Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. September 2025 Penerapan Metode ABA (Applied Behaviour Analysi. Dalam Meningkatkan Kontak Mata Anak Autis di SKh Elok Asri Firda Ayu Tantri1. Reza Febri Abadi2 & Dedi Mulia3 1,2,3 Program Studi Pendidikan Khusus. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Indonesia E-mail: firdaayutantri3@gmail. com1, rezafebriabadi@untirta. id2, dedimulia@untirta. RIWAYAT ARTIKEL Received: 2025-08-27 Revised : 2025-09-03 Accepted: 2025-09-08 KEYWORD ABA (Applied Behavior Analysi. Method. Eye contact. Autism. KATA KUNCI Metode ABA (Applied Behavior Analysi. Kontak mata. Anak ABSTRACT This research to examine the effectiveness of the Applied Behavior Analysis (ABA) method in improving eye contact skills of children with autism at SKh Elok Asri. The research background is based on the fact that children with autism often face difficulties in social interaction, particularly in maintaining eye contact as a fundamental aspect of communication. The research employed an experimental method using a Single Subject Research (SSR) design with an A-B-A model, consisting of baseline 1 (A. , intervention (B), and baseline 2 (A. The subject of this study was one elementary-aged child with autism who experienced challenges in eye contact. Data were collected through direct observation and recording of eye contact frequency in 30-minute sessions. The findings indicated a significant improvement in the childAos ability to make eye contact after the implementation of ABA. During baseline 1 (A. , the average frequency of eye contact was 9 times, which increased to an average of 17 times during the intervention phase (B), and remained at an average of 14 times during baseline 2 (A. The study concludes that ABA is effective in enhancing eye contact skills among children with autism and can serve as an alternative behavioral intervention strategy in special education settings. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan metode Applied Behavior Analysis (ABA) dalam meningkatkan kemampuan kontak mata anak autis di SKh Elok Asri. Latar belakang penelitian berangkat dari permasalahan anak autis yang cenderung mengalami hambatan dalam keterampilan interaksi sosial, khususnya dalam menjaga kontak mata sebagai salah satu aspek dasar komunikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan desain subjek tunggal (Single Subject Researc. model AB-A, yang terdiri dari fase baseline 1 (A. , fase intervensi (B), dan fase baseline 2 (A. Subjek penelitian adalah seorang anak autis kelas dasar dengan hambatan pada keterampilan kontak mata. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung dan pencatatan frekuensi kontak mata dalam setiap sesi dengan durasi 30 menit. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan kontak mata setelah penerapan metode ABA. Pada fase baseline 1 (A. rata-rata frekuensi kontak mata anak adalah 9 kali, meningkat menjadi rata-rata 17 kali pada fase intervensi (B), dan tetap terjaga pada rata-rata 14 kali pada fase baseline 2 (A. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penerapan metode ABA efektif dalam meningkatkan kemampuan kontak mata anak autis, serta dapat menjadi alternatif strategi intervensi dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus. 18 | JPI. Vol. No. September 2025 Pendahuluan Rezeika dkk. menjelaskan bahwa anakanak dengan kebutuhan khusus adalah mereka yang memerlukan perawatan dan layanan khusus akibat gangguan perkembangan atau kondisi tertentu yang memengaruhi fungsi fisik, kognitif, psikologis, dan sosial mereka. Dalam literatur internasional, kondisi ini umumnya digambarkan sebagai disabilitas, yang merujuk pada keterbatasan dalam fungsi tubuh dan sehari-hari. Keterbatasan memengaruhi berbagai aspek kehidupan anak, termasuk interaksi sosial, pertumbuhan pribadi, dan prestasi akademik. Salah satu kelompok anak dengan kebutuhan khusus yang semakin mendapat perhatian adalah mereka yang didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme (ASD). Ratnawati . menyatakan bahwa anak-anak dengan autisme adalah mereka yang mengalami memengaruhi komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku mereka, yang biasanya muncul sebelum usia tiga tahun. Kesulitan dalam komunikasi dan interaksi sosial, serta perilaku yang berbeda dari anak-anak pada umumnya, seringkali menyebabkan persepsi negatif di masyarakat. Rani . 8: . mencatat bahwa anak-anak autis sering dianggap aneh, dengan beberapa orang bahkan salah mengira autisme sebagai penyakit menular, yang mengakibatkan anak-anak ini sering menghadapi Untuk mendorong penerimaan sosial, anak-anak mengembangkan keterampilan komunikasi dan interaksi sosial, dengan kontak mata sebagai salah satu kemampuan dasar yang dapat diperkenalkan sejak dini. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satu dari setiap 160 anak di seluruh dunia menderita Autism Spectrum Disorder (ASD). Di Indonesia, prevalensi autisme diperkirakan akan meningkat sekitar 500 kasus baru setiap tahun selama periode 2020Ae2021. Data dari Pusat Statistik Sekolah Khusus (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2. menunjukkan bahwa jumlah anak autis pada tahun 2019 mencapai 144. 102, meningkat dari 826 kasus pada tahun 2018. Tren kenaikan ini menunjukkan bahwa kasus autisme di Indonesia tetap relatif tinggi dan terus meningkat setiap tahun. Angka-angka yang signifikan ini tidak hanya mencerminkan jumlah kasus, tetapi juga menggambarkan populasi anak yang membutuhkan dukungan dalam komunikasi, interaksi sosial, dan Oleh karena itu, penelitian yang menekankan keterampilan dasar seperti kontak mata sangat penting, karena dapat secara langsung membantu anak autis dalam membangun hubungan sosial yang lebih kuat. Tantangan ini menjadi semakin kompleks dalam konteks pendidikan khusus seperti SKh, di mana interaksi antara guru dan siswa menjadi landasan utama proses pembelajaran. Tanpa respons visual, guru kesulitan menentukan apakah anak-anak memahami instruksi yang diberikan. Selain itu, banyak guru masih kekurangan strategi khusus untuk mengembangkan keterampilan kontak mata, baik dalam sesi satu lawan satu maupun dalam kelompok Akibatnya, kontak mata tidak hanya dianggap sebagai ciri khas autisme tetapi juga muncul sebagai hambatan nyata dalam proses pendidikan bagi anakanak dengan kebutuhan khusus yang memerlukan intervensi terarah (Syawalina & Ningsih, 2. Bagi anak-anak dengan autisme, kontak mata sangat penting untuk berinteraksi secara sosial. Sebagai bentuk komunikasi nonverbal yang krusial, kontak mata memainkan peran penting dalam membangun hubungan sosial. Kontak mata perlu dikembangkan pada anak-anak dengan autisme sebelum memperkenalkan bentuk terapi lainnya, karena kualitas kontak mata mereka memengaruhi baik keterampilan interaksi sosial mereka maupun kemampuan akademik mereka untuk menyerap pelajaran di rumah dan di sekolah. Hal ini sejalan dengan Carbone . , yang menyatakan bahwa kontak mata yang kuat mendukung keterampilan interaksi sosial yang lebih baik pada anak-anak autis, sementara kontak mata yang lemah berdampak negatif pada interaksi sosial dan kinerja akademik Alves dkk. menekankan bahwa kontak mata memiliki pengaruh besar terhadap perilaku sosial anak-anak dengan autisme. Meningkatkan keterampilan kontak mata mereka memungkinkan mereka untuk memulai dan mempertahankan interaksi sosial secara lebih efektif, karena kontak mata pada dasarnya berfungsi sebagai pintu gerbang utama dalam proses belajar. Hal ini terlihat jelas saat para peneliti mengunjungi SKh Elok Asri, di mana mereka menemui seorang anak autis yang tidak memutar kepalanya saat dipanggil oleh guru. Anak tersebut juga gagal menjalin kontak mata saat berpartisipasi dalam aktivitas senam atau berinteraksi dengan teman sebaya baik di dalam maupun di luar kelas. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang kondisi anak autis, para peneliti melakukan observasi awal menggunakan instrumen gaya belajar (Maurice dkk. Pengamatan awal di Sekolah Khusus Elok Asri (SK. menunjukkan bahwa siswa dengan gangguan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 19 spektrum autisme mengalami kesulitan dalam mempertahankan kontak mata selama interaksi dengan guru dan teman sekelas. Seorang siswa, misalnya, merespons secara pasif saat namanya dipanggil, tidak memutar kepalanya, dan menghindari kontak mata langsung. Selama sesi belajar kelompok, anak-anak cenderung menarik diri dan menunjukkan sedikit minat untuk berinteraksi secara sosial. Kesulitan dalam menjaga kontak mata ini menghambat kemampuan mereka untuk mengikuti instruksi, berkomunikasi secara efektif, dan mengembangkan hubungan sosial yang sehat. Situasi ini didukung lebih lanjut oleh wawancara informal dengan guru kelas, yang mengungkapkan bahwa pelatihan keterampilan sosial belum menjadi fokus utama dalam perencanaan pelajaran. Pengajaran cenderung menekankan pada bidang akademik dasar seperti membaca, berhitung, dan menulis, sementara keterampilan sosial termasuk kontak mata, komunikasi nonverbal, dan inisiatif sosialAitidak ditangani secara sistematis. Selain itu, media pembelajaran yang digunakan sejauh ini mengembangkan keterampilan sosial seperti kontak Sebagian besar materi tetap bersifat visual konvensional dan berorientasi akademik, seperti mempertimbangkan kebutuhan untuk membimbing anak-anak autis menuju perilaku responsif. Guru juga tidak menyediakan alat bantu komunikasi visual atau alat interaktif yang mampu menarik dan mempertahankan perhatian anak-anak. Media yang dirancang dengan baik dapat secara signifikan memahami anak-anak dengan disabilitas intelektual (Maureza et al. , 2. dan meningkatkan hasil pembelajaran (W. Y & Munajat, 2. Selain itu, integrasi alat dalam pengajaran memberikan pengalaman nyata yang berharga bagi siswa dan memudahkan penyampaian materi bagi pendidik (Yanti et al. , 2. Namun, mengingat tantangan yang ada dalam memanfaatkan media pembelajaran, diperlukan pendekatan pendidikan yang lebih sistematis untuk membekali siswa dengan rentang keterampilan yang lebih luas (Rosyadi & Kasanah. Pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran yang didasarkan pada akal dan iman diharapkan dapat mengembangkan individu yang rasional dan kritis, sekaligus dipandu oleh kesadaran etis dan tindakan (Falaah et al. , 2. Beberapa faktor memengaruhi kemampuan kontak mata pada anak-anak dengan autisme. Pertama, mereka sering merasa tidak nyaman dalam interaksi sosial, terutama saat melakukan kontak Kedua, kurangnya dukungan di sekolah dan di rumah berkontribusi pada ketidakfamiliaran mereka dengan kontak mata, karena orang tua dan guru belum secara konsisten memberikan pelatihan yang memadai, baik melalui instruksi langsung maupun penguatan selama aktivitas belajar. Ketiga, anakanak autis sering kali lebih fokus pada tugas akademik daripada mengembangkan kontak mata. Salah satu solusi potensial untuk masalah ini adalah menerapkan intervensi di lingkungan sekolah. Namun, metode yang saat ini diterapkan masih terbatas, dan banyak strategi yang digunakan sejauh ini terbukti tidak efektif dalam meningkatkan kemampuan anak-anak, terutama dalam membangun kontak mata. Untuk mengatasi hal ini, para peneliti mengusulkan untuk mengadopsi metode Applied Behavior Analysis (ABA) sebagai pendekatan baru, yang diharapkan dapat menghasilkan hasil yang lebih efektif. Applied Behavior Analysis (ABA) adalah pendekatan berbasis bukti yang diakui efektif dalam meningkatkan perilaku kontak mata pada anak-anak dengan autisme. Metode ini menggunakan sistem positive reinforcement untuk mendorong perilaku yang diinginkan, termasuk memperpanjang durasi dan frekuensi kontak mata. Penelitian sebelumnya oleh Resmisari . menunjukkan efektivitas pendekatan ini, dengan menunjukkan peningkatan keterampilan kontak mata pada anak-anak autis melalui penerapan ABA. Salah satu keunggulan metode ABA adalah kesederhanaannya, yang membuatnya lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan yang lebih Hal ini didukung oleh studi yang dilakukan oleh Meindl dan Malone . , yang membandingkan berbagai jenis intervensi untuk anak-anak dengan autisme dan menemukan bahwa metode yang lebih sederhana menghasilkan hasil yang lebih baik daripada metode yang kompleks. Berdasarkan hal ini, para peneliti memutuskan untuk menerapkan metode ABA untuk meningkatkan keterampilan kontak mata pada anak-anak autis di SKh Elok Asri. Tinjauan Literatur Kamus Psikologi Umum mendefinisikan autisme sebagai kondisi yang ditandai dengan keterlibatan yang mendalam dalam pikiran dan fantasi sendiri daripada berinteraksi dengan kehidupan nyata (Handjojo. Judarwanto menggambarkan autisme sebagai gangguan perkembangan yang meluas pada anak-anak, ditandai dengan gangguan atau keterlambatan dalam kognisi, bahasa, komunikasi, dan interaksi sosial. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 20 | JPI. Vol. No. September 2025 Demikian pula. Abadiah dan Sidik . mencatat bahwa anak-anak autis diidentifikasi melalui kesulitan dalam interaksi, komunikasi, dan perilaku. Yuwono . lebih lanjut menyoroti tiga aspek utama autisme pada anak-anak: perilaku, interaksi sosial, dan perilaku. Hallahan dan Kauffman . menggambarkan neurobiologis yang memengaruhi interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku berulang. Pandangan ini didukung oleh DSM-V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. dari American Psychiatric Association . , neurologis yang ditandai dengan kesulitan dalam komunikasi dan interaksi sosial, serta pola perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas dan berulang yang muncul pada masa kanak-kanak. Hafifah . juga mendefinisikan autisme sebagai kondisi neurologis kronis dan heterogen yang ditandai dengan gangguan dalam keterampilan sosial dan komunikasi, minat yang terbatas, serta perilaku yang terbatas atau berulang . Demikian pula. World Health Organization . mengidentifikasi autisme sebagai gangguan neurologis kompleks yang memengaruhi komunikasi, interaksi, dan perilaku. Dalam beberapa kasus, autisme ditandai dengan regresi atau stagnasi perkembangan, di mana anakanak kehilangan kemampuan yang sebelumnya telah mereka kuasai. Misalnya, seorang anak yang sebelumnya menunjukkan kontak mata yang baik mungkin tiba-tiba mengalami penurunan atau kehilangan total kemampuan ini. Zwaigenbaum dkk. mencatat bahwa regresi semacam ini biasanya terjadi antara usia 6Ae12 bulan dan hingga dua tahun, di mana kemampuan seperti kontak mata dan vokal sosial yang telah muncul sebelumnya mungkin berkurang atau menghilang. Tidak jarang pula anak dengan autisme mengalami gangguan intelektual dan gangguan bahasa yang parah. Namun, ada juga anak autis dengan IQ di atas rata-rata yang menunjukkan bakat luar biasa di bidang pengetahuan tertentu, fenomena yang sering disebut sebagai Autisme Savant. Treffert . menjelaskan bahwa sebagian kecil individu dengan autisme . ekitar 0,5Ae 10%) menunjukkan Aupulau-pulau jeniusAy meskipun memiliki batasan kognitif yang lebih luas. Demikian pula. OAoConnor dan Hermelin . menemukan bahwa autis savant umumnya memiliki IQ yang jauh lebih tinggi daripada non-savant, menyarankan bahwa beberapa anak autis memiliki tingkat kecerdasan dalam atau bahkan di atas rentang Applied Behavior Analysis (ABA) adalah pendekatan modifikasi perilaku yang telah dikembangkan selama beberapa dekade. Pendekatan ini dipelopori oleh psikolog Amerika Ivar O. Lovaas di Universitas California. Los Angeles, dan didasarkan pada teori behaviorisme B. Skinner, yang menekankan penguatan melalui mekanisme stimulus-respons. Lovaas . secara sistematis mengembangkan penggunaan ABA untuk anakanak dengan autisme. Teori ini menyatakan bahwa perilaku menjadi stabil ketika diperkuatAibaik melalui penguatan positif, di mana individu mendapatkan sesuatu yang diinginkan, maupun penguatan negatif, di mana sesuatu yang tidak diinginkan dihilangkan. Sebaliknya, perilaku akan berkurang ketika secara berulang diikuti oleh konsekuensi yang tidak menyenangkan . atau ketika hasil yang menyenangkan ditahan . Handojo . juga mencatat bahwa metode ini sangat representatif dalam memenuhi kebutuhan anak-anak dengan autisme. Soeriawinata . menjelaskan bahwa ABA diterapkan secara sistematis dan terukur untuk meningkatkan keterampilan esensial, termasuk komunikasi, interaksi sosial, serta kemampuan motorik halus dan Sutadi . menggambarkannya sebagai prosedur untuk mengubah perilaku guna membantu individu mengembangkan kompetensi yang selaras dengan nilai-nilai sosial yang berlaku. Dari perspektif yang telah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa Applied Behavior Analysis (ABA) merupakan pendekatan modifikasi perilaku yang ilmiah, sistematis, dan dapat diukur, yang berasal dari teori behaviorisme B. Skinner dan kemudian diterapkan oleh Ivar Lovaas pada anak-anak dengan autisme. Metode ini bekerja berdasarkan prinsip penguatan positif dan negatif, serta pengurangan atau eliminasi perilaku yang tidak diinginkan melalui hukuman atau extinction. Komponen utamanya meliputi identifikasi perilaku target, penerapan petunjuk, pemberian penguatan, pencatatan data perilaku secara sistematis, dan generalisasi keterampilan yang diperoleh ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menerapkan proses yang terstruktur dan berbasis data. ABA telah terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan kritis pada anak-anak dengan autisme seperti komunikasi, interaksi sosial, dan kemampuan motorik halus dan kasar menjadikannya strategi yang sangat relevan dan bermakna untuk intervensi perilaku adaptif. Kontak mata merupakan bentuk komunikasi timbal balik yang terjadi ketika dua individu saling Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 21 menatap mata, di mana salah satu pihak memberikan stimulus dan pihak lain merespons melalui ucapan atau gerakan (Mitra, 2. Kontak mata merupakan unsur penting dalam interaksi sosial. Anita dan Ike Anggraika . mencatat bahwa menjaga kontak mata yang baik mendukung interaksi sosial yang sehat dan perkembangan bahasa, sedangkan kontak mata yang buruk mengakibatkan interaksi sosial yang terbatas. Selain itu, kontak mata memiliki nilai psikososial yang signifikan, karena arah pandangan seseorang sering dianggap sebagai sinyal positif yang mencerminkan niat untuk berkomunikasi atau perasaan kasih sayang. Individu yang melakukan kontak mata umumnya dianggap lebih ramah dan menarik dibandingkan dengan mereka yang Kontak mata seringkali menjadi salah satu tantangan terbesar bagi anak-anak dengan autisme. Yuwono . menjelaskan bahwa anak-anak ini sering mengalihkan pandangan mereka selama interaksi karena kesulitan dalam mempertahankan kontak mata. Panggoa dkk. menyoroti bahwa kesulitan ini merupakan ciri khas autisme, mencerminkan tantangan dalam memahami isyarat Akibatnya, anak-anak mungkin menunjukkan tatapan kosong atau kesulitan memahami sinyal emosional, sehingga intervensi yang ditargetkan diperlukan untuk mengembangkan kemampuan kontak mata mereka. Anthony dkk. juga mencatat bahwa sensitivitas sensorik yang tinggi dapat membuat kontak mata menjadi pengalaman yang intens dan tidak nyaman bagi anak-anak autis, mendorong mereka untuk Dalton dkk. menemukan bahwa variasi aktivitas otak, terutama di area fusiform face (FFA) dan amigdala, berkontribusi pada kesulitan yang dihadapi anak-anak autis dalam mengenali wajah dan menafsirkan emosi melalui kontak mata. Tantangan ini semakin parah akibat tingkat kecemasan sosial yang tinggi yang mereka alami saat diharuskan mempertahankan kontak mata. Akibatnya, anak-anak autis seringkali hanya mampu mempertahankan kontak mata sebentarAikadangkadang kurang dari lima detikAiseperti yang diamati pada siswa kelas enam di SKh Elok Asri. Kontak mata memainkan peran penting dalam interaksi sosial dan perkembangan bahasa, namun anak-anak dengan autisme menghadapi berbagai kecemasan sosial, dan perbedaan neurologis. Kesulitan dalam kontak mata ini menghambat kemampuan mereka untuk memahami dan merespons isyarat sosial. Oleh karena itu, intervensi yang terstruktur dan bertahap sangat penting untuk membantu mereka mengembangkan kemampuan menjaga kontak mata, sehingga dapat meningkatkan keterampilan komunikasi dan sosial mereka. Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental Sugiyono . Desain penelitian yang diterapkan adalah desain subjek tunggal, yang juga dikenal sebagai Single Subject Research (SSR). Sunanto dkk. menjelaskan bahwa SSR adalah jenis penelitian yang digunakan untuk mengevaluasi dampak intervensi atau pengobatan pada subjek Salah satu keunggulan pendekatan ini adalah efek intervensi dapat diamati dengan cepat, memungkinkan peneliti untuk menentukan apakah intervensi tersebut efektif dalam menjawab pertanyaan penelitian. Dalam penelitian ini, penelitian subjek tunggal menggunakan desain A-BA (Sunanto, 2. , seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Gambar 1. Desain A-B-A memiliki tiga tahap yaitu. A1 . B (Intervens. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI dengan autisme di SDKh. Data dikumpulkan melalui observasi, tes, dan dokumentasi. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan analisis dalam kondisi dan analisis antar kondisi. Hasil Penelitian ini menggunakan desain subjek tunggal dengan struktur A-B-A, yang dilaksanakan di SKh Elok Asri melalui beberapa sesi. Desain tersebut terdiri dari tiga fase: fase awal sebelum intervensi, yang disebut baseline 1 (A. intervensi menggunakan metode ABA (B). dan fase pasca-intervensi, atau baseline 2 (A. Baseline 1 (A. dilaksanakan selama 4 sesi, fase intervensi (B) selama 8 sesi, dan baseline 2 (A. selama 4 sesi, dengan setiap sesi berdurasi 30 menit. Hasil penelitian tentang frekuensi kontak mata pada anak-anak di tiga faseAifase baseline 1 (A. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 22 | JPI. Vol. No. September 2025 intervensi (B), dan baseline 2 (A. menunjukkan perbedaan yang signifikan sebelum, selama, dan setelah intervensi. Pada fase baseline 1, frekuensi kontak mata rata-rata rendah, berkisar antara 8 hingga 9 kali per sesi. Selama fase intervensi, bagaimanapun, terjadi peningkatan yang stabil, dengan frekuensi meningkat menjadi 10Ae19 kali per Setelah pengobatan berakhir dan anak-anak memasuki fase baseline 2, frekuensi kontak mata mereka tetap tinggi, berkisar antara 16 hingga 17 kali per sesi. Temuan ini membuktikan bahwa metode ABA efektif dalam meningkatkan keterampilan kontak mata pada anak-anak dengan autisme dan menghasilkan efek yang bertahan lama bahkan setelah intervensi berakhir. Gambar 2. Rekapitulasi Frekuensi Hasil Penelitian Gambar 2 menunjukkan perbandingan frekuensi kontak mata anak-anak selama tiga fase studi: baseline 1 (A. , intervensi (B), dan baseline 2 (A. Grafik menunjukkan peningkatan yang signifikan selama fase intervensi, setelah pola yang sebelumnya rendah dan stabil pada baseline 1. Pada baseline 1, frekuensi kontak mata hanya berkisar antara 8 hingga 9 kali per sesi. Selama fase intervensi, terlihat peningkatan yang stabil, mencapai antara 10 hingga 19 kali per sesi. Setelah intervensi berakhir dan baseline 2 dimulai, kemampuan kontak mata anak-anak tetap relatif tinggi, berkisar antara 16 hingga 17 kali per sesi. Kecenderungan ini menunjukkan efektivitas metode ABA dalam meningkatkan keterampilan kontak mata dan mengonfirmasi bahwa perbaikan tersebut dapat Analisis dalam kondisi mengacu pada pemeriksaan perubahan data yang terjadi dalam kondisi tertentu, seperti fase baseline atau intervensi (Sunanto, 2. Dalam studi ini, para peneliti menerapkan desain A-B-A, yang melibatkan tiga kondisi untuk analisis. Menurut Sunanto dkk. komponen analisis dalam kondisi meliputi durasi kondisi, arah kecenderungan, stabilitas dan rentang, kecenderungan kestabilan, laju perubahan, dan pola Tabel 1. Hasil Analisis dalam kondisi Analisis Dalam Kondisi Kondisi Panjang Kecenderun gan arah Tingkat 4:4= 5:8= 3:4= stabilitas dan 62,5% Kecenderun Stabil Variabel Variabel gan stabilitas Tingkat 18 - 16 14 - 13 (=) ( ) ( ) Jejak data (=) ( ) ( ) Analisis Antar Kondisi Kondisi B/A1 A2/B Perubahan n arah dan ( ) ( ) ( ) (=) Perubahan Variabel ke Stabil ke Variabel Stabil Perubahan . level data Overlap . : 8 x 100%) . : 4 x 100%) Tabel di atas menyajikan ringkasan hasil analisis data, baik dalam maupun antar kondisi, memberikan gambaran komprehensif tentang efektivitas Analisis dalam kondisi menunjukkan bahwa pada baseline 1 (A. , frekuensi kontak mata anak-anak masih rendah, berkisar antara 8 hingga 9 kali per sesi, dengan pola yang stabil tanpa perbaikan yang signifikan. Selama fase intervensi (B), terlihat peningkatan yang stabil, mencapai hingga 19 kali per sesi, dengan kecenderungan yang konsisten dan Hal ini menunjukkan bahwa penerapan metode ABA memiliki dampak positif terhadap peningkatan keterampilan kontak mata anak-anak. Selain itu, pada baseline 2 (A. , kemampuan kontak mata anak-anak tetap tinggi antara 16 hingga 17 kali per sesi dengan pola yang stabil. Analisis antar-fase menunjukkan pergeseran yang signifikan dari fase dasar 1 (A. ke fase intervensi (B), ditandai dengan peningkatan drastis dari tingkat awal yang rendah ke kinerja yang lebih Selain itu, perbandingan antara fase intervensi (B) dan fase dasar 2 (A. menunjukkan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 23 bahwa keterampilan yang dikembangkan selama intervensi tetap terjaga bahkan setelah pengobatan Secara keseluruhan, hasil ini membuktikan bahwa metode ABA tidak hanya efektif dalam meningkatkan keterampilan kontak mata pada anakanak dengan autisme, tetapi juga mampu mempertahankan perbaikan tersebut dalam jangka pendek setelah intervensi. Anak-anak dengan autisme mengalami gangguan perkembangan yang meluas, ditandai dengan keterlambatan dan gangguan dalam kemampuan kognitif, bahasa, komunikasi, dan interaksi sosial (Judarwanto, 2. Salah satu tantangan umum yang mereka hadapi adalah dalam interaksi sosial, terutama terkait dengan kontak mata. Kontak mata sangat penting bagi anak-anak. tanpa kontak mata yang memadai, mereka mungkin kesulitan mengembangkan keterampilan yang lebih kompleks. Oleh karena itu, intervensi diperlukan untuk membantu meningkatkan kontak mata pada anakanak autis. Beberapa pendekatan dapat digunakan untuk mengatasi kesulitan kontak mata pada anak dengan autisme, salah satunya adalah metode Applied Behavior Analysis (ABA). ABA adalah pendekatan pengajaran yang menerapkan modifikasi konsisten pada aktivitas sehari-hari untuk membentuk dan meningkatkan perilaku. Metode ini telah terbukti memberikan efek positif dalam mengurangi tantangan perilaku, seperti yang ditunjukkan dalam studi oleh Jessy dan Diswantika . , karena menggunakan penguatan sebagai motivator bagi anak-anak untuk melakukan perilaku yang Dalam hal yang sama. Handojo . 8: . mencatat bahwa ABA sangat representatif sebagai metode pengobatan untuk anak-anak dengan autisme. Mengingat kontak mata subjek masih belum optimal misalnya, saat diminta untuk bercakapcakap, subjek menghindari menatap mata orang lain peneliti menerapkan metode ABA melalui tiga fase: 4 sesi baseline 1, 8 sesi intervensi, dan 4 sesi Selama fase baseline 1, frekuensi kontak mata tetap rendah. misalnya, pada sesi pertama, hanya tercatat 4 kali. Hal ini sejalan dengan temuan Dawson et al. , yang mencatat bahwa anakanak autis sering mengalami kesulitan dalam membangun kontak mata akibat kekurangan dalam perhatian sosial dan kesulitan fokus pada stimulus Hasil yang rendah pada fase awal menunjukkan bahwa, tanpa intervensi yang ditargetkan, keterampilan kontak mata anak-anak tidak mungkin berkembang secara alami. Selanjutnya pada baseline 2, hasilnya meningkat menjadi rata-rata 16Ae17 kali per sesi. Peningkatan ini dapat dikaitkan dengan fase intervensi, di mana anak-anak dilatih menggunakan prinsip penguatan Seperti yang ditekankan oleh Cooper dkk. , penguatan yang konsisten meningkatkan kemungkinan terjadinya perilaku target. Hasil ini keterampilan kontak mata anak-anak tidak hanya membaik tetapi juga tetap stabil bahkan setelah pengobatan berakhir. Hal ini membuktikan efektivitas metode ABA dalam mengatasi kesulitan kontak mata pada anak autis dan mendukung penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa ABA dapat secara berkelanjutan mengubah perilaku sosial mereka (Lovaas, 2. Pada baseline 1 (A. , dari sesi pertama hingga terakhir, frekuensi kontak mata subjek menunjukkan variasi yang signifikan, dengan pencapaian terendah 9 kali dan tertinggi 15 kali. Hasil terendah 9 kali pada beberapa sesi menunjukkan bahwa anak mengalami hambatan internal yang memengaruhi perilaku Faktor-faktor yang berkontribusi meliputi kondisi fisiologis dan konsentrasi yang terbatas. Volkmar dan Wiesner . mencatat bahwa anakanak autis sering menunjukkan fluktuasi perilaku akibat faktor kesehatan dan kondisi emosional yang tidak stabil. Kondisi-kondisi tersebut dapat membuat anak sulit mempertahankan perhatian, sehingga respons kontak mata menjadi berkurang. Di sisi lain, skor tertinggi 15 kali selama fase baseline 1 menunjukkan bahwa ketika anak-anak lebih fokus dan kooperatif, kemampuan kontak mata mereka dapat muncul secara lebih konsisten. Hal ini sejalan dengan temuan Dawson et al. , yang berargumen bahwa kapasitas perhatian anak-anak autis erat terkait dengan kemampuan interaksi sosial mereka, karena perhatian yang lebih besar memungkinkan mereka untuk menunjukkan kontak mata dengan lebih mudah. Hasil ini menunjukkan bahwa variasi yang diamati pada fase baseline 1 menunjukkan bahwa, bahkan tanpa intervensi khusus, keterampilan kontak mata dapat muncul, meskipun tetap sangat bergantung pada kondisi internal dan lingkungan belajar. Hal ini menekankan pentingnya menjaga kondisi belajar yang konsisten untuk mendukung perkembangan perilaku target sebelum menerapkan intervensi. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di SKh Elok Asri, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Applied Behavior Analysis (ABA) meningkatkan kemampuan kontak mata anak autis. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan frekuensi Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 24 | JPI. Vol. No. September 2025 kontak mata, yaitu rata-rata 9 kali pada fase baseline 1 (A. , meningkat menjadi rata-rata 17 kali pada fase intervensi (B), dan tetap terjaga pada rata-rata 14 kali pada fase baseline 2 (A. dalam rentang waktu 30 menit per sesi. Dengan hasil penelitian ini, terbukti bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan metode ABA dapat meningkatkan kemampuan kontak mata anak autis di SKh Elok Asri dapat diterima. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa penggunaan metode ABA dapat dijadikan salah satu strategi intervensi yang aplikatif bagi guru maupun orang tua di SKh Elok Asri dalam membantu anak autis mengembangkan keterampilan sosial dasar, khususnya kontak mata yang menjadi fondasi Selain itu, hasil penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi sekolah dalam menentukan pendekatan pembelajaran yang terstruktur dan berbasis penguatan positif. Penelitian ini juga dapat menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya yang ingin mengembangkan intervensi ABA pada keterampilan sosial lain, sehingga manfaatnya semakin luas bagi anak autis di lingkungan pendidikan khusus. Referensi