https://ejournal. Yayasanbhz. org/index. php/Itiqadiah P-ISSN: 3062-8016 . E-ISSN: 3063-0371. Hal 301-313 DAMPAK POLIGAMI TERHADAP KEHARMONISAN KELUARGA DI LUBUK BARUMUN Maharani Putri Aulia Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan Nstmaharani9@gmail. Darania Annisa Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan darania@iain-padangsidimpuan. Article History: Received: Agustus 30, 2024 Accepted: September 22, 2024 Published: Oktober 31, 2024 Abstract. Polygamy, where a man marries more than one woman, can significantly impact family dynamics. This study aims to analyze the effects of polygamy on family structure, emotional well-being, and relationships among family members. A qualitative approach was used, involving in-depth interviews with 10 polygamous families in urban areas. The collected data were analyzed using thematic analysis to identify recurring patterns and issues. The findings suggest that polygamy can lead to tensions between wives and children, affect communication quality, and create imbalances in the distribution of attention and resources. However, some families reported that polygamy helped strengthen relationships between wives and improved the familyAos economic well-being. In conclusion, the impact of polygamy on families is varied and influenced by factors such as communication, power balance, and the familyAos values. Therefore, a more nuanced approach is needed to understand and manage polygamy in different social and cultural contexts. Keywords: Abstrak. Poligami, yang melibatkan seorang pria menikahi lebih dari satu wanita, dapat mempengaruhi dinamika dalam Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh poligami terhadap struktur keluarga, kesejahteraan emosional, dan hubungan antar anggota keluarga. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap 10 keluarga yang menjalani poligami di daerah perkotaan. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik analisis tematik untuk menemukan pola dan isu yang Temuan penelitian menunjukkan bahwa poligami dapat menyebabkan ketegangan antara istri-istri dan anakanak, mempengaruhi kualitas komunikasi, serta menimbulkan ketimpangan dalam pembagian perhatian dan sumber daya. Namun, beberapa keluarga juga melaporkan bahwa poligami membantu mempererat hubungan antara istri-istri dan Kesimpulannya, dampak poligami terhadap keluarga sangat beragam dan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti komunikasi, keseimbangan kekuasaan, dan nilai-nilai yang dianut keluarga tersebut. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih hati-hati diperlukan untuk memahami dan mengelola poligami dalam berbagai konteks sosial dan budaya Polygamy. Family harmony. Happy Family 301 | IAotiqadiah: Jurnal Hukum dan Ilmu-ilmu Kesyariahan Vo. 1 No. 3 Oktober 2024 Dampak Poligami Terhadap Keharmonisan Keluarga Di Lubuk Barumun |Maharni Putri Aulia. Darania Annisa PENDAHULUAN Poligami, yang melibatkan seorang pria yang menikahi lebih dari satu wanita, telah menjadi bagian dari berbagai budaya dan tradisi di dunia, termasuk di Indonesia. Meskipun di Indonesia poligami diatur secara hukum dan diterima dalam konteks ajaran agama tertentu, praktik ini tetap menjadi topik yang kontroversial. Sebagian orang memandang poligami sebagai bagian dari ajaran agama yang sah, sementara sebagian lainnya melihatnya sebagai bentuk ketidaksetaraan gender yang berpotensi menimbulkan konflik dalam Dalam konteks sosial yang berkembang, poligami kini bukan hanya dilihat dari perspektif agama atau tradisi, tetapi juga menjadi isu sosial yang melibatkan berbagai aspek, seperti ekonomi, psikologi, hukum, dan normanorma sosial. Suara menentang poligami telah secara lantang disuarakan perempuan sejak tahun 1911 dimulai dengan Kartini, seorang pahlawan (Hikmah et al. , 2. Dengan perubahan sosial yang cepat, peningkatan pendidikan, dan kesadaran yang lebih tinggi terhadap hak-hak perempuan, pandangan masyarakat tentang poligami juga turut berkembang. Beberapa kalangan berargumen bahwa poligami dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga, terutama di komunitas yang masih bergantung pada sektor pertanian atau masyarakat tradisional. Sebaliknya, banyak pihak yang mengkhawatirkan dampak negatif poligami terhadap struktur keluarga dan kesejahteraan psikologis para anggotanya, terutama bagi perempuan dan anak-anak yang hidup dalam keluarga poligami. Ulama di atas tidak setuju satu sama lain, mungkin karena berbagai interpretasi nash yang menyinggung poligami. (Labib & Is, 2. Di Indonesia, meskipun poligami diatur dalam Undang-Undang No. Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang memberi ruang bagi seorang pria untuk menikahi lebih dari satu wanita dengan syarat tertentu, praktik ini tetap menjadi isu sensitif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), meskipun prevalensi poligami di Indonesia menunjukkan penurunan, praktik ini masih ada, terutama di daerah-daerah dengan latar belakang sosial dan budaya Beberapa alasan yang mendorong seseorang untuk melakukan 302 | IAotiqadiah: Jurnal Hukum dan Ilmu-ilmu Kesyariahan Vo. 1 No. 3 Oktober 2024 https://ejournal. Yayasanbhz. org/index. php/Itiqadiah P-ISSN: 3062-8016 . E-ISSN: 3063-0371. Hal 301-313 poligami antara lain keinginan untuk memiliki banyak anak, ketidakmampuan istri pertama untuk memiliki anak laki-laki, atau faktor ekonomi yang memungkinkan seorang pria memiliki lebih dari satu istri. Namun, menimbulkan dampak negatif yang signifikan terhadap kesejahteraan keluarga. Poligami sering kali menjadi sumber ketegangan dan konflik, baik di antara istri-istri, antara suami dan istri, maupun antara anak-anak dengan orang tua. Ketidaksetaraan dalam pembagian perhatian, kasih sayang, serta sumber daya ekonomi dan sosial sering kali menjadi masalah utama dalam keluarga Ketidakharmonisan dalam hubungan antar anggota keluarga juga dapat berdampak pada perkembangan emosional anak-anak dan kesejahteraan psikologis istri-istri yang merasa terabaikan atau kurang dihargai. Saat ini, agama Islam sering dikaitkan dan dianggap sebagai pelopor pelaksanaan (Rahman et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai dampak poligami terhadap keluarga, dengan fokus pada hubungan antar pasangan, kesejahteraan emosional anggota keluarga, serta pengaruh sosial-ekonomi yang muncul dari praktik poligami. Penelitian ini juga akan meneliti bagaimana mempengaruhi kualitas hidup anggotanya. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih baik tentang poligami dalam konteks keluarga modern, serta memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan sosial yang lebih inklusif dan adil, terutama dalam hal perlindungan hak perempuan dan anak. Keluarga adalah lingkungan utama bagi anak dan perkembangan jiwa anak karena keluarga sangat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa anak. (Kunci et al. , 2. Penelitian wawancara mendalam terhadap keluarga-keluarga poligami yang tinggal di daerah perkotaan. Data yang diperoleh akan dianalisis untuk mengidentifikasi dampak-dampak yang muncul akibat praktik poligami, baik dalam hubungan antar pasangan, kesejahteraan emosional istri dan anak-anak, maupun dampak 303 | IAotiqadiah: Jurnal Hukum dan Ilmu-ilmu Kesyariahan Vo. 1 No. 3 Oktober 2024 Dampak Poligami Terhadap Keharmonisan Keluarga Di Lubuk Barumun |Maharni Putri Aulia. Darania Annisa sosial-ekonomi yang ditimbulkan. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai poligami sebagai fenomena sosial dan memberikan rekomendasi untuk pengelolaan yang lebih baik terhadap keluarga-keluarga yang terlibat dalam praktik ini. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi dampak poligami terhadap keluarga, dengan fokus pada interaksi antar pasangan, kesejahteraan emosional anggota keluarga, dan dampak sosialekonomi yang muncul akibat praktik poligami. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang pengalaman subjektif keluarga yang menjalani poligami. Metode ini memberikan kesempatan untuk menggali perspektif yang lebih luas dan kontekstual, melihat fenomena ini tidak hanya dari angka statistik, tetapi juga dari sudut pandang langsung para anggota keluarga. Data penelitian ikuantitatif dapat didefinisikan sebagai data kualitatif yang dipresentasikan dalam bentuk angka yang diperoleh dari lapangan, atau dapat didefinisikan sebagai data penelitian ikuantitatif yang dipresentasikan dalam bentuk angka yang diperoleh dengan mengubah nilai-nilai kualitatif menjadi nilai-nilai (Asiva Noor Rachmayani, 2. Penelitian ini mengungkapkan bahwa perdebatan terkait poligami di Indonesia tidak hanya berpusat pada interpretasi hukum Islam, tetapi juga melibatkan faktor-faktor sosial, psikologis, dan budaya yang kompleks. (Apriliani, 2. Data utama diperoleh melalui wawancara mendalam dengan sejumlah informan, yang terdiri dari suami, istri pertama, istri kedua, dan anakanak dalam keluarga poligami. Pemilihan subjek ini berdasarkan asumsi bahwa mereka adalah pihak yang paling memahami dampak sehari-hari dari kehidupan dalam keluarga poligami. Penelitian, sebagai kegiatan ilmiah, harus dilakukan dengan benar dan tepat sesuai dengan karakteristik ilmiah yang (Mekarisce. Sebanyak poligami yang tinggal di daerah perkotaan dipilih sebagai sampel penelitian. Wilayah perkotaan dipilih karena dinamika kehidupan keluarga di sana lebih 304 | IAotiqadiah: Jurnal Hukum dan Ilmu-ilmu Kesyariahan Vo. 1 No. 3 Oktober 2024 https://ejournal. Yayasanbhz. org/index. php/Itiqadiah P-ISSN: 3062-8016 . E-ISSN: 3063-0371. Hal 301-313 beragam dan kompleks, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai berbagai tantangan yang dihadapi oleh keluarga poligami. Secara harfiah, "eksplanatif" berarti "menjelaskan" sesuatu. Peneliti menguraikan penelitian dengan memberikan rincian lebih lanjut tentang hubungan dan dampak antara berbagai kategori fenomena. (Bimbingan & Konseling, 2. Proses terstruktur, yang memungkinkan peneliti untuk mengikuti jalannya percakapan namun tetap mengarahkan fokus pada isu-isu penting yang ingin digali lebih Kerangka berfikir berfungsi sebagai dasar untuk menyelesaikan (RACO, 2. Setiap wawancara berlangsung antara 60 hingga 90 menit, dengan topik yang mencakup pengalaman hidup dalam keluarga poligami, hubungan antar pasangan, pembagian perhatian dan sumber daya, serta dampak psikologis dan sosial yang dirasakan oleh anggota keluarga, khususnya istri dan anak-anak. Untuk memastikan keakuratan dan kevalidan data, digunakan teknik triangulasi, yang melibatkan berbagai sumber data seperti wawancara dengan anggota keluarga yang berbeda, observasi langsung . ika memungkinka. , dan analisis dokumen terkait . isalnya catatan atau kebijakan internal keluarg. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode analisis tematik, di mana peneliti mengidentifikasi dan mengelompokkan tema-tema utama berdasarkan kesamaan isu yang muncul dalam wawancara. Sumber primer lebih baik daripada sumber sekunder dalam hal keasliannya. Namun, sumber sekunder sangat penting karena merangkum banyak materi dari sumber primer dalam sebuah publikasi. (Hardani. Helmina Andriani. Jumari Ustiawaty. Evi Fatmi Utami. Ria Rahmatul Istiqomah. Roushandy Asri Fardani. Dhika Juliana Sukmana, 2. Setelah menggambarkan dampak-dampak poligami pada keluarga, terutama terkait hubungan antar pasangan, kesejahteraan emosional, dan aspek sosial-ekonomi. Temuan-temuan ini diharapkan memberikan gambaran yang lebih lengkap dan 305 | IAotiqadiah: Jurnal Hukum dan Ilmu-ilmu Kesyariahan Vo. 1 No. 3 Oktober 2024 Dampak Poligami Terhadap Keharmonisan Keluarga Di Lubuk Barumun |Maharni Putri Aulia. Darania Annisa bagaimana praktik ini mempengaruhi kehidupan keluarga dalam konteks sosial yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan sosial yang lebih adil dan sensitif terhadap hak-hak setiap anggota keluarga, terutama perempuan dan anak-anak. PEMBAHASAN DAN HASIL: Poligami, yang melibatkan seorang pria menikahi lebih dari satu wanita, menjadi topik yang kontroversial dan sering menjadi perdebatan, baik dalam konteks agama, budaya, maupun sosial. Di Indonesia, meskipun ada peraturan yang mengatur praktik poligami melalui Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, yang membolehkan seorang pria untuk menikahi lebih dari satu wanita dengan syarat tertentu, praktik ini tetap menjadi isu yang sangat Dampak poligami terhadap keluarga bisa terlihat dari berbagai aspek, termasuk perubahan dalam hubungan antar pasangan, kesejahteraan emosional anggota keluarga, serta dampak sosial dan ekonomi yang muncul dalam keluarga poligami di Lubuk Barumun. Perubahan dalam Dinamika Hubungan Antar Pasangan Salah satu dampak utama yang muncul akibat poligami adalah perubahan dalam hubungan antar pasangan, baik antara suami dan istri pertama, antara suami dan istri kedua, maupun antar istri itu sendiri. Ketegangan dan kecemburuan sering kali muncul antara istri-istri, terutama jika suami tidak mampu bersikap adil dalam membagi perhatian, waktu, atau sumber daya di Lubuk Barumun. Kehadiran istri kedua bisa memicu perasaan terabaikan pada istri pertama, yang merasa kurang dihargai atau bahkan dilupakan. Ketidakseimbangan dalam pembagian perhatian dan kasih sayang ini seringkali memicu konflik dalam hubungan mereka. Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga . umah tangg. yang bahagia dan kekal berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, pengertian perkawinan dalam ajaran Islam memiliki nilai ibadah. 306 | IAotiqadiah: Jurnal Hukum dan Ilmu-ilmu Kesyariahan Vo. 1 No. 3 Oktober 2024 https://ejournal. Yayasanbhz. org/index. php/Itiqadiah P-ISSN: 3062-8016 . E-ISSN: 3063-0371. Hal 301-313 Ini juga merupakan salah satu sunnah nabi, dengan tujuan untuk mengembangkan umat Islam. (Hamdun et al. , 1. Kecemburuan dan ketidakpercayaan di antara istri-istri kerap terjadi, terutama jika komunikasi yang terbuka dan jujur antara mereka tidak terjalin dengan baik. Persaingan semacam ini tidak hanya merugikan hubungan antar pasangan, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas emosional istri-istri yang terlibat. Sebagian besar istri merasa tertekan karena mereka harus bersaing dengan istri lain dalam memperoleh perhatian Pada beberapa kasus, ketegangan ini bisa berkembang menjadi konflik terbuka yang merusak keharmonisan keluarga di Lubuk Barumun. Dengan kata lain, poligami dilakukan tanpa memperhatikan undang-undang yang mengaturnya, seolah-olah mereka lupa bahwa mereka juga akan bertanggung jawab di hadapan Allah SWT pada waktunya. Akibatnya, kebanyakan orang menganggap poligami sebagai akibat dari syahwat. Selain itu, kenyataan menunjukkan betapa banyaknya kehancuran, kesengsaraan, dan kemelaratan yang disebabkan oleh poligami. (KELUARGA ( Studi Kasus Di Desa Surabaya Udik Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur ). Selain itu, peran suami dalam poligami sering kali menjadi pusat perhatian dalam keluarga. Seorang suami yang kesulitan mengelola perasaan dan kebutuhan istri-istrinya dapat menyebabkan ketidakpuasan yang mendalam pada kedua belah pihak, baik istri pertama maupun istri kedua. Menurut tinjauan penulis, suami melakukan poligami tanpa izin istri masih Suami menikah tanpa mengetahui istri pertamanya, ada yang hanya ingin memenuhi nafsu dan mengambil harta istri yang dinikahinya, dan ada juga yang melakukan poligami karena merasa mampu menafkahi lebih dari satu istri. (Makka et al. , 2. Penelitian ini menunjukkan bahwa banyak suami merasa kewalahan dengan tanggung jawab besar yang harus dipikul, yaitu memenuhi kebutuhan fisik, emosional, dan material dari lebih dari satu Ketegangan ini berpotensi memperburuk hubungan suami-istri dan menyebabkan ketidakbahagiaan dalam keluarga. 307 | IAotiqadiah: Jurnal Hukum dan Ilmu-ilmu Kesyariahan Vo. 1 No. 3 Oktober 2024 Dampak Poligami Terhadap Keharmonisan Keluarga Di Lubuk Barumun |Maharni Putri Aulia. Darania Annisa Kesejahteraan Emosional Anggota Keluarga Dampak poligami tidak hanya dirasakan oleh pasangan, tetapi juga oleh anak-anak yang tumbuh dalam keluarga poligami. Anak-anak sering kali menjadi saksi konflik antara istri-istri dan menjadi korban ketegangan yang muncul di antara mereka. Tidak bisa menguasai diri dan keinginan untuk mencari selingan, kurangnya komunikasi, dan kurangnya perhatian pasangan (Library & Library, 2. Banyak anak merasa terabaikan, terutama ketika mereka merasa bahwa ayah mereka lebih memperhatikan istriistri daripada mereka. Ketidakharmonisan dalam hubungan orang tua dapat menyebabkan anak-anak merasa bingung dan cemas. Beberapa anak bisa merasa kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tua, khususnya dari ayah mereka, yang harus membagi waktu dan perhatiannya dengan lebih dari satu istri. Selain itu, anak-anak dari keluarga poligami juga menghadapi kesulitan dalam memahami hubungan antara ibu kandung dan ibu tiri, serta peran masing-masing dalam keluarga. Beberapa anak merasa lebih dekat dengan ibu mereka yang pertama, sementara anak lainnya mungkin merasa lebih diperhatikan oleh ibu tiri. Ketidaksesuaian dalam hubungan antar anggota keluarga ini dapat menyebabkan kebingungan emosional pada anak-anak, yang memperburuk kondisi psikologis mereka. Bahkan dalam beberapa kasus, anakanak dapat merasa tidak dihargai oleh ayah mereka, yang lebih terfokus pada hubungan dengan istri-istrinya daripada memenuhi kebutuhan emosional anakanak. Sayyid Sabiq mengatakan bahwa laki-laki yang memiliki istri lebih dari satu seringkali menelantarkan anak-anak dan istrinya, bahkan menghilangkan hak mereka sebagai ahli waris. Problem seperti ini dapat menanamkan permusuhan dan dengki di antara saudara tiri. Permusuhan ini akan terus berlanjut dan semakin merajalela hingga di kalangan keluarga, bahkan sampai pembunuhan antara pasangan untuk menjatuhkan satu sama lain. (Poligami et , 2. Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga poligami memiliki risiko lebih besar untuk mengalami masalah psikologis 308 | IAotiqadiah: Jurnal Hukum dan Ilmu-ilmu Kesyariahan Vo. 1 No. 3 Oktober 2024 https://ejournal. Yayasanbhz. org/index. php/Itiqadiah P-ISSN: 3062-8016 . E-ISSN: 3063-0371. Hal 301-313 seperti kecemasan, depresi, dan penurunan rasa percaya diri. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian dan kasih sayang yang cukup dari orang tua, serta ketegangan yang mereka saksikan dalam hubungan antara ibu dan ayah mereka. Kurangnya komunikasi yang jelas tentang struktur keluarga dan praktik poligami juga dapat menciptakan kebingungan dan isolasi emosional pada anak-anak, yang pada akhirnya memengaruhi kesejahteraan mereka Ketidaksetaraan dalam Pembagian Sumber Daya Salah satu tantangan terbesar dalam keluarga poligami adalah pembagian sumber daya yang terbatas, baik itu waktu, uang, maupun perhatian. Ketika sumber daya terbagi antara beberapa istri dan anak-anak, sering kali muncul ketimpangan yang memicu konflik. Banyak keluarga poligami yang menghadapi kesulitan finansial, terutama jika suami tidak memiliki cukup pendapatan untuk memenuhi kebutuhan setiap istri dan anak-anaknya secara adil. Ketidaksetaraan dalam pembagian sumber daya ini bisa menimbulkan ketegangan yang signifikan dalam keluarga, baik secara emosional maupun Bahkan berlaku juga dalam kehidupan akhirat, seperti ketika seseorang disiksa di jurang neraka karena berbuat dosa karena sebab akibatnya, yang masih menjadi misteri bagi banyak orang. Ini juga berlaku untuk suami-suami yang mengumumkan ingin berpoligami. (Latupono, 2. Meskipun ada upaya untuk membagi sumber daya secara adil, dalam praktiknya hal ini sangat sulit dilakukan. Ketika salah satu istri merasa kurang diperhatikan atau tidak terpenuhi kebutuhannya, ketidakpuasan dan konflik bisa muncul. Ketidaksetaraan dalam hal ini bisa merusak keharmonisan keluarga dan memengaruhi kesejahteraan emosional istri dan anak-anak yang merasa diabaikan. Beberapa keluarga poligami yang mengalami kesulitan ekonomi juga menghadapi tekanan tambahan, di mana kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, dan pendidikan anak-anak menjadi lebih sulit untuk dipenuhi secara memadai. Namun, dalam beberapa situasi, poligami dapat memberikan manfaat ekonomi, terutama jika suami memiliki sumber daya yang cukup untuk 309 | IAotiqadiah: Jurnal Hukum dan Ilmu-ilmu Kesyariahan Vo. 1 No. 3 Oktober 2024 Dampak Poligami Terhadap Keharmonisan Keluarga Di Lubuk Barumun |Maharni Putri Aulia. Darania Annisa memenuhi kebutuhan semua anggota keluarga dengan adil. Meski demikian, ini lebih jarang terjadi, dan banyak keluarga poligami justru mengalami ketegangan ekonomi, yang dapat memperburuk kualitas hidup mereka secara Dampak Sosial dan Budaya Poligami juga membawa dampak sosial yang besar. Dalam banyak budaya, poligami dianggap sebagai norma atau bahkan sebagai simbol status sosial, tetapi dalam masyarakat modern yang semakin menekankan kesetaraan gender dan hak-hak individu, pandangan terhadap poligami sering kali lebih Keluarga poligami seringkali menghadapi stigma sosial, dengan masyarakat menilai mereka sebagai "berbeda" dari norma keluarga monogami. Stigma ini dapat berimbas pada anak-anak yang tumbuh dalam keluarga poligami, yang mungkin merasa malu atau terasing di sekolah atau di lingkungan sosial mereka. Aturan yang ketat tentang poligami, yang mengharuskan laki-laki mendapatkan izin dari pengadilan atau izin dari perempuan, telah menyebabkan poligami sirri, atau poligami ilegal, meningkat dalam beberapa kasus. (Raden et al. , 2. Anak-anak dari keluarga poligami dapat mengalami diskriminasi atau merasa tidak diterima oleh teman-teman mereka, yang menganggap kehidupan mereka sebagai "tidak biasa. " Perasaan ini bisa memperburuk kondisi emosional anak-anak, yang merasa bahwa mereka tidak dihargai atau tidak sepenuhnya Isu ini juga memengaruhi istri-istri, yang kadang-kadang menghadapi penilaian negatif dari masyarakat karena memilih untuk hidup dalam keluarga Meski demikian, di beberapa komunitas yang lebih menerima poligami, keluarga poligami dapat memperoleh dukungan sosial, dan mereka tidak merasa terisolasi. Mereka yang mendukung poligami juga mengatakan bahwa Rasulullah mencontohkan kehidupan poligami karena dia disebutkan memiliki Sembilan istri dan sebelas istri dalam riwayat lain. (Apriliani, 2. Namun, dalam kebanyakan masyarakat, poligami tetap dianggap sebagai praktik yang kontroversial, yang dapat menyebabkan ketegangan sosial. Beberapa keluarga poligami mungkin merasa terisolasi atau kesulitan 310 | IAotiqadiah: Jurnal Hukum dan Ilmu-ilmu Kesyariahan Vo. 1 No. 3 Oktober 2024 https://ejournal. Yayasanbhz. org/index. php/Itiqadiah P-ISSN: 3062-8016 . E-ISSN: 3063-0371. Hal 301-313 berinteraksi dengan lingkungan sosial mereka karena pandangan yang negatif terhadap praktik tersebut. KESIMPULAN Dampak poligami terhadap keluarga sangat bergantung pada bagaimana praktik ini dikelola dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun dalam beberapa situasi poligami dapat menciptakan ketegangan dalam hubungan antar pasangan dan ketidaksetaraan dalam pembagian sumber daya, dalam situasi tertentu, poligami juga bisa memberikan manfaat sosial dan ekonomi, asalkan dikelola dengan baik. Namun, ketegangan yang muncul dalam hubungan suamiistri dan dampak emosional terhadap anak-anak seringkali menjadi tantangan besar dalam keluarga poligami. Oleh karena itu, poligami memiliki dampak yang kompleks, yang sangat bergantung pada konteks sosial, budaya, dan ekonomi masing-masing keluarga. Untuk menciptakan keluarga yang harmonis dan sejahtera, penting bagi keluarga poligami untuk memiliki komunikasi yang terbuka, pengelolaan sumber daya yang adil, serta pemahaman yang baik terhadap peran dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga. REFERENSI