Jurnal Media Ilmu e-ISSN p-ISSN : 2988-6465 : 2988-6694 Strategi Pembiasaan Shalat Dhuha Dalam Meningkatkan Kualitas Pengamalan Ibadah Sunnah Siswa Abdul Rahman Bintang Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang Abdulrahmanbintang13@gmail. Nurasiah Ahmad Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang nurasiahahmad06@gmail. Abstract This study aims to explore the strategies for habituating Dhuha prayer to improve the quality of students' sunnah worship practices at the secondary school level. The research is motivated by the challenges of moral degradation in the era of globalization, which requires educational institutions to strengthen students' spiritual The method used in this article is descriptive qualitative, outlining the planning, implementation, and impact of the habituation program. The results indicate that Islamic Religious Education (PAI) teachers' strategies are carried out through four main stages: comprehensive planning involving cross-stakeholder coordination, active implementation and mentoring with teachers as role models, continuous evaluation and reflection based on monitoring journals, and a humanist persuasive approach. The findings conclude that structured Dhuha prayer habituation significantly improves the quality of students' sunnah worship, transforming the activity from a forced obligation into an intrinsic spiritual need. This has a positive impact on strengthening religious characters such as discipline, perseverance, and gratitude in students' daily lives. Keywords: Dhuha Prayer. Habituation of Worship. PAI Teacher. Religious Character. Sunnah Worship. Volume 5. Number 1, . Copyright. CC-BY-SA Jurnal Media Ilmu e-ISSN p-ISSN : 2988-6465 : 2988-6694 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi pembiasaan shalat Dhuha dalam meningkatkan kualitas pengamalan ibadah sunnah siswa di tingkat sekolah Latar belakang penelitian ini adalah tantangan degradasi moral di era globalisasi yang menuntut lembaga pendidikan untuk memperkuat basis spiritual siswa. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah kualitatif deskriptif yang menguraikan perencanaan, pelaksanaan, serta dampak dari program pembiasaan tersebut. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa strategi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dilakukan melalui empat tahapan utama: perencanaan komprehensif yang melibatkan koordinasi berbagai pihak, pelaksanaan dan pendampingan aktif dengan guru sebagai teladan, evaluasi dan refleksi berkelanjutan berbasis jurnal monitoring, serta pendekatan persuasif yang humanis. Dhuha yang terstruktur secara signifikan mampu meningkatkan kualitas ibadah sunnah siswa, di mana aktivitas ini bertransformasi dari kewajiban menjadi kebutuhan spiritual intrinsik. Hal ini berdampak positif pada penguatan karakter religius seperti kedisiplinan, ketekunan, dan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari siswa. Kata Kunci: Shalat Dhuha. Pembiasaan Ibadah. Guru PAI. Karakter Religius. Ibadah Sunnah Pendahuluan Pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam membangun karakter dan kepribadian siswa yang berlandaskan pada nilai-nilai Dalam era globalisasi dan tantangan degradasi moral yang semakin rumit, lembaga pendidikan memiliki tugas penting untuk tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membangun akhlak yang baik serta memperkuat basis spiritual siswa. Al-Qur'an sebagai panduan hidup umat Islam secara jelas menekankan Volume 5. Number 1, . Copyright. CC-BY-SA Jurnal Media Ilmu e-ISSN p-ISSN : 2988-6465 : 2988-6694 pentingnya pengembangan karakter yang baik, seperti yang Allah SWT firmankan dalam Surah Al-Ahzab ayat 21: AEa aC e aE aI Ea aEI OaA OOE NcEEO aOU IaU EOII aE aI O O NcEE OEeO OI N OA AcEEa aEO UeOA AeEa aOa aEa NA a e a a a a e a e a a a ae ea a e e "Sesungguhnya, pada . Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian . bagi orang yang mengharapkan . Allah dan . hari Kiamat serta yang sering mengingat Allah. Ayat ini menegaskan bahwa meniru Nabi Muhammad SAW adalah contoh ideal dari karakter yang sempurna, serta menunjukkan bahwa pengembangan karakter adalah elemen penting dari tujuan hidup seorang muslim. Salah satu ibadah sunnah yang mempunyai keutamaan besar dan kapasitas tinggi dalam membentuk sikap positif serta memperbaiki kualitas pelaksanaan ibadah adalah shalat Dhuha. Shalat ini bukan sekadar upacara ibadah, tetapi juga sebuah tempat belajar spiritual yang mengajarkan disiplin, ketekunan, rasa syukur, tawakkal kepada Allah, dan kedekatan rohani dengan Sang Pencipta. Keutamaan shalat Dhuha diperkuat oleh sabda Rasulullah SAW: "Setiap sendi tubuh kalian di setiap pagi memiliki sedekahnya. Setiap tasbih merupakan sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir menjadi sedekah, mengajak kepada yang ma'ruf adalah sedekah, mencegah dari yang mungkar adalah sedekah, dan melengkapi semuanya adalah dua rakaat Dhuha. (HR. Muslim. No. Pembiasaan shalat Dhuha sejak usia muda di lingkungan pendidikan diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai tersebut secara berkelanjutan, membentuk generasi yang tidak hanya pintar secara intelektual tetapi juga kuat secara spiritual dan berakhlak baik. lingkungan sekolah menengah, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki posisi vital sebagai garda terdepan dalam pelaksanaan program-program keagamaan. Mereka tidak hanya merupakan pengajar, tetapi juga panutan, penyemangat, dan pembimbing rohani bagi para siswa. Namun, kenyataan di lapangan seringkali memperlihatkan bahwa keberhasilan program pembiasaan ini tidak Volume 5. Number 1, . Copyright. CC-BY-SA Jurnal Media Ilmu e-ISSN p-ISSN : 2988-6465 : 2988-6694 selalu lancar karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti motivasi siswa, dukungan lingkungan, serta efektivitas strategi yang diterapkan oleh guru PAI. Studi sebelumnya telah banyak membahas signifikansi pembiasaan ibadah sunnah di sekolah dan sumbangannya terhadap karakter religius siswa, serta peran guru sebagai penggerak aktivitas Meskipun begitu, masih ada kekosongan atau gap penelitian yang belum terisi secara menyeluruh. Belum terdapat banyak studi kualitatif yang secara khusus membahas hubungan antara strategi pembiasaan yang terencana dengan peningkatan kualitas pelaksanaan ibadah sunnah siswa secara umum di tingkat sekolah menengah. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan pandangan menyeluruh tentang perencanaan, pelaksanaan, faktorfaktor yang mendukung dan menghambat, serta dampak nyata dari kebiasaan shalat Dhuha terhadap peningkatan kualitas pelaksanaan ibadah sunnah siswa. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis peneltitian kepustakaan . ibrary researc. Pendekatan ini dipilih karena bertujuan untuk menggambarkan, menguraikan, dan memahami secara mendalam fenomena strategi pembiasaan shalat Dhuha yang diterapkan oleh guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di tingkat sekolah menengah, beserta dampaknya terhadap kualitas pengamalan ibadah sunnah siswa. Penelitian kualitatif deskriptif memungkinkan peneliti untuk menyajikan gambaran yang kaya dan kontekstual mengenai proses perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, serta dampak dari program pembiasaan tersebut (Sugiyono, 2019: . Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer diperoleh melalui kajian terhadap berbagai hasil penelitian terdahulu, artikel ilmiah, dan literatur yang relevan dengan topik pembiasaan shalat Dhuha, strategi guru PAI, serta pembentukan karakter religius siswa. Sumber data sekunder meliputi buku-buku referensi, jurnal Volume 5. Number 1, . Copyright. CC-BY-SA Jurnal Media Ilmu e-ISSN p-ISSN : 2988-6465 : 2988-6694 pendidikan Islam, dan dokumen pendukung lainnya yang berkaitan dengan tema penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam tulisan ini adalah studi kepustakaan . ibrary researc. Data dikumpulkan melalui penelusuran, pembacaan, pencatatan, dan pengkajian berbagai sumber tertulis yang relevan, seperti buku, jurnal ilmiah, artikel penelitian, dan sumber-sumber ilmiah lainnya yang berkaitan dengan strategi pembiasaan ibadah, peran guru PAI, kualitas pengamalan ibadah sunnah, serta pembentukan karakter religius siswa di lingkungan Teknik analisis data yang diterapkan adalah analisis isi . ontent analysi. terhadap literatur-literatur yang telah dikumpulkan. Proses analisis dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu: Reduksi data: memilah dan memfokuskan informasi yang relevan dengan topik penelitian dari berbagai sumber yang telah Penyajian data: mengorganisasikan dan memaparkan data secara sistematis, meliputi konsep guru PAI, konsep shalat Dhuha, kualitas pengamalan ibadah, serta upaya guru PAI dalam pembiasaan shalat Dhuha. Penarikan kesimpulan: menyimpulkan temuan berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan secara komprehensif. Penulisan referensi dalam artikel ini menggunakan format APA 6th Edition (American Psychological Association Versi . dengan format Pendekatan ini dipandang tepat dan relevan mengingat fokus artikel ini adalah menguraikan dan menganalisis perencanaan, pelaksanaan, serta dampak dari program pembiasaan shalat Dhuha berdasarkan kajian literatur yang ada, sehingga menghasilkan gambaran yang komprehensif dan mendalam. Hasil dan Pembahasan Volume 5. Number 1, . Copyright. CC-BY-SA Jurnal Media Ilmu e-ISSN p-ISSN : 2988-6465 : 2988-6694 Konsep Guru Pendidikan Agama Islam Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah salah satu pilar utama dalam sistem pendidikan Islam yang berfungsi sebagai pendidik profesional. Tugas utamanya mencakup mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik dalam seluruh aspek pembelajaran PAI (Supriadi, 2020: Peran guru PAI tidak hanya terbatas pada penyampaian materi kurikulum, tetapi jauh lebih mendalam, yakni sebagai pembentuk akhlak dan spiritualitas siswa melalui teladan, pembiasaan ibadah, dan penciptaan lingkungan Islami (Sutrisno, 2019: . Guru PAI bertindak sebagai fasilitator yang memfasilitasi proses pembelajaran, motivator yang membangkitkan semangat beragama, dan evaluator yang menilai perkembangan spiritual serta karakter siswa (Syah, 2021: . Kompetensi yang wajib dimiliki oleh guru PAI mencakup empat dimensi utama: kompetensi pedagogik . emampuan mengelola pembelajara. , profesional . enguasaan materi dan pengembangan dir. , kepribadian . khlak mulia dan keteladana. , dan sosial . emampuan berinteraksi dengan lingkunga. Seluruh kompetensi ini secara sinergis berperan dalam menciptakan iklim belajar yang kondusif bagi pengembangan holistik peserta didik (Sholeh & Hasan, 2022: . Konsep Shalat Dhuha Shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam, dikerjakan pada waktu pagi hari setelah matahari terbit setinggi tombak hingga menjelang waktu zuhur (Al-Hamdani, 2019: Batasan waktu ini penting untuk dipahami agar pelaksanaan shalat sesuai dengan syariat. Shalat Dhuha dapat dikerjakan paling sedikit dua rakaat dan paling banyak dua belas rakaat, meskipun sebagian ulama membatasi hingga delapan rakaat (Nasution, 2020: . Secara etimologi, "Dhuha" merujuk pada waktu pagi, sekitar jam 7 pagi hingga sebelum masuk waktu Zuhur. Dalam konteks ibadah, shalat Dhuha adalah ekspresi syukur seorang hamba kepada Allah Volume 5. Number 1, . Copyright. CC-BY-SA Jurnal Media Ilmu e-ISSN p-ISSN : 2988-6465 : 2988-6694 SWT atas nikmat pagi hari dan kesempatan untuk beraktivitas. Shalat Dhuha memiliki banyak keutamaan yang disebutkan dalam hadishadis Nabi Muhammad SAW, di antaranya: Melapangkan Rezeki: Diyakini sebagai pembuka pintu rezeki. Rasulullah SAW bersabda: "Allah berfirman: 'Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat di awal siang, niscaya akan Aku cukupi kebutuhanmu di akhir siang'. " (HR. Tirmidz. Ini bukan berarti rezeki akan datang tanpa usaha, melainkan shalat Dhuha menjadi sebab keberkahan dalam rezeki dan kemudahan dalam Menghapus Dosa: Shalat Dhuha juga disebutkan dapat menghapus dosa-dosa kecil, sebagaimana sabda Nabi: "Barangsiapa yang menjaga shalat Dhuha, maka diampuni dosadosanya walaupun sebanyak buih di lautan. " (HR. Tirmidz. Ini menunjukkan besarnya ampunan yang bisa didapatkan melalui ibadah ini. Sedekah Bagi Seluruh Anggota Tubuh: Hadis riwayat Muslim yang telah disebutkan di latar belakang menegaskan bahwa shalat Dhuha dua rakaat mencukupi sedekah untuk setiap ruas tulang manusia. Ini adalah bentuk syukur atas nikmat kesehatan dan fungsi tubuh. Termasuk Shalat Orang-orang Awwabin (Orang yang Kembali kepada Alla. : Rasulullah SAW bersabda, "Shalat Awwabin adalah apabila anak unta merasakan terik matahari . arena kepanasa. " (HR. Musli. Ini menunjukkan waktu terbaik shalat Dhuha adalah saat matahari mulai terik, dan identik dengan orang-orang yang senantiasa kembali kepada Allah dalam setiap keadaan. Pembiasaan shalat Dhuha di lingkungan sekolah merupakan salah satu upaya strategis untuk menanamkan nilai-nilai religius dan membentuk karakter positif siswa (Nurul Huda & Mursalin, 2021: . Melalui rutinitas shalat Dhuha, siswa dilatih untuk memiliki disiplin waktu, ketekunan dalam beribadah, rasa syukur, kepatuhan terhadap ajaran agama, dan kesadaran akan kehadiran Allah SWT dalam setiap Volume 5. Number 1, . Copyright. CC-BY-SA Jurnal Media Ilmu e-ISSN p-ISSN : 2988-6465 : 2988-6694 aktivitas mereka (Sari & Wulandari, 2022: . Ini adalah fondasi penting untuk membentuk karakter yang kokoh dan berintegritas. Kualitas Pengalaman Ibadah Pembiasaan shalat Dhuha di lingkungan lembaga pendidikan merupakan salah satu upaya strategis untuk menanamkan nilai-nilai religius dan membentuk karakter positif siswa (Nurul Huda & Mursalin, 2. Melalui rutinitas shalat Dhuha yang dijalankan secara konsisten, siswa dilatih untuk memiliki disiplin waktu, ketekunan dalam beribadah, rasa syukur, kepatuhan terhadap ajaran agama, dan kesadaran akan kehadiran Allah SWT dalam setiap aktivitas mereka (Sari & Wulandari, 2. Pendekatan ini selaras dengan argumen Danuwara dan Giyoto . yang menyatakan bahwa habituasi ibadah sunnah sejak dini terbukti efektif untuk membentuk akhlak mulia dan meminimalisir perilaku negatif pada peserta didik. Pengalaman langsung dalam melaksanakan ibadah yang didasari atas penuh kesadaran ini tidak sekadar mengajarkan keimanan secara teoretis, melainkan melatih ruhani siswa untuk merasakannya langsung sehingga menumbuhkan kesadaran ilahiah yang mendalam (Zuhriyeh, 2. Secara psikologis dan spiritual, strategi pembiasaan shalat Dhuha yang terencana ini mampu meningkatkan kualitas pengalaman ibadah sunnah siswa secara signifikan di tingkat sekolah menengah. Melalui program harian yang terstruktur, aktivitas rutin tersebut tidak lagi dipandang oleh siswa sebagai sebuah instruksi atau kewajiban yang dipaksakan dari luar, melainkan telah mengalami transformasi mendalam menjadi sebuah kebutuhan spiritual intrinsik dari dalam diri mereka sendiri. Pada akhirnya, peningkatan kualitas pengalaman keagamaan yang dilewati secara kontinu ini bermanifestasi nyata pada penguatan karakter religius holistik, seperti kedisiplinan, ketekunan, rasa syukur, tawakal, dan integritas akhlak dalam kehidupan seharihari siswa. Upaya Guru PAI dalam Pembiasaan Shalat Dhuha Volume 5. Number 1, . Copyright. CC-BY-SA Jurnal Media Ilmu e-ISSN p-ISSN : 2988-6465 : 2988-6694 Upaya guru PAI dalam membiasakan shalat Dhuha merupakan serangkaian strategi terstruktur dan berkelanjutan yang bertujuan untuk mengintegrasikan ibadah ini ke dalam rutinitas harian siswa, sehingga berdampak pada pembentukan karakter mereka. Upaya ini meliputi beberapa tahapan krusial: Perencanaan Komprehensif: Tahap awal melibatkan penyusunan program kegiatan shalat Dhuha yang terstruktur, inklusif, dan relevan dengan karakteristik siswa. Guru PAI perlu menentukan jadwal pelaksanaan yang optimal, lokasi yang kondusif . ushola sekolah atau ruang kelas yang disesuaika. , serta target capaian yang jelas, baik dari segi kuantitas . umlah rakaat/frekuens. maupun kualitas . ekhusyukan dan pemahaman sisw. Perencanaan ini juga harus melibatkan koordinasi aktif dengan berbagai pihak, termasuk kepala sekolah untuk mendapatkan dukungan kebijakan, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan untuk pengaturan jadwal, serta orang tua siswa untuk menciptakan kesinambungan pembiasaan di rumah. Penyusunan modul atau panduan shalat Dhuha yang mudah dipahami siswa juga dapat menjadi bagian dari perencanaan ini, memberikan panduan praktis dan pemahaman tentang keutamaan shalat (Ramadhani & Lestari, 2021: 125. Fauzi & Handayani, 2020: . Pelaksanaan dan Pendampingan Aktif: Pada tahap pelaksanaan, guru PAI berperan sebagai fasilitator utama dan teladan. Mereka dapat menginisiasi shalat Dhuha secara berjamaah di mushola sekolah, menciptakan suasana yang kondusif, dan memimpin shalat dengan khusyuk. Bagi siswa yang masih kesulitan, guru perlu memberikan bimbingan dan pendampingan personal, baik dalam hal tata cara shalat, bacaan, maupun pemahaman makna. Metode pelaksanaan bisa bervariasi, mulai dari pendekatan langsung . engajak dan memimpi. , hingga pendekatan persuasif . enjelaskan keutamaan dan manfaa. Guru juga perlu memastikan ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai . empat wudu, mukena, sajada. untuk memudahkan siswa Volume 5. Number 1, . Copyright. CC-BY-SA Jurnal Media Ilmu e-ISSN p-ISSN : 2988-6465 : 2988-6694 Kehadiran dan konsistensi guru dalam pelaksanaan shalat Dhuha menjadi faktor penting dalam memotivasi siswa (Mulyani, 2022: 30. Putri & Lestari, 2020: . Evaluasi dan Refleksi Berkelanjutan: Proses evaluasi merupakan tahapan penting untuk mengukur efektivitas program dan mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan. Guru PAI perlu melakukan monitoring rutin terhadap partisipasi siswa, mengamati tingkat kekhusyukan, dan mendeteksi kendalakendala yang muncul selama pelaksanaan. Evaluasi dapat dilakukan melalui berbagai metode, seperti observasi langsung, wawancara dengan siswa, atau melalui catatan harian (Supriadi, 2020: 90. Sutrisno, 2019: . Hasil evaluasi ini kemudian dijadikan dasar untuk refleksi dan penyusunan strategi perbaikan di masa mendatang, memastikan program terus berkembang dan relevan dengan kebutuhan siswa. Pendekatan Persuasif dan Motivasi Kontinu: Selain aspek ritual, guru PAI juga perlu menggunakan pendekatan persuasif dan memberikan motivasi secara berkelanjutan. Ini mencakup pemberian pemahaman yang mendalam tentang keutamaan shalat Dhuha, kisah-kisah inspiratif, serta ceramah singkat . yang relevan untuk menumbuhkan kesadaran intrinsik Pemberian apresiasi atau penghargaan . on-mater. kepada siswa yang menunjukkan konsistensi dalam melaksanakan shalat Dhuha juga dapat menjadi motivator positif. Pendekatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran diri siswa bahwa shalat Dhuha adalah kebutuhan spiritual dan bagian dari pembentukan karakter mereka, bukan sekadar kewajiban yang dipaksakan (Syah, 2021: 150. Sumanto, 2020: . Penutup Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa: Volume 5. Number 1, . Copyright. CC-BY-SA Jurnal Media Ilmu e-ISSN p-ISSN : 2988-6465 : 2988-6694 Strategi Guru PAI dalam pembiasaan shalat Dhuha di tingkat sekolah menengah berjalan secara tersistem melalui empat tahapan utama. Perencanaan komprehensif yang melibatkan koordinasi lintas stakeholder . epala sekolah, kesiswaan, dan orang tu. Pelaksanaan dan pendampingan aktif di mana guru PAI bertindak sebagai role model . Evaluasi dan refleksi berkelanjutan berbasis jurnal monitoring kontrol ibadah. Pendekatan persuasif serta pemberian motivasi kontinu melalui pendekatan humanis. Dampak Pembiasaan shalat Dhuha yang terencana ini secara signifikan mampu meningkatkan kualitas pengalaman ibadah sunnah siswa. Aktivitas rutin ini tidak lagi dipandang sebagai kewajiban yang dipaksakan, melainkan telah bertransformasi menjadi kebutuhan spiritual intrinsik peserta didik yang bermanifestasi pada penguatan karakter religius, seperti kedisiplinan, ketekunan, rasa syukur, tawakal, dan integritas akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Referensi