Masyarakat Berdaya dan Inovasi , 2024, 8-16 Available online: https://mayadani. org/index. php/MAYADANI Konvergensi Pentahalik dalam Optimalisasi Potensi Desa Sumbersuko Menuju Desa Wisata Hena Dian Ayu1. Sri Wilujeng1. Anggri Sartika Wiguna1. Dana Marsetiya Utama2 Universitas PGRI Kanjuruhan Malang. Malang. Indoensia Universitas Muhammadiyah Malang. Malang. Indonesia E-mail: henadian@unikama. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk memberdayakan desa melalui pendekatan pentahelix . olaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, bisnis, dan medi. Fokus utamanya adalah pengembangan potensi ekologi dan komoditas lokal, menciptakan desa wisata dan desa devisa yang berkelanjutan. Kegiatan mencakup mitigasi bencana, teknologi lingkungan, branding desa, dan peningkatan keterampilan masyarakat melalui kolaborasi dengan mitra Pada tahun pertama, program ini melakukan sejumlah kegiatan untuk mitra kelompok petani subur yang menanam tumpangsari kopi dan jahe dan mitra kelompok "Alas Pakis". Metode yang digunakan dalam program ini adalah sosialisasi dengan edukasi dan komunikasi. Pelatihan peningkatan kompetensi dan kuatitas maupun kualitas produk mitra. Perapan teknolgi mitigasi bencana, penanaman dan cafe alas pakis. Penampingan monitoring agar perjalanan dapat berjalan sesuai target luaran serta memastikan ada keberlanjutan dari program. Program ini juga mencakup pelatihan untuk memperkuat produksi serta strategi pemasaran produk pariwisata Kolaborasi pentahelix memberikan dampak signifikan pada hasil program ini yaitu, peningkatan pemahaman laporan keuangan yaitu kemampuan melakukan pembukuan dan pembuatan laporan keuangan serta cash flow management. mitra untuk menghasilkan produk baru atau memperluas pasar yang ada. Kata Kunci Desa Wisata. Alas Pakis. Pentahelix Abstract This article aims to empower villages through the pentahelix approach . collaboration between the government, community, academia, business, and medi. The primary focus is on developing ecological potential and local commodities, creating sustainable tourism villages and export-oriented villages. The activities include disaster mitigation, environmental technology, village branding, and improving community skills through collaboration with local partners. In the first year, the program engaged in various activities with the "Subur Farmers Group," which practices intercropping of coffee and ginger, and the "Alas Pakis Group. " The methods used in this program include socialization through education and communication, training to enhance the competence and quality of partner products, the application of disaster mitigation technology, planting activities, and the establishment of a cafy called "Alas Pakis. " Monitoring and supervision were conducted to ensure that the project progressed according to the target outcomes and to guarantee the sustainability of the program. This initiative also provided training to strengthen production capabilities and improve marketing strategies for their tourism products. The pentahelix collaboration had a significant impact on the programAos outcomes, particularly in enhancing the partners' understanding of financial reporting, including bookkeeping, financial statement preparation, and cash flow management. Moreover, it helped the partners create new products or expand existing markets. Keywords: Tourism Village. Alas Pakis. Pentahelix This is an open access article under the CCAeBY-SA license. https://doi. org/10. 33292/MAYADANI. info@mayadani. Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 PENDAHULUAN Desa Sumbersuko berada di Kecamatan Wagir. Kabupaten Malang. Kondisi geografis dan topografinya yang subur dengan kontur naik turun yang didominasi hutan dan perkebunan menjadikannya memiliki pesona pariwisata alam dengan hawa yang sejuk karena berada pada ketinggian 800 mdpl . Jaraknya yang tidak jauh dari Kota Malang memudahkan sistem pendistribusian produk pertanian dan jasa pariwisata. Namun kondisi alam ini sekaligus menjadikan desa ini rawan bencana longsor, kebakaran hutan dan puting beliung. Kondisi litologi tanahnya yang subur ini menjadikan 60% penduduknya bekerja sebagai petani. Hasil pertanian yang menjadi fokus utama desa adalah kopi sedangkan komoditas lain belum mendapatkan perhatian dari pemerintah desa maupun petani. Jahe merupakan tanaman rimpang yang biasanya ditanam di kebun kopi dan sangat potensial untuk dijadikan komoditas utama selain kopi, karena tinginya minat pasar global pada jahe dan rempah-rempah. Sehingga desa ini berpotensi menjadi kawasan industri dengan memanfaatkan aspek ekologis. Desa ini berada pada WP I lingkar Kota Malang yang berorientasi ke Kota Malang dan digolongkan pada desa yang memiliki potensi pengembangan sub sektor perdagangan dan jasa, pertanian . anaman pangan, hortikultura, perkebuna. , industri, pariwisata serta transportasi udara, dengan prioritas pengembangan infrastruktur. yaitu pada peningkatan konservasi lingkungan dan berpotensi pada pengembangan kerjasama ekonomi, sosial budaya dan pemerintahan antar daerah regional maupun internasional(Hilmawan et al. , 2. Secara umum keberadaan semua potensi desa hingga saat ini belum membawa pada pencapaian pembangunan berkelanjutan. Hal ini dapat dilihat dari skor SDGs desa yang cukup rendah yaitu 32,14. Desa Sumbersuko : 1. 098 Ha Lain lain Lain lain Gambar 1. Profil mata pencaharian warga Desa Sumbersuko Ditinjau dari misi RPJMD Kab Malang, beberapa permasalahan tersebut ternyata selaras dengan misi kelima yaitu memperluas pemanfaatan potensi lingkungan hidup, pariwisata, seni budaya, industri kreatif dan inverstasi pembangunan berkelanjutan. Misi tersebut juga sejalan dengan RPJMDes yaitu . pengembangan industri pertanian, peternakan dan pariwisata yang memadai dengan daya dukung lingkungan. Berdasarkan hal tersebut pengusul dan mitra desa sepakat untuk menyelesaikan permasalahan desa dengan fokus permasalahan yaitu menyelesaikan permasalahan rendahnya dan kesenjangan perekonomian masyarakat desa Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 dengan manfaatankan potensi lingkungan hidup dengan mengembangkan industri pertanian dan Pengembangan industri pertanian akan diarahkan pada pemanfaatan potensi alam untuk memaksimalkan hasil pertanian khususnya jahe. Jahe dihasilkan mengarah pada standart pangsa pasar global sehingga dapat mengarah pada perluasan pemasaran secara internasional. Program ini bertujuan untuk memfasilitasi dan melibatkan semua konsep pentahelix untuk mendukung pengembangan potensi desa dalam menyelesaikan permasalahan yang mereka Kerjasama berbagai pihak dengan konsep pentahelix dalam pengembangan desa yang berkelanjutan . Dalam aspek pariwisata pengusul akan memfasilitasi pengembangan wisata alas pakis tanpa melupakan aspek konservasi lingkungan dan mitigasi bencana(Nasfi et al. Hal ini sangat diperlukan karena wisata ini berada di daerah yang rawan bencana longsor(Ariyani et al. , 2. Dengan demikian maka pengusul dan pihak desa sepakat bahwa mitra program ini adalah kelompok swadaya masyarakat pariwisata dan kelompok tani. Fokus permasalah yang ingin diselesaikan juga selajan dengan program riset nasional yaitu tourism dan green ekonomi. Dengan demikian pengusul juga dapat menerapkan hasil penelitian dan pengabdian yang dikaitan dengan kedua aspek tersebut. Gambar 2. RPJMD . dan RPJMDes . dan Program Pengabdian Tujuan dari artikel ini adalah untuk meningkatkan potensi ekologi dan komoditas lokal di Desa Sumbersuko menuju desa wisata dan desa devisa berkelanjutan. Fokus utamanya adalah memaksimalkan pemanfaatan lingkungan dan hasil pertanian, seperti jahe, yang memiliki potensi besar untuk diekspor, sambil memperkuat aspek pariwisata berbasis konservasi alam METODE Metode Pelaksanaan Pengabdian Sosialisasi: Pengusul akan melakukan sosialisasi dengan masyarakat untuk memberikan pemahaman terkait mitigasi bencana, potensi ekonomi, dan pengembangan pariwisata yang berbasis Pelatihan: Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 Pelatihan diberikan dalam beberapa bidang, termasuk pengelolaan keuangan, branding, digital marketing, serta pengembangan produk pertanian dan wisata. Penerapan Teknologi: Implementasi teknologi ramah lingkungan, termasuk teknologi mitigasi bencana, pengolahan limbah, serta teknologi pascapanen untuk mendukung produktivitas dan keberlanjutan desa. Pendampingan dan Evaluasi: Pendampingan intensif dan monitoring dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program sesuai target. Evaluasi dilakukan pada setiap tahapan mulai dari perencanaan hingga tahap akhir Keberlanjutan Program: Desa Sumbersuko dirancang menjadi desa mandiri yang terintegrasi, dimana programprogram yang dilaksanakan akan terus berlanjut dengan fokus pada konservasi ekologi, peningkatan ekonomi, serta penggunaan teknologi hijau. Lima Tahapan Pelaksanaan Tahap 1: Identifikasi dan Sosialisasi. Melibatkan sosialisasi kepada masyarakat desa terkait konsep pengembangan ekowisata dan desa devisa serta identifikasi masalah utama. Tahap 2: Pelatihan dan Kapasitas. Meningkatkan kapasitas masyarakat dalam manajemen wisata, pengelolaan produk lokal, dan pemahaman mitigasi bencana. Tahap 3: Penerapan Teknologi. Penerapan teknologi berbasis ekologi seperti mitigasi longsor, pengolahan limbah, dan peningkatan kualitas produk lokal . isalnya jah. Tahap 4: Pendampingan dan Monitoring. Melakukan pendampingan untuk memastikan penerapan program berjalan baik dan sesuai target yang ditetapkan. Tahap 5: Evaluasi dan Keberlanjutan. Menilai hasil dari pelaksanaan program dan memastikan keberlanjutan program melalui integrasi ke dalam program desa jangka panjang. HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan kemampuan manajemen pengelolaan keuangan dan pemasaran dalam program "Konvergensi Pentahelix" dilakukan dengan melakukan pengukuran pada beberapa komponen untuk melihat tingkat keberhasilan program Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 Peningkatan Kemampuan Manjamen Peningkatan Keterampilan Branding Keberhasilan Pemasaran Digital Kenaikan Omzet Penjualan Pengelolaan Pemasaran Evaluasi Pengelolaan Hutang dan Modal Kedisiplinan dalam Pembukuan Peningkatan Keterampilan PenyusunanA Peningkatan Pemahaman Laporan Keuangan Pengelolaan Keuangan Postest Pretest Gambar 3. Peningkatan Kemampuan Manajemen Peningkatan Kemampuan manajemen diukur dengan menggunakan instrumen postes dan pretest (Ariyani et al. , 2023. Muhtar et al. , 2. berdasarkan pada 2 aspek dengan beberapa indikator, yaitu. Pengelolaan Keuangan: - Peningkatan Pemahaman Laporan Keuangan: Dilakukan pre-test dan post-test sebelum dan sesudah pelatihan untuk mengukur pemahaman mitra terkait pembukuan, pembuatan laporan keuangan, serta cash flow management. - Peningkatan Keterampilan Penyusunan Anggaran: Evaluasi keterampilan dalam menyusun anggaran yang terstruktur dan tepat, termasuk alokasi dana untuk kegiatan produksi, promosi, dan operasional. - Kedisiplinan dalam Pembukuan: Pantau kepatuhan kelompok dalam pencatatan transaksi harian, baik pengeluaran maupun pemasukan. Peningkatan tingkat pencatatan secara teratur dapat menjadi indikator keberhasilan. - Evaluasi Pengelolaan Hutang dan Modal: Ukur kemampuan mitra dalam mengelola sumber modal atau pinjaman, serta pengembalian utang dengan biaya yang paling efisien. Penurunan risiko keuangan juga dapat menjadi tanda pengelolaan keuangan yang lebih Pengelolaan Pemasaran: - Kenaikan Omzet Penjualan: mengukur peningkatan omzet setelah penerapan strategi pemasaran yang lebih baik, seperti promosi digital, branding, atau kolaborasi dengan agen - Diversifikasi Produk: mengevaluasi kemampuan mitra untuk menghasilkan produk baru atau memperluas pasar yang ada. Diversifikasi produk dan pemasaran dapat dinilai melalui peningkatan jumlah produk yang dipasarkan dan area pemasaran. - Keberhasilan Pemasaran Digital: Lihat efektivitas strategi digital marketing, seperti penggunaan media sosial dan website. Ukur keberhasilan kampanye melalui engagement, jumlah pengunjung website, dan konversi dari pemasaran online ke penjualan. Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 Peningkatan Keterampilan Branding: menguji kemampuan mitra dalam membangun merek produk melalui pelatihan branding. Peningkatan pengakuan produk lokal di pasar bisa menjadi salah satu ukuran, ditambah dengan umpan balik dari konsumen terkait kualitas branding(Fafurida et al. , 2. Gambar 3 Peningkatan Kemampuan Manajemen menunjukkan bahwa terjadi peningkatan siginifikan pada kemampuan mitra sebagai dampak dari program ini. Sedangkan Gambar 4. Menunjukkan peningkatan kualitas produk mitra alas pakis. Peningkatan kualitas produk mitra kelompok "Alas Pakis", yang berfokus pada pengembangan wisata ekologi dan produk pariwisata, berikut beberapa cara untuk mengukur peningkatan kualitas produk dan layanan: PENINGKATAN KUALITAS PRODUK KELOMPOK ALAS PAKIS (%) Peningkatan Pendapatan Wisata Lama Kunjungan Wisatawan Jumlah Kunjungan Wisata Peningkatan Branding dan Promosi Peningkatan Kualitas Produk Pariwisata Peningkatan Kualitas Layanan Wisata Gambar 4. Peningkatan Kualitas Produk Mitra Alas Pakis Peningkatan Kualitas Layanan Wisata: - Survei Kepuasan Pengunjung: Mengukur kualitas layanan wisata melalui survei kepuasan Aspek yang diukur bisa mencakup keramahan staf, kebersihan area wisata, fasilitas yang tersedia, serta pengalaman keseluruhan. Peningkatan skor kepuasan pengunjung dapat menjadi indikator perbaikan kualitas layanan. - Feedback Langsung dari Pengunjung: Kumpulkan umpan balik langsung dari wisatawan melalui kuesioner atau platform digital setelah kunjungan. Ini bisa memberi wawasan terkait area yang perlu ditingkatkan, seperti keamanan, kenyamanan, dan daya tarik wahana(Kusworo, 2. Peningkatan Kualitas Produk Pariwisata: - Diversifikasi Produk Wisata: Evaluasi seberapa banyak wahana atau fasilitas baru yang Misalnya, pembangunan camping ground, jalur trekking, dan wahana edukatif lainnya. Peningkatan kualitas bisa diukur dari jumlah fasilitas baru yang menarik minat pengunjung dan memberikan pengalaman wisata yang lebih bervariasi. Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 Penambahan Fasilitas Pendukung: Mengukur peningkatan fasilitas seperti toilet, area parkir, tempat istirahat, dan sarana penunjang lainnya (Jamal et al. , 2. Penilaian ini bisa dilakukan dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah program Peningkatan Branding dan Promosi: - Pengakuan Merek Wisata: Melakukan penilaian atas brand awareness mitra "Alas Pakis" di kalangan wisatawan lokal dan regional. Ini dapat diukur dari peningkatan pengikut media sosial, jumlah ulasan positif di platform wisata seperti Google Maps atau TripAdvisor, dan peningkatan trafik di situs web promosi. - Keberhasilan Pemasaran Digital: Mengukur efektivitas kampanye digital marketing yang dilakukan, seperti jumlah klik pada iklan digital, engagement rate di media sosial, atau peningkatan pencarian terkait wisata "Alas Pakis". Hal ini bisa menunjukkan peningkatan kualitas promosi yang dilakukan oleh mitra (Alam et al. , 2. Jumlah dan Lama Kunjungan Wisatawan: - Peningkatan Jumlah Pengunjung: Mengukur peningkatan jumlah pengunjung dari tahun pertama hingga akhir program. Target yang baik adalah peningkatan minimal 20% dalam jumlah pengunjung tahunan. Selain itu, jumlah kunjungan berulang dari wisatawan sebelumnya juga menjadi indikator kualitas pengalaman wisata. - Durasi Kunjungan: Ukur apakah program ini berhasil meningkatkan lama kunjungan wisatawan di "Alas Pakis". Peningkatan durasi tinggal biasanya menandakan bahwa pengalaman yang ditawarkan lebih menarik dan beragam (Effendi et al. , 2. Peningkatan Pendapatan Wisata: - Kenaikan Pendapatan dari Tiket Masuk dan Layanan: Mengukur peningkatan pendapatan mitra dari penjualan tiket masuk, sewa fasilitas . eperti camping groun. , serta penjualan makanan, minuman, dan produk lokal lainnya. Jika ada kenaikan signifikan, ini menunjukkan peningkatan kualitas layanan yang menarik lebih banyak wisatawan. - Keberhasilan Kerjasama dengan Pihak Luar: Evaluasi juga apakah program ini berhasil menghubungkan "Alas Pakis" dengan dinas pariwisata, perusahaan swasta, atau agen perjalanan yang dapat meningkatkan jumlah wisatawan dan pendapatan. Sertifikasi dan Standarisasi Wisata: - Pencapaian Sertifikasi Pariwisata: Ukur apakah destinasi "Alas Pakis" berhasil mendapatkan sertifikasi tertentu, seperti sertifikasi pariwisata berkelanjutan atau ecotourism. Sertifikasi ini bisa menjadi bukti kualitas dalam pengelolaan lingkungan dan layanan wisata(Diansari et al. , 2. Dengan mengukur berbagai aspek ini, hasil dari program pengabdian dapat lebih jelas terlihat, baik dari segi kualitas pengalaman wisata, peningkatan pendapatan, maupun dampak positif pada reputasi dan keberlanjutan "Alas Pakis" sebagai destinasi wisata ekologi SIMPULAN Kegiatan pengabdian yang dilaksanakan di Desa Sumbersuko selama program ini bertujuan untuk meningkatkan potensi ekologi dan komoditas lokal, terutama jahe, menuju terciptanya desa wisata dan desa devisa yang berkelanjutan. Melalui pendekatan Pentahelix yang Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 melibatkan kolaborasi berbagai pihak . emerintah, perguruan tinggi, masyarakat, industri, dan medi. , program ini berhasil memberdayakan masyarakat desa untuk mengembangkan produk unggulan berbasis pertanian dan ekowisata. Beberapa pencapaian penting yang diraih: Peningkatan kapasitas masyarakat: Melalui pelatihan manajemen keuangan, mitigasi bencana, dan teknologi ramah lingkungan, masyarakat desa kini lebih mandiri dalam mengelola potensi lokal. Diversifikasi produk pertanian: Jahe sebagai produk unggulan berhasil diproduksi dengan standar yang siap untuk ekspor, membuka peluang bagi pemasaran internasional. Pengembangan ekowisata Alas Pakis: Wisata berbasis konservasi alam berhasil dikembangkan dengan perbaikan infrastruktur dan branding digital, sehingga menarik lebih banyak pengunjung dan meningkatkan pendapatan desa. Mitigasi bencana: Implementasi teknologi mitigasi bencana telah membantu masyarakat lebih siap menghadapi risiko alam, khususnya tanah longsor, yang selama ini mengancam aktivitas pariwisata dan pertanian. Keberlanjutan ekonomi: Program ini menciptakan lapangan kerja baru dan peluang usaha bagi masyarakat, terutama bagi perempuan dan pemuda, serta memperkuat kemitraan dengan dinas terkait dan eksportir. Secara keseluruhan, program ini telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Sumbersuko melalui optimalisasi potensi lokal, peningkatan kualitas produk, dan pengembangan ekowisata berkelanjutan. Diharapkan, dengan terus berjalannya pendampingan dan evaluasi program. Desa Sumbersuko akan menjadi model desa devisa dan wisata yang berhasil, yang dapat direplikasi di wilayah lain. UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM) Kemdikbud Ristek, yang telah memberikan pendanaan pada kegiatan ini dalam bentuk hibah desa binaan. Terimakasih kami ucapkan juga kepada Kepala Desa dan Perangakat Desa Sumbersuko yang sangat kooperatif serta bersedia memberikan bantuan tenaga dan waktu sehingga program ini dapat berjalan dengan lancar dan sesuai target. DAFTAR PUSTAKA