Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 POTENSI DAN TANTANGAN KONSERVASI KEANEKARAGAMAN AVES DI TAMANHUTAN RAYA (TAHURA) PROF. IR. HERMAN YOHANES AMARASI KABUPATEN KUPANG Blasius Paga1*. Yudhistira A. Ora1. Hendrikus Jemeo1. Flora E. Kleruk1. Melkianus Pobas1. Ika Kristinawanti1 Jurusan Kehutanan Politeknik Pertanian Negeri Kupang Jln Prof Herman Yohanes Lasiana Kupang e-mail: blasiuspaga@yahoo. ABSTRAK Taman Hutan Raya (Tahur. Prof. Herman Yohanes Amarasi memiliki potensi konservasi keanekaragaman hayati, khususnya aves. Namun, keberadaan Tahura ini saat ini dihadapkan pada berbagai ancaman, seperti perambahan hutan, konflik tenurial, penebangan pohon secara ilegal, dan perburuan satwa liar. Aktivitasaktivitas tersebut mengakibatkan kerusakan habitat yang signifikan, mengganggu keseimbangan ekosistem, dan mengancam kelangsungan hidup berbagai spesies burung. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi dengan menilai keanekaragaman, kekayaan dan kemerataan jenis aves serta tantangan konservasi keanekaragaman aves di Tahura ini. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan untuk mengidentifikasi jenis-jenis burung menggunakan metode kombinasi titik hitung dan garis transek, menganalisis tantangan konservasi keanekaragaman aves berdasarkan studi literatur terhadap keberadaan Tahura. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Tahura ini masih memiliki keanekaragaman aves tergolong sedang (HA 2,. , kekayaan aves rendah (R 2,. dan kemerataan jenis tergolong sedang (E 0,. Namun, beberapa spesies terancam punah akibat kehilangan habitat dan perburuan. Tantangan utama terhadap kelestarian aves di lokasi penelitian ini adalah kerusakan habitat akibat aktivitas manusia. Upaya mengatasi permasalahan ini, diperlukan upaya konservasi yang komprehensif, melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga lembaga swadaya masyarakat. Penegakan hukum terhadap pelaku perambahan dan perburuan, pengembangan program edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi, serta pengembangan ekowisata berbasis konservasi. Kata kunci Taman Hutan Raya, keanekaragaman aves, konservasi, kerusakan habitat, perburuan PENDAHULUAN Taman Hutan Raya (Tahur. Prof. Ir. Herman Yohanes Amarasi (Tahura Amaras. , merupakan salah satu kawasan konservasi yang memiliki potensi besar dalam hal keanekaragaman Kawasan hutan alami tersebar dalam luasan 2. 038,30 hektar, sehingga menjadi benteng terakhir bagi banyak spesies, khususnya aves. Keberadaan berbagai jenis burung di kawasan ini tidak hanya memberikan nilai estetika, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan Namun, berbagai ancaman seperti perambahan hutan, konflik tenurial, kegiatan ilegal dalam penebangan pohon dan perburuan satwa liar dan perubahan iklim mengancam kelestarian keanekaragaman aves di Tahura ini. Burung merupakan salah satu kelompok fauna yang paling mudah diamati dan diidentifikasi, sehingga sering digunakan sebagai indikator kesehatan ekosistem. Wilson . dalam teorinya tentang "Biophilia" menyatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk terhubung dengan alam dan makhluk hidup lainnya, dan burung adalah salah satu elemen alam yang paling menarik perhatian manusia. Kellert . juga menemukan bahwa burung adalah salah satu kelompok hewan yang paling sering disebutkan oleh masyarakat tertentu sebagai simbol keindahan Nilai estetika burung dapat terlihat dari warna-warni bulu yang mencolok, suara kicauan yang merdu, dan pola terbang yang indah dapat menciptakan pemandangan dan suara yang menyenangkan bagi manusia. Kontak dengan alam memainkan peran mendasar dalam Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 kesejahteraan fisik dan mental manusia, yang melakukan hubungan inheren antara manusia dan Terkait peran burung dalam menjaga keseimbangan ekosistem dapat dipemantau dari pertumbuhan populasi dan keanekaragaman burung pada suatu lokasi. Kehadiran beragam jenis burung dapat mengukur kualitas lingkungan secara tidak langsung. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran berbagai jenis burung memiliki peran penting sebagai bioindikator kesehatan lingkungan (Sugiharto, et al. , 2017. Paga, et al. , 2021. Rifai, et al. , 2024. Wardani et al. Peran burung juga sangat positif di alam sebagai pengendali hama, penyerbuk, pemencar biji dan memiliki nilai ekonomis sebagai objek wisata tidak dapat dipungkiri (Green & Elmberg, 2013. Sanesi et al. , 2009. Wenny et al. , 2. Tahura ini dengan beragam tipe habitatnya memiliki potensi besar sebagai habitat bagi berbagai jenis burung. Kawasan dengan hutan munsoon berciri hutan kering gugur daun yang mendominasi di wilayah ini masih terdapat hutan alam yang bertajuk rapat yang membentuk ekosistem unik dengan keanekaragaman hayati yang tinggi di Pulau Timor di antaranya aves. Keanekaragaman jenis dan persebaran burung sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti tipe habitat, iklim, dan vegetasi dan juga ketersediaan berbagai jenis vegetasi pakan sebagai makanannya (Wiens, 1989. Muhammad et al. , 2. Kepadatan, kekayaan jenis, dan kemerataan sebaran burung di suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi geografis, ketinggian, iklim, dan karakteristik vegetasi (Wiens, 1989. Sutherland et al. , 2004. Ayat & Tata, 2. Meskipun memiliki potensi yang besar. Tahura Amarasi juga menghadapi berbagai ancaman yang dapat mengancam kelestarian keanekaragaman aves. Perburuan burung liar merupakan salah satuancaman utama terhadap kelestarian keanekaragaman burung pada habitat alami (Whytock et , 2. Selain itu, kegiatan pembangunan infrastruktur dan tekanan antropogenik lainnya di kawasan penelitian ini yang tidak memperhatikan kelestarian habitat, sehingga mengancam keberlangsungan hidup berbagai jenis burung Pulau Timor. Aktivitas antropogenik, dapat merusak habitat burung dan mengganggu siklus hidup mereka, sehingga menyebabkan penurunan populasi dan mengancam keberlangsungan hidup berbagai spesies burung (Rohman et al. , 2. Berbagai praktek kerusakan ekosistem dan habitat burung seperti perambahan hutan, perburuan, dan perubahan iklim dapat menyebabkan perubahan distribusi dan pola migrasi serta kelestarian keanekaragaman aves di Tahura ini. Penelitian mengenai potensi dan tantangan konservasi aves di Tahura ini menjadi sangat relevan untuk dilakukan sebagai upaya serius untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan perlindungan habitat burung. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi dengan menilai keanekaragaman, kekayaan dan kemerataan jenis aves serta tantangan konservasi keanekaragaman aves berdasarkan identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi dan kelimpahan aves serta mengancam kelestariannya di Tahura Amarasi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Tahura Amarasi pada tingkat lokal Pulau Timor Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 dan nasional. Informasi mengenai keanekaragaman aves, ancaman yang dihadapi, dan potensi konservasi yang ada dapat menjadi dasar dalam menyusun rencana aksi konservasi yang lebih terarah di masa depan. METODE PENELITIAN Wilayah Studi Lokasi penelitian Taman Hutan Raya Prof. Ir. Herman Yohanes. Amarasi, yang mencakup area seluas 2. 038,30 hektar. Secara geografis, kawasan ini berada di antara koordinat 123A 49Ao - 123A 55Ao Bujur Timur dan 10A 13Ao - 10A 18Ao Lintang Selatan, dengan ketinggian bervariasi antara 200-500 meter di atas permukaan laut (Fisher, 2011. Paga, 2. Tipe habitat utama kawasan ini merupakan hutan kering luruh daun mulai dataran rendah mendominasi di lokasi ini dengan keanekaragaman hayati yang tinggi sebagaimana kawasan lainnya di Pulau Timor (Lesmana et al. , 2. Gambar 1. Peta Lokasi Taman Hutan Raya Prof. Ir. Herman Yohanes Prosedur Pengambilan Data Pengumpulan data keanekaragaman jenis aves menggunakan kombinasi metode titik hitung dan garis transek. Setiap burung yang dijumpai selama perjalan dalam transek dan selama 10 menit berhenti di titik hitung dicatat terkait data nama jenis dan jumlah jenis burung, jumlah individu tiap jenis, status konservasi dan pelindungan, lokasi koordinat perjumpaan, tipe tutupan lahan. Jumlah transek sebanyak 19 tansek dengan 100 titik hitung, jarak antar transek 500 m dan jarak antar titik hitung yaitu 250 m. Radius pengamatan paling jauh di sisi kiri-kanan dari garis transek dan titik hitung yaitu 50 m karena mempertimbangkan kemampuan mata telanjang dapat mengenali jenis Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 secara pasti dengan jelas (Bibby et, al 2. Titik hitung diletakan secara sistematis pada tiap jalur transek pada setiap tipe tutupan lahan . utan primer, hutan sekunder, savan dan lahan pertanian. Pengamatan harian dilakukan pada pagi hari (Pukul 06. 00 WITA) dan sore hari 16. WITA untuk menyesuaikan dengan tingginya aktivitas burung pada saat tersebut. Identifikasi morfologi dan pencatatan jenis burung menggunakan pencocokan antara hasil pengamatan dengan binokuler dan perekaman dari foto menggunakan kamera dengan buku panduan lapangan burungburung di Kawasan Wallacea Sulawesi. Maluku dan Nusa Tenggara. Mentatat hasil pengamatan ke dalam tally sheet untuk setiap pertemuan dengan burung baik secara langsung . elalui morfologi dan tingkah lak. maupun tidak langsung . elalui suara dan karakteristik saran. Dilakukan pengulangan pengamatan sebanyak 3 kali pengamatan selama periode penelitian (November 2923Januari 2. yang bertujuan untuk meningkatkan akurasi data dan memahami pola temporal perilaku burung akibat perubahan fluktuasi populasi dan kondsi lingkungan. Gambar 2. Peta Desain Sampling Taman Hutan Raya Prof. Ir. Herman Yohanes Data tantangan konservasi keanekaragaman aves diambil dari sekunder terkait faktorfaktor yang mempengaruhi distribusi dan kelimpahan aves serta keterancaman kelestariannya. Data sekunder ini berasal dari laporan hasil penelitian buku dan publikasi jurnal, media massa, data citizen science dari sumber online website pada bidang ornitologi dan sumber terkait lainnya. Analisis Data Untuk keanekaragaman Shannon sebagai acuan (Maguran 2. Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 HAo = - Oc Pi Ln Pi dimana Keterangan: HAo : Indeks Keragaman jenis Shannon Ni: Jumlah individu jenis i N : Jumlah total individu seluruh jenis Kriteria nilai keanekaragaman jenis berdasarkan klasifikasi Index Value of Shannon-Wiener (Asrianny, et al. , 2. , sebagai berikut: HAo: > 3 = keanekaragaman jenis tinggi, penyebaran jumlah jenis tinggi dan kestabilan HAo: 1-3 berkategori keanekaragaman sedang, penyebaran jumlah individu tiap jenis sedang dan kestabilan komunitas sedang. HAo < 1 berkategori keanekaragaman jenis rendah, penyebaran jumlah individu tiap jenis rendah kestabilan komunitas rendah. Data tantangan konservasi keanekaragaman aves diambil dari sekunder terkait faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi dan kelimpahan aves serta keterancaman kelestariannya dianalisis secara deskriptif kuantitatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Penilaian keanekaragaman, kekayaan dan kemerataan jenis aves Berdasarkan hasil survei keanekaragaman jenis burung yang dilakukan di Tahura Prof. Ir. Herman Yohanes, ditemukan 17 jenis burung dengan jumlah individu total 707 individu yang tergabung dalam 14 famili (Tabel . Famili dengan jumlah jenis terbanyak adalah Meliphagidae . atau keluarga burung pengisap madu dan Muscicapidae . keluarga burung sikatan. Jenis burung dengan jumlah individu terbanyak berasal dari famili Meliphagidae (Lichmera flacican. disusul oleh famili Pachycephalidae. Muscicapidae. Dicaeidae. Pycnonotidae dan Rhipiduridae. Jumlah jenis terbanyak ditemukan di hutan primer yaitu sebanyak 15 jenis dan jumlah jenis paling sedikit ditemukan di lahan pertanian . Hal ini menunjukkan bahwa hutan masih memegang peranan penting dalam mendukung kehidupan berbagai jenis burung. Beberapa jenis burung merupakan penghuni hutan tetap seperti Tyto sororcula dan Geopelia maugeus, namun kebanyakan jenis mampu beradaptasi di berbagai tipe habitat. Widodo . menyatakan bahwa famili burung seperti Pycnonotidae dan Paserridae mampu beradaptasi pada berbagai tipe habitat mulai dari hutan sampai lahan pertanian. Jenis-jenis burung dari famili ini juga dapat ditemukan dengan mudah di habitat buatan karena memiliki toleransi yang tinggi terhadap kehadiran manusia danmampu beradaptasi dengan gangguan yang disebabkan oleh kegiatan manusia (Withaningsih et Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 al, 2. Akan tetapi, hutan masih merupakan habitat utama dari kebanyakan jenis burung tersebut. Aktivitas manusia, seperti pertanian, dapat mempengaruhi kehadiran berbagai jenis burung (Withaningsih et al. , 2. Seluruh jenis yang ditemukan di kawasan Tahura Prof. Ir. Herman Yohanes merupakan jenis resident atau penghuni tetap di habitatnya dan bukan merupakan burung migran. Terdapat dua jenis feral atau bukan jenis alami di Pulau Timor yaitu Passer montanus dan Pycnonotus aurigaster. Jenis feral merupakan jenis burung asing yang terlepas dari peliharaan baik sengaja maupun tidak sengaja dan keberadaannya akan membawa konsekuensi ekologis bagi habitat aslinya (Hidayat, 2. Jenis ini tergolong invasif alien spesies karena jenis-jenis asli dapat dimangsa, dikalahkan pertumbuhannya, gagal berkompetisi (Hidayat, 2. Selain itu, alien spesies dapat juga menjadi vektor penyakit dan berhibridisasi dengan jenis lokal sehingga mengancam kelestarian jenis lokal. Jenis-jenis yang ditemukan di beberapa tipe habitat akan menunjukkan jumlah individu yang lebih banyak, dibandingkan jenis-jenis yang sangat tergantung pada hutan. Misalnya. Lichmera flavicans yang ditemukan di seluruh tipe habitat di Tahura Prof. Ir. Herman Yohanes, memiliki jumlahindividu yang lebih banyak dibandingkan dengan Philemon inornatus yang hanya ditemukan di satu tipe habitat. Hal ini disebabkan satwa liar yang hidup di berbagai tipe habitat mampu beradaptasi dengan baik dan memiliki preferensi habitat yang lebih luas dibandingkan satwa Kondisi habitat di Tahura sangat mendukung kehidupan berbagai jenis burung, karena terdiri dari berbagai tipe habitat, mulai dari hutan sampai areal pertanian. Habitat yang memiliki jenis vegetasi yang beragam akan menyediakan lebih banyak jenis pakan, sehingga pilihan pakan bagi burung lebih banyak (Dewi, 2. Hal ini sesuai dengan kondisi vegetasi di Tahura yang memiliki jenis vegetasi yang cukup beragam sehingga pilihan jenis makanan bagi burung cukup beragam. Khususnya jenis Lichmera flavicans bahan makanan cukup melimpah karena jenis ini tergolong burung penghisap berbagai macam madu bunga . Sedangkan jenis Tyto sorocula ditemukan paling sedikit karena jenis ini masuk dalam kategori jenis langka dan menghuni hutan primer (Coates, 1. Banyak atau sedikitnya jenis burung yang ditemukan sangat dipengaruhi oleh kondisi habitatnya. Habitat yang baik akan mendukung perkembangbiakan burung yang hidup di dalamya secara normal. Nugroho . mengatakan burung memerlukan habitat yang digunakan untuk mencari makan, minum, berlindung, bermain dan berkembang biak. Habitat memiliki kapasitas . aya dukun. tertentu untuk mendukung pertumbuhan populasi suatu organisme (Odum. Berdasarkan status konservasi IUCN (International Union for Concervation Natur. , sebagian besar jenis burung di Taman Hutan Raya (Tahur. Prof. Ir. Herman Yohanes masuk dalam status Least Concern (LC). Lima belas jenis burung masuk dalam status LC dan 3 jenis lainnya dalam status NT (Near Threatene. Menurut LIPI . Least Concern merupakan status untuk jenis organisme yang sudah dievaluasi akan tetapi tidak dimasukkan dalam kategori terancam. Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 karena berisiko yang mendekati kualifikasi atau memiliki kemungkinan rendah. Sedangkan Near Threatened merupakan status untuk jenis organisme yang mendekati terancam punah apabila dalam evaluasi tidak memenuhi kategori kritis, genting atau rentan pada saat ini tetapi mendekati kualifikasi atau dinilai akan memenuhi kategori terancam punah dalam waktu dekat. Tiga jenis burung yang berstatus NT adalah Ficedula timorensis. Rhipidura opistherythra dan Geokichla Berdasarkan status perdagangan satwa liar menurut CITES (Convention on International Tradeof Endangered Species of Flora and Faun. , satu jenis burung di Tahura Prof. Ir. Herman Yohanes yaitu Tyto sororcula masuk dalam status Appendix II. Appendix II merupakan kategori yang memuat daftar seluruh jenis tumbuhan dan satwa liar yang dapat terancam punah apabila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan. Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P. 106/MENLHK/SETJEN/KUM. 1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, tidak ada jenis burung di Tahura ini yang masuk dalam status perlindungan. Kawasan Tahura Prof. Ir. Herman Yohanes mendukung kehidupan 10 jenis burung endemik diNusa Tenggara yaitu Decu timor (Saxicola gutturalli. Sikantan timor (Ficedula timorensi. Isap madu timor (Lichmera flavican. Cikukua timor (Philemon inornatu. Celucuk timor (Buettikoferella bivittat. Kancilan timor (Pachycephala orpheu. Ara timor (Specotheres viridi. Cikrak timor (Phylloscopus presbyte. Perkutut loreng (Geopelia mauge. Anis timor (Geokichla peroni. dan Remetuk timor (Gerygone inornat. Cikukua timor (Philemon inornatu. Celucuk timor (Buettikoferella bivittat. Sikatan timor (Ficedula timorensi. Isap madu timor (Lichmera flavican. dan burung Ara timor (Sphecotheres virdi. merupakan jenis burung endemik Pulau Timor, artinya hanya dapat ditemukan di Pulau Timor. Keberadaan jenis-jenis yang endemik dan terancam punah menunjukkan nilai penting Kawasan Tahura Prof. Ir. Herman Yohanes dari sisi konservasi. Aksi-aksi konservasi diperlukan untuk melindungi dan menjaga kelestarian jenis-jenis burung di kawasan tersebut yang semakin terancam keberadaannya karena perdagangan liar dan kehilangan habitat akibat perambahan hutan dan konversi hutan untuk kepentingan pembangunan berbagai infrastruktur yang menopang kehidupan manusia. Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 Tabel 1. Komposisi jenis burung di Taman Hutan Raya (Tahur. Prof. Ir. Herman Yohanes Amarasi Famili Muscicapidae Meliphagidae Locustellidae Pachycephalidae Oriolidae Phylloscopidae Tytonidae Scotocercidae Pycnonotidae Passeridae Rhipiduridae Turtidae Columbidae Dicaeidae Jumlah Nama Ilmiah Saxicola gutturallis Ficedula timorensis Lichmera flavicans Philemon inornatus Bradypterus seebohmi Buettikoferella bivittata Pachycephala orpheus Sphecotheres viridis Phylloscopus presbytes Tyto sororcula Tesia everetti Pycnonotus aurigaster Passer montanus Rhipidura opistherythra Geokichla peronii Geopelia maugeus Dicaeum maugei Nama Jenis Decu timor Sikatan timor Isap madu timor Cikukua timor Ceret kuning Celucuk timor Kancilan timor Ara timor Cikrak timor Serak kecil Tesia timor Cucak kutilang Burung gereja Kipasan tanimbar Anis timor Perkutut loreng Cabai lombok Lokasi Jumlah Individu Keterangan: ditemukan jenis burung, - : tidak ditemukan jenis burung. L1: hutan primer. L2: hutan sekunder. L3: savanna. L4: lahan pertanian. Berdasarkan perhitungan nilai Indeks Keanekaragaman Jenis Burung (Tabel . dapat diketahuibahwa nilai tertinggi terdapat pada hutan primer . dan nilai terrendah berada di lahan pertanian . Seluruh tipe habitat yaitu hutan primer, hutan sekunder, savana dan lahan pertanian memiliki nilai keanekaragaman yang tergolong sedang karena nilai indeks berkisar 1