(Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kriste. Vol. No. Desember 2025 . e-ISSN 2614-3135 p-ISSN 2615-739X https://w. id/e-journal/index. php/kurios Teori modal budaya Pierre Bourdieu sebagai penguatan budaya pada anak dalam pendidikan keluarga Kristen Simon Aponno State Institute for Christian Studies Ambon Correspondence: simonaponno64@gmail. DOI: https://doi. 30995/kur. Article History Submitted: March 03, 2025 Reviewed: Sep, 24 2025 Accepted: Dec. 30, 2025 Keywords: child identity. Christian family cultural capital. cultural reinforcement. Pierre Bourdieu. identitas anak. modal budaya. pendidikan keluarga Kristen. penguatan budaya Copyright: A2025. Authors. License: Abstract: Family education plays a vital role in shaping children's character and identity, including by strengthening a culture aligned with Christian values. Pierre Bourdieu's theory of cultural capital offers a relevant perspective on how cultural heritage is transmitted within Christian families, shaping children's identities and moral values. This research aims to analyze the role of cultural capital in Christian family education as a means of strengthening children's culture. The method used is a literature study. The results revealed that cultural capital, comprising habitus, symbolic capital, and social practices, shapes the mindsets, habits, and values that children adopt in daily life. In the context of Christian family education, cultural capital can be realized through the habituation to Christian values, the use of faith language in family communication, and children's involvement in Christian religious and cultural practices. This study recommends that future research examine education within Christian families more comprehensively, drawing on Pierre Bourdieu's theory of cultural capital. Abstrak: Pendidikan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan identitas anak, termasuk dalam memperkuat budaya yang selaras dengan nilai-nilai Kristen. Teori modal budaya Pierre Bourdieu menawarkan perspektif yang relevan dalam memahami bagaimana warisan budaya ditransmisikan dalam keluarga Kristen guna membangun identitas dan nilai-nilai moral anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran modal budaya dalam pendidikan keluarga Kristen sebagai upaya penguatan budaya pada anak. Metode yang digunakan studi kepustakaan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa modal budaya yang meliputi habitus, kapital simbolik, dan praktik sosial berkontribusi dalam membentuk pola pikir, kebiasaan, serta nilai-nilai yang dianut oleh anak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks pendidikan keluarga Kristen, modal budaya dapat diwujudkan melalui pembiasaan nilai-nilai kekristenan, penggunaan bahasa iman dalam komunikasi keluarga, serta keterlibatan anak dalam praktik keagamaan dan budaya Kristen. Rekomendasi penelitian ini agar penelitian berikutnya mengkaji secara aktual dan luas tentang Pendidikan dalam keluarga Kristen berbasis teori modal budaya Pierre Bourdieu. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 841 S. Aponno. Teori modal budaya PierreA Pendahuluan Dalam era globalisasi yang semakin kompleks, peran keluarga sebagai institusi pertama dan utama dalam pembentukan karakter dan nilai-nilai anak menjadi semakin krusial. Keluarga Kristen, sebagai bagian integral dari masyarakat, menghadapi tantangan untuk mempertahankan dan memperkuat identitas budaya dan spiritual mereka di tengah arus perubahan sosial yang cepat. Dalam konteks ini, teori modal budaya yang dikemukakan oleh sosiolog Prancis. Pierre Bourdieu, menawarkan perspektif yang komprehensif untuk memahami serta memperkuat transmisi nilai-nilai budaya dan spiritual dalam pendidikan keluarga Kristen. Bourdieu mendefinisikan modal budaya sebagai akumulasi pengetahuan, keterampilan, dan disposisi yang dapat diwariskan serta diakumulasikan melalui proses pendidikan dan sosialisasi. 1 Konsep ini menekankan pentingnya peran keluarga dalam mentransmisikan modal budaya kepada generasi berikutnya, yang pada gilirannya dapat memengaruhi keberhasilan anak dalam berbagai domain kehidupan, termasuk pendidikan dan integrasi sosial. Dalam konteks keluarga Kristen, modal budaya tidak hanya mencakup pengetahuan umum dan keterampilan sosial, tetapi juga meliputi pemahaman teologis, praktik ibadah, dan nilai-nilai etika Kristen. Penerapan teori Bourdieu dalam konteks ini dapat memberikan wawasan baru tentang bagaimana keluarga Kristen dapat secara efektif menanamkan dan memperkuat identitas budaya dan spiritual mereka pada anak-anak mereka. Penelitian terkini menunjukkan bahwa transmisi nilai-nilai agama dari orang tua ke anak menjadi semakin kompleks dalam masyarakat modern yang pluralistik. 4 Meskipun demikian, keluarga tetap menjadi agen sosialisasi agama yang paling berpengaruh. 5 Dalam konteks ini, konsep modal budaya Bourdieu dapat membantu menjelaskan bagaimana praktik-praktik keagamaan, ritual, dan nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga Kristen berperan sebagai bentuk modal budaya yang dapat memengaruhi perkembangan spiritual anak-anak mereka. Lebih lanjut, teori Bourdieu tentang habitus, disposisi yang terbentuk melalui pengalaman dan sosialisasi, dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana lingkungan keluarga Kristen membentuk cara berpikir, bertindak, dan merasakan anak-anak dalam kaitannya dengan iman mereka. 6 Hal ini menjadi sangat relevan mengingat tantangan sekularisasi dan pluralisme agama yang dihadapi oleh komunitas Kristen di banyak negara. Terkait penelitian yang relevan dengan penelitian ini, diantaranya: pertama. Rakhmat melakukan penelitian tentang peran keluarga dalam mentransmisikan nilai-nilai agama kepada anak-anak. 8 Dengan menggunakan perspektif Bourdieu, ia menunjukkan bagaimana praktik keagamaan dalam keluarga dapat dilihat sebagai bentuk investasi modal budaya yang memengaruhi religiusitas anak. Kedua. Iqbal menjelaskan peran pendidikan dalam pemben1 Pierre Bourdieu. AuThe Forms of Capital,Ay dalam Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education, ed. John G. Richardson (New York: Greenwood Press, 1. , 241Ae258. 2 Annette Lareau. Unequal Childhoods: Class. Race, and Family Life (Berkeley. CA: University of California Press, 2. , 75. 3 Paul Vermeer. AuReligion and Family Life: An Overview of Current Research and Suggestions for Future Research,Ay Religions 5, no. : 402Ae421. 4 Vern L. Bengtson. Norella M. Putney, dan Susan Harris. Families and Faith: How Religion Is Passed Down across Generations (Oxford: Oxford University Press, 2. , 11. 5 Christian Smith dan Melinda Lundquist Denton. Soul Searching: The Religious and Spiritual Lives of American Teenagers (Oxford: Oxford University Press, 2. , 205. 6 Penny Edgell. Religion and Family in a Changing Society (Princeton. NJ: Princeton University Press, 2. 7 Robert D. Putnam dan David E. Campbell. American Grace: How Religion Divides and Unites Us (New York: Simon & Schuster, 2. , 550. 8 Jalaluddin Rakhmat. Psikologi Agama: Sebuah Pengantar (Bandung: Mizan Pustaka, 2. , 354. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 842 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 tukan karakter dengan menggunakan konsep modal budaya Bourdieu, untuk menjelaskan bagaimana pendidikan agama di sekolah dan keluarga berkontribusi pada pembentukan identitas keagamaan anak. 9 Ketiga. Santoso, meneliti praktik keagamaan dalam keluarga Kristen di Indonesia. Studinya menunjukkan bagaimana ritual keagamaan seperti doa keluar-ga dan pembacaan Alkitab berfungsi sebagai mekanisme transmisi modal budaya Kristen. 10 Keempat. Wijaya, mengeksplorasi peran gereja dalam membentuk modal budaya anak-anak dari keluarga Kristen. 11 Penelitiannya menunjukkan bahwa keterlibatan dalam kegiatan gereja berkontribusi pada akumulasi pengetahuan dan disposisi keagamaan. Dari beberapa penelitian tersebut, masih terdapat kesenjangan pokok penelitian dengan penelitian ini, yaitu belum ada kajian khusus yang berkaitan dengan teori modal budaya Bourdieu yang diterapkan sebagai kerangka konseptual untuk memperkuat transmisi nilainilai dan praktik budaya Kristen dalam konteks pendidikan keluarga. Untuk itulah, artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana teori modal budaya Bourdieu dapat diterapkan sebagai kerangka konseptual untuk memperkuat transmisi nilai-nilai dan praktik budaya Kristen dalam konteks pendidikan keluarga. Dengan memahami mekanisme reproduksi budaya yang diuraikan Bourdieu, keluarga Kristen dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif, untuk mempertahankan dan memperkaya warisan spiritual mereka di tengah tantangan modernitas. Akhirnya, implikasi praktis dari pemahaman ini akan dibahas dengan fokus pada cara orang tua Kristen dapat secara strategis memanfaatkan dan mengembangkan modal budaya mereka untuk mendukung pertumbuhan spiritual anak-anak mereka. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Metode penelitian ini melibatkan pengumpulan, analisis, dan sintesis informasi dari berbagai sumber tertulis yang relevan dengan topik penelitian tertentu. Metode ini sangat penting dalam penelitian ilmiah karena membantu peneliti memahami state of the art dari bidang yang diteliti, mengidentifikasi kesenjangan dalam pengetahuan saat ini, dan merumuskan pertanyaan penelitian yang relevan. Adapun tahapan dalam penyajian pokok bahasan dalam penelitian ini meliputi: pertama, penyajian data terkait teori modal budaya Pierre Bourdieu. Kedua, penyajian data budaya pada anak dalam pendidikan keluarga Kristen. Ketiga, penyajian data modal budaya dalam keluarga Kristen. Keempat, penyajian analisis teori modal budaya Pierre Bourdieu dalam konteks penguatan budaya pada anak. Dari analisis inilah kemudian akan ditarik kesimpulan dari penelitian ini. Teori Modal Budaya Pierre Bourdieu Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Prancis, mengembangkan teori modal budaya sebagai bagian dari kerangka teoretisnya yang lebih luas tentang reproduksi sosial dan kultural. Teori ini pertama kali diperkenalkan dalam esainya "The Forms of Capital" . dan kemudian dikembangkan dalam berbagai karyanya. Bourdieu, mendefinisikan modal budaya sebagai akumulasi pengetahuan, perilaku, dan keterampilan yang memberikan status sosial dan kekuasaan dalam masyarakat. 12 Ia membagi modal budaya menjadi tiga bentuk, yaitu: pertama, modal budaya yang terwujud . Modal ini disposisi pikiran dan tubuh yang terinternalisasi. Mohammad Maulana Iqbal. Anatomi Pemikiran Kontemporer: Dari Foucault. Derrida. Bourdieu, & Perkembangannya (Jakarta: Anak Hebat Indonesia, 2. , 150-155. 10 Muhammad Budi Santoso. AuPraktik Keagamaan dalam Keluarga Kristen: Studi Kasus di Surabaya,Ay Jurnal Sosiologi Agama 11, no. : 67Ae85. 11 Yosef Wijaya. AuPeran Gereja dalam Pembentukan Spiritualitas Generasi Muda,Ay Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani 3, no. : 39Ae54. 12 Pierre Bourdieu dan Jean-Claude Passeron. Reproduction in Education. Society and Culture (Washington. DC: Sage Publications, 1. , 241-258. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 843 S. Aponno. Teori modal budaya PierreA Kedua, modal budaya yang terobjektivikasi . yang meliputi barang-barang budaya seperti buku, karya seni, dan instrumen. Ketiga, modal budaya yang terlembagakan . , yang meliputi kualifikasi pendidikan dan gelar akademik. Modal budaya berhubungan dengan reproduksi sosial. Bourdieu berpendapat bahwa modal budaya berperan penting dalam reproduksi ketidaksetaraan sosial. Keluarga dari kelas sosial yang lebih tinggi cenderung memiliki lebih banyak modal budaya, yang mereka transmisikan kepada anak-anak mereka, memberikan keuntungan dalam sistem pendidikan dan pasar kerja. 13 Teori modal budaya telah banyak digunakan dalam penelitian pendidikan untuk menjelaskan perbedaan prestasi akademik antara siswa dari latar belakang sosial ekonomi yang berbeda. Misalnya. Lareau menunjukkan bagaimana perbedaan dalam praktik pengasuhan anak antara keluarga kelas menengah dan kelas pekerja mencerminkan perbedaan dalam modal budaya. Bourdieu berpendapat bahwa berbagai bentuk modal . udaya, sosial, ekonom. dapat dikonversi satu sama lain. Modal budaya, misalnya, dapat dikonversi menjadi modal ekonomi melalui kualifikasi pendidikan yang mengarah pada pekerjaan bergaji tinggi. Jaeger dan Breen, menunjukkan bagaimana orang tua menggunakan modal ekonomi mereka untuk berinvestasi dalam modal budaya anak-anak mereka, yang pada gilirannya dapat dikonversi kembali menjadi modal ekonomi di masa depan. 15 Di sisi lain. Lareau memperluas definisi modal budaya untuk mencakup pengetahuan tentang praktik institusional dan interaksi dengan otoritas, yang mereka anggap penting dalam reproduksi ketidaksetaraan pendidikan. Penguatan Budaya pada Anak dalam Pendidikan Keluarga Kristen Keluarga Kristen memiliki peran sentral dalam mentransmisikan nilai-nilai, praktik, dan keyakinan Kristen kepada anak-anak mereka. Peran sejalan dengan konsep Bourdieu tentang keluarga sebagai agen utama dalam reproduksi modal budaya. 17 Dalam konteks Kristen, modal budaya mencakup pengetahuan alkitabiah, praktik ibadah, dan etika Kristen. Bartkowski dan Xu menunjukkan bahwa praktik keagamaan di rumah, seperti doa keluarga dan pembacaan Alkitab, berkorelasi positif dengan internalisasi nilai-nilai Kristen pada anak-anak. Doa keluarga merupakan salah satu praktik keagamaan penting dalam kehidupan keluarga Kristen yang mencerminkan kesatuan spiritual dan komunikasi bersama dengan Tuhan. Melalui doa, anggota keluarga tidak hanya menyampaikan syukur dan permohonan kepada Allah, tetapi juga memperkuat ikatan kasih di antara mereka. Chelladurai. Dollahite, dan Marks, menemukan bahwa doa keluarga berfungsi sebagai waktu untuk kebersamaan, dukungan sosial, dan pengurangan ketegangan relasional dalam keluarga. 19 Praktik ini juga memperkuat komunikasi antaranggota keluarga dan memperdalam hubungan spiritual meBourdieu and Passeron. Reproduction in Education, 50. Lareau. Unequal Childhoods, 276. 15 Mads Meier Jaeger dan Richard Breen. AuA Dynamic Model of Cultural Reproduction,Ay American Journal of Sociology 121, no. : 1079Ae1115. 16 Lareau. Unequal Childhoods, 276. 17 Pierre Bourdieu. AuThe Forms of Capital,Ay dalam Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education, ed. John G. Richardson (New York: Greenwood, 1. , 241Ae258. 18 John P. Bartkowski dan Xiaoyun Xu. AuDistant Patriarchs or Expressive Dads? The Discourse and Practice of Fathering in Conservative Protestant Families,Ay The Sociological Quarterly 41, no. : 465Ae485. 19 Joe M. Chelladurai. David C. Dollahite, dan Loren D. Marks. AuAoThe Family That Prays TogetherAAo: Relational Processes Associated with Regular Family Prayer,Ay Journal of Family Psychology 32, no. : 849Ae KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 844 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 Doa Bersama keluarga menciptakan suasana rohani yang mendalam, menanamkan nilai-nilai iman kepada anak-anak, serta membangun ketergantungan pada kehendak dan pimpinan Tuhan dalam segala aspek kehidupan keluarga. Selanjutnya, pembacaan Alkitab dalam keluarga Kristen merupakan bentuk pembinaan iman yang dilakukan secara bersama-sama, untuk mendalami firman Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas ini dapat dilakukan secara teratur, baik harian maupun mingguan, dengan melibatkan seluruh anggota keluarga dalam membaca, mendiskusikan, dan merenungkan isi Alkitab. Selain sebagai sarana untuk mengenal kehendak Allah, pembacaan Alkitab juga menjadi momen pembelajaran bersama yang memperkuat iman, memperkaya pemahaman teologis, dan membentuk karakter Kristiani dalam keluarga. Penelitian oleh Lister et al. , menunjukkan bahwa keterlibatan dalam ibadah keluarga, termasuk pembacaan Alkitab, berkontribusi pada kepuasan hubungan, penyesuaian emosional, serta resolusi konflik yang lebih baik di antara pasangan Kristen di Karibia dan Amerika Latin. Dengan menjadikan Alkitab sebagai dasar hidup, keluarga Kristen diajak untuk hidup sesuai ajaran Kristus di tengah tantangan zaman. Keluarga Kristen sering berinvestasi dalam bentuk modal budaya yang terobjektivikasi, seperti Alkitab, literatur Kristen, dan artefak keagamaan. Exposure terhadap objek-objek ini dapat memperkuat identitas dan pengetahuan Kristen anak-anak. 21 Banyak keluarga Kristen memilih untuk mengirim anak-anak mereka ke sekolah berbasis agama atau program pendidikan Kristen, dengan harapan anak-anak mereka memperoleh pendidikan karakter kristiani yang cukup dan memadai. Perspektif ini dapat dilihat sebagai investasi dalam modal budaya yang terlembagakan, yang dapat memberikan keuntungan dalam komunitas Kristen dan masyarakat yang lebih luas. 22 Dalam masyarakat yang semakin sekuler, keluarga Kristen menghadapi tantangan dalam mempertahankan dan mentransmisikan modal budaya Kristen mereka. Smith dan Denton, menekankan pentingnya "religiusitas terpadu" di mana praktik keagamaan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari keluarga untuk mengatasi tantangan ini. Penguatan budaya Kristen pada anak membutuhkan pendekatan holistik yang melibatkan tidak hanya transmisi pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan pengalaman Pembentukan karakter merupakan fondasi utama dalam penguatan budaya Kristen pada anak, karena nilai-nilai Kristiani tidak hanya diajarkan, tetapi harus dihayati dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Karakter seperti kasih, kejujuran, kerendahan hati, kesabaran, dan pengampunan merupakan cerminan dari kehidupan Kristus yang menjadi teladan bagi anak-anak. Proses pembentukan ini tidak bisa hanya dilakukan melalui pengajaran kognitif, tetapi membutuhkan keteladanan dari orang tua, guru, dan lingkungan yang mendukung. Dalam kerangka ini, pendidikan karakter Kristen berperan membentuk pribadi yang tidak hanya memiliki pemahaman yang benar tentang iman, tetapi juga hidup sesuai dengan nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata. Penelitian oleh Panggabean menunjukkan bahwa pendidikan di luar sekolah, seperti program keagamaan dan kegiatan ekstrakurikuler, ber- Zephon Lister et al. AuThe Influence of Prayer and Family Worship on Relationship Functioning among Married Adults in the Caribbean and Latin America,Ay Religions 11, no. : 14. 21 R. Petts. AuParental Religiosity and Youth Religiosity: Variations by Family Structure,Ay Sociology of Religion 76, no. : 95Ae120. 22 David Sikkink. AuDo Religious School Teachers Take Their Faith to Work? Research Evidence from the United States,Ay Theo-Web: Zeitschrift fyr Religionspydagogik 9, no. : 160Ae179. 23 Smith and Denton. Soul Searching. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 845 S. Aponno. Teori modal budaya PierreA kontribusi signifikan dalam membentuk karakter Kristen pada anak usia dini melalui pendekatan interaktif dan partisipatif yang menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual. Sementara itu, pengalaman spiritual menjadi aspek penting dalam memperkuat budaya Kristen, karena melalui pengalaman inilah anak-anak membangun hubungan pribadi dengan Tuhan. Pengalaman ini dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti doa pribadi, ibadah keluarga, pelayanan di gereja, atau pengalaman iman yang menyentuh secara emosional dan batiniah. Ketika anak mengalami kehadiran Tuhan secara nyata dalam hidupnya, iman tidak lagi hanya menjadi warisan tradisi, tetapi menjadi keyakinan yang hidup dan bertumbuh. Penelitian oleh Adams, menekankan pentingnya memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan dan mengembangkan spiritualitas mereka melalui pengalaman yang mendalam dan reflektif, yang dapat memperkuat identitas spiritual mereka sejak dini. 25 Oleh karena itu, penting bagi keluarga dan komunitas gereja untuk menciptakan ruang yang memungkinkan anak-anak merasakan kasih Allah secara langsung dan mengalami pertumbuhan iman yang autentik dalam kehidupan mereka sehari-hari. Modal Budaya dalam Keluarga Kristen Pierre Bourdieu mendefinisikan modal budaya sebagai akumulasi pengetahuan, keterampilan, dan disposisi yang dapat diwariskan dan diakumulasikan melalui pendidikan dan sosialisasi. 26 Dalam konteks keluarga Kristen, modal budaya ini dapat mencakup pengetahuan Alkitabiah, praktik ibadah, nilai-nilai Kristiani, dan pemahaman teologis. Ada tiga bentuk modal budaya dalam keluarga Kristen. Pertama, modal budaya yang terwujud . Dalam keluarga Kristen, ini dapat berupa internalisasi nilai-nilai Kristiani, kebiasaan berdoa, dan cara berpikir yang selaras dengan ajaran Kristen. Rakhmat menekankan pentingnya peran keluarga dalam mentransmisikan nilai-nilai agama kepada anak-anak melalui praktik sehari-hari. Nilai-nilai tersebut tidak cukup hanya diajarkan secara verbal, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan konkret seperti doa bersama, pembacaan kitab suci, sikap saling menghormati, dan penerapan kasih dalam hubungan antaranggota keluarga. Dalam konteks ini, anak belajar dari keteladanan yang dilihat dan dialami langsung di rumah, sehingga nilai-nilai agama menjadi bagian integral dari kepribadian mereka. Dengan kata lain, keluarga berfungsi sebagai "sekolah pertama" tempat anak membentuk identitas spiritual dan moral yang akan memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan dunia di sekitarnya. Kedua, modal budaya yang terobjektivikasi . Ini meliputi kepemilikan bendabenda yang bernilai religius seperti Alkitab, literatur Kristen, musik rohani, dan simbol-simbol keagamaan. Santoso menunjukkan bahwa ketersediaan sumber daya keagamaan di rumah berkorelasi positif dengan religiusitas anak. 28 Ketersediaan sumber daya keagamaan di rumah, seperti Alkitab, buku-buku rohani, musik rohani, simbol-simbol iman, dan akses terhadap media keagamaan, memiliki korelasi positif dengan tingkat religiusitas anak. Kehadiran sumber daya ini tidak hanya menjadi sarana pendidikan iman, tetapi juga menciptakan suasana spiritual yang mendukung pertumbuhan rohani anak secara alami. Dengan adanya pa24 Eva Saryati Panggabean. AuThe Forming Christian Character: The Contribution of Out-of-School Education to Build Strong Foundations for Early Childhood,Ay Bulletin of Science Education 4, no. : 1Ae9. 25 Kate Adams. AuNavigating the Spaces of ChildrenAos Spiritual Experiences: Influences of Tradition. Multidisciplinarity and Perceptions,Ay International Journal of ChildrenAos Spirituality 24, no. 1 (January 2, 2. : 29Ae 43, https://doi/full/10. 1080/1364436X. 26 Kukuh Yudha Karnanta. AuParadigma Teori Arena Produksi Kultural Sastra: Kajian terhadap Pemikiran Pierre Bourdieu,Ay Jurnal Poetika 1, no. : 3Ae15. 27 Rakhmat. Psikologi Agama. 28 Santoso. AuPraktik Keagamaan Dalam Keluarga Kristen. Ay KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 846 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 paran yang konsisten terhadap hal-hal yang bersifat keagamaan, anak-anak cenderung lebih mudah menginternalisasi nilai-nilai iman dan menjadikannya sebagai bagian dari identitas Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan rumah yang kaya secara spiritual memiliki kontribusi besar dalam membentuk perilaku dan kesadaran religius anak sejak usia dini. Ketiga, modal budaya yang terlembagakan . Dalam konteks Kristen, ini bisa berupa pendidikan di sekolah berbasis agama, gelar dari institusi teologi, atau posisi kepemimpinan dalam gereja. Pendidikan agama memainkan peran sentral dalam pembentukan karakter dan identitas keagamaan seseorang, terutama sejak usia dini. Melalui pendidikan agama, anak tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang ajaran kei-manan, tetapi juga diarahkan untuk menghayati nilai-nilai moral dan etika yang membentuk kepribadian Pendidikan agama yang efektif mampu menanamkan kesadaran akan tanggung jawab, toleransi, disiplin, serta rasa hormat terhadap sesama dan terhadap Tuhan. Dalam proses ini, identitas keagamaan dibentuk bukan hanya sebagai label formal, melainkan sebagai bagian yang melekat dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Dengan demikian, pendidikan agama berkontribusi langsung dalam membentuk karakter individu yang berintegritas dan berlandaskan nilai-nilai spiritual. Transmisi modal budaya dalam keluarga Kristen menurut Bourdieu, menekankan peran keluarga dalam mentransmisikan modal budaya. Dalam keluarga Kristen, orang tua berperan sebagai agen utama dalam mentransmisikan nilai-nilai dan praktik keagamaan. Mujiwati menekankan pentingnya pendidikan agama dalam keluarga sebagai fondasi pembentukan karakter anak. 29 Modal budaya Kristen dapat dikonversi menjadi bentuk modal lainnya. Misalnya, pengetahuan alkitabiah dan keterampilan kepemimpinan yang diperoleh dalam konteks gereja . odal buday. dapat dikonversi menjadi posisi berpengaruh dalam komunitas Kristen . odal sosia. , atau peluang karir dalam organisasi keagamaan . odal ekonom. Dalam masyarakat yang semakin plural, keluarga Kristen menghadapi tantangan dalam mempertahankan dan mentransmisikan modal budaya Kristen. Hoon meneliti bagaimana keluarga Kristen Tionghoa di Indonesia mentransmisikan nilai-nilai keagamaan dalam konteks 30 Strategi yang dapat diterapkan termasuk keterlibatan aktif dalam komunitas gereja dan penggunaan media Kristen. 31 Strategi efektif dalam mendukung pertumbuhan iman dan pembentukan budaya Kristen pada anak mencakup keterlibatan aktif dalam komunitas gereja serta pemanfaatan media Kristen. Melalui partisipasi dalam kegiatan gerejawi seperti sekolah minggu, persekutuan anak, atau pelayanan keluarga, anak-anak memperoleh kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan yang mendukung nilai-nilai iman mereka. Sementara itu, media Kristen seperti buku rohani, lagu pujian, film bernuansa kekristenan, dan aplikasi digital berbasis iman, dapat menjadi sarana pembelajaran yang menarik dan relevan bagi anak-anak di era digital. Kombinasi antara keterlibatan sosial dan konsumsi media yang sehat ini membantu anak menginternalisasi nilai-nilai Kristen dalam kehidupan seharihari secara holistik dan berkelanjutan. Pemahaman tentang modal budaya dapat membantu keluarga Kristen mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk memperkuat identitas dan nilai-nilai Kristen pada anak-anak Ini mungkin melibatkan investasi yang sadar dalam sumber daya keagamaan, partisiYuniar Mujiwati. AuPeranan Pendidikan Karakter dalam Pembangunan Karakter Bangsa,Ay Jurnal Ilmiah Edukasi & Sosial 8, no. : 165Ae170. 30 Chang-Yau Hoon. Identitas Tionghoa Pasca-Suharto: Budaya. Politik, dan Media (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2. , 291. 31 Siti Indah Astuti. AuMedia dan Dakwah: Menuju Paradigma Baru Dakwah Komunikatif,Ay Jurnal Komunikasi Islam 3, no. : 1Ae18. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 847 S. Aponno. Teori modal budaya PierreA pasi aktif dalam kegiatan gereja, dan penciptaan lingkungan rumah yang mendukung perkembangan iman. Integrasi pendidikan karakter berbasis agama dalam kehidupan sehari-hari sangat penting untuk membentuk pribadi yang bermoral dan beriman secara utuh. Pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan dalam ruang kelas atau dalam bentuk teori, tetapi harus diterapkan secara nyata dalam tindakan sehari-hari di rumah, sekolah, dan masyarakat. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kerja sama perlu dihidupi melalui kebiasaan dan teladan yang konsisten, sehingga anak tidak hanya me-mahami nilai-nilai tersebut, tetapi juga terbiasa menerapkannya dalam interaksi sosial. De-ngan menjadikan ajaran agama sebagai pedoman hidup yang praktis, pendidikan karakter menjadi lebih kontekstual, relevan, dan efektif dalam membentuk generasi yang berintegritas. Teori Modal Budaya Pierre Bourdieu dalam Konteks Penguatan Budaya pada Anak Bourdieu menekankan peran sentral keluarga dalam mentransmisikan modal budaya. Orang tua, melalui praktik pengasuhan dan lingkungan rumah yang mereka ciptakan, memainkan peran kunci dalam membentuk modal budaya anak-anak mereka. 32 Bourdieu berpendapat bahwa anak-anak dari keluarga dengan modal budaya yang lebih tinggi cenderung lebih berhasil dalam sistem pendidikan. Hal ini karena, sistem pendidikan sering menghargai dan menguatkan bentuk-bentuk modal budaya tertentu. 33 Sistem pendidikan sering kali menghargai dan menguatkan bentuk-bentuk modal budaya tertentu, yaitu nilai-nilai, pengetahuan, gaya komunikasi, dan perilaku yang dianggap sesuai atau dominan dalam lingkungan pendidikan Hal ini menciptakan kecenderungan di mana anak-anak yang berasal dari latar belakang budaya yang sejalan dengan standar institusi pendidikan lebih mudah beradaptasi dan memperoleh pengakuan, sementara mereka yang membawa modal budaya berbeda sering kali kurang dihargai atau bahkan mengalami hambatan. Dengan demikian, sistem pendidikan tidak selalu bersifat netral, namun turut mereproduksi ketimpangan sosial melalui penguatan norma-norma budaya tertentu yang dianggap unggul. Oleh karena itu, penting bagi pendidikan untuk lebih inklusif terhadap keragaman budaya, sehingga semua peserta didik memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang. Berdasarkan teori Bourdieu, strategi penguatan budaya pada anak dapat meliputi: pertama, menciptakan lingkungan rumah yang kaya akan sumber daya budaya. 34 Menurut teori Bourdieu, lingkungan rumah yang kaya akan sumber daya budaya berperan penting dalam pengembangan modal budaya anak. Hal ini berarti menyediakan akses kepada anak-anak untuk berbagai materi dan kegiatan budaya, seperti buku, musik, seni, atau diskusi yang mendorong mereka untuk mengembangkan keterampilan kognitif dan sosial. Lingkungan yang demikian akan membentuk anak dengan pemahaman yang lebih luas tentang dunia dan mengasah kemampuan mereka untuk memahami, mengapresiasi, serta berpartisipasi dalam budaya yang ada. Keberadaan sumber daya ini memungkinkan anak-anak untuk membangun modal budaya mereka, yang pada gilirannya akan memperkuat posisi sosial mereka di masa Kedua, melibatkan anak dalam kegiatan budaya seperti kunjungan ke museum atau pertunjukan seni. Melibatkan anak dalam kegiatan budaya, seperti kunjungan ke museum atau pertunjukan seni, merupakan strategi yang efektif dalam memperkenalkan mereka pada ber32 Bourdieu. AuThe Forms of Capital. Ay Nur Latifah. AuPendidikan dalam Teori Sosiologi,Ay Elkatarie: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial 4, 2 . , https://ejurnal. id/index. php/jurnalelkatarie/article/view/29. Bourdieu. AuThe Forms of Capital. Ay KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 848 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 bagai bentuk ekspresi budaya. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi anak untuk berinteraksi langsung dengan warisan budaya, mengembangkan rasa estetika, serta memperkaya wawasan mereka tentang sejarah, seni, dan tradisi. Menurut Bourdieu, partisipasi aktif dalam pengalaman budaya semacam ini dapat meningkatkan modal budaya anak, yang berfungsi sebagai alat untuk memahami dan beradaptasi dalam masyarakat yang lebih luas. Selain itu, pengalaman ini memperkuat identitas budaya anak dan memberikan mereka perspektif yang lebih kaya dalam melihat dunia. Ketiga, mendorong praktik literasi dan diskusi tentang isu-isu budaya di rumah. Keempat, mendukung partisipasi anak dalam kegiatan ekstrakurikuler yang memperkaya modal budaya mereka. Praktik literasi yang dilakukan di rumah, seperti membaca buku, artikel, atau menonton film bersama, diikuti dengan diskusi tentang isu-isu budaya, sangat penting untuk penguatan modal budaya anak. Diskusi ini tidak hanya membantu anak mengembangkan keterampilan berpikir kritis, tetapi juga memperkenalkan mereka pada konsep-konsep budaya yang lebih dalam. Bourdieu menyatakan bahwa kemampuan untuk berbicara dan berdiskusi tentang topik-topik budaya membantu anak membangun modal budaya yang akan digunakan untuk berinteraksi dan berpartisipasi dalam masyarakat. Dengan membiasakan anak berdiskusi, mereka belajar untuk menghargai berbagai pandangan dan memahami bagaimana budaya membentuk identitas serta perilaku individu dalam konteks sosial. Bourdieu menekankan bahwa keluarga merupakan agen sosialisasi primer dan tempat pertama di mana anak-anak memperoleh modal budaya. Damsar menjelaskan bahwa, dalam konteks Indonesia, keluarga memainkan peran krusial dalam mentransmisikan nilai-nilai, norma, dan praktik budaya kepada anak-anak. 35 Gaya pengasuhan orang tua sangat memengaruhi akumulasi modal budaya anak. Orang tua dari kelas sosial yang berbeda cenderung memiliki praktik pengasuhan yang berbeda, yang pada gilirannya memengaruhi jenis dan jumlah modal budaya yang ditransmisikan. Misalnya, orang tua dari kelas menengah di Indonesia, cenderung lebih menekankan pada pengembangan kemampuan bahasa dan apresiasi seni pada anak-anak mereka. Ketersediaan sumber daya budaya di rumah, seperti buku, karya seni, atau alat musik, merupakan bentuk modal budaya objektif yang penting. Hidayat menyoroti bahwa di Indonesia, keluarga yang memiliki akses ke sumber daya ini cenderung lebih mampu mentransmisikan modal budaya yang dihargai oleh sistem pendidikan formal. 36 Keluarga yang memiliki akses ke sumber daya budaya, seperti pendidikan, informasi, atau pengalaman budaya, cenderung lebih mampu mentransmisikan modal budaya yang dihargai oleh sistem pendidikan formal. Akses ini memungkinkan anak-anak untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dianggap penting oleh sekolah dan masyarakat, seperti kemampuan literasi, pemahaman seni, dan kemampuan berkomunikasi yang Keluarga dengan sumber daya budaya yang lebih kaya dapat memberikan dukungan yang lebih besar dalam membentuk kemampuan anak-anak untuk beradaptasi dan berhasil dalam sistem pendidikan, sehingga mereka memiliki keuntungan sosial yang lebih besar dalam menghadapi tantangan akademik dan perkembangan sosial. Konteks keluarga Kristen masa kini menunjukkan bahwa gaya pengasuhan orang tua sangat memengaruhi akumulasi modal budaya anak, terutama dalam membentuk nilai-nilai moral dan spiritual. Orang tua yang menerapkan gaya pengasuhan yang terbuka, mendukung, dan penuh kasih dapat memberikan anak-anak mereka akses lebih besar untuk mengembangkan modal budaya, seperti pemahaman agama, keterampilan sosial, dan kemam35 Bourdieu. AuThe Forms of Capital. Ay Rahmat Hidayat. Pengantar Sosiologi Kurikulum (Jakarta: Rajawali Pers, 2. , 79. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 849 S. Aponno. Teori modal budaya PierreA puan intelektual. Dalam keluarga Kristen, pengasuhan yang berbasis pada ajaran Kristus seperti: kasih, pengampunan, dan disiplin, dapat mengarahkan anak-anak untuk tumbuh dalam iman dan karakter yang kuat. Gaya pengasuhan yang melibatkan komunikasi yang sehat, praktik doa bersama, serta pembacaan Alkitab secara rutin memperkaya pengalaman spiritual dan budaya anak, yang pada gilirannya akan membantu mereka beradaptasi lebih baik dalam lingkungan sosial dan pendidikan yang lebih luas. Kesimpulan Teori modal budaya Pierre Bourdieu dalam konteks penguatan budaya pada anak dalam pendidikan keluarga Kristen, menggambarkan pentingnya pengenalan dan penguasaan modal budaya sebagai kunci untuk memahami bagaimana nilai-nilai dan praktik Kristen diteruskan dari generasi ke generasi. Dalam teori Bourdieu, modal budaya meliputi pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan yang dimiliki seseorang dalam suatu budaya tertentu. Dalam konteks ini, keluarga Kristen berperan penting dalam menyediakan lingkungan di mana anakanak dapat memperoleh dan menginternalisasi modal budaya Kristen. Pendidikan keluarga Kristen bertujuan untuk memperkuat identitas agama anak-anak dengan cara menyediakan pengalaman-pengalaman yang mendalam dan terstruktur dalam ajaran agama, ritual, dan praktik ibadah Kristen. Bourdieu akan menekankan bahwa proses ini tidak hanya tentang penerimaan nilai-nilai, tetapi juga tentang pembentukan kapasitas anak-anak untuk berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan rohani dan praktik sosial Kristen. Secara lebih spesifik, modal budaya Kristen dapat dipahami sebagai pengetahuan tentang Alkitab, praktik doa, kehidupan doa sehari-hari, serta norma-norma moral dan etika Kristen. Referensi