p-ISSN: 2549-3310 e-ISSN: 2623-2901 Hal : 20-31 Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol. Maret 2026 Exploration of Extracurricular Management in Building a Culture of Achievement: A Comparative Study in Two Elementary Schools in the Bekasi Area Yuhana. *). Sholehuddin. Program Studi Magister Pendidikan Dasar. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Jakarta Correspondence author : yuhanayuhana0107@gmail. DOI: https://doi. org/10. 37012/jipmht. Abstract Extracurricular activities play a strategic role in developing students' talents, interests, and character, yet their management quality in Indonesian primary schools remains inconsistent. This study aims to describe and compare extracurricular management at two primary schools in the Bekasi area. A descriptive-comparative qualitative approach was employed using purposive sampling with four participants. Data were gathered through interviews, observation, and documentation, and analyzed using Miles and HubermanAos interactive model. Findings show that the first school excels through a multi-layered structure Ai coordinator, supervisors, and external professional coaches Ai backed by vision-based planning, structured BOS funding, quarterly evaluations, and active parental involvement, resulting in provincial-level championships. The second school operates only three extracurricular branches without a formal coordinator or written plans, with several programs no longer active. This study concludes that extracurricular success depends on the consistent integration of planning, organizing, actuating, and controlling functions, not facilities alone. Schools lagging behind are urged to establish a coordinator structure, develop written program plans, and implement a periodic evaluation system. Keywords: Extracurricular Management. School Principal. Primary School. Non-Academic Achievement. Comparative Study ABSTRAK Kegiatan ekstrakurikuler berperan strategis dalam mengembangkan bakat, minat, dan karakter peserta didik, namun kualitas pengelolaannya di sekolah dasar masih sangat bervariasi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan membandingkan manajemen pengembangan ekstrakurikuler di dua sekolah dasar di wilayah Bekasi. Pendekatan kualitatif deskriptif komparatif digunakan dengan teknik purposive sampling terhadap empat partisipan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah pertama unggul berkat struktur organisasi berlapis, koordinator, pembina, dan pelatih profesional yang didukung perencanaan berbasis visi, pendanaan BOS yang terencana, evaluasi tiga bulanan, dan keterlibatan aktif orang tua, sehingga mampu meraih kejuaraan hingga tingkat Sekolah kedua hanya menjalankan tiga cabang ekskul tanpa koordinator formal dan perencanaan tertulis, dengan sejumlah program yang sudah tidak aktif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan ekskul ditentukan oleh integrasi konsisten fungsi planning, organizing, actuating, dan controlling, bukan semata fasilitas. Sekolah yang belum berkembang perlu segera membentuk struktur koordinator, menyusun perencanaan tertulis, dan membangun sistem evaluasi berkala. Keywords: Manajemen Ekstrakurikuler. Kepala Sekolah. Sekolah Dasar. Prestasi Nonakademik. Studi Komparatif https://journal. id/index. php/jipmht/article/view/3449/2869 Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol. Maret 2026 p-ISSN: 2549-3310 e-ISSN: 2623-2901 Hal : 20-31 PENDAHULUAN Dalam lanskap pendidikan global, kegiatan ekstrakurikuler telah diakui sebagai komponen penting yang melengkapi pembelajaran formal di kelas. Berbagai kajian internasional menunjukkan bahwa siswa yang aktif terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler cenderung memiliki keterampilan sosial yang lebih baik, motivasi belajar yang lebih tinggi, dan kepercayaan diri yang lebih kuat (Rizkyka et al. , 2023. Mahardika et al. , 2. Lebih dari sekadar kegiatan pengisi waktu, ekstrakurikuler berfungsi mengembangkan aspek fisik, sosial, emosional, dan intelektual peserta didik secara bersamaan, sebuah dimensi pembentukan manusia yang tidak sepenuhnya bisa dicapai melalui pelajaran di dalam kelas (Manafe, 2. Di tingkat nasional, pemerintah Indonesia telah menegaskan pentingnya ekstrakurikuler melalui Permendikbud No. 62 Tahun 2014, yang menempatkan kegiatan ini sebagai bagian integral dari pengembangan diri peserta didik di satuan pendidikan dasar dan menengah. Pengelolaan ekstrakurikuler yang efektif bahkan telah mendapat dukungan pembiayaan melalui Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebagaimana diatur dalam Permendikbud No. 63 Tahun 2022. Namun di balik regulasi yang cukup kuat ini, kenyataan di lapangan masih jauh dari seragam. Nurachman . mencatat bahwa pelaksanaan ekstrakurikuler di sekolah dasar negeri masih menghadapi tantangan serius: keterbatasan fasilitas, lemahnya sistem manajemen, dan minimnya dukungan kebijakan di tingkat sekolah. Prada dan Maisaroh . menambahkan bahwa hanya sekolah yang memiliki manajemen ekstrakurikuler yang baik yang mampu mendorong peningkatan prestasi nonakademik peserta didiknya secara signifikan. Dengan kata lain, regulasi yang ada belum dengan sendirinya menjamin kualitas pengelolaan di lapangan dan di sinilah peran kepala sekolah menjadi penentu (Khamim et al. , 2. Kesenjangan kualitas pengelolaan ini terlihat nyata di dua sekolah dasar di wilayah Bekasi. SDN Telajung 02 Kabupaten Bekasi, di bawah kepemimpinan Ibu Hj. Napsiah. Pd. Pd. mengelola sebelas cabang ekstrakurikuler yang sebagian besar telah meraih kejuaraan bergengsi hingga tingkat Provinsi Jawa Barat, didukung pendanaan BOS yang terencana dan keterlibatan aktif orang tua. Sementara SDN Duren Jaya V Kota Bekasi hanya menjalankan tiga cabang ekskul, dengan sejumlah program lama yang kini sudah tidak aktif. Meskipun keduanya berada dalam satu kawasan yang berdekatan dan tunduk pada regulasi yang sama, perbedaan kualitas pengelolaannya sangat mencolok. Kajian yang secara langsung membandingkan dua sekolah dengan profil ekstrakurikuler yang sedemikian kontras masih sangat terbatas dalam literatur manajemen pendidikan dasar Indonesia (Nuryanto, 2017. Hidayat & Prasetyo, 2. https://journal. id/index. php/jipmht/article/view/3449/2869 p-ISSN: 2549-3310 e-ISSN: 2623-2901 Hal : 20-31 Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol. Maret 2026 Berdasarkan membandingkan strategi manajemen pengembangan ekstrakurikuler di SDN Telajung 02 Kabupaten Bekasi dan SDN Duren Jaya V Kota Bekasi, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang membedakan tingkat keberhasilan keduanya. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif komparatif. Pilihan pendekatan ini didasarkan pada kebutuhan untuk memahami secara mendalam fenomena pengelolaan ekstrakurikuler di dua sekolah yang berbeda, bukan sekadar mengukurnya secara Sebagaimana ditegaskan oleh Sugiyono . , penelitian kualitatif bertujuan memahami fenomena yang dialami subjek penelitian dari perspektif para partisipan itu sendiri, termasuk perilaku, strategi, dan motivasi di balik setiap keputusan yang mereka ambil. Penelitian dilaksanakan di dua lokasi: SDN Telajung 02 Kabupaten Bekasi dan SDN Duren Jaya V Kota Bekasi. Keduanya dipilih secara sengaja karena mewakili dua kondisi pengelolaan ekstrakurikuler yang berbeda secara signifikan dalam satu kawasan wilayah yang berdekatan, sebuah kontras yang justru menjadikan perbandingan ini bermakna. Partisipan penelitian berjumlah empat orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yakni pemilihan berdasarkan keterlibatan langsung dan relevansi peran mereka dalam pengelolaan ekstrakurikuler. Di SDN Telajung 02, partisipan terdiri dari kepala sekolah selaku penentu kebijakan dan dua orang guru yang menjalankan fungsi sebagai koordinator dan penanggung jawab program ekstrakurikuler. Di SDN Duren Jaya V, partisipan adalah kepala sekolah yang sekaligus menjadi satu-satunya narasumber inti, mengingat di sekolah ini tidak terdapat struktur koordinator ekstrakurikuler secara formal. Ketiadaan koordinator di SDN Duren Jaya V ini sendiri menjadi salah satu temuan awal yang relevan untuk dianalisis lebih lanjut dalam Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik yang saling melengkapi. Pertama, wawancara semi-terstruktur dilakukan kepada seluruh partisipan untuk menggali strategi, tantangan, dan cara pandang masing-masing pihak dalam mengelola ekstrakurikuler. Kedua, observasi dilakukan terhadap pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler, kondisi fasilitas pendukung, dan aktivitas keseharian pengelolaan program di masing-masing sekolah. Ketiga, studi dokumentasi mencakup penelusuran data absensi peserta ekskul, daftar jenis kegiatan, catatan prestasi, dan dokumen kebijakan sekolah yang berkaitan dengan program ekstrakurikuler. https://journal. id/index. php/jipmht/article/view/3449/2869 Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol. Maret 2026 p-ISSN: 2549-3310 e-ISSN: 2623-2901 Hal : 20-31 Analisis data mengacu pada model interaktif Miles dan Huberman . yang terdiri dari tiga alur kegiatan yang berlangsung secara bersamaan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan Temuan dari kedua sekolah dianalisis secara paralel sebelum kemudian dibandingkan untuk menemukan pola kesamaan maupun perbedaan yang bermakna. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber, yakni membandingkan data dari kepala sekolah, koordinator, dan dokumen sekolah, serta triangulasi teknik dengan mempertemukan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk memastikan konsistensi dan kredibilitas setiap temuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian ini menyajikan temuan lapangan dari dua sekolah yang menjadi subjek penelitian: SDN Telajung 02 Kabupaten Bekasi dan SDN Duren Jaya V Kota Bekasi. Temuan dianalisis menggunakan kerangka fungsi manajemen POAC dan disajikan secara komparatif untuk menemukan pola kesamaan, perbedaan, serta faktor-faktor yang membedakan tingkat keberhasilan pengelolaan ekstrakurikuler di antara keduanya. Perencanaan (Plannin. SDN Telanjung 2 Perencanaan ekstrakurikuler di SDN Telajung 02 dibangun di atas fondasi yang sangat jelas: visi sekolah. Dalam wawancara. Kepala Sekolah Ibu Hj. Napsiah. Pd. Pd. bahwa ekstrakurikuler "sangat mendukung pencapaian visi sekolah yaitu peningkatan karakter dan mencetak siswa berprestasi. " Pernyataan ini bukan sekadar retorika, ia terwujud dalam keputusan nyata: sekolah membuka sebelas cabang ekstrakurikuler yang dirancang spesifik untuk menjawab tantangan kompetisi bergengsi seperti FLS3N. O2SN, dan berbagai kejuaraan tingkat Jawa Barat dan nasional. Perencanaan program juga bersifat inklusif dari sisi siswa. Alih-alih menentukan ekskul secara top-down, sekolah memberi keleluasaan kepada siswa untuk memilih berdasarkan minat dan Koordinator ekskul menjelaskan bahwa sekolah juga melakukan asesmen diagnostik di awal tahun pembelajaran untuk membantu mengidentifikasi potensi siswa sejak dini. Pendekatan ini sejalan dengan temuan Edenia dan Pamulaan . bahwa perencanaan ekstrakurikuler yang disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi peserta didik mampu mendorong perubahan perilaku positif yang terukur. Dari sisi pembiayaan, perencanaan anggaran ekskul terintegrasi penuh dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) yang bersumber dari dana BOS. Ini memastikan https://journal. id/index. php/jipmht/article/view/3449/2869 Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol. Maret 2026 p-ISSN: 2549-3310 e-ISSN: 2623-2901 Hal : 20-31 program tidak berjalan secara ad hoc, melainkan memiliki kepastian dana dari awal tahun SDN Duren Jaya V Di SDN Duren Jaya V, perencanaan ekstrakurikuler belum terbentuk secara sistematis. Sekolah hanya menyelenggarakan tiga cabang ekskul yaitu pencak silat, futsal, dan pramuka. Semua ekskul belum memiliki struktur perencanaan yang terdokumentasi dengan baik. Yang lebih menjadi perhatian, tidak adanya koordinator ekskul formal menyebabkan fungsi perencanaan bertumpu sepenuhnya pada kepala sekolah, tanpa ada mekanisme pendelegasian yang jelas. Kondisi ini berisiko membuat program terhenti ketika kepala sekolah menghadapi keterbatasan waktu dan perhatian, sebagaimana terbukti dari sejumlah ekskul yang sebelumnya ada namun kini sudah tidak berjalan lagi. Analisis Komparatif: SDN Telajung 02 unggul secara signifikan dalam aspek perencanaan. Program yang bervisi, berbasis data kebutuhan siswa, dan memiliki kepastian anggaran adalah tiga elemen yang tidak dimiliki SDN Duren Jaya V. Inayatul Khoiriyah et al. menegaskan bahwa manajemen ekstrakurikuler yang efektif harus dimulai dari perencanaan yang kuat agar strategi pelaksanaan dan evaluasi dapat berjalan secara kohesif. Pengorganisasian (Organizin. SDN Telajung 02 Struktur organisasi ekstrakurikuler di SDN Telajung 02 terbentuk secara berlapis dan Di bawah kepala sekolah, terdapat koordinator ekskul yang membawahi sebelas Pembina dan masing-masing bertanggung jawab atas satu cabang kegiatan. Pembina adalah guru tetap sekolah yang ditugaskan secara resmi, sementara di bawahnya terdapat pelatih yang sebagian besar merupakan tenaga ahli dari luar sekolah yang direkrut berdasarkan kompetensi teknis di bidangnya. Menariknya, koordinator mengungkapkan bahwa ada pula guru yang merangkap fungsi sebagai pembina sekaligus pelatih, menunjukkan fleksibilitas struktural yang dikelola dengan baik. Jadwal latihan diatur sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan, dengan mempertimbangkan sistem double shift yang berlaku di sekolah ini: siswa yang masuk pagi melaksanakan ekskul di siang hari, dan sebaliknya. Pengaturan ini mencerminkan kepekaan manajemen terhadap realitas operasional sekolah yang kompleks. https://journal. id/index. php/jipmht/article/view/3449/2869 Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol. Maret 2026 p-ISSN: 2549-3310 e-ISSN: 2623-2901 Hal : 20-31 SDN Duren Jaya V Ketiadaan koordinator ekstrakurikuler di SDN Duren Jaya V adalah temuan struktural paling krusial dalam penelitian ini. Tanpa koordinator, tidak ada satu pun pihak yang secara resmi bertanggung jawab mengelola lintas cabang ekskul, mengatur jadwal secara terpadu, atau melaporkan perkembangan program kepada kepala sekolah secara berkala. Lisnawati et al. menemukan bahwa kualitas koordinasi antara kepala sekolah dan koordinator ekstrakurikuler berbanding lurus dengan konsistensi dan mutu program dan absennya koordinator ini adalah titik lemah struktural yang paling menjelaskan mengapa program ekskul di SDN Duren Jaya V sulit berkembang. Analisis Komparatif: Perbedaan paling mendasar antara kedua sekolah terletak pada aspek SDN Telajung 02 memiliki rantai komando yang jelas: kepala sekolah Ie koordinator Ie pembina Ie pelatih. Setiap mata rantai tahu perannya dan kepada siapa ia bertanggung jawab. SDN Duren Jaya V, sebaliknya, tidak memiliki rantai ini. Penggerakan (Actuatin. SDN Telajung 02 Penggerakan program di SDN Telajung 02 bertumpu pada dua pilar utama: keteladanan kepemimpinan dan motivasi yang dibangun secara konsisten. Kepala sekolah secara aktif mendukung pengembangan kompetensi guru, menyediakan pelatih profesional, dan membuka komunikasi yang terbuka dengan orang tua. Ketiganya berjalan bersamaan, bukan bergantian. Di lapangan, pelatih menerapkan pendekatan relasional dalam menjaga semangat siswa: "menjalin hubungan positif dan suportif antara pelatih dan siswa serta selalu memberikan apresiasi atas usaha siswa. " Apresiasi ini terbukti efektif, seorang siswa kelas 4 yang diwawancara menyatakan bahwa ekskul terasa menyenangkan karena "gurunya asik, latihannya seru," bahkan saat latihan semakin intensif menjelang perlombaan. Strategi rekrutmen anggota pun dirancang untuk membangun motivasi sejak awal. Saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), tiap ekskul menampilkan penampilan terbaiknya agar siswa baru tertarik bergabung secara sukarela. Ini bukan sekadar promosi Ai ini membangun ownership siswa terhadap ekskul yang mereka pilih sendiri. Sementara untuk persiapan kompetisi, pelatih menerapkan pendekatan yang terstruktur: mempelajari panduan teknis perlombaan secara cermat, mengenali penyelenggara, mempelajari performa juara sebelumnya sebagai tolok ukur, dan menyusun jadwal latihan https://journal. id/index. php/jipmht/article/view/3449/2869 Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol. Maret 2026 p-ISSN: 2549-3310 e-ISSN: 2623-2901 Hal : 20-31 yang semakin intensif jauh sebelum tenggat waktu. Pendekatan ini menggambarkan mentalitas growth yang terbangun secara sistematis, bukan hanya mengandalkan bakat alami siswa. SDN Duren Jaya V Penggerakan di SDN Duren Jaya V lebih bersifat personal dan situasional. Tanpa koordinator dan struktur yang jelas, motivasi program bergantung besar pada inisiatif individu, baik dari kepala sekolah maupun guru yang terlibat. Ketika inisiatif itu tidak hadir secara konsisten, program kehilangan daya geraknya. Inilah yang kemungkinan besar menjelaskan mengapa beberapa ekskul yang sebelumnya berjalan kini sudah tidak aktif lagi. Analisis Komparatif: Penggerakan di SDN Telajung 02 bersifat sistemik yang didorong oleh struktur, bukan semata-mata oleh semangat individu. Di SDN Duren Jaya V, penggerakan masih bergantung pada individu sehingga rentan terhadap fluktuasi. Prada dan Maisaroh . menegaskan bahwa manajemen ekstrakurikuler yang baik, termasuk pada tahap penggerakan, berpengaruh signifikan terhadap peningkatan prestasi nonakademik peserta Pengawasan dan Evaluasi (Controllin. SDN Telajung 02 Sistem evaluasi di SDN Telajung 02 berjalan secara periodik dan terstandarisasi. Koordinator mewajibkan setiap pelatih untuk mengumpulkan daftar hadir siswa dan laporan pelaksanaan kegiatan setiap tiga bulan sekali. Data ini menjadi bahan evaluasi yang nyata, bukan sekadar laporan formalitas. Indikator keberhasilan pun didefinisikan secara luas oleh kepala sekolah: bukan hanya piala yang diraih, tetapi juga dampak positif program terhadap karakter dan perkembangan diri siswa. Perspektif evaluasi yang holistik ini penting, karena ia mencegah program tergelincir menjadi sekadar mesin pencetak juara yang mengabaikan proses. Hasil observasi juga mencatat bahwa fasilitas ekskul dalam kondisi memadai dan terawat, sebagai bukti bahwa pengawasan tidak hanya menyentuh aspek program, tetapi juga sarana prasarana pendukungnya. SDN Duren Jaya V Di SDN Duren Jaya V, belum ditemukan mekanisme evaluasi yang terstruktur dan terjadwal. Tanpa koordinator yang bertugas mengumpulkan laporan, pengawasan program bergantung pada pengamatan langsung kepala sekolah yang tidak bisa selalu hadir. Kondisi ini https://journal. id/index. php/jipmht/article/view/3449/2869 Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol. Maret 2026 p-ISSN: 2549-3310 e-ISSN: 2623-2901 Hal : 20-31 menciptakan blind spot dalam pengelolaan: masalah-masalah kecil yang seharusnya tertangkap lebih awal baru terasa ketika sudah berkembang menjadi hambatan yang lebih besar. Analisis Komparatif: SDN Telajung 02 memiliki siklus evaluasi yang menutup dan membuka kembali siklus manajemen secara berkelanjutan. SDN Duren Jaya V belum memiliki siklus Edenia dan Pamulaan . menegaskan bahwa evaluasi berkelanjutan dan refleksi adalah elemen kritis yang menjaga relevansi dan efektivitas program ekstrakurikuler sesuatu yang masih menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi SDN Duren Jaya V. Faktor Pendukung dan Penghambat Terlepas dari perbedaan sistem manajemennya, kedua sekolah menghadapi tantangan yang secara substantif serupa. Kepala sekolah SDN Telajung 02 mengidentifikasi tiga tantangan utama: keterbatasan sarana prasarana di awal pengembangan ekskul . ang kini sudah teratas. , sikap orang tua yang terkadang pesimis, dan fluktuasi motivasi siswa. Tantangan serupa diakui oleh koordinator dan pelatih: minat siswa yang tidak konsisten dan orang tua yang kurang mendukung adalah hambatan yang terus dikelola, bukan yang sudah selesai. Yang membedakan adalah cara menghadapinya. SDN Telajung 02 merespons tantangan orang tua dengan komunikasi terbuka dan pelibatan aktif, bukan sekadar rapat formalitas. Orang tua diajak memahami bahwa ekskul bukan beban tambahan, melainkan investasi pengembangan Sementara untuk motivasi siswa, sekolah membangun sistem apresiasi yang konsisten: mulai dari penampilan saat MPLS, pengakuan atas prestasi, hingga relasi personal yang dibangun pelatih di setiap sesi latihan. Keberhasilan mengelola tantangan-tantangan ini, sebagaimana ditegaskan Rahmi et al. , sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi dan strategi kepemimpinan kepala sekolah dalam membangun ekosistem yang kondusif. Tabel Pemetaan Komparatif Perbedaan-perbedaan yang terurai dalam pembahasan di atas pada dasarnya bermuara pada satu kesimpulan yang dapat dibaca sekaligus dalam tabel berikut. https://journal. id/index. php/jipmht/article/view/3449/2869 p-ISSN: 2549-3310 e-ISSN: 2623-2901 Hal : 20-31 Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol. Maret 2026 Tabel 1. Hasil Analisis Komparatif Manajemen Pengembangan Ekskul di SDN Telanjung 02 dan SDN Duren Jaya V Aspek SDN Telajung 02 SDN Duren Jaya V Perencanaan Terencana, berbasis visi, anggaran dari BOS, asesmen diagnostik siswa Belum terstruktur, tidak ada dokumen perencanaan formal Pengorganisasian Struktur berlapis: Kepsek Ie Koordinator Ie Pembina Ie Pelatih Tidak ada koordinator. kepsek merangkap semua fungsi manajerial Jenis Ekskul Penggerakan Penggerakan Evaluasi Pendanaan 11 cabang . utsal, voli, badminton. TIK. BTQ, tari, pramuka, karate, drumband, paskibra, dokter Sistemik: pelatih profesional. MPLS sebagai rekrutmen, apresiasi konsisten, latihan terstruktur pra-kompetisi Sistemik: pelatih profesional. MPLS sebagai rekrutmen, apresiasi konsisten, latihan terstruktur pra-kompetisi Per 3 bulan. pelatih wajib lapor daftar hadir dan pelaksanaan kegiatan Terencana dalam RKAS dari dana BOS. Interpretasi SDN Telajung 02 memiliki fondasi program yang jauh lebih kokoh Ketiadaan koordinator adalah titik lemah struktural terbesar SDN Duren Jaya V 3 cabang . encak silat, futsal, pramuk. beberapa ekskul lama sudah tidak aktif Kuantitas dan keragaman ekskul mencerminkan kapasitas manajemen yang berbeda Situasional dan pada inisiatif individu Penggerakan berbasis sistem lebih tahan terhadap fluktuasi Situasional dan pada inisiatif individu Penggerakan berbasis sistem lebih tahan terhadap fluktuasi Belum ada mekanisme evaluasi yang terjadwal dan terstandarisasi Terbatas. fasilitas belum Keterlibatan Orang Tua Aktif. diajak komunikasi terbuka oleh kepala Belum terbangun secara Prestasi Juara umum tingkat Provinsi Jawa Barat. DKI Jakarta. Banten Beberapa kejuaraan. belum konsisten Tanpa evaluasi berkala, masalah terlambat Kepastian anggaran adalah prasyarat keberlanjutan program Dukungan orang tua keberlanjutan dan motivasi siswa Perbedaan prestasi adalah akibat langsung dari perbedaan sistem Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan ekstrakurikuler SDN Telajung 02 bukan hasil keberuntungan, melainkan buah dari sistem manajemen yang dibangun secara sadar, konsisten, dan menyeluruh. Kepemimpinan kepala sekolah yang visioner menjadi titik awal, namun tanpa struktur koordinasi, pelatih profesional, sistem evaluasi, dan ekosistem motivasi yang terjaga, visi itu tidak akan pernah menjelma menjadi piala-piala yang berjejer di lemari penghargaan sekolah. https://journal. id/index. php/jipmht/article/view/3449/2869 Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol. Maret 2026 p-ISSN: 2549-3310 e-ISSN: 2623-2901 Hal : 20-31 KESIMPULAN Penelitian ini menemukan bahwa keberhasilan pengelolaan ekstrakurikuler di SDN Telajung 02 Kabupaten Bekasi bukan ditentukan oleh keunggulan fasilitas semata, melainkan oleh integrasi keempat fungsi manajemen POAC yang dijalankan secara konsisten dan sinergis: perencanaan berbasis visi, pengorganisasian berlapis dari koordinator hingga pelatih profesional, penggerakan yang sistemik, dan evaluasi yang terjadwal secara berkala. Sebaliknya, ketiadaan koordinator ekstrakurikuler di SDN Duren Jaya V Kota Bekasi terbukti menjadi akar dari rentetan kelemahan yang saling mengait, mulai dari perencanaan yang tidak terdokumentasi, penggerakan yang bergantung pada inisiatif individu, hingga sejumlah program ekskul yang satu per satu berhenti Temuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan kepala sekolah yang visioner adalah titik awal yang tak tergantikan, namun hanya akan berdampak optimal ketika ditopang oleh struktur organisasi yang jelas dan ekosistem pendukung yang melibatkan guru, pelatih, serta orang tua secara aktif. Berdasarkan temuan tersebut. SDN Duren Jaya V perlu segera membentuk struktur koordinator ekstrakurikuler, menyusun perencanaan program secara tertulis, dan membangun sistem evaluasi berkala sebagai langkah pembenahan yang paling mendasar. SDN Telajung 02 disarankan mendokumentasikan praktik baiknya sebagai best practice yang dapat direplikasi sekolah lain, sekaligus merancang mekanisme regenerasi pelatih agar keberlanjutan program tidak bergantung pada individu tertentu. Pada level kebijakan. Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kota Bekasi perlu menjadikan keberadaan koordinator ekstrakurikuler sebagai standar minimum pengelolaan sekolah dasar, serta memfasilitasi pelatihan manajemen ekstrakurikuler dan studi banding antarlembaga sebagai bagian dari program pengembangan kompetensi kepala sekolah. Penelitian lanjutan dengan cakupan sekolah yang lebih luas dan pendekatan kuantitatif disarankan untuk menguji sejauh mana temuan ini dapat digeneralisasi secara lebih luas DAFTAR REFRENSI Edenia. , & Pamulaan. Strategi pengelolaan ekstrakurikuler dalam meningkatkan kompetensi sosial dan karakter siswa. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10. https://doi. org/10. 23969/jp. Hidayat. , & Prasetyo. Manajemen kegiatan ekstrakurikuler dalam meningkatkan prestasi nonakademik siswa. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 13. , 67Ae78. https://doi. org/10. 24832/jpnk. https://journal. id/index. php/jipmht/article/view/3449/2869 p-ISSN: 2549-3310 e-ISSN: 2623-2901 Hal : 20-31 Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol. Maret 2026 Inayatul Khoiriyah. Al Ngarifin. , & E. Manajemen kegiatan ekstrakurikuler dalam meningkatkan prestasi non-akademik siswa. At-Tahsin: Jurnal Manajemen Pendidikan, 5. , 167Ae186. Kemendikbud. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2014 tentang kegiatan ekstrakurikuler pada pendidikan dasar dan menengah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kemendikbud. Peraturan Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Nomor 63 Tahun 2022 tentang petunjuk teknis pengelolaan dana bantuan operasional satuan Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi RI. Khamim. Hidayat. Kurniawati. , & Fachrurroji. Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola dan mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. SIBATIK Journal: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial. Ekonomi. Budaya. Teknologi, dan Pendidikan, 4. , 3555Ae3572. https://doi. org/10. 54443/sibatik. Lisnawati. Asyahidah. Haifarashin. , & Mulyana. Pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah SDN Cipaku 03 dan SD Islam Ar-Rido. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 9. , 2184Ae2193. https://doi. org/10. 36989/didaktik. Mahardika. , et al. Pengaruh kegiatan ekstrakurikuler terhadap motivasi belajar siswa di SMAN 4 Probolinggo. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 8. , 499Ae505. Manafe. Analisis konsep, permasalahan, dan solusi pelaksanaan kegiatan Jurnal Basicedu, 9. , 1531Ae1537. https://doi. org/10. 31004/basicedu. Miles. , & Huberman. Analisis data kualitatif: Buku sumber tentang metodemetode baru. UI Press. Nurachman. Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar negeri Kota Tangerang. Perspektif Ilmu Pendidikan, 34. , 43Ae48. Nuryanto. Manajemen kegiatan ekstrakurikuler di SD Al Irsyad 01 Purwokerto. Jurnal Kependidikan, 5. , 115Ae129. Prada. , & Maisaroh. Pengaruh manajemen ekstrakurikuler terhadap prestasi nonakademik peserta didik di MI Al Ikhlas Parakan Kauman. Edukasi Tematik: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, 6. , 163Ae170. https://doi. org/10. 59632/edukasitematik. Rahmi. Redjeki. Ikawati. Said, & Sabariah. Strategi komunikasi https://journal. id/index. php/jipmht/article/view/3449/2869 Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol. Maret 2026 p-ISSN: 2549-3310 e-ISSN: 2623-2901 Hal : 20-31 kepemimpinan kepala sekolah dalam mendorong keterlibatan aktif orangtua terhadap prestasi non akademik siswa. Jurnal Manajemen Pendidikan Dasar, 3. , 33Ae39. https://doi. org/10. 31602/jmpd. Rizkyka. Rizkina. , & Ramadhani. Peran aktivitas ekstrakurikuler dalam pengembangan keterampilan sosial dan prestasi akademis siswa sekolah dasar. Anterior Jurnal, 23. , 161Ae168. https://doi. org/10. 33084/anterior. Sugiyono. Metode penelitian kualitatif . rd ed. Alfabeta. Terry. Dasar-dasar manajemen edisi revisi. Bumi Aksara. https://journal. id/index. php/jipmht/article/view/3449/2869