Jurnal Ilmiah Keperawatan dan Kesehatan Alkautsar ( JIKKA ) e-ISSN :2963-9042 Online : https://jurnal. id/index. php/JIKKA TERAPI BICARA AuAIUEOAy UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI VERBAL PASCA STROKE NON HEMORAGIK 1,2,3 Nisaul Latifah1. Ratna Kurniawati2. Tri Suraning Wulandari3 Program Studi D-i Akademi Keperawatan Alkautsar Temanggung Email Korespondensi : nisaullatifah@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Stroke non hemoragik adalah gangguan pembuluh darah yang menyebabkan iskemia dan hipoksia pada otak. Biasanya disebabkan beberapa penyakit dan berlangsung secara tiba tiba. Gejala yang timbul tubuh lemas, sakit kepala, hilang kesadaran dan gangguan komunikasi seperti pelo, kesulitan berbicara, mengucapkan kata-kata, afasia dan perot. Apabila keadaan tersebut tidak segera diatasi dapat menyebabkan stress dan depresi. Tujuan: Mengetahui efek terapi bicara AuAIUEOAy untuk meningkatkan kemampuan berbicara pasca stroke non hemoragik yang mengalami gangguan komunikasi. Metode: Penelitian studi kasus menggunakan teknik non acak . ccidental samplin. Terapi dilakukan dua kali sehari . agi dan sor. selama 7 hari. Evaluasi tindakan menggunakan SLKI: tingkat komunikasi dan skala komunikasi fungsional derby. Hasil: Evaluasi dari SLKI tingkat komunikasi seperti kemampuan berbicara, mendengar, ekspresi dan kontak mata meningkat. Afasia, pelo, dan disatria menurun. Respon perilaku dan pemahaman komunikasi membaik. Evaluasi terakhir dari skala komunikasi fungsional derby mengalami peningkatan dari skala 10 menjadi 13 pada subjek pertama dan subjek kedua dari skala 13 menjadi 16 . Kesimpulan: terapi AIUEO dapat meningkatkan kemampuan bicara pada pasien stroke. Kata Kunci : Stroke Non Hemoragik. Gangguan Komunikasi Verbal. Terapi AIUEO Speech Therapy AuAIUEOAy to Improve Verbal Communication Ability After Non-Hemorrhagic Stroke ABSTRACT Background: Non-hemorrhagic stroke is a blood vessel disorder that causes ischemia and hypoxia in the brain. Usually caused by several diseases and occurs Symptoms that arise are weakness, headaches, loss of consciousness and communication disorders such as slurred speech, difficulty speaking, pronouncing words, aphasia and stomach ache. If this situation is not addressed immediately it can cause stress and depression. Objective: To determine the effect of "AIUEO" speech therapy to improve speech abilities after non-helmorrhagic strokes that experience communication disorders. Method: Case study research uses nonrandom techniques . ccidental samplin. , namely research found directl. Therapy is carried out 2 times a day . orning and evenin. for 7 days. Evaluation of actions using nursing outcomes and the derby functional communication scale. Results: Evaluation of nursing outcomes, communication levels such as speaking, listening, expression and eye contact increased. Aphasia, sluggishness, and dysatria decrease. Behavioral responses and communication comprehension The final evaluation of the derby functional communication scale for both subjects experienced improvements in communication, expression, being able to control anger, puffing out both cheeks, maintaining eye contact and sticking out the Conclusion: AIUEO therapy research can be carried out as a nonpharmacological technique to improve communication in stroke with speech Keywords: Non-Hemorrhagic Stroke. Verbal Communication Disorders. AIUEO Therapy PENDAHULUAN Stroke mempunyai gejala tibatiba lemas dibagian tubuh, wajah, kaki, kesulitan bicara atau memahami hilang kesadaran. Serangan penyakit stroke sangat bervariasi, tergantung luas dan area otak yang mengalami kematian Pasien mengalami gangguan bicara atau afasia, hal ini disebabkan karena penyakit stroke menyerang otak sebelah kiri dan mengenai pusat Prevalensi terjadi afasia 21l 40% pada stroke non hemoragik (Maria, 2. Dampak stroke dengan gangguan menye babkan dan sulit memahami perkataan oranglain atau disebut dengan gangguan komunikasi Kondisi tersebut membuat pasien sulit untuk mengungkapkan Akibat keadaan nya dapat menyebabkan stress atau Oleh sebab itu diperlukannya intervensi melatih pasien stroke untuk AuAIUEOAy memenuhi kebutuhan sehari-hari nya. Terapi AuAIUEOAy adalah jenis terapi bicara dengan cara menggerakkan lidah, otot wajah, bibir, serta mengucapkan kata-kata dengan huruf A. O yang bertujuan untuk memperbaiki ucapan agar dapat di pahami oleh orang lain. Hasil penelitian di Desa Sawidago Kecamatan Pamona Utara. Kabupaten Poso yang dilakukan 2 kali sehari selama 6 hari pada 1 orang sempel menunjukkan bahwa hasil pemeriksaan pre dengan penilaian FAST dari skor 25 menjadi 29 (Oktaviani Djabar dkk, 2. Hasil dari pemeriksaan dengan penilaian Skala Komunikasi Fungsional Derby dari skor 9 menjadi 11 klien juga sudah tidak kesulitan berbicara lagi (Yuliyanto dkk, 2. Evaluasi terakhir didapatkan hasil subjek studi komunikasi, dapat mengekspresikan sebelah kiri dan mengontrol perasaan marah, mampu memahami maksud saat berkomunikasi dan mampu (Hastuti & Aderita, 2. stroke non hemoragik dengan gangguan bicara atau afasia di daerah Kabupaten Temanggung. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah gangguan komunikasi verbal. Teknik pengumpulan data adalah menggunakan 2 subjek studi kasus stroke non hemoragik digunakan untuk menentukan skor afasia sedang menggunakan skala Kemudian penjelasan kepada kedua subjek studi kasus mengenai bagaimana gangguan komunikasi dapat diberikan dengan pemberian terapi bicara AuAIUEOAy. Prosedur terapi AIUEO dilakukan selama 5-10 menit selama 2 kali sehari ( pagi dan sore ) dalam 7 hari (Yuliyanto dkk. , 2. METODE PENELITIAN Penyajian data yang dilakukan pada studi kasus dipaparkan secara narasi atau tekstural dilengkapi dengan fakta-fakta yang dijadikan didalam teks naratif. Variable bebas dalam penelitian ini adalah terapi AuAIUEOAy yang diberikan pada pasien HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Hasil penyelesaian masalah keperawatan gangguan komunikasi verbal pada stroke non hemoragik dengan terapi bicara Au AIUEO Au pada bulan November 2023 dan Februari 2024. Hasil pengkajian subjek yang pertama dan kedua tidak jauh berbeda dari 8 pertanyaan 6 pertanyaan terjawab ya memenuhi identifikasi stroke non Kedua subjek memiliki rentang umur diatas 50 tahun dan untuk subjek pertama berjenis kelamin perempuan dan kedua berjenis kelamin laki-laki. Hasil pengkajian stroke non hemoragik akan di presentasikan pada tabel 1. Tabel 1. Identifikasi Stroke Non Hemoragik Subjek 1 Identifikasi Apakah mengalami gangguan rasa di daerah muka atau wajah sesisi atau disertai gangguan rasa pada lengan dan tungkai satu sisi ? Apakah mengalami wajah tidak simetris atau yang dikenal dengan perot ? Apakah mengalami kelemahan anggota gerak dari tingkat ringan sampai kelumpuhan total pada salah satu sisi saja? Apakah ada hasil pemeriksaan CT-SCAN atau MRI ? Apakah mengalami hipertensi ? Apakah sering tiba-tiba tak sadarkan diri atau Apakah mengalami ketidakmampuan untuk berbicara atau mengerti bahasa lisan ? Apakah tiba-tiba merasa lemah dan tidak dapat berdiri, merasa pegal,atau linu pada salah satu sisi tubuh ? Tabel 1. menggambarkan kedua subjek studi kasus mengalami stroke non hemoragik dengan memenuhi tanda gejala stroke non hemoragik berupa perot atau wajah tidak simetris, mengalami kelemahan anggota gerak, riwayat penyakit hipertensi, mengalami gangguan bicara, dan merasa lemas. Pengkajian masalah keperawatan gangguan komunikasi verbal. Kedua Subjek 2 Tidak E Tidak E subjek studi kasus memenuhi hasil yang sama yaitu 7 dari 8 tanda gejala. Kedua subjek mengalami bicara tidak jelas, menunjukkan respon tidak sesuai, afasia, berbicara pelo, tidak ada kontak mata, sulit memahami komunikasi dan sulit mengungkapkan kat-kata. Hasil gangguan komunikasi verbal kedua subjek tercantum pada tabel 2. Tabel 2. Hasil Pengkajian Gangguan Komunikasi Verbal Tanda dan Gejala Tidak mampu bicara jelas Menunjukkan respon tidak sesuai Afasia Pelo Tidak ada kontak mata Sulit memahami komunikasi Sulit menggunakan ekspresi wajah/ tubuh Sulit mengungkapkan kata-kata Subjek 1 Tidak E Subjek 2 Tidak E Selain melakukan pengkajian stroke non hemoragik dan pengkajian masalah keperawatan gangguan komunikasi verbal pada subjek, peneliti juga melakukan penilaian komunikasi menggunakan skala komunikasi fungsional derby pada subjek untuk memenuhi indikator Skala komunikasi subjek pertama 10 . dan subjek kedua 13 . Setelah dilakukan tindakan dilakukan pengukuran evaluasi setiap selesai dilakukan tindakan untuk mengukur keefektifan terapi bicara AuAIUEOAy. Hasil evaluasi kedua subjek studi kasus dapat di uraikan pada tabel 3. Tabel 3. Evaluasi Luaran Keperawatan Subjek 1 Subjek 2 Kemampuan Kesesuaian Kontak mata Afasia Pelo Disatria Respon Pemahaman S 3 4 4 4 Keterangan No 1-4 : 1: menurun , 2: cukup menurun , 3: sedang 4: cukup meningkat, 5: meningkat No 5-7 : 1: meningkat, 2: cukup meningkat, 3: sedang, 4: cukup menurun, 5: menurun No 8-9 :1:memburuk, 2:cukup memburuk, 3:sedang 4:cukup membaik, 5:membaik (PPNI, 2. Luaran Tabel 3. menunjukkan bahwa kemampuan bicara, kontak mata kesesuai ekspresi, kemampuan mendengar cukup meningkat, afasia, pelo, disatria cukup menurun dan respon perilaku, pemahaman komunikasi membaik. Evaluasi skala fungsional komunikasi derby, subjek studi kasus juga di evaluasi tingkat ekspresi, pemahaman dan interaksi mengalami peningkatan atau tidak selama pemberian terapi bicara AuAIUEOAy Tabel 4. Evaluasi Skala Komunikasi Fungsional Derby Ny. Hari ke1 Pagi Sore 2 Pagi Sore 3 Pagi Sore 4 Pagi Sore 5 Pagi Sore 6 Pagi Sore 7 Pagi Sore E P I Tot Ny. Tn. E P I Tot Tn. Tabel 5. Evaluasi Hari Pertama Dan Terakhir Subjek Ny. Tn. Sebelum Sesudah Tabel 5. Evaluasi skala komunikasi fungsional derby didapatkan hasil bahwa komunikasi verbal subjek pertama meningkat skor awalnya 10 menjadi 13, sedangkan subjek kedua yang skor awalnya 13 menjadi 16, bahwasanya terapi AIUEO terbukti efektif digunakan pada penderita stroke dengan gangguan bicara. PEMBAHASAN Mengalami kesulitan berbicara/ bicara tidak jelas Afasia adalah gangguan yang disebabkan oleh kelainan saraf dan organ lainnya yang mengatur fungsi bicara. Penderita stroke yang mengalami cedal disebabkan karena rusaknya saraf otak bagian kiri terutama di nervus IX. Fungsi nervus IX untuk mengirimkan informasi motorik dari dua kelenjar ludah dan gerakan otot dibagian belakang tenggorokan (Miko. Sehingga menyebabkan cedal atau berbicara tidak jelas yang diakibatkan kelainan atau luka pada sistem saraf yang dapat mempengaruhi kekuatan otot lidah sehingga tidak dapat mengeluarkan suara secara maksimal, gangguan artikulasi dan gangguan irama berbicara (Sundoro, 2. Perot . ajah tidak simetri. Ketidaksimetrisan wajah pada pasien stroke non hemoragik bergerak otot wajah yang hilang akibat nervus VII dan nervus V Nervus V mempunyai fungsi untuk merasakan sensasi pada wajah, kulit dan leher atas. Sedangkan nervus VII bertugas untuk mengontrol otot-otot di wajah sehingga memunculkan Terganggunya nervus VII karena infark yang terjadi di pons akibat kerusakan menimbulkan gangguan konduksi, sehingga impuls motorik yang menghantarkan terganggu di nuklear, dan infarknuklear dan berakibat nervus VII terjepit (Huda & Muflihan, 2. Hemiparesis dextra dan sinistra Hemiparesis berkaitan dengan cedera pada otak bagian kiri di mana lokasi tersebut adalah pusat berbicara dan bahasa serta dapat memiliki masalah berekspresi hingga kelemahan pada bagian tubuh sisi kanan. Stroke non hemoragik terdapat 47,7% hemiparesis dextra sedangkan pada stroke hemoragik terdapat 48,5% hemiparesis dextra (Nainggolan , 2. Hemiparesis berkaitan dengan cedera otak bagian kanan atau hemisfer dextra. Kerusakan hemisfer dextra akan berdampak pada komunikasi kognitif seperti susah mengingat, susah dalam memperhatikan dan sulit mengungkapkan alasan. Akibat anggota gerak sebelah kiri. Penderita stroke non hemoragik dengan hemiparesis sinistra adalah 46,3% (Nainggolan dkk. , 2. Mengalami hipertensi Hipertensi merupakan faktor kejadian stroke, baik stroke Hipertensi peningkatan tekanan darah perifer sehingga menyebabkan sistem hemodinamik yang buruk dan terjadi penebalan pembuluh darah serta hipertrofi dari otot jantung. Kejadian hipertensi bisa merusak dinding pembuluh darah yang bisa dengan mudah akan menyebabkan penyumbatan bahkan pecahnya (Characteristic dkk. , 2. Usia Usia merupakan salah satu faktor risiko terjadinya stroke. Studi Framingham menunjukkan bahwa insiden stroke pada 10. penduduk kelompok usia 45-55 tahun sebanyak 22%, 55-64 tahun 32%, dan 65-74 tahun sebanyak Terdapat eksponensial pada insidensi stroke dengan pertambahan usia di mana stroke non hemoragik terbanyak timbul pada usia di atas 65 tahun (Rudi Haryono. Ns. & Maria Putri Sari Utami, 2. Berdasarkan temuan pada subjek pertama terjadi stroke pada usia 85 tahun sedangkan pada subjek kedua mengalami stroke di usia 50 tahun. Jenis kelamin Angka kejadian stroke pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan Namun, diselaraskan dengan usia, risiko stroke lebih rendah terjadi pada wanita dibandingkan pria. Ketika usia mendekati 60 tahun, risiko stroke pada wanita meningkat secara signifikan dibandingkan KESIMPULAN Kesimpulan penelitian ini adalah : Tindakan keperawatan terapi AIUEO intervensi keperawatan teknik berbicara dengan menggerakkan lidah, bibir, otot wajah dan pengucapan kata-kata dengan huruf A. E dan O, saat terapi AIUEO dilaksanakan ada bagian otak yang berpengaruh pada proses bahasa yaitu broca yang berada di bagian depan otak kiri. Terapi diberikan selama 2 kali sehari dalam 7 hari yang bertujuan untuk Terapi AIUEO berbicara pada penderita stroke non hemoragik. Dibuktikan dari intervensi tindakan yang telah dilakukan selama 2 kali dalam 7 hari mengalami peningkatan tingkat komunikasi dari sebelum tindakan nilai komunikasi 3 menjadi 4 pada subjek 1 dan nilai komunikasi 3 menjadi 5 untuk Hasil evaluasi skala komunikasi fungsional derby kedua subjek meningkat seperti subjek pertama skor awalnya 10 menjadi 13, sedangkan pada subjek kedua skor awalnya 13 DAFTAR PUSTAKA