P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Interpretasi Kepemimpinan Transformasional Sultan Agung dalam Memotivasi Rakyat pada Film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta Jezicka Anatasya Permatha Bayu, 2Amara Bilqis Kinanti, 3Amaliyah, 4Erindah Dimisqiyani, 5Rizky Amalia Sinulingga, 6Gagas Gayuh Aji Departemen Bisnis. Fakultas Vokasi. Universitas Airlangga. Surabaya. Indonesia Corresponding author: rizkyamalia@vokasi. E-mail: jezicka. permatha-2023@vokasi. ABSTRAK Kepemimpinan berperan penting dalam mendorong anggota untuk bekerja keras demi mencapai tujuan organisasi, yang tidak hanya melibatkan kekuasaan, tetapi juga proses pengarahan, motivasi, dan pembentukan kerja sama tim untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian tentang kepemimpinan lebih terfokus pada konteks modern atau organisasi kontemporer, sementara kajian mengenai nilai-nilai kepemimpinan historis melalui media budaya film masih jarang dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai kepemimpinan Sultan Agung yang tercermin dalam film. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif, yang lebih menekankan pada pemahaman makna dan interpretasi terhadap gaya kepemimpinan Sultan Agung yang ditampilkan dalam film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sultan Agung menerapkan gaya kepemimpinan transformasional yang berfokus pada visi jangka panjang, kemampuan memotivasi, keberanian dan ketegasan, serta perhatian terhadap kesejahteraan rakyatnya. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman bahwa film dapat menjadi sarana edukasi kepemimpinan yang inspiratif. Kajian lanjutan dapat menggali lebih dalam mengenai media budaya lainnya, selain film, yang dapat digunakan sebagai sarana edukasi kepemimpinan. Kata Kunci: Kepemimpinan Transformasional, motivasi. Film Sultan Agung ABSTRACT Leadership plays a crucial role in encouraging members to work hard to achieve organizational goals, which not only involves power, but also the processes of directing, motivating, and fostering teamwork to reach the established objectives. Nevertheless, most research on leadership has focused more on modern contexts or contemporary organizations, while studies on the values of historical leadership through the cultural medium of film are still rarely explored. This research aims to describe the leadership values of Sultan Agung as reflected in film. The method used in this study is a qualitative approach with a descriptive design, which emphasizes understanding meaning and interpreting the leadership style of Sultan Agung as presented in the film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta. The research findings show that Sultan Agung implemented a transformational leadership style that focuses on long-term vision, motivational ability, courage and decisiveness, as well as attention to the welfare of his people. This study contributes to the understanding that films can be an inspiring medium for leadership education. Further studies can delve deeper into other cultural media, besides films, that can be used as a means of leadership Keywords: Transformational Leadership, motivation. Sultan Agung Film PENDAHULUAN Pemimpin merupakan dua konsep yang tidak dapat Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 Seorang pemimpin tidak akan memperoleh pengakuan tanpa adanya kepemimpinan, dan sebaliknya P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. berlangsung tanpa keberadaan seorang Menurut Tampubolon kemampuan seorang pemimpin dalam memengaruhi anggotanya agar bersedia Kepemimpinan tidak hanya identik dengan kekuasaan, tetapi juga mencakup proses pengarahan, motivasi, serta pembinaan anggota kelompok untuk mewujudkan tujuan bersama. Dengan demikian, setiap organisasi memerlukan pemimpin yang mampu menciptakan perubahan positif. Seorang pemimpin yang efektif harus mampu memberikan contoh kepada anggotanya, baik melalui katakata Keberhasilan suatu organisasi sangat kepemimpinannya, yang pada gilirannya akan menentukan arah dan pencapaian tujuan organisasi. Dalam praktik kepemimpinan, seorang pemimpin kerap menghadapi tantangan berupa perbedaan karakter dan latar belakang anggota. Oleh karena itu, pemimpin perlu memahami perilaku anggotanya agar dapat menentukan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi organisasi. Gaya kepemimpinan sendiri dapat dipahami sebagai pola perilaku yang dirancang untuk menyatukan tujuan organisasi dengan tujuan individu, sehingga tercapai hasil yang diharapkan (Salsabilla et al. , 2. Gaya berhubungan dengan struktur kebutuhan pemimpin yang memotivasi perilaku Gaya kepemimpinan yang tepat dapat berpengaruh positif terhadap kinerja tim, karena anggota tim merasa termotivasi dan terinspirasi untuk bekerja bersama demi mencapai tujuan bersama (Adinata & Yunianto, 2. Kepemimpinan juga berkaitan erat dengan teori motivasi, karena seorang pemimpin tidak hanya memimpin, tetapi juga memberikan dorongan dan motivasi. Motivasi adalah proses yang menggerakkan seseorang mempertahankan ketekunan dalam usaha mencapai tujuan (MuAoarif & Priyatmono, 2. Dengan adanya motivasi, anggota dapat didorong untuk berusaha lebih baik dalam mencapai tujuan bersama. Pemimpin yang ideal adalah sosok dengan sistem dan manajemen yang baik (Waedoloh et al. , 2. Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda, sehingga perlu adanya penyesuaian agar mudah dipahami oleh seluruh anggota organisasi. Menurut Hasnawati, sebagaimana dikutip dalam Hendriani et al. , . , terdapat enam jenis gaya kepemimpinan yang dapat diterapkan, yaitu otoriter, demokratis, transformasional, transaksional, laissezfaire. Gaya kepemimpinan otoriter ditandai dengan pemimpin yang mengambil keputusan secara sepihak serta memberikan arahan tanpa banyak melibatkan anggota, sehingga seluruh kendali berada di tangan pemimpin. Berbeda dengan gaya otoriter, kepemimpinan demokratis ditandai dengan keterlibatan anggota dalam Pemimpin memberikan kesempatan bagi anggota tim untuk menyampaikan pendapat serta mendorong terjadinya diskusi aktif sebelum keputusan Kepemimpinan pendekatan antara pemimpin dengan anggotanya untuk mencapai potensi terbaik dan mendukung kreativitas serta perkembangan personal. Kepemimpinan Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. pendekatan kepemimpinan berfokus pada pertukaran atau transaksi antara pemimpin dan anggota timnya. Dalam gaya ini, pemimpin menetapkan ekspektasi secara tegas, menjelaskan tugas serta tujuan dengan rinci, dan Sementara kepemimpinan laissez-faire ditandai dengan kebebasan penuh yang diberikan pemimpin kepada anggotanya dalam melaksanakan tugas, dengan keterlibatan pemimpin yang sangat minim. Yang menyesuaikan gaya kepemimpinan mereka dengan situasi yang sedang terjadi atau berlangsung dalam lingkup organisasi tersebut. Dalam organisasi, pemimpin perlu menjadi teladan . ole mode. , karena sikapnya dapat dijadikan contoh oleh Pemimpin yang adil dan bijak akan mendahulukan kepentingan bersama, menegakkan hukum dengan konsisten, dan membuka ruang dialog bagi kelompok yang berbeda pendapat (Putri et al. , 2. Penelitian tentang kepemimpinan dalam film lebih banyak tokoh-tokoh organisasi kontemporer, dan masih sedikit yang menginterpretasikan gaya kepemimpinan transformasional dalam film sejarah seperti Sultan Agung, yang Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk memberikan Kemampuan pemimpin untuk memimpin dengan baik dan efektif tentunya dapat mempengaruhi kemampuan untuk mengelola organisasi serta mempengaruhi anggota dalam meningkatkan kinerja mereka (Fauzi et , 2. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Seorang menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan tetap memperhatikan kondisi serta kebutuhan anggotanya. Gaya kepemimpinan yang dipilih harus berjalan efektif dan efisien, sehingga dalam proses kepemimpinan tidak ada pihak yang dirugikan. Interpretasi gaya seorang pemimpin terhadap anggotanya tergambar pada film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta disutradarai oleh Hanung Bramantyo Film transformasional oleh karakter Sultan Agung Hanyakrakusuma. Beliau seorang raja yang disegani oleh rakyat Mataram kepemimpinannya terlihat tegas dalam melawan VOC yang pada saat itu dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen. Sultan Agung mampu memimpin, anggotanya dengan baik. Kepemimpinan Sultan Agung menginspirasi rakyat Mataram dalam mengusir penjajah yang ingin menguasai Batavia. Sultan Agung menumbuhkan loyalitas terhadap rakyat Mataram, sehingga terciptalah tim yang Penelitian ini selaras dengan penerapan Sustainable Development Goals (SDG. 16 yakni perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang Hal ini digambarkan oleh Sultan Agung yang tidak hanya memimpin dengan kekuatan militer, mempersatukan rakyat Mataram untuk menciptakan kedamaian dan persatuan di tengah-tengah ancaman penjajah VOC. Sultan Agung juga berperilaku adil dan melindungi rakyatnya dari penindasan dan mengambil keputusan demi kepentingan bersama. Pemimpin yang adil mencerminkan kelembagaan P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. yang tangguh, mendorong terciptanya keadilan, serta menjaga perdamaian Nilai-nilai kepemimpinan Sultan Agung dapat diinterpretasikan Dengan begitu, film ini tidak hanya mengenalkan sejarah, tetapi juga menjadi gambaran penerapan kepemimpinan transformasional yang mendukung pembangunan global dan menciptakan masyarakat adil, damai, dan keberlanjutan. LANDASAN TEORI Landasan sebagai pijakan utama dalam Manajemen Manajemen dapat diartikan sebagai suatu disiplin ilmu yang membahas proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, serta pengendalian berbagai sumber daya dalam organisasi, dengan tujuan memastikan tercapainya sasaran secara efektif dan efisien (Mulasih et , 2. Keberadaan manajemen menjadi elemen penting dalam mengatur seluruh sumber daya agar berjalan optimal serta terstruktur. Dalam proses manajemen dalam suatu organisasi (Havidz & Suprapto. Fungsi tersebut sering dikenal dengan POAC, yaitu Planning adalah penetapan tujuan serta langkah dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapainya. Organizing penyusunan struktur organisasi dan mengelompokkan pelaksanaan lebih jelas. Actuating menggerakkan perencanaan menjadi tindakan nyata melalui pengarahan dan motivasi, agar mencapai tujuan yang direncanakan. Sedangkan Controlling berfungsi memastikan bahwa seluruh pelaksanaan sesuai Kepemimpinan Kepemimpinan tidak hanya berperan dalam memberikan arahan, tetapi juga menjadi katalisator yang mendorong inovasi dan kolaborasi (Andreansyah. Kepemimpinan lebih dari sekadar posisi tinggi dalam pekerjaan, namun juga mencakup kemampuan anggotanya menuju tujuan bersama yang telah ditentukan. Dalam melibatkan proses mempengaruhi pengikut untuk mencapai tujuan tersebut, memengaruhi interpretasi peristiwa oleh pengikut, serta membangun hubungan kerjasama dengan pihak luar organisasi (Kamal et al. , 2. Kepemimpinan adalah upaya untuk mencapai kesepakatan dalam mencapai tujuan melalui hubungan antara pemimpin dan Pemimpin yang baik harus memiliki jiwa kepemimpinan yang matang, mampu memotivasi, memberi rasa percaya diri kepada tanggung jawab yang tinggi atas amanah yang diberikan (Chumaidah et al. , 2. Definisi ini menekankan bahwa kepemimpinan melibatkan komunikasi, motivasi, dan kerja sama dalam menciptakan sinergi dalam organisasi. Gaya Kepemimpinan Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin menjalankan fungsi kepemimpinannya dalam memimpin bawahannya (Mattayang. Dalam konteks organisasi Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. yang selalu menghadapi persaingan dan perubahan, kinerja Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi elemen kunci yang menentukan Gaya kepemimpinan yang tepat dapat mempengaruhi dan mendorong Kepemimpinan karakteristik yang berbeda dan dapat berjalan efektif tergantung pada kondisi dan situasi. Menurut Hasnawati et al. , . terdapat enam gaya kepemimpinan yang berbeda: pertama, kepemimpinan kekuasaan penuh kepada pemimpin sehingga keputusan cepat diambil namun dapat membatasi inisiatif karyawan dan membuat mereka pasif (Aditya et al. , 2. kepemimpinan demokratis, yang memberikan ruang bagi mereka (Rachmadani & Manafe, 2. transformasional, yang berfokus pada motivasi, komitmen, dan pengembangan tim yang solid serta inovatif (Santoso & Perkasa, 2. transaksional, yang menggunakan imbalan atau akibat terhadap kontribusi anggota (Handini et al. kelima, gaya kepemimpinan laissez-faire, kebebasan pada anggota dalam pengambilan keputusan dengan sedikit keterlibatan pemimpin. terakhir, kepemimpinan situasional yang menyesuaikan gaya dengan kondisi yang ada dalam organisasi. Kepemimpinan Transformasional Kepemimpinan transformasional berakar dari Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 istilah transformasi, yang berarti suatu proses perubahan menuju (Shalahuddin, 2. Seorang memiliki kemampuan untuk mengarahkan serta mengubah sumber daya organisasi agar tujuan yang bernilai dan sesuai target dapat tercapai. Pemimpin ini tidak hanya menetapkan tujuan, tetapi juga mengajak bagian dari proses perubahan organisasi (Andreansyah, 2. Dalam gaya kepemimpinan ini, penting bagi pemimpin untuk menumbuhkan motivasi dan mendukung kinerja anggotanya. Pemimpin berupaya menciptakan iklim dalam organisasi yang berbagi nilai-nilai yang diterima dan dihargai secara setara di antara semua anggota (Cetin & Kinik. Atribut Kepemimpinan Transformasional Kepemimpinan memiliki empat atribut utama (Bass, 1985, sebagaimana dikutip dalam Pasaribu et al. , 2. Idealized influence, pemimpin Karakter seperti kemampuan, membuat pengikut kagum serta menjadikannya figur panutan. Inspirational menekankan pada kemampuan pemimpin untuk memotivasi dan menginspirasi pengikutnya melalui penyampaian visi yang Pemimpin menumbuhkan semangat tim, antusiasme, serta optimisme, dan mengajak para P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. pengikut untuk berkomitmen serta terlibat aktif dalam pencapaian visi bersama. Intellectual kreativitas pengikut dengan membiasakan mereka melihat masalah dari sudut pandang baru dan bebas dari kritik publik. Individualized consideration, pemimpin berperan sebagai pengikut mencapai potensi mereka, memberikan tugas yang dapat mendorong pertumbuhan. Definisi motivasi Menurut Yusuf . , motivasi merupakan kesiapan individu untuk mengeluarkan usaha maksimal Konsep kekuatan pendorong dalam diri individu yang mendorongnya untuk mencapai tujuan tertentu serta memenuhi beberapa kebutuhan atau (Osabiya. Keberhasilan organisasi tergantung terhadap anggota yang termotivasi untuk menggunakan bakat dan kemampuan setiap anggota dalam menyelesaikan setiap tugasnya. Motivasi merupakan suatu bentuk dorongan kepada suatu individu untuk menumbuhkan semangat. Dalam meningkatkan kinerja dalam suatu organisasi motivasi yang baik sangat penting dan dibutuhkan anggota untuk mendapatkan hasil kinerja yang maksimal. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian pendekatan kualitatif dengan metode Penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang mengolah data Fokus utama penelitian kualitatif adalah untuk mengkaji kualitas hubungan, aktivitas, situasi, atau objek dengan memberikan penekanan pada menggambarkan secara mendetail suatu peristiwa atau situasi yang sedang terjadi (Malahati et al. , 2. Penelitian naratif, di sisi lain, lebih menekankan pada pengalaman subjektif individu, dengan tujuan untuk memahami bagaimana individu memandang dan menafsirkan peristiwa yang mereka Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai fasilitator yang membantu individu untuk menceritakan pengalaman mereka secara mendalam dan terperinci (Ondeng & Mustami. Objek penelitian ini adalah film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta karya sutradara Hanung Bramantyo. Penelitian difokuskan pada interpretasi gaya kepemimpinan transformasional serta pengaruh motivasi yang tercermin dalam film tersebut. Untuk itu, peneliti terhadap adegan dan dialog yang menampilkan praktik kepemimpinan transformasional, guna memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai karakter Sultan Agung serta nilai-nilai kepemimpinan yang dikonstruksikan melalui alur cerita film. Sumber Data Data Primer Menurut Sulung & Muspawi . data primer merupakan sumber informasi utama yang Data interaksi Sultan Agung dengan rakyat, prajurit, dan tokoh-tokoh lain, dialog atau percakapan yang inspirasi, dan visi Sultan Agung dan tindakan atau strategi yang kepemimpinan transformasional. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Data tersebut menjadi sumber data utama dalam film ini. Data Sekunder Menurut Sulung & Muspawi . Data sekunder adalah data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung, biasanya melalui dokumen, literatur, atau data yang sudah dikumpulkan oleh pihak lain. Sumber data sekunder meliputi buku dan jurnal ilmiah tentang teori kepemimpinan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Karisma dan Keteladanan Sultan Agung Gambar 01. Sultan Agung berdiskusi bersama para adipati (Menit 1:05:. Sultan Agung: AuKehati-hatian terbaik adalah menghancurkan mereka para penjajah, sebelum kita dihancurkan, kalian semua bersatulahAy Sultan Agung: AuAku sendiri yang akan memimpin rakyat ku di Sunda KelapaAy Ketegasan dalam pengambilan Idealized menumbuhkan rasa hormat dan komitmen dari anggotanya. Inspiratif dan memotivasi Gambar 02. Sultan Agung memotivasi rakyat sebelum perang (Menit 1:20:. Sultan Agung: AuPerang ini bukan untuk ingsun, ini Maha Patih Gadjah Mada NusantaraAy Sultan Agung: AuDengan menyebut, asma Gusti Kang Akarya Jagad, aku titahkan kalian untuk mukti utawa mati ning Sunda KelapaAy Dialog Sultan Agung melalui dimensi Inspirational Motivation. Kreativitas memecahkan masalah Gambar 03. Prajurit menjalankan strategi setelah diskusi bersama Sultan Agung . :07:. Prajurit . : AuBayangno iki kali Ciliwung, bendung lan isi bathang, ben banyune regetAy (Bayangkan Sungai Ciliwung, bending dan isi bangkai, biar airnya koto. Pada Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. transformasional Sultan Agung melalui dimensi Intellectual Stimulation. Kepedulian setiap individu Gambar 04. Sultan Agung bangga atas kemenangan Mataram . :19:. Sultan Agung: AuKita sudah menang paman, kita semua sudah berani untuk melawan. Pulang,A. pulang kalian semua, ajari anak-anak kalian untuk mencintai Negeri ini. engan nada penuh bangg. Ay Perajurit Mataram: AuMatur sembah nuwun Sinuwun. Sinuwun . erentak menjawab dengan penuh har. Ay Pada transformasional Sultan Agung melalui dimensi Individualized Consideration. PEMBAHASAN Karisma dan keteladanan Sultan Agung Kepemimpinan Sultan Agung menggambarkan bahwa pemimpin yang mampu menjadi tokoh panutan atau teladan untuk rakyatnya, hal tersebut menerminkan dimensi Idealized Ajakan untuk bersatu di medan perang merupakan bukti bahwa Sultan Agung membuat seorang pemimpin dihormati dan diikuti oleh Sultan Agung Dengan kekuatan dan pengaruh pemimpin karismatik dapat dengan mudah memotivasi anggotanya untuk memberikan seluruh upaya dan pemikiran organisasi, yang pada akhirnya akan mengarah pada tercapainya (Arifudin, 2. Inspiratif dan memotivasi Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang berfokus pada kemampuan pemimpin menginspirasi, dan memotivasi individu di sekitarnya untuk mengembangkan potensi terbaik mereka serta menghasilkan (Armiyanti et al. , 2. Hal tersebut mencerminkan dimensi Inspirational Motivation yang ditunjukkan oleh Sultan Agung. Hadirnya motivasi dari seorang pemimpin berpengaruh terhadap kinerja dari anggotanya. Beliau seluruh rakyat agar selalu maju dan jangan rela untuk ditindas oleh VOC, dibuktikan dengan kalimat Aumukti utawa mati ing Sunda KelapaAy kalimat ini juga menintai tanah air dan tidak membiarkan penjajah semenamena di wilayahnya. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Kreativitas memecahkan masalah Kepemimpinan Sultan Agung menunjukkan bahwa ia menyelesaikan masalah, yang Intellectual Stimulation. Salah satu taktik yang digunakan adalah dengan melemparkan mayat-mayat prajurit Mataram Sungai Ciliwung, menyebabkan air yang biasa digunakan oleh VOC menjadi Akibatnya. Jean Peterson Coen dalam film Pemimpin transformasional menginspirasi pengikutnya untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif dengan masalah yang sudah ada dengan cara yang berbeda (Armiyanti et , 2. Kepedulian setiap individu Dalam adegan tersebut menunjukkan bahwa Sultan Agung bersama, hal ini menerminkan Individualized Consideration. Dijelaskan melalui dialog bahwa seluruh prajurit diharapkan pulang ke masing-masing tujuannya agar dapat berkumpul Kepemimpinan transformasional Sultan Agung juga ditunjukkan ketika para prajurit diminta untuk mengajari Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 anak-anak Para prajurit dengan penuh bangga dan haru berterima kasih kepada Sultan Agung, karena usaha dan pengorbanannya telah dihargai. Pemimpin menghargai kontribusi dan pencapaian bawahannya serta membangun hubungan yang positif (Ambawani et al. , 2. KESIMPULAN Kepemimpinan meningkatkan motivasi, kinerja, dan rasa dihargai pada setiap anggota, sehingga tujuan bersama dapat tercapai secara efektif. Dalam film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta, gaya kepemimpinan Sultan Agung tercermin melalui keberanian, keadilan, dan visi jangka panjang yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan pribadi. Kepemimpinan tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDG. nomor 16 tentang Perdamaian. Keadilan. Kelembagaan yang Tangguh. Melalui penegakan nilai moral, keadilan, dan transformasional mampu menghadirkan perubahan positif serta menjadi dasar bagi terciptanya kesejahteraan bersama. UCAPAN TERIMAKASIH