Jurnal Bindo Sastra 9 . : 1Ae10 RASA BENCI SEBAGAI API PERLAWANAN: ANALISIS PSIKOLOGIS MARSINAH DALAM MONOLOG MARSINAH MENGGUGAT Endah Wilis Sudarsono. Thannia Angelina Lee. Rudi Adi Nugroho. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra. Universitas Pendidikan Indonesia endahwiliss@upi. thanlee175@upi. rudiadinugroho@upi. Diterima: 08 Januari 2025 Disetujui: 20 Februari 2025 Diterbitkan: 07 Juli 2025 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran emosi dalam perjuangan Marsinah melawan ketidakadilan. Teori yang digunakan adalah teori emosi David Krech yang menitikberatkan pada perasaan terhadap orang lain yaitu kebencian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, dimana tidak menggunakan data variabel melainkan data diambil dari teknik studi pustaka naskah monolog Marsinah Menggugat. Dengan menggunakan pendekatan interpretatif, dimana peneliti akan menafsirkan makna dan implikasi dari temuan yang diperoleh dari studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebencian yang dirasakan oleh Marsinah merupakan reaksi yang kompleks terhadap kondisi sosial dan pribadi, seperti ketidakadilan dalam upah, kekerasan seksual, dan ketidakpedulian dari pihak berwenang. Kebencian ini tidak berdiri sendiri, melainkan terjalin dengan emosi lainnya, seperti kemarahan, ketakutan, kekecewaan, rasa bersalah, dan kesedihan. Monolog Marsinah mencerminkan kebencian sebagai motivasi yang kuat untuk melawan ketidakadilan dan penindasan, yang terlihat dalam pilihan kata dan ekspresi Kata kunci: emosi, kebencian, david krech, marsinah Abstract This research aims to understand how emotions play a role in Marsinah's struggle against injustice. The theory used is David Krech's theory of emotion which is focused on emotions related to other people, namely hatred. The method used in this research is a descriptive qualitative method which does not use variable data but data taken from literature study technique of Marsinah Menggugat monologue script. using an interpretative approach, where researchers will interpret the meaning and implications of the findings obtained from the literature study. The results show that the hatred felt by Marsinah is a complex reaction to social and personal conditions, such as injustice in wages, sexual violence, and indifference from the authorities. This hatred does not stand alone, but is intertwined with other emotions, such as anger, fear, disappointment, guilt, and sadness. Marsinah's monologue reflects resentment as a strong motivation to fight against injustice and oppression, which is visible in her choice of words and emotional Keywords: emotion, hatred, david krech, marsinah. APendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UM Palembang DOI: https://doi. org/10. 32502/jbs. Pendahuluan Istilah sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari kata shastra dalam bahasa Sanskerta. Kata sas memiliki arti pedoman atau ajaran, sedangkan tra dapat diartikan sebagai sarana atau alat. Sehingga, istilah sastra mencerminkan suatu bentuk pedoman yang disampaikan melalui alat tertentu, yakni bahasa. Selain itu, terdapat banyak orang yang menggunakan kata susastra, bahwa kata sastra ini sendiri diberikan imbuhan su. Imbuhan su bermakna baik atau indah, yang menambah kesan positif pada istilah tersebut. Sehingga, secara keseluruhan susastra dapat diartikan sebagai karya yang tidak hanya bernilai baik, tetapi juga memiliki keindahan yang khas (Amalia & Fadhilasari, 2022 : . Wicaksono. Andri . 4: . berpendapat bahwa sastra merupakan seni kreatif yang Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . objeknya adalah manusia dan kehidupan dengan menggunakan bahasa sebagai Sementara Kartikasari dan Suprapto . 8 : . mengatakan sastra merupakan seni yang memanfaatkan bahasa sebagai mediumnya. Ia merupakan luapan spontan perasaan yang mendalam, sekaligus wadah bagi ekspresi pikiran. Pikiran dalam konteks sastra meliputi pandangan, ide, perasaan, pemikiran, dan segala aktivitas mental manusia. Sastra berfungsi sebagai media untuk mengekspresikan ide atau pemikiran menggunakan bahasa yang bebas, serta elemen kebaruan memberikan pencerahan. Keindahan dalam sastra tidak hanya ditentukan oleh keindahan kata atau kalimat yang digunakan, tetapi lebih pada kedalaman substansi cerita yang dihadirkan (Ahyar, 2019 : . Karya sastra dapat dipahami sebagai dokumen sosial. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Marx dan Engels yang berpendapat bahwa sastra mencerminkan masyarakat dalam berbagai bentuk (Siswanto, 2008 : . Oleh karena itu, sastra tidak hanya mencerminkan keadaan sosial tetapi juga dapat digunakan sebagai alat untuk mengkritik, memprotes, dan bahkan mengubah dunia. Pemahaman terhadap nilai-nilai, norma-norma, dan konflik yang tergambar dalam karya sastra dapat membantu kita memahami dinamika sosial dan budaya dalam suatu masyarakat. Drama merupakan satu contoh dari banyaknya genre sastra. Nuryanto . 4: . menyatakan bahwa drama adalah jenis seni pertunjukan yang berasal dari kata Yunani "draomai", yang berarti "perbuatan" atau "aksi". Sementara itu, istilah "teater" berasal dari kata Yunani "theatron," yang diturunkan dari "theomai," yang berarti 'melihat dengan rasa kagum'. Oleh karena itu, istilah theatron mencakup pengertian mengenai bangunan tempat pertunjukan dan juga masyarakat yang menyaksikannya, sehingga mencakup juga elemen seni yang ada di dalam gedung tersebut dan dinikmati oleh para penonton. Dalam teknik penyampaian drama, terdapat dialog dan Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Eidi V . , dialog merupakan percakapan antara dua tokoh Endah. Dkk. Rasa Benci SebagaiA atau lebih. Sedangkan, monolog berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata "mono" dan "leguin," Aumono" sendiri memiliki arti "satu", "leguin" "berbicara. " Bila dikaitkan dengan Bahasa Inggris, yakni AumonologueAy dan kata "monolog" dalam bahasa Indonesia, keduanya memiliki ejaan yang berbeda, namun tetap memiliki makna yang sama, yakni berbicara sendiri. Sehingga dalam dunia drama, monolog dapat diartikan sebagai dialog yang dilakukan oleh seorang aktor tunggal di atas panggung (Marciano & Alfirdaus, 2019 : . Di Indonesia, ada banyak sekali pertunjukan monolog, salah satunya adalah pertunjukan monolog Marsinah Menggugat karya Ratna Sarumpaet. Monolog ini merupakan salah satu karya sastra yang mengangkat isu perjuangan buruh dan ketidakadilan di Indonesia. Karya sastra ini terinspirasi dari kasus nyata yang menimpa Marsinah. Marsinah merupakan seorang buruh perempuan yang meninggal secara tragis pada tahun 1993. Peristiwa ini menggambarkan ketidakadilan yang dialami buruh pada zaman itu dan menjadi simbol perjuangan melawan penindasan hingga saat Tak hanya Ratna Sarumpaet, ada banyak sastrawan lainnya yang menciptakan karya sastra yang mengadaptasi peristiwa tragis Ratna Sarumpaet sendiri juga menyuarakan kritik sosial. Dalam monolog Marsinah Menggugat. Ratna Sarumpaet menggambarkan perjuangan Marsinah yang penuh dengan tekanan serta trauma yang Dari sudut pandang psikologi, naskah Marsinah Menggugat karya Ratna Sarumpaet ini menarik untuk dianalisis karena menggambarkan dampak yang dimiliki ketidakadilan, kekerasan, dan represi terhadap manusia. Dalam naskah ini Marsinah bukan hanya menggambarkan menggambarkan dampak dari tekanan sosial dan trauma terhadap kesehatan mental Trauma Marsinah digunakan sebagai tema di monolog ini, sehingga dapat dibayangkan bagaimana manusia bisa Jurnal Bindo Sastra 9 . : 1Ae10 bertindak jika kehidupan manusia itu sendiri akan merasakan ketidakadilan. Ahmadi . 5 : . mengatakan bahwa melalui sastra kita dapat memahami kejiwaan dan psikologi seseorang, maka dari itu sastra akan selalu dikaitkan dengan psikologi, dan sebaliknya. Menurut Endraswara . 8: . , psikologi sastra adalah studi yang menggabungkan sastra dan studi psikologi. Sastra memiliki banyak teori pemahaman tentang psikologi, dan bahkan psikolog seperti Sigmund Freud. Carl Gustav Jung. David Krech, dan Erich Fromm mengembangkan ide dan teori psikologi mereka (Ahmadi, 2015 : . Psikologi sastra berperan sangat penting sebagai jembatan yang menghubungkan karya sastra dengan jiwa manusia, sehingga dapat menunjukan keduanya saling mempengaruhi dan melengkapi satu sama lain. David Krech merupakan salah satu psikolog yang menggagas teori psikologi sastra, teori klasifikasi emosi. Menurut teori klasifikasi emosi David Krech, emosi adalah perasaan yang kuat yang muncul sebagai tanggapan terhadap sesuatu atau situasi Emosi termasuk dalam empat kategori: . emosi dasar, yang terdiri dari rasa senang, marah, takut, sedih. emosi yang berkaitan dengan indra, seperti rasa sakit, jijik, dan bahagia. emosi yang berkaitan dengan penilaian diri, seperti rasa sukses atau kegagalan, dan . emosi yang berkaitan dengan orang lain, seperti rasa cinta dan benci (Krech, 1969 : 522-. Menurut penelitian terdahulu yang ditulis oleh Yeti. Sesilia Seli. Agus Wartiningsih . , "Emosi Tokoh Utama dalam Novel Segala Yang Diisap Langit Karya Pinto Anugrah (Kajian David Krec. ," analisis emosional Bungo Rabiah mencakup emosi dasar seperti bahagia, marah, takut, dan sedih, serta emosi yang berasal dari rangsangan sensorik seperti sakit, jijik, dan kesenangan. Selain itu, emosi yang berkaitan dengan penilaian diri terdiri dari keberhasilan, kebanggaan, rasa malu, dan penyesalan. Sementara itu, emosi yang berhubungan dengan interaksi sosial mencakup cinta dan benci. Penelitian yang ditulis oleh Imam Hamzah. Rusdiawan, dan Johan Mahyudi . berjudul "Klasifikasi Emosi Tokoh Qais Al-Qarani Dalam Novel Layla Majnun Karya Nizami Al-Ganjavi: Kajian Perspektif David Krech" mengklasifikasikan emosi tokoh Qais AlQarani dalam novel Layla Majnun karya Nizami Al-Ganjavi berdasarkan teori emosi David Krech. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Qais Al-Qarani mencerminkan beberapa emosi yang disampaikan oleh David Krech yaitu adanya rasa bersalah, menghukum diri sendiri, rasa malu, kesedihan, kerinduan, rasa benci dan rasa Penelitian ini menganalisis emosi yang dirasakan oleh karakter Marsinah "Marsinah Menggugat" dengan menggunakan teori klasifikasi emosi David Krech. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami lebih dalam tentang karakter Marsinah dalam naskah monolog "Marsinah Menggugat" dengan menggunakan teori klasifikasi emosi David Krech. Penelitian ini ingin mengidentifikasi emosi-emosi yang dialami Marsinah, seperti kemarahan, kesedihan, kekecewaan, dan rasa takut, serta bagaimana emosi-emosi tersebut berhubungan dengan situasi dan konflik yang dihadapi Marsinah. Melalui analisis ini, penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana emosi berperan dalam perjuangan Marsinah melawan ketidakadilan. Metode Penelitian Penelitian pendekatan kualitatif deskriptif. Tujuan dari teknik ini adalah untuk memberikan penjelasan tentang fenomena yang diteliti tanpa mengubah data variabel yang ada, dengan menggunakan wawancara langsung (Bahri, 2017: . Melalui penelitian kualitatif, menurut Basrowi & Suwandi . 8: . , peneliti dapat mengenali subjek dan memahami pengalaman Mereka dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian kualitatif melibatkan peneliti untuk memahami konteks dengan situasi dan setting fenomena alami yang diteliti. Studi pustaka digunakan sebagai metode pengumpulan data. Peneliti melihat beberapa referensi jurnal yang berkaitan dengan analisis sastra psikologis. Analisis Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . data dilakukan menggunakan pendekatan interpretatif, di mana peneliti menafsirkan makna dan konsekuensi dari temuan studi Teori-teori psikologi sastra yang relevan untuk memahami emosi. Naskah monolog Ratna Sarumpaet "Marsinah Menggugat" adalah objek penelitian ini. Peneliti melakukan penelitian ini dengan melakukan beberapa langkah . Langkah pertama adalah mengidentifikasi data. Untuk melakukan ini, peneliti menggunakan teknik simak dengan membaca setiap kalimat secara berurutan "Marsinah Menggugat". Langkah kedua adalah mengklasifikasikan data. Teknik yang digunakan adalah teknik catat, di mana peneliti memberikan tanda pada kalimatkalimat yang relevan dengan fokus utama _. Selanjutnya, peneliti menganalisis data yang telah dikumpulkan pada langkah sebelumnya. Analisis ini mengacu pada teori David Krech, khususnya poin keempat. Langkah terakhir adalah menarik kesimpulan. Kesimpulan ini diambil berdasarkan data yang telah Hasil dan Pembahasan Emosi Kebencian dalam Monolog Marsinah Menggugat Emosi merujuk pada perasaan dan pola pikir yang spesifik, serta keadaan tubuh dan jiwa yang memengaruhi dorongan seseorang untuk bertindak. Daniel Goleman menjelaskan bahwa emosi adalah respons terhadap berbagai rangsangan, baik yang datang dari lingkungan luar maupun dari dalam diri seseorang. Rangsangan tersebut bisa berupa situasi, peristiwa, atau bahkan pikiran yang muncul di dalam diri individu. Reaksi emosional ini melibatkan perubahan fisik dan mental yang memengaruhi cara seseorang berpikir dan merasakan. Goleman juga menekankan bahwa emosi tidak hanya sekadar perasaan, tetapi juga memiliki dampak pada perilaku yang ditunjukkan. Oleh karena itu, memahami emosi adalah kunci untuk mengenali pola respons seseorang terhadap berbagai situasi dalam (Goleman, 2022: . Endah. Dkk. Rasa Benci SebagaiA David Krech mengatakan bahwa emosi termasuk dalam empat kategori: . kemarahan, ketakutan, dan kesedihan. emosi yang terkait dengan sensasi sensorik seperti sakit, jijik, dan bahagia. emosi yang terkait dengan penilaian diri seperti sukses dan kegagalan. bangga dan malu. bersalah dan penyesalan, . emosi yang terkait dengan interaksi sosial, seperti cinta dan benci. Keempat emosi yang berkaitan dengan interaksi sosial dalam penelitian Banyak pengalaman emosional kita terkait dengan interaksi kita dengan orang lain, seperti perasaan yang kita berikan kepada mereka (Krech, 1969, 5. Dalam teorinya tentang keempat pengklasifikasian emosi. Krech membagi emosi ini menjadi dua kategori: cinta dan benci. Analisis data dari monolog Marsinah Menggugat yang ditulis oleh Ratna Sarumpaet menunjukkan bahwa data sesuai dengan teori David Krech tentang klasifikasi emosi seperti marah, kesal, benci. Fokus penelitian ini adalah rasa benci Marsinah dan apa yang dia lakukan sebagai akibat dari rasa bencinya terhadap semua yang telah terjadi. Kebencian adalah emosi yang sering kali muncul bersamaan dengan perasaan marah, cemburu, dan iri hati, dan ciri utamanya adalah dorongan kuat untuk merusak atau menghancurkan objek yang menjadi sasaran kebencian. Emosi ini terfokus pada individu, kelompok, atau situasi tertentu yang dianggap sebagai sumber penderitaan atau ketidakadilan, dan dapat memicu perilaku agresif baik secara fisik maupun psikologis. Kebencian dapat menghasilkan dampak merusak, baik pada diri pelaku maupun pada objek yang menjadi target perasaan tersebut. Berbeda dengan rasa tidak suka yang hanya membuat seseorang ingin menjauh, kebencian terasa lebih kuat dan cenderung destruktif. Emosi ini bersifat menetap, sulit hilang, dan terus melekat dalam diri seseorang sampai objek kebencian dihancurkan. Kepuasan dan rasa lega baru muncul ketika objek tersebut benar-benar hancur atau musnah. (Krech, 1969 : . Jurnal Bindo Sastra 9 . : 1Ae10 Dalam naskah, kebencian Marsinah terhadap ketidakadilan sosial digambarkan sebagai reaksi wajar terhadap penindasan yang dialami kaum buruh. Marsinah meluapkan amarah dan kebencian yang mendalam terhadap segala ketidakadilan. Dengan kata-kata penuh emosi, dia mengekspresikan rasa frustrasi dan kecewa atas perlakuan tidak adil yang dialami oleh dirinya dan rekan-rekannya sebagai kaum Ketidakadilan dalam pemberian upah, perlakuan tidak adil dari penguasa, dan sikap yang tidak manusiawi menjadi alasan utama kemarahan dan frustrasinya. Kebencian ini bukan hanya perasaan pribadi, tetapi juga mewakili penderitaan kaum buruh yang terus diabaikan dan tidak dihargai hak-haknya oleh para penguasa dan pihak-pihak yang berwenang yang tidak Marsinah menegaskan bahwa hak-hak mereka diremehkan dan diinjak-injak, menciptakan kesenjangan sosial yang semakin parah. Melalui narasinya. Marsinah menggambarkan penderitaan yang dialami oleh buruh sebagai suatu bentuk kesengsaraan yang menuntut perhatian dan respon dari masyarakat dan pemerintah untuk mengakhiri ketidakadilan ini. Tak hanya mengenai ketidakadilan buruh. Marsinah merasakan juga merasakan kebencian yang mendalam terhadap kekerasan yang dialaminya, terutama pemerkosaan yang dilakukan oleh seseorang yang bahkan ia tidak tahu siapa. Kekejaman tersebut tidak hanya melukai fisiknya tetapi juga menghancurkan harga dirinya sebagai seorang perempuan. Rasa sakit dan trauma yang ditimbulkan membuat Marsinah tidak bisa menerima perlakuan tidak manusiawi Kebenciannya tumbuh sebagai respons alami terhadap perlakuan kejam yang penderitaan yang harus dia tanggung. Kekerasan ini tidak hanya menjadi pengalaman pribadinya, tetapi juga simbol dari bentuk penindasan yang sering dialami perempuan dalam situasi serupa, terutama ketika mereka berada di posisi yang lemah. Marsinah juga merasakan kebencian yang besar terhadap ketidakpedulian penguasa dan aparat penegak hukum yang seharusnya melindungi rakyat. Baginya, ketidakadilan ini adalah pengkhianatan terhadap tugas utama mereka sebagai pelayan masyarakat. Alih-alih membela korban dan menegakkan hukum, mereka justru membiarkan pelaku kekerasan bebas tanpa hukuman yang setimpal. Rasa frustrasi ini semakin dalam ketika Marsinah menyadari bahwa sistem yang ada tidak berpihak pada kaum lemah, tetapi malah Kebencian tersebut memicu semangat Marsinah untuk melawan dan menuntut perubahan, meski perjuangannya harus Ekspresi Kebencian dalam Pilihan Bahasa Marsinah Dalam naskah tokoh Marsinah, bisa melihat bagaimana ia mengungkapkan rasa bencinya lewat cara dia bicara dan bertutur Marsinah tidak ragu untuk menggunakan kata-kata yang keras dan Kata-kata dan ungkapan yang dipilihnya sangat kuat dan menunjukkan betapa besar kebencian yang ia rasakan. Ini bukan sekadar ungkapan biasa, tetapi pilihan kata yang sangat disengaja untuk menyampaikan emosi dan perasaan benci yang mendalam. Bahasa yang digunakan Marsinah menjadi cerminan langsung dari amarah dan kebencian yang membara di Misal, pada kalimat AuApa yang mereka inginkan dariku? Mereka menggali tulang-tulangku. Dua kali mereka membongkar kuburanku, juga untuk sia-sia. Bangsat!Ay. Kata AuBangsat!Ay sendiri merupakan umpatan yang menunjukkan amarah dan kebencian yang memuncak. Umpatan ini bukan sekadar kata-kata kasar, tetapi merupakan ekspresi dari emosi yang sangat kuat dan tidak terkendali. Penggunaan umpatan menunjukkan betapa besarnya rasa sakit hati dan kebencian yang dirasakan oleh tokoh Marsinah. elain itu kalimat AuDua kali mereka membongkar kuburanku. Ay dan AuMereka menggali tulang-tulangku. Ay juga dapat menjadi poin penting memahami perwujudan rasa benci dari tokoh Marsinah. Menggali kuburan dan Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . tulang-tulang, apalagi sampai dua kali, adalah tindakan yang sangat tidak menghormati martabat manusia, bahkan Tulang-tulang melambangkan sisa-sisa fisik seseorang, dan tulang-tulang menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap kehidupan dan kematian. Ini menunjukkan penghinaan yang mendalam bagi sang tokoh, yang secara wajar memicu rasa benci yang luar biasa. Lalu pada kalimat AuAku akan menghadapi ini dengan sebaik-baiknya. Aku akan membuat mereka terperangah. Aku akan mengecohkan mereka dari setiap sudut yang tidak mereka duga sama sekali. Ay juga mencerminkan rasa benci dari tokoh Marsinah. Meskipun tidak secara langsung menyatakan kebencian, kalimat ini menunjukkan tekad Marsinah untuk melawan dan membongkar ketidakadilan yang dialaminya. Ungkapan Aumembuat mereka terperangahAy dan Aumengecohkan merekaAy menunjukkan niat untuk membalas dan memperlihatkan ketidakbenaran yang Kebenciannya di sini terwujud dalam tekad untuk melawan dan membongkar ketidakadilan. Pada kalimat AuApa yang mereka Mereka menganggap semua orang bodoh. Mereka selalu menganggap semua orang bisa Ay juga menunjukkan benci Marsinah yang mendalam terhadap orangorang yang memperlakukannya dengan tidak adil. Ia merasa diremehkan dan dianggap bodoh, seolah-olah orang-orang ini tidak menganggapnya sebagai manusia yang memiliki pikiran dan perasaan. Marsinah berjuang keras untuk mendapatkan kehidupan yang layak. diperlakukan tidak adil. Orang-orang di sekitarnya menganggapnya bodoh dan mudah dimanipulasi. Rasa benci yang ia rasakan muncul karena ketidakadilan yang Marsinah mengungkapkan rasa bencinya dengan sindiran dan tuduhan yang tajam, menunjukkan bahwa ia tidak akan memperjuangkan hak-haknya. Endah. Dkk. Rasa Benci SebagaiA Hubungan Antara Emosi Benci dengan Emosi Lainnya Rasa benci yang dialami Marsinah dalam monolog Marsinah Menggugat tidak berdiri sendiri, melainkan sangat terhubung dengan emosi lain seperti amarah, ketakutan, dan kesedihan. Rasa benci tersebut dapat dihubungkan dengan beberapa emosi. Berikut beberapa monolog yang dapat menjadi bukti. AuBarangkali kalian menganggap apa yang kulakukan ini tidak masuk akal. Barangkali perbuatan sinting. Tapi aku harus Ay Kalimat di atas menunjukan hubungan antara rasa benci dan penyesalan. Marsinah menunjukkan rasa benci terhadap orang-orang yang tidak memahami tindakannya tidak masuk akal. Ia merasa dicap sinting oleh mereka yang tidak peduli pada penderitaan dan perjuangan yang ia Namun, di balik kebenciannya, ada rasa penyesalan yang mendalam karena harus meninggalkan orang-orang yang ia cintai demi memperjuangkan keadilan. Penyesalan itu muncul dari kesadaran bahwa ia tidak dapat mengubah keadaan atau mendapatkan dukungan penuh dari orangorang di sekitarnya. Ia merasa sendirian dalam menghadapi ketidakadilan dan harus menanggung konsekuensi berat dari pilihan yang ia buat. Meski begitu. Marsinah tetap teguh dengan keputusannya, walau ia tahu jalan yang dipilih penuh risiko. Kebencian kompleksitas emosinya, antara keteguhan hati dan rasa kehilangan yang mendalam. AuAku? siapa aku? Seorang perempuan miskin yang dimasa hidupnya tidak punya kemampuan membeli sebuah Ay Monolog menunjukkan bahwa rasa benci dari Marsinah berhubungan dengan rasa Marsinah merasa malu karena kemiskinan membuatnya tampak tidak berdaya dan tidak memiliki kesempatan untuk maju. Ia menyadari bahwa dirinya bahkan tidak mampu membeli sebuah buku, sesuatu yang sederhana tetapi bermakna bagi hidupnya. Rasa malu ini bercampur dengan kebencian terhadap keadaan yang Jurnal Bindo Sastra 9 . : 1Ae10 mengekangnya dan membuatnya merasa tidak berharga. Ia membenci sistem yang tidak adil, yang mendiskriminasi orangorang seperti dirinya hanya karena status sosial mereka. Kemiskinan bukan hanya membuatnya semakin tertekan. Perasaan ini menunjukkan betapa sulitnya perjuangan Marsinah untuk melawan rasa malu dan kebencian terhadap keadaan yang tidak memberinya peluang yang layak. Lalu pada monolog AuSejak itu, setiap kali gedung raksasa di Jakarta itu disorot dilayar kaca, hatiku geram. Katanya gedung itu gedung rakyat. Katanya di gedung itu nasib rakyat dibela. Tapi apa yang menimpa Kuneng, bagiku cukup untuk tidak percaya pada apapun yang terdapat di gedung itu. Katakanlah nasib kami sebagai buruh tidak ada dalam catatan. Tidak dianggap sebagai bagian dari rakyat yang membutuhkan pembelaan. Ay menunjukkan hubungan benci dan kecewa. Marsinah ketidakadilan yang ia alami, terutama dari mereka yang seharusnya melindungi rakyat Ia merasa kecewa karena gedung pemerintahan yang disebut sebagai Augedung rakyatAy benar-benar memperjuangkan nasib rakyat, khususnya buruh seperti dirinya. Pengalaman pahit yang ia alami, seperti ketidakpedulian terhadap nasib Kuneng, membuat Marsinah kehilangan kepercayaan pada sistem Harapannya mendapatkan keadilan dan perlindungan tidak pernah terwujud, yang semakin mempertebal rasa kecewanya. Ia merasa bahwa buruh kecil seperti dirinya tidak dianggap penting dan tidak masuk dalam Kekecewaan mencerminkan luka mendalam terhadap sistem yang gagal memenuhi tanggung jawabnya kepada rakyat. Selanjutnya, pada monolog AuAku nyawa yang tersumbat. Aku kehidupan yang dihentikan dengan keji hanya karena aku mengira aku punya hak untuk mengatakan tidak. Hanya karena mengira aku berhak untuk punya harapan. Berhak punya jiwa dan raga. Ay menunjukkan rasa benci dan bersalah. Marsinah menunjukkan rasa benci yang mendalam terhadap mereka yang telah merenggut nyawanya dan Ia merasa bahwa haknya untuk hidup, bermimpi, dan memiliki harapan dirampas dengan cara yang keji. Di balik kebenciannya, ia juga merasakan rasa bersalah karena merasa tidak cukup kuat untuk melawan ketidakadilan yang perjuangannya terhenti sebelum ia mampu melindungi dirinya sendiri maupun kawankawannya. Rasa bersalah ini berasal dari kesadarannya akan ketidakberdayaannya menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar. Meski telah berjuang dengan segala daya, ia merasa ada banyak hal yang belum sempat ia lakukan demi keadilan. Perasaan benci dan bersalah ini mencerminkan pergulatan batinnya yang terus menghantuinya bahkan setelah kematiannya. Monolog AuAku bagaimana rasa takut itu menyergapku, ketika tangan-tangan kasar tiba-tiba mengepungku dari belakang, mengikat mataku dengan kain, kencang, lalu mendorongku masuk ke sebuah mobil, yang segera meluncur, entah ke arah mana. Ay menunjukan hubungan rasa benci dan ketakutan dalam diri Marsinah. Marsinah merasakan kebencian yang mendalam orang-orang menyiksanya dengan keji dan membuatnya mengalami trauma yang tak terlupakan. membenci kekerasan yang merenggut haknya sebagai manusia dan membuatnya kehilangan kebebasan. Rasa benci itu muncul dari pengalaman menyakitkan saat ia diperlakukan dengan kasar dan tidak Di sisi lain, rasa takut juga ketidakpastian yang ia hadapi selama Ketakutan ini bukan hanya terhadap rasa sakit fisik, tetapi juga terhadap hilangnya harapan dan kendali atas Pengalaman traumatis itu semakin mempertebal ketidakpercayaan Marsinah terhadap mereka yang berkuasa dan menggunakan kekerasan untuk Kebencian dan ketakutan ini menunjukkan pergolakan batinnya yang Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . terus membekas, bahkan setelah semuanya Analisis Marsinah Menggugat menunjukkan bahwa benci yang dirasakan Marsinah merupakan respons kompleks terhadap berbagai bentuk Ini bukan emosi yang berdiri sendiri, melainkan terjalin dengan amarah, ketakutan, dan kesedihan. Ketidakadilan memicu amarah dan kekecewaan, sementara kekerasan menimbulkan rasa takut dan Ungkapan-ungkapan monolog tersebut, yang lugas namun sarat penderitaan dan tekad Marsinah untuk Dengan memahami interaksi emosi-emosi ini, dapat lebih memahami kompleksitas karakter dan perjuangannya. Simpulan Analisis Marsinah Menggugat menunjukkan bahwa rasa benci yang dirasakan oleh Marsinah adalah respons yang kompleks terhadap kekerasan yang dialaminya. Kebencian itu tidak berdiri sendiri, melainkan terjalin dengan emosi lain seperti amarah, ketakutan, kesedihan, penyesalan, dan rasa Melalui monolognya. Marsinah pengalaman-pengalaman yang menjadi sumber diskriminasi, dan kekerasan fisik maupun Kebencian ini menjadi simbol dari rasa sakit yang dialami oleh mereka yang tertindas, terutama kaum buruh dan perempuan, yang sering diabaikan hakhaknya. Dengan cara ini, monolog Marsinah menjadi pengingat akan pentingnya keadilan sosial dan perlindungan bagi yang lemah. Marsinah menggambarkan kebencian terhadap pelaku penindasan, tetapi juga terhadap sistem yang gagal melindungi dirinya dan orang-orang seperti dia. Ia merasa kecewa karena penguasa dan aparat penegak hukum yang seharusnya menjadi pelindung, justru membiarkan ketidakadilan dan kekerasan terjadi tanpa sanksi. Kebencian ini muncul sebagai refleksi dari harapannya yang tidak terwujud terhadap keadilan dan perlakuan Endah. Dkk. Rasa Benci SebagaiA Pengalaman Marsinah menjadi cerminan bagaimana sistem yang tidak adil memperkuat posisi para penindas yang terus menciptakan ketidaksetaraan. Kebencian yang ia rasakan terhadap sistem tersebut menjadi dorongan bagi Marsinah untuk terus melawan, meskipun ia harus menanggung risiko yang besar. Dalam monolognya. Marsinah juga menunjukkan hubungan antara kebencian dan emosi lain seperti penyesalan dan rasa Ia merasa bersalah karena tidak mampu melindungi dirinya dan rekanrekannya dari ketidakadilan yang mereka Pada saat yang sama, ia merasa malu karena kemiskinan dan status sosialnya telah membuatnya tampak tidak berdaya. Rasa malu ini bercampur dengan kebencian terhadap keadaan yang mengekangnya dan tidak memberinya kesempatan untuk maju. Pengalaman ini menggambarkan betapa sulitnya bagi orang-orang seperti Marsinah untuk melawan ketidakadilan sambil menghadapi pergulatan emosional yang terus membebani. Monolog Marsinah Menggugat menggambarkan kebencian sebagai emosi yang kompleks dan terjalin erat dengan pengalaman traumatis, ketidakadilan, dan pergulatan batin. Kebencian Marsinah bukan sekadar luapan emosi, tetapi menjadi simbol dari perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan sosial. Melalui bahasa yang lugas dan emosional, monolog ini tidak hanya menyampaikan rasa sakit Marsinah tetapi juga menjadi kritik sosial yang Daftar Pustaka