Strategi Manajerial dalam Meningkatkan Kompetensi Guru Paud Melalui Media Seni Tari di TK Aryandini 3 Kota Bandung Sheila Kurnia Putri1. Otin Martini2. Ajeng Ayu Candrawati3 Program Studi Magister Pendidikan Seni ISBI Bandung1,2 Program Studi Seni Tari. Fakultas Seni Pertunjukan3 Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung 1,2,3 sheila_kurniapoetri@yahoo. com1, otinmartini92@gmail. Abstrak: Peningkatan kompetensi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan aspek penting dalam membangun pendidikan dasar yang bermutu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi manajerial yang digunakan dalam pemberdayaan guru PAUD melalui pelatihan berbasis seni tari di TK Aryandini 3 Kota Bandung. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif yang terdiri atas analisis kebutuhan, pelatihan, praktik reflektif, dan evaluasi. Hasil menunjukkan bahwa pelatihan seni tari mampu meningkatkan kompetensi pedagogis dan kreatif guru, serta memperkuat motivasi dan rasa percaya diri mereka. Strategi manajerial berbasis kolaborasi dan pendekatan siklus peningkatan berkelanjutan (PDCA) terbukti efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang inovatif dan bermakna. Kata kunci: strategi manajerial, kompetensi guru. PAUD, seni tari, pendidikan anak usia dini PENDAHULUAN Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter. Masa usia dini dikenal sebagai periode emas . olden ag. , dimana pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung sangat pesat, baik dalam aspek fisik, kognitif, sosial emosional, maupun moral. Oleh karena itu, kualitas interaksi edukatif yang diterima anak pada tahap ini akan menentukan keberhasilan pembelajaran di masa depan dan memiliki dampak jangka panjang terhadap kehidupan mereka secara keseluruhan. Dalam konteks ini, peran guru PAUD menjadi sangat krusial. Guru bukan sekedar penyampai materi, melainkan fasilitator utama dalam membentuk kepribadian, kebiasaan, dan daya cipta anak. Namun, berbagai penelitian dan laporan lapangan menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan kompetensi guru PAUD, terutama dalam hal pendekatan pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan kesesuaiannya dengan karakteristik anak usia dini. Banyak guru masih terbiasa dalam metode instruksional yang monoton, kurang inovatif, dan minim Salah satu pendekatan yang memiliki potensi besar namun belum optimal dimanfaatkan adalah pembelajaran berbasis seni, khususnya seni tari. Seni tari bukan hanya ekspresi estetik atau bentuk warisan budaya, tetapi juga memiliki fungsi edukatif yang kaya. Gerak tari dapat merangsang perkembangan motorik kasar dan halus, mengembangkan imajinasi, melatih disiplin ritmis, serta membangun interaksi sosial yang harmonis. Bahkan, dalam pendekatan tematik di PAUD, tari dapat dijadikan media untuk mengenalkan konsep-konsep dasar seperti warna, angka, huruf, hingga nilai-nilai sosial dan budaya. Tetapi, implementasi seni tari dalam pembelajaran PAUD masih menghadapi berbagai hambatan. Banyak guru belum memiliki keterampilan pedagogis yang memadai dalam mengintegrasikan tari ke dalam kegiatan belajar. Hambatan ini meliputi keterbatasan pelatihan, kurangnya sumber daya, hingga tidak adanya model pembelajaran aplikatif yang relevan dengan konteks lokal. Hal ini menandakan adanya kebutuhan akan intervensi strategis yang mampu meningkatkan kapasitas profesional guru PAUD secara lebih menyeluruh. Dalam konteks ini, strategi manajerial memainkan peran sentral. Manajemen pendidikan yang efektif tidak hanya terbatas pada perencanaan program dan distribusi tugas, tetapi juga harus menyentuh aspek transformasi kompetensi guru secara holistik. Strategi manajerial dalam pengembangan kapasitas guru PAUD perlu mengedepankan prinsip partisipasi aktif, refleksi kolaboratif, dan pelatihan yang berbasis pada praktik nyata. Pendekatan ini menempatkan guru bukan sebagai objek pelatihan semata, melainkan sebagai subjek aktif dalam proses belajar dan pelaksana perubahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi manajerial dalam peningkatan kompetensi guru PAUD melalui pelatihan seni tari di TK Aryandini 3 Kota Bandung. Pelatihan ini merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang berorientasi pada peningkatan kapasitas profesional pendidik. Fokus utama penelitian adalah bagaimana pelatihan yang berbasis seni tari dan pendekatan partisipatif mampu meningkatkan pemahaman, keterampilan, serta motivasi guru dalam menyelenggarakan pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan bermakna. 168 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Selain menyoroti aspek pedagogis, penelitian ini juga mengangkat potensi budaya lokal sebagai sumber inspirasi pembelajaran. Pemanfaatan tari dan lagu tradisional menjadi upaya simultan antara pendidikan dan pelestarian budaya. Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya berkontribusi terhadap kualitas pendidikan PAUD, tetapi juga terhadap penguatan identitas budaya sejak usia dini. Melalui kajian ini, diharapkan dapat dirumuskan model pelatihan guru PAUD berbasis seni yang relevan dengan konteks lokal, aplikatif di lapangan, dan memiliki dampak transformasional. Penelitian ini juga diharapkan memberikan masukan bagi para pengambil kebijakan dan pemangku kepentingan pendidikan dalam merancang strategi pelatihan guru yang lebih inovatif, humanistik, dan berkelanjutan. TINJAUAN PUSTAKA Manajemen Pendidikan Anak Usia Dini Manajemen pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan proses yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga evaluasi program pendidikan yang berorientasi pada karakteristik perkembangan anak, karena anak usia dini berada dalam fase eksplorasi dan pembentukan dasar kepribadian, maka sistem pengelolaan pendidikan yang digunakan haruslah fleksibel, partisipatif, dan adaptif terhadap kebutuhan unik mereka. Manajemen PAUD yang efektif menempatkan guru dan anak sebagai subjek utama pendidikan. Partisipasi seluruh komponen lembaga sangat penting dalam pengambilan keputusan yang menyangkut strategi pembelajaran dan peningkatan mutu layanan . Kepemimpinan manajerial dalam PAUD seharusnya membangun lingkungan belajar yang kolaboratif dan inovatif, serta mendukung pengembangan kapasitas profesional guru secara berkelanjutan . Strategi manajerial yang baik di PAUD harus menyeimbangkan antara regulasi struktural dengan ruang bagi kreativitas guru. Intervensi manajerial seharusnya tidak bersifat top down semata, melainkan juga menghargai inisiatif dari bawah . ottom u. , melalui pemetaan kebutuhan nyata dan pelibatan aktif guru dalam proses peningkatan mutu. Kompetensi Guru PAUD Kompetensi guru merupakan landasan utama dalam menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas. Empat kompetensi wajib bagi guru adalah kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Dalam praktiknya di pendidikan anak usia dini, keempat kompetensi ini perlu diinterpretasikan secara kontekstual, mengingat pendekatan pembelajaran untuk anak-anak tidak dapat disamakan dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi . Guru PAUD tidak hanya dituntut menguasai teknik mengajar, tetapi juga harus memahami psikologi perkembangan anak, mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, serta memiliki kepekaan terhadap ekspresi emosi dan kebutuhan individual anak. Untuk mencapai hal ini, guru memerlukan pelatihan yang kontekstual, aplikatif, dan reflektif . Salah satu metode efektif untuk meningkatkan kompetensi guru PAUD adalah pendekatan in service training berbasis kebutuhan lapangan merupakan. Model pelatihan ini melibatkan guru dalam siklus pengalaman langsung, refleksi, dan diskusi kelompok, bukan hanya dalam bentuk seminar pasif . Penguatan kompetensi juga perlu didorong melalui pendekatan berbasis komunitas guru, dimana terjadi pertukaran praktik baik . est practic. , diskusi peer to peer, dan bimbingan sejawat. Ini akan menciptakan lingkungan belajar berkelanjutan yang memberdayakan guru sebagai praktisi reflektif dan kreatif. Seni Tari sebagai Media Pembelajaran Anak Usia Dini Seni tari merupakan bagian dari ekspresi budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai media edukatif dalam pembelajaran anak usia dini. Tari secara alami memadukan gerakan tubuh, ritme musik, imajinasi, dan interaksi sosial, semuanya sangat cocok dengan karakteristik perkembangan anak. Seni tari tidak hanya menstimulasi koordinasi motorik, tetapi juga mendorong pertumbuhan emosional, sosial, dan kognitif anak . Dalam perspektif pembelajaran tematik PAUD, tari dapat digunakan untuk menyampaikan berbagai konsep dasar seperti warna, bentuk, angka, huruf, atau nilai sosial melalui gerakan yang menyenangkan. Aktivitas menari membantu anak mengekspresikan perasaan, memperkuat konsentrasi, serta melatih kerja sama dalam kelompok . Seni tari juga berfungsi sebagai media transisi yang efektif antar aktivitas kelas. Tari dapat membantu anak menyesuaikan diri dalam perubahan kegiatan, menjaga fokus, dan tetap terlibat secara aktif dalam proses belajar. Dalam hal ini, seni tari memiliki fungsi regulatif sekaligus stimulatif dalam pembelajaran . 169 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Integrasi seni tari dalam pembelajaran PAUD juga berkontribusi terhadap pelestarian budaya lokal. Melalui gerak tari tradisional yang dikemas secara sederhana dan kontekstual, anak-anak dapat mengenal nilai-nilai budaya sejak dini, sehingga menciptakan sinergi antara pembentukan karakter dan edukasi kebudayaan. Strategi Manajerial dalam Pemberdayaan Guru Pemberdayaan guru merupakan bagian integral dari strategi manajerial yang bertujuan meningkatkan mutu pendidikan secara sistemik. Siklus manajerial yang dikenal sebagai Plan Do Check Act (PDCA), sangat relevan diterapkan dalam konteks pengembangan profesional guru . Dalam kerangka ini, pelatihan guru bukan hanya kegiatan insidental, tetapi bagian dari sistem pengembangan kompetensi berkelanjutan. Srategi manajerial dalam pemberdayaan guru harus menciptakan ruang partisipatif, mendukung kolaborasi lintas profesi, dan mendorong refleksi kritis . Salah satu bentuk implementasi strategi ini adalah melalui model pelatihan yang fleksibel, berbasis praktik, dan memungkinkan guru untuk bereksperimen dalam konteks pembelajaran nyata. Peran kepala sekolah sebagai instructional leader menjadi kunci dalam menciptakan iklim kerja yang kondusif bagi pertumbuhan profesional guru. Kepala sekolah tidak hanya bertanggung jawab atas aspek administratif, tetapi juga sebagai fasilitator pembelajaran guru, mentor, dan agen perubahan dalam inovasi pendidikan. Dalam konteks PAUD, dukungan ini semakin penting mengingat keterbatasan sumber daya dan beban kerja yang sering kali Pelatihan seni tari yang dikaji dalam penelitian ini merupakan contoh konkret dari implementasi strategi manajerial berbasis partisipasi dan inovasi lokal. Melalui pelibatan aktif guru dalam proses pelatihan dan eksplorasi seni, tercipta dinamika pembelajaran profesional yang tidak hanya mengembangkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kesadaran kritis, afeksi, dan kreativitas. METODOLOGI PENELITIAN Pendekatan dan Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis model pengabdian kepada masyarakat partisipatif (Participatory Community Based Researc. Pendekatan ini dipilih karena sejalan dengan tujuan kegiatan, yaitu tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga melakukan intervensi yang berdampak langsung terhadap pengembangan kompetensi guru PAUD melalui pelatihan seni tari. Pendekatan kualitatif memberikan keleluasaan untuk memahami makna subjektif, dinamika sosial, dan proses perubahan yang berlangsung dalam konteks yang alami dan spesifik . Dalam hal ini, guru diposisikan sebagai subjek aktif yang terlibat penuh dalam proses pelatihan, refleksi, dan implementasi inovasi pembelajaran. Lokasi dan Subjek Penelitian Kegiatan dilaksanakan di TK Aryandini 3 Kota Bandung, sebuah lembaga PAUD swasta yang memiliki reputasi dalam pengembangan kreativitas dan pembelajaran kontekstual. Lokasi ini dipilih karena latar belakang guru yang beragam dan keterbukaan lembaga terhadap inovasi berbasis seni. Subjek penelitian terdiri dari 8 orang guru PAUD, dengan latar belakang pengalaman mengajar antara 1 hingga lebih dari 6 tahun. Mereka menjadi peserta aktif dalam pelatihan sekaligus informan utama dalam pengumpulan data. Kepala sekolah dan satu orang pendamping institusional dari yayasan dilibatkan sebagai informan tambahan untuk mendapatkan perspektif manajerial. Tahapan Kegiatan Kegiatan pengabdian dirancang melalui empat tahap utama yang bersifat iteratif dan reflektif: A Analisis Kebutuhan (Need Assessmen. Dilakukan melalui observasi awal di kelas, diskusi informal, dan wawancara dengan guru. Bertujuan mengidentifikasi pemahaman awal guru terhadap pembelajaran berbasis seni tari, serta kendala yang dihadapi. A Pelatihan Intensif Seni Tari Materi meliputi: gerak dasar tari anak, improvisasi gerak, teknik pengajaran kreatif, dan integrasi seni tari dalam tema-tema PAUD. Durasi pelatihan dibagi antara sesi teori . %) dan praktik . %), dengan pendekatan aktif dan kolaboratif. Sesi praktik melibatkan simulasi pembelajaran, kerja kelompok, dan refleksi mandiri. A Praktik Mengajar dan Supervisi Guru diminta menyusun RPPH (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Haria. berbasis tari. Pelaksanaan RPPH di kelas dilakukan di bawah supervisi tim fasilitator. 170 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Seluruh guru mencatat pengalaman mereka dalam jurnal reflektif harian. Refleksi dan Evaluasi Evaluasi dilakukan (FGD), mendalam pasca pelatihan, serta post test berbasis kuesioner. Fokus evaluasi meliputi: perubahan persepsi, kesiapan mengajar, tantangan, serta usulan pengembangan program lanjutan. Instrumen Pengumpulan Data Untuk menjamin validitas dan triangulasi data, digunakan lima jenis instrumen: A Lembar Observasi Kelas: Merekam kemampuan guru dalam memfasilitasi pembelajaran tari, termasuk penguasaan ruang, variasi gerak, dan partisipasi anak. A Kuesioner Pre test dan Post test: Digunakan untuk mengukur perubahan pengetahuan, sikap, dan kesiapan guru dalam mengintegrasikan tari ke dalam pembelajaran. A Wawancara Terbuka dan Mendalam: Bertujuan mengeksplorasi pengalaman subjektif guru terhadap efektivitas pelatihan dan dampaknya terhadap praktik mengajar. A Dokumentasi Visual (Foto dan Vide. : Berfungsi sebagai catatan proses kegiatan dan bahan refleksi visual bagi peserta dan peneliti. A Jurnal Reflektif Guru: Digunakan untuk mencatat proses pembelajaran, tantangan harian, serta ide-ide pengembangan dari perspektif peserta. Teknik Analisis Data Data dianalisis secara tematik melalui tiga tahap: A Reduksi Data: Menyaring dan mengelompokkan data berdasarkan tema . eningkatan kompetensi, inovasi pembelajaran, dan penguatan afeks. A Penyajian Data: Menyusun narasi hasil pelatihan dalam bentuk matriks, kutipan wawancara, dan ringkasan visual kegiatan. A Penarikan Kesimpulan Verifikasi: Menginterpretasi membandingkannya dengan teori, dan melakukan konfirmasi silang antar informan . Untuk data kuantitatif dari kuesioner, dilakukan analisis deskriptif sederhana . ersentase dan skor rata-rat. untuk menunjukkan kecenderungan perubahan sebelum dan sesudah pelatihan. Sedangkan data kualitatif dari observasi, wawancara, dan jurnal dianalisis secara interpretatif untuk menggambarkan transformasi profesional guru secara lebih mendalam. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan program pelatihan seni tari sebagai bagian dari strategi manajerial pemberdayaan guru PAUD di TK Aryandini 3 Kota Bandung menunjukkan hasil yang signifikan dalam tiga dimensi utama: peningkatan kompetensi guru, efektivitas strategi manajerial, dan dampak terhadap pembelajaran anak. Hasil ini selaras dengan pendekatan partisipatif yang diterapkan sejak tahap perencanaan hingga evaluasi. Bagian ini membahas secara mendalam temuan lapangan serta merefleksikannya dalam konteks teori dan praktik pendidikan. Peningkatan Kompetensi Guru Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pelatihan berhasil meningkatkan kompetensi guru dalam tiga aspek utama: pedagogik, profesional, dan kepribadian. Pertama, berdasarkan kuesioner pre-test dan post-test, terjadi peningkatan signifikan dalam pemahaman konsep seni tari anak, kreativitas menyusun gerakan tematik, serta kemampuan mengintegrasikan tari ke dalam pembelajaran PAUD. Sebelum pelatihan, 80% guru belum pernah menggunakan seni tari secara sistematis dalam Setelah pelatihan, 90% guru menyatakan siap dan percaya diri untuk menyusun RPPH berbasis tari. Kedua, dalam jurnal reflektif, guru melaporkan perubahan dalam cara mereka memandang seni tari. Awalnya dianggap sebagai kegiatan tambahan, kini tari dilihat sebagai strategi pedagogis yang membantu anak lebih aktif dan terlibat. Beberapa guru dulu ragu dan takut anak-anak tidak paham kalau mengajar memakai tari, tetapi setelah mencoba, justru ternyata anak-anak lebih antusias dan fokus, dan gurupun menjadi lebih semangat. Ketiga, terdapat peningkatan kemampuan guru dalam aspek kepribadian, terutama rasa percaya diri dan ekspresi diri. Ini penting karena guru yang percaya diri cenderung lebih ekspresif dan adaptif dalam mengelola dinamika kelas PAUD yang menuntut fleksibilitas tinggi. 171 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Efektivitas Strategi Manajerial Strategi manajerial yang diterapkan dalam pelatihan ini menggunakan pendekatan siklus PDCA (Plan Do Check Ac. dan prinsip pemberdayaan partisipatif. A Plan: Perencanaan pelatihan dilakukan berdasarkan analisis kebutuhan nyata di lapangan, hasil observasi, dan wawancara awal dengan guru. A Do: Pelaksanaan pelatihan berbasis praktik langsung, termasuk simulasi pembelajaran tari dalam konteks tema PAUD. Guru tidak hanya menerima materi, tetapi aktif merancang dan mencoba kegiatan tari. A Check: Evaluasi dilakukan secara kolektif melalui FGD dan umpan balik dari guru, kepala sekolah, dan A Act: Rekomendasi dan rencana tindak lanjut disusun bersama guru untuk memastikan keberlanjutan praktik yang telah dilatih. Pendekatan ini tidak hanya efektif dalam membangun keterlibatan guru, tetapi juga mendorong transformasi kultural dalam institusi, di mana guru tidak lagi sekadar pelaksana kebijakan, melainkan sebagai agen perubahan. Temuan ini mendukung pandangan Priestley et al. tentang teacher agency, yakni guru memiliki kapasitas untuk bertindak secara reflektif dan bertanggung jawab dalam perubahan pendidikan . Dampak terhadap Pembelajaran Anak Dampak langsung terhadap anak juga terpantau secara signifikan: A Anak menunjukkan peningkatan atensi, partisipasi, dan antusiasme ketika pembelajaran diawali dengan gerak tari. A Anak-anak yang sebelumnya pasif mulai aktif mengikuti gerakan tari, bahkan menunjukkan inisiatif untuk menciptakan gerakan sendiri. A Guru melaporkan bahwa suasana kelas menjadi lebih hidup, menyenangkan, dan minim gangguan perilaku. Hal ini sejalan dengan temuan Jensen, bahwa pembelajaran berbasis gerak mampu merangsang fungsi otak yang berkaitan dengan memori, emosi, dan perhatian . Pembelajaran berbasis tari secara tidak langsung menguatkan tiga domain perkembangan anak: motorik, sosial-emosional, dan kognitif. Visualisasi dokumentasi kegiatan menunjukkan bahwa anak-anak tidak hanya bergerak mengikuti arahan, tetapi juga terlibat dalam proses interpretasi gerak, menunjukkan spontanitas, serta menjalin kerja sama dengan teman sebaya melalui tari berpasangan atau kelompok. Refleksi terhadap Praktik dan Implikasi Manajerial Secara keseluruhan, hasil kegiatan ini memberikan sejumlah refleksi penting: A Pelatihan guru PAUD harus berbasis praktik langsung dan kontekstual. Model pelatihan berbasis seni tari terbukti lebih efektif dibanding model pelatihan konvensional yang bersifat satu arah dan teoritis. A Manajerial pendidikan PAUD perlu mengadopsi strategi kolaboratif. Kepala sekolah perlu berperan sebagai instructional leader yang mendampingi guru tidak hanya dalam administrasi, tetapi juga dalam proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi. A Seni tari sebagai media pembelajaran bukan sekadar alat bantu, tetapi pendekatan pedagogis. Dengan pendekatan ini, proses belajar menjadi lebih menyenangkan, bermakna, dan sesuai dengan dunia anak. A Kebijakan pelatihan guru PAUD perlu memasukkan dimensi budaya lokal. Pelatihan berbasis seni daerah dapat menjadi model pelestarian budaya sekaligus penguatan pendidikan karakter sejak usia dini. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pelaksanaan pelatihan seni tari berbasis strategi manajerial partisipatif di TK Aryandini 3 Kota Bandung membuktikan bahwa pendekatan ini mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidik PAUD. Model manajerial yang menggabungkan prinsip Plan Do Check Act (PDCA) dengan pendekatan partisipatif dan reflektif berhasil menguatkan tiga dimensi utama kompetensi guru: pedagogik, profesional, dan Seni tari terbukti efektif sebagai media pembelajaran yang kontekstual, menyenangkan, dan bermakna. Guru tidak hanya memperoleh keterampilan teknis dalam menerapkan gerak tari, tetapi juga mengalami perubahan cara pandang terhadap seni sebagai pendekatan pedagogis. Kelas-kelas menjadi lebih hidup, anak-anak lebih antusias, dan guru menunjukkan inisiatif untuk terus mengembangkan praktik mengajar yang kreatif. Dari sisi manajerial, keterlibatan aktif guru sejak tahap perencanaan hingga evaluasi membangun rasa memiliki dan komitmen terhadap inovasi pembelajaran. Pendekatan ini memperkuat literatur yang menyatakan bahwa pemberdayaan profesional guru paling efektif terjadi melalui pengalaman langsung, kolaborasi sejajar, dan refleksi 172 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan kompetensi guru PAUD berbasis seni tari, jika dilakukan dengan strategi manajerial yang tepat, dapat menjadi alternatif solutif dalam meningkatkan mutu pendidikan anak usia dini di Indonesia. Model ini juga relevan untuk mendukung pelestarian budaya lokal melalui dunia pendidikan. Saran Berdasarkan hasil temuan dan refleksi selama kegiatan, penulis mengusulkan beberapa saran untuk pengembangan lebih lanjut: A Replikasi program di lembaga PAUD lain. Model pelatihan seni tari yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat direplikasi di PAUD lain, dengan menyesuaikan konteks sosial budaya dan kesiapan sumber daya masing-masing lembaga. A Penguatan kebijakan pelatihan berbasis seni. Dinas pendidikan dan lembaga terkait disarankan untuk mengembangkan kebijakan yang mendukung pelatihan guru PAUD berbasis seni sebagai strategi nasional dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini yang berbasis budaya. A Penyusunan modul pelatihan terstandar. Diperlukan pengembangan modul pelatihan seni tari yang aplikatif, fleksibel, dan dapat digunakan oleh guru secara mandiri maupun dalam pelatihan terstruktur, dengan memperhatikan keberagaman budaya daerah. A Monitoring dan pendampingan berkelanjutan. Program pelatihan sebaiknya dilengkapi dengan sistem monitoring dan pendampingan pasca kegiatan, untuk menjamin keberlanjutan implementasi serta mendukung guru dalam menghadapi tantangan nyata di kelas. A Integrasi ke kurikulum dan program sekolah. Disarankan agar pembelajaran berbasis seni tari tidak hanya menjadi bagian dari pelatihan guru, tetapi juga diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah PAUD secara sistematis untuk menjamin kesinambungan dan dampak jangka panjang. DAFTAR PUSTAKA