JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ Implementasi Pengajaran Tuhan Yesus Dalam Mendidik Anak Berdasarkan Markus 10:13-16 Bagi Guru Sekolah Minggu Di Gereja Baptis Rayon Pusat Utara (RPU). Jakarta Enidar Telaumbanua1 delauenidar@gmail. Maria Titik Windarti2 mariawindarti3@gmail. Djuniasih3 djuniasih@sttkb. STT Kadesi Bogor123 Abstract This study seeks to describe how the teachings of Jesus Christ in Mark 10:13Ae 16 are applied in the spiritual education of children by Sunday School teachers at the Central North Region (RPU) Baptist Church in Jakarta. This passage illustrates JesusAo deep love and attention toward children, serving as an example for Christian educators to guide children's spiritual growth. The study uses a qualitative approach with data gathered through interviews, observations, and documentation. The informants consist of Sunday School teachers and church leaders actively serving in the RPU environment. The data was analyzed through reduction, data presentation, and drawing The findings indicate that the teachings of Jesus have been implemented through unconditional acceptance of children, living as role models, and delivering biblical lessons using age-appropriate approaches. However, challenges remain, such as limited resources, lack of training, and weak communication between teachers and parents. This research recommends regular training, consistent spiritual support for teachers, and improved collaboration between the church, teachers, and parents to foster an environment that supportsholistic faith development in children. Keywords: Jesus' Teachings. Mark 10:13Ae16. Children. Sunday School Teachers. RPU Baptist Church @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana ajaran Tuhan Yesus dalam Markus 10:13Ae16 diterapkan dalam proses pendidikan anak oleh para guru Sekolah Minggu di Gereja Baptis Rayon Pusat Utara (RPU). Jakarta. Perikop tersebut menunjukkan betapa besar perhatian dan kasih Yesus kepada anak-anak, dan menjadi teladan bagi para pendidik Kristen dalam mendampingi pertumbuhan rohani anak-anak. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, serta studi dokumentasi. Informan yang dilibatkan adalah guru-guru Sekolah Minggu dan pemimpin gereja yang terlibat langsung dalam pelayanan di lingkungan RPU. Data dianalisis melalui proses reduksi, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa ajaran Tuhan Yesus telah diimplementasikan melalui penerimaan tanpa syarat terhadap anak-anak, menjadi teladan hidup yang nyata, dan menyampaikan firman Tuhan dengan pendekatan yang relevan sesuai usia anak. Namun demikian, masih ditemukan beberapa hambatan, antara lain keterbatasan sumber daya, kurangnya pelatihan, serta lemahnya komunikasi antara guru dan orang tua. Penelitian ini menyarankan perlunya pelatihan secara rutin, dukungan rohani berkelanjutan bagi guru Sekolah Minggu, serta peningkatan kerja sama antara gereja, guru, dan orang tua dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung pertumbuhan iman anak-anak secara utuh. Kata-kata kunci: Pengajaran Tuhan Yesus. Markus 10:13Ae16. Anak-anak. Guru Sekolah Minggu. Gereja Baptis RPU Pendahuluan Dalam Markus 10:13Ae16. Yesus memperlihatkan sikap yang sangat berbeda dari kebiasaan masyarakat pada masanya dengan secara terbuka menerima dan memberkati anak-anak. Menurut Willi Egger. Yesus menentang pandangan hukum Yahudi yang mewajibkan kepatuhan terhadap hukum Taurat untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebaliknya. Yesus @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ menyatakan bahwa orang harus menerima Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil yang dalam hal ini dipahami sebagai pribadi yang tidak memiliki status hukum atau tanggung jawab keagamaan. Dengan demikian, anak menjadi lambang keterbukaan dan ketergantungan sepenuhnya kepada kasih karunia Tuhan1. Pemikiran ini diperkuat oleh Judith Gundry yang menyatakan bahwa tindakan Yesus terhadap anak-anak bukan sekadar simbolik, melainkan mencerminkan penegasan sosial dan teologis bahwa anak-anak memiliki tempat yang sah dalam komunitas Kerajaan Allah. Gundry menafsirkan bahwa Yesus sengaja menentang norma-norma sosial yang memarginalkan anakanak, dan justru menjadikan mereka contoh penerima sejati dari pemerintahan Allah. Dengan menerima anak-anak. Yesus membalikkan struktur sosial hierarkis dan menunjukkan bahwa mereka yang dianggap lemah atau kecil dalam masyarakat justru menjadi bagian penting dalam realitas Kerajaan Allah2 Anak-anak merupakan karunia yang sangat berarti dari Tuhan dan memiliki posisi penting dalam pelayanan Yesus Kristus. Dalam Markus 10:13Ae16. Yesus memperlihatkan sikap kasih dan penerimaan penuh terhadap anak-anak. Ia tidak hanya memberkati mereka, tetapi juga menjadikan mereka sebagai contoh dalam hal menerima Kerajaan Allah dengan hati yang murni. Sikap dan tindakan Yesus ini menjadi dasar yang kuat dalam pembentukan konsep pendidikan anak dalam kekristenan, khususnya dalam pelayanan Sekolah Minggu. Egger. How to Read the New Testament: An Introduction to Linguistic and HistoricalCritical Methodology. (Peeters Publishers. , 1. Gundry Judith. To Such As Tnlhese Belongs The Reign Of GODAy :Jesus and Children (Volf. Yale University Divinity School, 1. @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ Sekolah Minggu memiliki fungsi penting dalam memperkenalkan ajaran Kristus kepada anak-anak dan menanamkan nilai-nilai rohani serta moral sejak usia dini. Guru Sekolah Minggu berperan sebagai pengajar dan teladan, sehingga dituntut untuk menghidupi nilai-nilai Kristiani dalam proses Sayangnya, tidak semua guru memiliki pemahaman yang utuh tentang bagaimana cara Tuhan Yesus mendidik, sehingga masih terdapat kekurangan dalam penerapan prinsip-prinsip pengajaran yang sesuai dengan teladan-Nya. Di lingkungan Gereja Baptis Rayon Pusat Utara (RPU). Jakarta, terlihat adanya semangat yang tinggi dari para guru Sekolah Minggu dalam melayani. Namun, implementasi nilai-nilai pengajaran Yesus sering kali belum sepenuhnya tercermin dalam metode dan pendekatan yang digunakan. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang lebih dalam guna memahami bagaimana pengajaran Tuhan Yesus dipraktikkan dalam pendidikan anak-anak, serta kendala dan peluang yang menyertainya. Metode Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengkaji secara menyeluruh bagaimana guru Sekolah Minggu di Gereja Baptis Rayon Pusat Utara (RPU). Jakarta, menerapkan ajaran Tuhan Yesus dalam mendidik anak, dengan melibatkan guru dan pemimpin gereja sebagai narasumber utama, menggunakan metode pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi langsung terhadap kegiatan Sekolah Minggu, serta penelaahan dokumen pendukung, dan dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian informasi, serta penarikan kesimpulan sesuai model Miles dan @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ Huberman3, sedangkan keabsahan data diperoleh melalui teknik triangulasi dan verifikasi kepada narasumber untuk menjamin kebenaran hasil penelitian4. Hasil dan Pembahasan Implementasi Pengajaran Tuhan Yesus Dalam Mendidikanak Berdasarkan Markus 10:13-16 Tinjauan teoretis ini menjadi dasar konseptual yang mendukung arah dan fokus penelitian. Kajian ini menyoroti implementasi pengajaran Tuhan Yesus dalam membina anak-anak berdasarkan Markus 10:13Ae16, khususnya bagi para guru Sekolah Minggu di Gereja Baptis Rayon Pusat Utara (RPU). Jakarta. Untuk itu, pemahaman mendalam diperlukan terhadap konsep-konsep seperti pendidikan Kristen, karakteristik anak menurut Alkitab, gaya mengajar Yesus, serta peranan guru Sekolah Minggu dalam membentuk iman anak. Berikut adalah beberapa poin penting yang dapat disimpulkan dari teks Pertama. Pentingnya Anak-anak dalam Kerajaan Allah : Yesus menekankan bahwa anak-anak memiliki tempat yang penting dalam Kerajaan Allah. Tindakan para murid yang mencoba mencegah anak-anak datang kepada-Nya menunjukkan pemahaman yang salah tentang nilai anak-anak dalam konteks spiritual. Miles. , & Huberman. Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook . nd Ed. (Sage Publications. , 1. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revis. (PT Remaja Rosdakarya. @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ Kedua. Peran Guru dalam Mengajar : Mengajar tidak hanya sekedar menyampaikan informasi, tetapi juga melibatkan proses bimbingan dan pengaturan lingkungan belajar. Seorang guru harus mampu menarik perhatian siswa dan memfasilitasi pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan. Ketiga. Proses Pembelajaran yang Berorientasi pada Tujuan : Mengajar harus diarahkan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Keberhasilan pengajaran diukur dari sejauh mana siswa dapat belajar dan mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Keempat. Perubahan Peran Guru : Dalam konteks modern, peran guru telah berubah dari sekadar penyampai informasi menjadi pengarah dan Ini mencerminkan pemahaman bahwa proses belajar melibatkan interaksi aktif antara siswa dan lingkungan belajar. Kelima. Kompleksitas Proses Mengajar : Mengajar adalah proses yang kompleks yang melibatkan transfer pengetahuan, bimbingan, dan pengaturan lingkungan belajar. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam mengajar memerlukan pemahaman yang mendalam tentang berbagai aspek pendidikan. Dengan demikian, pengajaran yang efektif tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada bagaimana siswa dapat memahami dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan mereka. Hal ini sejalan dengan ajaran Yesus yang menekankan pentingnya menerima dan menghargai anak-anak dalam konteks spiritual dan pendidikan. Hakikat Guru Sekolah Minggu Pertama. Definisi Guru Sekolah Minggu. Seorang guru Sekolah Minggu adalah pelayan yang dipanggil untuk membantu anak-anak memahami firman Tuhan dan membentuk karakter mereka. @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ Kedua. Peran. Guru berfungsi sebagai penghubung antara gereja dan anak-anak, menyampaikan ajaran agama, nilai-nilai Kristen, dan memberikan bimbingan spiritual. Kualitas yang Diperlukan. Seorang guru harus memiliki hati yang baru, taat, disiplin, mengasihi, beriman, dan terbuka untuk diajar. Peran dan Tanggung Jawab Guru Sekolah Minggu Pertama. Mengajar. Mengubah murid dalam pengetahuan, sikap, dan perilaku, serta mendidik mereka sesuai dengan ajaran agama. Kedua. Menggembalakan: Mencontoh Yesus sebagai Gembala sejati, mengenal dan merawat anak-anak dengan kasih. Ketiga. Memberikan Teladan. Menjadi panutan dalam perkataan dan perilaku, mencerminkan ajaran Kristus. Keempat. Menginjili dan Mendoakan Anak-anak: Mengajak anak-anak percaya kepada Kristus dan memenuhi kebutuhan spiritual mereka. Kelima. Mampu Meraih Kesempatan: Memanfaatkan kesempatan untuk memberikan dampak positif bagi murid-murid. Jadi penulis menyimpulkan bahwa Sekolah Minggu berfungsi sebagai program pendidikan penting dalam gereja yang menekankan penanaman kebenaran Alkitab kepada anak-anak. Guru Sekolah Minggu memiliki peran yang sangat penting dalam mendidik dan memperkuat iman anak-anak, serta membentuk karakter mereka sesuai dengan ajaran Kristiani. Dengan memenuhi syarat-syarat yang diperlukan, seorang guru dapat memberikan pelayanan yang efektif dan positif dalam pembinaan spiritual anak-anak, memastikan keberlanjutan nilai-nilai Kristen di masa depan. @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ Latar Belakang Kitab Markus Deskripsi Kitab Markus: Injil Markus, merupakan salah satu kitab dalam Perjanjian Baru Alkitab Kristen, yang diyakini sebagai Injil tertua di antara keempat Injil yang ada. Meskipun penulisannya tidak secara eksplisit menyebutkan namanya dalam teks, tradisi gereja awal secara konsisten mengaitkan Injil ini dengan Markus, seorang rekan dari Rasul Petrus. Markus yang juga di kenal sebagai Yohanes Markus, muncul dalam Kisah Para Rasul dan beberapa surat Paulus. Injil Markus digolongkan ke dalam Injil sinoptis bersama-sama dengan Injil Matius dan Lukas. Kitab ini berisi sejarah dan riwayat Yesus Kristus mulai dari sebelum lahir hingga kenaikan-Nya5. Baptisan Yesus Kristus dalam pasal Markus 1:11 adalah dasar bagi kepercayaan Markus dalam pelayanan Yesus dan menetapkannya sebagai Anak Allah. Markus 1:11 tidak hanya menegaskan bahwa Yesus adalah Anak Allah, tetapi juga menunjukkan adanya hubungan khusus dengan Allah. Hal ini disebutkan dalam ayat AuEngkaulah Anakku Yang KukasihiAy. Kalimat ini menunjukkan adanya kedekatan antara Yesus dan Allah sehingga Yesus tidak boleh hanya disebut sebagai Anak, melainkan Anak yang Allah kasihi. Hubungan istimewa ini memberikan Yesus, sebagai Anak Allah, kuasa dari Tuhan yang terlihat dalam pelayanannya, terutama ketika ia mampu melakukan mukjizat6. Marbun Saortua. Introduksi Lengkap Empat Injil: Menyingkap Kebenaran Di Balik Kisah Yesus, (Eureka Media Aksara, 2. Michie Donald & David Roads. Injil Markus Sebagai Cerita. Cet-2 (BPK Gunung Mulia, @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ Penulis dan Penerima: Penulisnya adalah Markus, yang dikenal sebagai Yohanes Markus. Ia adalah sepupu Barnabas dan pernah menyertai Paulus dalam perjalanan penginjilan. Waktu dan Tempat Penulisan: Injil ini kemungkinan ditulis sekitar tahun 65 M, setelah kematian Petrus, dan sebelum keruntuhan Yerusalem pada tahun 70 M7. Tema Kitab Markus: Tema utama mencakup Hamba/Pelayan. Rendah Hati. Berbelas Kasih. Penderitaan, dan Kuasa. Tujuan Penulisan: Tujuan penulisan kitab ini adalah untuk Markus karakteristik dari AuMesiasAy tidak dapat dihindari dimana Yesus memang datang ke dunia sebagai Mesias yang sifatnya akan diketahui bukan melalui pemberitaan yang blak-blakan, melainkan melalui pengenalan yang akrab di rumah-rumah, bersama orang-orang sekeliling-Nya. Tujuan lain penulisan kitab ini adalah untuk menunjukkan bahwa Markus menulis mengenai rahasia penderitaan Mesias adalah untuk menjawab keberatan orang-orang Yahudi yang berpendapat bahwa seorang Mesias tidak mungkin mati dengan cara yang tidak logis, misalnya melalui penyaliban seperti yang dilakukan orang Romawi. Markus menjelaskan bahwa Yesus adalah Mesias dan kematian-Nya sesuai dengan rencana penebusan Tuhan. Tujuan utama Injil Markus bukanlah Auuntuk Mesiani YesusAy Aumenggambarkan Misi Mesianik Yesus, yaitu berfokus pada pelayanannya Duyverman E M. Pembimbing Ke Dalam Perjanjian Baru, (BPK Gunung Mulia, 2. @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ atau apa yang dilakukannya, yaitu perbaikan dunia secara apokaliptik oleh Tuhan8. Kisah dalam Markus 10:13-16 ini merupakan salah satu kisah konflik antara Yesus dan murid-murid-Nya. Orang banyak . ungkin orang tua atau keluarg. membawa anak-anak (A, anak-anak kecil. Bnd. Yoh. kepada Yesus supaya Yesus menjamah anak-anak tersebut. Tetapi para murid yang cemburu merasa yakin bahwa Yesus harus dilindungi dari gangguangangguan yang menghambat kelancaran pekerjaan-Nya sehingga mereka berbicara dengan tegas kepada orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap anak-anak tersebut. Yesus marah ketika melihat sikap para murid yang mengatasnamakan-Nya dan selanjutnya kisah ini memperlihatkan interaksi antara Yesus dan murid-murid-Nya10. Analisis Konteks Markus 10:13-16 Konteks Dekat: Kisah ini terjadi setelah pengajaran Yesus tentang perceraian, menekankan pentingnya menghargai perempuan dan anak-anak yang rentan. Konteks Jauh: Menunjukkan bahwa Kerajaan Allah berkaitan dengan keselamatan yang tidak dapat diperoleh melalui perbuatan baik, melainkan sebagai pemberian dari Allah. Struktur Teks: Dalam Markus 10:13-16. Yesus menegur muridmurid-Nya yang menghalangi anak-anak datang kepada-Nya, menunjukkan bahwa anak-anak memiliki tempat penting dalam Kerajaan Allah. Astuti Endah Tri. AoKeilahian Yesus Dalam Injil MarkusAo. Teologi Terapan, 1. No. 1Ae15. Boehlke R Robert. Siapakah Yesus Sebenarnya? Cet. Ke-8 (BPK Gunung Mulia, 2. BrideMc. AoAuThe Gospel of Mark: A Reflective CommentaryAy,Ao pp. @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ Markus 10:13-16 Indonesia Terjemahan Baru (ITB) 13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka. akan tetapi murid-muridNya memarahi orang-orang itu. 14 Ketika Yesus melihat hal itu. Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. 15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barang siapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya. " 16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka. King James (KJV) 13 And they brought young children to him, that he should touch them: and his disciples rebuked those that brought them. 14 But when Jesus saw it, he was much displeased, and said unto them. Suffer the little children to come unto me, and forbid them not: for of such is the kingdom of God. 15 Verily I say unto you. Whosoever shall not receive the kingdom of God as a little child, he shall not enter therein. 16 And he took them up in his arms, put his hands upon them, and blessed them. ( 13 Dan mereka membawa anak-anak kecil kepadanya, agar dia menyentuh mereka: dan murid-muridnya menegur orang yang membawa mereka. 14 Tetapi ketika Yesus melihatnya, dia sangat tidak senang, dan berkata kepada mereka. Suruhlah anak-anak kecil itu datang kepadaku, dan jangan larang mereka: karena di situlah kerajaan Allah. 15 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Barang siapa tidak menerima Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya. 16 Dan dia menggendong mereka, meletakkan tangannya di atas mereka, dan memberkati merek. @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ New Internatioan Version (NIV) 13 People were bringing little children to Jesus to have him touch them, but the disciples rebuked them. When Jesus saw this, he was indignant. He said to them, "Let the little children come to me, and do not hinder them, for the kingdom of God belongs to such as these. 15 I tell you the truth, anyone who will not receive the kingdom of God like a little child will never enter it. " 16 And he took the children in his arms, put his hands on them and blessed them . Orang-orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus untuk disentuh-Nya, tetapi para murid menegur 14 Ketika Yesus melihat hal ini, dia menjadi marah. Jawab-Nya kepada mereka: "Biarlah anak-anak kecil itu datang kepadaku, dan jangan menghalangi mereka, karena Kerajaan Allah adalah milik orang-orang seperti mereka ini. 15 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, siapa pun yang tidak mau menerima Kerajaan Allah seperti anak kecil anak kecil tidak akan pernah " 16 Dan dia menggendong anak-anak itu, meletakkan tangannya di atas mereka dan memberkati mereka. BGT 13 Kai. prose,feron auvtw/| paidi,a i. a auvtw/n a. htai\ oi` de. evpeti,mhsan auvtoi/jyI 14 ivdw. n de. o` VIhsou/j hvgana,kthsen kai. ei=pen auvtoi/j\ a. fete ta. paidi,a e. rcesqai pro,j me( mh. kwlu,ete auvta,( tw/n r toiou,twn evsti. n h` basilei,a tou/ qeou/yI 15 avmh. n le,gw u`mi/n( . j a'n de,xhtai th. n basilei,an tou/ qeou/ w`j paidi,on( ouv mh. eivse,lq. eivj auvth,nyI 16 kai. evnagkalisa,menoj auvta. kateulo,gei tiqei. j ta. j cei/raj evpV auvta,yI . kai prosepheron auto paidia hina auton hasetei hoi de mathetai apestimesan autois. 14 idon de ho lesous eganaktesen kai eipen autois apethe ta paidia erchesthai pros me koluete auta ton gar toiuton estin he basileia thou 15 amen lego humin hos an me dexatai ten basileian tou theou hos @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ paidion ou me eiselthe eis auten. 16 kai enankalisamenos auta kateuologei titheis tas cheiras ep aut. Pengajaran dalam bahasa Yunani di sebut iE . yang berarti mengajar. Pengajaran dalam hal ini melibatkan berbagai istilah yang mencerminkan proses belajar dan pemahaman, di mana setiap kata Ibrani dan Yunani memiliki makna yang mendalam terkait dengan tujuan pengajaran, yaitu untuk membimbing, mendidik, dan membentuk karakter individu sesuai dengan ajaran Tuhan. Secara keseluruhan, pengajaran bukan sekedar transfer pengetahuan, tetapi juga merupakan proses yang integral dalam membangun kehidupan spiritual dan moral seseorang. Pengajaran Tuhan Yesus Berdasarkan Markus 10:13-16 Membawa Anak-Anak kepada Yesus: Orang tua dan pengajar diingatkan untuk membawa anak-anak kepada Yesus untuk diberkati, menunjukkan kepercayaan bahwa Yesus dapat memberkati dan melindungi Menurut Bracher dan Nida, membawa ke sini berarti pergi bersama Tuhan Yesus Markus dan Matius memulai tugas ini setelah khotbah perpisahan di sebuah rumah yang terletak di Kapernaum. Setelah tiba di rumah, anak-anak menyambutnya dan ia menerima berkat darinya sebelum tidur. " Markus dan Lukas mengatakan bahwa Yesus ingin menyentuh anak-anak. Matius menegaskan bahwa dia melakukannya. AuTumpangkan tangan ke atas mereka dan berdoalah. Ay Kata untuk anak-anak adalah A. Oleh karena itu semua anak-anak ini tidak boleh dianggap bayi. Fakta bahwa mereka terlalu muda untuk memahami ajarannya bukanlah alasan untuk menjauh darinya. Ayat ini merupakan tanda yang lebih jelas akan kasih Kristus terhadap anak-anak11 Jadi A E Nida & G R Bratcher. Injil Markus. (Lembaga Alkitab Indonesia, 2. @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ peneliti memberikan kesimpulan Kita harus membawa anak-anak dan anakanak diajar Firman Allah dengan setia, seperti Lois dan Eunice, nenek dan Ibu Timotius, yang menanamkan Firman Tuhan di hari Timotius yang masih kecil. Dalam Konteks membawa anak-anak kepada Yesus, dalam Injil Markus 10:13-16 Orang tua atau pengasuh membawa anak-anak kepada Yesus agar diberkati, meskipun pada waktu itu anak-anak sering dianggap kurang penting oleh masyarakat. Yesus Menjamah Anak-Anak: Tindakan Yesus menjamah anak-anak menunjukkan kasih-Nya dan penerimaan terhadap mereka, menandakan bahwa mereka berharga di mata Allah. Kata-kata "supaya Ia menjamah mereka" dalam bahasa Yunani disebut sebagai IOE . merupakan kata kerja subjunctive aorist middle. Kata ini merupakan bentuk orang ketiga tunggal dari I yang berarti "menyentuh" atau "memegang". Dalam konteks ini, tindakan "memegang" tidak berarti anak-anak tersebut membutuhkan penyembuhan fisik, tetapi sebagai tanda bahwa Yesus berkenan untuk memerintah dan memberkati mereka12. Jadi peneliti memberikan kesimpulan tentang Yesus menjamah anak-anak sebagai ekspresi kasih-Nya yang besar. Pada zaman itu, anak-anak sering kali dianggap kurang penting oleh masyarakat, namun Yesus menunjukkan bahwa mereka sangat berharga di mata Allah. Menjamah anak-anak menandakan penerimaan yang penuh kasih dan perhatian dari Tuhan terhadap mereka. Menjamah anak-anak juga mencerminkan berkat yang diberikan Yesus secara pribadi dan penuh Berkat-Nya bukan hanya dalam kata-kata, tetapi juga dalam tindakan nyata, menunjukkan bahwa Tuhan terlibat langsung dalam kehidupan anak-anak dan menyertai mereka. Henry Matthew. Injil Markus (Momentum. , 2. @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ Membiarkan Anak-Anak Datang kepada Yesus: Yesus menekankan pentingnya menerima anak-anak dan tidak menghalangi mereka, menunjukkan bahwa pelayanan kepada anak sama pentingnya dengan pelayanan kepada orang dewasa. Kata "Biarkan Anak-Anak Itu Datang Kepadaku" adalah Aorist Active Imperative yang menunjukkan urgensi atau intensitas13. Dalam bahasa Yunani di sebut Aufete ta. paidi,a e. phete ta paidia erchestha. yang artinya izinkan anak-anak kecil untuk datang. NIV menerjemahkan He said to them, "Let the little children come to me, yang berarti biarkan anak-anak kecil itu datang kepadaku. Sedangkan KJV menerjemahkan Suffer the little children to come unto me yang artinya Suruhlah anak-anak kecil datang kepadaku. Sikap penerimaan terhadap anak memengaruhi pembangunan hubungan yang sehat. Ketika anak merasakan kasih sayang, penerimaan, dan dukungan dari figur otoritas yang mengasihi, mereka belajar bagaimana membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain. Mereka belajar untuk mempercayai orang lain, berkomunikasi dengan baik, dan berbagi emosi dengan orang lain. Figur otoritas yang mencintai dan mendukung anak dapat menjadi contoh bagi perilaku dan nilai-nilai yang diinginkan. Anak cenderung meniru dan menyerap sikap dan perilaku dari orang dewasa yang mereka hormati dan hargai. Sebagai hasilnya, figur otoritas yang penuh kasih dapat membantu membentuk landasan moral dan nilai-nilai positif yang diwariskan kepada anak-anak14 Jadi yang perlu di sadari bahwa pertama, penerimaan dan kasih sayang dari figur otoritas sangat penting dalam pendidikan anak usia dini, karena dapat Alkipedia. Dkk. Jammer P. Andalangi. AoPrinsip-Prinsip Pendidikan Yahudi-Kristen Anak Usia Dini Berdasarkan Tindakan Historis Yesus Yang Memberkati AnakAnak Di Dalam Markus 10:13-16Ao. JURNAL Pendidikan Kristen Anak Usia Dini, 2020, p. @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ meningkatkan rasa percaya diri dan membantu anak membangun hubungan yang sehat. Kedua. Yesus menekankan nilai dan potensi anak-anak, menunjukkan bahwa pelayanan kepada mereka sama pentingnya dengan pelayanan kepada orang dewasa, serta mengajak orang tua untuk tidak menghalangi anak-anak mendekat kepada-Nya. Anak-Anak Sebagai Warga Kerajaan Allah: Yesus mengajarkan bahwa untuk memasuki Kerajaan Allah, seseorang harus memiliki sikap hati seperti anak-anak yang polos, terbuka, dan penuh kepercayaan. Kerajaan Allah dalam bahasa Yunani di sebut eEA EI oAs (Vasileya tou Theo. NIV dan KJV menerjemahkan kingdom of God yang berarti Aukerajaan TuhanAy. Ini merujuk pada kerajaan Allah yang ada dalam hati manusia yang pada akhirnya akan disempurnakan di seluruh bumi seperti di surga. Di dalam Alkitab, mereka datang ketika mereka menginginkannya dan pada saat yang sama mereka menghadapi kenyataan bahwa sebaliknya para murid tidak menginginkannya. Namun Yesus menegaskan bahwa mereka harus disambut. Menerima Kerajaan Allah ketika menerima seorang anak, selalu terjaga dan berdoa agar dapat menerimanya ketika Kerajaan Allah datang. Kerajaan Allah akan datang secara tiba-tiba, baik pada saat yang tepat maupun tidak15. Jadi, penulis menyimpulkan bahwa Yesus menunjukkan teladan bahwa Kerajaan Allah, yang diibaratkan dengan sikap dan keyakinan anak-anak, mengundang setiap orang untuk memiliki hati yang terbuka, penuh sukacita, dan semangat dalam menerima serta memahami ajaran-Nya. Oleh sebab itu, untuk memasuki Kerajaan Allah, seseorang harus belajar dari kepolosan dan keyakinan anak-anak, yang menjadi panutan dalam perjalanan iman. Martin Chen. AoKerajaan Allahsebagai Inti Kehidupan Dan Perutusan YesusAo. Filsafat Dan Teologi STF Driyarkara. Vol. 11 No . , pp. 236Ae40. @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ Yesus Menyambut Anak-Anak: Menyambut anak-anak mencerminkan sikap hati yang diperlukan untuk memasuki Kerajaan Allah, yaitu kerendahan hati dan kepercayaan yang tulus. Menyambut dalam bahasa Yunani di sebut de,xhtai . yang artinya menerima menggunakan kata verb subjundtive aorist middle orang ketiga singular tunggal. Yesus membandingkan menyambut Kerajaan Allah dengan menyambut anak-anak untuk menekankan sikap hati yang diperlukan untuk memasuki Kerajaan Allah. Dalam Markus 10:13-16, orang-orang membawa anak-anak kepada Yesus. Murid-murid melarangnya, tetapi Yesus menunjukkan bahwa anak-anak memiliki sifat yang mencerminkan karakteristik yang diinginkan bagi mereka yang ingin menerima Kerajaan Allah. Menyambut Kerajaan Allah seperti anak kecil juga berarti merendahkan diri. Anak-anak memiliki ego yang kecil dan tidak merasa superior terhadap orang lain, sehingga mereka lebih mudah menerima Anak-anak sering menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana, mengingatkan kita untuk menghargai kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam momen besar maupun kecil. Dengan demikian. Yesus menggunakan perbandingan ini untuk menunjukkan bahwa untuk memasuki Kerajaan Allah, kita perlu memiliki sikap seperti anak kecil yaitu polos, terbuka, rendah hati, dan penuh kepercayaan. Ini adalah ajakan untuk kembali kepada kepolosan hati dan ketulusan yang sering hilang seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup16. Jadi dapat di simpulkan bahwa Pengajaran Yesus dalam Markus 10:1316 menekankan pentingnya membawa anak-anak kepada-Nya, menerima mereka dengan kasih, dan mengajarkan bahwa untuk memasuki Kerajaan Chang Eric. AoKerajaan Allah Itu Milik Anak-Anak KecilAo. Https://Cahayapengharapan. Org/Kerajaan-Allah-Itu-Milik-Anak-Kecil/. @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ Allah, seseorang harus memiliki sikap hati yang seperti anak-anak. Ini menunjukkan bahwa anak-anak memiliki nilai dan potensi yang sama pentingnya dengan orang dewasa dalam konteks iman dan kehidupan rohani. Melalui pengajaran ini, orang tua dan guru diingatkan untuk mendidik anakanak dengan kasih, penerimaan, dan teladan yang baik, sehingga mereka dapat tumbuh dalam iman dan karakter yang sesuai dengan ajaran Kristiani. Yesus Menjamah Anak-Anak Menjamah anak-anak oleh Yesus berarti memberikan berkat khusus bagi masa depan mereka. Tindakan ini tidak hanya menunjukkan kasih-Nya, tetapi juga menegaskan bahwa anak-anak memiliki tempat yang penting dalam Kerajaan Allah. Responden sepakat bahwa sikap ramah dan terbuka dari guru Sekolah Minggu sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak. Dengan meneladani sikap Yesus, guru dapat mendekatkan diri kepada anak-anak dan memberikan rasa aman bagi orang tua. Membiarkan Anak-Anak Datang kepada Yesus Sikap anak-anak pembangunan hubungan yang sehat. Responden menekankan bahwa pelayanan kepada anak-anak sama pentingnya dengan pelayanan kepada orang Dengan membiarkan anak-anak datang kepada Yesus, guru dan orang tua diingatkan untuk tidak menghalangi mereka, melainkan mendukung mereka dalam mengenal Tuhan. Ini menciptakan kesempatan bagi anak-anak untuk membangun hubungan yang kuat dengan Tuhan. @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ Anak-Anak Sebagai Warga Kerajaan Allah Responden sepakat bahwa Kerajaan Allah juga milik anak-anak. Mereka perlu memiliki hati yang terbuka dan bersedia untuk mengasihi. Yesus mengajarkan bahwa untuk memasuki Kerajaan Allah, seseorang harus memiliki sikap seperti anak kecil yang polos dan percaya. Ini menunjukkan bahwa anak-anak memiliki nilai dan potensi yang sama pentingnya dengan orang dewasa dalam konteks iman. Yesus Memeluk Anak-Anak Tindakan Yesus memeluk anak-anak mencerminkan kasih dan perhatian-Nya. Responden menilai bahwa pelukan Yesus menunjukkan bahwa anak-anak berhak menerima kasih sayang dan diharapkan mengenal-Nya. Ini mengajarkan bahwa sikap hati yang diperlukan untuk menerima Kerajaan Allah adalah kesederhanaan, kepercayaan, dan keterbukaan. Yesus Memberkati Anak-Anak Responden memahami bahwa tindakan Yesus memberkati anak-anak menunjukkan bahwa setiap individu, tanpa memandang usia, memiliki hak untuk menerima berkat dari Tuhan. Kata "memberkati" dalam konteks ini mencerminkan kasih Tuhan yang universal, dan pentingnya permohonan berkat dari Tuhan yang disampaikan dengan ketulusan hati. Pengajaran Tuhan Yesus dalam mendidik anak menekankan pentingnya keberadaan anak-anak dalam kehidupan rohani. Meskipun sebagian responden mengetahui pengajaran dalam mendidik anak, masih ada kekurangan dalam membahas langkah-langkah konkret yang perlu diambil. Mendidik anak harus melibatkan peningkatan kemampuan dan pembentukan @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ karakter yang baik, serta memberikan mereka kesempatan untuk belajar tanggung jawab. Kesabaran dalam mendidik anak sangat penting, karena proses belajar membutuhkan waktu. Guru Sekolah Minggu harus bersabar dan memahami bahwa anak-anak mungkin tidak langsung memahami ajaran. Selain itu, pengajaran harus mencakup aspek pendidikan intelektual dan pembentukan karakter yang sehat. Yesus menunjukkan bahwa anak-anak adalah pewaris Kerajaan Allah dan berharga di mata Tuhan. Tindakan-Nya memeluk dan memberkati anakanak menunjukkan bahwa mereka perlu merasakan kasih dan perhatian. Dalam konteks ini, guru Sekolah Minggu diharapkan untuk menciptakan lingkungan yang ramah dan mendukung pertumbuhan spiritual anak-anak. Jadi penulis menyimpulkan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pengajaran Tuhan Yesus dalam Markus 10:13-16 memberikan landasan yang kuat bagi guru Sekolah Minggu untuk mendidik anak-anak dengan kasih, penerimaan, dan contoh yang nyata. Guru diharapkan untuk meniru metode pengajaran Yesus, menciptakan lingkungan yang inklusif, dan membimbing anak-anak dalam membangun hubungan pribadi dengan Tuhan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, guru tidak hanya berbagi pengetahuan rohani, tetapi juga berperan sebagai instrumen Tuhan dalam membentuk karakter dan iman anak-anak secara mendalam dan berkelanjutan. Oleh karena itu, gereja, orang tua, dan guru Sekolah Minggu perlu berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pelayanan anak melalui inovasi dan pelayanannya yang penuh kasih, agar anak-anak dapat mengenal Yesus dan merasakan kasih-Nya sejak dini. @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ Kesimpulan Pengajaran Tuhan Yesus dalam Markus 10:13Ae16 memberikan dasar yang kuat dan teologis bagi pendidikan anak dalam konteks Sekolah Minggu. Guru Sekolah Minggu memiliki tanggung jawab besar sebagai pembimbing rohani yang tidak hanya mengajarkan firman Tuhan, tetapi juga menjadi teladan dalam kasih, karakter, dan iman. Tiga prinsip utama yang dapat diimplementasikan dari pengajaran Yesus adalah mengajar dengan kasih, mengajar dengan keteladanan, dan mengajar dengan iman. Dalam konteks Gereja Baptis Rayon Pusat Utara, peneliti menemukan adanya tantangan internal yang menghambat efektivitas pengajaran, seperti kurangnya komitmen sebagian guru dan keterlambatan hadir. Peran orang tua juga sangat penting dalam mendidik anak untuk mengenal Tuhan sejak dini, dan perlu bekerja sama dengan guru Sekolah Minggu untuk membangun dasar iman yang kokoh di rumah dan di gereja. Pentingnya pendampingan dan pembinaan bagi guru Sekolah Minggu perlu menjadi perhatian gereja untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan mendukung guru dalam menghadapi tantangan selama pelayanan. Dengan menerapkan nilai-nilai pengajaran Tuhan Yesus secara konsisten, guru Sekolah Minggu tidak hanya menyampaikan pengetahuan rohani, tetapi juga menjadi alat Tuhan dalam membentuk iman, karakter, dan relasi anak-anak dengan Yesus Kristus. Pendekatan ini akan memberikan dampak positif yang berkelanjutan dalam kehidupan anak-anak sebagai pewaris Kerajaan Allah dan generasi penerus gereja yang takut akan Tuhan. @copyright2025 Aep-ISSN 2655 4801- e-ISSN 2807-7040 Sekolah Tinggi Teologi KADESI Bogor JURNAL KADESI I Jurnal Teologi dan PAK I VOLUME 8. Nomor 1 I Desember 2025 __________________________________________________________________________ Referensi