Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 HUBUNGAN WAKTU TERAPI ANTIPSIKOTIK DAN KADAR ALANIN AMINOTRANSFERASE (ALT) PADA PASIEN GANGGUAN JIWA ( SKIZOFRENIA) DI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI SULAWESI TENGGARA Asni Ramayana Tina1. Idrus 2. Putri Suhaini3 D-IV Teknologi Laboratorium Medis Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Mandala Waluya Email: putrisuhainisn30@gmail. ABSTRAK Skizofrenia adalah salah satu gangguan mental dengan kekacauan pada pola berpikir. Pada pasien skizofenia memiliki waktu terapi antipsikotik jangka pendek dan jangka panjang untuk mencegah kekambuhan psikotik akut. Terapi antipsikotik harus melewati proses metabolisme lengkap di hati, sehingga dapat menyebabkan kerusakan hati dan kadar alanin aminotransferase (ALT) yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan waktu terapi antipsikotik dan kadar alanin aminotransferase (ALT) pada pasien gangguan jiwa . Di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Tenggara. Jenis penelitian ini adalah obsevasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah pasien skizofrenia tipe skizofrenia ytt . ang tak tergolon. yang menjalani rawat inap Di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Tenggara sebanyak 27 responden. Jumlah sampel ditentukan dengan rumus lameshow sehingga diperoleh 25 sampel. Metode analisis hasil penelitian menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi antipsikotik jangka pendek (O 2 tahu. memiliki kadar alanin aminotransferase (ALT) normal sebanyak 13 responden sedangkan terapi jangka panjang (> 2 tahu. memiliki kadar alanin aminotransferase (ALT) normal sebanyak 8 responden dan abnormal 4 responden. Hasil uji chi square waktu terapi antipsikotik dan kadar alanin aminotransferase (ALT) memiliki nilai sig 0,344. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu tidak terdapat hubungan waktu terapi antipsikotik dengan kadar alanin aminotransferase (ALT). Disarankan pada penelitian selanjutnya dapat melakukan penelitian yaitu pengaruh lama penggunaan obat antipsikotik terhadap kadar alkali fosfatase (ALP) dan gamma-glutamyl transferase (GGT) pada pasien skizofrenia. Kata Kunci : :Skizofrenia. Waktu Terapi Antipsikotik. Kadar alanin aminotransferase (ALT). Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 yang gejalanya sulit untuk digolongkan PENDAHULUAN Gangguan Jiwa (Skizofreni. adalah pada skizofrenia tertentu. Dari data salah satu gangguan mental dengan Provinsi Sulawesi Tenggara tercatat berpikir, proses persepsi, afeksi dan dalam 3 bulan terakhir (Januari - perilaku sosial. Pasien yang terdiagnosa Mare. di tahun 2023 sebanyak 27 skizofrenia biasanya juga menunjukkan Rumah Sakit Jiwa gejala positif, seperti halusinasi dan delusi Di Indonesia diperkirakan 1 Ae serta gejala negatif, seperti penarikan diri 2% penduduk atau sekitar 2 Ae 4 juta dari lingkungan sosial, pengabaian diri, jiwa terkena penyakit gangguan jiwa kehilangan motivasi dan inisiatif serta . Bahkan sekitar sepertiga emosi yang tumpul (Sari, 2. dari 1 Ae 2 juta yang terjangkit penyakit Skizofrenia diseluruh dunia sudah skizofrenia atau sekitar 700 ribu hingga menjadi masalah yang sangat serius. 1,4 juta jiwa, kini sedang menjalani Adapun data badan kesehatan dunia perawatan di rumah sakit jiwa (Julaeha World Health Organization (WHO), di dkk, 2. kejadian skizofrenia pada dunia saat ini terdapat, 21 juta orang pria lebih besar dari pada wanita, terkena skizofrenia (Afeonneri dan Getra, kejadian tahunan berjumlah 15,2% per Health Organization (WHO) pada tahun 2022, menyebutkan bahwa prevalensi gangguan sekitar 4,7%, kejadian pada pria 1,4% jiwa diseluruh dunia hampir mencapai satu miliar orang. Angka ini dikatakan Hampir 70% di Indonesia mereka yang sebagai menyumbang 10% dari beban dirawat di bagian psikiatri karena penyakit global. Hampir 1 dari 300 orang . ,32%) di seluruh dunia mengalami berkisar 1-2% dari seluruh penduduk gangguan jiwa, termasuk 24 juta orang pernah mengalami skizofrenia dalam yang mengalami skizofrenia (Anggraini hidup mereka (Zahnia dan wulan, dan Sukihananto, 2. Menurut Menurut World Styawan . Angka Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun 2022. skizofrenia ytt . ang tak tergolon. adalah prevalensi skizofrenia sebesar 6,7 per skizofrenia dengan diagnosis skizofrenia 1000 rumah tangga, artinya dari 1000 F20. Schizophrenia Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 rumah tangga terdapat 6,7 rumah tangga 2023 pada empat bulan terakhir tercatat yang memiliki anggota rumah tangga total jumlah pasien 481 orang . ada (ART) pengidap skizofrenia. Distribusi bulan januari 107 orang, februari 100 prevalensi tertinggi di Bali dan Yogyakarta orang, maret 96 orang dan april 178 dengan prevalensi masing-masing 11,1 dan oran. yang mengalami gangguan jiwa 10,4 per 1. 000 rumah tangga dengan ART pengidap skizofrenia, sedangkan terendah Jumlah kunjungan rawat jalan tahun di Riau sebesar 2,8 per mil. Data ini 2016 sebanyak 8496 orang, tahun 2018 84,9% sebanyak 11429 orang, tahun 2019 penderita skizofrenia di indonesia telah sebanyak 10244, tahun 2020 sebanyak mendapatkan pengobatan 51,1% pasien 1102 orang, tahun 2021 sebanyak skizofrenia yang rutin minum obat dan 14254 orang, tahun 2022 sebanyak 48,9% pasien skizofrenia yag tidak rutin 16502 orang. minum obat. Selain itu menunjukkan penyakit rawat jalan yang mendominasi adalah Skizofrenia. Anxietas Disorder. Adapun 10 besar Depresi. Psikotik Non Organik, melebihi angka nasional, kemudian diantara Psikotik Akut. Bipolar Afektif penderita skizofrenia terdapat 14% yang Disolder. Epilepsi. Disolder. Non Organik Insomnia. Stres Prevalensi rumah tangga ART dengan Disolder (Profil Rumah Sakit Jiwa Sulawesi Tenggara, 2. Pada Stomatoform perkotaan hanya 6,4 per mil (Hayatunnufus manajemen terapi yang paling efektif dkk, 2. adalah terapi antipsikotik. Terapi pada Berdasarkan data yang diperoleh pasien skizofrenia meliputi jenis terapi dari profil Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Tenggara, jumlah pasien rawat Terapi farmakologi inap pada tahun 2016 tercatat 846 orang, tercatat 1018, tahun 2018 menggunakan obat antipsikotik. Saat tercatat 1091 orang, tahun 2019 tercatat 569 ini, obat antipsikotik merupakan terapi orang, tahun 2020 tercatat 2250 orang, tahun 2021 tercatat 1050 orang, pada tahun Golongan antipsikotik terdiri dari dua 2022 sebanyak 3002 orang, dan pada tahun jenis, yaitu antipsikotik tipikal dan Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 antipsikotik atipikal. Umumnya antipsikotik sekitar 90% dari pasien yang diobati tipikal potensi rendah . lorpromazin dan dengan antipsikotik generasi pertama, tiondazi. lebih kecil kemungkinannya untuk menyebabkan gejala ekstrapiramidal dari pada antipsikotik tipikal potensi tinggi . rifluoperazin, flufenazin, haloperidol, dan orthostatik . ,7%). Selain itu efek Munculnya efek samping tersebut antikolinergik yang terjadi baik itu pada pemakaian tunggal haloperidol maupun menjadi menggunakan antipsikotik atipikal chlorpromazin adalah konstipasi. Hal yang memiliki efek samping neurologis tersebut berkaitan dengan mekanisme lebih ringan dari pada antipsikotik tipikal kerja masing-masing obat (Yulianty (Hariyanto dkk, 2. dkk, 2. Penggunaan obat antipsikotik tipikal Efek Haloperidol efektif memblok potensi tinggi yaitu haloperidol merupakan obat antipsikotik yang termasuk dalam kelas butirofenon sedangkan chlorpromazin termasuk dalam kelas fenotiazin. Perbedaan pada kedua obat ini adalah terletak pada sindrom ekstrapiramidal dan gangguan afnitas dalam mengikat reseptor dopamin gerak yang lebih dominan terjadi. D2 di otak. Haloperidol diperkirakan 50 Sedangkan chlorpromazin merupakan kali lebih kuat dari pada chlorpromazin. antagonis reseptor dopamin dan alfa Masing-masing memiliki kekuatan afnitas adrenergik bloker yang tidak selektif. yang berbeda dalam pengikatan reseptor D2 Mekanisme di striatum yaitu 70% pada chlorpromazin sebagai alfa adrenergik blokerlah yang Sehingga menimbulkan efek hipotensi orthostatik pengobatan dengan antipsikotik generasi yang menghambat vaskonstriksi refleks pertama sering menimbulkan efek samping ketika naik ke posisi duduk atau berdiri. berupa sindrom ekstrapiramidal yang lebih Golongan obat chlorpromazin yaitu Sehingga hal tersebut menjadi alasan clozapin merupakan satu-satunya obat antagonis reseptor dopamin D2 tidak hanya dalam efek antipsikotik, tetapi juga dalam digunakan secara tunggal pada terapi pasien rawat inap skizofrenia. Clozapin Sindrom ekstrapiramidal muncul pada adalah antipsikotik generasi kedua yang Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 termasuk dalam kelas dibenzodiazepin, dan AST (Magfirah, 2. merupakan neuroleptik atipikal dengan Enzim afnitas tinggi untuk reseptor dopamin D4 dan afnitas rendah untuk subtipe lain. Enzim Alanin anntagonis di alpha-adrenoseptor, reseptor Aminotransferase (ALT) merupakan 5-HT2A, reseptor muscarinik, dan reseptor histamin H1. Clozapin bekerja dengan kerusakan hati . sehingga menduduki reseptor D2 hanya sekitar 38- lebih spesifik untuk penyakit hati Bahkan dengan dosis setinggi 900 mg dibandingkan dengan enzim lain. Hal sehari, kurang dari 50% dari reseptor D2 ini dikarenakan alanin mengkatalisis ditempati, clozapin telah terbukti memiliki reaksi pemindahan gugus NH2 dari manfaat yang unggul dalam mengurangi asam amino alanin ke asam alfa perilaku bunuh diri dan efektif dalam SGPT akan mengkatalisis mengobati gejala positif dan negatif pada pemindahan gugus amino dari alanin pasien skizofrenia yang sulit disembuhkan kepada ketoglutarat untuk membentuk akan tetapi piruvat dan glutamat. Enzim ini banyak menyebabkan hipotensi orthostatik dan efek terdapat di dalam sel-sel jaringan tubuh dan terutama di sel-sel hati. Kenaikan peningkatan enzim alanin transaminase kadar SGPT dalam darah berhubungan (ALT) dan aspartat transaminase (AST) pada hati (Yulianty dkk, 2. kerusakan membran sel hati, kenaikan penggunaan obat Pengaruh terapi antipsikotik jangka pendek dan panjang dengan pemberian obat Pada kadar SGPT lebih menonjol (Dwi dkk. Berdasarkan penelitian Julaeha serum alanin aminotrasferase (ALT) pada dkk, . data yang diperoleh pada pasien skizofrenia, sehingga sebagian besar antipsikotik pada pasien skizofrenia metabolisme lengkap di hati agar dapat pada bangsal rawat inap di Rumah diekskresi melalui ginjal, oleh karena itu Sakit Grhasia Yogyakarta adalah pasien menyebabkan jejas hati diinduksi obat dengan metode stratified sampling, (Drugs-Induced Liver Injury/DILI), maka pengambilan data dilakukan secara perlu dilakukan pemeriksaan enzim ALT Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 Tabel 1. Distribusi karakteristik berdasarkan jenis kelamin penggunaan antipsikotik dan kejadian efek Frekuensi Persentase samping antipsikotik. (%) Laki METODE PENELITIAN Perempuan Jenis penelitian yang digunakan Jumlah Dari tabel 1 diperoleh bahwa dari 25 adalah penelitian observasi analitik dengan pendekatan cross sectional untuk melihat hubungan waktu terapi antipsikotik dan . kadar alanin aminotansferase (ALT) pada antipsikotik, sebanyak 19 responden . %) pasien gangguan jiwa . Di berjenis kelamin laki Ae laki, sedangkan 6 Rumah Sakit Provinsi Sulawesi Tenggara. HASIL Umur Distribusi responden pasien hubungan waktu terapi antipsikotik dan gangguan jiwa . yang kadar alanin aminotransferase (ALT) pada pasien gangguan . di Rumah berdasarkan umur dapat dilihat Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Tenggara pada pada tabel 2. Telah tanggal 10 juni - 8 juli 2023. Pengambilan Tabel sampel pada penelitian ini dilakukan pada berdasarkan umur pasien skizofrenia rawat inap di Rumah Umur . Penelitian Fre . laboratorium patologi klinik RSUD Kota Kendari. Analisis Univariat . Karakteristik responden Jenis Kelamin Distribusi gangguan jiwa . yang dilihat pada tabel 1. Distribusi Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi tenggara. (%) Remaja Akhir . 0 Dewasa Awal . Dewasa Akhir . Lansia . Jumlah Dari tabel 2 diperoleh bahwa dari 25 . antipsikotik, diperoleh 5 responden remaja Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 akhir berumur 17-25 tahun . %), 7 responden Tabel 4. Hasil Tabulasi Silang Waktu dewasa awal berumur 26-35 tahun . %), 8 Terapi Antipsikotik dan Kadar Alanin responden dewasa akhir berumur 36-45 tahun Aminotrasferase (ALT) . %), 5 responden lansia berumur 46-65 tahun Waktu Terapi Antipsikot . %). Karakteristik Responden Berdasarkan Waktu Terapi Distribusi responden pasien gangguan . antipsikotik berdasarkan waktu terapi dapat dilihat pada tabel 3 Tabel 3. Distribusi karakteristik berdasarkan waktu terapi Freku Persen (%) Jangka Pendek O 2 Jangka Panjang > 2 Jumlah Berdasarkan tabel 3 diperoleh bahwa dari . antipsikotik diperoleh 13 responden melakukan terapi antipsikotik jangka pendek selama O 2 tahun . %), 12 responden melakukan terapi antipsikotik jangka panjang selama > 2 tahun . %). Analisis Bivariat Berdasarkan Abn Jangka pendek (O 2 tahu. Jangka panjang (> 2 tahu. Berdasarkan hasil uji tabulasi silang, waktu terapi antipsikotik dan kadar alanin yang memiliki kadar ALT normal dengan waktu terapi jangka pendek O 2 tahun sebanyak 13 responden dan kadar ALT normal dengan waktu terapi jangka panjang > 2 tahun sebanyak 8 responden sedangkan yang abnormal sebanyak 4 responden. Tabel 5. Uji Chi-Square Hubungan waktu terapi jangka pendek dan panjang terhadap kadar Alanin Aminotrasferase (ALT) Waktu Kadar Terapi ALT Antipsikotik Mean A Jangka pendek 7,3 A 4,4 ( O 2 tahu. 0,344 Jangka 3,0 A 5,9 panjang ( > 2 menggunakan uji chi-square pada sampel Nor Tot pada pasien skizofrenia dari 25 responden Waktu Terapi Kadar ALT Berdasarkan hasil uji chi-square pada tabel 5 didapatkan hasil waktu terapi jangka (ALT) pasien gangguan jiwa . yang pendek O 2 tahun dengan mean 17,3 dan melakukan terapi antipsikotik. standar defiasi 4,4 sedangkan pada hasil uji Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 chi-square waktu terapi jangka panjang > 2 sehingga sulit ditangani jika hanya dirawat tahun dengan mean 23,0 dan standar defiasi 5,9. Dengan nilai p value 0,344 > 0,05, maka perempuan penderita skizofrenia masih hipotesis nol (H. ditolak dan dapat ditangani oleh keluarga di rumah (H. Sehingga sehingga cenderung dirawat di rumah. disimpulkan bahwa tidak ada hubungan waktu Pada umumnya, bunuh diri banyak dilakukan oleh laki - laki dari pada aminotrasferase (ALT) pada pasien gangguan perempuan, tidak mengenal status ekonomi, jiwa . tingkat kecerdasan, dan tingkat usia. Saat mengalami kekambuhan diantaranya yaitu. PEMBAHASAN mengamuk dengan cara melempar barang. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Tenggara mengambil sampel dan mengumpulkan data pasien yang menderita skizofrenia dengan tipe skizofrenia YTT . ang tak tergolon. jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 25 responden yang terdiri dari kalangan usia dan pemeriksaan kadar alanin aminotransferase (ALT) di Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 1 Sedangkan skizofrenia dari 25 responden, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fahrul dkk, . menunjukan responden terbanyak yaitu berjenis kelamin laki Ae laki. Hal ini berdasarkan wawancara peneliti dengan perawat rawat inap pasien skizofrenia, jenis kelamin laki - laki penderita skizofrenia lebih banyak dirawat inap dibanding dengan perempuan karena laki - biasanya muncul gejala mengurung diri dan berbicara sendiri, pada laki - laki memiliki hormon stres berlebihan . ormon Pasien perempuan lebih banyak mengalami gejala . ositif halusinasi dan delus. dari pada gejala negatif . elukai diri sendir. jika dibandingkan pada laki Ae laki (Auliati, menunjukan bahwa sebanyak 19 orang berjenis kelamin laki Ae laki paling banyak mengalami Berdasarkan hasil penelitian pada responden yang diperiksa memiliki hasil penderita skizofrenia paling tinggi pada kalangan umur 36 Ae 45 tahun sebanyak 8 Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hariyanto dkk, . , menunjukan bahwa responden tebanyak yaitu dikalangan umur 30 Ae 39 tahun yaitu usia yang produktif dan cenderung terkena laki biasanya memiliki agresifitas sangat tinggi Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 skizofrenia, umur puncak onset adalah 25 tahun mencegah terjadinya kekambuhan episode pada laki - laki dan 27 tahun pada perempuan, rentang usia tersebut individu memiliki beban penggunaan jangka pendek O 2 tahun hidup yang lebih berat sehingga menyebabkan dan jangka panjang > 2 tahun obat stres yang disebabkan oleh masalah masalah antipsikotik dipandang sebagai faktor kunci kompleks, meliputi masalah dengan teman dalam pengobatan skizofrenia. Terapi untuk dekat, rekan kerja, pekerjaan yang terlalu berat, skizofrenia dapat dipertimbangkan dalam 3 ekonomi, dan masalah keluarga. Hal ini fase berbeda. Pertama adalah periode berkaitan dengan etiologi skizofrenia, yaitu psikosis akut dan intens yang sering teori diatesis stres yang menyebutkan bahwa ditemukaan pada fase akut rawat inap. seseorang yang memiliki kerentanan spesifik Kedua adalah periode 2 Ae 3 tahun setelah . fase akut, dan ketiga adalah periode dari 3 lingkungan yang dapat menimbulkan stres akan tahun ke depannya. Pada terapi antipsikotik memungkinkan adanya perkembangan gejala jangka pendek O 2 tahun untuk pasien skizofrenia yang telah bebas dari gejala Berdasarkan hasil penelitian tabel 3. Menunjukan bahwa dari 25 responden jumlah pasien yang melakukan terapi antipsikotik terjadinya tingkat kekambuhan jauh lebih jangka pendek O 2 tahun. Sebanyak 13 responden . %), sedangkan yang melakukan antipsikotik periode 3 dengan jangka yang terapi antipisikotik jangka panjang > 2 tahun cukup lama > 2 tahun. Terapi antipsikotik sebanyak 12 responden . %). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Harrow menjaga stabilitas klinik dengan memblokir dan Jobe, . menunjukkan bahwa yang reseptor dopamin (Harrow dan Jobe, 2. melakukan terapi antipsikotik jangka pendek 1- Pasien dengan diagnosis skizofrenia 2 tahun . %-55%) lebih banyak dibandingkan memerlukan pengobatan dalam dengan yang menjalankan terapi antipsikotik waktu relatif lama, berbulan Ae bulan bahkan jangka panjang > 2 tahun, hal ini dikarenakan bertahun Ae tahun dengan tujuan untuk pasien yang menjalankan terapi antipsikotik > 2 mencegah perubahan manifestasi penyakit tahun banyak yang sudah tidak memiliki gejala menjadi kronik setelah episode pertama halusinasi dan kegaduhan yang parah, sehingga Penggunaan obat dalam waktu jangka panjang dapat menyebabkan infeksi, mengkonsumsi obat selama A 6-10 bulan untuk komplikasi, nekrosis hati, kerusakan ginjal. Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 kerusakan jantung, berkurangnya sistem imun, waktu terapi yang lebih panjang dan dan gangguan saraf akut (Romadhonni dkk, meyebabkan meningkatnya kadar enzim alanin aminotransferase (ALT) pada hati. Hasil penelitian pada tabel 4 menunjukkan Sedangkan pada 1 responden lainnya berjenis kelamin perempuan dengan kadar aminotransferase (ALT) abnormal, 3 responden berjenis kelamin laki-laki dengan kadar ALT meningkat, dipengaruhi oleh waktu terapi tinggi, memiliki riwayat kebiasaan merokok, hal ini sejalan dengan penelitian Indriani dkk, . pasien yang memiliki riwayat kebiasaan menyebabkan terjadinya peningkatan kadar merokok lebih lama sembuh dan memiliki kadar ALT yang tinggi. (ALT) ALT tinggi hal ini dikarenakan nikotin yang Berdasarkan hasil penelitian tabel 5. terkandung dalam rokok memiliki kemampuan Hubungan waktu terapi dan kadar ALT untuk meningkatan level dopamin, peningkatan didapatkan hasil uji statistik menunjukan dopamin memberi dampak gejala positif yang dari 25 responden yang melakukan terapi antipsikotik jangka pendek O 2 tahun Merokok metabolisme dan kadar obat-obatan psikiatri dalam darah yaitu clozapine, dan haloperidol. antipsikotik jangka panjang > 2 tahun Hal dengan rerata 23,0. Hasil uji chi square menunjukkan waktu terapi antipsikotik diproduksi ketika tembakau dibakar, enzim ini jangka pendek O 2 tahun dan jangka kemudian akan menginduksi cytochrome P450 panjang > 2 tahun terhadap kadar ALT 1A2 (CYP1A. dan glucoronosyltransferase yaitu p value 0,344 > 0,05. Maka diperoleh (UGT) yang berguna dalam metabolisme kedua hasil penelitian ini tidak ada hubungan obat antipsikotik tersebut, dimana kedua obat waktu terapi antipsikotik dan kadar alanin (ALT) satunya melalui enzim CYP1A2. Enzim ini gangguan jiwa . Hal ini sejalan dapat menurunkan level kedua antipsikotik . Tidak Cahyaningtyas Berkurangnya level obat antipsikotik bermakna antara lama terapi antipsikotik tersebut dalam plasma menyebabkan pasien jangka pendek dan jangka panjang dengan memerlukan dosis pengobatan yang lebih tinggi kadar SGOT dan SGPT, hal tersebut dapat untuk mendapatkan efek yang diinginkan dan Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 subyek penelitian dan desain penelitian yang obat terapi antipsikotik untuk mencegah cross-sectional. terjadinya kerusakan sel Ae sel hati atau peningkatan kadar SGPT akibat penggunaan gangguan fungsi hati (Cahyaningtyas dkk, antipsikotik tunggal maupun kombinasi dapat terjadi akibat reaksi indiosinkratik, namun KESIMPULAN sangat tergantung dari faktor individunya. Pada peningkatan kadar ALT yang Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat di simpulkan bahwa. Berdasarkan hasil penelitian bahwa bermakna klinis . enandakan jejas hat. , terapi antipsikotik jangka pendek O 2 kemungkinan karena kerusakan hepatik dapat tahun kadar alanin aminotrasferase (ALT) normal 13 sedangkan jangka . engujian oba. Hal tersebut karena adanya aminotransferase (ALT) normal 8 dan proses perubahan adaptif pada hepatosit yang melibatkan regulasi gen-gen antioksidan atau protein chaperone. Berdasarkan uji chi square didapatkan hasil bahwa dari 25 responden p value Setiap pasien skizofrenia yang dirawat 0,344 > 0,05 maka tidak terdapat inap diberikan terapi dengan antipsikotik, akan hubungan waktu terapi antipsikotik tetapi efek samping akibat terapi jangka panjang dengan kadar alanin aminotrasferase yang dialami oleh pasien tidak dipantau dan (ALT) SARAN Yulianty dkk, . Salah satu efek samping Saran dalam penelitian ini adalah sebagai peningkatan kadar enzim hati (SGPT) yang terjadi, dipengaruhi oleh zat kimia yang Sehingga masukan dan tambahan informasi serta menyebabkan kebocoran membran plasma dan pengetahuan untuk media belajar dalam mengembangkan ilmu kimia klinik Peningkatan kadar enzim hati (SGPT) dapat diinstitusi terkhususnya di program menyebabkan risiko terjadinya penyakit hati, studi D-IV Teknologi Laboratorium sehingga perlu dilakukan skrining terhadap Medis. Diharapkan dapat dijadikan sebagai kadar SGPT pada pasien gangguan jiwa . antipsikotik dan mengetahui lama penggunaan Disarankan pada penelitian selanjutnya Pengaruh Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 antipsikotik terhadap kadar Alkali Fosfatase antipsikotik pada pasien skizofrenia di (ALP) dan gamma-glutamyl transferase instalasi rawat inap jiwa RSD Madani (GGT) pada pasien gangguan jiwa. Provinsi Sulawesi Tenggah Periode DAFTAR PUSTAKA