Dinamika Perkembangan Pesantren Dan Tantangan Abad 21 Firmansyah UIN Rade Fatah Palembang Email: firmansyah_uin@radenfatah. Abstrak Penelitian ini membahas tentang stigma yang dilekatkan terhadap pesantren, tantangan pesantren abad 21, dan upaya reorientasi pendidikan pesantren. Penelitian ini adalah penelitian riset kepustakaan . ibrary researc. , dengan sumber data primer penelitian berasal dari hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah dan buku, yang diperkaya dengan sumber data sekunder yang berasal dari berbagai rujukan lain yang relevan dengan penelitian ini. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik Adapun analisis data menggunakan analisis induktif. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa untuk bisa beradaptasi dengan perubahan zaman di abad 21 ini, maka pesantren dituntut untuk melakukan reorientasi pada kurikulum dan metodologi pembelajaran yang diterapkan di pesantren. Upaya ini penting dilakukan untuk mengupayakan pendidikan yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. Kata Kunci: Pesantren. Pendidikan Islam. Abad 21 Abstract This study discusses the stigma attached to pesantren, challenges of 21st century pesantren, and efforts to reorient Islamic boarding school education. This research is library research, with the primary data sources being research results published in scientific journals and books, enriched with secondary data sources from various other references relevant to this research. Research data collection was carried out using documentation techniques. The data analysis used inductive Based on the data analysis that has been carried out, it can be concluded that in order to adapt to the changing times in the 21st century, pesantren are required to reorient the curriculum and learning methodologies applied in pesantren. It is important to make this effort to seek quality and highly competitive education. Keywords: Islamic Boarding School. Islamic Education, 21st Century PENDAHULUAN Institusi pondok pesantren yang ada saat ini merupakan rangkaian panjang dinamika pendidikan Islam di Indonesia yang merupakan hasil dari akulturasi budaya yang ada dan berkembang di Indonesia (Yasan, 2019: 131-. Pendidikan Islam di Indonesia tumbuh dan berkembang seiring dengan upaya dakwah Islamiyyah dan perkembangan pemeluk agama Islam di Indonesia. (Mustam, 2017: 15-. Tidak hanya Dinamika Perkembangan Pesantren Dan Tantangan Abad 21 Firmansyah itu, peran pendidikan Islam ini, terutama pesantren, di Indonesia bahkan termasuk juga dalam upaya menggelorakan semangat jihad melawan kolonialisme di masa sebelum Indonesia menadi negara yang berdaulat (Maulida, 2016: 1292-1. Dalam dinamika perkembangannya saat ini, peran pesantren sebagai bagian dari institusi pendidikan Islam mengalami beragam tantangan yang terkait dengan perkembangan dan prubahan zaman. Pengaruh globalisasi dan modernitas yang ada mengharuskan institusi pesantren untuk beradaptasi dengan baik agar dapat berkompetisi dengan lembaga pendidikan lain dan mengambil peran secara aktif dalam mengisi dan menciptakan peradaban saat ini. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan . ibrary researc. yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan dinamika perkembangan pesantren di Indonesia dalam upaya menghadapi tantangan abad 21. Sumber primer penelitian berasal dari penelitian terkait pesantren dalam jurnal ilmiah. Adapun sumber data sekunder guna memperkaya pembahasannya berasal dari berbagai buku yang relevan dengan penelitian Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik dokumentasi, yang selanjutnya dianalisis menggunakan analisis induktif. PEMBAHASAN Stigma Terhadap Pesantren Beberapa berita yang menjadi headline pada tahun 2001 sampai 2005 adalah peristiwa runtuhnya Gedung WTC AS pada 11 September 2001. AuBom Bali IAy yang terjadi pada 12 Desember 20021, pengeboman di Hotel JW Marriott. Jakarta, pada 5 Agustus 2003, pengeboman di depan Kedubes Australia yang dikenal dengan AuBom KuninganAy pada 9 September 2004, serta AuBom Bali IIAy pada 1 Oktober 2005 adalah sederet peristiwa dengan tema AuterorismeAy yang menyebabkan Islam menjadi Auagama terdakwaAy sebagai biang kekerasan, karena para pelaku dalam persitiwa tersebut memang sering membawa-bawa nama Tuhan dan atas nama Islam . Tidak cukup sampai di situ, peristiwa tersebut akhirnya membawa juga nama pesantren, karena semua pelaku Konon. Densus 88 dibentuk pemerintah setelah peristiwa Bom Bali I ini. Atau dengan kata lain. Densus 88 dibentuk karena tragedi Bom Bali I. Symfonia: Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. No. Juni 2021 Dinamika Perkembangan Pesantren Dan Tantangan Abad 21 Firmansyah pengeboman yang terjadi di Indonesia tersebut adalah alumnus pesantren 2 atau berhubungan dengan pesantren, maka pesantren pun mendapat sorotan tajam, bahkan beberapa dikatakan sebagai Ausarang terorisAy. (Rumadi, t. th: . Menanggapi persoalan tersebut, telah banyak sekali berbagai pernyataan yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang berwenang dan berkompeten, bahwa Islam dan pesantren tidak ada kaitannya dengan terorisme. Seperti ungkapan Amirsyah Tambunan (Wakil Sekjen MUI Pusa. , bahwa Pesantren yang diidentikkan sebagai Ausarang terorisAy hanyalah rekayasa pihak-pihak yang ingin membuat citra Islam menjadi buruk. Lebih lanjut, menurutnya, tidak ada satu pun definisi terorisme yang disepakati oleh para ahli. Terorisme hanyalah mainan yang dapat dimainkan oleh siapa saja, tergantung pada kepentingan masing-masing pihak. Dalam hal ini Amirsyah mengungkapkan ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh pesantren untuk melawan stigma negatif yang timbul akibat aksi terorisme yang AudirekayasaAy oleh pihak-pihak tertentu itu. Yang pertama, pesantren harus bersikap tegas, jangan sampai mau diintimidasi oleh pihak lain dalam segala hal, termasuk diantaranya dalam pembuatan kurikulum pesantren. Yang kedua, pesantren harus membaur dan bersatu dengan masyarakat, serta jangan bersikap eksklusif (Ramadhan, 2. Terlepas dari itu, walaupun banyak stigma negatif yang AumenempelAy pada pesantren, dapat kita lihat bahwa pesantren masih terus eksis . aik lembaga maupun Hal ini dapat kita cermati bahwa identitas dan integritas yang telah dibangun oleh pesantren selama ini di mata masyarakat masih dinilai positif. Terbukti dari jumlah santri yang ada di 37. 167 institusi pondok pesantren berdasarkan data Emis Kementerian Agama Republik Indonesia berjumlah 3. 923 orang (Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia. AuTingkat Sebaran Populasi PesantrenAy, http://emispendis. id/emis_pdpontren/ponpes, diakses tanggal 18 April 2022 29 WIB). Tantangan Pesantren Abad 21 Abad 21 merupakan suatu zaman yang berbeda sekali dengan abad sebelumnya. Dalam kaitannya dengan dikaitkannya pesantren dengan tindakan yang dilakukan alumnninya di luar tujuan pendidikan pesantren. Blumer menegaskan, bahwa persentuhan alumni pesantren dengan suatu kelompok yang cenderung radikal akan mempengaruhi pemikiran seseorang, sebab aturan-aturan dalam suatu kelompok itu diciptakan oleh proses sosial dalam kelompok yang mengharuskan seseorang mengikutinya (Syukron & Bahruddin, 2011: . Symfonia: Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. No. Juni 2021 Dinamika Perkembangan Pesantren Dan Tantangan Abad 21 Firmansyah Perbedaan itu paling tidak dapat dilihat dalam beberapa hal, seperti: . keterbukaan informasi yang mudah dan dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat, terutama teknologi . masifnya penggunaan mesin dan sistem otomasi berbasis aritificial intelligence dalam sektor industri. terjadinya disrupsi dalam banyak sektor. Respons atas perubahan-perubahan tersebut tentunya mengharuskan setiap orang, kelompok, dan institusi untuk beradaptasi agar tetap eksis. Dalam kaitan itu, tantangan yang dihadapi oleh pesantren semakin hari semakin besar, kompleks, dan mendesak sebagai akibat semakin meningkatnya kebutuhan pembangunan3 dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menandai karakteristik abad 21. Tantangan ini menyebabkan terjadinya pergeseran-pergeseran nilai di pesantren, baik nilai yang menyangkut sumber belajar maupun nilai yang menyangkut pengelolaan pendidikan. 4 Hal-hal tersebut, menurut Mastuhu. AumemaksaAy pesantren untuk mencari bentuk baru yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap dalam kandungan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sesuatu yang tidak bisa disangkal lagi, selain membawa pengaruh yang positif bagi peradaban umat manusia, kemajuan zaman yang semakin hari semakin cepat ini juga membawa sederet dampak negatif sebagai imbasnya. Diantara beberapa pengaruh negatif kemajuan zaman itu seperti tata kelakuan manusia modern yang materialis-pragmatishedonis, menjadikan kondisi kehidupan dewasa ini berada dalam permasalahan moralitas yang mengkhawatirkan. Dalam tata kehidupan seperti itu, juga berimbas kepada Dalam hubungan itu. Menurut Alesco, dalam Said Agil Husin Al-Munawwar, para pakar bidang pembangunan berpendapat bahwa pembangunan bukan sekedar proses yang bersifat produktifitas material saja, tetapi sebuah proses yang bersifat universal . yang meliputi aspek ekonomi, sosial, budaya, dan pemikiran. Menurut Said Agil Husin Al-Munawwar, semua faktor pembangunan tersebut merupakan suatu sistem yang tidak dapat dipisahkan. Paradigma ini memperkenalkan kita kepada pendekatan menyeluruh dalam pembangunan potensi umat yang bertumpu kepada basis pengetahuan . nowledge base. , keterampilan . kill base. , dan nilai . alue base. Artinya, rancangan pembangunan haruslah bersifat menyeluruh dan berusaha mengembangkan semua sektor. Jika tidak, pembangunan itu akan kehilangan dinamikanya (Al-Munawwar, 2005: 87-. Noeng Muhadjir . 6: . mengemukakan, perubahan dinamika pondok pesantren, setidaknya mengalami pergeseran dalam lima hal, yaitu: pertama, percepatan teknologi informasi menjadikan bukubuku dan media massa lain sebagai sumber belajar, tidak lagi kiai sebagai sumber satu-satunya utnuk Kedua, pendidikan nonformal dalam bentuk pengajian wetonan dan sorogan, telah tergeser oleh animo pada bentuk pendidikan formal klasikal, madrasah, sehingga di pondok pesantren muncul bentukbentuk madrasah. Ketiga, ada keinginan untuk memperoleh pengakuan pendidikan formalnya berupa ijazah, di samping tetap mengejar pengetahuan agamanya. Keempat, di samping ingin menjadi muttaqin, para santri juga ingin mempelajari iptek. Kelima, pondok peasntren dengan pendidikan formalnya telah menjadi alternatif karena biaya sangat murah, termasuk biaya hidup tinggal di asrama. Symfonia: Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. No. Juni 2021 Dinamika Perkembangan Pesantren Dan Tantangan Abad 21 Firmansyah paradigma manusia dalam mengkritisi setiap aspek sendi kehidupan, termasuk di dalamnya adalah paradigma terhadap pendidikan dan agama. Sehubungan dengan anggapan pesantren sebagai lembaga pendidikan alternatif atau Aukelas duaAy seperti diungkap sebelumnya dalam kaitannya dengan kemajuan zaman dewasa ini, menurut A. Malik Fadjar, kurang tertariknya masyarakat untuk memilih lembaga-lembaga pendidikan Islam sebenarnya bukan karena telah terjadi pergeseran nilai atau ikatan keagamaannya yang mulai memudar, melainkan karena sebagian besar lembaga tersebut kurang menjanjikan masa depan dan kurang responsif terhadap tuntutan dan permintaan saat ini maupun mendatang. Padahal, paling tidak ada tiga hal yang menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan, yaitu nilai . , status sosial, dan cita-cita. Hal ini berbeda dengan kondisi tempo dulu yang serba terbatas dan terbelakang, pendidikan di masa itu lebih merupakan model untuk membentuk maupun pewarisan nilai-nilai keagamaan dan tradisi masyarakatnya. Artinya, kalau anaknya sudah memiliki sikap positif dalam beragama dan dalam memelihara tradisi masyarakatnya, maka pendidikan dinilai sudah menjalankan misinya (Fadjar, 2005: 246-. Dalam kontekstualisasinya dengan dampak negatif kemajuan zaman sebagaimana pandangan filsafat positivisme dan materialisme seperti diinformasikan Amsal Bakhtiar, jika ilmu pengetahuan . dan teknologi sudah maju, masyarakat sudah tidak membutuhkan agama lagi sebab semua kebutuhan dan keinginan mereka sudah terpenuhi oleh sains dan teknologi. Menurut Amsal Bakhtiar, sepintas pernyataan tersebut ada benarnya, tetapi ketika direnungkan lebih dalam, timbul persoalan. Apakah semua keinginan manusia betul-betul mampu dipenuhi oleh sains dan teknologi? Padahal, menurut aliran ini, manusia terbatas pada alam yang sangat luas, maka bagaimana mungkin ia dapat memenuhi keinginan manusia yang tidak terbatas, seperti manusia tidak ingin mati. Apakah sains dan teknologi yang . super canggih mampu menjawab keinginan tersebut? Kalau ada teknologi yang mampu memenuhi keinginan tersebut, kemungkinan besar semua manusia akan menganut paham materialisme. Ternyata pandangan tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan karena alur pemikirannya yang tidak logis (Bakhtiar, 2009: 251-. Lebih lanjut menurut Amsal Bakhtiar, manusia yang hidup di zaman modern, mau tidak mau tidak mampu menolak teknologi dengan segala bentuk dan risikonya. Selain menawarkan berbagai kemudahan dalam aktivitas manusia, di sisi lainnya teknologi Symfonia: Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. No. Juni 2021 Dinamika Perkembangan Pesantren Dan Tantangan Abad 21 Firmansyah terstruktur dan terbelenggu oleh teknologi itu sendiri. Struktur itu tidak saja membuat dia tidak bebas berbuat atau berjalan, tetapi juga membentuk pola tingkah lakunya. Seperti, pengendara mobil eksklusif, tidak bisa lagi bebas makan di sembarang tempat, karena struktur mobil menuntut dia untuk mencari restoran dengan tempat parkir yang luas. Cara berpakaiannya pun berubah sesuai dengan mobil model apa yang dikendarainya. Dalam hal ini, sains dan teknologi adalah hasil daya akal manusia dan sekaligus kebutuhannya. Namun, kalau manusia tenggelam dalam struktur sains dan teknologi, berarti eksistensinya sebagai manusia bisa hilang (Bakhtiar, 2009: 252-. Di sinilah peran serta pendidikan agama, khususnya pesantren, yaitu sebagai penetralisir dan filter terhadap kemajuan ilmu pengetahuan . dan teknologi yang menandai era Dalam kaitannya dengan hal tersebut. Malik Fadjar, dalam H. Tilaar mengemukakan, bahwa gelombang peradaban di masa depan merupakan suatu kesatuan dari gejolak magma kultural dari dalam dan kekuatan globalisasi yang menerjang dari Tilaar . 4: . mengomentari pernyataan tersebut, bahwa pendidikan pesantren masa depan tidak terlepas dari kedua gelombang peradaban tersebut. Pendidikan pesantren akan survive dan menjadi pendidikan alternatif dari masyarakat Indonesia apabila ia peka terhadap gelombang peradaban tersebut. Secara umum, menurut Sarbiran seperti dikutip Akmal Hawi . 5: . , beberapa pengaruh negatif dari perkembangan zaman yang ditandai oleh globalisasi dan modernisasi, yaitu: Berekonomi tanpa etika. Berkekayaan tanpa kerja keras. Berpolitik tanpa prinsip nilai. Beragama, tapi tidak berperilaku menurut ajaran agamanya. Berniaga tanpa hati nurani. Berpengetahuan atau berilmu tanpa karakter. Berteknologi tanpa kemanusiaan. Secara khusus. Elly M. Setiadi dan Usman Kolip . 1: 730-. memetakan dampak negatif kemajuan zaman yang ditandai oleh arus modernisasi dan globalisasi di Indonesia adalah sebagai berikut: Symfonia: Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. No. Juni 2021 Dinamika Perkembangan Pesantren Dan Tantangan Abad 21 Firmansyah Tingginya tingkat urbanisasi. Hal ini terjadi karena perkotaan adalah daerah yang menjanjikan bagi masyarakat pedesaan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan yang lebih luas, pendidikan yang lebih bermutu, tempat hiburan yang banyak, dan beberapa ada yang melakukannya karena faktor ingin bebas dari kungkungan adat istiadat yang banyak mengekang kehidupan . ecenderungan umumnya bagi adalah bagi remaja yang ingin hidup beba. Tingginya tingkat kriminalitas. Hal ini terjadi karena berbagai tekanan sosial yang semakin meningkat, ditambah lagi pola hidup dalam kemewahan . yang menjadi dambaan dan pujaan yang memicu manusia untuk bertindak nekad menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Kenakalan remaja yang sulit dibendung. Gejala ini dipicu oleh semakin memudarnya nilai-nilai budaya bangsa sebagai akibat dari terkikisnya budaya Diantara kondisi yang paling menonjol dalam hal ini adalah pelanggaran atas norma-norma susila, seperti pergaulan bebas, perkawinan di luar nikah, cara berpakaian yang berada di luar unsur kepantasan atas norma dasar. Ditambah juga dengan penyalahgunaan narkoba, vendalisme . encoret-coret fasilitas umu. , tawuran, dan Aukebut-kebutanAy di jalan raya. Kalau melihat gambaran tantangan kemajuan zaman di atas, maka langkah strategis yang paling urgen adalah melalui jalur pendidikan. Hal ini menurut Mastuhu mutlak dilakukan, karena pendidikan adalah bidang kerja yang secara langsung menyiapkan manusia untuk menghadapi tantangan-tantangan masa depannya. Dalam konteks ini, menurutnya, tidak ada jalan lain lagi kecuali harus mendefinisikan kembali orientasi dunia pendidikan (Mastuhu, 1999: . Reorientasi Pendidikan Pesantren Menyikapi gejala negatif yang timbul sebagai efek dari kemajuan zaman sebagaimana uraian di atas dalam konteks dunia pendidikan. Abuddin Nata menyatakan, perlu dilakukan upaya-upaya strategis, antara lain: pertama, tujuan pendidikan di masa sekarang tidak cukup hanya memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, keimanan, dan ketakwaan saja, tetapi juga harus diarahkan pada upaya melahirkan manusia yang kreatif, inovatif, mandiri, dan produktif. Mengingat dunia yang akan datang adalah dunia yang kompetitif. Kedua, guru di masa mendatang adalah guru yang selain memberikan informasi, berakhlak baik, dan mampu menyampaikan materi secara metodologis, juga Symfonia: Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. No. Juni 2021 Dinamika Perkembangan Pesantren Dan Tantangan Abad 21 Firmansyah harus mampu mendayagunakan berbagai sumber informasi yang tersebar di masyarakat ke dalam kegiatan belajar. Dengan demikian, pembelajaran harus lebih memusat pada siswa yang pada gilirannya dapat menimbulkan masyarakat belajar. Ketiga, bahan pelajaran umum dan agama perlu diintegrasikan dan diberikan kepada siswa sebagai bekal yang memungkinkan ia memiliki pribadi yang utuh, yaitu pribadi yang di samping berilmu pengetahuan juga harus berakhlak mulia. Hal ini penting, karena kehidupan di masa mendatang banyak dihadapkan pada tantangan yang bersifat moral (Nata, 2001: Berdasarkan uraian tersebut, pesantren modern dengan sistem pendidikannya lebih memungkinkan untuk mengaplikasikan hal tersebut. Dalam kaitan itu, menurut Khursyid Ahmad . 2: . , pendidikan harus diorientasikan pada ideologi. Pendidikan adalah alat untuk mencapai tujuan dan bukan tujuan itu sendiri. Tujuan akhir pendidikan adalah pembangunan ideologi dan kebudayaan masyarakat. Senada dengan itu. Paulo Freire . 7: . menganggap pendidikan sebagai sebuah pilot project dan agen untuk melakukan perubahan sosial guna membentuk masyarakat baru. Yaitu masyarakat yang memiliki orientasi untuk maju dan berkembang sesuai dengan ideologi yang ideal. Dalam hubungan itu. SaAoid Hawwa . 9: 289-. merumuskan beberapa orientasi yang harus menjadi perhatian pendidikan Islam antara lain: Menciptakan kurikulum-kurikulum yang menempatkan segala sesuatu pada tempat yang semestinya, sehingga tidak ada kontradiksi dan tidak ada kerancuan. Semuanya disikapi secara proporsional, tidak membesar-besarkan sesuatu yang semestinya tidak dibesar- besarkan, begitu juga sebaliknya . isalnya pemilihan mata kuliah sesuai proporsi bidang keilmua. Termasuk dalam hal ini adalah kurikulum mengenai pengembangan keterampilan kerja yang diharapkan dikuasai oleh peserta didik. Hendaknya tidak menyerahkan masalah pendidikan kecuali pada pihak-pihak yang memiliki kualitas yang baik dan bersifat amanah, terseleksi dan terdidik, memiliki antusiasme terhadap kebaikan dan memiliki ketundukan kepada sistem pendidikan khusus, baik dalam tataran praktek, konsep, spiritual, ataupun perilaku. Hendaknya sekolah dan perpustakaan dipola secara islami. Pengelolaan ini dimaksudkan karena menurutnya suasana lingkungan pendidikan sangat selaras dengan pendidikan di dalamnya. Symfonia: Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. No. Juni 2021 Dinamika Perkembangan Pesantren Dan Tantangan Abad 21 Firmansyah Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa upaya strategis yang perlu dilakukan institusi pesantren adalah merespons secara positif atas perubahan tersebut dengan cara melakukan reorientasi pada pendidikan pesantren dengan mengintegrasikan pendidikan agama dan umum. Reorientasi ini adalah juga merupakan upaya menghilangkan dikotomi ilmu agama dan umum yang selama ini menjadi persoalan dan kritik utama teradap dunia pendidikan Islam. Di samping itu, pesantren juga harus bisa memberikan bekal keterampilan yang dibutuhkan oleh alumni dalam menghadapi persaingan yang begitu ketat. Terutama keterampilan alat yang berkaitan dengan pergaulan secara global . dan penggunaan teknologi modern . saat ini. Dengan pola tersebut, maka keberadaan pondok pesantren dapat memberikan nuansa baru dalam masyarakat tanpa mendobrak nilai-nilai Islam, di sisi lain bisa relevan dengan zaman tanpa harus merusak budaya lokal. Dengan demikian, pendidikan Islam di pondok pesantren dapat menjadi benteng utama yang bisa mewarnai perubahan zaman itu dengan nilai-nilai keagamaan dan moralitas sebagai ciri khas pendidikan Islam. Dua nilai itulah yang sesungguhnya tidak dimiliki oleh pendidikan non Islam, yang sebenarnya justru paling dibutuhkan manusia sebagai makhluk yang utuh, yang menghendaki mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, bukan kebahagiaan yang semu. SIMPULAN Dinamika abad 21 dengan berbagai karaktersitiknya mengharuskan setiap orang, kelompok, dan instutusi untuk berdapatasi meresponnya. Bagi institusi pendidikan Islam, terutama pesantren perkembangan itu mengharuskan pesanren untuk menengok kembali kurikulum dan metodologi yang selama ini masih diterapkan di pesantren, apakah semua itu masih relevan dengan dinamika perkembangan zaman. Pembelajaran di pesantren harus mampu menjawab tantangan zaman itu dengan melakukan reorientasi dalam kurikulum dan metodologinya, yaitu dengan membekali santri dengan pengetahuan dan ilmu alat yang dibutuhkan para santri untuk bisa bersaing secara kompetitif secara global dengan tetap berpegang teguh terhadap nilai-nilai keagamaan dan moralitas yang tinggi. Symfonia: Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. No. Juni 2021 Dinamika Perkembangan Pesantren Dan Tantangan Abad 21 Firmansyah DAFTAR PUSTAKA