Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 2 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Tradisi Siat Sambuk di Banjar Pohgending Desa Pitra Ditinjau Dari Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu I Ketut Gede Harsana Universitas Udayana. Bali. Indonesia iketutgedeharsana@unud. Abstract This research aims to analyze the values of Hindu religious education contained in the siat sambuk tradition in Banjar Pohgending. Pitra Village. Penebel District. Tabanan Regency. Bali, as well as its contribution to cultural preservation and development of the spiritual character of the community. The siat sambuk tradition, which is held every Pengerupukan Day before Nyepi, involves young people in a symbolic "war" using burnt coconut shells, aimed at neutralizing negative energy and maintaining eternal With a qualitative descriptive approach, this research collected data through observation, semi-structured interviews, and documentation studies, analyzed using the Miles and Huberman model. The research results show that this tradition is rich in the values of Tattwa . hilosophy of truth and belief in Go. Susila . thics and controlling emotions such as ange. , and Ceremonies . urification rituals through offerings and processions such as Melasti and Tawur Agung Kesang. This tradition is not only a cultural heritage, but also an effective educational medium that strengthens Balinese Hindu identity, trains discipline, respects ancestors and social togetherness. This study fills the void of previous academic studies with a special focus on the value of Hindu religious education in the siat sambuk tradition, while encouraging the preservation of local culture through the involvement of the younger generation. Thus, this tradition contributes to the formation of character, morality and spirituality, as well as maintaining the continuity of Balinese cultural identity in the context of modern life. Keywords: Siat Sambuk Tradition. Hindu Religious Education. Cultural Preservation Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang terkandung dalam tradisi siat sambuk di Banjar Pohgending. Desa Pitra. Kecamatan Penebel. Kabupaten Tabanan. Bali, serta kontribusinya terhadap pelestarian budaya dan pengembangan karakter spiritual masyarakat. Tradisi siat sambuk, yang digelar setiap Hari Pengerupukan menjelang Nyepi, melibatkan pemuda-pemudi dalam perang simbolik menggunakan sabut kelapa yang dibakar, bertujuan menetralisir energi negatif dan menjaga harmoni sekala-niskala. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengumpulkan data melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumentasi, dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasilnya menunjukkan bahwa tradisi ini kaya akan nilai Tattwa . ilsafat kebenaran dan keyakinan kepada Tuha. Susila . tika dan pengendalian emosi seperti amara. , serta Upacara . itual penyucian melalui bebantenan dan prosesi seperti Melasti dan Tawur Agung Kesang. Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga media pendidikan efektif yang memperkuat identitas Hindu Bali, melatih disiplin, penghormatan kepada leluhur, dan kebersamaan sosial. Penelitian ini mengisi kekosongan kajian akademik sebelumnya dengan fokus spesifik pada nilai pendidikan agama Hindu dalam tradisi siat sambuk, sekaligus mendorong pelestarian budaya lokal melalui keterlibatan generasi Dengan demikian, tradisi ini berkontribusi pada pembentukan karakter, moralitas, dan spiritualitas, serta mempertahankan keberlanjutan identitas budaya Bali dalam konteks kehidupan modern. Kata Kunci: Tradisi Siat Sambuk. Pendidikan Agama Hindu. Pelestarian Budaya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pendahuluan Tradisi dan kebudayaan sejatinya memiliki definisi yang berbeda. Namun oleh masyarakat awam tradisi dan kebudayaan sering dipandang sebagai dua hal yang sama. Menurut Sudirana . , tradisi merupakan sesuatu yang dijalankan sejak lama dan diakui sebagai hal yang paling tepat dan seolah-olah dilihat sebagai suatu objek yang Sedangkan menurut Nurdin & Faza . , tradisi merupakan warisan sosial yang diteruskan terhadap generasi selanjutnya melalui perjalanan waktu yang panjang, baik berbentuk material terlihat maupun gagasan ide. Kemudian menurut Hastuti & Supriyadi . , kebudayaan meliputi setiap sesuatu yang dipahami dari model tindakan normatif seperti gaya berpikir, merasakan, dan beraksi. Definisi lain juga disampaikan oleh Sumarto . , yang dimana kebudayaan merupakan sebuah kesatuan yang kompleks dan terintegrasi dari kebiasaan manusia sebagai dasar struktur keyakinan gaya hidup masyarakat. Merujuk beberapa definisi sebelumnya, secara implisit dapat dipahami bahwa tradisi menjadi bagian yang sangat penting dalam penciptaan kebudayaan masyarakat. Eksistensi tradisi khususnya dalam kebudayaan masyarakat Bali yang mayoritas memeluk agama Hindu merupakan warisan adiluhung para pendahulu yang tetap dijaga sampai kini. Terdapat ribuan tradisi yang tersebar di seluruh wilayah Bali, dimana setiap desa dan banjar memiliki tradisi dengan keunikannya masing-masing. Secara fundamental, tradisi di Bali berasaskan pada nilai-nilai yang bersumber dari tujuan ajaran agama Hindu yakni Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma, dengan maksud untuk menolong umat Hindu meraih ketenteraman batin dan kemakmuran hidup jasmani (Sari, 2. Tradisi masyarakat Bali acapkali berfokus pada seremonial keagamaan, ritual, dan perayaan yang menyertakan penghormatan kepada dewa-dewi, arwah nenek moyang, dan energi alam. Tradisi ini menggambarkan adanya perpaduan pengaruh agama, historis, dan lingkungan alam yang menciptakan keterkaitan jati diri masyarakat Bali dengan alamnya. Hal tersebut menjadi ciri khusus sekaligus identitas agama Hindu dibandingkan agama-agama lain di nusantara (Saniarta, 2. Tradisi masyarakat Bali berdasarkan corak antropologis dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok besar. Pengklasifikasian ini didasari tingkat penerimaan pengaruh budaya Majapahit (Hindu Jaw. di masa lampau. Kelompok pertama disebut Bali Aga yakni tradisi masyarakat terdapat tidak terkena atau sedikit terdapat pengaruh budaya Majapahit. Kelompok Bali Aga dikenal juga sebagai Bali Mula, yang dimana mereka menganggap dirinya sebagai penduduk asli pulau Bali sebelumnya datangnya penduduk dari Jawa sejak runtuhnya kerajaan Majapahit. Mayoritas tradisi masyarakat kelompok Bali Aga biasanya dapat ditemui pada daerah pegunungan (Ardiantari. Lasmawan & Suastika, 2. Ciri khas dari tradisi Bali Aga ialah kuatnya pelaksanaan upacara-upacara yang bersifat egaliter. Sedangkan kelompok kedua disebut Bali Majapahit yakni tradisi masyarakat yang sudah terpengaruh banyak Majapahit. Kelompok ini merupakan penduduk keturunan para penduduk yang mengungsi ke Bali karena runtuhnya kerajaan Majapahit. Kelompok Bali Majapahit umumnya menempati wilayah dataran rendah yang dekat dengan pantai (Wartayasa, 2. Ciri khas dari tradisi Bali Majapahit adalah adanya penerapan sistem kerajaan rakyat . uri panjak, singgih so. dalam pelaksanaan Meskipun terdapat perbedaan corak budaya antara tradisi Bali Aga dengan Bali Majapahit. Hal tersebut tidak segera menimbulkan kontradiksi justru menjadi keistimewaan tersendiri bagi masyarakat Hindu Bali agar selalu belajar serta menjaga keyakinan terhadap agama Hindu (Subawa, 2. Pelaksanaan tradisi di Bali di Bali bukan hanya merefleksikan warisan budaya, akan tetapi berguna sebagai wahana https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pendidikan yang efektif khususnya mengenai Agama Hindu. Dalam ajaran Agama Hindu terdapat Tiga Kerangka Dasar yang terdiri dari aspek Tattwa. Susila dan Upacara. Tiga Kerangka Dasar merupakan panduan dalam mengamalkan ajaran agama itu sendiri. Tattwa merupakan filsafat tentang Tuhan. Susila berkaitan dengan etika moral, dan Upacara merupakan ritual yadnya sebagai praktik dalam implementasi agama Hindu (Mustawan, 2. Ketiga aspek tersebut merupakan sebuah kesatuan yang utuh dan integral yang saling bertautan. Oleh sebab itu harus Tiga Kerangka Dasar Agama Hindu harus dipahami dengan baik (Santika, 2. Pemahaman yang kurang lengkap mengenai salah satu aspek Tiga Kerangka Dasar dapat mengakibatkan pengetahuan agama yang tidak utuh bahkan menyesatkan. Tradisi dalam perspektif pendidikan dapat berperan penting dalam mengajarkan nilai-nilai, keahlian, dan wawasan kepada masyarakat khususnya generasi muda. Melalui partisipasi dalam praktik ritual, upacara, dan aktivitas masyarakat, generasi muda belajar mengenai historis, budaya, dan aturan sosial mereka. Tradisi yang menjadi basis pendidikan membantu menjaga keberlanjutan budaya dan menjamin bahwa pengetahuan dan praktik tradisi tetap dipertahankan (Dinata, 2. Salah satu tradisi yang kaya dengan nilai-nilai pendidikan dalam konteks agama Hindu adalah tradisi siat sambuk. Tradisi siat sambuk merupakan sebuah tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Banjar Pohgending. Desa Pitra. Kecamatan Penebel. Kabupaten Tabanan. Tradisi siat sambuk menjadi tradisi warisan turun-temurun Banjar Pohgending yang rutin digelar setiap satu sekali tepatnya pada hari pengerupukan yang jatuh pada tilem sasih kesanga (Putra. Gata & Sukanta, 2. Tradisi siat sambuk secara harfiah memiliki terjemahan dimana kata siat berarti perang dan sambuk berarti sabut kelapa. Perang yang dimaksud ini bukanlah perang yang ditimbulkan dari perselisihan untuk memenangkan konflik, melainkan sebuah tradisi unik yang mengadopsi strategi ala perang modern yang mempertemukan dua kelompok. Berdasarkan hasil studi pendahuluan melalui observasi diketahui bahwa tradisi siat sambuk diikuti oleh seluruh masyarakat Banjar Pohgending khususnya pemuda dan pemudi yang dilaksanakan saat hari telah beranjak sore atau tepak waktu sandikala. Setiap kelompok yang berpartisipasi dalam tradisi siat sambuk akan saling melempar sabut kelapa yang telah dibakar. Dalam pelaksanaan tradisi ini tidak mencari siapa yang pemenangnya karena esensi dan tujuannya ialah menetralisir segala energi negatif yang ada menjadi energi positif, serta menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat Banjar Pohgending secara sekala dan niskala. Dewasa ini eksistensi pelaksanakaan tradisi siat sambuk di Banjar Pohgending mengalami sedikit perubahan. Perubahan tersebut meliputi beberapa hal seperti sistem pembagian kelompok dimana rumah masyarakat Banjar Pohgending yang terletak di sebelah Utara jalan tergabung ke dalam kelompok wong kaja sedangkan rumah masyarakat Banjar Poh Gending yang terletak di sebelah Selatan tergabung ke dalam kelompok wong kelod. Namun, karena ketidakseimbangan jumlah peserta antara kelompok wong kaja dan wong kelod, maka pelaksanaan tradisi siat sambuk dilakukan dengan cara menggabungkan seluruh penduduk Banjar Pohgending untuk kemudian dibagi rata menjadi dua kelompok. Berikutnya, adanya penambahan sistem keamanan di mana pagelaran tradisi siat sambuk diawasi oleh pecalang yang berperan sebagai pencegah sekaligus penengah apabila terjadi kericuhan antar kelompok siat sambuk. Tradisi siat sambuk mengandung nilai-nilai dan ajaran yang dapat dijadikan sebagai sumber pengajaran yang bernilai. Bukan hanya sebagai pengetahuan lokal tetapi juga mengajarkan ajaran agama Hindu sehingga menyatukan keselarasan antara ajaran agama dengan tradisi lokal. Pengamalan atas tradisi siat sambuk mampu membangun perilaku hidup yang berkepribadian dalam diri seseorang dan dan dapat menghasilkan relasi yang baik antar masyarakat Banjar Pohgending. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Maka dari itu tradisi siat sambuk bukan semata berkembang menjadi peninggalan peradaban akan tetapi bertransformasi sebagai asal nilai-nilai pendidikan yang mampu mengembangkan kepribadian, etika, dan pemahaman rohani seseorang dalam Berkaitan dengan pemaparan eksistensi tradisi siat sambuk tersebut, kenyataannya tradisi ini belum familiar dibahas oleh para akademisi. Sepatutnya tradisi ini perlu dikaji secara mendalam sebagai suatu wujud nyata penerapan pendidikan berbasis nilai-nilai tradisi lokal. Penelitian mengenai tradisi yang ditinjau dari sudut pandang nilai pendidikan agama Hindu telah ramai dikaji oleh para peneliti terdahulu, beberapa diantara dilaksanakan oleh (Putri & Sudarsana, 2. Penelitianya memiliki tujuan untuk menganalisis dan memahami proses internalisasi kearifan lokal dalam tradisi Dewa Mesraman di Desa Paksebali. Kabupaten Klungkung, serta nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya. Penelitian berikutnya dilaksanakan oleh Susanti . , penelitiannya yang memiliki tujuan untuk menganalisis peran tradisi ngayah dalam harmonisasi perayaan Hari Raya Nyepi di Desa Adat Kerobokan dan implikasinya terhadap nilai pendidikan agama Hindu. Penelitian lainnya juga dilaksanakan oleh Yasa . penelitiannya yang bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang terkandung dalam tradisi Magegobog di Desa Jimbaran, serta makna filosofis dan religiusnya dalam konteks kehidupan masyarakat. Adapun penelitian yang mengkaji mengenai tradisi siat sambuk Banjar Pohgending namun tidak membahas dari sudut pandang nilai pendidikan agama Hindu yakni penelitian yang dilaksanakan oleh Prihandana. Suarsana & Kaler . penelitiannya bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan keberadaan serta makna tradisi siat sambuk di Banjar Pohgending. Desa Pitra. Kecamatan Penebel. Kabupaten Tabanan, serta fungsinya dalam masyarakat. Keempat penelitian yang diuraikan sebelumnya, sudah tentu terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang peneliti laksanakan baik merujuk pada lokus, fokus, maupun tujuan penelitian. Selama hasil tinjauan mengenai penelitian sebelumnya oleh peneliti lain, belum dijumpai penelitian yang berfokus pada tradisi siat sambuk di Banjar Pohgending yang ditinjau dari nilai-nilai pendidikan agama Hindu secara spesifik. Oleh karena itu, langkah awal yang akan dilakukan oleh peneliti adalah melakukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisis nilai-nilai yang terkandung dalam eksistensi tradisi siat sambuk yang berkaitan dengan nilai-nilai dan ajaran dalam Agama Hindu untuk mengembangkan karakter sosial dan spiritual, serta menumbuhkan rasa cinta terhadap tradisi siat sambuk di kalangan generasi saat ini. Dengan dilaksanakannya penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan informasi kepada masyarakat mengenai tradisi siat sambuk, dan penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi upaya pelestarian tradisi siat sambuk. Metode Metode penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini ialah penelitian deskriptif dengan tipe pendekatan kualitatif. Penelitian ini berlokasi di Banjar Pohgending yang secara administratif merupakan wilayah Desa Pitra. Kecamatan Penebel. Kabupaten Tabanan. Beberapa sumber data dalam penelitian ini meliputi sumber data primer dan Data primer yakni data langsung yang didapatkan peneliti yang bersumber dari para informan, sedangkan data sekunder yakni data pendukung yang peneliti yang dapat dari sumber-sumber kedua yang terpercaya. Data-data tersebut peneliti dapatkan melalui beberapa teknik pengumpulan seperti observasi dengan pengamatan secara langsung maupun tidak langsung, melakukan wawancara semi terstruktur dengan para informan, dan melakukan studi dokumentasi dengan mengkaji dokumen-dokumen yang memiliki relevansi dengan tradisi siat sambuk baik berbentuk buku, dokumen hukum, laporan riset ilmiah, berita, maupun dokumen lainnya. Penentuan informan dalam penelitian ini https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH menggunakan purposive sampling yakni teknik penentuan informan dengan alasan tertentu yakni mereka yang mengetahui dan memahami tradisi siat sambuk. Informan dalam penelitian ini Bendesa adat Pohgending, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat Analisis terhadap data yang telah didapatkan dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman yang melibatkan tiga tahapan antara lain reduksi data, penyajian atau display data, dan verifikasi atau penarikan kesimpulan. Adapun data-data yang disajikan dalam penelitian ini meliputi data naratif, data tabel, dan data gambar. Hasil dan Pembahasan Historis Tradisi Siat Sambuk di Banjar Pohgending. Desa Pitra Berbicara tentang historis kemunculan tradisi siat sambuk sangat sulit untuk Berdasarkan hasil wawancara dengan Bendesa Adat Pitra dijelaskan bahwa tradisi siat sambuk di Banjar Poh Gending tidak memiliki catatan tertulis berupa prasasti yang pasti mengenai awal mula pelaksanaannya. Namun, berdasarkan cerita turuntemurun dari para tetua, tradisi ini mulai dijalankan setelah terbentuknya Banjar Pohgending sebagai sebuah komunitas yang terdiri dari penduduk pendatang. Faktanya bahwa seluruh warga memiliki pura kawitan di luar Banjar Pohgending menjadi bukti bahwa mereka berasal dari luar wilayah tersebut. Meskipun demikian, tradisi siat sambuk tetap dilestarikan dan diwariskan melalui penuturan lisan dari generasi ke generasi. Hal ini menunjukan tradisi siat sambuk merupakan warisan budaya yang hidup melalui oral tradition, di mana cerita dan nilai-nilai adat yang terkandung di dalamnya diteruskan tanpa adanya bukti tertulis. Hal ini mencerminkan pentingnya peran lisan dalam melestarikan identitas dan tradisi Banjar Pohgending. Diketahui pula bahwa historis tradisi siat sambuk ini merupakan hasil improvisasi dari tradisi mabuu-buu yang pada umumnya digelar masyarakat Hindu pada hari pengerupukan dengan mengitari obor atau daun kelapa kering . yang dibakar mengelilingi pekarangan rumah. Demikian halnya dengan tradisi siat sambuk, hanya saja yang dibakar disini bukanlah danyuh melainkan sabut kelapa . yang dilemparkan oleh kelompok wong kaja dan wong kelod. Kemudian pada dekade tahun 90-an ada salah satu figur masyarakat di Banjar Pohgending yang berinisiatif mengubah konsep penyelenggaraan tradisi siat sambuk dari pertempuran sabut kelapa yang dibakar menjadi parade obor yang diadakan oleh anakanak berkeliling desa yang disertai pentongan kulkul. Masyarakat Banjar Pohgending pun menyetujui inisiatif tersebut sebab figur masyarakat yang menganjurkannya merupakan sosok yang dikenal sebagai ahli yang memiliki pengetahuan yang kuat tentang keagamaan sehingga mereka enggan untuk melawan hal tersebut (Prihandana. Suarsana & Kaler. Sesudah hari suci Nyepi, ketika tradisi obor dan kulkul usai dilaksanakan banyak polemik yang muncul di tengah masyarakat Banjar Pohgending. Banyak masyarakat menganggap bahwa dengan diubahnya tradisi siat sambuk, mereka merasa seakan-akan terdapat identitas diri yang sirna. Masyarakat Banjar Pohgending menilai ada perasaan yang hilang, ada proses yang hilang dalam kehidupan mereka sehingga ada kekosongan saat tradisi siat sambuk tidak terselenggara sebagai mana mestinya sesuai warisan pendahulunya yang telah mereka laksanakan dari masa Oleh sebab itu masyarakat Banjar Pohgending mengambil keputusan bersama untuk dapat memulihkan tradisi siat sambuk seperti sebelumnya yang selaras dengan nilai kebudayaan yang mulia sebagai hal yang sudah diwariskan pendahulu masyarakat Banjar Pohgending. Terakhir sejak tahun 1995, penyelenggaraan tradisi siat sambuk telah mengimplementasikan taktik perang modern. Terdapat pasukan serang yang bertanggung jawab untuk melempar sambuk kepada kelompok lawan. Serta terdapat pasukan perbekalan yang bertanggung jawab untuk menyiapkan dan mengangkut sambuk. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Prosesi Penyelenggaraan Tradisi Siat Sambuk di Banjar Pohgending Tradisi siat sambuk di Banjar Adat Pohgending. Desa Pitra dilaksanakan setiap 1 tahun sekali tepatnya pada Hari Pengerupukan atau satu hari menjelang hari raya Nyepi. Tradisi ini dilaksanakan pada sore hari . bertepatan dengan waktu pergantian siang dan malam. Tradisi ini merupakan tradisi yang dipercaya sudah lahir dan berkembang sejak adanya Banjar Adat Pohgending, hingga saat ini tradisi siat sambuk masih dilestarikan dengan penuh rasa bhakti oleh masyarakat banjar adat Pohgending. Sebelum melaksanakan tradisi siat sambuk, pemuda dan pemudi di lingkungan Banjar Adat Pohgending akan melakukan pengarakan Ogoh-ogoh terlebih dahulu mengelilingi area banjar adat. Dalam pelaksanaan tradisi ini akan dibagi menjadi 2 kelompok pemuda yang akan berperang dengan cara saling lempar sabut kelapa yang sudah dibakar. Prosesi tradisi siat sambuk dipersiapkan jauh 15 hari sebelum Pengrupukan. Tradisi ini dimulai menjelang sore setelah upacara pengarakan ogoh-ogoh, ketika meriam bambu yang telah dinyalakan selama sekitar 15 hari sebelum Nyepi diistirahatkan. Menjelang sandikala, saat sabut kelapa . mulai dibakar dan asap mengepul ke udara, tanda bahwa pertempuran Siat Geni akan segera dimulai. Tradisi ini dipimpin langsung oleh Kelian Banjar Adat Pohgending dan dijaga oleh Pecalang Banjar Adat Pohgending untuk menghindari adanya perkelahian diluar jalannya tradisi Siat Sambuk, tradisi ini dilaksanakan selama kurang lebih 15-20 menit. Ketika bendesa adat memanggil para pemuda yang tergabung dalam sekehe teruna-teruni, mereka terbagi menjadi dua pasukan wong kelod, yang mewakili warga selatan jalan, dan wong kaja, yang mewakili warga utara. Kedua kelompok ini dipersiapkan untuk bertempur menggunakan sabut kelapa yang dibakar sebagai "senjata". Pasukan, yang hanya mengenakan kamen dengan cara "mebulet ginting", bersiap di posisi masing-masing, dipisahkan oleh meja kecil di tengah lapangan sebagai pengaman. Saat gong baleganjur mulai ditabuh, pertempuran dimulai. Pasukan saling melempar sabut kelapa yang menyala, dan suasana semakin sengit. Penonton bersorak, sementara ibu-ibu kadang menjerit melihat anak-anak mereka terkena sabut yang terbakar, meskipun syukurlah tidak pernah ada luka bakar serius yang terjadi selama tradisi ini berlangsung. Pertempuran ini berlangsung intens, namun penuh Setelah pelaksanaan tradisi, semua peserta akan berkumpul kembali dan nunas tirta pada pemangku adat dan kembali berkumpul, bersosialisasi dan melupakan semua emosi yang tersulut dalam perlaksanaan tradisi siat sambuk. Pelakasanaan tradisi siat sambuk ini sangat penting bagi masyarakat Banjar Adat Pohgending, karena masyarakat banjar adat pohgending mempercayai tradisi ini sebagai penolak bala dan menetralisir energi-energi negatif di lingkungan banjar adat Pohgending. Salah satu upaya pelestarian tradisi siat sambuk di lingkungan Banjar Adat Pohgending yaitu dengan melibatkan langsung anak-anak sebagai peserta tradisi sehingga anak-anak mulai mengenal dan mencintai tradisi yang lahir dan berkembang di Banjar Adat Pohgending. Tradisi siat sambuk sendiri melambangkan pertempuran antara kekuatan negatif yang diwakili oleh api dan rasa permusuhan, yang kemudian disucikan melalui prosesi perdamaian dan pembersihan diri, sehingga komunitas dapat menyambut Nyepi dengan hati yang bersih dan tenang. Tradisi ini dirawat dengan penuh bakti oleh masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Tradisi siat sambuk mencerminkan nilai-nilai budaya, spiritualitas, dan keharmonisan yang mendalam, yang menjadi bagian integral dari kehidupan beragama dan sosial masyarakat di Banjar Pohgending. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 1. Proses Perang dalam Tradisi Siat Sambuk di Banjar Pohgending. Desa Pitra (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. Analisis Nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Tradisi Siat Sambuk Pendidikan berlandaskan tradisi merupakan metode pembelajaran yang memanfaatkan warisan budaya, gaya hidup, dan tradisi setempat sebagai rujukan pokok dalam proses pembelajaran (Foa et al. , 2. Metode ini bukan hanya bermaksud untuk meneruskan ilmu, namun pula menyisipkan prinsip-prinsip akhlak dan tata krama kemasyarakatan yang tersirat dalam tradisi tersebut. Pendidikan berlandaskan tradisi menegaskan urgensi pelestarian dan pengembangan warisan budaya yang sudah diwariskan oleh para pendahulunya sehingga pelajar tidak hanya belajar mengenai ilmu akademik namun juga memahami jati diri budaya dan spiritual (Suwendra, 2. Proses analisis nilai pendidikan agama, khususnya agama Hindu dalam sebuah tradisi memerlukan pendekatan yang mendalam dan sistematis. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi, memahami, dan mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, etika, dan filosofis yang terkandung dalam tradisi tersebut sehingga dapat memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan, terutama dalam pengembangan karakter, moral, dan spiritual peserta didik (Suparni, 2. Nilai-nilai pendidikan agama Hindu dalam tradisi siat sambuk yang berlangsung di Banjar PohGending terwujud dalam berbagai aspek filosofi, etika, dan ritual. Tradisi ini tidak hanya merupakan bentuk warisan budaya, tetapi juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai tattwa . ilsafat Hind. , susila . , dan acara . , yang dapat memberikan pelajaran mendalam bagi pengembangan karakter, spiritualitas, dan perilaku sosial masyarakat, khususnya generasi muda. Melalui analisis nilai-nilai ini, tradisi Siat Sambuk dapat dilihat sebagai media pembelajaran penting dalam konteks pendidikan agama Hindu yang berfokus pada pembentukan moralitas dan keharmonisan hidup. Adapun penjelasan dari masing-masing nilai tersebut yakni sebagai berikut: Nilai Pendidikan Agama Hindu di Bidang Tattwa Tattwa berasal dari bahasa sansekerta, secara leksikal berasal dari kata tat artinya, hakikat, kebenaran, kenyataan, twa artinya sifat. Tattwa artinya bersifat kebenaran atau mengandung nilai kebenaran menurut pandangan agama Hindu (Gunawijaya, 2. Dalam kaitannya dengan tradisi siat sambuk, aspek tattwa ini disimbolkan dalam adegan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pengusiran energi negatif (Bhuta Kal. , persatuan dan perdamaian setelah konflik, serta penerapan etika Hindu seperti disiplin, hormat kepada leluhur, dan harmoni sosial. Semua itu mencerminkan penerapan konsep Rwa Bhineda. Dalam lontar krama pura nilai-nilai pendidikan tattwa yang terkandung didalamnya adalah tentang keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Suci yang tidak terbatas Tuhan itu gaib, beliau tak terbakar oleh api . Demikian halnya tradisi siat sambuk di Banjar Pohgendiing sebagai alat untuk menumbuhkan keyakinan pada Tuhan, yang di implementasikan lewat kepercayaan tradisi siat sambuk dalam rangka menjaga keyakinan masyarakat Banjar Pohgending. Masyarakat Banjar Pohgending mempunyai Pura Khayangan Tiga yakni Pura Puseh. Pura Desa dan Pura Dalem. Kalu dimaknai ketiga pura tersebut merupakan stana dari Dewa Brahma. Dewa Wisnu dan Dewa Siwa. Ketiga dewa tersebut merupakan manifestasi dari Tuhan itu Sendiri. Melalui tradisi siat sambuk ini masyarakat Banjar Pohgending memperkuat keyakinan mereka, yaitu sebelum mereka melaksanakan tradisi tersebut mereka juga menghaturkan persembahan di pura khayangan Tiga. Hal ini pula yang membuktikan adanya keyakinan masyarakat Banjar Pohgending untuk memohon keselamatan sebelum acara tradisi siat sambuk dimulai. Nilai Pendidikan Agama Hindu di Bidang Susila Etika dalam ilmu mengenai kesusilaan yang berupa aturan-aturan yang mengandung pantangan atau saran untuk bertindak sesuatu (Gunawijaya, 2. Dalam etika terdapat tindakan yang benar dan salah. Untuk menempuh kehidupan, ajaran yang dikehendaki dapat dilakukan sedangkan tindakan yang salah perlu dijauhi. Nilai pendidikan susila yang dapat dijabarkan dalam ajaran Tri Kaya Parisudha, nilai pendidikan tattwammasi, nilai pendidikan dharma, nilai tersebut mendidik seseorang agar mampu bermasyarakat dengan baik. Ajaran susila menjadi dasar dari perilaku seseorang yang beragama di mana susila sendiri menjadi landasan filosofis terkait apakah suatu tindakan harus dilakukan atau tidak sesuai dengan adab berperilaku. Pengajaran susila mengenalkan umat Hindu tentang etika, moral, dan tata susila dalam bermasyarakat. Selain sebagai bagian dari Tri Kerangka Dasar Agama Hindu, susila juga sebagai dasar hukum yang mengikat umat Hindu dalam setiap melakukan Demikian halnya dengan tradisi siat sambuk itu ada etika atau susilanya. Dalam tradisi tersebut bahwa masyarakat di Banjar Pohgending dilarang untuk emosi di dalam menjalankan teradisi siat sambuk, karena siat sambuk itu bermakna siat mempunyai memerangi sedangkan sambuk . erabut kelapa yang kerin. yang dibakar dengan api, api sendiri bermakna amarah dalam ajaran agama Hindu di sebut dengan kroda. Jadi dalam hal ini masayarakat diharapkan mampu megendalikan rasa marah dalam kehidupan sehari Nilai Pendidikan Agama Hindu di Bidang Acara Nilai upacara . dalam tradisi siat sambuk di Banjar Pohgending Desa pitra juga diperlukannya sarana upakara yang disebut dengan Bebantenan. Menurut Wiana dalam Sudiarta . banten yaitu salah satu upakara yang digunakan dalam upacara agama Hindu dalam bentuk visualisasi seni budaya agama. Banten juga mengandung pengertian sebagai ungkapan kemantapan rasa dan keyakinan serta sebagai jembatan umat untuk menghubungkan diri dengan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta semua manifestasinya. Bebantenan umat Hindu dapat menumbuhkan rasa keyakinan dan kepercayaan sucinya untuk mengendalikan Bhuta Kala yang ada pada diri manusia agar tidak mengganggu dalam berbagi kegiatan. Begitu pula halnya, bebantenan sebagai salah satu sarana pendukung pada saat dilaksanakannya tradisi siat sambuk di Banjar Pohgending dipercaya dan diyakini sebagai salah satu sarana penghubung umat dengan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar tradisi siat sambuk di Banjar Pohgending dapat berjalan dengan baik tanpa adanya hambatan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Tahapan dalam pelaksanaan tradisi Siat Sambuk dimulai beberapa hari sebelum hari Pengerupukan, tahap pertama yaitu melaksanakan upacara Melasti yang dilakukan untuk menyucikan diri sebelum masuk Hari Raya Nyepi. Setelah upacara melasti, akan berlangsung tahap Pecaruan Tawur Agung Kesanga, upacara ini dilaksanakan tepat pada saat Hari Pengerupukan, upacara ini dilaksanakan di perempatan desa pada siang hari. Pada sore hari dilanjutkan dengan pengarakan ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh yang dibuat sebagai simbolis wujud dari Bhuta Kala akan diarak keliling desa dan terakhir akan dibakar sebagai simbol menghilangkan energi Bhuta Kala. Setelah pengarakan Ogoh-ogoh, akan mulai dilaksanakan tradisi Siat Sambuk. Saat aba-aba siat sambuk dimulai dan baleganjur mengiringi maka perang antara kedua kelompok akan berlangsung. Tradisi ini berlangsung sekitar 15-20 menit. Setelah tradisi dilaksanakan para peserta akan berkumpul untuk mendapatkan tirta dari Pemangku Desa Adat. Tradisi Siat Sambuk sangat penting bagi masyarakat Banjar Adat Pohgending karena pelaksanaan tradisi ini memiliki makna dan tujuan untuk penolak bala dan menetralisir energi negatif atau energi Bhuta Kala yang ada dalam lingkungan Banjar Adat Pohgending. Dalam melestarikan tradisi siat sambuk, masyarakat Banjar Adat Pohgending berpedoman pada ajaran Catur Dresta, yang meliputi ajaran agama, nilainilai, budaya, pandangan hidup dan adat istiadat setempat. Selain berpedoman pada ajaran agama tersebut, upaya lainnya yang dilaksanakan untuk melestarikan tradisi siat sambuk di Banjar Adat Pohgending adalah dengan melibatkan anak-anak dalam pelaksanaan tradisi siat sambuk, sehingga anak-anak mulai mengenal, mencintai dan mulai melestarikan tradisi tersebut. Kesimpulan Tradisi siat sambuk di Banjar Pohgending. Desa Pitra, merupakan warisan budaya Hindu Bali yang kaya akan nilai-nilai pendidikan agama Hindu, mencakup aspek tattwa, susila, dan upacara. Tradisi ini, yang dilaksanakan setiap Hari Pengerupukan sebelum Nyepi, melibatkan dua kelompok pemuda yang saling melempar sabut kelapa terbakar sebagai simbol penolakan bala dan netralisasi energi negatif, sekaligus memperkuat harmoni sosial. Secara historis, tradisi ini berkembang dari improvisasi tradisi mabuubuu dan sempat berubah menjadi parade obor pada 1990-an, namun dikembalikan ke bentuk aslinya pada 1995 untuk melestarikan identitas budaya masyarakat. Dalam konteks tattwa, tradisi ini memperkuat keyakinan kepada Tuhan melalui penghormatan kepada leluhur dan alam dalam susila, mengajarkan pengendalian emosi dan etika sosial seperti Tri Kaya Parisudha, serta dalam upacara, mengintegrasikan ritual seperti bebantenan dan pengarakan ogoh-ogoh untuk menyucikan diri. Tradisi ini bukan hanya ritual, tetapi juga media pendidikan yang efektif untuk membentuk karakter, moral, dan spiritualitas generasi muda, sekaligus menjaga keberlanjutan budaya Bali. Upaya pelestarian dilakukan dengan melibatkan anak-anak dan berpedoman pada Catur Dresta, sehingga tradisi ini tetap relevan. Penelitian ini menegaskan bahwa siat sambuk memiliki potensi besar sebagai sumber pembelajaran agama Hindu yang kontekstual, meskipun masih memerlukan kajian lebih lanjut untuk memperkaya wawasan akademik dan mendukung pelestarian budaya lokal. Daftar Pustaka