Jurnal Ilmiah Keperawatan dan Kesehatan Alkautsar (JIKKA) e-ISSN : 2963-9042 online: http://jurnal. id/index. php/JIKKA EFEKTIVITAS SENAM ERGONOMIK UNTUK MENGATASI MASALAH RISIKO PERFUSI SEREBRAL TIDAK EFEKTIF PADA PENDERITA HIPERTENSI Amalia Bunga Ramadhani1. Parmilah2. Ratna Kurniawati3 1,2,3 Akademi Keperawatan Alkautsar Temanggung Email korespondensi : amaliabunga453@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Hipertensi adalah penyakit tekanan darah tinggi (Ou140/90 mmH. dengan gejala seperti sakit kepala dan gelisah. Faktor penyebabnya termasuk genetik, usia, kurang olahraga, stres, dan kurang tidur. Salah satu terapi non-farmakologis yang efektif adalah senam ergonomik, yang dapat membantu menurunkan tekanan darah dan mengurangi gejala. Tujuan: Mengetahui efektivitas senam ergonomic untuk mengatasi masalah resiko perfusi serebral tidak efektif pada penderita hipertensi. Metode: dengan 2 pasien dewasa yang menderita hipertensi dengan tekanan darah diatas batas normal, sakitkepala, gelisah sesuai criteria inklusi. Hasil: Senam ergonomik 3 kali seminggu dapat memperbaiki gejala hipertensi, seperti tekanan darah dan sakit kepala, namun tidak secara signifikan menurunkan tekanan darah secara keseluruhan. Kesimpulan: Pemberian senam ergonomic terbukti efektif dalam jangka pendek untuk mengatasi risiko perfusi serebral tidak efektif pada penderita hipertensi. Saran: Lakukan senam ergonomik secara rutin 1-3 kali seminggu untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam mengelola gejala hipertensi. Kata Kunci: Hipertensi. Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif. Senam Ergonomik EFFECTIVENESS OF ERGONOMIC EXERCISE TO OVERCOME THE PROBLEM OF CEREBRAL PERFUSION RISK IS NOT EFFECTIVE IN HYPERTENSION PATIENTS ABSTRAC Background: Hypertension is a disease characterized by high blood pressure (Ou140/90 mmH. with symptoms such as headaches and anxiety. Causes include genetics, age, lack of exercise, stress, and lack of sleep. One effective non-pharmacological therapy is ergonomic exercise, which can help lower blood pressure and reduce symptoms. Objective: To determine the effectiveness of ergonomic exercise in addressing the risk of ineffective cerebral perfusion in hypertensive patients. Method: Two adult patients with hypertension with blood pressure above the normal limit, headaches, and anxiety met the inclusion criteria. Results: Ergonomic exercise 3 times a week can improve hypertension symptoms, such as blood pressure and headaches, but does not significantly reduce overall blood pressure. Conclusion: Ergonomic exercise has been shown to be effective in the short term in addressing the risk of ineffective cerebral perfusion in hypertensive patients. Suggestion: Perform ergonomic exercise regularly 13 times a week to achieve maximum results in managing hypertension symptoms. Keywords: Hypertension. Risk of Ineffective Cerebral Perfusion. Ergonomic Exercise PENDAHULUAN Hipertensi, yang juga dikenal sebagai tekanan darah tinggi, adalah salah satu penyakit yang umum dijumpai di masyarakat. Menurut hasil Survei Kesehatan Dasar, sekitar 1,28 miliar orang dewasa berusia 30 hingga 79 tahun di seluruh dunia mengalami hipertensi (Riskesdes, 2. prevalensi hipertensi pada penduduk Indonesia 18 tahun keatas mencapai 34,1%. Prevalensi ini diukur dengan tekanan darah di atas 140/90 mmHg(Kemenkes RI. Berdasarkan data (Riskesdes, 2. , prevalensihipertensi di Jawa Tengah mencapai 37,57%. Berdasarkan data Kesehatan KabupatenTemangung pada tahun 2023 angka hipertensi pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 92,21%. Dimana pasien mendapatkan pelayanan Kesehatan (Tim Penyusun Profil Kesehatan Kabupaten Temanggung. , 2. Hipertensi adalah suatu penyakit dimana peningkatan tekanan darah melebihi batas normal, yaitu peningkatan sistolik sebesar 140 mmHg atau lebih dan peningkatan diastolic sebesar 90 mmHg atau lebih (Mufidah et al. , 2. Hipertensi ditandai dengan klien merasa berdebardebar, gampang marah, susah tidur, berkunang-kunang, tekanan darah di atas batas normal (Unger et al, 2. Beberapa gejala yang dirasakan pada penderita hipertensi adalah tekanan darah diatas batas normal, sakit kepala, gelisah disebabkan oleh faktor genetik, usia, kurangnya olahraga, stress, kurangnya tidur (Unger et al. Komplikasi yang paling umum termasuk masalah mata, jantung, ginjal, dan otak. Pasien hipertensi yang tidak melakukan pemeriksaan rutin dapat ginjal, dan stroke (Saputra,2014 dalam (Anisa et al. , 2. Penatalaksanaan untuk mengontrol terkanan darah yaitu ada farmakologis dan non farmakologis. Penatalaksanaan secara farmakologis dilakukan dengan cara pemberian obat-obatan seperti diuretika, antagonis kalsium, dan Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) seperti benazepril, captopril, dan Sementara Penatalaksanaan non farmakologis dilakukan dengan cara berhenti merokok, mengurangi asupan garam dan alkohol, serta menerapkan diet untuk menurunkan obesitas, serta (Nair & Peate, 2015 dalam (Ruswadi et al. , 2. Hipertensi yang tidak ditangani secara optimal dapat memicu berbagai masalah keperawatan seperti ansietas, nyeri akut, deficit pengetahuan, gangguan polat idur, serta risiko perfusi serebral tidak efektif (PPNI, 2. Risiko perfusi serebral tidak efektif terjadi akibat gangguan sirkulasi darah ke otak, yang disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah akibat peningkatan tekanan vaskuler. Faktor predisposisi seperti genetik, stres, merokok, obesitas, dan konsumsi alcohol dapat memperburuk kondisi ini (Nurarif & . H, 2. Penanganan risiko perfusi serebral mencakup manajemen sertaperawatan sirkulasi. Salah satu bentuk perawatan sirkulasi yang ergonomik, yang bermanfaat dalam meningkatkan analiran darah dan mendukung sirkulasi perifer secara (PPNI, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa efektivitas sena ergonomic untuk mengatasi masalah resiko perfusi serebral tidak efektif pada penderita hipertensi. Senam ergonomic adalah rangkaian latihan sederhana yang terdiridari enam gerakan, yaitu berdiri sempurna, lapang dada, tunduk syukur, duduk perkasa, duduk pembakaran, dan berbaring Setiap gerakan memiliki manfaat khusus bagi tubuh, seperti pernapasan, dan melancarkan peredaran Gerakan berdiri sempurna membantu menenangkan tubuh dan pikiran dengan merangsang system saraf parasimpatis. Gerakan lapang dada meningkatkan kapasitas paru-paru dan mengurangi tekanan darah melalui Gerakan tunduk syukur merilekskan otot-otot memperlancar aliran darah keotak. Gerakan duduk perkasa melatih kelenturan tubuh bagian bawah dan membantu menurunkan stress melalui pengaturan napas. Gerakan duduk meredakan ketegangan otot akibat stres, sedangkan gerakan berbaring pasrah memberkan relaksasi menyeluruh pada tubuh dan pikiran (Wratsongko, 2. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah desain studi kasus dengan pendekatan penelitian kualitatif. Subjek studi kasus ini adalah dua subjek wanita dewasa dengan criteria inklusi yaitu, usia 39-60 tahun mengalami tanda gejala yang terkait dengan masalah keperawatan resiko perfusi serebral tidak efektif mengalami tanda gejala hipertensi, bersedia menjadi subjek studi kasus tanpa ada paksaan. Penelitian ini menggunakan metode wawancara untuk mengumpulkan data dengan menggunakan beberapa lembar pengkajian, seperti lembar kriteria inklusi, lembar pengkajian hipertensi, dan lembar pengkajian risiko perfusi serebral tidak efektif (PPNI. Responden yang memenuhi kriteria kemudian diberikan terapi senam ergonomik selama 3 kali seminggu, dengan durasi 25-30 menit pada sore hari. Setelah terapi, dilakukan evaluasi menggunakan lembar evaluasi perfusi serebral untuk mengetahui efektivitas terapi dalam meningkatkan aliran darah dan mengurangi risiko perfusi serebral tidak efektif. hipertensi selama 1 tahun. Keduanya memiliki gejala seperti tekanan darah tinggi, sakit kepala, dan pandangan mata kabur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas senam ergonomik dalam mengatasi masalah risiko perfusi serebral tidak efektif. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Penelitian ini dilakukan pada 17-24 Februari 2025 terhadap dua pasien hipertensi, yaitu Ny. N . yang menderita hipertensi selama 2 tahun dan Ny. M . yang menderita Tabel 1. Hasil Pengkajian Hipertensi Pernyataan Tekanan darah di atas batas normal Sakit kepala Gampang marah Pandangan mata berkunang-kunang Telinga berdenging Sulit tidur Mimisan Kaku kuduk Ny. Oo Oo Oo Oo Ny. Tidak Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Tidak Oo Oo Oo Oo Oo Pengkajian terhadap kedua pasien dilanjutkan dengan mengkaji masalah risiko perfusi serebral, hasil pemeriksaan diuraikan pada tabel 2. Tabel 1. Lembar Pengkajian Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif Kriteria Sakit Kepala Gelisah Tekanan darah sistolik Tekanan darah diastolik Hasil pengkajian terhadap Ny. dan Ny. M mengindikasikan bahwa keduanya mengalami masalah risiko perfusi serebral yang tidak efektif. Penyebab utama masalah ini meliputi sakit kepala, rasa gelisah, serta peningkatan tekanan darah sistolik dan Oo Oo Ny. Tidak Ny. Tidak Oo Oo Tindakan senam ergonomic dimulai setelah kedua responden memahami penjelasan penelitian studi kasus dan telah menandatangani informed consent Evaluasi dilakukan dengan mengukur pencapaian criteria evaluasi dari luaran evaluasi yang dilakukan setiap hari setelah melakukan Tindakan senam ergonomik. Hasil evaluasi luaran pada tabel 3. Tabel 3. Lembar Evaluasi Perfusi Serebral Indikator Ny. H H Ny. Sakit 5 5 5 Kepala Gelisah 5 5 5 Keterangan :1= Meningkat, 2= cukup 3= sedang, 4= cukup menurun, 5= menurun. Tekanan 2 3 2 Tekanan 1 1 1 Keterangan : 1=Memburuk (>160/>100 mmhg , 2=Cukup Memburuk . -159/95-99 mmh. , 3= Sedang . -149/90-95 mmh. , 4= Cukup Membaik . /85-89 mmh. , 5=Membaik (<129/<84 mmh. Tabel 4. Evaluasi Hasil PemeriksaanTekanan Darah Hari Ny. Ny. 158/100 145/100 150/110 140/100 136/95 130/90 Pada Ny. N, tekanan darah sistolik awalnya 158/100 mmHg pada hari pertama dengan skor 1 . karena termasuk kategori sangat tinggi. Pada hari kedua, tekanan darah menurun menjadi 145/100 mmHg dengan skor 2 . ukup memburu. , yang Namun, pada hari ketiga tekanan darah meningkat kembali menjadi 150/110 mmHg, tetap pada skor 1 . Secara keseluruhan, kondisi Ny. menunjukkan perbaikan sementara, tetapi belum stabil dan masih berada dalam kategori tekanan darah tinggi. Pada Ny. M, tekanan darah awalnya 140/100 mmHg dengan skor 2 . ukup memburu. , menurun menjadi 136/95 mmHg pada hari kedua dengan skor 3 . , dan mencapai 130/90 mmHg pada hari ketiga dengan skor 4 . ukup Hasil ini menunjukkan bahwa tekanan darah Ny. M mengalami perbaikan kondisi perfusi serebral yang cukup baik. Setelah ergonomik, tekanan darah sistolik dan diastolik pada kedua pasien cenderung Namun, pada hari ketiga, tekanan darah diastolik Ny. mengalami kenaikan sekitar 5-10 mmHg, kemungkinan karena kondisi tubuh yang kurang optimal, seperti kurang tidur atau kelelahan. Hal ini menunjukkan bahwa senam ergonomik dapat membantu menurunkan tekanan darah, tetapi hasilnya dapat berbedabeda tergantung pada kondisi individu. PEMBAHASAN Hipertensi Adalah kondisi serius yang ditandai dengan tekanan darah melebihi batas normal dan dapat merusak pembuluh darah serta jantung, oksigen dan nutrisi keseluruh tubuh (Mia et al. , 2. Peningkatan tekanan darah diastolic umumnya disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah kecil . akibat vasospasme dan perubahan struktural seperti penebalan dinding pembuluh darah . Perubahan ini menyebabkan kekakuan dan penyempitan pembuluh darah memengaruhi fungsi organ vital seperti ginjal, otak, dan mata (Sommers et al. Sakit kepala pada orang dengan hipertensi disebabkan oleh tekanan menimbulkan rasa sakit. Apabila tekanan darah terus naik, intensitas sakit kepala pun dapat semakin memburuk (Mia et al. , 2. Hipertensi dapat berdampak serius pada Kesehatan mata, khususnya pada bagian retina. Tekanan darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah di retina, sehingga mengganggu aliran darah yang cukup ke area tersebut. Hal ini dapat menimbulkan gejala seperti penglihatan yang berkunang-kunang, dan jika tidak segera ditangani, kerusakan permanen pada retina yang dapat berujung pada kebutaan. (Mayer. Hipertensi dampak yang cukup serius pada kesehatan telinga. Tekanan darah yang tinggi berpotensi merusak pembuluh darah di area telinga, sehingga menghambat aliran darah yang normal kebagian tersebut. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pendengaran serta munculnya gejala seperti telinga berdenging atau tinitus. (Dinda & Muhammad, 2. Penderita mengalami gangguan tidur yang disebabkan oleh gejala hipertensi seperti pusing dan sesak napas, serta faktor lingkungan seperti kebisingan atau suhu yang tidak nyaman. Selain itu, stres dan kecemasan juga turut memengaruhi kesulitan dalam memulai tidur (Rahmat. Pada pasien Ny. N, gangguan tidur terjadi pada hari ketiga akibat tingginya aktivitas harian yang dijalani. Kesulitan tidur tersebut kemudian memicu peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis, yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah (Prwandari & Fatimatzzahroh, 2. darah yang sangat tinggi. Kondisi ini membuat pembuluh darah di otak Hipertensi munculnya nyeri pada leher akibat peningkatan tekanan darah di pembuluh darah yang mengalir ke otak. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa sakit atau ketidaknyamanan di area leher. Saat tekanan darah naik, pembuluh darah cenderung menjadi tegang, sehingga menyebabkan nyeri di leher (Dewi et , 2. Kondisi yang ditandai dengan penurunan aliran darah ke otak, dan hipertensi menjadi salah satu penyebab Faktor-faktor keturunan, usia, stres, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, obesitas, dan konsumsi alcohol dapat memicu hipertensi, yang kemudian menyebabkan gangguan aliran darah ke Dalam penelitian ini, dua responden menunjukkan gejala seperti tekanan darah tinggi, sakit kepala, dan gelisah, yang mengindikasikan adanya risiko perfusi serebral tidak efektif akibat tekanan darah sistolik dan diastolik yang melebihi batas normal (PPNI, 2. Senam ergonomic adalah metode latihan yang bertujuan memperbaiki postur dan kelenturan tubuh, sehingga dapat meningkatkan sirkulasi darah dan pasokan oksigen ke otak. Latihan ini membantu tubuh berfungsi secara kemampuan kognitif, mengatur suhu tubuh, dan menurunkan kadar asam urat, kolesterol, serta gula darah. Senam ergonomik juga bermanfaat dalam memperkuat otot, menjaga kesehatan pembuluh darah, serta memperlancar pernapasan (Wratsongko, 2014 dalam Rina & Andi, 2. Selain itu, senam ini dapat membantu menurunkan tekanan darah dan mengatasi risiko perfusi serebral tidak efektif. Sebelum penelitian dilakukan, peneliti meminta persetujuan responden melalui surat informed consent yang menjelaskan tujuan dan prosedur penelitian. Alat yang digunakan antara lain tensimeter untuk mengukur tekanan darah dan matras untuk senam. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah senam untuk mengetahui Peneliti juga memberikan instruksi pemanasan sebelum senam ergonomik, guna meningkatkan aliran darah, mengurangi risiko cedera, dan (Sugiharto, 2. Setelah itu, peneliti mencontohkan gerakan senam dan Terdapat enam gerakan senam ergonomik, yaitu berdiri sempurna, lapang dada, tunduk syukur, duduk perkasa, duduk pembakaran, dan berbaring pasrah. Setiap Gerakan memiliki manfaat khusus bagitu buh, seperti memperbaiki postur, melatih pernapasan, dan melancarkan peredaran Gerakan berdiri sempurna membantu menenangkan tubuh dan pikiran dengan merangsang system saraf parasimpatis. Gerakan lapang dada meningkatkan kapasitas paru-paru dan mengurangi tekanan darah melalui Gerakan tunduk Syukur merilekskan otot-otot memperlancar aliran darah ke otak. Gerakan duduk perkasa melatih kelenturan tubuh bagian bawah dan membantu menurunkan stress melalui pengaturan napas. Gerakan duduk meredakan ketegangan otot akibat stres, sedangkan gerakan berbaring pasrah memberi efek relaksasi menyeluruh pada tubuh dan pikiran(Wratsongko. Dilakukan selama 25-30 menit. Hasil intervensi pemberian terapi senam ergonomik pada penderita menggunakan luaran perfusi serebral yang diharapkan meningkat (PPNI. Perfusi serebral merujuk pada kecukupan aliran darah ke otak untuk mendukung fungsi otak secara optimal. Evaluasi terhadap kedua responden menunjukkan perbaikan tekanan darah yang sebelumnya melebihi batas normal, penurunan intensitas sakit kepala, serta berkurangnya gejala Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan senam ergonomik efektif dalam mengatasi risiko perfusi serebral tidak efektif, yang dibuktikan dengan peningkatan aliran darah ke otak dan penurunan tekanan darah. Hasil bahwa senam ergonomik efektif dalam menurunkan tekanan darah, khususnya pada lansia penderita hipertensi. Hal ini sejalan dengan penelitian (Rina & Andi, 2. , yang menyatakan bahwa senam ergonomik membantu melebarkan dan sehingga aliran darah menjadi lancar dan tekanan darah menurun. Teknik senam yang dilakukan secara rutin juga elastisitas pembuluh darah, menjadikan Analisis menunjukkan penurunan signifikan tekanan darah sistolik dan diastolik dengan nilai p = 0,00 < 0,05, yang membuktikan efektivitas senam ini dalam mengontrol hipertensi. Penelitian lain oleh (Elpriska, 2. juga mendukung temuan tersebut. Senam fungsi organ tubuh, aliran oksigen, serta membantu mengurangi gejala vertigo, migrain, dan pusing. Gerakan dalam senam ini memperkuat otot di area pinggang dan ginjal, serta menunjukkan perbedaan signifikan tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi . < 0,. , membuktikan efektivitasnya. KESIMPULAN Hipertensi Adalah keadaan di mana tekanan darah sistolik dan diastolic di atas batas normal . Yang ditandai dengan sakit kepala, mata berkunang-kunang, telinga berdengung, gampang marah, kaku kuduk, sulit tidur dan mimisan. Perfusi serebral yang tidak efektif merupakan kondisi di mana otak tidak mendapatkan pasokan darah yang Hal ini dapat memicu berbagai gejala, seperti sakit kepala, peningkatan tekanan darah, dan kegelisahan. Berdasarkan hasil penelitian, senam ergonomik belum sepenuhnya efektif menurunkan tekanan darah pada semua Namun, responden tetap bisa melakukan cara lain untuk membantu menurunkan tekanan darahya, seperti rutin minum obat sesuai anjuran dokter, mengendalikan stress dan pikiran, serta menjaga pola makan yang sehat. DAFTAR PUSTAKA