Jurnal Masyarakat Merdeka (JMM). November, 2025 Vol. , 131-141, 10. 51213/jmm. ISSN 2654-881X (Prin. dan ISSN 2654-9174 (Onlin. Available Online at jmm. Sosialisasi Bahaya Kebakaran Dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di Sektor UMKM Desa Kemiri Mojokerto Umar Farid1. Muslikha Nourma Rhomadhoni2*. Merry Sunaryo3. Devlin Aldyandi4. Mia Kusumawati5. Nuriyah Faiqotul Himmah6. Dimas Syaifullah Yusuf7 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya muslikhanourma@unusa. Article History: Received : 22 Ae 08 Ae 2025 Revised : 03 Ae 11 Ae 2025 Accepted : 04 Ae 11 Ae 2025 Publish : 05 Ae 11 Ae 2025 Kata Kunci: Kebakaran. APAR. UMKM Keywords: UMKM APAR. Abstrak: Kebakaran merupakan salah satu ancaman serius di lingkungan kerja yang dapat menimbulkan kerugian besar, baik terhadap keselamatan pekerja, aset usaha, maupun keberlangsungan produksi. UMKM di Desa Kemiri Mojokerto memiliki potensi bahaya kebakaran yang cukup tinggi, namun hingga saat ini masih minim pengetahuan mengenai pencegahan dan belum tersedia sarana pengendalian yang memadai seperti Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Kondisi ini berisiko menimbulkan kerugian besar apabila terjadi insiden Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan pelaku UMKM dalam mengenali potensi bahaya kebakaran, memahami langkah-langkah pencegahannya, serta mengetahui cara penggunaan APAR secara tepat. Kegiatan dilakukan melalui sosialisasi menggunakan media poster yang disertai evaluasi melalui pre-test dan post-test. Metode kegiatan meliputi penyuluhan materi, diskusi interaktif, serta pengisian instrumen evaluasi oleh 27 peserta. Hasil pre-test menunjukkan sebagian besar peserta berada pada kategori pengetahuan kurang . %), sedangkan setelah sosialisasi terjadi peningkatan signifikan, yaitu 56% peserta masuk kategori sangat baik dan 44% kategori baik. Hal ini membuktikan bahwa metode sosialisasi sederhana menggunakan media poster efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan pelaku UMKM terhadap risiko kebakaran. Abstract: Fire is a serious threat in the workplace that can cause significant losses, both to worker safety, business assets, and production continuity. MSMEs in Kemiri Village. Mojokerto have a high potential for fire hazards, but until now there is still minimal knowledge about prevention and inadequate control facilities such as Light Fire Extinguishers (APAR). This condition risks causing significant losses if a fire incident occurs. The purpose of this community service activity is to increase the knowledge, awareness, and ability of MSMEs in recognizing potential fire hazards, understanding preventive measures, and knowing how to use APAR properly. The activity was carried out through socialization using poster media accompanied by evaluation through pre-test and posttest. The activity method included material counseling, interactive discussions, and filling out evaluation instruments by 27 participants. The pre-test results showed that the majority of participants were in the poor knowledge category Jurnal Masyarakat Merdeka (JMM) Vol. November, 2025 DOI : 10. 51213/jmm. %), while after the socialization there was a significant increase, namely 56% of participants were in the very good category and 44% were in the good category. This proves that the simple socialization method using poster media is effective in increasing the understanding and preparedness of MSMEs for fire risks. Pendahuluan Kebakaran merupakan kejadian yang dapat menyebabkan kerugian pada jiwa, peralatan produksi, proses produksi, pencemaran lingkungan kerja, dan khususnya pada peristiwa kebakaran yang besar sehingga dapat melumpuhkan bahkan menghentikan proses usaha, sehingga dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar. Kendala yang ada di UMKM desa Kemiri ini Adalah terdapat potensi bahaya kebakaran dan pernah terjadi kecelakaan kerja berupa kebakaran, akan tetapi dalam hal tersebut belum ada upaya pengendalian seperti penyediaan apar danpara pekerja masih awam dengan penggunaan APAR. Dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. APAR merupakan peralatan wajib yang harus dilengkapi oleh setiap instansi maupun Perusahaan guna mencegah terjadinya kebakaran yang dapat mengancam keselamatan pekerja dan aset perusahaan itu sendiri. Alat Pemadam Api Ringan (APAR) merupakan sebuah alat yang digunakan untuk memadamkan api atau mengendalikan kebakaran kecil. APAR pada umumnya berbentuk tabung yang diisikan dengan bahan pemadam api yang bertekanan tinggi. Upaya perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja telah bersifat universal. Berbagai negara mengeluarkan aturan perundangan untuk melindungi keselamatan tenaga kerjanya. Alat Pemadam Api Ringan (APAR) digunakan untuk memadamkan kebakaran pada tingkat awal atau kebakaran kecil. Pembahasan mengenai APAR ini terdapatdalam PeraturanMenteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. Per. 04/Men/1980tentang Syaratsyarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan, yang menyatakanAlat Pemadam Api Ringan ialah alat yang ringan serta mudah digunakanoleh satu orang untuk memadamkan api pada mula terjadi kebakaran. Kendala yang dihadapi oleh UMKM di Desa Kemiri adalah masih tingginya potensi bahaya kebakaran yang bahkan pernah mengakibatkan terjadinya kecelakaan kerja berupa insiden kebakaran. Namun, hingga saat ini belum terdapat upaya pengendalian yang memadai, seperti penyediaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di lingkungan kerja. Selain itu, para pekerja masih awam dan belum memiliki pengetahuan maupun keterampilan dalam penggunaan APAR, sehingga apabila terjadi keadaan darurat kebakaran, respon yang diberikan kurang efektif dan berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih besar. Jurnal Masyarakat Merdeka (JMM) Vol. November, 2025 DOI : 10. 51213/jmm. Gambar 1. Sosialisasi menggunakan media Poster Insiden kebakaran merupakan salah satu jenis insiden yang menuntut perhatian serius dan langkah-langkah pencegahan yang efektif untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kemungkinan terjadinya. Manajemen risiko memainkan peran yang sangat penting dalam usaha untuk mengatasi risiko kebakaran . Selain dari hubungan arus pendek listrik, ledakan dari mesin yang panas, dan reaksi bahan-bahan kimia yang mudah terbakar, salah satu faktor yang sering mengakibatkan terjadinya kebakaran adalah sikap atau perilaku dari pekerja yang tidak sadar atau ceroboh bahwa perilaku mereka dapat mengakibatkan terjadinya kebakaran. Rendahnya kesadaran dan kedisiplinan pekerja terhadap suatu bahaya di tempat kerja dapat mengakibatkan timbulnya kecelakaan ataupun musibah yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan industri tersebut . kemampuan kesiapsiagaan penting bagi daerah atau lingkungan yang memiliki risiko atau ancaman bencana, termasuk pada tempat kerja. Salah satu bencana yang bisa terjadi adalah kebakaran. Pengetahuan Masyarakat akan cara menanggulangi kebakaran saat awal kebakaran merupakan satu kelemahan lain dalam mengatasi kebakaran. Kebakaran merupakan bencana yang dapat terjadi kapan saja dan dimana saja serta tidak dapat dihindari (Hasanah, 2. Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam penanggulangan kebakaran dini sebelum petugas Pemadam Kebakaran sampai di lokasi kebakaran. Petunjuk teknis mengenai penanggulangan kebakaran dini perlu disosialisasikan, diterapkan, dan diuji cobakan sesuai kebutuhan . Upaya pencegahan kebakaran dapat dilakukan dengan menempatkan alat proteksi kebakaran di tempat-tempat yang berisiko untuk melakukan deteksi dan pengendalian secara dini. Selain itu, pada pekerja perlu mendapat pengetahuan, praktik penyelamatan diri dan penanggulangan kebakaran secara berkala guna memelihara dan meningkatkan Berbagai faktor penyebab dan cara penanggulangan kebakaran perlu dijadikan pertimbangan dalam menyusun program pencegah dan pengendalian kebakaran di perusahaan. Selain itu, berbagai panduan teknis dan peraturan yang telah berlaku perlu dipahami dan di implementasikan secara baik. Jurnal Masyarakat Merdeka (JMM) Vol. November, 2025 DOI : 10. 51213/jmm. Menurut pengabdian Masyarakat Ambarwati dibuktikan dengan peningkatan pemahaman peserta dalam hasil post-test yang memiliki nilai rata-rata 78,5%. Kegaiatan pengabdian masayarakat ini tentang Pelatihan penanganan pemadaman api menggunakan APAR. Gambar 2. Tahap Pengisian Pre/Post Test Masyarakat mitra yang terdiri dari pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) di Mojokerto pada umumnya memiliki potensi dalam bidang produksi dan pengelolaan usaha, namun masih menghadapi persoalan terkait aspek keselamatan kerja, khususnya bahaya kebakaran. Berdasarkan hasil observasi, sebagian besar pelaku UMKM belum memiliki pengetahuan yang memadai mengenai potensi kebakaran yang dapat ditimbulkan dari aktivitas usaha sehari-hari, seperti penggunaan instalasi listrik, peralatan masak, maupun bahan mudah terbakar. Selain itu, keberadaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) masih jarang ditemui di lingkungan usaha, bahkan jika tersedia, sebagian besar pekerja belum memahami cara penggunaannya dengan benar. Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko kebakaran masih cukup tinggi dan dapat mengancam keselamatan pekerja, kelangsungan usaha, serta lingkungan sekitar. Oleh karena itu, permasalahan prioritas yang perlu ditangani adalah rendahnya pemahaman pelaku UMKM terkait bahaya kebakaran dan kurangnya keterampilan dalam penggunaan APAR sebagai upaya mitigasi awal. Solusi dari permasalahan rendahnya pemahaman pelaku UMKM mengenai bahaya kebakaran adalah dengan memberikan edukasi melalui kegiatan sosialisasi yang menggunakan media poster sebagai alat bantu visual. Poster dipilih karena mudah dipahami, praktis, dan mampu menyajikan informasi penting secara ringkas sehingga dapat menarik perhatian peserta. Untuk mengetahui efektivitas kegiatan, dilakukan pre-test sebelum sosialisasi guna mengukur tingkat pengetahuan awal peserta, kemudian dilanjutkan post-test setelah kegiatan untuk melihat peningkatan pemahaman. Dengan langkah ini, diharapkan pelaku UMKM dapat lebih memahami potensi bahaya kebakaran serta mengetahui tindakan pencegahan sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan kerja mereka. Luaran yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan dan kesadaran pelaku UMKM tentang bahaya kebakaran dan cara pencegahannya. Melalui sosialisasi dengan media poster serta pelaksanaan pre-test dan post-test, diharapkan Jurnal Masyarakat Merdeka (JMM) Vol. November, 2025 DOI : 10. 51213/jmm. peserta lebih mudah memahami materi dan dapat menunjukkan peningkatan nilai setelah Selain itu, peserta juga diharapkan menjadi lebih waspada dan berhati-hati dalam bekerja, sehingga risiko kebakaran di lingkungan UMKM bisa berkurang. Metode Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan pada tanggal 21 Juni 2025 di Desa Kemiri Kec. Pacet Kab. Mojokerto. Untuk sasaran sosialisasi ini adalah UMKM yang ada di desa tersebut dengan 27 Partisipan dengan waktu 180 Menit dengan menggunakan media promosi poster dan Pre Test dan Post Test. Tahapan yang dilakukan untuk mencapai tujuan sosialisasi Bahaya Kebakaran dan APAR Adalah yang pertama:1. ) Kegiatan sosialisasi dilakukan melalui pelatihan dengan penjelasan materi mengenai bahaya kebakaran serta penggunaan APAR, dilanjutkan dengan tanya jawab untuk memastikan pemahaman peserta. Selain itu, diberikan pre-test dan post-test sebagai bentuk evaluasi serta simulasi penggunaan APAR agar peserta lebih terampil dan siap menghadapi kondisi darurat. ) Kegiatan sosialisasi dilakukan melalui pelatihan dengan penjelasan materi mengenai bahaya kebakaran serta penggunaan APAR, dilanjutkan dengan tanya jawab untuk memastikan pemahaman peserta. Selain itu, diberikan pre-test dan post-test sebagai bentuk evaluasi serta simulasi penggunaan APAR agar peserta lebih terampil dan siap menghadapi kondisi darurat. ) Sosialisasi ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran peserta tentang pentingnya memahami risiko kebakaran di lingkungan kerja maupun sekitar, serta menanamkan sikap tanggap darurat melalui evaluasi kegiatan yang berkesinambungan, sehingga kebiasaan aman dapat diterapkan secara terus-menerus. Pre-Test Sosialisasi Bahaya Kebakaran dan APAR Post-Test Hasil Gambar 3. Diagram Alur Pelaksanaan Sosialisasi Hasil dan Pembahasan Kegiatan sosialisasi diawali dengan kunjungan ke lokasi usaha untuk memperkenalkan rencana kegiatan, lalu dilanjutkan dengan proses wawancara dan observasi awal guna mengetahui kondisi yang ada. Setelah itu, responden diminta untuk mengisi pre-test. Sesi edukasi kepada pemilik usaha dan pekerja menggunakan media berupa poster. Usai mendapatkan materi edukasi, selanjutnya pemilik usaha beserta beberapa pekerja yang menjadi responden diminta untuk mengerjakan post-test. Edukasi di fokuskan pada aspek bahaya kebakaran dan penggunaan APAR. Menurut Putri . bahwa Tingkat pengetahuan dapat dikategorikan menjadi 3 Jurnal Masyarakat Merdeka (JMM) Vol. November, 2025 DOI : 10. 51213/jmm. yaitu kategori pengetahuan Sangat Baik jika nilainya Ou76-100, kategori pengetahuan Baik jika nilainya 60-75 dan kategori pengetahuan Kurang Baik jika nilainya <60Hasil evaluasi yang didapatkan yaitu dalam bentuk pre-test dan post-test sebanyak 10 soal. Hal tersebut untuk mengetahui tingkat pemahaman responden terhadap materi yang telah disampaikan. Tabel 1. Sebelum dilaksanakan sosialisasi (Pre-Tes. Pengetahuan Sangat Baik (Ou76-. Baik . Kurang (<. Total Frekuensi Presentase Dilihat dari tablel, dapat diketahui bahwa hasil (Pre-tes. yang dilakukan pada kegiatan sosialisasi mengenai bahaya kebakaran dan penggunaan APAR, diketahui bahwa sebelum diberikan edukasi, mayoritas responden berada pada kategori pengetahuan Kurang, yaitu sebanyak 16 orang . %). Sementara itu, 8 orang . %) berada pada kategori Baik, dan hanya 3 orang . %) yang termasuk dalam kategori Sangat Baik Tabel 2. Sesudah dilaksanakan sosialisasi (Post-Tes. Pengetahuan Sangat Baik (Ou76-. Baik . Kurang (<. Total Frekuensi Presentase Berdasarkan tabel 2 diatas hasil Post-test setelah dilakukan sosialisasi mengenai bahaya kebakaran dan penggunaan APAR, terjadi peningkatan yang signifikan dalam tingkat pengetahuan responden. Sebanyak 15 orang . %) berada dalam kategori pengetahuan Sangat Baik, sementara 12 orang . %) masuk dalam kategori Baik. Tidak ada responden yang tergolong dalam kategori Kurang. Tabel 3. Job Safety Analysis proses produksi UMKM Deskripsi Kegiatan Potensi Bahaya Persiapan bahan baku . ekerja bahan baku ke area pengupasan dengan cara manual handling. Berat bahan baku yang di bawa A60 K. Bahaya akibat beban berat yang di bawa secara Bahaya fisik seperti tergelincir /jatuh Bahaya biologi seperti terkontaminasi bahan . Risiko Bahaya Cedera . ow Kelelahan berlebih, risikl hatuh saat Produk penurunan kualitas, serta adanya risiko kesehatan konsumen. Jurnal Masyarakat Merdeka (JMM) Vol. November, 2025 DOI : 10. 51213/jmm. Deskripsi Kegiatan Potensi Bahaya Pengupasan bahan baku (Pengupasan singkong secara manua. Bahaya mekanik dari penggunaan alat tajam Pencucian bahan baku (Dicuci kotoran yang menempe. Pengirisan bahan keripik menggunakan mesin pengiris Perendaman Larutan Air Kapur Penggorengan Keripik (Proses penggorengan dilakukan di atas tungku menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar Bahaya biologis dari kontak dengan getah atau mikroorganisme Bahaya biologid jika terjadi penumpukan limbah kulit/ampas bahan baku Bahaya biologis dari penggunaan air tidak Bahaya biologis dari penggunaan air tidak Penirisan Pembumbuan Luka potong pada tangan, iritasi kulit Infeksi ringan akibat luka terbuka Lingkungan potensi bau tidak Kontaminasi mikroba pada bahan Cidera pada kaki dan kepala Bahaya mekanik dari bagian mesin yang tajam atau Cedera jari atau tangan akibat tersangkut mesin. Bahaya kimia dari paparan larutan air kapur(Ca(OH)CC) Iritasi kulit atau mata, luka ringan jika secara langsung Bahaya fisik dari suhu tinggi dan api Bahaya dari posisi kerja statis di dekat panas Luka bakar, pernapasan ringan dari asap Kelelahan atau Dehidrasi karena Paparan panas Timbulnya api akibat berlebih/percikan Bahaya akibat penumpukan minyak jelantah bekas Risiko Bahaya Bahaya fisik dari minyak panas yang belum sepenuhnya luka robek Kebakaran besar, kerugian asset, cidera fatal. Pencemaran tidak sedap, menarik Risiko minyak panas, iritasi kulit akibat bumbu Jurnal Masyarakat Merdeka (JMM) Vol. November, 2025 DOI : 10. 51213/jmm. Deskripsi Kegiatan Potensi Bahaya Bahaya kimia dari Bahaya mekanik dari Pengemasan dan elemen pemanas mesin sealer Bahaya dari suhu tinggi Bahaya Pemindahan dan dari pengangkatan beban berulang yang sudah Bahaya bungkus kegudang jika jalur gudang sempit atau licin Risiko Bahaya Kontaminasi silang jika sanitasi tidak Luka bakar ringan Jari terjepit pada alat Nyeri kelelahan otot Risiko jatuh/terpeleset selama pemindahan Analisis Keselamatan Kerja (Job Safety Analysis atau JSA) pada kegiatan proses produksi umkm bertujuan untuk mengenali potensi bahaya serta risiko yang dapat muncul pada setiap tahapan proses. Berdasarkan hasil identifikasi, ditemukan bahwa aktivitas produksi ini memiliki beragam sumber bahaya, mulai dari aspek ergonomi, fisik, kimia, hingga biologis. Keberadaan bahaya tersebut tidak hanya berdampak terhadap kesehatan dan keselamatan tenaga kerja, tetapi juga dapat memengaruhi mutu produk serta kondisi lingkungan kerja secara Proses produksi keripik singkong di UMKM Desa Kemiri melibatkan beberapa tahapan kerja yang masing-masing memiliki potensi bahaya berbeda. Oleh karena itu, analisis keselamatan kerja atau Job Safety Analysis (JSA) dilakukan untuk mengidentifikasi bahaya serta risiko yang mungkin timbul di setiap tahap kegiatan. Tahapan pertama adalah persiapan bahan baku, di mana pekerja membawa singkong mentah ke area pengupasan secara manual dengan berat mencapai A60 kg. Kegiatan ini menimbulkan potensi bahaya ergonomi akibat beban berat yang diangkat tanpa alat bantu, sehingga dapat menyebabkan cedera otot atau tulang belakang . ow back pai. serta kelelahan berlebih. Selain itu, terdapat bahaya fisik seperti tergelincir saat membawa beban, dan bahaya biologis akibat kontak dengan tanah atau mikroorganisme yang melekat pada bahan baku, yang dapat menurunkan kualitas produk. Selanjutnya, pada tahap pengupasan bahan baku, pekerja menggunakan benda tajam seperti pisau untuk menghilangkan kulit singkong. Potensi bahaya utama pada proses ini adalah bahaya mekanik dari penggunaan alat tajam yang dapat menyebabkan luka potong atau robek pada tangan. Selain itu, kontak langsung dengan getah singkong atau limbah kulit yang tidak segera dibersihkan dapat menimbulkan iritasi kulit. Pada tahap pencucian bahan baku bertujuan menghilangkan kotoran dan getah yang masih menempel. Namun, jika air yang digunakan tidak bersih, dapat timbul bahaya biologis berupa kontaminasi Selain itu, kondisi lantai basah dan licin meningkatkan risiko cedera akibat Jurnal Masyarakat Merdeka (JMM) Vol. November, 2025 DOI : 10. 51213/jmm. Gambar 3. Pemberian bingkisan kepada pelaku UMKM. Proses pengirisan singkong menggunakan mesin pengiris juga memiliki risiko tinggi. Bahaya mekanik berasal dari bagian mesin yang tajam dan bergerak cepat, sehingga pekerja berpotensi mengalami luka pada tangan atau jari jika tidak berhati-hati. Oleh karena itu, pekerja harus menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan kerja dan mengikuti prosedur pengoperasian yang aman. Pada tahap perendaman dalam larutan air kapur (Ca(OH)CC), bahaya kimia muncul akibat paparan langsung terhadap bahan tersebut. Jika pekerja tidak menggunakan APD seperti sarung tangan atau pelindung mata, mereka berisiko mengalami iritasi kulit atau luka ringan akibat kontak dengan larutan kapur. Selanjutnya penggorengan keripik merupakan tahapan yang paling berisiko tinggi. Penggorengan dilakukan di atas tungku tradisional berbahan bakar kayu sehingga menimbulkan bahaya fisik dari paparan panas dan api terbuka. Pekerja berisiko mengalami luka bakar, dehidrasi, atau gangguan pernapasan akibat asap. Jika pengelolaan api tidak tepat, dapat terjadi kebakaran yang menimbulkan kerugian besar. Selain itu, penumpukan minyak jelantah dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan meningkatkan risiko kebakaran sekunder. Tahap penirisan dan pembumbuan juga memerlukan kewaspadaan Bahaya fisik muncul akibat minyak panas yang belum sepenuhnya tiris, sedangkan bahaya kimia berasal dari bahan tambahan pangan . pada bumbu. Jika sanitasi tidak terjaga, dapat terjadi kontaminasi silang yang mempengaruhi keamanan produk. Pengemasan dan penyegelan, pada proses ini bahaya mekanik dan fisik berasal dari mesin sealer yang menggunakan elemen pemanas. Pekerja berisiko mengalami luka bakar ringan atau jari terjepit jika tidak berhati-hati dalam mengoperasikan alat tersebut. Tahap terakhir adalah pemindahan dan penataan produk ke gudang. Aktivitas pengangkatan dan pemindahan produk secara berulang dapat menyebabkan bahaya ergonomi berupa kelelahan otot atau nyeri punggung. Selain itu, kondisi lingkungan seperti jalur sempit atau licin berpotensi menyebabkan pekerja terpeleset dan jatuh. Secara keseluruhan, hasil JSA menunjukkan bahwa setiap tahap proses produksi memiliki potensi bahaya yang perlu diidentifikasi dan dikendalikan secara sistematis. penggunaan alat pelindung diri (APD), pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (K. , serta penyediaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) menjadi langkah penting untuk mencegah kecelakaan kerja. Dengan Jurnal Masyarakat Merdeka (JMM) Vol. November, 2025 DOI : 10. 51213/jmm. penerapan JSA secara konsisten, diharapkan UMKM dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman, sehat, dan produktif. Kesimpulan Kegiatan sosialisasi bahaya kebakaran di sektor UMKM Desa Kemiri Mojokerto menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah dilakukan edukasi dengan media poster serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan memperlihatkan bahwa sebelum sosialisasi mayoritas peserta masih berada pada kategori pengetahuan kurang, sedangkan setelah sosialisasi mayoritas peserta berada pada kategori baik dan sangat baik. Hal ini membuktikan bahwa sosialisasi sederhana dengan media poster efektif dalam meningkatkan pemahaman pelaku UMKM tentang potensi bahaya kebakaran dan langkah pencegahan yang dapat dilakukan. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dan sikap lebih waspada dalam bekerja sehingga risiko kebakaran di lingkungan UMKM dapat diminimalisir. Sebagai rekomendasi keberlanjutan, diperlukan program pendampingan lanjutan berupa pelatihan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), simulasi evakuasi darurat, serta penyediaan sarana proteksi kebakaran sederhana agar upaya pencegahan dapat diterapkan secara berkelanjutan dan mandiri oleh pelaku UMKM Pengakuan/Acknowledgements Penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya yang telah memberikan dukungan penuh dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, baik dalam bentuk fasilitas, pendanaan, maupun bimbingan akademik. Dukungan tersebut sangat membantu kelancaran kegiatan sosialisasi bahaya kebakaran di sektor UMKM Desa Kemiri Mojokerto sehingga dapat terlaksana dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat mitra. Daftar Pustaka