Journal of Administrative and Social Science Volume. Nomor. Juli 2024 e-ISSN : 2828-6340. dan p-ISSN : 2828-6359. Hal. DOI: https://doi. org/10. 55606/jass. Available online at: https://journal-stiayappimakassar. id/index. php/jass Eksistensi Keluarga dalam Mendorong Pendidikan Bagi Perempuan pada Masyarakat Pamekasan. Madura Annisa Luluk Firdausie Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta annisafirdausie2@gmail. Abstract. Talking about gender has certainly become a very common discussion, especially in a patriarchal The purpose of this study is to obtain an in-depth description of the role of the family in women's education in gender equality and social development of Muslim communities in Pamekasan. The researcher used a qualitative-narrative method with a liberal feminist analysis. Data collection techniques include interviews, observations, and documentation in Muslim communities or Muslim families in the Pamekasan area. The researcher used a qualitative-narrative method with the theory of Liberal Feminism by Mary Wollstonecraft. The results of this study show how the role of the family in shaping gender understanding is very crucial, it can be a driving force or even an incredibly dangerous obstacle. Education is certainly the basis for providing a space for open reasoning for women to live in the public sphere. In the Pamekasan community. Madura, informants found that the patriarchal culture within the family environment still holds strong, considering women as second-class Therefore, the informants faced the first challenge from their family environment in gaining access to The informants found that they were underestimated and disrespected as women, not just because they were born as women but also because they were disrespected because they could not do anything but were guarded like women living in a family cage. Keywords: Gender equality for women, family, education Abstrak. Berbicara soal gender tentunya sudah menjadi pembahasan yang sangat umum apa lagi berada di negara yang patriarki. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan deskripsi mendalam tentang peran keluarga terhadap pendidikan perempuan dalam kesetaraan gender dan pembangunan sosial masyarakat muslim di Pamekasan Peneliti menggunakan metode kualitatif-naratif dengan analisis feminisme liberal. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan dokumentasi pada masyarakat muslim atau keluarga muslim di daerah Pamekasan. Peneliti menggunakan metode kualitatif-naratif dengan tori Feminisme Liberal oleh Mary Wollstonecraft. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bagaimana peran keluarga dalam membentuk pemahaman gender sangat krusial, bisa menjadi sebuah pendorong semangat atau bahkan menjadi penghambat yang luar biasa berbahaya. pendidikan tentu menjadi basis untuk memberikan ruang keterbukaan nalar bagi perempuan untuk hidup dalam ruang publik, di masyarakat pamekasan, madura dari para informan didapatkan, bahwa masih kuat akan budaya patriarki dari lingkungan keluarga yang menganggap perempuan itu sebagai manusia kedua sehingga mereka dari para informan itu tentu mendapatkan tantangan pertama kali dari lingkungan keluarga untuk mendapatkan akses pendidikan, dari informan tersebut didapatkan bahwa mereka dianggap remeh dan tak di hargai sebagai perempuan, bukan sekedar terlahir sebagai perempuan saja namun juga mereka tak di hargai karena mereka tak bisa apa-apa melainkan dijaga bagai perempuan hidup dalam sangkar keluarga. Kata Kunci: Kesetaraan gender perempuan, keluarga, pendidikan LATAR BELAKANG Kesetaraan gender terus menjadi isu sosial yang tidak bisa dihindarkan. Beberapa aspek dominan yang menjadi pemicu dan sering terjadi yaitu pendidikan. Kesenjangan pada bidang pendidikan telah menjadi faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap bidang lain di Indonesia (MadsaAoI, 2. Pendidikan sendiri memiliki peran yang penting terutama perempuan yang sering mengalami marginalisasi dari kaum laki-laki. Beberapa peran Received: Juni 11 , 2024. Revised: Juni 22, 2024. Accepted: Juli 20, 2024. Published: Juli 30, 2024. Eksistensi Keluarga dalam Mendorong Pendidikan Bagi Perempuan pada Masyarakat Pamekasan. Madura pendidikan sendiri menjadi aspek utama dalam sektor pengetahuan, keterampilan dan nilai nilai yang dapat membentuk pola pikir dan pengaruh masa depan. Sebagaimana dari aspek yang disebutkan di atas. Perempuan memang seringkali menghadapi satir kaca yang membatasi mereka untuk mencapai posisi kepemimpinan, serta gaji yang tidak setara dengan laki-laki walaupun mengerjakan pekerjaan yang sama. Dari Stereotip gender yang masih kuat juga menjadi hal yang mempengaruhi pilihan karir perempuan dan ekspektasi masyarakat terhadap peran mereka. Berbicara soal gender tentunya sudah menjadi pembahasan yang sangat umum apa lagi berada di negara yang patriarki. Agar tidak ada statement unggul dalam manusia, kesetaraan gender memang menjadi sebuah goal yang harus dicapai oleh seluruh umat manusia. Jacques Lacan dalam pendapatnya memaparkan bahwa dunia memiliki 2 kutub, yang mana laki laki adalah kutub positif yang bersifat substansial sedangkan perempuan adalah kubu negatif yang bersifat inferior yang dideskripkan adalah sesuatu yang penuh dengan kekurangan. Penyebab masalah yang sering ditujukan pada perempuan sendiri disebabkan karena perempuan sering menjadi objek dari ketidak kesetaraan gender tersebut. Dalam dunia pendidikan ungkapan yang menjadi diksi dari setiap propaganda yang sering didengar berupa " Perempuan tidak perlu pendidikan tinggi-tinggi, toh nanti akan masuk ke dapur juga ". Ungkapan tersebut sering terjadi, terutama di daerah perkampungan yang masih menganut pemikiran patriarki. (Beredikta, 2. mengungkapkan kedudukan dan peran perempuan ditentukan berdasarkan kesepakatan sosial suatu kelompok budaya atau masyarakat. Secara tidak langsung, ungkapan tersebut menjadi paradigma negatif kepada perempuan dan menjadi alasan klasik bahwa hidup perempuan hanya akan bergantung pada laki-laki. Sama halnya dengan masyarakat Pamekasan Madura yang masih menganggap pendidikan tinggi hanya untuk orang-orang yang terpilih. Mereka memiliki pemikiran bahwasanya, jenjang sarjana adalah bentuk pendidikan paling tinggi bagi mereka. Tidak hanya pada hal pendidikan, pada salary dan tingkat gaji pun terjadi marginalisasi antara kaum lakilaki dan perempuan (Nuraeni, 2. Beberapa faktor juga terkadang mengacu pada marginalisasi prospek kerja yang mereka tekuni. Pada pendidikan mereka memberikan limit bahwasanya perempuan cukup di level sarjana saja, akan tetapi dalam aspek sosial seperti pekerjaan, mereka tidak membandingkan pekerjaan yang layak dikerjakan oleh laki laki atau Seperti contoh, di Pamekasan Madura yang notabene kuli bangunan adalah lakilaki akan tetapi banyak perempuan yang juga ikut bekerja dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Journal of Administrative and Social Science- Volume. Nomor 2. Juli 2024 e-ISSN : 2828-6340. dan p-ISSN : 2828-6359. Hal. Berbicara mengenai batasan pekerjaan. Madura sendiri yang sudah dikenal sebagai daerah yang masyarakatnya senang merantau, tidak hanya terbatas se Indonesia akan tetapi juga manca negara. Segala sesuatu yang terjadi di sekitar masyarakat merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang terjadi karena adanya peran masyarakat tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung (Mesra et al. , 2. Berbicara mengenai isu kesetaraan gender disebutkan dalam laporan harian media Indonesia bahwa Indonesia masih menduduki posisi 103 dari 162 negara, nomor tiga terendah di Asean. Kemudian dari data lain juga ditemukan bahwa isu ini adalah Indeks Pembangunan Gender (IPG) pada tahun 2018 yang lalu berada di angka 90,99. Dengan kata lain, tingkatan pendidikan dan gaji dari perempuan bukan diatur dari seberapa tinggi dari pendidikan perempuan tersebut, karena sesulit apapun medan pekerjaan yang dialami perempuan akan selalu kalah dengan gaji laki laki yang Dalam aspek marginalisasi. Kedudukan dan peran perempuan dalam sistem sosial masih sering termarginalkan oleh pemikiran tradisi, budaya, dan kepercayaan masyarakat desa yang masih melekat erat di dalam pola pikir mereka. Hal ini dapat dibuktikan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) perempuan yang lebih rendah dengan laki laki dari setiap Dari data tersebut juga bisa dikaitkan dengan peran keluarga yang sangat berpengaruh dan dominan dalam hal menanamkan nilai-nilai kesetaraan terhadap perkembangan kehidupan anggota keluarganya. Apa Lagi dalam hal pendidikan biasanya yang lebih diutamakan adalah anak laki-laki daripada anak perempuannya karena pertimbangan anak perempuannya hanya akan ke dapur (Asni, 2. Dengan kata lain, adanya sebuah ketidakadilan biasanya diawali dari ranah keluarga atau rumah tangga dalam bentuk diskriminasi laki laki terhadap anak perempuan. Penelitian ini berangkat dari asumsi masyarakat bahwa perempuan hanya cukup di Namun pada faktanya banyak perempuan pamekasan yang juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya namun di luar batas pekerjaan semestinya. Yang menjadi pembeda dari penelitian sebelumnya, penelitian ini lebih mencondongkan dari sudut pandang keluarga dan masyarakat, jadi tidak hanya sebatas oleh sosial kultural saja. Masih dibilang cukup banyak perempuan muslim Pamekasan yang bekerja di luar batas kemampuan perempuan biasanya, seperti menjadi kuli bangunan. Seperti yang disebutkan di atas masyarakat Pamekasan sendiri memberikan batasan terhadap tingkat pendidikan yang harus ditempuh oleh perempuan sendiri akan tetapi mereka diberikan kebebasan untuk pekerjaan apapun baik itu diluar batas kemampuan seorang perempuan sendiri. Yang lebih buruknya Eksistensi Keluarga dalam Mendorong Pendidikan Bagi Perempuan pada Masyarakat Pamekasan. Madura upah yang mereka terima juga tidak sebanding dengan upah laki-laki yang juga bekerja seripa dengan pekerjaan perempuan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan deskripsi mendalam tentang peran keluarga terhadap pendidikan perempuan dalam kesetaraan gender dan pembangunan sosial masyarakat muslim di pamekasan. Secara lebih khusus, penelitian ini akan menjawab dua pertanyaan, pertama bagaimana peran anggota keluarga untuk membentuk pola pikir anggota keluarganya. Tidak hanya itu, penelitian ini juga akan menjawab Bagaimana kontribusi pendidikan perempuan, yang didukung oleh peran keluarga, terhadap kesetaraan gender dan pembangunan sosial di Pamekasan. METODE PENELITIAN Peneliti menggunakan teknik komparatif konstan sebagai dasar untuk menganalisis dari kejadian kemudian membandingkan setiap temuan yang ditemukan oleh informan yaitu variasi masyarakat muslim atau keluarga muslim di daerah Pamekasan. Peneliti memilih pendekatan kualitatif-naratif untuk memungkinkan peneliti bisa mengeksplorasi dari berbagai paradigma, pengalaman serta pemahaman individu maupun kelompok sehingga mendapatkan data yang bersifat holistik tentang konteks sosial. Penelitian ini meliputi partisipasi informan, observasi dan interview. Dilihat dari poin utamanya yaitu informan, maka informan tersebut memiliki peran penting dalam penelitian ini. Sasaran peneliti ada 4 orang informan. AZ umur 45 tahun yang merupakan perempuan muslimah karir yang sedang bekerja . emiliki penghasila. SR umur 30 tahun yang tergolong keluarga muslimah yang tidak bekerja (Ibu Rumah Tangg. RK 25 tahun seorang mahasiswi yang sedang menempuh S2 dan terakhir NH 22 tahun, perempuan muslimah yang sedang dalam masa perundingan keluarga untuk tidak melanjutkan kuliah lebih tinggi. Peneliti memilih 4 informan tersebut karena dipertimbangkan dari kelas sosial di masyarakat. Setiap informan akan diberikan pertanyaan kurang dari 10 pertanyaan dengan bentuk variasi pertanyaan dalam kurun waktu tidak lebih dari 2 jam. Penelitian ini menghabiskan waktu selama sebulan yang mana terhitung ada 3 kali wawancara dalam sebulan, yaitu terhitung tanggal 22 April, 30 April dan 10 Mei 2025. Dalam analisis data, peneliti menggunakan analisis data reduksi, yang mana mencakup verifikasi display data, pemeriksaan keabsahan data temuan yang sejalan dengan teori yang dikembangkan oleh Lincoln dan Guba . yaitu berupa derajat kepercayaan, keteralihan, kebergantungan dan kepastian. Kemudian data yang terkumpul dianalisis secara tematik yang mana melibatkan kategorisasi data yang melibatkan pola dan isu utama yang muncul dalam penelitian ini. Dengan pendekatan ini, peneliti memungkinkan untuk bisa mengeksplorasi Journal of Administrative and Social Science- Volume. Nomor 2. Juli 2024 e-ISSN : 2828-6340. dan p-ISSN : 2828-6359. Hal. setiap keragaman kejadian yang dialami masyarakat muslim Pamekasan dari konteks berbeda. Langkah akhirnya, hasil penelitian akan dibahas dan juga divalidasi dengan para informan untuk memastikan relevansi temuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Keluarga Terhadap Pendidikan Perempuan di Pamekasan Madura Masyarakat sendiri memiliki identitas yang mutlak dalam sebuah peran peradaban. Adanya sebuah hubungan masyarakat tersebut tentunya dilandasi dalam sebuah peran keluarga agar bisa terjun ke masyarakat secara baik, baik dari segi sosial ataupun moral. Masyarakat memiliki identitas kepribadian yang memiliki acuan dari keluarga yang spesifik sebagai contoh komunikasi, hukum atau prinsip yang memunculkan adanya hubungan atau interaksi sosial didalamnya (Taufiq, 2. Dalam sebuah keluarga, peran yang bisa ditampilkan juga sangat mempengaruhi pola pikir dari anggota keluarga sendiri, terutama Oleh karena itu peran keluarga sangat menentukan terhadap bagaimana perempuan itu memandang dan menilai diri sendiri, mengembangkan potensi dan poin utamanya adalah menanamkan nilai dan norma tentang kesetaraan gender agar perempuan tumbuh dalam keadilan, kesetaraan dan mendapatkan peluang yang setara. Dalam ranah konteks sosial dan budaya, perempuan sering kali dihadapkan dengan peran- peran yang tidak setara, seperti pembatasan peran dan condong pada nasib hidup yang ditentukan oleh pemikiran patriarki. Akan tetapi sebaliknya, jika keluarga menanamkan pola keyakinan bahwa mereka layak untuk setara dengan laki-laki dalam apapun, seperti hak, kemampuan, peran, mengambil keputusan dalam hidupnya seperti mengejar karir, mengejar pendidikan atau bahkan didukung untuk menjadi pemimpin dalam suatu bidang. Salah satu bentuk konkretnya dalam keluarga yang mendukung kesetaraan gender yaitu berupa keluarga yang memberikan akses dan dukungan penuh untuk pendidikan anak perempuannya. Kenapa pendidikan? Dalam segi apapun, tolak ukur kesusksesan seorang perempuan bukan ia yang memiliki paras cantik atau bahkan tubuh yang proporsional, akan tetapi ia yang bagus pendidikannya sehingga menunjang pola karirnya yang sukses. Ketika mengikuti kerangka berfikir para pemikir feminisme liberal, maka persoalan pendidikan juga merupakan jalan utama bagi perempuan untuk bisa mengembangkan potensinya baik intelektual, emosional, serta keterampilan hidup yang tentunya akan mempengaruhi masa depannya (Zaharok, 2. Sejatinya, ruang keluarga menjadi satu basis utama melahirkan kebebasan dan kesetaraan. Dari keluarga pendidikan itu harus diberikan Eksistensi Keluarga dalam Mendorong Pendidikan Bagi Perempuan pada Masyarakat Pamekasan. Madura secara sama rata san adil tanpa ada diskriminasi. Pendidikan itu membebaskan bagi siapapun, dan bukan bagi laki-laki, ketika ruang pendidikan hidup dalam lingkungan patriarki, maka hasil yang dilahirkan berupa sistem kekerasan terhadap perempuan, baik itu di sadari maupun tidak Seperti pada data AZ yang merupakan seorang dosen AuAda desa-desa yang perempuan masih dianggap AumakmumAy saja, tidak diberi ruang berpendapat. Ini menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya meresap ke tingkat nilai dan budaya lokalAy. Dari data tersebut menunjukkan bahwa, masih banyak keluarga di indonesia belum memiliki kesadaran akan menerapkan pendidikan itu adalah milik bersama, seringkali lingkungan patriarki mengikat perempuan sebagai wajah kedua. Mary Wollstonecraft . menerangkan bahwa dalam kehidupan yang bersistem patriarki, bahwa perempuan selalu dalam keadaan di penjara dan seringkali dianggap sebagai peliharaan. Ini kemudian di kembangkan dalam nilai-nilai masyarakat yang tendensi patriarki sampai dengan lingkungan terkecil, yakni keluarga membentuk sistem strata bahwa perempuan inferior dan laki-laki Akan tetapi menurut Wollstonecraft semua peran sosial dari pekerjaan sampai pendidikan dalam lingkungan patriarki telah menindas bagi perempuan karena mereka harus diam di rumah sehingga menjadi objek-pasif sedangkan laki-laki bekerja sebagai wujud subjek, kemudian inilah menjadikan kebiasaan di tengah masyarakat sendiri. Sehingga penting untuk semua itu di patahkan (Tong, 2. Keadaan ini terjadi di Pamekasan. Madura, secara garis besar bahwa perempuan berada pada situasi bebas dalam mengakses ruang publik seperti pendidikan tentu secara dasar dipengaruhi dari lingkungan keluarga sampai dengan masyarakat. Seandainya dukungan penuh yang diekspresikan oleh keluarga seperti pujian rasa percaya diri bisa menjadi pemicu dorongan dari segi emosional untuk perempuan karena lebih banyak dari tantangan perempuan untuk mendapatkan kesetaraan gender adalah dari segi tantangan sosial dan budaya. Misalnya, dalam konteks keluarga dan masyarakat yang patriarki atau tidak notabene sampai saat ini yang masih memegang ruang keputusan bagi seorang untuk berperilaku dan bertindak, sekaligus menentukan paradigma diri mereka sebagai perempuan. Bahwa ketika para perempuan lahir di lingkungan patriarki, maka kebebasan mereka untuk mengakses sangat minim dan sebaliknya jika perempuan hidup di lingkungan memiliki kesadaran gender tinggi maka akses untuk pendidikan pun secara bebas didapatkan. Lebih jauh, setelah adanya sebuah observasi di Pamekasan Madura. Peneliti menemukan adanya peran keluarga juga memegang peran kuat untuk menghapus stereotaip atau pandangan masyarakat lebih-lebih konstruksi sosial yang sangat membatasi perempuan. Journal of Administrative and Social Science- Volume. Nomor 2. Juli 2024 e-ISSN : 2828-6340. dan p-ISSN : 2828-6359. Hal. sedangkan laki-laki sendiri dianggap sebagai pemegang penuh kendali atas semua keputusan dan pemimpin dalam hal pemenuhan nafkah keluarga. Data tersebut ditemukan peneliti saat wawancara yang mana laki-laki memang lebih sering memulai dan mengawali pembicaraan. Seringkali dalam keluarga, perempuan hanya dialihfungsikan sebagai alat pemenuhan domestik keluarga (Astutik dkk, 2. Apabila keluarga terus-terusan melonggarkan pandangan ini, maka secara otomatis anak perempuan akan mengalami keterbatasan untuk bebas mencari jati diri dan bermimpi untuk meraih impiannya. Sebaliknya, jika perempuan merasakan pembagian yang adil dalam keluarga di rumah, maka juga akan secara otomatis bisa membentuk anak untuk ia bisa cermat dalam mengambil keputusan, mengembnagkan Marykarir dan tentunya juga dalam hal memilih pasangan. Berdasarkan pada informan pertama. Bu AZ yang mana beliau adalah seorang wanita karir dari keluarga berada, bapaknya seorang pejabat desa yang mana memang struktur keluarganya yang berpendidikan, menegaskan jika sebuah pendidikan pada perempuan tidak hanya mengenai peran sentral saja akan tetapi juga bisa membentuk semua aspek keadilan pada perempuan itu sendiri. Melalui teori feminisme liberal, yang umumnya perempuan memang kodratnya adalah lemah terbantahkan ketika peneliti memberikan beberapa pertanyaan kepada narasumber. Dari data Auketika seorang perempuanya memiliki akses pendidikan yang lebar dan layak, mereka bisa jadi sebuah aset untuk masa depan keluarganya nanti terutama untuk anaknya di masa mendatangAy. Dari data ini, menurutnya perempuan yang mengakses pendidikan tinggi memiliki peluang untuk menjadi agen perubahan, tidak hanya dalam lingkup keluarga, tetapi juga dalam masyarakat yang juga sejalan dengan teori Mary Wollstonecraft yang menyebut bahwa pendidikan membentuk keberanian, wawasan, dan kemampuan perempuan untuk aktif dalam kehidupan sosial. Di Pamekasan sendiri masih rentang resistensi budaya. Akan tetapi ia juga memberikan pandangan dari segi agama. Maksudnya disini adalah pemahamanan agama yang baik bisa menjadi penolong dengan catatan diberikan sebuah pemahaman yang baik, kontekstual dan progresif. Namun sebaliknya juga bisa menjadi penghalang dari adanya perubahan besar pada perempuan terutama perempuan yang hidup di daerah pedesaan atau Seperti pada salah satu kutipan jawabannya saat wawancara informan NH. Autentunya kan ada dua sisi nanti, misal nilai positifnya yang diajarkan dalam kata lain secara kontekstual dan progresif, maka pendidikan agama bisa sangat mendukung kesetaraanAy. Ini menunjukkan bahwa keluarga Muslim di Pamekasan berada di tengah tarik- menarik antara interpretasi budaya agama dan semangat modenisasi. Eksistensi Keluarga dalam Mendorong Pendidikan Bagi Perempuan pada Masyarakat Pamekasan. Madura Dari sisi ekonomi sosial, masyarakat muslim Pamekasan Madura masih banyak dari dominasi perempuan yang tidak memiliki wewenang untuk akses sumber daya manusia yang Seperti adanya pelatihan keterampilan. Yang mana akibatanya, dari keterbatasan tersebut juga mempengaruhi pada jenis pekerjaan yang diterima oleh perempuan muslim Pamekasan Madura. Mereka terjebak dalam ranah pekerjaan informal dengan upah yang terbilang rendah. Padahal sejatinya jika perempuan yang berpendidikan memiliki keterampilan yang profesional cenderung dan lebih produktif, mandiri secara finansial dan bisa mengangkat taraf hidup keluarganya. Tidak hanya itu, melihat masyarakat Pamekasan Madura yang perempuan cenderung menikah muda karena faktor Auketidak- adaan pekerjaan atau ketidak ngapa-ngapainAy maka perempuan majunya tersebut juga akan cenderung menunda pernikahan, bahkan frekuensi untuk memiliki jumlah anak juga akan diperhitungkan serta pemerhatian kesehatan dan pendidikan anaknya yang lebih serius sehingga yang pada akhirnya mengurangi siklus kemiskinan antar generasi. Dengan demikian, jelas bahwa keluarga adalah pemeran atau aktor sentral dalam pembentukan arah dan masa depan perempuan dan tentunya melalui penanaman nilai-nilai kesetaraan gender. Dari sebuah upaya keluarga tersebut untuk mengedepankan keadilan gender maka nantinya tidak hanya memberikan manfaat bagi perempuan secara individu, akan tetapi tentunya juga berdampak besar bagi pembangunan masyarakat yang lebih terbuka, inklusif, adil, dan maju. Ketika perempuan didukung untuk berkembang tanpa diskriminasi, maka secara mutlak perempuan tersebut akan menjadi agent of change yang kuat dalam berbagai segi bidang kehidupan. Oleh karena itu, investasi nilai dan perhatian keluarga terhadap kesetaraan gender merupakan langkah awal yang sangat strategis dalam menciptakan masa depan yang cerah dan penuh kemungkinan bagi perempuan. Analisis teori Feminisme Liberal dalam kebebasan Pendidikan Bagi Perempuan di Pamekasan Madura Dalam hal ini, peran pendidikan dalam gender mengenai intelegensi tentang perspektif yang sering muncul bahwa kekuatan otak manusia cenderung lebih kuat laki-laki daripada Namun, hal itu perlu diperjelas bahwasanya sebuah kecerdasan bukanlah monopoli laki-laki atau khusus perempuan saja, akan tetapi adalah hal milik bersama. Dengan kata lain, perlunya sebuah pengaplikasian dari pendidikan yang lebih bijaksana, seperti contohnya memanfaatkan kepintaran perempuan dalam bidangnya atau sebagaimana mestinya laki-laki Mary Wollstonecraft Journal of Administrative and Social Science- Volume. Nomor 2. Juli 2024 e-ISSN : 2828-6340. dan p-ISSN : 2828-6359. Hal. mengungkapkan dengan adanya pemberdayaan perempuan juga bisa menjadi investasi guna sebagai perbaikan seluruh masyarakat. Karena sejatinya tidak semua kecerdasan adalah bawaan lahir atau sekedar dia adalah seorang laki-laki atau perempuan. Dengan kata lain, pendidikan berperan mempengaruhi kesetaraan gender, tidak hanya berkat informasi edukatif yang diterima oleh kaum perempuan dan laki-laki sebagai masyarakat melainkan pendidikan juga harus mempengaruhi para pemangku adat dan kepentingan, dalam diri para tua adat dan pemuka masyarakat. Secara kilas balik, masyarakat tradisional sendiri di Pamekasan Madura masih memainkan peranan dominan dalam membentuk pemahman anak tentang peran gender. Dari teori konstruksi peran gender sendiri muncul saat peneliti mewawancarai Ibu Nur Azizah. Dari wawancara yang sudah berlangsung tercerminkan bahwa beliau dari keluarga yang mendukung dan memberikan akses dan dukungan penuh terhadap pendidikan. Dari datanya juga ditemukan bahwa pendidikan hanya sebatas untuk mencari uang atau pekerjaan saja atau sekadar membantu para suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga akan tetapi juga sebagai sarana membentuk kesadaran, partisipasi sosial dan keberanian. Pernyataan dari Ibu AZ juga sejalan dengan pemikiran Paulo Freire tentang bagaimana Aupendidikan sebagai praksis pembebasan Au dari pernyataan tersebut dicerminkan bahwa adanya sebuah subjek yang tertindas maka dibutuhkannya sebuah kesadaran yang penuh dan kritis agar adanya sebuah tindakan perubahan. Pemahaman mengenai kesetaraan gender bukan sekedar bagi perempuan saja, namun ini bagi semua orang. baik individu, keluarga, masyarakat, sekolah maupun negara. Pentingnya pendidikan tentu menjadi satu nafas utama dalam mengejar banyak hal, sekaligus juga adanya kesempatan pendidikan yang sama antara perempuan dan laki-laki menandakan ruang kompetisi diberikan kepada manusia, yakni laki-laki dan perempuan, bukan sematamata laki-laki saja (Nuraeni & Suryono, 2. Dalam teori feminisme liberal memasukkan perjuangan atas hak-hak kehidupan bagi laki-laki dan perempuan sama dalam ruang publik, bahwa ruang domestik dan publik yang ter konstruksi dari kepemilikan domestik dari perempuan dan publik dari laki-laki merupakan susunan dari pekerjaan lingkungan patriarki. Semua itu telah ter konstruksi sejak lama sehingga inilah yang menjadikan perempuan dalam lingkungan patriarki selalu menjadi objek atau korban. Perempuan terpenjara dan tak terbebaskan sehingga keadilan bagi perempuan untuk memperoleh ruang publik tidak sama sekali mereka dapatkan (Kalof, 1. Menurut Tong . tujuan utama feminisme liberal tidak lain dari menciptakan Eksistensi Keluarga dalam Mendorong Pendidikan Bagi Perempuan pada Masyarakat Pamekasan. Madura masyarakat yang adil dan peduli dengan perkembangan yang bebas bagi siapa pun itu. Artinya gerakan ini mengupayakan bahwa perempuan sama dengan laki-laki dalam ruang publik sehingga dari lingkungan keluarga sampai dengan masyarakat yang bisa menciptakan kebebasan dan keadilan bagi sesama menunjukan jalan keuntungan dan keharmonisan. Persoalan bekerja, menjadi pemimpin dan bahkan mengajar pendidikan tentu harus di akses bersama-sama baik dari laki-laki maupun perempuan dikarenakan ruang itu adalah bagian publik, dan setiap ruang publik bisa dinikmati secara bersama-sama tanpa ada diskriminasi satu sama lain. Praktik ketidaksetaraan gender di daerah Pamekasan dapat dilihat dari warga perempuannya yang didominasi dengan non pekerja atau hanya sebatas ibu rumah tangga saja. Sebenarnya, yang menjadi pertimbangan di sini bukan hal dari seorang perempuan yang tidak bekerja, akan tetapi dari segi minimnya perempuan yang diperbolehkan atau diizinkan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi sehingga potensi untuk seorang bekerjapun juga sedikit atau bahkan hampir tidak ada. Seperti dari ungkapan salah satu kepala desa di daerah Pamekasan. Bapak UT mengungkapkan bahwa AuHanya ada 2:8 dari perbedaan perempuan dan laki-laki yang diperbolehkan untuk lanjut pendidikanAy. Bahkan, dari hasil penelitian sendiri perempuan-perempuan tersebut adalah rata-rata anak Kyai, dosen atau bahkan anak pejabat desa. Hal itu bukanlah hal yang aneh bagi salah satu kepala desa tersebut. Di era globalisasi yang semakin berkembang, perempuan tentunya punya potensi agar tidak Namun, kenyataannya bahwa kesenjangan gender pada perempuan masih ada terutama dalam hal pendidikan dan menjadi masalah di beberapa tempat. Masih banyak perempuan yang mengalami deskriminasi sehingga membuat perempuan tertinggal dari lakilaki, baik secara pembatasan akses belajar maupun secara tidak langsung melalui tekanan budaya dan lingkungan sosial yang membatasi ruang geraknya. Oleh karena itu adanya sebuah pendidikan yang bersenter gender itu sangat dibutuhkan, tidak hanya untuk meningkatkan kualitas intelektual perempuan namun juga untuk membongkar konstruksi sosial yang selalu memojokkan perempuan sebagai pihak yang lemah dan seakan-akan selalu bergantung pada laki- laki. Dengan kata lain, pendidikan kesetaraan gender bisa menanamkan pemahaman bahwa laki- laki dan perempuan memiliki hak yang sama dan setara untuk memperoleh ilmu pengetahuan, baik itu untuk berkembang secara pribadi, serta menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa harus dihalang oleh norma atau stigma sosial. Sejalan dengan itu, sangat penting untuk difahami bahwa pendidikan kesetaraan gender tidak hanya sekedar memberikan perempuan peluang untuk bersekolah atau melanjutkan Journal of Administrative and Social Science- Volume. Nomor 2. Juli 2024 e-ISSN : 2828-6340. dan p-ISSN : 2828-6359. Hal. sekolah ke perguruan tinggi, akan tetapi juga berhubungan dengan kurikulum atau akses pendidikan itu dibentuk atau dirancang. Dari data informan Ibu ST Aupertama, resistensi Kedua, kurangnya guru dan tenaga pendidik yang faham isu gender. Ketiga, kurikulum yang belum inklusif. Kita butuh pendekatan yang menyeluruh, bukan hanya memberikan akses sekolah, tapi juga membangun pemahaman kritis tentang relasi laki-laki dan perempuanAy. Dengan itu mengartikan bahwa kurikulum, sistem belajar, nilai-nilai yang terkandung nantinya dapat mencerminkan bahwa kesetaraan gender dalam pendidikan itu tidak seburuk itu. Seperti dari Mary Wollstonecrft sendiri yang selalu mengumpamakan perempuan seperti barang tiruan, maka dia juga harus punya hak sama dan setara dengan lelaki. Karena seperti yang kita lihat saat ini banyak sistem pendidikan yang secara halus masih menempatkan posisi perempuan dalam posisi subordinasi. Seperti contohnya ada beberapa bidang pelajaran yang hanya distereotipkan hanya cocok untuk laki-laki tidak untuk perempuan dengan kata lain perempuan hanya bisa melakukan pekerjaan yang ringan saja, seperti contohnya dalam dunia teknik. Dengan itu secara tidak langsung menyusutkan semangat perempuan dan membuat mereka merasa Autidak pantasAy atas pekerjaan tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan informan selanjutnya, berbeda dengan informan sebelumnya Mbak SR seorang ibu rumah tangga yang hanya berpendidikan hingga tingkat SMA, menjadi contoh nyata bagaimana keluarga berperan sebagai penghambat pendidikan Alasan yang dikemukakan oleh orang tuanya mencerminkan pola pikir tradisional, bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena peran utamanya hanya di dapur. Meskipun memiliki potensi akademik yang baik. Mbak SR tidak mendapatkan dukungan keluarga untuk melanjutkan kuliah. Dari cerita mbak SR sendiri mencerminkan adanya sebuah kenyataan sosial dari segi sejauh mana keputusan keluarga tersebut membentuk perempuan untuk mengakses pendidikannya. Dari data tersebut ditemukan AuYang kuliah itu jarang sekali. Kalau pun ada, biasanya dari keluarga yang agak terbuka atau orang tuanya sudah pernah merantau dan juga yang memang sudah kaya dari dulu mbak. Rata-rata yang kuliah disini itu anak dosen atau nggak anak kyai mbak, paling mentok anaknya ustadz mbakAy. Data tersebut menunjukkan bahwa stratifikasi sosial mempengaruhi peluang anak perempuan terhadap masyarakat muslim di Pamekasan. Berbeda dengan data dari RK Auperempuan itu harus punya power sendiri, ga boleh ketergantungan ke suaminya nantiAy. Dengan data tersebut ditemukan adanya bantahan yang juga sesuai dengan Mary Wollstonecraft bahwasanya ketergantungan juga bisa menjadikan perempuan lemah, pasif dan hanya tunduk dengan kekuasaan lelaki Dari wawancara SR sendiri memunculkan beberapa skeptis berupa pemahaman keluarga Eksistensi Keluarga dalam Mendorong Pendidikan Bagi Perempuan pada Masyarakat Pamekasan. Madura yang cenderung menanamkan sebuah pemahaman bahwa seorang perempuan pada akhirnya juga akan di dapur, dalam tanda kutip hanya akan berperan di ranah domestik saja. Ini sesuai dengan teori gender socialization yang mana dikemukakan oleh Sandra Gem. Menurutnya keluarga adalah agen utama yang mentransmisikan nilai-nilai gender dengan pola pengasuhan, tutur kata atau ucapan. Sebuah pandangan bahwa Auperempuan tidak usah sekolah tinggi karena akhirnya akan menjadi istriAy merupakan definisi dari nilai patriarki yang umurnya sudah mengakar kuat. Dengan ini menunjukkan adanya akses pendidikan tidak hanya disebabkan oleh aspek ekonomi akan tetapi karena aspek ideologi budaya patriarki. Sejalan dengan itu, data lain juga menunjukkan adanya harapan dari informan. Selain dari pengalaman informan SR yang mengalami hambatan dalam akses pendidikan yang layak. SR mengalami adanya sebuah penyesalan atas hilangnya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Dari data AuSekarang saya menyesal hanya di rumah saja, bantu suami. Kadang iri juga lihat teman-teman yang bisa kerja dan bantu ekonomi keluargaAy Dari pengalamannya, selaras dengan teori Feminisme Liberal yang mana posisi disini berada pada fase generasi transisi. Dari data juga menunjukkan adanya sebuah mekanisme transgenerasional dalam perubahan opini pada keluarga terhadap pendidikan Siti diposisikan sebagai potret perempuan yang masih sadar akan pentingnya pendidikan, meskipun masih dalam terkungkung struktur lama atau kendali dari keluarganya. Dalam tekanan patriartikal yang lebih kompleks juga muncul dalam kasus informan 3. Mbak NH. Yang kondisinya dalam masa perundungan keluarganya sendiri meskipun punya tekat kuat untuk melanjutkan kuliah bahkan sudah berniat untuk melanjutkan beasiswa. Namun ia juga harus menghadapi berbagai penolakan dari keluarganya sendiri. Dalam hal ini, peran keluarga menjadi sebuah institusi patriarki dari pandangan otonomi perempuan. Dari data AuAdakalanya Saya merasa ga dihargai oleh keluarga sendiri. Apalagi kan saya anak perempuan satu- satunya. Yang lain mas dan adik saya laki-lakiAy data dan situasi ini juga menunjukkan bagaimana dalam relasi kuasa dalam keluarga muslim di daerah konservatif Pamekasan tersebut masih sangat kuat sehingga menjadi hambatan utama bagi perempuan yang juga pernah dicetuskan oleh Mary Wollstonecraft bahwasanya peran gender adalah hasil konstruksi sosial, bukan sebatas kodrat ilmiyah saja. Meskipun pada dasarnya informan 3 masih punya keinginan akan tetapi tekad dia akan kalah dengan dominasi keputusan dari Dari beberapa informan yang diperoleh data bahwa keluarga memang menjadi jantung dari kehadiran pendidikan pertama kali sekaligus juga menjadi ruang keputusan untuk seorang Journal of Administrative and Social Science- Volume. Nomor 2. Juli 2024 e-ISSN : 2828-6340. dan p-ISSN : 2828-6359. Hal. anak bisa mengakses atau tidak pendidikan secara bebas, ada dari mereka yang hidup di keluarga patriarki dan ada keluarga hidup di keluarga memiliki kesadaran gender, setiap keluarga itu mempengaruhi ruang kesempatan bagi perempuan untuk mengakses pendidikan di masyarakat pamekasan, madura. Seringkali dapat dibaca bahwa lingkungan patriarki yang menyatakan bahwa memposisikan perempuan harus melulu di ruang domestik memberikan label perempuan sebagai manusia kedua, menurut Mary Wollstonecraft Dalam bukunya berjudul AuA Vindication of the Rights of WomenAy bahwa perempuan harus bebas dari perbudakan yang di jalani secara struktural melalui budaya patriarkis. Perempuan itu utuh yang disebut oleh Wollstonecraft sebagai Personhood yakni perempuan yang tak bisa dijadikan mainan dari laki-laki. Ketika melihat lebih seksama dari data tersebut ditemukan bahwa peran keluarga menjadi pengaruh dari perempuan untuk melanjutkan pendidikan di masyarakat pamekasan. Dari informan yang didapatkan bahwa para perempuan hidup dalam keadaan tidak utuh atau Personhood sebab mereka sebagai perempuan tak berpendidikan dianggap remeh temeh, lemah dan selalu diabaikan dalam lingkungan keluarga. Peran keluarga yang diharapkan menjadi ruang motivasi pertama untuk sang anak berkembang, ternyata harus membisu karena mereka hidup di lingkungan patriarki yang menjunjung kehidupan androsentrisme (Tong, 2. Tentu beberapa para informan yang dijadikan referensi dalam tulisan ini tidak mewakili semuanya masyarakat pamekasan, namun mereka adalah satu suara yang memiliki titik kesamaan, bahwa ketika mereka lahir sebagai perempuan, mereka tidak menjadi manusia yang utuh untuk bebas mendapatkan pendidikan, melainkan perempuan yang hidup dalam konstruksi sosial sebagai kepemilikan dari laki-laki dalam budaya keluarga patriarki (Ismail et al. , 2. Tong . menjelaskan dalam feminisme liberal bahwa perempuan dan laki-laki itu tidak terpisah secara publik, namun mereka memiliki ruang kesamaan dan kesetaraan sehingga memiliki akses dan perjuangan yang sama untuk mendapatkan banyak hal. Kesempatan yang sama dalam pendidikan menjadikan perempuan akan tumbuh sebagaimana melihat para lakilaki (Sudirman, 2. Tentu peran dari keluarga sangat atensi untuk hadir secara dasar apabila keluarga sendiri memberikan dukungan untuk para perempuan dan laki- laki mengakses pendidikan yang sama. Perempuan tidak sekedar aset bagi laki-laki, namun perempuan seperti laki-laki yang memiliki kemampuan yang sama. Akan tetapi budaya patriarki yang di wariskan membuat perempuan tersembunyi dan tak memiliki suara untuk bebas dalam hadir dalam ruang publik (Tong, 2. Eksistensi Keluarga dalam Mendorong Pendidikan Bagi Perempuan pada Masyarakat Pamekasan. Madura Dengan adanya kesempatan pendidikan bagi perempuan, maka mereka bisa mengembangkangkan nalar berfikir mendalam, kemudian dengan akses pendidikan yang sama inilah perempuan dan laki-laki bisa menunjukkan ruang kompetisi dalam mengejar Jika perempuan diabaikan dalam penguatan nalarnya, seperti melalui pendidikan dari keluarga maupun masyarakat, maka perempuan akan berada dalam AusangkarAy yang membuat mereka tidak bisa bebas seperti yang di jalani laki-laki. Perempuan akan diabaikan, jikapun ada kepedulian kepada mereka posisi yang seringkali di letakkan perempuan akan sebab mereka dianggap sangat AuemosionalAy, padahal semua itu merupakan hasil konstruksi sistem yang memenjarakan perempuan untuk tidak diberikan kebebasan dalam nalarnya, artinya akses untuk pendidikan bagi perempuan jika tidak ada, maka perempuan akan identik dengan nuansa manusia emosional dan laki-laki dianggap rasional sebab mereka diberikan kebebasan untuk mengakses ruang publik seperti pendidikan (Tong, 2. Oleh karena itu, ditarik kesimpulan bahwa pendidikan kesetaraan gender pada perempuan bukan hanya menjadi agenda penting dan sangat krusial dalam perjuangan hakhak perempuan, akan tetapi juga bagian integral dari pembangunan manusia yang utuh dan berkelanjutan agar tidak ada yang merasa dirugikan dalam berkehidupan sosial. Pendidikan yang adil dan setara tidak hanya membebaskan perempuan dari belenggu ketidakadilan dan ketidakbebasan, tetapi juga membuka pintu bagi peran aktif mereka dalam membentuk masa depan yang lebih baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, dan bagi bangsanya. Oleh karena itu, setiap langkah dalam memperjuangkan pendidikan kesetaraan gender harus dilihat sebagai investasi jangka panjang yang tak ternilai bagi peradaban yang lebih maju, manusiawi, dan Dengan demikian, dapat ditemukan bahwa peran keluarga dalam masyarakat Pamekasan Madura sangat berdampak apakah perempuan dalam keluarga tersebut akan mendapatkan pendidikan yang setara atau tidak. Dalam masyarakat Pamekasan yang masih cenderung menjunjung tinggi nilai tradisional, dengan kata lain keluarga masih memiliki peran dominan dalam hal menentukan masa depan anak perempuanya. Dalam sudut pandang Wolstonecraft, penolakan dari pendidikan perempuan sendiri dikategorikan sebagai penindasan intelektual yang tidak berdasar. Ia juga menegaskan bahwasanya perempuan bisa mencapai sebuah kemandirian jika ia diberikan untuk membentuk otonomnya sendiri. Ketika perempuan dipaksa untuk tunduk, maka secara otomatis sebuah kehidupan keluarga tidak akan bisa tumbuh di atas prinsip rasionalitas serta kesetaraan. Sebaliknya akan terus dalam ranah ketimpangan yang diwariskan. Journal of Administrative and Social Science- Volume. Nomor 2. Juli 2024 e-ISSN : 2828-6340. dan p-ISSN : 2828-6359. Hal. Kemudian, masyarakat Pamekasan Madura umumnya masih kuat dengan struktur patriarki sehingga peran ayah atau laki-laki lebih memiliki sifat dominan. Pola ini mencerminakan hilangnya agensi perempuan dalam menentukan pilihannya sendiri yang mana sangan ditentang oleh Wollstonecraft. Dari kacamata Wollstonecraft sendiri, hal itu merupakan sebuah bentuk ketidakadilan struktural yang terjadi secara sistemik melalui keluarga. Menurutnya, mendidik perempuan itu bukan bentuk dari pemberontakan terhadap adat akan tetapi merupakan langkah moral dengan harapan menciptakan penerus yang terbuka dan Tidak hanya itu, juga ditemukan bahwa seorang ibu sendiri adalah sumbangsih pelaku pasif terhdapa pelanggengan ketidaksetaraan. Seperti melarang ankanya untuk bermimpi tinggi atau bahkan menyuruhnya untuk segera menikah. Kondisi ini bukanlah perihal tentang si ibu yang tidak pernah menginginkan anaknya maju, akan tetapi karena si ibubelum dan tidak pernah mendapatkan pendidikan yang cukup sebelumnya untuk membuat sadar bahwa adanya sebuah pilihan. Lebih jauh lagi, dalam budaya masyarakat Pamekasan yang notabenenya masyarakat tradisonal, masih terdoktrin bahwa perempuan yang berpendidikan tinggi akan Aysusah diaturAy. Aymelawan suamiAy dan Autidak sesuai dengan aturan islam. Dampak dari hal tersebut tentunya akan membatasi ruang gerak perempuan untuk lebih mengenal dirinya sendiri. Dalam pandangan Wollstone sendiri, memandang sebuah moralitas bukanlah bagian dari sebuah kepaturah tanpa berpikir, akan tetapi hasil dari adanya pendidikan dan nalar pikir yang sehat. Ia menegaskan, bahwa seorang perempuan yang sudah tidak dididik dengan baik, maka ia tidak akan bisa menjadi ibu atau warga negara yang baik. Dengan kata lain, ketika sebuah keluarga menolak adanya pendidikan atas perempuan, maka sejatinyaa ia sedang merusak fondasi moralitasnya sendiri. KESIMPULAN Berdasarkan dari 4 hasil wawancara dan pemahaman lingkungan sekitar oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa adanya sebuah peran keluarga dalam sebuah kehidupan sangat menentukan arah untuk keberlangsungan hidup terutama bagi perempuan muslim di Pamekasan Madura. Informan pertama. Bu AZ, menunjukkan bahwa dukungan keluarga terhadap pendidikan perempuan bisa mencetak perempuan yang memiliki kesadaran kritis, berdaya dan tentunya siap menjadi agen perubahan dalam masyarakat. Dari ini bisa membuktikan jika adanya sebuah latar belakang keluarga berpendidikan dan terbuka sangat Eksistensi Keluarga dalam Mendorong Pendidikan Bagi Perempuan pada Masyarakat Pamekasan. Madura berperan besar dalam menciptakan ruang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Kemudian di lanjut dengan informan kedua, mbak SR mencerminkan realitas berbeda. Dia dari keluarga yang masih memegang kuat nilai-nilai patriarkis akan cenderung baginya mengalami sebuah pembatasan dalam mengakses pendidikan. Meskipun dengan track record yang masih memiliki potensi akademik, keterbatasan dukungan keluarga menyebabkan tertinggalnya perkembangan pada dirinya. Hal ini mencerminkan bahwa pandangan tradisional dalam keluarga. masih menjadi penghalang besar terhadap akses dan peluang pendidikan bagi perempuan. Kemudian informan ketiga. Mbak NH, semakin menegaskan kuatnya relasi kuasa dalam struktur keluarga konservatif yang masih memegang kendali penuh atas keputusan perempuan. Kemudian RK yang condong sudah berada pada titik transisi otonomnya sendiri. Dengan kata lain. RK sudah punya jalan pikirannya sehingga pihak keluarga tidak terlalu berdampak pada siklus ketidaksetaraan gendernya. Meskipun informan-informan sebelumnya memiliki motivasi dan semangat tinggi untuk melanjutkan pendidikan, tekanan sosial dan penolakan keluarga membuatnya tidak berdaya. Ini menyoroti bagaimana dominasi keluarga dalam budaya patriarki mampu menekan keinginan perempuan untuk maju. Dalam teori feminisme liberal dijelaskan bahwa penting bagi seorang perempuan mendapatkan akses publik yang sama sebagaimana didapatkan oleh laki-laki secara setara dan adil. Yang dinyatakan sebagai ruang publik itu seperti perempuan maupun laki-laki bisa mendapatkan akses pendidikan, pekerjaan bahkan menjadi pemimpin. Mary Wollstonecraft menjelaskan bahwa perempuan dalam keadaan penderitaan dan kekerasan terjadi kepada mereka dikarenakan didukung oleh sebuah budaya patriarki, pendidikan tentu menjadi basis untuk memberikan ruang keterbukaan nalar bagi perempuan untuk hidup dalam ruang publik, di masyarakat pamekasan, madura dari para informan didapatkan, bahwa masih kuat akan budaya patriarki dari lingkungan keluarga yang menganggap perempuan itu sebagai manusia kedua sehingga mereka dari para informan itu tentu mendapatkan tantangan pertama kali dari lingkungan keluarga untuk mendapatkan akses pendidikan, dari informan tersebut di dapatkan bahwa mereka dianggap remeh dan tak di hargai sebagai perempuan, bukan sekedar terlahir sebagai perempuan saja namun juga mereka tak di hargai karena mereka tak bisa apa-apa melainkan di jaga bagai perempuan hidup dalam sangkar keluarga. Wollstonecraft melihat ini tentu bentuk dari keadaan perempuan tidak bisa utuh menjadi dirinya sendiri dikarenakan mereka terpenjara oleh kepercayaan androsentrisme yang kemudian membagi peran sosial bahwa perempuan itu feminitas objek yang hidup dalam Journal of Administrative and Social Science- Volume. Nomor 2. Juli 2024 e-ISSN : 2828-6340. dan p-ISSN : 2828-6359. Hal. ruang domestik dan laki-laki itu adalah manusia hidup sebagai maskulinitas subjek bergelut dalam ruang publik. Peran keluarga dalam membentuk pemahaman gender sangat krusial, bisa menjadi sebuah pendorong semangat atau bahkan menjadi penghambat yang luar biasa berbahaya. Dukungan keluarga bisa jadi akan membuka jalan bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan yang layak, meraih kesempatan yang setara, serta terlibat aktif dalam pembangunan sosial. Namun juga sebaliknya, keluarga yang masih ter doktrin dalam ideologi patriarki memperpanjang rantai ketidaksetaraan dan menutup peluang perempuan untuk Oleh karena itu, pendidikan kesetaraan gender yang dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. DAFTAR PUSTAKA