Jurnal Tarbiyah. Jurnal Ilmiah Kependidikan dan Keagamaan Vol 10 No. 01 Januari-Juni 2026 http://jurnal. id/index. php/tarbiyah Dinamika Adab Digital dalam Diskursus Pedagogi Islam: Analisis Literatur Kritis terhadap Kesiapan Guru MI di Era Artificial Intelligence Lutfiatuz ZahroAo1. Kanzenna Kurnia Ashshiddieqy2 M. Miftah Arief3 1Institut Agama Islam Darussalam Martapura. Kalimantan Selatan 2 Universitas Negeri Malang. Jl. Semarang No. Malang. Jawa Timur 3Institut Agama Islam Darussalam Martapura. Kalimantan Selatan lutfiatuzzahro@iaidarussalam. Pos-el : zennakurnia@gmail. miftaharief@iaidarussalam. Abstrak Integrasi Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan dasar Islam menghadapi tantangan ganda: dominasi tren teknosentris yang mereduksi peran guru menjadi operator alat, serta ancaman erosi otoritas moral akibat kemudahan akses informasi tanpa sanad. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis literatur kritis terhadap kesiapan diskursus pendidikan guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dalam merespons disrupsi tersebut, sekaligus menawarkan kerangka konseptual baru berbasis nilai. Menggunakan metode studi kepustakaan . ibrary researc. dengan pendekatan analisis isi terhadap literatur global dan nasional periode 2020Ae2026, penelitian ini membedah stagnasi epistemologis dalam riset Temuan penelitian menunjukkan tiga hal fundamental: . 97% literatur pendidikan guru masih terjebak pada paradigma instrumental . daptasi ala. dan mengabaikan dampak ontologis. Terjadi fenomena "bypass epistemologis" di mana AI mengambil alih peran transfer pengetahuan, menciptakan kekosongan nilai . alue vacuu. dalam relasi guru-siswa. Solusi atas krisis ini adalah reorientasi kompetensi guru dari sekadar fasilitator teknis menjadi "Kurator Nilai" melalui penguasaan "Tabayyun Algoritmik". Penelitian ini menyimpulkan bahwa kurikulum PGMI mendesak untuk direkonstruksi, bukan dengan menambah beban teknis, melainkan melalui infusi literasi kritis-etis (Adab Digita. guna mempertahankan marwah guru sebagai Murobbi di era Kata kunci: Adab Digital. Artificial Intelligence. Guru Madrasah Ibtidaiyah. Kompetensi Guru. Tabayyun Algoritmik. Abstract The integration of Artificial Intelligence (AI) in Islamic elementary education faces a dual challenge: the dominance of technocentric trends that reduce the teacher's role to a mere tool operator, and the threat of moral authority erosion due to easy access to unsourced This study aims to conduct a critical literature review on the readiness of Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education (PGMI) discourse in responding to this disruption, while offering a new value-based conceptual framework. Using a library research method with content analysis on global and national literature from 2020Ae2026, this study dissects the epistemological stagnation in previous research. The findings reveal three fundamental points: . 97% of teacher education literature is still trapped in the instrumental paradigm . ool adaptatio. and neglects ontological impacts. An "epistemological bypass" phenomenon occurs where AI takes over the knowledge transfer role, creating a "value vacuum" in the teacher-student relationship. The solution to this crisis is reorienting teacher competence from technical facilitators to "Value Curators" through the mastery of Tarbiyah Darussalam. Volume 10. No. Mei 2026. Hal. "Algorithmic Tabayyun. " This study concludes that the PGMI curriculum urgently needs reconstruction, not by adding technical burdens, but through the infusion of critical-ethical literacy (Digital Ada. to maintain the teacher's dignity as a Murobbi in the algorithmic era. Keywords: Algorithmic Tabayyun. Artificial Intelligence. Digital Adab. Madrasah Ibtidaiyah Teacher. Teacher Competence. PENDAHULUAN Lanskap pendidikan abad ke-21 kini tengah menghadapi guncangan epistemologis yang paling radikal sejak revolusi industri. Kehadiran Generative Artificial Intelligence (GenAI) menandai diskontinuitas sejarah yang tajam. Tidak seperti gelombang teknologi sebelumnya yang hanya mendigitalkan buku teks menjadi e-book. GenAI menawarkan kemampuan augmentasi kognitif yang memungkinkan mensintesis informasi, merancang kurikulum, hingga memproduksi konten edukatif dalam hitungan detik (Giannakos et al. , 2025. Mittal et al. , 2. Fenomena ini menciptakan paradoks baru di mana otoritas pengetahuan tidak lagi dimonopoli oleh guru atau dosen di depan kelas, melainkan terdistribusi secara algoritmis di tangan setiap peserta didik (Bearman et al. , 2023. Karneev, 2. Bagi institusi pendidikan, realitas ini bukan sekadar tantangan teknis tentang cara mengadopsi aplikasi, melainkan sebuah ultimatum filosofis: apakah metode pedagogik yang kita pertahankan selama puluhan tahun masih relevan, atau justru sedang menggali kuburnya sendiri di hadapan kecerdasan sintetis (Giannakos et al. , 2025. Swindell et al. , 2. Kehadiran teknologi ini dalam konteks pendidikan dasar Islam, membawa implikasi yang unik dan kompleks bagi ekosistem Madrasah Ibtidaiyah (MI). Berbeda dengan sekolah dasar umum. MI memikul mandat ganda yakni transfer pengetahuan . dan penanaman nilai-nilai transendental . fektif-spiritua. (Khairullah Khairullah, 2024. Sunhaji, 2. Integrasi AI dalam pembelajaran di MI tidak bisa sekadar dimaknai sebagai adopsi alat bantu . ool adoptio. , melainkan harus diletakkan dalam kerangka pemeliharaan adab (Hayati & Ushalli. Ketika algoritma mampu menyajikan tafsir agama atau materi fikih secara instan, tantangan terbesar bagi calon guru MI bukan lagi pada penguasaan materi, melainkan validasi kebenaran . dan internalisasi nilai yang tidak dapat dialgoritmakan (Hasan et al. , 2. Oleh karena itu, kurikulum Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dituntut untuk merespons dinamika ini tanpa mencabut akar tradisi keilmuan Islam. Secara garis besar, diskursus akademik global mengenai integrasi AI dalam pendidikan guru terpolarisasi pada dua paradigma dominan yakni 'Learning with AI' . dan 'Learning about AI' . (Kim & Bae, 2023. Macgilchrist et al. , 2. Kelompok pertama mengadopsi perspektif instrumentalis-pragmatis . earning with AI), di mana fokus utama riset tertuju pada pemanfaatan tools Copyright A 2026. Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam Martapura Zahro. Dinamika Adab Digital A generatif untuk efisiensi administratif dan produksi media pembelajaran, seperti rekayasa prompt . rompt engineerin. untuk penyusunan RPP otomatis (Ahmad et , 2. Namun, dominasi pendekatan teknis ini memicu kekhawatiran serius mengenai 'instrumentalisasi pengajaran', yang memperingatkan risiko kedangkalan mediasi pedagogis . hallow pedagogical mediatio. ketika guru hanya menjadi operator alat tanpa nalar kritis (Medeiros et al. , 2. Meskipun kritik etis mulai bermunculan, temuan sistematis Medeiros et al. , . menunjukkan bahwa literatur global masih terkonsentrasi secara geografis di kawasan Amerika Utara. Eropa Barat, dan Amerika Latin. Dominasi perspektif Barat ini berimplikasi pada perlunya analisis lebih lanjut dalam konteks pendidikan nilai yang spesifik, khususnya dinamika pedagogi Islam di Madrasah yang memiliki karakteristik kultural berbeda. Dominasi tren teknosentris ini bukan sekadar asumsi, melainkan fakta statistik yang mengkhawatirkan. Studi Kurvinen et al. , . mengungkap bahwa 97% publikasi terkait AI dalam pendidikan berasal dari jurnal berbasis teknologi, dengan fokus mayoritas pada adaptasi alat . ool adaptatio. dan hanya segelintir yang menyentuh dimensi etis. Saturasi riset pada aspek teknis ini, menciptakan ilusi kemajuan semu (Laurent et al. , 2. Akibatnya, terjadi kekosongan literatur yang fundamental mengenai dampak ontologis AI terhadap profesi guru. Abdurrahim et al. , . dan Kaur, . secara spesifik mengidentifikasi bahwa narasi akademik saat ini gagal merumuskan strategi bagi pendidik untuk mempertahankan otoritas moral . oral authorit. di tengah otomatisasi Absennya diskursus ini sangat krusial bagi pendidikan guru madrasah (PGMI), yang kini terancam kehilangan relevansi spiritualnya jika terus menerus terjebak pada euforia adopsi teknologi tanpa filter aksiologis. Merespons kevakuman teoretis tersebut, artikel ini bertujuan untuk melakukan analisis literatur kritis . ritical literature revie. terhadap diskursus kesiapan kompetensi dan orientasi kurikuler PGMI dalam menghadapi era disrupsi kecerdasan buatan. Fokus utama kajian diarahkan untuk memetakan stagnasi epistemologis dalam riset terdahulu serta menawarkan kerangka konseptual 'Integrasi Adab Digital' sebagai benteng aksiologis guru madrasah. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi kepustakaan . ibrary researc. kualitatif yang menggunakan pendekatan deskriptif-analitis untuk melakukan rekonstruksi konseptual terhadap diskursus kompetensi guru Madrasah Ibtidaiyah (MI). Berbeda dengan tinjauan naratif konvensional, metode ini diterapkan sebagai bentuk analisis literatur kritis guna membedah "stagnasi epistemologis" dalam riset-riset pendidikan terdahulu sekaligus menawarkan kerangka baru yang Tarbiyah Darussalam. Volume 10. No. Mei 2026. Hal. berbasis pada nilai-nilai adab di era kecerdasan buatan. Data dalam penelitian ini bersifat sekunder, yang bersumber dari teks ilmiah pilihan melalui teknik purposive sampling. Korpus data utama terdiri dari artikel jurnal bereputasi . erindeks Scopus dan Sint. serta laporan strategis lembaga internasional yang diterbitkan dalam rentang waktu 2020Ae2026. Pemilihan periodisasi ini bertujuan untuk menangkap dinamika pemikiran paling mutakhir pasca-akselerasi Generative AI. Pencarian literatur dilakukan secara sistematis melalui pangkalan data akademik seperti Google Scholar. DOAJ, dan ScienceDirect dengan mengombinasikan kata kunci spesifik: "Artificial Intelligence in Education", "Teacher Competence", dan "Madrasah Pedagogy". Guna menjamin kualitas interpretasi, literatur yang dikumpulkan disaring melalui kriteria seleksi yang ketat, yang meliputi aspek teoretis, otoritas akademik penerbit, serta relevansi substantif terhadap pendidikan nilai Islam. Literatur yang bersifat tutorial teknis murni tanpa refleksi pedagogis dieksklusi guna menjaga kedalaman analisis. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan teknik analisis isi . ontent analysi. yang dipadukan dengan analisis dialektika. Proses ini dimulai dari tahap kondensasi data untuk memilah proposisi kunci, dilanjutkan dengan kategorisasi diskursus untuk memetakan pertentangan antara tren "teknosentrisinstrumental" dengan "nilai-aksiologis". Tahap akhir dari analisis ini adalah sintesis kreatif yang mengonfrontasikan literatur global dengan prinsip pedagogi Islam guna melahirkan kerangka "Adab Digital". Keabsahan temuan dalam penelitian ini dijamin melalui analisis antar-tekstual . nter-textual analysi. , yaitu dengan membandingkan berbagai sudut pandang otoritatif secara berulang untuk memastikan konsistensi logika dan meminimalkan bias subjektivitas peneliti dalam penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemetaan Paradigma: Dominasi Tren Teknosentris dalam Literatur Global Analisis terhadap lanskap literatur pendidikan periode 2020Ae2026 mengungkapkan sebuah pola asimetris yang mencolok: diskursus akademik mengenai AI mengalami saturasi pada aspek teknis-instrumental. Sebagaimana dikonfirmasi oleh temuan (Kurvinen et al. , 2. , lebih dari 97% publikasi yang beredar di jurnal bereputasi memposisikan AI sebagai "alat bantu efisiensi" . fficiency too. , sementara kurang dari 3% yang secara serius menggugat dampak etisnya terhadap ekosistem kelas. Tren ini bukan fenomena yang berdiri sendiri, melainkan konsekuensi logis dari tekanan pasar teknologi global (Big Tec. yang secara agresif mendikte arah riset pendidikan melalui jargon "Kompetensi Abad 21" yang seringkali dangkal. Copyright A 2026. Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam Martapura Zahro. Dinamika Adab Digital A literatur PGMI (Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiya. dalam konteks ini, turut terseret dalam arus utama tersebut. Mayoritas riset cenderung mengadopsi narasi "adaptasi alat" tanpa filter kritis. Tabel 1 di bawah ini menyajikan taksonomi fokus riset yang memperlihatkan bagaimana dimensi ontologis . akikat gur. terpinggirkan oleh dimensi pragmatis . ara pakai ala. Tabel 1. Taksonomi Fokus Riset AI dalam Pendidikan . Paradigma Fokus Utama Karakteristik Temuan Implikasi bagi Guru Riset Kajian Teknosentris Adopsi Tools Mengukur efektivitas Guru (Domina. (ChatGPT, dalam sebagai "Operator" Canva. Peran moral Quiziz. pembuatan RPP/Media. Kompetensi Literasi Data Menuntut guru Beban Digital Prompt menguasai teknis bertambah Engineering operasional AI. aspek teknis, bukan Kritis-Etis Bias Mengkritik potensi Mulai (Minorita. Algoritma & halusinasi dan aspek nilai, namun Privasi Data keamanan data siswa. belum spesifik pada nilai Islam. IntegratifOtoritas Moral (Belum banyak Celah Aksiologis & Adab Bagaimana menjaga (Kekosonga. di era AI. Sumber: Sintesis Data Peneliti . Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa tren riset saat ini mengalami apa yang disebut (Medeiros et al. , 2. sebagai "pendangkalan mediasi pedagogis". Riset-riset yang ada lebih sibuk menjawab pertanyaan "Bagaimana cara menggunakan AI?" daripada "Untuk apa kita menggunakan AI?". Bagi pendidikan guru madrasah, dominasi tren teknosentris ini berbahaya karena berpotensi mereduksi peran guru dari seorang Murobbi . endidik jiw. menjadi sekadar administrator data yang bekerja di bawah perintah algoritma. Paradoks Otoritas: Erosi Peran "Murobbi" di Era Algoritma Temuan kedua yang lebih fundamental adalah terjadinya pergeseran ontologis dalam relasi guru-siswa, yang peneliti sebut sebagai "Paradoks Otoritas". Otoritas seorang guru (Murobb. dalam tradisi pendidikan Islam, tidak hanya dibangun di atas kompetensi pedagogis, melainkan juga pada sanad keilmuan dan keberkahan transfer nilai . (Badrasawi et al. , 2017. Hasanuddin & Iskandar, 2022. Karwadi et al. , 2. Namun, kehadiran Generative AI Tarbiyah Darussalam. Volume 10. No. Mei 2026. Hal. mendestruksi hierarki ini. Sebagaimana diilustrasikan dalam Gambar 1, terjadi bypass epistemologis di mana siswa dapat mengakses tafsir agama, hukum fikih, hingga narasi sejarah Islam langsung dari algoritma tanpa melalui verifikasi guru. AI menawarkan "Kepastian Instan" (Instant Certaint. yang memikat, namun hampa dari dimensi spiritual. Gambar 1. Skema Disrupsi Epistemologis: Dari Sanad ke Algoritma Analisis terhadap skema di atas menunjukkan bahwa AI menawarkan "Kepastian Instan" (Instant Certaint. yang memikat secara kognitif, namun hampa dari dimensi spiritual (Abdelnour, 2025. Peters, 2. Ketika siswa bertanya pada Generative AI tentang hukum agama, mereka mendapatkan jawaban tekstual yang rapi, namun kehilangan dimensi tarbiyah . endidikan karakte. yang hanya bisa ditularkan melalui interaksi manusiawi (Nurrohmah. NisaSyaifurrahman & Lestari. Kondisi ini menciptakan paradoks: Guru MI dimudahkan secara teknis dalam pembuatan materi ajar, namun secara simultan kehilangan relevansinya sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Jika peran guru tidak segera diredefinisi dari sekadar "penyampai informasi" menjadi "kurator nilai", maka pendidikan madrasah terancam mengalami sekularisasi terselubung, di mana agama dipelajari sebagai data semata, terlepas dari adab dan keberkahan gurunya. Sintesis "Adab Digital" Tabayyun Algoritmik sebagai Kompetensi Baru Merespons krisis otoritas tersebut, artikel ini mengajukan tesis bahwa solusi bagi pendidikan guru madrasah bukan terletak pada penolakan teknologi . , melainkan pada integrasi nilai yang disebut sebagai "Adab Digital". Jika kompetensi guru abad ke-21 (TPACK) berfokus pada kecakapan teknis, maka kompetensi Guru PGMI harus melampaui itu dengan menambahkan dimensi aksiologis (Rahmatiah et al. , 2. Inti dari kerangka ini adalah konsep "Tabayyun Algoritmik", yaitu kemampuan guru untuk melakukan verifikasi kritis terhadap output AI dengan menggunakan standar sanad keilmuan Islam dan logika moral. Copyright A 2026. Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam Martapura Zahro. Dinamika Adab Digital A Guru tidak lagi berperan sebagai "Sumber Informasi" . arena sudah kalah cepat dari AI), melainkan berevolusi menjadi "Kurator Kebenaran". Pergeseran paradigma ini menuntut redefinisi standar kompetensi. Tabel 2 di bawah ini menyajikan matriks komparasi antara kompetensi guru digital umum . ang bias teknosentri. dengan model kompetensi baru berbasis Adab Digital yang ditawarkan dalam penelitian ini. Tabel 2. Komparasi Kompetensi Guru Umum vs. Guru MI Berbasis Adab Digital Aspek Paradigma Umum Paradigma Baru Implikasi Kompetensi (Technocentri. PGMI (AdabPedagogis Centri. Sumber Big Data Driven Sanad Oriented Guru mengajarkan (Validitas Kebenaran (Validitas sumber asli, bukan popularitas/statisti. asal kutip ChatGPT. keilmuan/dali. Peran Guru Fasilitator Kurator Nilai & Guru membatalkan Pembelajaran Murobbi . jawaban (Memudahkan akses (Menyaring & AI makna sekuler/liberal. Respon thd Debugging Istidlal & Tabayyun Mengoreksi Kesalahan (Memperbaiki error (Verifikasi dalil & halusinasi konteks huku. mu'tabar. Tujuan Akhir Smart Student (Cerdas Beradab & Berilmu Teknologi dipakai Kognitif & Efisie. (Cerdas Emosional untuk & Spiritua. waktu, agar sisa untuk nasehat. Sumber: Rekonstruksi Teoretis Peneliti . Analisis pada Tabel 2 menunjukkan bahwa "Adab Digital" berfungsi sebagai teknologi mental . ental technolog. untuk menjinakkan liarnya arus informasi Sejalan dengan kritik Macgilchrist et al. mengenai pentingnya learning about AI, pendekatan ini menempatkan guru MI sebagai pemegang kendali etis. Sebagai contoh konkret ketika AI menyajikan jawaban tentang hukum fikih yang instan dan kaku. Guru MI dengan kompetensi Tabayyun Algoritmik akan membimbing siswa untuk tidak menelan mentah-mentah jawaban tersebut, melainkan membandingkannya dengan konteks sosial dan rujukan kitab kuning. Tarbiyah Darussalam. Volume 10. No. Mei 2026. Hal. sinilah letak Inovasi Pedagogis yang sesungguhnya menjadikan AI sebagai mitra dialog, namun tetap menempatkan Adab (Gur. di atas Algoritma (Mesi. Implikasi bagi Rekonstruksi Kurikulum PGMI: Dari Teknis Menuju Kritis Temuan mengenai urgensi "Adab Digital" di atas memiliki implikasi langsung terhadap desain kurikulum Program Studi PGMI. Selama ini, respons kurikuler terhadap teknologi seringkali terjebak pada penambahan mata kuliah teknis semata, seperti "Aplikasi Komputer" atau "Media Pembelajaran Digital"(AlSindi et al. , 2. Pendekatan aditif ini tidak lagi memadai di era Generative AI, karena kemampuan teknis . eperti promptin. akan segera menjadi usang seiring evolusi algoritma yang semakin intuitif (Mishra et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pergeseran paradigma kurikulum dari "Literasi Teknis" menuju "Literasi Kritis-Etis". Rekonstruksi ini tidak harus dilakukan dengan menambah beban SKS baru, melainkan melalui strategi infusi kurikuler . urricular infusio. pada mata kuliah inti keislaman. Sebagai contoh konkret, mata kuliah Fiqh Ibadah tidak hanya membahas rukun shalat, tetapi juga harus mendiskusikan validitas hukum beribadah berdasarkan panduan AI . iqh digita. Mata kuliah Akidah Akhlak harus diperluas cakupannya untuk membahas etika interaksi manusia-mesin dan bahaya anthropomorphism . enganggap mesin seperti manusi. Dengan demikian, profil lulusan PGMI yang dihasilkan bukan sekadar "Guru yang Pandai Menggunakan AI", melainkan "Guru yang Mampu Mengendalikan AI" dengan pisau analisis keislaman. Langkah ini mendesak dilakukan agar institusi PGMI tidak mencetak "robot pengajar", melainkan tetap melahirkan Murobbi yang relevan zaman namun teguh pada nilai. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Analisis literatur kritis dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa diskursus akademik pendidikan guru madrasah saat ini tengah mengalami stagnasi Mayoritas literatur . ominasi teknosentri. terjebak pada euforia adaptasi alat . ool adaptatio. , namun abai terhadap dampak ontologis berupa erosi otoritas moral guru. Bagi pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, fenomena "Bypass Epistemologis" di mana siswa mengakses pengetahuan agama secara instan tanpa sanad guru merupakan ancaman serius yang dapat mendegradasi peran guru dari "Pendidik Jiwa" (Murobb. menjadi sekadar "Fasilitator Data". Sebagai antitesis terhadap tren tersebut, penelitian ini menawarkan refleksi teoretis baru berupa kerangka Integrasi Adab Digital. Melalui kompetensi "Tabayyun Algoritmik", guru MI tidak lagi diposisikan sebagai pesaing mesin dalam hal kecepatan informasi, melainkan direposisi sebagai kurator nilai yang bertugas memverifikasi kebenaran dan menyaring bias algoritma. Kesiapan guru Copyright A 2026. Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam Martapura Zahro. Dinamika Adab Digital A masa depan tidak ditentukan oleh seberapa mahir mereka melakukan prompt engineering, melainkan seberapa kuat mereka menegakkan integritas aksiologis di tengah banjir informasi. Saran