Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Kualitas Hidup Lansia Penderita Hipertensi yang Tinggal di Wilayah Pesisir Arif Rahman Hakim1*. Endang Fauziyah Susilawati1. Syaifurrahman Hidayat2. Mukhlish Hidayat1 1 Nursing Department. Polytechnic State of Madura. Indonesia 2 Faculty of Health Science. University of Wiraraja. Sumenep. Indonesia * Corresponding Author: hakim211091@gmail. ARTICLE INFORMATION Article history Received 21 July 2025 Revised 27 September 2025 Accepted 30 September 2025 Keywords Quality of life, hypertension, elderly, coastal region ABSTRACT Background: The aging population and the increasing prevalence of hypertension among elderly individuals in coastal regions present significant public health concerns. Coastal living offers both advantages and challenges that influence the quality of life (QOL) of elderly people. This study explores the QOL and its associated factors among elderly individuals with hypertension living in coastal areas of Madura. East Java. Indonesia. Methods: This is a cross-sectional study inviting 140 elderly aged 60Ae80 years as participants purposively. The data was collected using The World Health Organization Quality of Life (WHOQOL-BREF) questionaire to measure the participantsAo QOL trough four domains which are physical health, psychological, social relationships, and environment. The t-test was used in relationship analysis with statistical significance set at p < 0. Results: Findings revealed that middle-old participants . ged 70Ae. showed higher QOL scores in physical health, psychological wellbeing, and environmental domains compared to young-old participants . ged 60Ae. Male participants displayed higher QOL scores than females, particularly in physical health, psychological, and social relationship Marital status and education level were not significantly related to QOL . Fishermen had the highest overall QOL scores, suggesting that occupational satisfaction plays a crucial role in elderly well-being. Additionally, the duration of hypertension did not significantly impact QOL, indicating effective self-management among participants. Conclusion: Gender and occupation were the only factors significantly associated with QOL in elderly individuals with hypertension in coastal areas. These findings highlight the need for targeted interventions, particularly for elderly women and non-working individuals, to enhance QOL. Policymakers should focus on improving healthcare accessibility, social inclusion, and economic support programs tailored to elderly populations in coastal regions. ABSTRAK Latar Belakang: Populasi lansia dan meningkatnya prevalensi hipertensi di kalangan lansia di wilayah pesisir menimbulkan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Kehidupan pesisir memiliki keuntungan sekaligus tantangan yang memengaruhi kualitas hidup (QOL) lansia. Studi ini mengeksplorasi QOL dan faktor-faktor terkaitnya pada lansia dengan hipertensi yang tinggal di wilayah pesisir Madura. Jawa Timur. Indonesia. Metode: Desain penelitian ini adalah cross-sectional yang mengundang 140 lansia berusia 60Ae80 tahun sebagai partisipan dengan cara purposive Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Kualitas Hidup dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHOQOL-BREF) untuk mengukur kualitas hidup partisipan melalui empat domain, yaitu kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan. Analisis hubungan antar variabel dialkukan dengan menggunakan uji t-test dengan signifikansi statistik p < 0,05. Hasil: Temuan penelitian menunjukkan bahwa peserta paruh baya . sia 70Ae. menunjukkan skor kualitas hidup (QOL) yang lebih tinggi dalam hal kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, dan lingkungan dibandingkan dengan peserta muda . sia 60Ae. Peserta laki-laki Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 Keywords Kualitas hidup, hipertensi, lansia, http://ojsjournal. menunjukkan skor Kualitas Hidup (QOL) yang lebih tinggi daripada perempuan, terutama dalam hal kesehatan fisik, psikologis, dan hubungan Status perkawinan dan tingkat pendidikan tidak berhubungan signifikan dengan kualitas hidup . Nelayan memiliki skor kualitas hidup (QOL) keseluruhan tertinggi, menunjukkan bahwa kepuasan kerja memainkan peran penting dalam kesejahteraan lansia. Selain itu, durasi hipertensi tidak berdampak signifikan terhadap kualitas hidup (QOL), yang menunjukkan adanya manajemen diri yang efektif di antara peserta. Kesimpulan: Jenis kelamin dan status pekerjaan merupakan satu-satunya faktor yang berhubungan signifikan dengan kualitas hidup (QOL) pada lansia penderita hipertensi di wilayah pesisir. Temuan ini menyoroti perlunya intervensi yang terarah, terutama bagi perempuan lansia dan individu yang tidak bekerja, untuk meningkatkan QOL. Para pemangku kebijakan harus berfokus pada peningkatan aksesibilitas layanan kesehatan, inklusi sosial, dan program dukungan ekonomi yang disesuaikan dengan populasi lansia di wilayah pesisir. Indonesian Health Science Journal Website: http://ojsjournal. E-mail: Pendahuluan Populasi lansia menjadi perhatian global yang terus berkembang, dengan fokus yang semakin meningkat untuk memastikan kualitas hidup [Quality of Life (QOL)] yang tinggi bagi Di antara beragam lingkungan tempat tinggal, wilayah pesisir menghadirkan berbagai keuntungan dan tantangan unik yang memengaruhi kesejahteraan penduduk lansia. Mengkaji QOL sangat penting dalam memahami kehidupan yang baik dikalangan lansia, terutama mereka yang memiliki penyakit kronis seperti hipertensi. Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir seringkali memiliki masalah sosial budaya dan lingkungan yang unik yang dapat berdampak terhadap status kesehatan mereka (Iriani et al. , 2. Lansia di wilayah ini mungkin menghadapi risiko akibat faktor-faktor yang berkaitan dengan perubahan iklim seperti peningkatan permukaan air laut, erosi di sekitar pesisir, dan peristiwa cuaca ekstrem, yang dapat memengaruhi keselamatan dan stabilitas perumahan mereka (Malak et al. , 2020. Bukvic et al. , 2018. Bloetscher et al. , 2. Prevalensi hipertensi pada lansia terus meningkat sebesar 12% sejak tahun 2021 hingga 2024 (Abu Bakar et al. , 2. Lebih lanjut, prevalensi hipertensi meningkat di beberapa wilayah pesisir, sehingga angkanya hampir mendekati rata-rata nasional yang Sebuah tinjauan sistematis melaporkan bahwa masyarakat pesisir cenderung lebih banyak mengalami hipertensi (Chen dkk. , 2. Khususnya di Indonesia, tingginya prevalensi hipertensi di wilayah pesisir mencapai33,33% dari total populasi (Astutik et al. Di antara populasi lansia yang tinggal di daerah ini, hipertensi merupakan penyakit umum yang memiliki risiko signifikan terhadap kesehatan fisik dan mental. Lebih lanjut, kualitas hidup mereka dapat dipengaruhi secara negatif oleh beban penanganan kondisi tersebut, keterbatasan mobilitas fisik, dan faktor risiko terkait seperti komplikasi Sejumlah penelitian melaporkan bahwa orang lanjut usia yang menerima terapi hipertensi diidentifikasi untuk mendapatkan risiko jatuh dan cedera terkait jatuh (Berry & Kiel, 2014. Berlowitz et al. , 2016. Saedon et al. , 2. Meskipun telah banyak penelitian yang membahas hipertensi dan dampaknya yang merugikan pada kelompok lansia, sangat sedikit yang membahas kualitas hidup mereka, terutama mereka yang tinggal di wilayah pesisir Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang untuk mengeksplorasi kualitas hidup (QOL) dan faktor-faktor terkaitnya pada lansia dengan hipertensi di wilayah pesisir. Memahami determinan kualitas hidup lansia di wilayah pesisir sangat penting bagi para pembuat kebijakan, penyedia layanan kesehatan, dan organisasi sosial. Dengan membahas manfaat dan tantangan kehidupan di pesisir, intervensi Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. dapat dirancang untuk meningkatkan aksesibilitas layanan kesehatan, inklusi sosial, dan ketahanan lingkungan, serta memastikan kehidupan yang memuaskan dan aman bagi populasi lansia di wilayah ini. Lebih lanjut, hasil penelitian ini dapat menjadi awal dari peluang untuk meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan dan hasil kesehatan pada populasi rentan ini. Metode Penelitian ini dilakukan melalui rancangan cross-sectional di wilayah pesisir Madura. Jawa Timur. Indonesia. Dengan menggunakan rule of thumb, minimal 100 sampel akan diundang secara purposif untuk berpartisipasi dalam studi ini (Murtagh & Heck, 2. Partisipan yang memenuhi syarat adalah sebagai berikut: . berusia di atas 60 tahun. penduduk asli atau telah tinggal di wilayah pesisir yang ditentukan selama minimal 10 tahun. bebas dari disabilitas fisik dan mental. memiliki tekanan darah Ou 140/90 mmHg. Kuesioner Kualitas Hidup dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHOQOL-BREF) versi Indonesia digunakan untuk mengukur kualitas hidup (QOL) lansia (WHO, 2. Kuesioner ini merupakan kuesioner yang diisi sendiri dengan 26 item dan merupakan pengukuran subjektif terhadap persepsi kualitas hidup (QOL) individu melalui empat faktor, yaitu kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan (Vahedi, 2. Terdapat dua item tambahan untuk mengeksplorasi kualitas hidup (QOL) secara keseluruhan dan status kesehatan umum. Semua item disusun berdasarkan variasi Skala Likert 5 poin, dengan skor 1 hingga 5, yang menanyakan tentang "seberapa banyak", "seberapa lengkap", "seberapa sering", "seberapa baik", atau "seberapa puas" yang dirasakan individu. Skor domain diskalakan ke arah positif, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan Kualitas Hidup (QOL) yang lebih tinggi, kecuali untuk item 3, 4, dan 26 yang perlu dibalik skornya (WHO, 2. WHOQOL-BREF telah divalidasi dan diterapkan di Indonesia dan Malaysia (Utomo dkk. ZamZam dkk. , 2. Instrumen ini memiliki kualitas yang baik reliabilitas dengan alpha Cronbach masing-masing domain adalah sebagai berikut - Kesehatan fisik . Psikologis . Hubungan sosial . 74 dan Lingkungan 0. 85 (Utomo dkk. , 2. Data dikumpulkan dari tanggal 5 hingga 20 Februari 2025. Kuesioner ditulis di atas kertas dan dibagikan kepada responden yang dituju. Para partisipan telah diberitahu sebelumnya tentang tujuan penelitian dan dijamin haknya untuk menolak berpartisipasi atau menarik persetujuan mereka pada tahap manapun. Persetujuan penelitian diperoleh dari komite etik Universitas Wiraraja (Nomor Persetujuan 162/KEPK/II/2. Data dianalisis menggunakan Aplikasi Statistik IBM SPSS 23. Variabel dengan data kategorikal dijelaskan melalui frekuensi dan persentase, sedangkan variabel kontinu dijelaskan melalui rata-rata dan deviasi standar. variabel kategoris antar kelompok diuji menggunakan Uji t. Analisis hubungan dilakukan untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang berkaitan dengan Kualitas Hidup (QOL). Uji dua sisi dengan tingkat signifikansi 0,05 digunakan untuk mengevaluasi signifikansi statistik. Hasil dan Pembahasan Hasil Sebanyak 140 lansia berpartisipasi dalam penelitian ini. Sebagaimana data yang ditampilkan pada Tabel 1, sebanyak 48 partisipan merupakan lansia muda . sia 60-69 tahu. dan sisanya merupakan lansia menengah . sia 70-80 tahu. Sebagian besar partisipan adalah laki-laki . ,1%) dan sudah menikah . ,9%). Sebanyak 140 lansia telah berpartisipasi dalam penelitian ini. Sebagaimana data yang ditampilkan pada Tabel 1, bahwa mayoritas partisipan adalah lulusan SMA . ,1%). Sebagian besar partisipan bekerja sebagai nelayan . %). Partisipan yang menderita hipertensi kurang dari 5 tahun dan antara 6 dan 10 tahun masingmasing sebesar 40,7%. Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Tabel 1. Karakteristik Demografi Responden Variabel Frekuensi Persentase Usia Lansia Muda Lansia Menengah Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Status Pernikaha Menikah Single/Janda/Duda Tingkat Pendidikan a Sekolah Dasar SLTP SLTA Diploma atau diatasnya Pekerjaan Petani Ibu Rumah Tangga Pensiunan Nelayan Pedagang Pengangguran Lama Menderita Hipertensi O 5 tahun 6-10 tahun >10 tahun Peserta usia paruh baya memiliki skor rata-rata yang lebih tinggi untuk domain kesehatan fisik, psikologis, dan lingkungan dibandingkan dengan peserta usia muda. Peserta laki-laki mendominasi skor rata-rata kualitas hidup (QOL), terutama dalam domain kesehatan fisik, psikologis, dan hubungan sosial. Peserta yang menikah dan janda/duda menunjukkan skor rata-rata yang kurang lebih sama di semua domain QOL. Peserta dengan pendidikan SMA dan bekerja sebagai Nelayan menunjukkan skor rata-rata total QOL yang sedikit lebih Peserta yang menderita Hipertensi lebih dari 6 tahun menunjukkan skor rata-rata yang tinggi di semua domain QOL. Dalam hal analisis hubungan (Tabel . , hanya jenis kelamin dan jenis pekerjaan yang memiliki hubungan signifikan dengan QOL . < . Tabel 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi QOL Variables Usia Lansia Muda Lansia Menengah Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Domain Kualitas Hidup (MeanA SD) Kesehatan Fisik Kesehatan Psikologis Hubungan Sosial Lingkungan 73 A 3. 04 A 4. 88 A 4. 86 A 3. 67 A 1. 39 A 1. 79 A 3. 51 A 2. 76 A 3. 83 A 3. 42 A 3. 32 A 3. 55 A 1. 41 A 1. 24 A 2. 28 A 3. Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 Status Pernikahan Menikah Single/Janda/Duda Tingkat Pendidikan Sekolah Dasar SLTP SLTA Diploma Pekerjaan Petani Ibu Rumah Tangga Pensiunan Nelayan Pedagang Pengangguran Lama Menderita Hipertensi O 5 tahun 6-10 tahun >10 tahun http://ojsjournal. 78 A 3. 19 A 4. 34 A 3. 83 A 3. 59 A 1. 31 A 1. 21 A 3. 26 A 3. 41 A 4. 12 A 4. 71 A 3. 67 A 2. 81 A 2. 78 A 3. 32 A 3. 19 A 6. 61 A 2. 46 A 1. 51 A 1. 13 A 1. 81 A 3. 24 A 3. 12 A 2. 67 A 8. 16 A 2. 92 A 4. 25 A 3. 21 A 3. 74 A 3. 87 A 4. 42 A 3. 92 A 2. 25 A 3. 94 A 3. 52 A 3. 53 A 3. 32 A . 31 A 2. 38 A . 53 A 1. 39 A 1. 53 A 1. 95 A 3. 88 A 3. 88 A 4. 29 A 2. 30 A 2. 67 A 3. 47 A 3. 21 A 4. 35 A 3. 39 A 4. 91 A 3. 92 A 3. 56 A 1. 56 A 1. 15 A 2. 68 A 3. 65 A 3. 65 A 3. Pembahasan Penelitian ini menyelidiki kualitas hidup dan faktor-faktor terkaitnya pada lansia dengan tekanan darah tinggi yang tinggal di wilayah pesisir. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa lansia paruh baya memiliki kualitas hidup yang lebih baik daripada lansia muda, terutama dalam hal kesehatan fisik, psikologis, dan lingkungan. Hal ini menunjukkan hasil yang berbanding terbalik dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa lansia muda memiliki kualitas hidup (QOL) yang lebih baik dibandingkan dengan lansia paruh baya (Juanita dkk. , 2. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa mereka telah menderita hipertensi lebih lama daripada lansia muda, sehingga mereka lebih mampu beradaptasi dan menerima kondisi mereka. Mereka menunjukkan kemampuan koping individu yang baik sehingga hipertensi yang dideritanya tidak dianggap sebagai masalah dalam hidup mereka. Selain itu, perbedaan kualitas hidup antara lansia paruh baya dan lansia muda dapat dipengaruhi oleh tingkat penerimaan terhadap proses penuaan dan kondisi penyakit kronis yang dialami. Lansia paruh baya umumnya memiliki pengalaman hidup yang lebih luas, termasuk dalam menghadapi berbagai permasalahan kesehatan, sehingga mereka lebih mampu menyesuaikan diri dengan keadaan hipertensi yang bersifat jangka panjang (Prianti. Mugianti, & Mujito, 2. Adaptasi ini memungkinkan mereka untuk mengelola tekanan darah dengan lebih baik melalui perubahan gaya hidup, kepatuhan terhadap pengobatan, serta penerapan strategi koping yang efektif. Hasil penelitian ini menemukan hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan kualitas hidup pada lansia. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa laki-laki menunjukkan QOL yang lebih baik daripada perempuan (Juanita dkk. , 2022. Zheng dkk. , 2021. Lee dkk. , 2. Hal ini membuktikan bahwa lansia laki-laki dan perempuan dihadapkan pada norma sosial dan budaya yang berbeda. Khususnya di Indonesia, mereka cenderung memiliki lebih banyak hambatan terkait akses aktivitas sosial, dan perawatan kesehatan, dan lebih banyak tugas terkait pekerjaan rumah tangga. Dalam penelitian ini, hasilnya menunjukkan bahwa status perkawinan tidak berhubungan dengan kualitas hidup lansia. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara menikah dan janda/duda. Ini berbeda dari penelitian sebelumnya yang secara konsisten menemukan bahwa orang yang Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. menikah memiliki Kualitas Hidup yang lebih baik daripada janda/duda (Kusumaningrum et , 2024. Pramesona & Taneepanichskul, 2. Hal ini terjadi karena janda/duda tidak memiliki beban keluarga, dan mereka bebas menjalani hidup mereka sehingga mereka memiliki Kualitas Hidup yang relatif sama dengan mereka yang menikah. Adapun tingkat pendidikan lansia tidak menunjukkan hubungan dengan kualitas Hasil ini sama dengan temuan penelitian sebelumnya yang melaporkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan kualitas hidup pada lansia (Pramesona & Taneepanichskul, 2. Hal ini membuktikan bahwa kualitas hidup di antara lansia lebih erat kaitannya dengan kesehatan fisik dan sosio-psikologis daripada tingkat Selain itu, banyak lansia yang memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman hidup, bukan semata-mata dari pendidikan formal, sehingga kemampuan mereka dalam mengelola kesehatan dan menyesuaikan diri dengan penyakit kronis seperti hipertensi tetap baik. Di wilayah pesisir, peran komunitas dan dukungan sosial sering kali menjadi sumber utama dalam menjaga kesejahteraan lansia, menggantikan peran pendidikan formal dalam memengaruhi kualitas hidup. Dengan demikian, hasil ini menegaskan bahwa pendidikan tidak selalu menjadi determinan utama bagi kualitas hidup lansia, terutama ketika faktor-faktor sosial, psikologis, dan kesehatan memiliki peranan yang lebih dominan dalam menentukan kesejahteraan mereka. Sedangkan menurut jenis pekerjaan, lansia yang bekerja sebagai nelayan memiliki skor QOL tertinggi diikuti oleh mereka yang berdagang, ibu rumah tangga, pensiunan, pengangguran dan petani. Ini menunjukkan bahwa menjadi nelayan adalah profesi yang membanggakan, sehingga mereka merasa nyaman dan puas dengan hidup mereka. Seperti yang diungkapkan sebuah penelitian, kepuasan hidup dapat mewakili kualitas hidup yang baik (Pinto et al. , 2. Terbukti bahwa sebagian besar peserta yang terlibat dalam penelitian ini bekerja sebagai nelayan. Dalam penelitian ini, durasi menderita hipertensi tidak berhubungan dengan QOL. Dengan kata lain, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kualitas hidup peserta berdasarkan lamanya waktu mereka menderita hipertensi. Itu mungkin disebabkan oleh manajemen diri yang baik di antara orang tua. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hipertensi yang dikelola dengan baik berdampak signifikan pada kualitas hidup (Marni et al. Sari et al. , 2024. Khezri et al. , 2. Kesimpulan Studi ini mengkaji kualitas hidup (QOL) dan faktor-faktor terkaitnya pada lansia dengan hipertensi yang tinggal di wilayah pesisir. Temuan penelitian menunjukkan bahwa partisipan usia paruh baya memiliki QOL yang lebih baik daripada partisipan usia muda, terutama dalam hal kesehatan fisik, psikologis, dan lingkungan. Jenis kelamin dan pekerjaan merupakan satu-satunya faktor yang berhubungan signifikan dengan QOL, dengan partisipan laki-laki dan nelayan menunjukkan skor tertinggi. Status perkawinan, tingkat pendidikan, dan durasi hipertensi tidak berhubungan signifikan dengan QOL, menunjukkan bahwa manajemen diri yang efektif berperan penting dalam menjaga kesejahteraan. Hasil ini menekankan pentingnya faktor sosial dan pekerjaan dalam Karena studi ini menemukan bahwa pria memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi daripada wanita, penelitian lebih lanjut harus mengeksplorasi tantangan spesifik yang dihadapi oleh wanita lanjut usia, termasuk faktor sosial, budaya, dan ekonomi yang memengaruhi kesejahteraan mereka. Studi mendatang juga harus menyelidiki peran norma budaya, dinamika keluarga, dan sistem dukungan sosial dalam membentuk kualitas hidup di antara individu lanjut usia, khususnya di Indonesia dan pengaturan budaya yang serupa. Hasil studi ini menunjukkan pentingnya keterlibatan pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup orang lanjut usia seperti menyelenggarakan program layanan kesehatan keliling untuk menjangkau masyarakat terpencil dan menyediakan Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. program skrining dan manajemen hipertensi dan membangun lebih banyak fasilitas kesehatan di wilayah pesisir untuk memastikan individu lanjut usia, khususnya mereka yang memiliki hipertensi, memiliki akses rutin ke pemeriksaan medis dan perawatan. Ucapan Terima Kasih Kami menyampaikan rasa terima kasih kepada para peserta dan semua pihak terkait atas bantuannya yang sangat membantu dalam penelitian ini. Daftar Pustaka