Pengaruh Aliran Counter Flow Ae Pararel Flow Terhadap Performance Mesin Pendingin Mini Water Chiller-R32 Lazuardi Abdillah. Suryadimal. Mahasiswa Prodi Teknik Mesin. Fakultas Teknologi Industri. Universitas Bung Hatta Email : lazuardiabdillah0021@gmail. Dosen Prodi Teknik Mesin. Fakultas Teknologi Industri. Univesitas Bung Hatta Email : suryadimal@bunghatta. ABSTAK Mesin pendingin Water Chiller sebagai sebuah sistim primer dimana air dengan kapasitas tertentu dialirkan menyilang megenai evaporator mesin pendingin sistim kompresi uap agar temperatur air turun drastis kemudian air dingin yang tercipta disirkulasikan oleh pompa kedalam sebuah sistim sekunder yang mempunyai heat exchanger dengan aliran menyilang supaya mampu menurunkan temperatur udara yang dihembuskan oleh blower sentrifugal. Air dengan temperatur rendah yang dihasilkan tersebut kemudian disalurkan melalui Fan Coil Unit untuk melihat performance mesin pendingin water chiller. Penelitian bertujuan untuk menganaslis kinerja sebuah mesin pendingin yang dipengaruhi oleh berbagai faktor temperatur, tekanan, laju aliran masa fluida, koefisien perpindahan kalor dan kecepatan udara pendinginan relatif dikondensor serta exergy. Metodologi yang digunakan berdasarkan prinsip kerja sebuah mesin pendingin kompresi uap untuk sistim primer dan sistim Fan Coil Unit (FCU) sebagai sistim sekunder. Hasil penelitian menunjukan bahwa kerja kompresor hermitic akan bertambah dengan meningkatnya laju penyerapan masa fluida air di Fan Coil Unit. Penurunan penyerapan energy dalam bentuk kalor pada kondesor dari sisi fluida pendingin jika laju masa fluida meningkat tajam. Perbandingan Kalor Sensible Air terhadap Udara mengalami trend penurunan dengan bertambahnya aliran fluida. Rata rata distribusi temperatur air berkisar 11 OC dan udara rata rata 7 OC. Pada laju aliran maksimum efisiensi minimum yakni 39,7 %. Sehingga besarnya perpindahan kalor tergantung pada perbedaan temperatur pada fluida itu sendiri yang dipengaruhi oleh kalor jenis fluida dan kalor maksimum. Kenaikan nilai exergi seiring bertambahnya temperatur air , pada temperatur air setting 0 OC exergi yang diperoleh sebesar 5,4 kJ/kg K dan temperatur 6 OC sebesar 7,24 kJ/kg K. Kata Kunci : Water Chiller. Heat Exchanger . Blower Sentrifugal ,Fan Coil Unit,Energi. Exergi PENDAHULUAN Masalah khususnya pada sistim pendingin pada bangunan gedung sagat penting untuk temperatur lingkungan sehingga menyebabkan 50% total energy menfasilitasi sistim penyegaran udara karena diketahui salah satu akibat terjadi penipisan lapisan ozon maupun perubahan iklim global yang menyebabkan kenaikan temperatur (Phu, 2. Sistim pendingin Water Chiller pada mesin pendingin berfungsi sebagai siklus utama untuk mendinginkan fluida air didalam sistim pendingin yang mengunakan kompresor dan kerja kompresor yang baik memiliki nilai COP yang tinggi (Reynaldi & Koswara, 2. Menurut Effendy . kinerja sebuah mesin pendingin dipengaruhi temperatur, tekanan, laju aliran masa fluida, koefisien perpindahan kalor, kecepatan udara pendinginan relatif Sementara Basri ( 2. menyatakan Koefisien prestasi mesin pendingin dapat di pengaruhi laju aliran masa air pendingin dan temperature kondensasi sehinga flow rate berkurang. Disamping itu untuk menilai performa mesin pendingin dapat mengunakan variable exergy, dimana exergy merupakan alat yang ampuh dalam menilai kinerja optimal suatu alat perpindahan kalor di mesin pendingin. (Ahamed et al. , 2. Analisis exergy mampu mengidentifikasi kinerja ideal dari kerangka termal mesin pendingin (Santoso & Hasan Basri, 2. Analisis exergy dan energy di evaporator maupun di FCU akan berbeda hasilnya jika tipe aliran fluida sejajar atau berlawanan arah menurut (Zhu et al. dan Parameter yang berdampak optimal dalam pengoperasian chiller diberikan antara lain konsentrasi refrigeran dan temperatur air sistim sekunder. tetap menjaga kelestarian lingkungan. Menurut penelitian Suryadimal, dan Muhammad Zaki Amien . kapasitas beban pendingin berpengaruh terhadap COP (Coefficient Of Performanc. di pagi hari, siang-sore hari, dan malam hari dimana semakin besar beban pendingin nilai COP yang didapati akan semakin kecil. Hail ini dikarenakan semakin besar beban maka panas yang diserap evaporator semakin besar pula dan ini akan menaikan kerja alat mesin Gusrian. Suryadimal. Rizky Arman melakukan pengujian mesin pendingin kompresi uap pada keadaan kecepatan putaran pada kondensor. II. TINJAUAN PUSTAKA Siklus bertemperatur rendah . dan membuangnya pada temperatur lebih tinggi. Proses siklik ini memerlukan usaha sebagai masukan agar hukum kedua termodinamika tidak dilanggar (Wark, 1. Sistem pendingin adalah proses atau pengaturan mekanis yang bertanggung jawab untuk menurunkan temperatur antara dua titik. Agar proses ini berlangsung, sifat termodinamika materi yang terlibat, yang bertanggung jawab untuk mentransfer energi panas atau panas antara dua titik Said . METODOLOGI PENELITIAN Peneitian ini merupakan eksperimental dengan mengunakan dua sistim primer kompresi uap dan sekunder Fan coil unit yang dipertukarkan energy melalui setting laju aliran masa, tekanan, temperatur komponen utama, kemudian dianalisa performance dan exergy sistim. Gambar 1. Skema Pengujian Mesin Pendingin Water Chiller IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Kerja kompresor dari peningkatan laju masa fluida V. KESIMPULAN Kerja kompresor(KJ/k. Grafik 1. Kerja Kompresor Vs laju masa Dari penelitian yang dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan: laju masa air . Dari grafik 1 terlihat kecenderungan kerja kompresor hermitic akan naik dengan meningkatnya laju penyerapan masa fluida air di Fan Coil Unit yang mengakibatkan beban kompresor semakin bertambah pula. Pada laju masa fluida 0,178 kg/s energy dalam bentuk kerja 61,18 kJ/kg Pengaruh perubahan kecepatan udara terhadap kerja Kompresor Kerja kompresor hermitic akan naik dengan meningkatnya laju penyerapan masa fluida. Laju masa fluida 0,178 kg/s energy dalam bentuk kerja kompresor dari lingkungan 61,18 kJ/kg Kecenderungan penurunan penyerapan energy dalam bentuk kalor pada kondesor dari sisi fluida pendingin jika laju masa fluida meningkat tajam. Distribusi temperatur air pada laju fluida mengalami penurunan sepanjang pipa mulai dari laju 0,178 kg/s hingga 0,247 kg/s. Temperatur tertinggi yang dicapai air 13,3 Celsius dan udara berkisar 9,8 derajat Celsius. DAFTAR PUSTAKA