EKONOMI PEMBANGUNAN SSjinAkonomi-. i1ffijtjC5^rakat Konsekuensi pemberian otonomi kepada daerah ten/kota tersebut adalah intensitas Kecenderungan pada pola sentralisasi tersebut Adapat disebabkan karena pemerintah oleh pemerintah kabupaten/kota akan semakin penyelenggaraan pemerintahan yang ditangani daerah sebagai penentu kebijak^ kurang Dengan kata Iain urusan yang ditangani mampu menterjemahkan kebijakan pusat secara lebih tepal dan serasi. Juga pemerintah daerah akan semakinbanyak. Sistem otonomi daerah yang lebih JEPV0L5 NO. 1,2000 ISSN: 1410-2641 Mardiasmo. Globalisasi Perekonomian. SislemEkononti Nasional. dan Olonotrd Daerah banyak menampung kepentingan dan aspirasi 1999'dan UU No. 25 tahun . daerah akan Ameninglatkan kapasitas dan menyebabkan perubahan'dalam manajemen keuangan daerah. Perubahan tersebut antara kapabilitas daerah untuk proaktif dan lebih dinamis melakukan kewajib^ dan tanggung lain adalah perlunya dilakukan budgeting jawabnya dalam melaksanakan tugas pelayanan re/orm atau reform^i ^ggaran. Reformasi anggaran. meliputi proses masyarakat dan pembangunan d^rah. Dengan A penyusunan, pengesahan, pelaksanaan dan otonomi daerah yang luas, nyata, dan pertanggungjawaban anggaran. Berbeda dengan bertanggung jawab diharapkan akan No. 5 ^un. 1974, proses pertyusunan, mendukung pertumbuhan daerah yang serasi danmaju. Pertumbuhan ekonomi daerah yang terakselerasi melalul otonomi daerah UU No. 22 tahun 1999 adalah tidak diharapkan dapat mendukung terbentuknya kemandirian daerah yang pada . mendukung terwujudnya perekonomian nasional yang mandiri dan handal. Dengan diperlukannya lagi pengesahan dari Menteri Dalam Negeri untuk APBD Propinsi dan pertenggungjawaban anggaran daerah menurut pengesahan Gubemur untuk APBD I^bupaten/ demikian, ^lam era globalisasi nanti, bangsa Kota, melainkan cukup pengesahan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) melalui Indonesia siap bersaing dengan bangsa-bangsa Peraturan Daerah (Perd. MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH DALAM KONTEKS OTONOMI DAERAH Untuk menghadapi Globalisasi perekonomian dan . pembangunan nasional yang menekankan pada pelaksanaan otonomi daerah secara luas, nyata, dan bertanggung jawab, maka periu disusun suatu rumusan baru yang berkaitan dengan manajemen keuangan daerah. Hal ini adalah Aspek utama budgeting reform adalah perubahan dari traditional budget ke performance budget. Traditional budget didominasi oleh penyusunan anggaran yang bersifat line-item dan increipentalism, yaitu proses penyusunan anggaran yang hanya mendasarican pada besamya realisasi anggaran tahun sebelumn>a, konsekuensinya . tidak ada perubahan mendasar atas anggaran baru. Hal ini seringkali bertentangan dengan kebutuhan riil dan kepentingan masyarakat. Dengan basis salah satu bentuk bagaimana pemerintah seperti ini. APBD mas^ terlalu berat menahan daerah mempersiapkan suatu prakondisi dalam pentas perekonomian intemasional dan perekonomian nasional. Secara garis besar, manajemen keuangan daerah dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu manajemen penerimaan daerah dan manajemen pengeluaran daerah. arahari, batasan, serta orientasi subordinasi kepentingan pemerintah atasan. Hal tersebut menunjukkan terlalu dominannya peranan pemerintah pusat teAadap pemerintah daeraL Besamya dpminasi ini seringkali mematikan inisiatif dan prakarsa pemerintah daerah, sehingga memunculkan fenomena pemenuhan petunjuk pelaks^aan dan petunjuk teknis dari pemerintah pusat. APerformance budget pada dasamya adalah sistem penyiisunan dan pengelolaan anggaran daerah yang berorientasi pada Evaluasi terhadap pengelolaan keuangan daerah dan pembiayaan pembangunan daerah mernpunyai iraplikasi yang sangat Kedua komppnen tersebut akan sangat menentukan nkedudukan suatu pemerintah daerah dalam rahgka'melaksanakan otonomi pencapaian hasil atau kinerja. Kinerja tersebut harus mencerminkan. efisiensi dan Konsekuensi logis pelaksanaan otonomi daerah berdasarkan UU No. JEPV0L5 NO. efektivitas pelayanan publik, yang berarti harus berorientsi pada kepentingan publik. Mardiasmo. Gbbalisasi Perekonomian. Sistem Ekqnomi Nasionaf, danOtonomi Daerah Merupakan kebutuhan masyarakat daerah untuk meriyelenggarakan otonomi secara luas. Anyata dan bertanggung jawab dan otonomi daerah harus dipahami sebagai hak ISSN: 1410 - 2641 Aspek lain dalam reformasi anggaran adalah perabahan paradigma anggaran daerah. lagi merupakan alat kepentingan pemerintah Hal tersebut perlu dilakukan untuk menghasilkan anggaran daerah yang benarbenar mencerminkan kepentingan dan pengharapan dari masyar^t daerah setempat terhadap pengelol^ keuangan daerah secara ekonomis, efisien dan efekdf. Paradigma pusat belaka melainkan alat untuk anggaran daerah-yang diperlukan tersebut ial^ memperjuangkan "aspirasi dan kepentingan Anggaran Daerah harus bertumpu pada atau kewenangan masyarakat daerah untuk mengelola dan mengatur urusannya sendiri. Aspek atau peran pemerintah daerah tidak Prinsip-prinsip yang mendasari pengelolaan keuangan daerah tersebut adalah transparansi, akuntabilitas, dan va/ue for money. Transparansi adalah keterbukaan dalam proses perencanaan, penyusunan, kepentingan publik. Anggaran Daerah harus dikelola dengan hasil yang baik dan biaya rendah . ork better and cost les. Anggaran Daerah harus mampu memberikan transparansi Han akuntabilitas pelaksanaan anggaran daerah. Transparansi secara rasional untuk keseliiruhan sDdus memberikan arti bahwa anggota masyarakat memiliki hak dan akses yang sama untuk 4. Anggaran Daerah harus dikelola dengan mengetahui proses anggaran karena" pendekatan kineija . erformance oriente. menyangkut aspirasi dan kepentingan untuk seiuruh jenis pengeluaran maupun masyarakat, terutama pemenuhan kebutuhanpendapatan. kebutuhan hidup masyarakat Anggaran Daerah hariis mampu Akuntabilitas adalah prinsip menumbuhkan profesionalisme keija di pertanggungjawaban publik yang berarti setiap organisasi yang terkait. bahwa proses penganggaran mulai dari 6. An^aran Daerah harus dapat memberikan perencanaan, penyusunan dan pelaksanaan keleiuasaan bagj para pelaksananya untuk harus benar-benar dapat diiaporkan dan memaksimalkan pengelolaan dananya Adipertanggungjawabkan kepada DPRD dan dengan memperhatikan prinsip value for masyarakat Masyarakat tidak hanya memiliki hak untuk mengetahui anggaran tersebut tetapi beiak untuk menuntut pertanggung TANTANGAN PEMERINTAH DAERAH jawaban atas rencana ataupun pelaksanaan PADA ERA GLOBAL anggaran tersebut. Salah satu kunci keberhasilan Valuefor mon^ berarti diterapkannya tiga prinsip dalam proses penganggaran yaitu penyelenggaraan peinerintahan dalam raenghadapi era global adalah dengan ekonomi, efisiensi, dan efektivitas. Ekonomi mengembangkan otonomi daerah dan beikaitan* dengan pemilihan dan penggunaan Dalam era penguatan otonomi dan desentralisasi, diharapkan mekanisme perumusan kebijakan yang akomodatif terhadap aspirasi masyarakat daerah dapat dibangun, sumber daya dalam jumlah dan kualitas tertentu pada harga yang paling murah. Efisiensi berarti bahwa penggunaan dana masyarakat . ublic mone. tersebut dapat menghasilkan output yang maksirrial . erdaya Efektivitas berarti bahwa pen^unaan anggaran tersebut harus mencapai target-target atautujuankepentingan publik. sehingga keberadaan otonomi'daerah akan lebih meningkatkan mutu pelayanan kepada Sejalan dengan itu, pemerintah JEPV0L5 NO. 1,2000 ISSN: 1410 - 2641 Mardiasmo. GlotarisasiPerekonomian. SistemBtonomlNasional, dan OtonomS Daerah daerah jiarus dapat mendayagunakw potensi sumber daya dan sumber dana daerah secara Dalam konteks ini, usulan David Osbome dan Ted Gaebier dalam, bukunya Reinventing Government . imtuk mengembangkan entrepreneural spirit dalam seldor publik perlu kita simak. Menurut mereka, semangat wirausaha tidak ^hanya pada pelaku bisnis, tetapi juga dapat diterapkan bagi para birokrat dan lembaga pemerintah lainnya. Dalam kontels pemerintah daerah, semangat wirausaha dapat diwujudkan dengan mengubah ^ya manajemen yang hieraikis-birokiatis menjadi gaya manajemen yang lebih partisipatif atau participatory management dan teamwork organisation (Kuncoro, 1. Akhirnya, dengan semakin berkurangnya tingkat ketergaiitungan pemerintah daerah terhadap panerintah pusat, meningkatnya profesionalisme -aparatur pemerintah daeiah, dan refoimasi manajemm keuangan daerah diharapkan akan memacu terwujudnya otonomi daeiah yang nyata, dinamis, serasi, dan ber^ggung Jawab serta memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dalammenyongsong eraperekonomian global. Globalisasi p^konomian membawa in^likasi pada peitaitangan antara kqjentingan nasionalisme ekonomi untuk men^rtahankan eksistensi negara bangsa den^ kepentingan efisiensi dan' efektivitas yang menjadi trend global untuk mewujudkan kesejahteraan masyaiakat dunia. Salah satu titik temu kedua pandangan tersebut adalah bahwa pragambilan peluang-peluang dari globalisasi dconomi diletakkan dalam konteks penguatan ekonomi Tanglfah konloit yang diambil harus dalam rangka menghadapi globalisasi p^konomian dunia adalah dengan melakukan penguatan ekonomi ral^^ dan pelaksaiuan otonmi luas. Hal tersebut antara lain bertujuan untuk mraciptakan sistem ekonomi nasional yang tangguh, mandiri, efisien, dan efektif sehingga slap bermain dalam sistem perekonomian global. Agenda paling mendesak yang harus dilakukan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggung'jawab adalah melaksanakan leformasi manajemen keuan^ daerah a^ daeiah siap dalam menyeleng^rakan otonomi danpembangunan daerah. DAFTAR PUSTAKA