Journal Genta Mulia Volume 16. Number 1, 2024 pp. P-ISSN 2301-6671 E-ISSN: 2580-6416 Open Access: https://ejournal. id/index. php/gm PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPAS SISWA KELAS i SD NEGERI KUALA TRANG Siti Sahara1. Fetro Dola Syamsu*2, dan Febry Fahreza3 1Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Cipta Mandiri Aceh Barat *2Pendidikan Biologi. Universitas Cipta Mandiri Aceh Barat 3Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Cipta Mandiri Aceh Barat * Corresponding Author: defetro@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran IPA dan untuk mengetahui hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran IPA kelas i SD Negeri Kuala Trang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian penelitian tindakan kelas. Subjek yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas i SD Negeri Kuala Trang, dengan jumlah siswa 16 orang. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berdiferensiasi dalam penelitian ini di dalamnya terdapat empat tahapan utama kegiatan, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi dan dilaksanakan dalam bentuk 2 siklus berulang. Penerapan model pembelajaran berdiferensiasi sangat efektif dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi gerak benda. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya persentase hasil belajar siswa pada tiap siklusnya. Dengan menggunakan beberapa tahapan siklus yaitu pra siklus, siklus I, dan siklus II. Pada pra siklus dari 16 siswa terdapat 3 siswa yang tuntas atau . ,75%) dan 13 siswa tidak tuntas . ,25%), sedangkan pada siklus I dari 16 siswa terdapat 8 siswa yang tuntas atau . ,00%) dan 8 siswa yang tidak tuntas . ,00%). Selanjutnya pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat signifikan yaitu dari 16 siswa terdapat 14 siswa yang tuntas atau . ,5%) dan hanya 2 siswa yang tidak tuntas . ,5%). Kata Kunci : Penerapan. Model Pembelajaran Berdiferensiasi. Hasil Belajar. IPAS. Abstract This study aims to determine the application of differentiated learning models in science learning and to determine student learning outcomes through the application of differentiated learning models in science learning of grade i of Kuala Trang State Elementary School. The type of research used is classroom action research. The instruments used to collect data in this study consisted of observation sheets, test sheets, and validation sheets. The results of this study can be concluded that the application of differentiated learning models in this study contains four main stages of activities, namely planning, action, observation, and reflection and is carried out in the form of 2 repeated cycles. The application of differentiated learning models is very effective in improving student learning outcomes in the material on the motion of objects. This is evidenced by the increasing percentage of student learning outcomes in each By using several cycle stages, namely pre-cycle, cycle I, and cycle II. In the pre-cycle of 16 students, there were 3 students who completed or . 75%) and 13 students did not complete . 25%), while in cycle I of 16 students, there were 8 students who completed or . 00%) and 8 students who did not complete . 00%). Furthermore, in cycle II, there was a Fetro Dola Syamsu 1. Penerapan Model Pembelajaran Berdiferensiasi very significant increase in student learning outcomes, namely from 16 students, there were 14 students who completed or . 5%) and only 2 students who did not complete . 5%). Keywords : Implementation. Differentiated Learning Model. Learning Outcomes. Social Sciences. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan aspek terpenting dalam kehidupan untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. Tanpa pendidikan, manusia tidak akan maju, melalui pendidikan, manusia menjadi pribadi yang berkualitas dan bermartabat, pendidikan harus menjadi fondasi yang utama dalam kehidupan, melalui pendidikan, manusia dapat mengatasi tantangan global dan perubahan hidup, pendidikan juga mempersiapkan siswa melalui penyuluhan, pelatihan, dan kegiatan pendidikan formal dan informal (Puspita, 2023: Kunci keberhasilan dalam sebuah pendidikan berada pada pendidiknya saat melakukan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran merupakan proses penyaluran ilmu yang dimiliki oleh pendidik kepada peserta didik, sedangkan belajar merupakan proses memperoleh ilmu. Keberhasilan dalam pembelajaran tidak bisa disamaratakan. Semua itu tergantung pada kemampuan pendidik dalam mengelola kelas. Pendidik harus mampu membaca situasi kelas, tidak semua peserta didik mudah diatur dan tidak semua peserta didik bisa disamaratakan dalam trik pengajarannya. Oleh karena itu, pendidik harus mempunyai trik yang dapat membuat masing-masing peserta didik bisa mengikuti pembelajaran dengan baik, trik yang bisa digunakan yaitu dengan menerapkan model pembelajaran sesuai dengan situasi kelas dan situasi peserta didik (Wardani, 2023: . Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan mata pelajaran yang membahas tentang alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan, fakta, konsep, prinsip penemuan dan membangun diri siswa untuk memiliki sikap ilmiah. Pembelajaran IPA yang berlangsung pada satuan pendidikan khususnya di Sekolah Dasar hendaknya diselenggarakan secara menyenangkan, interaktif, inspiratif, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat serta perkembangan fisik dan psikologis peserta didik (Ayu, 2022: . Pembelajaran IPA harus menghantarkan peserta didik menguasai konsep-konsep IPA dan keterkaitannya untuk dapat memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan sikap IPA. Peserta didik diharapkan tidak hanya sekedar tahu . dan hafal . tentang konspkonsep IPA, tetapi harus mengerti dan paham . o understan. terhadap konsep-konsep tersebut dan menghubungkan keterkaitan suatu konsep dengan Pembelajaran IPA di SD menekankan pada pemberian langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah, mengkaji tentang makhluk hidup dan benda mati untuk memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk melakukan kegiatan belajar secara aktif dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran (Suja, 2020: . Faktanya, pembelajaran IPA seringkali dianggap sebagai mata pelajaran yang kurang menarik bagi siswa, karena hanya disampaikan dengan ceramah dan menghafal. Selain itu bagi siswa materi IPA dianggap sangat padat, namun tidak diimbangi dengan model P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 153 Fetro Dola Syamsu 1. Penerapan Model Pembelajaran Berdiferensiasi pembelajaran yang beragam. Guru hanya memberikan pembelajaran dengan model pembelajaran ceramah yang monoton. Berdasarkan hasil observasi peneliti pada tanggal 27 Februari 2024, di kelas i SD Negeri Kuala Trang, peneliti melihat beberapa permasalahan dalam pembelajaran yakni, . penjelasan guru terlalu cepat . kurangnya media serta alat peraga, kurangnya latihanlatihan yang diberikan, . guru memvariasikan model pembelajarannya, . pembelajaran masih berpusat pada guru, . siswa tidak memperhatikan saat guru sedang menjelaskan materi, serta hasil belajar siswa kurang maksimal karena masih terdapat peserta didik yang memiliki nilai di bawah KKM. Dapat diketahui bahwa ada 5 siswa yang tuntas atau . ,25%) dari 16 siswa, dan ada 11 siswa yang tidak tuntas atau . dari 16 siswa. Keseluruhan mempunyai nilai rata-rata di bawah KKM yang telah ditentukan yaitu > 70. Solusi untuk mengatasi hal sebagaimana disebutkan di atas peneliti melihat perlu adanya sebuah model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk membuat siswa aktif dan kreatif dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan model pembelajaran Model pembelajaran berdiferensiasi berarti mencampurkan semua perbedaan untuk mendapatkan suatu informasi, membuat ide dan mengekspresikan apa yang mereka pelajari. Dengan kata lain bahwa pembelajaran diferensiasi adalah menciptakan suatu kelas yang beragam dengan memberikan kesempatan dalam meraih konten, memproses suatu ide dan meningkatkan hasil setiap murid, sehingga murid-murid akan bisa lebih belajar dengan efektif (Suwartiningsih, 2021: . Menurut Marlina . 0: . pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir, melayani, mengakui keberagaman siswa dalam belajar sesuai dengan kesiapan, minat, dan preferensi belajar siswa. Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian dengan judul AuPenerapan Model Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas i SD Negeri Kuala TrangAy. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah adalah untuk mengetahui penerapan model pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran IPA siswa kelas i SD Negeri Kuala Trang dan untuk mengetahui hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran IPA kelas i SD Negeri Kuala Trang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Metode kualitatif ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan jamak, kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden (Sugiyono, 2015: . Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA melalui model pembelajaran diferensiasi (Puspita, 2023: . Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki pelajaran di sekolah secara keseluruhan dan dalam kelas Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan model pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran IPA dan untuk mengetahui hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran IPA kelas i SD Negeri Kuala Trang. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 154 Fetro Dola Syamsu 1. Penerapan Model Pembelajaran Berdiferensiasi Penelitian ini akan dilakukan di SD Negeri Kuala Trang. Adapun waktu pelaksanaan penelitian dimulai pada semester genap tahun pelajaran 2023/2024 bulan April sampai selesai Subjek adalah orang, tempat, atau benda yang diamati dalam penelitian ini sebagai sasaran (Sugiyono, 2015: . Sedangkan objek adalah hal yang menjadi sasaran penelitian (Sudjana, 2018: . Subjek yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas i SD Negeri Kuala Trang, dengan jumlah siswa 16 orang. Dengan perincian jumlah laki-laki 7 orang dan jumlah perempuan 9 orang. Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA kelas i SD Negeri Kuala Trang. Adapun instrumen dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Lembar Observasi Observasi dilakukan ketika melaksanakan proses belajar mengajar yang di observasi oleh observer (Guru Kelas . dengan menggunakan instrumen yaitu : Lembar observasi guru dalam penelitian ini digunakan untuk melihat kemampuan guru dalam pembelajaran melalui penggunaan model pembelajaran berdiferensiasi. Lembar observasi ini terdiri dari 9 aspek penilaian. Lembar observasi siswa dalam penelitian ini di gunakan untuk melihat keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran melalui penggunaan model pembelajaran Lembar observasi siswa terdiri dari 9 aspek penilaian. Lembar Tes Pada saat penelitian, peneliti mempersiapkan soal yang diselesaikan oleh siswa. Untuk mengetahui hasil belajar siswa, peneliti mempersiapkan tes hasil belajar untuk siswa kelas i SD Negeri Kuala Trang yaitu : Pre-test dalam bentuk choice yang berjumlah 10 butir soal dengan bobot nilai perbutir Pos-test dalam bentuk choice yang berjumlah 10 butir soal dengan bobot nilai perbutir Dokumentasi Dokumentasi adalah mengabadikan suatu peristiwa penting, salah satunya dengan menggunakan gambar nyata atau foto. Dokumentasi yang dibutuhkan dalam hal ini adalah foto-foto pada saat dilaksanakannya proses pembelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran berdiferensiasi. Lembar Validasi Lembar validasi adalah suatu lembar instrument penelitian yang digunakan untuk mengukur tingkat kesahihan dari lembar-lembar instrument penelitian (Arikunto, 2015 : Setelah mendapatkan berbagai macam data atau informasi dari instrument pengumpulan data yang digunakan, maka langkah selanjutnya adalah mengolah data tersebut dengan menggunakan rumus sederhana dengan cara mentabulasikan berdasarkan rumus persentase sebagai berikut (Sugiyono, 2022: . ycE= P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 ya ycu 100% ycA | 155 Fetro Dola Syamsu 1. Penerapan Model Pembelajaran Berdiferensiasi Keterangan: P = Persentase yang dicari F = Frekuensi jawaban masing-masing option N = Jumlah objek yang diteliti 100% = Nilai tetap . Tabel 1 Interpretasi Nilai Persentase Pencapaian Interprestasi 85% - 100 % 70% - 84 % 50% - 69% Kurang dari 49% Kategori Sangat Baik Kategori Baik Kategori Cukup Baik Kategori Kurang Baik HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pra Tindakan Peneliti mulai mengadakan penelitian pada hari Rabu, tanggal 05 Juni 2024. Pada pertemuan pertama ini sebelum mulai pembelajaran, peneliti mengadakan tes awal terlebih dahulu . re-tes. yang diikuti oleh siswa kelas i dengan jumlah 16 orang siswa. Pada tahap pra-siklus, peneliti memberi tes awal . re-tes. dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menguasai materi gerak benda. Dalam pre-test ini suasana kelas belum terlihat kondusif, namun pelaksanaan pre-test tetap berjalan dengan baik. Selanjutnya peneliti langsung melakukan koreksi terhadap lembar jawaban siswa untuk mengetahui hasil pada tes awal yang dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2 Persentase Nilai Hasil Belajar Siswa Pada Pra-Siklus KKM Pencapaian Ou70 18,75 Tuntas <70 81,25 Tidak Tuntas Jumlah Dari tabel di atas dapat digambarkan bahwa tingkat kemampuan siswa kelas i SD Negeri Kuala Trang yang dinyatakan tuntas hanya 3 siswa atau 18,75% dari 16 siswa. Sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 13 siswa atau sebesar 81,25%. Hasil pre-test tersebut memberikan indikator bahwa proses pembelajaran belum mencapai tujuan yang diharapkan peneliti yang tertuang dalam indikator keberhasilan pembelajaran yaitu minimal 85 % . etuntasan klasika. dari jumlah siswa dalam kelas telah mencapai ketuntasan individual yaitu sesuai KKM yang telah ditentukan sebelumnya oleh pihak sekolah . sehingga peneliti terinspirasi untuk melaksanakan model pembelajaran yaitu model pembelajaran Oleh karena itu, peneliti melakukan tindak lanjut dengan melaksanakan siklus I. Siklus I Siklus pertama dilaksanakan pada hari Senin, 10 Juni 2024 dengan materi gerak benda. Pada siklus ini, peneliti melaksanakan kegiatan sebagai berikut: Observasi Aktivitas Guru P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 156 Fetro Dola Syamsu 1. Penerapan Model Pembelajaran Berdiferensiasi Berdasarkan observasi yang dilakukan maka jumlah skor dari hasil pengamatan adalah Kemudian jumlah skor diubah terlebih dahulu ke dalam bentuk persentase. Dengan demikian diperoleh nilai hasil observasi adalah 3,00 dimana kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh peneliti pada siklus I masih tergolong rendah karena banyak aspek-aspek kegiatan pembelajaran masih dalam kategori cukup dan rendah. Observasi Aktivitas Siswa Kegiatan belajar mengajar di kelas belum berjalan secara maksimal, dimana aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh penerapan model pembelajaran masih kurang optimal sehingga masih terdapat banyak siswa yang mendapat kriteria penilaian cukup baik. Hasil Belajar Siswa Penelitian hasil belajar siswa siklus I dilakukan melalui soal tes yaitu dengan menggunakan 10 butir soal. Data hasil belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 3 Persentase Nilai Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I KKM Pencapaian Ou70 50,00 Tuntas <70 50,00 Tidak Tuntas Jumlah Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa siklus I mengalami peningkatan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah siswa yang tuntas dalam pembelajaran materi gerak benda, namun belum mencapai ketuntasan klasikal yang diharapkan yaitu 85% dari total siswa yang telah menjadi ketetapan sekolah SD Negeri Kuala Trang. KKM di SD Negeri Kuala Trang adalah 70 per siswa, sedangkan 85% adalah nilai ketuntasan klasikal dalam kelas yang yang diharapkan dari sekolah. Apabila nilai klasikal sudah mencapai 85% dalam kelas, guru baru boleh melanjutkan ke materi berikutnya. Jumlah siswa yang tidak tuntas sebanyak 8 orang atau 50,00%. Sedangkan siswa yang tuntas sebanyak 8 orang siswa atau 50%. Siklus II Siklus II dilaksanakan pada hari Kamis, 13 Juni 2024 dimana pelaksanaannya masih dengan materi yang sama. Berdasarkan hasil refleksi, pelaksanaan tindakan pada siklus I dalam penerapan model pembelajaran berdiferensiasi menunjukkan kurangnya kemampuan siswa dalam pembelajaran dan hasil belajar siswa belum maksimal. Oleh karena itu, penelitian dilanjutkan dengan siklus II. Siklus II dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Observasi Aktivitas Peneliti Berdasarkan observasi yang dilakukan maka diperoleh hasil pengamatan dengan skor Kemudian jumlah skor diubah terlebih dahulu ke dalam bentuk persentase. Dengan demikian diperoleh nilai hasil observasi adalah 4,6. Maka hasil observasi guru pada siklus II dalam proses belajar mengajar termasuk kategori sangat baik. Observasi Aktivitas Siswa Hasil pengamatan diperoleh jumlah skor 89. Kemudian jumlah skor diubah terlebih dahulu ke dalam bentuk persentase, dengan demikian di peroleh nilai hasil observasi adalah 4,45%. Maka hasil observasi guru pada siklus II dalam proses belajar mengajar masuk kategori sangat baik. Dengan demikian bahwa aktifitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar sudah mengalami peningkatan yang sangat signifikan. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 157 Fetro Dola Syamsu 1. Penerapan Model Pembelajaran Berdiferensiasi Hasil Belajar Siswa Penilaian hasil belajar pada siklus II dilakukan melalui tes hasil belajar berupa post-test secara tertulis yaitu sebanyak 10 butir dan dilaksanakan setelah proses belajar mengajar Data hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 4 Persentase Nilai Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II KKM Pencapaian Ou70 Tuntas <70 Tidak Tuntas Jumlah Berdasarkan tabel di atas, diperoleh hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan dari siklus I ke siklus II. Hal tersebut dapat diketahui dengan meningkatnya persentase hasil belajar dan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar. Peningkatan persentase ketuntasan siswa mengalami peningkatan yaitu 14 siswa atau 87,5% mencapai ketuntasan, sedangkan siswa yang masih berada di bawah KKM hanya tersisa 2 orang siswa atau 12,5%. Pembahasan Pembahasan dalam penelitian ini merupakan hasil observasi selama penelitian. Penelitian dimulai dari kegiatan pra tindakan yang merupakan pelaksanaan pra-siklus dengan memberikan tes awal kepada siswa untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi gerak benda. Hasil belajar yang diperoleh pada pra tindakan dan sesudah menerapkan model pembelajaran berdiferensiasi pada siklus I apabila dibandingkan sudah ada peningkatan, namun belum mencapai indikator yang diharapkan peneliti sehingga perlu diadakan siklus II. Setelah melaksanakan siklus II terjadi peningkatan yang sangat signifikan dan sudah mencapai target yang telah ditentukan maka siklus dihentikan. Pada pra siklus dari 16 siswa terdapat 3 siswa yang tuntas atau . ,75%) dan 13 siswa tidak tuntas . ,25%), sedangkan pada siklus I dari 16 siswa terdapat 8 siswa yang tuntas atau . ,00%) dan 8 siswa yang tidak tuntas . ,00%). Selanjutnya pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat signifikan yaitu dari 16 siswa terdapat 14 siswa yang tuntas atau . ,5%) dan hanya 2 siswa yang tidak tuntas . ,5%). Sedangkan hasil observasi keaktifan guru mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari siklus I dan siklus II dimana nilai yang diperoleh hanya 3,00 dimana kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh peneliti pada siklus I masih tergolong rendah karena banyak aspek-aspek kegiatan pembelajaran masih dalam kategori rendah dan cukup. Setelah dilaksanakan siklus II, nilai hasil observasi adalah 4,6. Maka hasil observasi guru pada siklus II dalam proses belajar mengajar masuk kategori sangat baik, dimana aspek-aspek kegiatan proses belajar mengajar sudah dapat terpenuhi. Sedangkan hasil observasi keaktifan siswa mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari siklus I dan siklus II. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti terhadap aktivitas siswa diperoleh hasil bahwa masih terdapat kekurangan-kekurangan dari beberapa aspek yang diamati. Aktivitas siswa masih rendah, dimana nilai yang diperoleh hanya 2,95 dengan kategori cukup. Setelah dilaksanakan siklus II diperoleh nilai hasil observasi adalah 4,45. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 158 Fetro Dola Syamsu 1. Penerapan Model Pembelajaran Berdiferensiasi SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berdiferensiasi dalam penelitian ini di dalamnya terdapat empat tahapan utama kegiatan, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi dan dilaksanakan dalam bentuk 2 siklus berulang. Penerapan model pembelajaran berdiferensiasi sangat efektif dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi gerak benda. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya persentase hasil belajar siswa pada tiap siklusnya. Dengan menggunakan beberapa tahapan siklus yaitu pra siklus, siklus I, dan siklus II. Pada pra siklus dari 16 siswa terdapat 3 siswa yang tuntas atau . ,75%) dan 13 siswa tidak tuntas . ,25%), sedangkan pada siklus I dari 16 siswa terdapat 8 siswa yang tuntas atau . ,00%) dan 8 siswa yang tidak tuntas . ,00%). Selanjutnya pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat signifikan yaitu dari 16 siswa terdapat 14 siswa yang tuntas atau . ,5%) dan hanya 2 siswa yang tidak tuntas . ,5%). SARAN Adapun saran yang dapat peneliti sajikan adalah sebagai berikut: Bagi Siswa Diharapkan bagi siswa, dengan menggunakan model pembelajaran berdiferensiasi di dalam proses pembelajaran sebagai salah satu model pembelajaran yang efektif dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Bagi Guru Dalam melaksanakan model pembelajaran, sebaiknya guru merancang proses pembelajaran secara matang agar dapat diterapkan secara maksimal dalam pengajaran. Guru dapat menerapkan model pembelajaran berdiferensiasi pada materi lainnya sehingga siswa tidak merasa bosan dalam belajar. Bagi Sekolah Diharapkan dengan adanya penelitian ini guru dapat menerapkan model atau metode pembelajaran salah satunya berdiferensiasi. Sehingga siswa dapat lebih berkembang, lebih percaya diri, dan lebih termotivasi dalam belajarnya. Bagi Peneliti Penelitian ini merupakan sumbangan kecil bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Peneliti lain hendaknya termotivasi dalam melengkapi penelitian ini dengan menggunakan model di dalam pembelajaran dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. DAFTAR PUSTAKA