SOSFILKOM Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 DOA SEBAGAI PENGIKAT RITUAL MASYARAKAT NGRAWAN DALAM TRADISI RAJABAN DI PRASASTI NGRAWAN Elisa Anggraeni. Dewi Kartika Sari. Amir Machmud. Universitas Kristen Satya Wacana 362020075@student. , dewi. sari@uksw. , amirmachmudns@gmail. Abstract This research examines the role of prayer as a binding element in the ritual practices of the Ngrawan community within the Rajaban tradition at Ngrawan Inscription. The study explores how prayer functions not only as a religious act but also as a component that strengthens identity and social solidarity within the community. The research methodology employed is qualitative descriptive with a communication ethnography approach, involving data collection through participant observation and in-depth interviews with key figures and members of the Ngrawan community. The findings reveal that prayer plays a crucial role as a ritual communication in the Rajaban tradition at Ngrawan Inscription. Prayer is not merely a set of words but serves as a medium connecting the Ngrawan community with their spiritual and cultural dimensions. Through prayer, they express hopes, requests, and gratitude to the spiritual entities they believe in, binding them in a ritual that reinforces community identity and This tradition must continue as a way to preserve the cultural heritage of Ngrawan Village, ensuring its continuity. Prayer holds a central role in connecting the community with the Rajaban tradition, preserving cultural values, and strengthening social relationships within it. The implications of this research underscore the importance of understanding and preserving prayer practices as integral parts of traditional community life to safeguard cultural sustainability and local wisdom Keywords: Cultural Heritage. Ritual Communication. Ngrawan Inscription Abstrak Penelitian ini mengkaji peran doa sebagai pengikat ritual masyarakat Ngrawan dalam tradisi Rajaban yang terdapat di Prasasti Ngrawan. Studi ini mengeksplorasi bagaimana praktik doa tidak hanya sebagai aksi religius, tetapi juga sebagai elemen yang memperkuat identitas dan solidaritas sosial dalam komunitas tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tokoh Masyarakat dari Desa Ngrawan dan observasi partisipatif di desa Ngrawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa doa memegang peran yang sangat penting sebagai komunikasi ritual dalam tradisi Rajaban di Prasasti Ngrawan. Doa bukan hanya sekadar serangkaian kata-kata, tetapi merupakan medium yang menghubungkan masyarakat Ngrawan dengan dimensi spiritual dan budaya mereka. Melalui doa, mereka menyampaikan harapan, permohonan, dan rasa syukur kepada entitas spiritual yang mereka Doa menjadi pengikat dalam sebuah ritual yang memperkuat identitas dan kebersamaan Lebih jauh, doa memiliki peran sentral dalam menghubungkan masyarakat dengan tradisi Rajaban, mempertahankan nilai-nilai budaya, serta memperkuat hubungan sosial didalamnya. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya memahami dan melestarikan praktik doa sebagai bagian integral dari kehidupan masyarakat tradisional untuk menjaga keberlanjutan budaya dan kearifan lokal. Kata Kunci: Cagar Budaya. Komunikasi Ritual. Prasasti Ngrawan PENDAHULUAN Keragaman budaya dan etnis di Indonesia menjadi salah satu kekuatan pertumbuhan sektor pariwisata dan seni. Diterbitkan oleh FISIP UMC Keberagaman budaya di Indonesia terjadi karena adanya banyak struktur yang saling berinteraksi dan berfungsi sebagai Masyarakat (Permatasari et al. , 2. Keberagaman . SOSFILKOM budaya di Indonesia menjadikan bangsa ini Kebudayaan adalah hasil dari kreativitas beragam,keberagaman tersebut merupakan peninggalan zaman dahulu yang menjadi cagar budaya. (Hidayah, 2. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 mengenai Cagar Budaya, cagar budaya didefinisikan sebagai berikut: "Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan, berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat maupun di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. "(Agustinova. Salah satu cagar budaya yang ada di Indonesia yang berasal dari zaman dahulu adalah prasasti. Prasasti berasal dari bahasa sansekerta yang berarti puji-pujian, serta diartikan sebagai piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama. Permatasari et al . Penemuan prasasti menjadi sumber data yang penting untuk peneliti sejarah pada zaman Indonesia Kuno (Mahdayeni et al. Semakin banyak penemuan prasasti, kemungkinan rekonstruksi kehidupan manusia lama dari berbagai aspek. Salah satu prasasti di Indonesia yang masih ada saat ini, adalah Prasasti Ngrawan, yang terletak di Desa Ngrawan Kecamatan Getasan. Kabupaten Semarang. Jawa Tengah. Prasasti Ngrawan merupakan kekayaan budya yang perawatan serta pelestariannya belum maksimal, padahal Prasasti Ngrawan memiliki potensi wisata untuk sarana melestarikan kebudayaan. (Nugroho & Wuryani, 2. Prasasti ini menjadi salah satu aset yang dapat digunakan untuk menelisik lebih dalam tentang kehidupan zaman kuno (Nugroho & Wuryani, 2. Prasasti Ngrawan diyakini sebagai peninggalan Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 kerajaan Hindu Budha. Prasasti ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu maesan atau tengger dengan tulisan jawa kuno, dua lainya berbentuk seperti gentong yang juga bertuliskan aksara jawa kuno. Sampai saat ini tulisan yang ada di prasasti tersebut belum diketahui artinya. Keberadaan Prasasti tersebut belum terlalu banyak diketahui oleh masyarakat luas, dan merupakan cagar budaya yang harus dilestarikan keberadaannya (Nugroho & Wuryani, 2. Berdasarkan riset awal melalui wawancara dengan pengurus Prasasti Ngrawan. Dwi Purwoko, pengunjung umumnya datang karena ingin mengetahui lebih dalam mengenai cagar alam tersebut. Kedatangan dilakukan ketika ada acara seperti Rajaban, di bulan Rajab tahun Jawa. Dwi Purwoko selanjutnya menyebut bahwa Rajaban ini dilakukan untuk mengenang peristiwa longsor dan perpindahan desa dari Batur ke Ngrawan. Warga dusun setempat biasa mengadakan tradisi Rajaban dengan ritual penyembelihan kambing yang harus dimakan dan dihabiskan di Prasasti atau yang sering disebut baturan. Baturan dalam bahasa Jawa berarti pondasi rumah. Baturan merujuk pada bekas desa mereka yang hilang karena longsor. Wilayah longsor tersebut mencakup area sekitar Prasasti. Masyarakat di wilayah tersebut umumnya menyebut dengan istilah Nyadran Batur, sementara kegiatannya disebut dengan Nyadran Batur. Baik itu prasasti. Rajaban maupun Nyadran Batur merupakan keunikan budaya yang belum pernah dibahas dalam kajian komunikasi lintas budaya. Alasan inilah yang mendorong peneliti unutk melakukan kajian pada fenomena tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode (Kriyantono, 2. Metode kualitatif etnografi Komunikasi bertujuan untuk dapat menggambarkan, menjelaskan dan membangun hubungan dari berbagai . SOSFILKOM kategori dan data yang ditemukan. Etnografi komunikasi memiliki fokus utama pada perilaku komunikasi yang terjadi dalam suatu tema kebudayaan tertentu, sehingga dalam etnografi komunikasi, perilaku yang dimaksud tidak hanya merujuk kepada perilaku individu secara keseluruhan, tetapi juga terfokus pada perilaku dalam konteks sosial dan (Kriyantono, 2. Dalam etnografi komunikasi, menjelaskan bahwa aktivitas komunikasi yang terjadi memiliki makna untuk mengidentifikasi peristiwa komunikasi dalam proses komunikasi (Daryanto & Raharjo, 2. Etnografi komunikasi berfungsi sebagai metode untuk menjelaskan perilaku komunikasi yang teramati pada objek (Daryanto & Raharjo, 2. Etnografi komunikasi berperan sebagai metode yang akan menjelaskan mengenai perilaku komunikasi yang terjadi pada objek penelitian yang diteliti. Etnografi komunikasi, menjelaskan bahwa aktivitas komunikasi yang terjadi memiliki makna komunikasi dalam proses komunikasi (Adil & Bukhori, 2. Etnografi komunikasi memiliki fokus utama pada perilaku komunikasi yang terjadi dalam suatu tema kebudayaan tertentu sehingga tidak keseluruhan perilaku, perilaku yang dimaksudkan dalam etnografi komunikasi adalah perilaku dalam konteks sosial kultural (Kriyantono. Dalam etnografi komunikasi, menjelaskan bahwa aktivitas komunikasi yang terjadi memiliki makna untuk mengidentifikasi peristiwa komunikasi dalam proses komunikasi (Daryanto & Raharjo, 2. Etnografi komunikasi berperan sebagai metode yang akan komunikasi yang terjadi pada objek penelitian yang diteliti. Pada penelitian ini, bersubjek pada sesepuh yang ada di Prasasti Ngrawan, adat rajaban di Prasasti Ngrawan, dan salah satu anggota pengurus Prasasti Ngrawan. Subjek tersebut dipilih karena memiliki Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 pengetahuan terkait topik yang diteliti. Subjek pada penelitian akan memberikan mengamati Tradisi yang ada di Prasasti Ngrawan, sementara unit analisa pada penelitian ini adalah makna dalam setiap tradisi yang dipercayai masyarakat yang dilakukan di Prasasti Ngrawan . Pada penelitian ini memilih lokasi penelitian di Dusun Ngrawan. Desa Ngrawan. Kecamatan Getasan. Kabupaten Semarang. Jawa Tengah, karena letak prasasti tersebut berada di dusun Ngrawan (Nugroho & Wuryani, 2. , sehingga peneliti dapat melakukan penelitian secara langsung dengan mendatangi lokasi dan wawancara kepada pihak terkait. Sumber data penelitian ini ialah data primer dan data sekunder. Data primer narasumber kepada pengurus Prasasti Ngrawan, sesepuh Desa Ngrawan, serta mantan Kepala Desa Ngrawan,serta observasi ke lokasi Prasasti Ngrawan. Data sekunder sebagai pelengkap data primer didapat dari kepustakaan pada jurnal, buku serta dokumen yang mendukung untuk penelitian ini. Teknik pengambilan data dilakukan dengan melakukan wawancara, observasi serta kepustakaan. Penelitian ini melakukan wawancara secara langsung kepada tokoh yang ada di Prasasti Ngrawan yaitu pengurus Prasasti Ngrawan. Dwi Purwoko, sesepuh Desa Ngrawan bapak Wajib, serta mantan Kepala Desa Ngrawan yaitu bapak Manten. Peneliti juga akan melakukan observasi secara langsung di lokasi terdapatnya Prasasti Ngrawan guna memperoleh dokumentasi komunikasi ritual di tenpat tersebut. Observasi atau pengamatan merupakan aktivitas sistematis yang dilakukan untuk mengetahui sesuatu hal yang bersifat fisik maupun mental (Alfansyur, 2. Penelitian ini dilengkapi dengan melakukan pencarian literatur melalui jurnal, buku serta dokumen tentang objek penelitian. Data-data yang diperoleh . SOSFILKOM metode analisis data interaktif Miles dan Huberman. Menurut Miles & Huberman . analisis data interaktif dalam penelitian kualitatif melibatkan pengumpulan data untuk menampilkan informasi yang relevan, yang nantinya akan diverifikasi untuk memperkuat kesimpulan dari penelitian ini. Proses pencarian dan penyusunan data secara sistematis melibatkan wawancara, pencatatan laporan, dan dokumentasi untuk memberikan pemahaman kepada peneliti tentang penemuan yang telah ditemukan. Selanjutnya, berkenaan dengan kredibilitas data, peneliti melakukan triangulasi data. Triangulasi data dapat diartikan menjadi suatu pendekatan untuk menganalisis data dari berbagai sumber (Moleong, 2. Deskripsi tersebut menjelaskan bahwa triangulasi data digunakan untuk menguji kredibilitas data dengan cara memeriksa data dari berbagai sumber yang berbeda dalam waktu yang Salah satu jenis triangulasi yang diterapkan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber, yaitu pengujian data dari beberapa sumber informasi yang berbeda (Susanto et al. , 2. Pengujian data melalui triangulasi sumber dapat menghasilkan informasi yang lebih akurat dari berbagai sumber yang Triangulasi digunakan untuk mengevaluasi kredibilitas data dengan membandingkan informasi dari beberapa sumber yang dipilih oleh peneliti (Sugiyono, 2. Keabsahan data dilakukan untuk memastikan bahwa penelitian yang dilakukan memiliki validitas ilmiah. Dalam penelitian kualitatif, keabsahan data diuji dengan berbagai cara, salah satunya melalui uji kredibilitas. Uji kredibilitas dapat pengamatan, meningkatkan ketelitian dalam penelitian, melakukan triangulasi data dari berbagai sumber, mengadakan (Trityono, 2. Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 HASIL DAN PEMBAHASAN Simbol Komunikasi Ritual Tradisi Rajaban Analisis komunikasi ritual menurut Daryanto dan Raharjo, meliputi empat Pertama, aspek simbolisme dan Aspek simbolisme dan makna meliputi simbol-simbol, gestur, kata-kata benda-benda menyampaikan makna dan pesan tertentu dalam konteks upacara atau ritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Rajaban setidaknya melibatkan empat simbol untuk menyampaikan makna dan pesan tertentu. Simbol-simbol dan makna pesan tersebut dituliskan pada Tabel 1. Tradisi Rajaban merupakan sendiri berasal dari kata Rajab. Rajab adalah bulan ketujuh dalam sistem kalender Jawa. Desa Ngrawan, bulan Rajab dirayakan dengan tradisi AumethukanAy di Baturan. Tradisi ini dilakukan dengan cara menyembelih kambing dara, kambing dara yang disembelih selalu berisi anak. Dwi Purwoko dalam wawancara pada tanggal 9 Juni kepercayaan masyarakat bahwa kambing yang disembelih jika tidak ada anak di perutnya . , maka rejeki masyarakat bisa berkurang. Kepercayaan ini masih dipegang hingga sekarang. Selain menyembelih kambing, tradisi Rajaban ditandai dengan pembuatan Hal yang wajib ditaati adalah satu Pembuatan tumpeng tidak mengikuti ketentuan tertentu sehingga masayarakat bebas membuat tumpeng dengan isinya sesuai kehendak masing-masing keluarga. Selanjutnya. Tumpeng tersebut harus dimakan bersama-sama di Baturan. Wawancara dengan Mantan Kepala Desa Ngrawan yaitu Mbah Manten, tumpeng yang dibawa oleh setiap keluarga merupakan tanda ucapan terima kasih atas hasil bumi yang telah diterima. Selain sebagai makna dari hasil bumi yang didapatkan tumpeng juga sebagai makanan yang akan disajikan saat berada di Prasasti . SOSFILKOM Ngrawan. Dalam penyajian tumpeng biasanya seluruh tumpeng akan disatukan untuk dilakukan acara kenduri. Analisis komunikasi ritual yang kedua yakni adanya tata cara dan urutan dalam ritual Rajaban. Rajaban dilakukan sesuai urutan yakni petama, penyembelihan kambing dara. Mbah Wajib selaku sesepuh desa menjelaskan bahwa tradisi Rajaban akan diawali dengan pemotongan kambing disampaikannya pada wawancara tanggal 29 Juni 2024. Pemotongan kambing dara akan dilakukan oleh mantan Kepala Desa Ngrawan, yaitu Mbah Manten, yang dibantu oleh dua warga Ngrawan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Mbah Wajib dan mantan kepala Desa Ngrawan yaitu Mbah Manten, tradisi sembelih kambing merupakan sebuah naluri dari nenek moyang yang harus dilakukan dan tidak boleh diingkari. Ritual ini beberapa kali terjadi kejanggalan dimana kambing dara yang disembelih terdapat anaknya, dari kejanggalan tersebut dimaknai masyarakat ngrawan sebagai tanda bahwa kambing dara yang disembelih memiliki anak membawa isyarat bahwa masyarakat akan mendapatkan rejeki yang berlimpah, (Wawancara Mbah Mante, 11 Juli 2. Penyembelihan kambing dara akan dilakukan oleh Mantan Kepala Desa yaitu Mbah Manten dibantu oleh beberapa warga. Tradisi tersebut dilakukan turun temurun dari tahun-ketahun. awancara Mbah Manten 12 Juli 2. Sebelum dilakukan penyembelihan akan dilakukan doa terlebih dahulu. Doa menggabungkan kekuatan yang telah ada dengan energi baru dan membuat kebaikan menjadi lebih bertahan dalam pembangunan kehidupan sosial dan individual. (Syariati, 2. Doa dilakukan agat melakui korban kambing dara tersebut dapat membawa keberkahan bagi masyarakat Ngrawan. awancara Mbah Manten 12 Juli 2. Kambing yang telah di sembelih akan dipotong kecilkecil dan ditusuk untuk dibagi kepada Masyarakat, . awancara Mbah Manten 12 Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 Juli 2. Ritual penyembelihan tersebut dilakukan terlebih dahulu sebelum masyarakat memulai kirab dari balai desa menuju prasasti ngrawan. Setelah kambing setelah disembelih baru masyarakat memulai untuk kirab, . awancara Mbah Manten 12 Juli 2. Urutan kedua adalah Kirab. Setelah masyarakat Ngrawan akan berkumpul di Balai Desa Ngrawan untuk memulai acara kirab menuju Prasasti Ngrawan. Pada awal pembukaan, akan dilakukan doa sesuai agama Islam, kemudian dilanjutkan dengan kirab menuju Prasasti Ngrawan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan kirab merupakan aktivitas perjalanan bersama-sama atau beriringiring secara teratur dan berurutan dari muka ke belakang dalam suatu rangkaian upacara . dat, keagamaan, dan sebagainy. Iringiringan tersebut diikuti oleh Masyarakat Desa Ngrawan masyarakat menggunakan baju adat dan juga baju tarian dari Desa Ngrawan. Setiap ritual yang dilakukan pada tradisi ini selalu dilakukan dengan diawali doa. Urutan ketiga yakni melewati Danau Balong. Perjalanan menuju Prasasti Ngrawan akan melewati Danau Balong, di mana akan dilakukan doa kembali untuk meminta izin kepada leluhur agar acara Rajaban dapat berjalan lancar. Salah satu ritual dalam bagian ini adalah pengambilan mata air pada sumber mata air di Prasasti Ngrawan yang telah didoakan akan membawa berkat dan Sebelum mengambil air tersebut sesepuh desa akan melakukan doa dengan cara Islam, dengan tujuan meminta izin kepada penunggu mata air tersebut, bahwa warga akan kesembuhan serta berkat bagi masyarakat. Pengambilan air dari sumber mata air yang telah didoakan tidak sembarangan dapat diambil, orang pertama yang boleh mengambilnya adalah mantan Kepala Desa Ngrawan yaitu Mbah Manten, setelah itu . SOSFILKOM mengambilnya, . awancara Mbah Manten 12 Juli 2. Setelah doa di Danau Balong, perjalanan akan dilanjutkan menuju makam leluhur, yaitu makam Mbah Dasel. makam ini juga akan dilakukan doa kepada Masyarakat Desa Ngrawan terlebih dahulu akan melakukan doa di Danau Balong kemudian dilanjutkan dengan doa di makam Mbah Dasel. Menurut Mbah Wajib yang merupakan sesepuh desa, menjelaskan mengeni Mbah Dasel yang merupakan leleuhur Desa Ngrawan. Menurut Dhavamony pemujaan nenek moyang merupakan bentuk sekumpulan sikap, kepercayaan, dan praktik yang berkaitan dengan penghormatan terhadap orang-orang yang telah meninggal dalam suatu komunitas, terutama dalam konteks hubungan kekeluargaan . eertz, 1. dalam (Adil & Bukhori, 2. Berdasarkan dokumen Rajaban 2024, doa dilakukan oleh sesepuh desa yang didampingi perangkat desa. Sesepuh Desa akan membawa sesajen ke Danau Balong. Biasanya yang melakukan doa adalah Mbah Wajib. Isi dari doa tersebut yakni meminta ijin kepada sesepuh untuk melakukan Tradisi Rajaban. Urutan keempat yakni sesampainya di Prasasti Ngrawan, masyarakat akan melakukan tradisi Kenduri dan doa di sumber mata air di Prasasti Ngrawan, yang diyakini dapat membawa kesembuhan. Acara Rajaban akan dihadiri oleh masyarakat Ngrawan beserta perangkat desa dan dibuka untuk umum bagi masyarakat luar daerah yang ingin menyaksikan ritual tersebut. Acara kenduri akan dilakukan oleh masyarakat diawali dengan doa ucapan syukur atas berkat yang diberikan kepada Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 masyarakat Ngrawan. Melalui doa ini menjadi sarana komunikasi yang dilakukan Masyarakat untuk tertuju kepada Tuhan yang Maha Esa. Setelah doa selesai masyarakat akan makan bersama di Prasasti Ngrawan, ritual ini juga dapat menjadi cara warga untuk menjalin silaturahmu. Menurut Kepercayaan masyarakat setelah dilakukan acara Rajaban selalu akan turun hujan, sehingga makanan yang tidak habis dimakan di Prasasti akan basi seteah dibawa pulang. Aspek ketiga dalam analisis komunikasi ritual yakni kehadiran dan Partisipasi ritual Rajaban Desa Ngrawan, masyarakat desa yang merupakan bagian integral dari komunikasi ritual tersebut. Partisipasi aktif warga Desa Ngrawan dan tokoh masyarakat desa tersebut mampu menciptakan ikatan sosial dan kebersamaan dalam masyakarat Desa Ngrawan. Aspek keempat dalam komunikasi ritual adalah konteks sosial budaya masyarakat Desa Ngrawan. Masyarakat Hidup rukun dan saling gotong-royong satu sama lain, seperti yang dilakukan saat hajatan dan aktifitas lainnya, sebagai rasa Doa dalam Tradisi Rajaban dilakukan dengan kepercayaan agama Islam, karna mayoritas masyarakat Ngrawan muslim. Doa yang ditujukan penghormatan masyarakat yang menjadi ciri khas masyarakat ngrawan untuk menghormati yang lebih tua. Kegiatan kenduri dalam masyarakat menjadi bentuk kerukanan masyarakat dilakukan bukan saja saat rajaban tetapi juga saat hari raya idul fitri. Volume XVi Nomor 02 SOSFILKOM Gambar Juli-Desember 2024 Tabel 1. Simbol Komunikasi Ritual Rajaban Peristiwa Makna Penyembelihan kambing Penyembelihan kambing dara di atas palungan batu dara melambangkan sebagai tatakan, dilakukan kesuburun bagi warga setempat Desa Ngrawan, dan dengan kepala desa. Tradisi sebagai tanda korban dari ini dilakukan sebelum masyarakat Ngrawan acara kirab dimulai, saat untuk para leluhur. PrasastiNgrawan Tradisi membawa tumpeng Tradisi membawa tumpeng oleh warga, setiap keluarga dimaknai sebagai rasa satu tumpeng. Dalam ucapan syukur atas berkat Tradisi ini warga bebas yang membawa tumpeng apapun sebagai yang persaudaraan dibawa harus makanan memakan tumpeng yang yang dapat dimakan saat telah dibawa Bersamaberada Prasasti sama, untuk menciptakan Ngrawan, yang nantinya kerukunan. Doa dan pemberian sesajen Dilakukan sesepuh desa di danau Balong yang untuk dilakukan oleh sesepuh permisi kepada leluhur desa didampingi oleh bahwa dihari tersebut akan perangkat desa. sebelum menuju Prasasti Ngrawan. Masyarakat dan beberapa warga dari lain daerah yang Rajaban meminta air dari sumber mata air di Prasasti Ngrawan yang telah di Masyarakat bahwa air dari sumber mata keberkahan serta dapat menyembuhkan oenyakit Sumber: Dokumen Omah Cikal Tradisi Rajaban 2024 Prasasti Ngrawan sebagai Lokasi Tradisi Rajaban Hasil penelitian lain yang peneliti temukan terkait komunikasi ritual di Desa Ngrawan adalah keberadaan Prasasti Ngrawan. Dalam wawancara dengan Mbah Wajib, sesepuh Prasasti Ngrawan pada Diterbitkan oleh FISIP UMC tanggal 16 Juni 2024, dijelaskan bahwa situs Prasasti Ngrawan dilengkapi dengan batu tulis, lumpang, dan yoni . ambang Berbagai upaya sedang dilakukan untuk melacak prasasti ini. Usaha yang sedang dilakukan adalah pembacaan makna SOSFILKOM tulisan di prasasti pada awal tahun 2024 oleh seorang arkeolog asal Kota Solo yang bernama Rhendra. Hasil dari Penelitan tersebut disampaikan oleh Mas Dwi Purwoko bahwa ditemukan tulisan prasasti merujuk pada angka tahun, yaitu 1372 Saka atau 1450 Masehi. Dengan demikian, setidaknya Desa Ngrawan telah berumur 572 tahun. Sebelum usaha pembacaan itu dilakukan, masyarakat percaya bahwa prasasti ini dibuat sejak jaman sebelum ditemukannya aksara seperti yang kita kenal saat ini. Lebih lanjut, masyarakat Dusun Ngrawan juga meyakini bahwa prasasti tersebut merupakan tempat dimana Berdasarkan hasil wawancara dengan Dwi Purwoko, tradisi Rajaban sejatinya bukan dimaknai sebagai ulang tahun desa, tetapi merupakan bentuk menjunjung tinggi pusaka leluhur yang telah terpendam Peribahasa Jawa menyebutnya Aumikul dhuwur, mendhem jeroAy. Dwi Purwoko juga menyebutkan bahwa Prasasti Ngrawan merupakan tempat tinggal para sesepuh desa. Hal tersebut disimbolkan adanya batu tulis lumping, dan yopa yang diyakini Masyarakat merupakan meninggalan leluhur. Gambar 1. Prasasti Ngrawan Sumber: Dokumen Pribadi . Mei 2. Pentingnya lokasi Prasasti Ngrawan tersebut, membuat lokasi ini dijadikan tempat tradisi Rajaban dilakukan setiap Rajaban selalu pada hari Jumat khususnya Jumat Wage atau Jumat Legi pada bulan Rajab kalender Jawa. Dalam tradisi tersebut dilakukan berbagai ritual Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 yang memiliki makna simbolik yang diyakini masyarakat. (Nugroho & Wuryani. Tradisi Rajaban adalah salah satu Ngrawan dilakukan di Prasasti Ngrawan, (Nugroho & Wuryani, 2. Tradisi Rajaban yang dijalankan masyarakat Ngrawan menjadi sebuah budaya yang mengabungkan antara kesatuan mistis dan social masyarakat melalui doa. Melalui doa menjadi simbol yang menghubungkan antara struktur social dan kejiwaan. Dalam Tradisi Jawa termasuk Tradisi Rajaban doa yang dilakukan ditujukan kepada leluhur. Yang sering diartikan bahwa tradisi ini menjadii pemuja leluhur. Tetapi prinsip dari tradisi jawa adalah sangkaman paraning dumadi yang artinya darimana manusia itu berasal. eertz, 1. Doa sebagai Pegikat Ritual Komunikasi Pada tradisi Rajaban, doa yang selalu mengawali tata urutan ritual, merupakan bentuk pengikat ritual. Doa dalam konsep umum merupakan cara untuk berkomunikasi dengan Tuhan, di mana mengungkapkan keinginan serta harapan mereka, dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada-Nya (Jannati & Hamandia. Sesuai dengan wawancara Bersama Mbah Wajib pada 11 Juli 2024, doa yang dilakukan dipimpin oleh sesepuh desa dengan menggunakan cara Islam. Sesepuh desa yaitu Mbah Wajib akan memimpin doa yang diikuti oleh masyarakat. Dalam setiap doa tersebut memiliki makna yang berbeda-beda. Melalui doa dalam ritual ini menjadi simbol Masyarakat untuk meminta perlindungan dari Tuhan. Tradisi Ini akan dimulai dari Kantor Desa yang melakukan kirab menuju ke Prasasti Ngrawan. Sebelum kirab tersebut dilakukan akan diawali dengan doa dengan cara Islam oleh, mantan Kepala Desa Ngrawan. Secara keseluruhan, tradisi Rajaban adalah manifestasi dari bagaimana masyarakat Ngrawan menjaga dan merayakan warisan budaya mereka. Ini . SOSFILKOM juga menggambarkan bagaimana mereka berusaha untuk melibatkan masyarakat luas dalam merayakan dan memahami tradisi mereka, serta menghormati leluhur sebagai bagian integral dari identitas dan sejarah awancara Mbah Manten 12 Juli KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan diperoleh bahwa doa memegang peran yang sangat penting sebagai komunikasi ritual dalam tradisi Rajaban di Prasasti Ngrawan. Doa bukan hanya sekadar serangkaian katakata, tetapi merupakan medium yang menghubungkan masyarakat Ngrawan dengan dimensi spiritual dan budaya Melalui menyampaikan harapan, permohonan, dan rasa syukur kepada entitas spiritual yang mereka percayai, mengikat mereka dalam sebuah ritual yang memperkuat identitas dan kebersamaan komunitas. Ini berkaitan juga dengan agama Islam yang menjelaskan bahwa dari mana diri berasal, melalui doa menjadi pengingat kepada leluhur yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan. Tradisi ini harus terus dilakukan sebagai cara untuk melestarikan cagar budaya yang ada di Desa Ngrawan, sehingga keberadaanya tidak akan hilang. Dari tahun-ke tahun tradisi ini terus dilakukan dan semakin meriah, banyak warga luar Desa Ngrawn yang ikut menyaksikan Tradisi Rajaban di Prasasti Ngrawan. Melalui tradisi ini juga menjadi tanda yang masyarakat ngrawan lakukan untuk menghormati leluhur yang lebih dahulu menempati Desa Ngrawan. DAFTAR PUSTAKA