ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 Modal Sosial Sebagai Strategi Survivalensi Pengrajin Tempe Di Desa Tembarak Kecamatan Kertosono Rita Wahyu RohmawatiA. Abu Tazid2. Nensy Triristina3. Elva Zakiyatul Fikria4 1,2,4Program Studi Ilmu Sosiatri. Fisipol. Universitas Darul Ulum Prodi Ilmu Hubungan Internasional. Fisipol. Universitas Darul Ulum r@yahoo. Abstract This research analyzes the Use of Social Capital as a Survival Strategy for Tempe Craftsmen in Tembarak Village. Kertosono District. This research explains the forms of social capital and the impact of the application of social capital carried out by tempe craftsmen in running their In this research the author uses a qualitative research method with an case study The theory used in this research is the theory of social capital by Robert D. Putnam. The author found that a social network had been established between fellow tempe craftsmen and between tempe craftsmen and buyers. Tempeh craftsmen in Tembarak Village have also implemented elements of social capital such as social networks, beliefs and norms. maintaining their business, tempeh craftsmen also apply the values of honesty, politeness and This has proven effective in attracting buyers and even making buyers willing to The research results show that social capital has an important role in the sustainability of a business. The implementation of social capital has many positive impacts for business actors, in this case the tempeh craftsmen in Tembarak Village. Keywords : Social Capital. Tempe Craftsmen. Survival Abstrak Penelitian ini menganalisa Pemanfaatan Modal Sosial Sebagai Strategi Survivalensi Pengrajin Tempe di Desa Tembarak Kecamatan Kertosono. Penelitian ini menjelaskan bentuk Ae bentuk modal sosial serta dampak atas penerapan modal sosial yang dilakukan oleh para pengrajin tempe dalam menjalankan usahanya. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dengan wawancara dan observasi. Informan ditentukan dengan teknik purposive, penentuan informan dengan menetapkan kriteria tertentu yang relevan. Dalam penelitian ini menggunakan lima informan. Analisis data menggunakan Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori modal sosial oleh Robert D. Putnam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjalin jaringan sosial antar sesama pengrajin tempe serta antara pengrajin tempe dengan pembeli. Pengrajin tempe di Desa Tembarak juga telah menerapkan unsur Ae unsur modal sosial seperti jaringan sosial, kepercayaan dan norma. Dalam mempertahankan usahanya para pengrajin tempe juga menerapkan nilai kejujuran, kesopanan dan keramahan. Hal itu terbukti efektif untuk menarik pembeli bahkan membuat pembeli bersedia berlangganan. Modal sosial memiliki peran penting bagi keberlangsungan suatu usaha. Diterapkannya modal sosial memiliki banyak dampak positif bagi pengrajin tempe di Desa Tembarak. Kata Kunci : Modal Sosial. Pengrajin Tempe. Survivalensi Journal of Public Puwer ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 PENDAHULUAN Tempe sebagai makanan tradisional telah dikenal masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jawa dari ratusan tahun yang lalu khususnya Yogyakarta dan Surakarta. Pada bab 3 dan 12 manuskrip Serat Centhini yang ditulis pada abad ke-19 sudah ditemukan kata AutempeAy dalam penyebutan nama hidangan seperti Aujae santen tempeAy . asakan jawa berbahan tempe dengan santan dan jah. dan kedhele tempe Pada catatan sejarah lain menyatakan bahwa oada awalnya tempe diproduksi menggunakan kedelai hitam, bermula dari masyarakat pedesaan Jawa yang kemungkinan dikembangkan di daerah Mataram. Jawa Tengah dan berkembang sebelum abad ke-16. Istilah AutempeAy berasal dari bahasa Jawa kuno. Pada masyarakat Jawa kuno juga terdapat produk olahan yang terbuat dari tepung sagu dan disebut AutumpiAy. Tempe yang telah selesai difermentasi dan siap dikonsumsi juga berwarna putih sehingga memiliki kesamaan dengan olahan bernama AutumpiAy tersebut. Seiring berjalannya waktu pesatnya arus globalisasi tak dapat dipungkiri berdampak pada pola konsumsi masyarakat terhadap makanan. Kebiasaan masyarakat Indonesia dalam mengonsumsi makanan Ae makanan tradisional kini sedikit demi sedikit mulai tergeser dengan budaya konsumsi makanan cepat saji atau junk food. Berkat kemajuan dan kecanggihan teknologi sekarang ini, semakin banyak variasi makanan cepat saji yang dapat memikat selera masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari mereka. Hal ini juga dialami oleh para remaja, yang lambat laun pola konsumsi mereka akan terganti dengan junk food. Restoran cepat saji yang semakin banyak dapat mengubah gaya hidup masyarakat. Banyak faktor yang menyebabkan masyarakat menjadi lebih senang mengonsumsi junk food. Faktor pemicu tingginya konsumsi junk food di masyarakat antara lain kurangnya pengetahuan terkait bahaya konsumsi junk food apabila di konsumsi dalam jangka waktu panjang, junk food biasanya memiliki rasa yang menggugah selera, rasa enak yang ditawarkan oleh produk Ae produk junk food ini menjadi salah satu alasan mengapa junk food banyak digemari. Alasan lain orang - orang banyak mengkonsumsi makanan cepat saji adalah karena pelayanan yang cepat dan praktis. Makanan cepat saji juga kebanyakan dibuat oleh mesin-mesin canggih, sehingga waktu pembuatannya berlangsung secara singkat dan selalu tersedia. Sekarang ini juga banyak restoran cepat saji yang menyediakan pemesanan secara online sehingga semakin memudahkan orang - orang untuk membelinya. Harga yang relatif murah juga berpengaruh terhadap kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji. Selain itu, banyak juga diskon dan paket hemat yang ditawarkan restoran cepat saji yang menambah keinginan masyarakat untuk membeli dan mengkonsumsi makanan tersebut. Ditengah kemajuan zaman yang kemudian menyebabkan peningkatan masyarakat dalam konsumsi junk food ternyata tempe tetap memiliki tempat di hati Hal ini membuktikan bahwa hingga saat ini tempe masih menjadi salah Journal of Public Puwer ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 satu olahan kedelai yang digemari masyarakat khususnya masyarakat Indonesia. Banyaknya masyarakat yang masih terus mengonsumsi tempe hingga saat ini karena kandungan yang terdapat dalam tempe. Tempe sangat baik dikonsumsi karena mengandung berbagai protein dan vitamin. Kandungan Gizi di dalam tempe lebih baik dibandingkan dengan kedelai dan produk turunan lainnya. Masyarakat Indonesia tidak hanya mengonsumsi tempe sebagai lauk makan. Banyak produk olahan yang dapat dihasilkan dari tempe seperti keripik tempe, nugget tempe, tempe mendoan, sambal goreng kering tempe, tempe bacem dan masih banyak Tempe yang dulunya hanya dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia khususnya Jawa kini telah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia bahkan eksistensi tempe telah merambah pada sektor kuliner luar negeri. Banyak konsumen dari negara lain menyukai tempe karena selain enak juga memiliki banyak manfaat. Indonesia merupakan negeri yang kaya akan sumber daya alam. Sumber daya alam ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sumber daya alam Indonesia meliputi pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan, pariwisata, dll. Dengan kekayaan Indonesia yang sangat melimpah ini jika dimanfaatkan semaksimal mungkin dapat membuka berbagai peluang usaha untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Seperti tujuan bangsa ini sejak dahulu yaitu mewujudkan kesejahteraan ekonomi warga negara. Indonesia yang kaya akan sumber daya alam dan dengan itu berpotensi tinggi untuk bisa menjadi negara yang lebih maju dan sejahtera, namun ironisnya tingkat kesejahteraan penduduk belum dapat dikatakan sejahtera. Tingkat kemiskinan, kriminalitas dan angka penggangguran masih cukup tinggi. Terbatasnya lapangan kerja di Indonesia menjadi tantangan bagi perekonomian masyarakat Indonesia. Lapangan pekerjaan yang semakin berkurang dipicu oleh berbagai faktor seperti, pekerjaan manusia yang tergantikan oleh teknologi. Hal ini dapat dilihat dari salah satu contohnya tenaga kerja pabrik yang kini telah digantikan oleh robot yang dapat dikendalikan jarak jauh. Kurang memadainya kualitas SDM dalam negeri sehingga banyak tergeser oleh SDM dari negara luar yang lebih unggul, tidak seimbangnya laju pertumbuhan penduduk dengan ketersediaan lapangan kerja. Indonesia dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan terbatasnya lapangan pekerjaan manjadikan negara ini berpotensi menjadi negara dengan tingkat pengangguran yang tinggi. Tingginya angka pengangguran berpengaruh terhadap menurunnya pendapatan nasional dan hal ini berdampak cukup luas bagi negara termasuk salah satunya terganggunya stabilitas ekonomi. Diperlukan berbagai upaya untuk mengatasi terbatasnya lapangan kerja salah satunya dengan menciptakan usaha Dengan mendirikan usaha setidaknya kita bisa menghasilkan uang untuk kebutuhan sehari-hari dan melalui usaha kita juga dapat mengembangkan kreatifitas yang dimiliki. Usaha yang dijalankan dengan telaten, kreatif dan inovatif diharapkan mampu berkembang dari usaha mikro menjadi usaha yang lebih besar. Usaha yang didirikan diklasifikasikan menjadi beberapa kategori antaranya usaha mikro, kecil dan menengah atau yang kebih sering disebut sebagai UMKM. Journal of Public Puwer ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 Pada Kabupaten Nganjuk UMKM dari berbagai jenis berkembang pesat baik dari sektor kuliner, fashion, pendidikan, tour and travel, dll. Jumlah umkm di Kabupaten Nganjuk juga terus mengalami penambahan tiap tahunnya. Seiring dengan semakin bertambahnya jumlah umkm, dilakukan pula upaya pengembangan umkm. Pengembangan umkm ini dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti pendampingan, bimbingan, pemberian fasilitas, dsb. Salah satu umkm yang masih berkembang pesat di Kabupaten Nganjuk hingga saat ini adalah industri tempe. Desa Tembarak merupakan salah satu desa di Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk Jawa Timur. Di desa ini sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai pengrajin tempe. Tempe yang dihasilkan kemudian langsung dijual keliling maupun disetorkan ke pasar Ae pasar dan rumah makan yang telah menjalin kerjasama dengan pemilik usaha tempe Saat ini produksi tempe di desa Tembarak masih terus berkembang. Terdapat sekitar 412 usaha tempe yang tersebar di setiap gang di Desa Tembarak. Beberapa pengrajin tempe mengalami kenaikan jumlah produksi tiap tahunnya. Ada juga sebagian lainnya yang mengalami penurunan jumlah produksi. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor. Banyaknya unit usaha pembuatan tempe di desa Tembarak skala rumah tangga yang telah digeluti puluhan tahun dan kebanyakan turun Ae temurun menunjukkan eksistensi industri tempe masih bertahan dan terus berkembang di tengah persaingan industri tempe yang lebih besar serta fluktuasi harga kedelai. Berkembangnya usaha pembuatan tempe yang telah berlangsung turun Ae temurun hingga saat ini tentu membutuhkan berbagai strategi. Selalu berusaha menjaga dan meningkatkan kualitas produk tempe yang dihasilkan, memperluas relasi sebagai salah satu upaya meningkatkan penjualan, menjalin hubungan baik antar sesama pedagang, menjalin hubungan baik dengan pembeli dan masih banyak lagi faktor Ae faktor yang dapat membuat usaha tempe ini tetap bertahan di zaman sekarang. Usaha pembuatan tempe merupakan salah satu usaha yang mampu menyerap banyak tenaga kerja baik yang terkait langsung dalam proses produksi maupun dengan perdagangan bahan produksi maupun produk hasil olahannya. Prospek usaha pembuatan tempe sangat baik karena permintaan tempe semakin meningkat, tempe terbuat dari kacang kedelai yang mengandung gizi yang baik untuk tubuh manusia, tempe merupakan makanan khas Indonesia. Umumnya tempe digunakan sebagai bahan lauk pauk, dan tempe harganya relatif murah bisa dibeli oleh seluruh lapisan Usaha pembuatan tempe memiliki peran yang sangat besar dalam usaha pemerataan kesempatan kerja, kesempatan usaha dan peningkatan pendapatan. Demi mempertahankan kelangsungan usaha pembuatan tempe ini diperlukan adanya jaringan sosial. Jaringan dalam hal ini adalah ikatan yang terbentuk antar pengrajin tempe serta ikatan antara pengrajin tempe dengan pembeli. Jaringan ini merupakan salah satu modal penting untuk kelangsungan usahanya. Dengan membangun jaringan yang baik antar pengrajin tempe maka akan memudahkan mereka dalam berbagi informasi terkait usaha, membangun kepercayaan konsumen, proses produksi, bahan baku produksi dan sebagainya. Dalam mempertahankan usahanya para pemilik usaha pembuatan tempe tentu tidak lepas dari persaingan dan Journal of Public Puwer ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 berbagai faktor pendorong dan menghambat usahanya. Termasuk untuk mempertahankan konsumen. Selain jaringan sosial kepercayaan atau trust juga memiliki peran sangat Kepercayaan ini dijadikan landasan dalam menjalin hubungan dengan sesama pedagang maupun antara pedagang dan pembeli. Adanya kepercayaan diantara individu membuat koneksi antar individu menjadi lebih baik. Hubungan saling percaya meningkatkan kerjasama , empati dan rasa saling melengkapi serta memperkuat ikatan baik pribadi maupun profesional. Tak hanya jaringan dan kepercayaan, norma juga memiliki peranan dalam mempertahankan keberlangsungan usaha. Menurut Schaefer dan Lamm . , norma adalah standar perilaku yang mapan yang dipelihara oleh masyarakat. Norma juga diartikan sebagai aturan maupun ketentuan yang sifatnya mengikat suatu kelompok orang didalam masyarakat sebagaimana norma diterapkan sebagai panduan, tatanan dan juga pengendali tingkah laku yang Dalam menjalankan industri tempe ini tentu diperlukan berbagai startegi dalam Salah satu strategi untuk mempertahankan jalannya industri tempe ini yaitu perlunya memperkuat modal sosial. Modal sosial merupakan serangkaian nilai dan norma informal yang dimiliki bersama oleh para anggota atau kelompok masyarakat yang saling berkaitan, yang didasarkan pada kepercayaan, norma dan jaringan sosial. Menurut Dasgupa dan Serageldin . , dimensi modal sosial menggambarkan segala sesuatu yang membuat masyarakat bersekutu untuk mencapai tujuan bersama atas dasar kebersamaan, serta didalamnya diikat oleh nilainilai dan norma-norma yang tumbuh dan dipatuhi. Menurut Coleman dalam Bontis . , modal sosial adalah kemampuan masyarakat untuk bekerja sama, demi menjadi tujuan tujuan bersama, di dalam berbagai kelompok dan organisasi. Secara keseluruhan dalam dunia bisnis modal sosial merupakan modal yang menghubungkan keseluruhan stakeholder seperti konsumen, distributor, komunitas dan pemerintahan (Bontis, 1. Penelitian Nasution . yang berjudul AuPemanfaatan Modal Sosial Sebagai Strategi Pedagang Sekitar Kalijodo Pasca PenggusuranAy. Hasil penelitiannya. Atikah mengungkapkan bahwa jaringan sosial antara pedagang pasar Jembatan Dua dan warga Kalijodo terjalin karena adanya hubungan sosial. Warga Kalijodo sering menjadi perantara guna menghubungkan pihak lain dan pedagang pasar Jembatan Dua pasca Dampak dari penggusuran menyebabkan terputusnya jaringan sosial antara pedagang pasar Jembatan Dua dan warga Kalijodo. Terjadinya penggusuran menyebabkan omset para pedagang mengalami penurunan drastis. Oleh karena itu, para pedagang berusaha bangkit dengan memanfaatkan modal sosial yang mereka miliki seperti tolong menolong antar pedagang, menanamkan sikap jujur dalam berdagang, membangun rasa percaya pelanggan serta memberikan pelayanan dan kualitas yang baik. Amalia . dalam penelitian yang berjudul AuPengaruh Nilai-Nilai Modal Sosial Terhadap Kesejahteraan Generasi MilenialAy memaparkan bahwa modal sosial Journal of Public Puwer ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 yang di dalamnya termasuk rasa percaya, jaringan, kerjasama dan aliran informasi secara bersama Ae sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kesejahteraan generasi milenial. Dalam penelitian tersebut yang menjadi subjek penelitian adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sumatera Utara. Kemudian. Andryani . dalam penelitiannya yang berjudul AuModal Sosial Pada Masyarakat Nelayan PaAobagang Di Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan SelayarAy memaparkan bahwa implementasi modal sosial pada masyarakat nelayan Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar menitikberatkan pada rasa percaya, norma, jaringan dan solidaritas. Adanya rasa percaya, norma, jaringan dan solidaritas yang terbentuk diantara mereka memberikan manfaat dan dampak positif sehingga mempermudah dalam bekerjasama. Sedangkan dalam penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk Ae bentuk modal sosial yang digunakan oleh para pengusaha tempe sebagai strategi survivalensi dalam mempertahankan eksistensi industri tempe di Desa Tembarak Kecamatan Kertosono. Modal sosial dalam hal ini termasuk nilai atau norma, kepercayaan dan jaringan sosial yang saling berkaitan. Berdasarkan uraian latar belakang diatas, modal sosial sangat diperlukan dalam menjalankan segala kegiatan perekonomian. Kemudian, pada penelitian ini dianalisis menggunakan teori modal sosial milik Robert D. Putnamn. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Dalam penelitian ini, studi kasus digunakan untuk mengalisa bentuk dan dampak implementasi modal sosial sebagai strategi survivalensi pengrajin tempe di Desa Tembarak. Studi kasus memungkinkan peneliti untuk sedekat mungkin dengan subjek penelitian. Studi kasus mampu mengungkap makna di balik fenomena dalam kondisi apa adanya atau natural. Pada penelitian ini peneliti berusaha memperoleh jawaban atas rumusan masalah penelitian yang bersumber dari informasi dan data yang telah didapatkan, mengkategorikan data kemudian menarik kesimpulan. Penentuan informan dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik Purposive merupakan teknik penentuan informan dengan menetapkan kriteria tertentu yang relevan. Kriteria informan ditetapkan penulis dengan tujuan dapat memenuhi informasi dan data yang dibutuhkan dalam penelitian. Dalam penelitian ini, kriteria informan adalah warga desa Tembarak Kecamatan Kertosono yang berprofesi sebagai pengrajin tempe dan telah menjalankan usaha tempe lebih dari 3 tahun. Sedangkan untuk teknis analisis data dalam penelitian ini menggunakan 3 tahap (Miles dan Huberman, 2. , yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan HASIL DAN PEMBAHASAN Analisa penelitian ini menggunakan teori modal sosial Robert D. Putnam. Inti dari teori modal sosial Robert Putnam adalah jaringan sosial mengandung nilai bagi Seperti modal fisik dan manusia, kontak sosial memengaruhi produktivitas Journal of Public Puwer ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 individu dan kelompok. Modal sosial dalam hal ini dijadikan sebagai salah satu strategi para pengrajin tempe di Desa Tembarak untuk mempertahankan keberlangsungan usaha yang mereka jalankan. Penelitian Putnam menunjukkan bahwa modal sosial dapat memberikan kontribusi positif kepada terciptanya stabilitas, efektivitas pelayanan publik dari pemerintah serta pembangunan ekonomi (Putnam, 1. Secara umum. Putnam mendefinisikan modal sosial sebagai jejaring sosial yang menjadikan kolaborasi antar individu menjadi lebih efektif. Modal sosial adalah sumber daya bagi individu maupun Kepercayaan dan norma timbal balik, dua aspek modal sosial, muncul dari jaringan (Sudarmono, 2. Dalam hal ini peneliti akan menjelaskan bagaimana modal sosial yang diterapkan oleh pengrajin tempe di Desa Tembarak berperan sebagai strategi survivalensi untuk mempertahankan keberlangsungan usahanya. Dalam menjalankan usahanya mereka tentu tak lepas dari masalah. Masalah Ae masalah yang mereka hadapi antaranya persaingan dagang dan membutuhkan upaya untuk mempertahankan usahanya. Dengan ini modal sosial bekerja sebagai salah satu upaya yang bisa mereka terapkan dan membuahkan hasil yang positif bagi usahanya. Selanjutnya, penulis akan memaparkan ketiga unsur modal sosial yang diterapkan oleh para pengrajin tempe di Desa Tembarak. Pertama, unsur jaringan sosial yang berguna untuk memperkuat persatuan antar pengrajin tempe dan jaringan sosial ini juga dapat membuka peluang untuk memiliki koneksi baru. Kedua, kepercayaan yang diterjalin baik antar sesama pengrajin tempe maupun antara pengrajin tempe dengan pembeli. Ketiga, unsur norma. Norma disini adalah norma kejujuran, kesopanan dan keramahan dalam berinteraksi dengan orang lain. Analisa pertama yaitu unsur jaringan sosial. Jaringan sosial dalam hal ini yaitu yang ada diantara sesama pengrajin tempe maupun diantara pengrajin tempe dengan pembeli terjalin karena beberapa faktor seperti rasa persatuan antar sesama pedagang sehingga mereka beranggapan mereka berada dalam kelompok yang sama sehingga dapat saling membantu satu sama lain. Jaringan antara pengrajin tempe dengan pembeli terjadi karena mereka telah menganggap para pembeli seperti keluarga sendiri sehingga interaksi yang terjadi di antara mereka semakin akrab. Analisa kedua yaitu unsur kepercayaan. Kepercayaan yang terjadi diantara sesama pengrajin tempe ini terjadi karena faktor kesamaan profesi sebagai pengrajin tempe sehingga dalam menjalankan usahanya mereka saling percaya untuk berbagi informasi terkait tips dan trik dalam proses pengolahan tempe, informasi dimana mendapatkan harga kedelai yang lebih terjangkau dan lain Ae lain. Analisa ketiga yaitu unsur norma. Norma dalam hal ini meliputi kejujuran, kesopanan dan keramahan yang mendorong para pembeli untuk tetap berlangganan pada mereka. Norma yang mereka terapkan selama ini tercermin dari perilaku mereka kepada para pelanggan. Mereka selalu berusaha bersikap sopan kepada pelanggan. Dalam kegiatan jual beli setiap harinya mereka selalu bersikap ramah pada pembeli. Selama menjalankan usaha, mereka juga senantiasa memegang teguh nilai Ae nilai Journal of Public Puwer ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 kejujuran karena mereka beranggapan kejujuran adalah hal penting yang harus selalu Menurut Putnam, terdapat dua bentuk modal sosial yaitu bonding social capital . odal sosial mengika. dan bridging social capital . odal sosial menjembatan. Bonding social capital atau modal sosial mengikat adalah ikatan yang terjalin karena didasari beberapa faktor kesamaan seperti berada dalam keanggotaan kelompok yang sama, ikatan keluarga, ikatan pertemanan, persamaan gender, persamaan lokasi tempat tinggal, persamaan usia dan lain Ae lain. Bridging social capital atau modal sosial menjembatani adalah ikatan yang terjalin dan berfungsi sebagai AojembatanAy yang kemudian akan menghubungkan antara satu pihak dengan pihak yang lain. Modal sosial bridging ini sering kali dimanfaatkan guna memperluas jaringan sosial. Sejalan dengan keterangan diatas, modal sosial yang ada antar sesama pengrajin tempe maupun antara pengrajin tempe dengan pembeli di Desa Tembarak adalah modal sosial bonding dan bridging. Menurut keterangan yang disampaikan oleh para informan adanya bonding social capital . odal sosial mengika. karena faktor kesamaan profesi sebagai sesama pengrajin tempe, tinggal disatu lingkungan yang sama yaitu di Desa Tembarak, hubungan yang terjalin diantara mereka cukup dekat seperti keluarga. Dengan adanya beberapa faktor tersebut mendorong mereka untuk saling tolong Ae menolong, bekerja sama serta saling berbagi informasi terkait dunia usaha khususnya usaha tempe. Hal ini tercermin dari interaksi yang mereka lakukan seperti saling berbagi informasi terkait ketersediaan bahan baku produksi yaitu kedelai, naik turunnya harga kedelai, berbagi informasi terkait pengolahan tempe, saling tolong menolong ketika di pasar mereka butuh untuk tukar uang guna memberi kembalian pada pembeli. Sedangkan bridging social capital . odal sosial menjembatan. terjadi antara pengrajin tempe dengan para pembelinya. Terjalinnya interaksi yang baik antara mereka berpotensi untuk menjadikan hubungan tersebut menjadi suatu jembatan yang akan menghubungkan pengrajin tempe dengan calon pembeli baru. Dalam hal ini dibuktikan dengan tindakan promosi gratis yang dilakukan oleh pembeli yang telah berlangganan tempe sehingga dengan promosi gratis tersebut para pengrajin tempe berpotensi mendapatkan pelanggan baru. Berdasarkan uraian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa teori modal sosial Robert D. Putnam sejalan dengan apa yang terjadi di masyarakat. Modal sosial berperan penting untuk mempertahankan suatu usaha dan memperluas jangkauan Modal sosial yang telah diterapkan oleh pengrajin tempe di Desa Tembarak terbukti efektif sebagai strategi untuk menjaga keberlangsungan usahanya. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan penulis, penulis menemukan bentuk Ae bentuk penerapan modal sosial yang telah diterapkan oleh para pengrajin tempe di Desa Tembarak. Modal sosial yang telah diterapkan ini mengacu pada Journal of Public Puwer ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 hubungan antar sesama pengrajin tempe serta hubungan antara pengrajin tempe dengan penjual. Dalam upaya mempertahankan kelangsungan usahanya para pengrajin tempe memanfaatkan unsur Ae unsur modal sosial yaitu jaringan sosial, kepercayaan dan norma. Modal sosial memiliki peran penting untuk mempertahankan kelangsungan usaha tempe di Desa Tembarak. Jenis modal sosial yang terdapat pada pengrajin tempe Desa Tembarak adalah modal sosial bonding . dan bridging . Penerapan modal sosial oleh pengrajin tempe di Desa Tembarak memiliki dampak positif dan efektif bagi keberlangsungan usaha tempe di Desa Tembarak. Dampak positif tersebut antara lain kemudahan dalam mengakses informasi terkait ketersediaan bahan baku produksi dan proses pengolahan tempe, menambah relasi, hubungan antar sesama pengrajin serta hubungan dengan pembeli terjalin semakin baik, modal sosial juga digunakan untuk mempertahankan dan menarik calon konsumen baru. Saran Saran peneliti kepada pengrajin tempe agar tetap mempertahankan kualitas dan mempertahankan modal sosial yang telah diterapkan dengan baik sehingga usaha tempe dapat semakin berkembang. Kemudian, saran bagi pemerintah Desa Tembarak agar lebih memperhatikan perkembangan usaha tempe yang menjadi salah satu ikon Yang terakhir, saran bagi peneliti selanjutnya diperlukan adanya kajian sosiologi ekonomi yang lebih mendalam untuk mengkaji terkait peranan modal sosial dalam upaya mengurangi angka kemiskinan dan penyerapan tenaga kerja di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA