Pesat Vol. 4 No. 1 Februari 2025 Pesat: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat | Vol. 4 No. 1 Februari 2025 Kepemimpinan Transfomasional dalam Mendorong Gotong Royong di Kelurahan Bumiayu Kota Dumai Nurmala Sari1. Erinaldi2. Reyhan Khan3. Delfira Norroma4 Prodi Ilmu Administrasi Negara. Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi *Email : nurmalasari@stia-lk-dumai. id, erinaldipratama2905@gmail. Abstract Transformational leadership is an approach that is able to inspire and motivate followers to achieve higher shared goals through idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, and individual attention. In the context of Indonesian society, this approach is relevant to revive the spirit of gotong royong, a culture of collective cooperation that has begun to decline due to urbanization and In Bumi Ayu Village. Dumai, transformational leadership is an important instrument in encouraging citizen participation and strengthening social Transformational leaders who build a shared vision, provide motivation, and create a culture of cooperation, have proven to be able to mobilize the community to contribute to various collective activities, such as environmental cleanliness, infrastructure improvement, and socio-economic management. The implementation of this leadership not only increases the effectiveness of gotong royong, but also empowers residents to overcome local challenges in a sustainable manner. With an inclusive and innovative approach, transformational leadership is expected to create a more solid, independent, and prosperous community. Keywords: Leadership. Transformational Leadership. Mutual Cooperation Abstrak Kepemimpinan transformasional adalah pendekatan yang mampu menginspirasi dan memotivasi pengikut untuk mencapai tujuan bersama yang lebih tinggi melalui pengaruh ideal, motivasi inspiratif, stimulasi intelektual, dan perhatian individu. Dalam konteks masyarakat Indonesia, pendekatan ini relevan untuk membangkitkan kembali semangat gotong royong, sebuah budaya kerja sama kolektif yang mulai menurun akibat urbanisasi dan globalisasi. Di Kelurahan Bumi Ayu. Dumai, kepemimpinan transformasional menjadi instrumen penting dalam mendorong partisipasi warga dan memperkuat kohesi sosial. Pemimpin transformasional yang membangun visi bersama, memberikan motivasi, dan menciptakan budaya kerja sama, terbukti mampu menggerakkan masyarakat untuk berkontribusi dalam berbagai kegiatan kolektif, seperti kebersihan lingkungan, perbaikan infrastruktur, dan pengelolaan sosial ekonomi. Implementasi kepemimpinan ini tidak hanya meningkatkan efektivitas gotong royong, tetapi juga memberdayakan warga dalam mengatasi tantangan lokal secara berkelanjutan. Dengan pendekatan yang inklusif dan inovatif, kepemimpinan transformasional diharapkan dapat menciptakan komunitas yang lebih solid, mandiri, dan sejahtera. Kata kunci: Kepemimpinan. Kepemimpinan Transformasional. Gotong royong Pendahuluan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) adalah salah satu tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh dosen di lingkungan perguruan tinggi. Oleh sebab itu, seluruh tenaga pendidik diwajibkan untuk menjalankan kegiatan ini dengan dukungan fasilitas dari institusi terkait. Sebagai salah satu bentuk pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi. PkM menjadi aktivitas akademik yang perlu direncanakan dan dilaksanakan secara berkesinambungan (Sari & Aditiya, 2. Kepemimpinan adalah tentang mempengaruhi, memotivasi, dan memungkinkan orang lain untuk berkontribusi terhadap efektivitas dan keberhasilan organisasi di mana mereka menjadi anggotanya (Jannah et al. , 2. Kepemimpinan transformasional merupakan satu pendekatan kepemimpinan yang mampu menginspirasikan dan memotivasi pengikutnya untuk mencapai tujuan bersama yang lebih tinggi. Pendekatan ini menekankan pentingnya perubahan positif melalui pengaruh yang ideal, motivasi inspiratif, stimulasi intelektual dan perhatian terhadap individu (Insan, 2. Di Indonesia, kepemimpinan semacam ini relevan untuk membangkitkan kembali semangat gotong royong, sebuah budaya yang mendalam di berbagai komunitas (Erlianti, 2. Kelurahan Bumi Ayu adalah salah satu contoh wilayah di kota Dumai yang menghadapi tantangan dalam menjaga nilai-nilai gotong royong. Globalisasi dan urbanisasi telah menggeser pola interaksi social masyarakat dari yang bersifat kolektif menjadi lebih individualistis. Gotong royong adalah tradisi yang mencerminkan saling membantu antarwarga desa dalam berbagai aktivitas sosial. Hal ini dapat terjadi berdasarkan hubungan bertetangga, kekerabatan, atau pertimbangan efisiensi dan manfaat praktis yang dianggap bermanfaat untuk kepentingan bersama (Dira & Adi, 2. Melalui kegiatan gotong royong, terbentuk rasa kebersamaan serta terjalin hubungan sosial antarwarga, yang menciptakan keakraban dan mempererat saling mengenal satu sama lain. Gotong royong dalam kehidupan masyarakat biasanya tercermin dalam berbagai kegiatan adat dan aktivitas sosial. Melalui gotong royong, kegiatan tersebut dapat berjalan dengan lancar. Gotong royong memiliki kaitan erat dengan solidaritas, yang memberikan pengaruh baik secara individu maupun kelompok (Kurnia et al. , 2. Peran solidaritas tersebut bergantung pada cara masyarakat menghargai dan menerapkan nilai-nilai gotong royong yang ada di lingkungan mereka. Meskipun hidup bersama, respons terhadap nilai-nilai tersebut dapat berbeda, tergantung pada tingkat solidaritas yang dimiliki setiap individu atau kelompok. Gotong royong perlu didasari oleh semangat keikhlasan, kerelaan, kebersamaan, toleransi, dan saling percaya. Secara sederhana, gotong royong lebih berfokus pada aspek intrinsik, yaitu interaksi sosial yang didorong oleh tujuan atau manfaat nonekonomi (Effendi, 2. Di Kelurahan Bumiayu, implementasi kepemimpinan transformatif menjadi relevan dalam mendorong partisipasi masyarakat pada berbagai bidang, seperti perbaikan infrastruktur, pengelolaan lingkungan, hingga kegiatan sosial Dengan pendekatan yang inklusif dan memberdayakan, seorang pemimpin dapat memotivasi masyarakat untuk lebih aktif berkontribusi, baik dalam skala kecil di tingkat RT/RW maupun dalam lingkup yang lebih luas (Suryani et al. , 2. Melihat tantangan dan potensi yang ada, penting bagi Kelurahan Bumi Ayu untuk Pesat Vol. 4 No. 1 Februari 2025 menerapkan kepemimpinan transformasional dalam meremajakan kembali semangat gotong royong. Program-program pengabdian masyarakat yang mengedepankan kepemimpinan partisipatif dan inklusif dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih kooperatif dan berdaya saing. Melalui kajian ini, diharapkan muncul model pemberdayaan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan, serta menghasilkan dampak positif dalam menciptakan masyarakat yang lebih solid, mandiri, dan sejahtera Pedekatan Pelaksanaan Program Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Kelurahan Bumi Ayu Kecamatan Dumai Selatan pada: Hari/ Tanggal : Sabtu. 26 Oktober 2024 Pukul : 08. 30 WIB s. d Selesai Tempat : Kelurahan Bumi Ayu ini dilaksanakan di Metode yang diterapkan dalam kegiatan PKM ini adalah Penyuluhan/ Pelatihan dan Pendekatan partisipatif (Participatory Approac. Penyuluhan dan pelatihan adalah salah satu metode utama dalam pemberdayaan masyarakat. Metode ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan individu atau kelompok masyarakat agar mampu memahami, mengelola, dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi secara mandiri. Penyuluhan tidak hanya sekadar memberikan informasi, tetapi juga memerlukan interaksi aktif antara penyuluh dan yang disuluh untuk mencapai perubahan perilaku yang efektif (Amanah. , 2. Pendekatan partisipatif adalah metode pemberdayaan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program. Dalam pendekatan ini, masyarakat diajak untuk berperan langsung dalam setiap tahap kegiatan sehingga mereka memiliki rasa kepemilikan terhadap hasil yang dicapai. Metode ini berlandaskan prinsip kolaborasi, keterbukaan, dan penghargaan terhadap pengetahuan lokal. Pendekatan partisipatif memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam pembangunan. Dengan prinsip inklusivitas dan kolaborasi, metode ini dapat menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan Teknik komunikasi informatif adalah proses penyampaian pesan yang bertujuan untuk memberikan informasi atau penjelasan kepada orang lain, dengan sasaran utama kader posyandu dan masyarakat. Sementara itu, teknik komunikasi persuasif bertujuan untuk meyakinkan orang lain agar mau menerima suatu pandangan, keyakinan, atau melakukan tindakan tertentu sesuai harapan. Melalui pendekatan komunikasi ini, diharapkan tercipta interaksi sosial yang interaktif antara Tim PKM dan peserta, yang bersifat konstruktif, kondusif, dan dinamis sepanjang kegiatan berlangsung (Sari & Aditiya, 2. Tabel 1. Jadwal Kegiatan PkM Hari/Tanggal Waktu Kegiatan Tempat Keteraangan Sabtu, 26 Oktober Pembukaan Acara Memberikan edukasi tentang Aula Lurah Ketua STIA Pak Lurah Pemateri Pelepasan Goro Sekitar Jln Bumiayu Ketua STIA Pak Lurah Pelaksanaa Goro Sekitar Jln Bumiayu Masyarakat dan Civitas Akademis STIA Istirahat & Makan Siang Bersama Aula Lurah Semua Anggota Kegiatan Sabtu, 26 Oktober 00-09:10 Sabtu, 26 Oktober 10- 11:15 Sabtu, 26 Oktober 00-12:00 Kegiatan PkM ini di lakukan di Kelurahan Bumi Ayu Kecamatan Dumai Selatan pada hari Sabtu tanggal 26 Oktober 2024. Yang dihadiri oleh Ketua STIA. Lurah Bumi Ayu. Sekretaris Lurah Bumi Ayu. Dosen dan Tendik STIA. Pegawai Kantor Lurah. RT dan Tokoh Masyarakat setempat serta Mahasiswa STIA. Kegiatan yang dilakukan yaitumemberikan edukasi tentang bagaimana seorang pemimpin bisa menggerakan masyarakatnya untuk mengikuti kegiatan gotong royong dilingkungan nya dengan Setalh itu dilanjutkan dengan ramah tamah dan melakukan kegiatan gotong royong, dan yang terakhir foto bersama. Yang menjadi sasaran dari kegiatan ini adalah berbagai kelompok masyarakat yang memiliki peran penting dalam meningkatkan semangat gotong royong, termasuk: Lurah. Ketua LPMK. Ketua RT. Ketua Karangtaruna. Ketua PKK. Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat serta masyarakat Kelurahan Bumi Ayu. Gambar I Foto Kegiatan PkM Pesat Vol. 4 No. 1 Februari 2025 Gambar II Foto Bersama Setelah Kegiatan PkM Pelaksanaan Program Kepemimpinan Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi dan mendorong orang lain agar bertindak sesuai dengan tujuan bersama. Pemimpin, di sisi lain, adalah individu yang melaksanakan fungsi kepemimpinan tersebut. Dalam organisasi atau perusahaan, kepemimpinan memiliki peran yang sangat penting di setiap tingkatan. Keberhasilan sebuah organisasi sangat bergantung pada efektivitas pemimpinnya, karena pemimpin yang kompeten mampu mengarahkan organisasi menuju keberlanjutan dan pencapaian tujuan yang diharapkan (Insan, 2. Kotter . menyatakan bahwa kepemimpinan dalam sebuah organisasi kompleks melibatkan pelaksanaan fungsi konstruktif atau perubahan adaptif melalui tiga tahapan utama: menetapkan arah organisasi, mengarahkan orang-orang, dan memotivasi serta memberi inspirasi (Insan, 2. Kepemimpinan Transformasional Kepemimpinan transformasional pada dasarnya mencerminkan proses interaksi antara pemimpin dan bawahan yang berlandaskan pada nilai-nilai, keyakinan, serta asumsi yang berkaitan dengan visi dan misi organisasi (Insan, 2. Secara konseptual, kepemimpinan ini didefinisikan sebagai kemampuan pemimpin untuk mengubah lingkungan kerja, memotivasi, mengarahkan pola kerja, dan membentuk pemahaman bawahan terhadap nilai-nilai tertentu, sehingga mereka dapat memaksimalkan kinerja untuk mencapai tujuan organisasi. Hal ini menegaskan bahwa kepemimpinan transformasional melibatkan upaya pemimpin dalam meningkatkan kesadaran bawahan tentang pentingnya nilai kerja, sekaligus mendorong perubahan yang berorientasi pada kepentingan bersama, termasuk kepentingan organisasi (Bass. Bennis menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mengartikulasikan visi, memberdayakan orang lain untuk bertindak berdasarkan visi tersebut, menginspirasi orang lain, dan memotivasi mereka untuk mencapai visi bersama (Latip et al. , 2. Desain kepemimpinan yang kuat dalam visi dan strategi, membangun budaya inovasi, bersama dengan desain kelembagaan yang mampu mengatur, memfasilitasi kolaborasi, dan mengelola perubahan organisasi (Suri et al. Kepemimpinan transformasional adalah gaya yang mengutamakan perubahan positif, motivasi, dan pengembangan individu di dalam organisasi (Afrizal et al. , n. Pemimpin transformasional berusaha mengubah dan menginspirasi pengikutnya dengan meningkatkan motivasi, moral, dan kinerja mereka melalui interaksi yang dinamis (Erlianti, 2. Pemimpin transformasional tidak hanya berfokus pada pencapaian tujuantujuan organisasi yang bersifat jangka pendek, tetapi juga membangun pengikutnya agar mampu berkembang dan berinovasi di masa depan (Bass, 1. Dalam konteks sosial, terutama di lingkungan masyarakat, kepemimpinan transformasional dapat mendorong partisipasi aktif dan kolaborasi yang lebih baik di antara warga, seperti yang dibuktikan dalam penelitian oleh Judge & Piccolo yang menunjukkan hubungan positif antara kepemimpinan transformasional dan partisipasi komunitas (Bass, 1. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional adalah sebuah proses interaksi antara pemimpin dan bawahan yang berlandaskan pada nilai-nilai, keyakinan, dan asumsi yang selaras dengan visi dan misi organisasi. Pemimpin transformasional memiliki kemampuan untuk menciptakan perubahan dalam lingkungan kerja, meningkatkan motivasi, dan membentuk pola kerja bawahan agar mereka dapat memaksimalkan kinerja untuk mencapai tujuan organisasi. Selain itu, pemimpin jenis ini tidak hanya berorientasi pada hasil jangka pendek, tetapi juga berfokus pada pengembangan dan pemberdayaan bawahan untuk mendorong inovasi di masa mendatang. Gotong Royong sebagai Budaya Masyarakat Indonesia Gotong royong merupakan salah satu nilai tradisional masyarakat Indonesia yang mengakar kuat di berbagai lapisan masyarakat. Istilah ini merujuk pada kegiatan kerja sama kolektif yang dilakukan secara sukarela untuk mencapai tujuan bersama (Kurnia et al. , 2. Dalam pandangan budaya, gotong royong bukan hanya sebuah aktivitas fisik, tetapi juga bentuk solidaritas sosial yang mencerminkan semangat kebersamaan, saling membantu, dan kepedulian terhadap sesame (Effendi, 2. Gotong Royong dapat diartikan sebagai kegiatan sukarela yang dilakukan oleh masyarakat dalam bentuk kerja sama dan saling tolong menolong dalam menyelesaikan pekerjaan atau masalah tertentu. Gotong royong berperan dalam mempekuat pembangunan dan kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat (Setyawan & NuroAoin, 2. Nilai gotong royong memainkan peran penting dalam menyelesaikan berbagai permasalahan sosial di tingkat komunitas, mulai dari pembangunan infrastruktur, kebersihan lingkungan, hingga pemeliharaan ketertiban dan keamanan (Kurnia et al. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, semangat gotong royong mengalami penurunan di beberapa wilayah seiring dengan perubahan gaya hidup yang lebih individualis dan urbanisasi (Putra, 2. Kondisi ini menuntut adanya pemimpin yang mampu menggerakkan kembali potensi kebersamaan tersebut. Gotong royong di lingkungan perkotaan memerlukan pendekatan kepemimpinan yang adaptif, yang mampu memadukan nilai-nilai tradisional dengan dinamika masyarakat modern (Dira & Adi, 2. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah melalui kepemimpinan transformasional, di mana pemimpin bertindak sebagai agen perubahan yang tidak hanya menggerakkan warga untuk berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong, tetapi juga menanamkan kembali nilainilai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari. Pesat Vol. 4 No. 1 Februari 2025 Kepemimpinan transformasional berperan penting dalam mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan gotong royong, yang merupakan salah satu nilai budaya yang kuat di Indonesia. Implementasi kepemimpinan transformasional di Kelurahan Bumi Ayu dapat dilihat melalui kegiatan gotong royong yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Berikut adalah beberapa aspek penting dari implementasi Membangun Visi Bersama Pemimpin di Kelurahan Bumi Ayu berperan dalam menyampaikan visi yang jelas mengenai pentingnya gotong royong untuk meningkatkan kualitas hidup Dengan visi ini, pemimpin dapat menginspirasi warga untuk berkontribusi secara aktif dalam kegiatan sosial. Mendorong Partisipasi Aktif Kepemimpinan transformasional mendorong warga untuk terlibat dalam kegiatan gotong royong, seperti pembersihan lingkungan, perbaikan sarana publik, dan pembangunan infrastruktur. Pemimpin bertindak sebagai fasilitator yang mengajak masyarakat untuk berkolaborasi demi mencapai tujuan bersama. Memberikan Motivasi dan Dukungan Pemimpin transformasional di Kelurahan Bumi Ayu memberikan motivasi kepada warga dengan menunjukkan apresiasi terhadap kontribusi mereka. Melalui komunikasi yang terbuka, pemimpin dapat mendengarkan masukan dari masyarakat dan memberikan dukungan yang diperlukan untuk memastikan keberhasilan kegiatan gotong royong. Mengembangkan Budaya Kerja Sama Dengan menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan transformasional, pemimpin membangun budaya kerja sama di antara warga. Hal ini dilakukan dengan menciptakan lingkungan yang mendukung kolaborasi dan saling menghargai, sehingga setiap individu merasa dihargai dan termotivasi untuk berpartisipasi. Stimulasi Intelektual Pemimpin juga mendorong warga untuk berpikir kritis dan kreatif dalam mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi dalam kegiatan gotong royong. Dengan cara ini, pemimpin membantu masyarakat untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi kemajuan bersama. Di Kelurahan Bumi Ayu, penerapan kepemimpinan transformasional sangat relevan untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong. Pemimpin lokal yang memiliki visi, mampu membangun kepercayaan dan komunikasi yang efektif, dapat memobilisasi warga untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan yang Misalnya, dalam proyek kebersihan lingkungan, seorang pemimpin transformasional dapat menginspirasi warga untuk berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih bersama, sekaligus mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan sebagai tanggung jawab kolektif. Implementasi kepemimpinan transformasional dalam kegiatan gotong royong di Kelurahan Bumi Ayu menunjukkan bagaimana pemimpin dapat memotivasi dan memberdayakan masyarakat untuk berkontribusi secara aktif dalam pembangunan. Melalui visi yang inspiratif, dukungan yang konsisten, dan pengembangan budaya kerja sama, pemimpin transformasional mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi partisipasi masyarakat, sehingga kegiatan gotong royong dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat bagi seluruh warga. Penelitian oleh Hartanto . juga menunjukkan bahwa pemimpin yang menerapkan pendekatan transformasional berhasil mendorong perubahan perilaku warga dalam hal partisipasi aktif dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks urbanisasi yang pesat, pemimpin transformasional dapat memadukan teknologi dan media sosial sebagai alat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, memperkuat komunikasi, dan mempermudah koordinasi kegiatan gotong royong. Refleksi Capaian Program (Times New Roman 14 pt. Bol. Kegiatan pengabdian ini telah mencapai beberapa keberhasilan signifikan, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gotong Beberapa tokoh masyarakat yang telah mendapatkan pelatihan menunjukkan perubahan dalam gaya kepemimpinan mereka, yang lebih partisipatif dan inspiratif. Namun, terdapat tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan ini. Dari segi metodologis, tidak semua warga dapat mengikuti pelatihan secara penuh karena kesibukan masing-masing. Selain itu, pendekatan yang digunakan harus lebih fleksibel agar dapat menyesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat Dari segi manfaat, kegiatan ini memberikan dampak positif dengan meningkatnya keterlibatan warga dalam kerja bakti dan pertemuan RT/RW. Kegiatan PkM ini bejalan dengan lacara walau masih banyak masyarakat yang tidak berpartisipasi, namun hal ini tidak menyurutkan semangat peserta yang hadir dan mengikuti kegiatan tersebut. Penutup Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema Kepemimpinan Transformasional dalam Mendorong Gotong Royong di Kelurahan Bumi Ayu. Kota Dumai diharapkan mampu memberikan dampak positif yang berkelanjutan dalam meningkatkan partisipasi warga, khususnya dalam menghidupkan kembali semangat gotong royong. Dengan mengadopsi pendekatan partisipatif dan melibatkan berbagai elemen masyarakat, seperti pemimpin lokal, tokoh masyarakat, pemuda, dan perempuan, kegiatan ini bertujuan membangun sinergi yang erat antara pemerintah kelurahan dan warga untuk menjaga dan memperbaiki kualitas lingkungan sosial maupun fisik. Melalui edukasi tentang kepemimpinan transformasional dan program gotong royong, pemimpin lokal diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi warga untuk lebih aktif berkontribusi dalam pembangunan. Selain itu, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya kerja sama dan solidaritas sosial. Dengan demikian, kami berharap bahwa kegiatan ini dapat memperkuat semangat gotong royong di Kelurahan Bumi Ayu, menjadikannya kekuatan sosial yang mempererat hubungan antarwarga sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan Daftar Pustaka