenai oleh kata kerja, yaitu Autonjolan dadakuAy. Frasa Autonjolan dadakuAy merujuk pada bagian salah satu anggota tubuh Namun, pada BSa, objek yang dikenai oleh kata kerja diubah menjadi me yang tidak merujuk pada hal spesifik. Transformasi generalisasi yang terjadi pada kalimat . menunjukkan adanya perubahan secara semantis yang mengakibatkan perluasan makna dari BSu ke BSa. Ketika diterjemahkan pada BSa, perubahan semantis secara generalisasi mengarahkan pada penghalusan makna dalam BSa, karena kata maupun frasa wedokan dan tonjolan dadaku yang memiliki makna spesifik dan sensitif dalam BSu diubah menjadi girl dan me pada BSa yang memiliki makna lebih luas dan netral. Pada transformasi ini, bentuk seksisme yang memandang derajat perempuan lebih rendah dengan memberi penyebutan berbeda pada Bsu sehingga tidak tersampaikan maknanya pada BSa karena penerjemah menggunakan ungkapan yang lebih netral. Modulasi Transformasi modulasi terjadi ketika hasil terjemahan pada BSa dimodulasi dengan kata atau frasa yang sepadan meskipun bukan menggunakan kata yang memiliki makna yang sama. Modulasi terjadi karena penggunaan kata atau frasa yang sama atau jika diterjemahkan secara harfiah pada BSu dan BSa akan mengakibatkan kurang berterimanya hasil terjemahan dikarenakan adanya perbedaan penggunaan fungsi kata (Proshina, 2. BSu : Ayah selalu tampak tegar dan siap dengan segala jalan keluar untuk setiap BSa : He always seemed so rock-steady and ready with a solution for every problem. BSu : Sasa hanya datang untuk mengejekku, menertawakan kepengecutanku. AuCak Jek. Cak Jek, aku yang bencong saja berani melawan orang yang kurang ajar lho!Ay BSa : He came to me in my thoughts to mock me and laugh at my cowardice. AuCak Jek. Cak Jek, even I stand up to others, and IAom tranny!Ay Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 409Ai422 Arina Haque & Sajarwa Pada kalimat nomor . , kata tegar yang memiliki makna tabah secara harfiah dalam BSu menurut KBBI VI diganti menjadi kata rock-steady yang merupakan sebuah ucapan populer dalam BSa. Rock-steady sendiri memiliki makna yang serupa dengan BSu namun bukan secara harfiah. Penggunaan ucapan populer dalam BSa menunjukkan adanya perbedaan ragam dalam pengungkapan suatu hal melalui bahasa. Pada kalimat nomor . , melawan menurut KBBI VI memiliki makna menghadapi, menentang, maupun menyalahi. Dalam BSu, kata melawan ditujukan untuk mengungkapkan keberanian prinsip menghadapi hal yang menjatuhkan harga diri penutur. Ketika diterjemahkan dalam BSa, kata melawan diganti dengan stand up to, yang memiliki makna menghadapi sesuatu dengan berani menurut kamus ekabahasa bahasa Inggris Merriam-Webster. Jika digunakan kata yang sepadan yaitu against, akan menjadi even I against others yang akan mengurangi keberterimaan dalam Meskipun terjadi transformasi modulasi pada BSa, namun makna yang dihasilkan dari penerjemahan ungkapan tersebut tetap berterima dan memiliki makna yang sama. Hasil transformasi modulasi penerjemahan bentuk seksisme tetap dapat menyampaikan makna ke BSa bahwa seorang AuayahAy pada kalimat . yang merupakan seorang laki-laki memiliki sikap tegar dalam menghadapi setiap masalah, karena laki-laki dalam cerita novel digambarkan sebagai sosok yang kuat dan tidak boleh mengungkapkan emosinya. Sedangkan pada kalimat . , tokoh yang merupakan seorang AubanciAy diungkapkan memiliki sikap yang lebih baik dari seorang laki-laki tulen dalam menghadapi masalah, yaitu dengan cara berani melawan ketika harga dirinya sebagai seorang manusia dijatuhkan. Secara implisit, penulis mengungkapkan bahwa seorang laki-laki haruslah memiliki keberanian melebihi seorang banci yang hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat heterogen. Spesifikasi Kebalikan dari generalisasi, transformasi spesifikasi terjadi ketika kata atau frasa atau kalimat dalam BSu yang memiliki makna lebih luas dan umum diterjemahkan menjadi lebih spesifik pada BSa. BSu : AuUdani ae, ben kapok. Lanangan kok dadi wedok!Ay (Telanjangi saja, biar kapok. Lakilaki kok jadi perempuan!) BSa : AuLetAos strip him naked so he learns his lesson. A guy wearing womenAos clothes!Ay . BSu : Penisnya dimasukkan ke mulutku. Sambil tangannya memegang kepalaku dan menggerak-gerakkannya. BSa : He stuffed his penis into my mouth. He grabbed me by the hair and rocked my head back and forth. Pada kalimat nomor . , terdapat ujaran dalam bahasa Jawa yang ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Laki-laki kok jadi perempuan! Ketika diterjemahkan ke bahasa Inggris, ujaran tersebut berubah menjadi Aua guy wearing womenAos clothes!,Ay yang bila diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi Aulaki-laki kok pakai pakaian perempuan!Ay Pada ungkapan dalam BSu, terdapat makna kata Aumenjadi perempuanAy yang lebih umum karena tidak merujuk pada suatu hal spesifik tertentu mengenai perubahan seperti apa yang terjadi, sedangkan ketika diterjemahkan dalam BSa menjadi Aumemakai pakaian perempuan,Ay mengindikasikan spesifikasi laki-laki yang menyerupai perempuan karena memakai pakaian perempuan. Hal ini menunjukkan adanya transformasi spesifikasi dalam proses penerjemahannya. Transformasi spesifikasi selanjutnya ditunjukkan pada nomor . , di mana pada BSu kata kerja yang dilakukan yaitu memegang kepala dan menggerak-gerakkannya, sedangkan pada BSa bertransformasi menjadi grabbed me by the hair and rocked my head back and forth. Pada BSa, objek Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 409Ai422 Transformasi penerjemahan bentuk seksisme dalam novel Pasung Jiwa ke dalam novel Bound yang dipegang oleh tangan dituliskan lebih spesifik, yaitu bagian tubuh di kepala berupa rambut, sedangkan pada BSu hanya dituliskan kepala saja. Selain itu, pada BSu gerakan yang dilakukan hanya ditulis menggerak-gerakkannya, di mana pada BSa ditulis rocked my head back and forth, yang memberikan gambaran bahwa kepala orang tersebut digerakkan secara cepat dengan gerakan maju-mundur. Transformasi spesifikasi memberikan makna yang lebih sempit pada hasil terjemahan BSa dibandingkan makna yang terdapat dalam BSu. Dengan adanya transformasi spesifikasi, penyampaian makna dalam cerita dapat digambarkan dengan lebih detail melalui hasil terjemahan dalam BSa. Kompensasi Transformasi kompensasi terjadi ketika penambahan elemen pada kalimat dilakukan pada BSa untuk menggantikan hilangnya elemen serupa dalam BSu karena tidak terdapatnya padanan yang setimpal. Alasan utama transformasi ini terjadi karena kekosongan kosakata pada BSa (Proshina, 2. BSu : Kalau ada rombongan laki-laki, selalu saja ada yang suit-suit. BSa : If there was a group of men together, there was Bound to be someone in there wolf-whistling. BSu : Jangankan punya langganan, membedakan wedokan satu dan wedokan yang lain saja aku masih kesulitan. Semuanya ayu-ayu. Semuanya sintal dan seksi. Bedo tenan karo wedokan neng Jowo. Dua kali aku datang ke tempat ini, tapi baru pada kedatangan kedua aku sempat mencicipi. BSa : I didnAot have a regular girl here. I couldnAot even tell most of the girls apart. They were all beautiful, voluptuous and sexy. Very different from the girls back in Java. IAod been here twice before, but it was only during my last visit that I actually indulged in any pleasure. Transformasi yang terjadi pada kalimat . , menunjukkan adanya penambahan unsur kata pada hasil penerjemahan BSa. Suit-suit, yang berarti memberikan siulan, ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi whistling. Namun, dikarenakan siulan yang ditujukan memiliki makna lain untuk menggoda ataupun menunjukkan ketertarikan, maka terjadi kompensasi pada BSa dengan diberi tambahan kata wolf sehingga menjadi wolf-whistling. Wolf-whistling sendiri menurut kamus Oxford berarti siulan yang digunakan seseorang, biasanya laki-laki, untuk menunjukkan bahwa seseorang yang menjadi objek siulan merupakan orang yang menarik. Pada kalimat . , kata mencicipi dalam BSu tidak diterjemahkan secara harfiah, melainkan memiliki makna tersendiri. Mencicipi disini bermakna mencoba AudaganganAy yang dijajakan oleh perempuan yang berprofesi sebagai pelacur, yaitu perempuan yang melakukan hubungan seksual demi imbalan uang atau hal lain (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2. Ketika diterjemahkan dalam BSa, kata mencicipi memiliki padanan to taste, namun, jika dimasukkan dalam konteks kalimat yang tersedia, kata tersebut menjadi kurang pas penggunaannya. Maka dari itu, terdapat kompensasi dalam penerjemahannya menjadi indulged in any pleasure. Metaforis Transformasi metaforis merupakan transformasi penerjemahan dengan menerjemahkan makna metafora yang terkandung di BSu ke dalam BSa. Transformasi ini dapat terjadi per-kata maupun per-frasa dengan memberikan gambaran yang serupa (Proshina, 2. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 409Ai422 Arina Haque & Sajarwa . BSu : Seperti biasanya pula, aku datang bersama kawan-kawanku yang langsung berpencar mencari liang yang sudah biasa mereka jadikan sarang. BSa : I had come with several other workers, who had all fanned out to find their own mating grounds for the night. Pada kalimat nomor . , frasa liang yang sudah biasa mereka jadikan sarang merupakan metafora yang mengandung makna perempuan yang sudah biasa menjadi langganan untuk dijadikan tempat melampiaskan nafsu . Frasa ini kemudian diterjemahkan dengan penggambaran yang serupa dalam BSa. Dari hasil transformasi metaforis ini, ujaran seksisme yang melihat perempuan sebagai objek seksual dapat diterjemahkan dengan menggunakan metafora dalam BSa. Meskipun dengan bahasa yang berbeda, penerjemah tetap dapat membawa metafora yang digunakan dari BSu ke BSa dengan penggambaran yang serupa sehingga makna dari bentuk seksisme yang ada pada teks tetap dapat tersampaikan. Diferensiasi Transformasi diferensiasi terjadi ketika terdapat penggantian kata namun dengan makna yang masih paralel. Berikut contoh dari transformasi diferensiasi. BSu : AuEnaknya kita apain bencong ini?Ay tanya si komandan. BSa : AuWhat should we do with this tranny?Ay the senior officer said. Pada kalimat . , kata bencong dalam BSu diterjemahkan menjadi tranny dalam BSa. Dalam kamus Merriam-Webster, tranny memiliki makna transgender, sedangkan bencong sendiri belum tentu merupakan seorang transgender. Meskipun memiliki makna yang berbeda, namun penggunaan kata yang digunakan masih paralel dalam konsepnya. Pada contoh kalimat ini, bentuk seksisme yang diperlihatkan yaitu adanya anggapan bahwa seorang bencong atau banci memiliki harkat yang lebih rendah dimata masyarakat dan patut diperlakukan semena-mena. Dari hasil penelitian, ditemukan telah terjadinya transformasi secara leksikal yang memengaruhi makna secara sebagian maupun keseluruhan terhadap konsep seksisme yang terdapat pada BSu dan BSa. Pada hasil penelitian sebelumnya, seksisme telah dikaji dari berbagai sisi, di mana hasilnya menyebutkan bentuk seksisme sering ditemui dan ditujukan pada gender tertentu yaitu perempuan. Penelitian sebelumnya juga mendukung bahwa eksistensi seksisme tidak hanya terjadi di dunia nyata namun juga terjadi dalam ranah digital. Ketimpangan sudut pandang dalam menilai suatu gender ini melahirkan upaya feminis untuk melawan seksisme salah satunya dengan bentuk humor. Selain itu, kajian serupa untuk melihat bentuk seksisme juga dilakukan dengan studi melalui karya sastra yang menggunakan pendekatan psikoanalisis dan gender. Keterkaitan hasil penelitian terdahulu dan sekarang mampu menggambarkan eksistensi seksisme yang telah ada di berbagai ruang dan menyadarkan bahwa cara pandang dan perilaku terhadap gender tertentu masih tidak terlepas dari anggapan konstruksi sosial yang melihat bahwa gender yang satu lebih baik dari gender lainnya di berbagai aspek. Penutup Dari hasil penelitian di atas, ditemukan tiga jenis seksisme dalam novel AoPasung JiwaAo beserta terjemahannya dalam bahasa Inggris. AoBoundAo. Jenis seksisme yang ditemukan yaitu seksisme Hostile, seksisme Benevolent, dan seksisme Ambivalent. Seksisme Hostile adalah yang paling dominan ditemukan, diikuti seksisme Ambivalent, dan seksisme Benevolent. Dari sisi transformasi dalam penerjemahan, ditemukan enam jenis transformasi leksikal berbeda, yaitu transformasi generalisasi, transformasi modulasi, transformasi spesifikasi, transformasi kompensasi, transformasi metaforis, dan transformasi diferensiasi. Transformasi-transformasi ini terjadi karena Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 409Ai422 Transformasi penerjemahan bentuk seksisme dalam novel Pasung Jiwa ke dalam novel Bound adanya beberapa faktor: . perbedaan struktur kalimat dan bendahara kata yang tersedia dalam BSu dan BSa. perbedaan latar belakang budaya yang mengikuti BSu dan BSa (Sastriyani. Faktor-faktor tersebut menjadi tantangan bagi penerjemah ketika melakukan penerjemahan Transformasi dalam penerjemahan ini selain dapat berdampak pada makna yang bergeser, dapat pula berdampak pada pergantian makna yang disebabkan faktor-faktor yang telah disebutkan di atas. Dampak dari transformasi tersebut berpengaruh pada keterbacaan dan keberterimaan hasil terjemahan. Berdasarkan hasil penelitian di atas, meskipun ada yang mengalami penggantian makna ketika diterjemahkan ke BSa, namun penerjemah mampu menerjemahkan dengan menggunakan kosakata yang memiliki makna mendekati BSu sehingga hasilnya tetap berterima. Daftar Pustaka