Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Volume 3. Nomor 3. Agustus 2025 e-ISSN: 3031-3406. p-ISSN: 3031-3414. Hal. DOI : https://doi. org/10. 61132/jepi. Available Online at: https://journal. id/index. php/jepi Analisis Pengaruh Harga Gabah. Impor, dan Produksi terhadap Kesejahteraan Petani (Studi Kasus: NTP di Indonesi. Felisia Wati Delta Fika1*. Muhamad Maulana2. Ramadhan Agyat Wigunawan3. Resha Moniyana Putri4. Mega Mariska5 Fakultas Ekonomi dan Bisnis . Program Studi Ekonomi Pembangunan ,Universitas Lampung. Indonesia Felisiawatidaltafika@gmail. com1,hettydanmaulana20@gmail. com2, agyatwigunawan2941@gmail. Alamat Kampus: Jalur dua Univeristas Lampung. Jalan Prof. Dr Jl. Prof. Dr. Ir. Sumantri Brojonegoro No. Kota Bandar Lampung. Lampung 35141 Korespondensi penulis: Felisiawatidaltafika@gmail. Abstract. This study examines the dilemma of rice import policy in Indonesia within the context of international trade and food security challenges. Rice, as a strategic commodity, holds significant social, economic, and political value, making import policies highly influential on price stability, farmersAo welfare, and national food The research identifies that import policies are often misaligned with domestic needs due to weak interinstitutional coordination, data inaccuracies, and pressures from political and business interests. As a result, import policies frequently create imbalances between the interests of consumers, traders, and local farmers, while also reducing the competitiveness of domestic rice due to inefficiencies in the distribution chain and post-harvest This study emphasizes the importance of data-based, transparent, and farmer-protective governance of rice import policies to strengthen national food security amid global trade liberalization pressures. hain, trade liberalization. Keywords: Rice Import. Food Security. Trade Policy. Local Farmers Exchange Rate. Distribution Chain. Trade Liberalization Abstrak. Penelitian ini membahas dilema kebijakan impor beras di Indonesia dalam konteks perdagangan internasional dan tantangan ketahanan pangan. Beras sebagai komoditas strategis memiliki nilai sosial, ekonomi, dan politik yang tinggi sehingga kebijakan impor beras sangat memengaruhi stabilitas harga, kesejahteraan petani, dan ketahanan pangan nasional. Studi ini mengidentifikasi bahwa kebijakan impor kerap tidak selaras dengan kebutuhan domestik akibat lemahnya koordinasi antar lembaga, ketidak akuratan data, serta tekanan politik dan Akibatnya, kebijakan impor sering kali menimbulkan ketimpangan antara kepentingan konsumen, pedagang, dan petani lokal, serta menurunkan daya saing beras domestik akibat inefisiensi rantai distribusi dan infrastruktur pascapanen. Penelitian ini menekankan pentingnya tata kelola kebijakan impor beras berbasis data, transparansi, dan perlindungan terhadap petani kecil untuk memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tekanan liberalisasi perdagangan global. Kata kunci: Impor Beras. Ketahanan Pangan. Kebijakan Perdagangan. Nilai Tukar Petani Lokal. Rantai Distribusi. Liberalisasi Perdagangan. LATAR BELAKANG Perdagangan perekonomian global, memberikan peluang akses pasar yang lebih luas, aliran barang dan jasa yang lebih cepat, serta keterhubungan antar negara dalam rantai pasok global. Di tengah integrasi ekonomi dunia ini, negara-negara berkembang seperti Indonesia dihadapkan pada tantangan besar dalam menyeimbangkan antara keterbukaan ekonomi dan perlindungan terhadap sektor-sektor domestik yang rentan, khususnya sektor pertanian. Salah satu bentuk Received: Mei 14, 2025. Revised: Mei 28, 2025. Accepted: Juni 11, 2025. Online Available: Juni 13, 2025 Analisis Pengaruh Harga Gabah. Impor, dan Produksi terhadap Kesejahteraan Petani nyata dari dilema ini tercermin dalam kebijakan impor beras yang selama ini diterapkan oleh pemerintah Indonesia. Beras bukan sekadar komoditas pangan, tetapi juga menyimpan nilai sosial, ekonomi, dan politik yang sangat kuat di Indonesia. Beras merupakan makanan pokok bagi lebih dari 95% penduduk Indonesia, dan jutaan rumah tangga menggantungkan hidupnya pada usaha tani Oleh karena itu, kebijakan yang menyangkut produksi, distribusi, dan impor beras memiliki dampak yang sangat luas, tidak hanya terhadap harga di pasar, tetapi juga terhadap kesejahteraan petani, ketahanan pangan nasional, dan stabilitas sosial. Ketika kebijakan impor beras diterapkan secara tidak tepat, sering kali hal ini menimbulkan ketimpangan kepentingan antara konsumen, pelaku pasar, dan terutama petani lokal sebagai produsen utama. Dalam sepuluh tahun terakhir, pemerintah Indonesia telah beberapa kali membuka keran impor beras dengan berbagai alasan, mulai dari kekhawatiran terhadap kelangkaan pasokan, inflasi harga pangan, hingga pertimbangan politis menjelang tahun pemilu. Oleh karna itu dalam sepuluh tahun terakhir . menunjukan fluktuasi signifikan Kebijakan-kebijakan ini kerap menjadi kontroversi publik karena dianggap tidak berpihak pada Pasalnya, beras impor yang masuk ke pasar domestik sering kali menekan harga jual gabah petani lokal, sehingga menyebabkan kerugian secara ekonomi, hilangnya insentif untuk produksi, bahkan potensi alih fungsi lahan pertanian. Dalam kondisi tertentu, kebijakan impor juga memperlihatkan ketidaksinkronan antara lembaga negara yang berdampak pada ketidakpastian kebijakan dan kebingungan pelaku di tingkat bawah. Tabel 1. data impor beras Indonesia Tahun Impor Beras (To. 816,600 1,073,720 311,520 2,253,824 444,508 356,286 407,741 429,207 3,063,000 4,520,000 Secara normatif, kebijakan impor pangan strategis seperti beras seharusnya dilandaskan pada perhitungan yang matang, data produksi dan konsumsi yang akurat, serta mekanisme distribusi yang efisien dan adil. Namun dalam kenyataannya, pelaksanaan kebijakan impor Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Ae VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-3406. p-ISSN: 3031-3414. Hal. kerap mengalami distorsi baik dari sisi perencanaan maupun implementasi. Beberapa studi menunjukkan bahwa lemahnya koordinasi kelembagaan, minimnya transparansi data, serta tekanan dari kepentingan politik dan bisnis menjadikan kebijakan ini tidak selalu berpihak pada kepentingan petani kecil sebagai aktor utama dalam produksi pangan (Warr & Yusuf, 2014. Arifin, 2020. Saptana et al. , 2. Lebih dari itu, dalam konteks global, tren liberalisasi perdagangan yang mendorong keterbukaan pasar turut memengaruhi arah kebijakan perdagangan Indonesia. Sebagai anggota WTO dan berbagai perjanjian perdagangan bebas lainnya. Indonesia menghadapi tekanan untuk membuka akses pasar domestiknya terhadap komoditas asing, termasuk beras. Di sisi lain, ketahanan pangan nasional menjadi isu strategis yang seharusnya diprioritaskan, mengingat pangan tidak hanya terkait dengan aspek ekonomi tetapi juga kedaulatan negara. Ketidakseimbangan antara tekanan global dan kebutuhan domestik inilah yang menjadi titik krusial dari kebijakan perdagangan internasional, khususnya dalam sektor pangan. Salah satu permasalahan utama dalam kebijakan impor beras di Indonesia adalah ketidaksesuaian antara rencana dan realisasi kebijakan. Kerap kali pemerintah menetapkan kuota impor saat musim panen berlangsung, sehingga beras impor membanjiri pasar bersamaan dengan beras lokal. Kondisi ini menyebabkan harga di tingkat petani jatuh, sementara harga di pasar konsumen tetap tinggi karena lemahnya pengawasan distribusi dan dominasi tengkulak atau pedagang besar. Studi oleh Siregar dan Wibowo . menunjukkan bahwa ada ketimpangan antara harga gabah petani dan harga jual di pasar ritel, yang mencerminkan inefisiensi dalam rantai distribusi dan lemahnya posisi tawar petani. Selain itu, instrumen kelembagaan dalam tata kelola beras seperti Perum Bulog. Kementerian Pertanian, dan Badan Pangan Nasional juga kerap kali tidak berjalan selaras. Misalnya, keputusan impor sering kali dilakukan oleh Kementerian Perdagangan tanpa mempertimbangkan data dari Kementerian Pertanian atau BPS terkait produksi dalam negeri. Dalam beberapa kasus, terdapat perbedaan data antara lembaga negara mengenai stok beras nasional, sehingga menyulitkan pengambilan keputusan yang berbasis bukti (Setiawan & Pambudy, 2. Permasalahan lain yang telah muncul adalah lemahnya infrastruktur logistik dan teknologi pascapanen, yang membuat daya saing beras lokal menjadi rendah dibandingkan beras impor. Akibatnya, meskipun secara kuantitas produksi nasional mencukupi, kualitas dan efisiensi produksinya belum mampu menandingi negara-negara eksportir besar seperti Thailand. Vietnam, atau India. Hal ini menjadikan beras lokal kalah bersaing dari sisi harga Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Ae VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 Analisis Pengaruh Harga Gabah. Impor, dan Produksi terhadap Kesejahteraan Petani maupun kualitas, terlebih ketika sistem subsidi dan proteksi bagi petani dalam negeri masih belum maksimal. KAJIAN TEORITIS Perdagangan internasional merupakan kegiatan pertukaran barang dan jasa antarnegara yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi secara domestik serta untuk meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya (Krugman & Obstfeld, 2. Dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia, perdagangan internasional memiliki dua sisi: di satu sisi membuka peluang pasar dan akses barang murah, namun di sisi lain dapat mengancam keberlangsungan sektor domestik, terutama sektor pertanian yang rentan (Todaro & Smith. Menurut Horridge. Wittwer, dan Wibowo . dalam jurnal Sosiohumaniora, simulasi CGE INDOTERM menunjukkan bahwa kebijakan impor beras berdampak negatif terhadap pendapatan rumah tangga pertanian, terutama di wilayah pedesaan Provinsi Jawa Barat. Hal ini menunjukkan bahwa liberalisasi perdagangan, khususnya di sektor pangan strategis, tidak serta-merta memberikan manfaat merata. Beras adalah komoditas strategis di Indonesia karena menyangkut hajat hidup mayoritas penduduk. Pemerintah seringkali mengambil kebijakan impor beras untuk menstabilkan harga dan menjamin ketersediaan pasokan. Namun, kebijakan ini kerap menuai polemik karena dianggap tidak berpihak kepada petani lokal. Penelitian oleh Aziza et al. dalam Arus: Jurnal Sosial dan Humaniora menunjukkan bahwa kebijakan impor beras di Kabupaten Jember berdampak signifikan terhadap penurunan harga gabah di tingkat petani. Ketika beras impor membanjiri pasar domestik, petani lokal kesulitan menjual hasil panennya dengan harga layak. Hal serupa dikemukakan oleh Jiuhardi . dalam Jurnal Inovasi: Ekonomi. Keuangan dan Manajemen, yang menemukan bahwa kesejahteraan petani hanya dapat ditingkatkan jika kebijakan impor dibarengi dengan proteksi harga dan pembelian hasil pertanian oleh pemerintah melalui BULOG atau skema perlindungan lainnya. Harga merupakan faktor utama yang terdampak dari kebijakan impor. Ketika harga internasional lebih rendah dibandingkan biaya produksi domestik, produk impor lebih kompetitif di pasar, dan hal ini menurunkan insentif petani untuk berproduksi. Dalam penelitian oleh Yasinta et al. dalam Jurnal Ilmiah MEA, ditemukan bahwa meskipun impor dapat menjaga stabilitas harga nasional, secara jangka panjang ia melemahkan posisi tawar petani dan meningkatkan ketergantungan terhadap pasar global. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Ae VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-3406. p-ISSN: 3031-3414. Hal. Penelitian oleh Kusumastuti et al. dalam Jurnal JINTAN menyebutkan bahwa dalam lima tahun terakhir, volume impor beras yang meningkat secara signifikan telah menurunkan harga gabah domestik, sehingga berdampak langsung pada pendapatan petani padi di sentra-sentra produksi seperti Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan. Beberapa negara menggunakan tarif, subsidi, dan kuota impor sebagai strategi untuk melindungi petani lokal dari dampak negatif liberalisasi perdagangan. Di Indonesia, kebijakan serupa masih belum optimal dalam pelaksanaannya. Menurut Zainul Abidin . dalam Sosio Informa, kebijakan bea masuk impor beras yang cukup tinggi dapat meningkatkan harga jual gabah petani hingga berada di atas harga pembelian pemerintah (HPP). Namun, kebijakan ini perlu konsistensi dan pengawasan agar tidak dilanggar melalui jalur impor ilegal. Sementara itu. Alan . dalam Jurnal Yuridis menyampaikan bahwa kebijakan impor beras di Indonesia seringkali tidak sinkron dengan peraturan perundang-undangan nasional, khususnya UU Pangan dan UU Perlindungan Petani. Kesenjangan antara norma hukum dan kebijakan implementatif ini menjadi salah satu penyebab lemahnya perlindungan terhadap petani. Konsep ketahanan pangan tidak hanya mencakup ketersediaan dan aksesibilitas pangan, tetapi juga stabilitas harga, keberlanjutan produksi, dan kesejahteraan petani. Indonesia sering kali menggunakan pendekatan ketahanan pangan yang bersifat jangka pendek dengan mengandalkan impor saat terjadi kekurangan produksi, tanpa memperkuat sistem produksi dalam negeri secara sistemik. Juliashar et al. dalam AGRORADIX menyebutkan bahwa kebijakan impor beras dari Thailand dan Vietnam memiliki korelasi kuat dengan fluktuasi harga beras domestik. Ketergantungan pada dua negara tersebut menimbulkan kerentanan ekonomi ketika terjadi gangguan distribusi atau gejolak harga global. Menurut Rizki dan Pangesti . dalam Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Manajemen, impor beras menekan permintaan terhadap produksi lokal, khususnya pada musim panen raya. Hal ini mengancam keberlangsungan sistem pangan lokal, karena petani kehilangan insentif untuk terus bertani. Petani padi merupakan kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap perubahan kebijakan perdagangan. Pendapatan mereka sangat tergantung pada harga gabah dan biaya produksi yang seringkali tidak stabil. Yusiana dan NurAoazkiya . dalam Jurnal Agrimanex menunjukkan bahwa kebijakan impor beras yang tidak terkendali memperburuk kondisi petani dan memperlambat proses pengentasan kemiskinan di wilayah pedesaan. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Ae VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 Analisis Pengaruh Harga Gabah. Impor, dan Produksi terhadap Kesejahteraan Petani Penurunan harga gabah dan meningkatnya ongkos produksi menyebabkan banyak petani beralih profesi, mengurangi luas tanam, bahkan meninggalkan sektor pertanian secara Jika tren ini terus berlanjut. Indonesia dapat menghadapi krisis produksi pangan nasional di masa depan. METODE PENELITIAN Jenis dan Sumber Data Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode pendekatan yang bersifat Metode kuantitatif merupakan pendekatan penelitian yang berdasarkan pada filsafat positivistme, yang digunakan untuk meneliti populasi atau sampel dengan analisis data yang bersifat statistik. Menurut Sugiyono, penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan dan mengumpulkan data dengan menggunakan instrument penelitian. Creswell juga menambahkan bahwa, metode ini mengukur variabel dengan angka dan juga menganilisisnya dengan menggunakan prosedur statistik untuk menentukan validitas teori. Penelitian ini menganalisis bagaimana Tingkat harga Gabah. Volume Produksi Padi Pertahun dan Volume import Beras, dapat mempengaruhi Tingkat Nilai Tukar Pertanian. Dalam penelitian ini penulis menggunakan data runtut waktu . ime serie. dalam kurun waktu 10 tahun yaitu tahun 2015 sampai dengan tahun 2024. Sumber data yang penulis peroleh adalah dari Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) dan jurnal yang terkait dengan penelitian ini. Analisis Data Analisi data menggunakan metode regresi data panel linier berganda dan kemudian akan dilakukan uji hipotesis persial untuk mengetahui apakah masing - masing variabel bebas memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat dan juga akan diuji simultan untuk mengetahui model regresi secara keseluruhan signifikan atau tidak berseta koefisien determinasi, pengolahan data dilakukan dengan EViews 12 Y = a B1X1 B2X2 B3X3 e Keterangan Y = NTP ( Nilai Tukar Petan. X1 = Rata Rata Harga gabah kering panen X2 = Volume Import padi X3 = Volume Produksi a = Konstanta Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Ae VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-3406. p-ISSN: 3031-3414. Hal. Pengujian Hipotesis Uji Parsial ( Uji T) Uji t . -tes. merupakan teknik statistik yang bertujuan untuk menguji apakah terdapat perbedaan signifikan antara rata-rata dua kelompok atau untuk menilai apakah rata-rata suatu kelompok berbeda dari suatu nilai tertentu . Untuk mengetahui apakah variasi variabel yang digunakan berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat, maka peneliti menguji dengan hipotesis yaitu: H0 : tidak terdapat pengaruh antara FDI dan IGE terhadapa pertumbuhan ekonomi Ha : terdapat pengaruh yang signifikan antara FDI dan IGE terhadapa pertumbuhan ekonomi Dengan tingkat signifikasi sebesar 95% dan = 5%, kemudian nilai t hitung dibandingkan dengan nilai t table yang dilihat melalui distribusi tabel t. Adapun karakteristik dalam pengambilan keputusan guna menolak atau menerima H0 yaitu: Jika t hitung lebih besar dari t tabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti variabel independen secara individual berpengaruh terhadap NTP . Jika t hitung lebih kecil dibandingkan t-tabel maka. H0 diterima dan Ha ditolak artinya variabel independen secara individual tidak berpengaruh terhadap NTP. Uji Determinan R2 Koefisien determinasi RA merupakan ukuran statistik yang mengindikasikan seberapa baik model regresi linear mampu memprediksi atau menjelaskan variasi pada variabel dependen (Y) berdasarkan variabel independen (X). Nilai RA berkisar dari 0 hingga 1, di mana: RA = 0: Model tidak dapat menjelaskan variabilitas data sama sekali. Semua variabilitas disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak dimasukkan dalam model. RA mendekati 0: Model hanya menjelaskan sedikit variabilitas data. Model tidak terlalu berguna untuk prediksi. RA mendekati 1: Model menjelaskan sebagian besar variabilitas data. Model sangat baik dalam menjelaskan data. RA = 1: Model menjelaskan semua variabilitas data secara sempurna. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Ae VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 Analisis Pengaruh Harga Gabah. Impor, dan Produksi terhadap Kesejahteraan Petani Uji Asumsi Kelasik Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas merupakan prosedur dalam analisis regresi yang bertujuan korelasi kuat di antara variabel independen . dalam sebuah model. Multikolinearitas terjadi ketika satu atau lebih variabel independen sangat berkorelasi dengan variabel independen lainnya, yang dapat menimbulkan masalah dalam mengestimasi koefisien regresi secara akurat dan merusak kejelasan interpretasi model. Adapun kriteria dalam uji multikolinearitas antara lain: Jika VIF < 10 maka tidak terdapat masalah multikolinearitas. Jika VIF > 10 maka terdapat masalah yang multikolinearitas yang parah. Uji Heterokedasita Suji heterokedasitas merupakan teknik yang digunakan dalam analisis regresi untuk mengenali adanya ketidakseragaman dalam varians residual . esalahan prediks. dari suatu model regresi. Ketidakseragaman ini terjadi ketika varians residual tidak stabil di seluruh rentang nilai prediksi. Hal ini dapat memengaruhi keakuratan dan validitas hasil regresi, serta menimbulkan dampak pada penafsiran koefisien regresi. Uji heterokedasitas bertujuan untuk memverifikasi apakah asumsi homoskedastisitas . arians residual yang konsta. dari model regresi terpenuhi. Jika heterokedasitas terdeteksi, penyesuaian atau transformasi data mungkin diperlukan agar model regresi menjadi lebih tepat dan dapat diandalkan. Adapun kriteria dalam uji heterkedasitas antara lain: Probabilitas > . maka H0 diterima dan Ha ditolak. Artinya tidak terdapat masalah Probabilitas < . maka H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya terdapat masalah Uji Normalitas Uji normalitas adalah metode statistik yang digunakan untuk menentukan apakah data yang diamati berasal dari distribusi normal atau tidak. Distribusi normal adalah distribusi yang simetris, di mana sebagian besar data berpusat di sekitar rata-rata, sementara nilai ekstrim jarang terjadi. Uji normalitas membantu peneliti dalam menilai apakah data memenuhi asumsi Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Ae VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-3406. p-ISSN: 3031-3414. Hal. dasar analisis statistik parametrik yang mensyaratkan data berdistribusi normal. Adapun kriteria uji normalitas anatara lain: Apabila nilai signifikansi > 0,05 , maka distribusi data memenuhi asumsi normalitas. Apabila nilai signifikansi < 0,05 , maka distribusi data tidak memenuhi asumsi normalitas. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh variabel Harga Gabah (X. Volume Impor Beras (X. , dan Produksi Padi (X. terhadap Nilai Tukar Petani (NTP) sebagai indikator kesejahteraan petani di Indonesia dalam kurun waktu 2015Ae2024. Dengan data sebagai berikut: Tabel 2. data sebelum di hitung NTP GKP IMPORT PRODUKSI JUTA/TON 101,54 101,58 101,14 111,56 103,01 101,69 54,64 104,66 54,41 107,39 54,74 112,72 53,98 120,26 53,14 Pengujian kami dilakukan dengan software SPSS, dan hasil regresinya menunjukkan bahwa model regresi yang digunakan cukup baik dalam menjelaskan hubungan antar variabel. hasilnnya sebagai berikut: Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Ae VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 Analisis Pengaruh Harga Gabah. Impor, dan Produksi terhadap Kesejahteraan Petani Gambar 1. Tabel Pengujian software SPSS Gambar 2. Tabel Pengujian software SPSS Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Ae VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-3406. p-ISSN: 3031-3414. Hal. Gambar 3. Tabel Pengujian software SPSS Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Ae VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 Analisis Pengaruh Harga Gabah. Impor, dan Produksi terhadap Kesejahteraan Petani Hasilnya dapat di interprestasikan yang dimana: Uji Signifikansi Simultan (Uji F) Hasil ANOVA menunjukkan nilai F sebesar 36. 317 dengan tingkat signifikansi 0. Ini berarti bahwa model regresi secara keseluruhan signifikan dan layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh harga gabah, impor beras, dan produksi terhadap NTP. Artinya, ketiga variabel independen secara simultan mempengaruhi kesejahteraan petani. Koefisien Determinasi (RA) Nilai koefisien determinasi (RA = 0. menunjukkan bahwa 94,8% variasi NTP dapat dijelaskan oleh variabel harga gabah, volume impor, dan produksi padi, sementara sisanya sebesar 5,2% dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model ini. Hal ini mengindikasikan bahwa model memiliki kemampuan prediksi yang sangat tinggi terhadap fluktuasi kesejahteraan petani. Uji Signifikansi Parsial (Uji . Hasil uji t menunjukkan bahwa: a Harga Gabah (X. memiliki nilai signifikansi sebesar 0. 426, sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap NTP. Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga gabah tidak cukup kuat untuk memengaruhi tingkat kesejahteraan petani secara langsung, yang bisa jadi disebabkan oleh ketidakterhubungan antara harga jual di tingkat petani dengan harga pasar akibat peran tengkulak dan inefisiensi distribusi. a Volume Impor Beras (X. memiliki pengaruh signifikan positif terhadap NTP dengan nilai signifikansi 0. Temuan ini terlihat bertentangan dengan asumsi awal dan beberapa literatur yang menyatakan bahwa impor menekan harga gabah. Namun, dalam konteks tertentu, impor dapat menstabilkan harga pasar dan menjamin pasokan sehingga nilai tukar petani tetap terjaga. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa stabilitas tersebut lebih menguntungkan konsumen ketimbang petani, dan pengaruh positif ini patut diteliti lebih lanjut dalam konteks jangka panjang. a Produksi Padi (X. menunjukkan pengaruh signifikan negatif terhadap NTP dengan nilai signifikansi 0. Artinya, semakin tinggi produksi padi, semakin rendah NTP. Hal ini disebabkan oleh over-supply di pasar domestik terutama saat musim panen, yang menyebabkan turunnya harga gabah di tingkat petani. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Ae VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-3406. p-ISSN: 3031-3414. Hal. Uji Asumsi Klasik Hasil pengujian menunjukkan bahwa model memenuhi semua asumsi klasik: a Normalitas residual terpenuhi berdasarkan histogram dan normal P-P plot. a Tidak terdapat heteroskedastisitas, ditunjukkan oleh sebaran acak pada grafik a Tidak terdapat multikolinearitas yang berarti, karena semua nilai VIF < 10, meskipun X1 dan X2 memiliki VIF yang cukup tinggi . 045 dan 6. , namun masih dalam batas toleransi. Hasil Persamaan Regresi Berganda Persamaan Regresi yang diperoleh : 002X1 0. 005X2-0. Nilai Konsntanta yang diperoleh sebesar 123. 771 maka bisa diartikan jika variabel independen bernilai 0 (Konsta. maka variabel dependen bernilai 123. Nilai Koefisien Regresi Variabel X1 bernilai positif (-) sebesar 0. 002 maka bisa diartikan bahwa jika variabel X1 meningkat maka variabel Y akan menurun ataupun A Nilai Koefesien Regresi Variabel X2 bernilai Positif ( ) sebesar 0. 005 maka bisa diartikan bahwa jika variabel X2 meningkat maka variabel Y juga akan meningkat A Nilai Koefisien Regresi Variabel X3 bernilai negatif (-) sebesar 0. 192 maka bisa diartikan bahwa jika variabel X3 meningkat maka variabel Y akan menurun begitupun Hasil Analisis dan Pembahasan A Hasil menunjukan bahwa Harga Gabah tidak mempengaruhi secara langsung NTP ini menarik karena secara logika kita mengira bahwa kenaikan harga gabah meningkatkan kesejahteraan petani, hal ini bisa terjadi karena petani tidak sepenuhnya menikmati harga jual sebenarnya yang terjadi di pasar, diakibatkan karna banyak petani yangmasih menjual hasil panennya kepada tengkulak dengan harga lebih rendah selain itu juga selisih antara biaya produksi dan kehidupan yang tinggi membuat tidak terasa pada dampak kesejahteraan A Sebaliknya bahwa penelitian ini menunjukkan bahwa impor beras memiliki korelasi atau pengaruh positif pada kesejahteraan petani, ini menarik karna impor sering Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Ae VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 Analisis Pengaruh Harga Gabah. Impor, dan Produksi terhadap Kesejahteraan Petani dianggap bertentangan dengan kesejahteraan karna sebagai ancaman pada harga gabah lokal, tapi pada pratiknya impor beras ternyata membantu menjaga kestabilan harga pasar dan ketersediaan stok, sehingga mempengaruhi harga kebutuhan pokok petani yang mempengaruhi pada daya beli petani sehingga NTP tetap tinggi A Hasil menunjukan bahwa tingkat produksi berkorelasi dengan NTP, ini menarik, karna ditandainya dengan adanya oversupply terutama pada musim panen, karena penyerapan tidak optimal, petani menjual gabah dalam harga murah dengan porsi yang sangat banyak saat harga sedag turun karna banyaknya pasokan, ini menandakan peningkatan produksi tidak selalu dibarengi peningkatan kesejahteraan jika tidak ada yang mengontrol hasil para petani tersebut KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menunjukkan bahwa volume impor beras dan produksi padi berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan petani (NTP), sementara harga gabah tidak berpengaruh Impor beras justru berdampak positif terhadap NTP, kemungkinan karena perannya dalam menjaga stabilitas pasar. Sebaliknya, produksi padi berdampak negatif karena oversupply saat panen menurunkan harga gabah. Temuan ini menegaskan pentingnya sinkronisasi kebijakan impor dengan kondisi produksi domestik serta perlindungan harga petani. Jika tidak diatur dengan baik, kebijakan impor dapat melemahkan posisi petani, seperti diungkap dalam studi Yasinta et al. yang menyatakan bahwa dalam jangka panjang, liberalisasi perdagangan dan ketergantungan terhadap beras impor berpotensi melemahkan posisi petani sebagai produsen utama, serta menurunkan minat untuk terus bertani akibat ketidakpastian harga. UCAPAN TERIMA KASIH