Jurnal Kebidanan 11 . 105 - 201 Jurnal Kebidanan http : //w. GAMBARAN KARAKTERISTIK IBU POST PARTUM DENGAN PIJAT OKSITOSIN DI BPM NGUDI RAHARJO CEPOGO Titik Wijayanti . Atik Setiyaningsih . Prodi S1 Kebidanan STIKES Estu Utomo Prodi D3 Kebidanan STIKES Estu Utomo E-mail: titikeub. tw@gmail. com, dosenmanis@yahoo. ABSTRAK ASI Eksklusif diberikan hingga bayi berusia 6 bulan, dimana ASI eksklusif merupakan salah satu indikator kesehatan anak. (Profil Kesehatan Indonesia, 2014 : . Di kabupaten Boyolali pada tahun 2014 cakupan ASI eksklusif hanya mencapai 15,6 % dan untuk cakupan ASI Eksklusif di kecamatan Cepogo 65,1 %. (Profil Kesehatan Kab. Boyolali, 2. Upaya untuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif antara lain adalah pijat oksitosin. Pijat okstosin merupakan metode baru yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, keluarga terutama suami sehingga belum banyak ibu post partum yang tahu dan mau melakukan pijat oksitosin. Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang antara lain umur, pendidikan dan sosial ekonomi (Notoatmodjo. Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu post partum di BPM Ngudi Raharjo Cepogo pada bulan Maret Ae Juni 2017 sejumlah 60 ibu post partum. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu post partum yang melakukan pijat oksitosin di BPM Nguji Raharjo Cepogo sejumlah 30 ibu post partum dengan tehnik pengambilan sampel purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu post partum yang melakukan pijat oksitosin berumur 20 Ae 35 tahun sebanyak 21 responden . %), memiliki pendidikan menengah (SMA) sebanyak 18 responden ( 60%) serta bekerja sebanyak 18 responden . %). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa umur, pendidikan dan pekerjaan merupakan faktor pembentuk perilaku pijat oksitosin pada ibu post partum di BPM Ngudi Raharjo Cepogo. Kata Kunci : Pijat Oksitosin. Umur. Pendidikan. Pekerjaan. DESCRIPTION OF CHARACTERISTICS OF POST PARTUM MOTHER WITH OXYTOSIN MASSAGE IN BPM NGUDI RAHARJO CEPOGO ABSTRACT Exclusive breastfeeding is given until babies are 6 months old, where exclusive breastfeeding is an indicator of children's health. (Indonesia Health Profile, 2014: . In Boyolali district in 2014 exclusive breastfeeding coverage only reached 15. 6% and for exclusive breastfeeding coverage in Cepogo sub-district 65. (Health Profile of Boyolali Regency, 2. Efforts to increase the coverage of exclusive breastfeeding include oxytocin massage. Ostosin massage is a new method that can be done by health workers, families, especially husbands so that not many post partum mothers know and want to do oxytocin massage. Several factors that influence a person's health behavior include age, education and socioeconomic (Notoatmodjo, 2. The design of this research is quantitative descriptive research. The population in this study were all post partum mothers in BPM Ngudi Raharjo Cepogo in March - June 2017, as many as 60 post partum The sample in this study was post partum mothers who performed oxytocin massage at BPM Nguji Raharjo Cepogo with 30 post partum mothers using purposive sampling technique. The results showed that the majority of post partum mothers who did oxytocin massage aged 20 35 years were 21 respondents . %), had secondary education (SMA) as many as 18 respondents . %) and worked as many as 18 respondents . %). Thus it can be concluded that age, education and occupation are the factors forming the behavior of oxytocin massage in post partum mothers at BPM Ngudi Raharjo Cepogo. Keywords: Oxytocin Massage. Age. Education. Work. Jurnal Kebidanan. Vol. XI. No. Desember 2019 karena PENDAHULUAN Air susu ibu (ASI) merupakan ASI satu-satunya makanan dan minuman terbaik untuk susu yang diproduksi oleh manusia untuk konsumsi bayi dan merupakan pertumbuhan dan perkembangan bayi, sumber gizi utama bayi yang belum melindungi dari berbagai penyakit, dapat mencerna makanan padat. ASI infeksi, mempererat hubungan batin ibu diproduksi karena pengaruh hormon dan bayi sehingga bayi akan lebih sehat ASI dan cerdas. Namun pada beberapa ibu proses pemberian air susu ibu (ASI) yang baik untuk pertahanan tubuh bayi bisa saja mengalami hambatan dengan melawan penyakit, sehingga bayi tidak alasan produksi ASI berhenti. Persoalan mudah sakit, selain itu mudah didapat, ini dialami oleh banyak ibu menyusui, tidak semua ibu menyusui melakukan pengeluaran negara untuk pembelian dengan benar, ada yang memberi susu formula. Pemberian ASI sebaiknya makanan padat atau susu formula hingga bayi berusia 6 bulan atau hal ini sebelum bayi berusia empat atau enam sering disebut dengan istilah ASI bulan ataupun ibu mengalami stress ASI (Utami, 2. (Profil Kesehatan Banyak Indonesia, 2014 : . Komposisinya mempengaruhi rendahnya cakupan ASI Di Indonesia pada tahun 2014 Eksklusif cakupan ASI Ekslusif masih di bawah sosial budaya, psikologis, fisik ibu, target nasional 80% yaitu 52,3 %, perilaku/rangsangan kemudian di Propinsi Jawa Tengah Dari faktor psikologis ibu. Kesehatan akan berkaitan dengan produksi ASI. Indonesia, 2014 : . Sedangkan di dimana apabila hati ibu senang, bahagia kabupaten Boyolali pada tahun 2014 maka produksi ASI akan melimpah. cakupan ASI eksklusif hanya mencapai Faktor rangsangan berupa perawatan 15,6 % dan untuk cakupan ASI Eksklusif di kecamatan Cepogo 65,1 %. caresecara rutin juga akan membantu (Profil Kesehatan Kab. Boyolali, 2. meningkatkan produksi ASI sehingga Pemberian (Profil ibu bisa menyusui secara eksklusif. diberikan kepada bayi sejak lahir (Soetjiningsih, 2. Faktor rangsangan sampai usia 6 bulan sangat penting yang lain adalah dengan melakukan ASI Jurnal Kebidanan. Vol. XI. No. Desember 2019 pemijatan di daerah tulang belakang oksitosin antara lain merangsang let down reflek, memberikan kenyamanan pada ibu, hormon oksitosin sehingga produksi ASI mengurangi sumbatan ASI, merangsang meningkatkan kenyamanan ibu saat menyusui, pemijatan ini biasa disebut mempertahankan produksi ASI saat ibu pijat oksitosin. (Suherni, dkk, 2. dan bayi sakit. Pijat oksitosin sebagai upaya atau . Menurut Widuri, 2013, metode pijat oksitosin ini lebih disarankan produksi ASI mulai banyak di lakukan apabila dilakukan sebelum menyusui di BPM termasuk di BPM Ngudi atau memerah ASI dengan langkah Raharjo yaitu . ibu duduk dengan meletakkan metode baru yang dapat kedua tangannya di kursi atau sandaran yang diletakkan di depannya, . keluarga terutama suami karena selain dapat meningkatkan hormon oksitosin pakaiannya, . Kedua ibu jari pemijat juga memberikan kenyamanan bagi ibu dicelupkan ke dalam baby oil, lalu pada saat menyusui. (Suherni, dkk. Sebagai metode baru belum tepatnya di samping tulang punggung, banyak ibu post partum yang tahu . Lakukan gerakan melingkar pada kedua ibu jari dari atas sampai ke Cepogo. Pijat melakukan pijat oksitosin. bawah, lakukan beberapa kali sampai Pijat Oksitosin adalah pemijatan ibu merasa lebih rileks, . terakhir mengecek pengeluaran ASI dengan memencet payudara ibu. kelima-keenam dan merupakan usaha Apabila untuk merangsang hormon prolaktin pelepasan hormon oksitosin maksimal . eflek oksitosin akti. maka ibu akan (Purnama, 2. Pijat oksitosin adalah akan merasakan tanda Ae tanda yaitu . tindakan yang dilakukan oleh suami Ibu akan merasa diperas saat sebelum pada ibu menyusui yang berupa back meneteki atau selama meneteki bayi, massage pada punggung ibu untuk . ASI mengalir dari payudara bila ibu memikirkan atau mendengar tangisan (Suherni. Menurut Purnama, 2013 manfaat pijat ASI payudara satunya apabila bayi menetek Jurnal Kebidanan. Vol. XI. No. Desember 2019 pada payudara lainya, . Nyeri dengan menjaga kesehatan agar tidak sakit kontraksi rahim kadang disertai aliran dan usaha untuk penyembuhan bila darah saat bayi menetek pada minggu . otoatmodjo, 2. pertama melahirkan, . Isapan pelan Menurut Azwar faktor-faktor Rina dan dalam dari bayi serta terdengar bayi menelan ASI merupakan tanda bahwa ASI mengalir ke dalam mulut bayi. pengalaman pribadi, pengaruh orang Perilaku adalah semua kegiatan lain yang dianggap penting, pengaruh atau aktivitas manusia, baik yang dapat kebudayaan dan media massa. Ada juga diamati langsung maupun yang tidak 2 faktor yang mempengaruhi perilaku ada 2 yaitu faktor internal dan faktor sedangkan perilaku kesehatan adalah Faktor internal antara lain respon seseorang terhadap stimulus atau jenis ras/keturunan, jenis kelamin, sifat obyek yang berkaitan dengan sehatdan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, intelegensia, sedangkan faktor eksternal Perilaku kebudayaan, lingkungan dan sosial Sedangkan menurut Green menjadi 3 . kelompok meliputi . dalam Notoatmodjo, 2007 menyebutkan perilaku pemeliharaan kesehatan, . bahawa faktor perilaku dibentuk oleh Perilaku pencarian pengobatan, . Perilaku . redisposing (Notoatmodjo, 2. Termasuk dalam yaitu faktor yang mempermudah atau perilaku pemeliharaan kesehatan adalah seseorang antara lain pengetahuan, dimana kesehatan itu sangat dinamis sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai- dan relatif sehingga orang yang sehat nilai dan tradisi. faktor pemungkin perlu diupayakan atau mengupayakan . nabling factor. , yaitu faktor yang supaya mencapai tingkat kesehatan memungkinkan atau yang memfasilitasi yang seoptimal mungkin. Salah satu perilaku atau tindakan antara lain umur, perilaku peningkatan kesehatan adalah prasarana dan sarana serta sumber dan faktor pendorong atau penguat . einforcing factor. , faktor yang mendorong atau memperkuat Jurnal Kebidanan. Vol. XI. No. Desember 2019 terjadinya perilaku misalnya dengan tempat penelitian dengan menggunakan buku register untuk mengetahui jumlah masyarakat yang menjadi panutan. ibu post partum dan jumlah ibu post partum yang dilakukan pijat oksitosin. Analisis data dilakukan dengan METODE Desain menggunakan distribusi frekuensi untuk digunakan adalah penelitian deskriptif mengetahui gambaran karakteristik ibu post partum dengan pijat oksitosin dari karakteristik responden menggambarkan sebuah hasil objek berdasarkan umur, penelitian, tetapi tidak digunakan untuk pekerjaan ibu post partum. kesimpulan-kesimpulan Populasi pendidikan dan HASIL DAN PEMBAHASAN penelitian ini adalah seluruh ibu post Analisis data yang digunakan partum di BPM Ngudi Raharjo Cepogo dalam penelitian ini adalah analisis pada bulan Maret Ae Juni 2017 sejumlah 60 ibu post partum. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu post partum berdasarkan umur, yang melakukan pijat oksitosin di BPM Nguji Raharjo Cepogo sejumlah 30 ibu Karakteristik responden berdasarkan post partum. Adapun tehnik sampling umur ibu post partum dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini. Alat pendidikan dan Tabel 1. Distribusi Frekuensi Umur Ibu Post Partum Dengan Pijat Oksitosin Kategori Jumlah Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini <20 tahun 20 Ae 35 >35 tahun Total Prosentase (%) primer dan sekunder. Data primer adalah data yang diambil langsung dari Berdasarkan responden dengan cara membagikan Data sekunder adalah data yang diambil secara tidak langsung, yaitu data yang 20Ae35 tahun . sia reproduksi seha. diambil dari data yang sudah ada di sebanyak 21 responden . %). Jurnal Kebidanan. Vol. XI. No. Desember 2019 Karakteristik responden berdasarkan post partum dengan pijat oksitosin pendidikan ibu post partum dapat memiliki umur antara 20 Ae 35 tahun dilihat pada tabel 2 di bawah ini. sia reproduksi seha. sebanyak 21 responden . %). Hasil ini sesuai teori Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pendidik Ibu Post Partum Dengan Pijat Oksitosin Green dalam Notoatmodjo, 2007 bahwa umur merupakan salah satu faktor yang Kategori Jumlah Prosentase (%) Dasar (SD-SMP) memungkinkan mempengaruhi perilaku Semakin dewasa dewasa usia Menengah (SMA) Tinggi (PT) Total melakukan tindakan yang terbaik untuk Seeorang menajalani kehidupan secara norml dapat diasumsikan semakin lama hidup Berdasarkan tabel 2 di atas, diketahui bahwa sebagian besar ibu post partum pendidikan menengah (SMA) sebanyak 18 responden . %). maka pengalaman semakin banyak, pengetahuan semakin luas, ketrampilan semakin baik serta semakin bijak dalam pengambilan keputusan terutama yang berkaitan dengan kesehatan. Sementara Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan ibu post partum dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pekerjaan Ibu Post Partum Dengan Pijat Oksitosin ada 9 responden . %) berumur di bawah 20 tahun juga melakukan pijat Seperti dipengaruhi oleh umur tetapi juga Kategori Jumlah Prosentase (%) Bekerja Tidak Bekerja Total dipengaruhi pengetahuan dan faktor pendorong berupa tenaga kesehatan Berdasarkan tabel 2 di atas. Berdasarkan tabel 3 diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besar ibu diketahui bahwa sebagian besar ibu post partum dengan pijat oksitosin post partum dengan pijat oksitosin memiliki pendidikan menengah (SMA) sebanyak 18 responden . %) dan 2 responden . ,7%) berpendidikan tinggi rresponden . %). Berdasarkan tabel 1 diatas dapat yaitu D3. Hasil ini selaras dengan teori diketahui bahwa sebagian besar ibu yang menyatakan bahwa inti dari Jurnal Kebidanan. Vol. XI. No. Desember 2019 kegiatan (Green belajar mengajar. Hasil dari proses Notoatmodjo, 2. Namun dalam belajar mengajar adalah seperangkat penelitian ini juga didapatkan 12 ibu perubahan perilaku. Dengan demikian postpartum . %) yang tidak bekerja pendidikan sangat besar pengaruhnya melakukan pijat oksitosin. Hal ini bisa terhadap perilaku seseorang. Seseorang yang berpendidikan tinggi akan berbeda pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, budaya berpendidikan rendah artinya seorang maupun lingkungan. (Rina, 2. dengan pendidikan yang tinggi akan berperilaku lebih baik dari pada orang PENUTUP yang berpendidikan rendah. Dalam Berdasarkan hasil penelitian di penelitian ini juga terdapat pula 10 karateristik ibu post partum yang pendidikan dasar yaitu SD dan SMP melakukan pijat oksitosin berdasarkan umur sebagian besar berumur 20 Ae 35 Hal dapat dikarenakan faktor tahun sebanyak 21 responden . %), pendukung lain seperti pengalaman berdasarkan pendidikan sebagian besar pribadi maupun pengaruh orang lain memiliki pendidikan menengah (SMA) yag dianggap penting. (Rina, 2. sebanyak 18 responden ( 60%) serta . ,3%) Berdasarkan tabel 3 diatas, dapat berdasarkan pekerjaan sebagain besar diketahui bahwa sebagian besar ibu bekerja sebanyak 18 responden . %). post partum dengan pijat oksitosin Berdasarkan kesimpulan tersebut responden . %). Pekerjan berkaitan dengan sosial ekonomi, seeorang yang saran antara mengajari keluarga melakukan pijat yang baik. Status sosial oksitosin agar dapat dilakukan di rumah merupakan faktor yang memungkinkan memfasilitasi perilaku atauy tindakan DAFTAR PUSTAKA