Journal of S. Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Training E-ISSN 2620-7699 | P-ISSN 2541-7126 https://doi. org/10. 37058/sport EKSPLORASI PERAN GURU PJOK DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN PROFIL PELAJAR PANCASILA ELEMEN BERNALAR KRITIS Selly Purnama1. Juhrodin2. Dwi Yulia Nur Mulyadi3 Pendidikan Jasmani. Universitas Siliwangi Abstrak Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi peran guru PJOK dalam mengimplementasikan elemen bernalar kritis Profil Pelajar Pancasila di SMP Negeri 2 Sukamanti. Kabupaten Ciamis. Menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara semiterstruktur dengan guru PJOK. Wakasek Kurikulum, dan dua siswa, serta analisis dokumen kurikulum. Hasil penelitian menunjukkan pemahaman bernalar kritis terkonstruksi bertingkat sesuai peran stakeholder pendidikan. Implementasi pendekatan Teaching Games for Understanding (TGfU) yang diintegrasikan dengan problem-based learning dan pembelajaran kooperatif terbukti efektif mengembangkan kemampuan bernalar kritis dengan menekankan pemahaman taktik sebelum teknik. Faktor pendukung meliputi kebijakan Kurikulum Merdeka, antusiasme siswa, dan kolaborasi guru, sedangkan penghambat mencakup keterbatasan waktu, jumlah siswa besar, dan kebiasaan pembelajaran Dampak positif implementasi terlihat pada peningkatan partisipasi aktif, kemampuan problem solving, pemahaman konseptual mendalam, dan transformasi pembelajaran holistik yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan Kata Kunci: Guru PJOK. Profil Pelajar Pancasila. Bernalar Kritis. Implementasi Kurikulum. Pendidikan Karakter Abstract This study aims to explore the role of Physical Education teachers in implementing critical reasoning elements of the Pancasila Student Profile at SMP Negeri 2 Sukamanti. Ciamis Regency. Using a qualitative case study approach, data were collected through participatory observation, semi-structured interviews with Physical Education teachers. Vice Principal for Curriculum, and two students, as well as curriculum document analysis. Results indicate that understanding of critical reasoning is constructed hierarchically according to educational stakeholder Implementation of the Teaching Games for Understanding (TGfU) approach integrated with problem-based learning and cooperative learning proved effective in developing critical reasoning abilities by emphasizing tactical understanding before technical mastery. Supporting factors include Merdeka Curriculum policy, student enthusiasm, and teacher collaboration, while barriers encompass time limitations, large class sizes, and conventional learning habits. Positive impacts of implementation are evident in increased active participation, problem-solving abilities, deep conceptual understanding, and holistic learning transformation encompassing cognitive, affective, and psychomotor aspects. Correspondence author: Juhrodin. Universitas Siliwangai. Indonesia. Email: juhrodin@unsil. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Selly Purnama. Juhrodin. Dwi Yulia Nur Mulyadi Eksplorasi Peran Guru Pjok Dalam Mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila Elemen Bernalar Kritis Keywords: Physical Education Teachers. Pancasila Student Profile. Critical Reasoning. Curriculum Implementation. Character Education PENDAHULUAN Pendidikan Indonesia transformasi fundamental melalui implementasi Kurikulum Merdeka yang berfokus pada pengembangan Profil Pelajar Pancasila sebagai manifestasi karakter dan kompetensi generasi Indonesia masa depan (Hidayat & Putro. Profil Pelajar Pancasila merupakan rumusan yang memperkuat visi pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung Pemikiran ini dilandasi oleh kebutuhan untuk mempersiapkan generasi Indonesia menghadapi kompleksitas tantangan abad ke-21, khususnya era VUCA (Volatility. Uncertainty. Complexity. Ambiguit. yang memerlukan kemampuan adaptasi tinggi dan pemikiran kritis (Arvianto et , 2023. Yusuf, 2. Data empiris menunjukkan adanya kesenjangan kemampuan berpikir kritis pada peserta didik Indonesia (Utami & Nurohman, 2. Hasil studi PISA (Programme for International Student Assessmen. tahun 2022 menempatkan Indonesia pada peringkat 72 dari 78 negara dalam kemampuan literasi, sains, dan matematika yang mengindikasikan rendahnya kemampuan bernalar dan berpikir kritis peserta didik (Siregar et , 2. Riset lain yang dilakukan oleh Pusat Asesmen dan Pembelajaran Sucipta et al. mengungkapkan bahwa hanya 23% peserta didik Indonesia yang mencapai level kemampuan berpikir kritis yang memadai. Kondisi ini menjadi landasan empiris pentingnya penguatan elemen bernalar kritis dalam pembelajaran di seluruh mata pelajaran, termasuk Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) (Angga & Sari. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | X-XX ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. Profil Pelajar Pancasila yang dicanangkan dalam Keputusan Mendikbudristek No. 56/M/2022 mencakup enam dimensi utama, yaitu Tuhan YME, berkebinekaan global. gotong royong. bernalar kritis. dan kreatif (Kemendikbudristek BSKAP, 2. Dimensi bernalar kritis didefinisikan sebagai kemampuan untuk memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif secara objektif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses berpikir, serta mengambil keputusan (Lai, 2. Subdimensi bernalar kritis meliputi: . memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, . menganalisis dan mengevaluasi penalaran, dan . merefleksi dan mengevaluasi pemikirannya sendiri (Gogus et al. , 2019. Stanovich & Stanovich, 2. Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) sebagai bagian integral dari kurikulum pendidikan nasional memiliki posisi strategis dalam pengembangan kemampuan bernalar kritis. Meskipun sering dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang dominan pada aspek psikomotorik. PJOK sesungguhnya merupakan wahana pengembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik secara simultan dan holistik. Hal ini sejalan dengan pendapat Candra et al. bahwa aktivitas fisik dan olahraga berpotensi mengembangkan keterampilan kognitif tingkat tinggi melalui pengambilan keputusan taktis, pemecahan masalah dalam permainan, dan evaluasi kinerja. Studi neurologi juga menunjukkan adanya korelasi positif antara aktivitas fisik dan perkembangan fungsi eksekutif otak yang berperan dalam kemampuan berpikir kritis (Bidzan-Bluma & Lipowska, de Acedo Lizarraga et al. , 2. Implementasi elemen bernalar kritis dalam pembelajaran PJOK di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Penelitian yang dilakukan oleh Sujarwo . terhadap guru PJOK menunjukkan bahwa 72% pembelajaran PJOK masih berorientasi pada pengembangan keterampilan teknis, 23% pada aspek kebugaran jasmani, dan hanya 5% yang secara eksplisit memasukkan elemen bernalar kritis. Temuan lain oleh Selly Purnama. Juhrodin. Dwi Yulia Nur Mulyadi Eksplorasi Peran Guru Pjok Dalam Mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila Elemen Bernalar Kritis Febriliana et al. mengungkapkan bahwa 67% guru PJOK mengalami kesulitan dalam merancang dan mengimplementasikan pembelajaran yang mengembangkan kemampuan bernalar kritis. Kesulitan ini berakar dari pemahaman yang terbatas tentang konsep bernalar kritis, minimnya contoh praktis implementasi, dan kurangnya pelatihan profesional tentang integrasi elemen bernalar kritis dalam pembelajaran PJOK (Mustafa et al. , 2. Kondisi tersebut kontras dengan potensi mata pelajaran PJOK sebagai laboratorium ideal untuk pengembangan kemampuan bernalar Olahraga dan permainan memberikan konteks autentik di mana peserta didik dapat mengaplikasikan kemampuan berpikir kritis dalam situasi nyata dan bermakna (Subekti et al. , 2. Ibarat sebuah pertandingan catur yang dimainkan dengan tubuh, aktivitas dalam pembelajaran PJOK memerlukan strategi, penalaran, analisis situasi, dan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Misalnya, dalam permainan bola basket, peserta didik harus menganalisis formasi pertahanan lawan, mengevaluasi pilihan-pilihan yang tersedia . engoper, menggiring, atau menemba. , dan mengambil keputusan berdasarkan analisis tersebut proses kognitif yang sejalan dengan subdimensi bernalar kritis. Secara legal, implementasi Profil Pelajar Pancasila, termasuk elemen bernalar kritis, memiliki landasan hukum yang kuat. Selain UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Permendikbud No. Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kepmendikbudristek No. 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum Rangka Pemulihan Pembelajaran, implementasi ini juga didukung oleh UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menegaskan kewajiban guru untuk meningkatkan dan Dalam konteks internasional, pengembangan kemampuan berpikir kritis sejalan dengan Sustainable Development Goal 4 (SDG . tentang pendidikan berkualitas dan Framework for 21st Century Learning yang diakui secara global. Kompleksitas implementasi elemen bernalar kritis dalam pembelajaran PJOK memerlukan kajian empiris dan Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | X-XX ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. komprehensif untuk menghasilkan model implementasi yang efektif dan METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain PJOK mengimplementasikan elemen bernalar kritis Profil Pelajar Pancasila. Pendekatan kualitatif dipilih untuk memperoleh pemahaman komprehensif mengenai fenomena dalam konteks alamiah dengan penekanan pada makna, pengalaman, dan perspektif partisipan (Creswell & Creswell, 2. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 2 Sukamanti. Kabupaten Ciamis. Subjek penelitian adalah guru PJOK yang dipilih dengan kriteria telah menerapkan Kurikulum Merdeka minimal satu tahun. Informan pendukung mencakup Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, 2 peserta didik dari tiga jenjang kelas yang dipilih berdasarkan variasi kemampuan Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif terhadap pembelajaran PJOK dengan pencatatan thick description, wawancara semi-terstruktur berdurasi 60-90 menit per sesi, focus group discussion dengan kelompok siswa, analisis dokumen kurikulum dan Modul ajar menggunakan rubrik analisis, serta studi reflektif melalui jurnal guru dan diskusi pasca observasi. Data berbantuan software NVivo 14 secara iteratif dan simultan dengan pengumpulan data. Proses analisis mencakup transkripsi verbatim, koding terbuka, pengembangan kategori, identifikasi tema utama, dan interpretasi Validitas dan kredibilitas dijamin melalui prolonged engagement, thick description, triangulasi sumber, metode dan waktu, serta member checking untuk memverifikasi temuan kepada partisipan. Selly Purnama. Juhrodin. Dwi Yulia Nur Mulyadi Eksplorasi Peran Guru Pjok Dalam Mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila Elemen Bernalar Kritis HASIL Pemahaman Guru PJOK terhadap Elemen Bernalar Kritis Pemahaman elemen bernalar kritis dalam Profil Pelajar Pancasila Wakasek Kurikulum (IS) memahaminya secara komprehensif sebagai kemampuan berpikir analitissistematis yang terintegrasi dengan Kurikulum Merdeka dan P5. Guru kontekstual-aplikatif PJOK (AS) pendidikan jasmani, yakni kemampuan menganalisis gerakan dan strategi Siswa (NI dan FHK) memahaminya lebih sederhana namun operasional sebagai kemampuan berpikir sebelum bertindak. Variasi pemahaman ini menunjukkan konsep bernalar kritis telah tertanam dalam praktik pembelajaran, meskipun dengan tingkat kompleksitas dan terminologi berbeda sesuai posisi dalam ekosistem pendidikan. Strategi dan Pendekatan Pembelajaran Strategi pembelajaran menunjukkan alignment antara kebijakan dan IS mendorong pendekatan saintifik, problem-based learning, dan project-based learning untuk mengembangkan bernalar kritis. mengimplementasikannya melalui Teaching Games for Understanding (TGfU) yang menekankan pemahaman taktik, menciptakan situasi permainan untuk analisis, memfasilitasi diskusi kelompok, dan refleksi pasca-pembelajaran. Siswa (NI dan FHK) mengonfirmasi efektivitas pendekatan ini melalui pengalaman pembelajaran berbasis permainan. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | X-XX ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. pertanyaan pemantik guru, diskusi taktik, evaluasi kekuatan-kelemahan tim, dan perancangan strategi kelompok. Triangulasi data menunjukkan konsistensi antara kebijakan manajemen, praktik guru, dan persepsi siswa terhadap strategi pembelajaran bernalar kritis. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi bernalar kritis dalam PJOK menghadapi berbagai Manajemen fleksibilitas Kurikulum Merdeka, pelatihan berkelanjutan, dan dukungan sekolah sebagai pendukung, namun terhambat keterbatasan waktu, perbedaan pemahaman guru, dan kebiasaan konvensional. Guru PJOK melihat antusiasme siswa, ketersediaan sarana, dan kolaborasi guru sebagai pendukung, tetapi menghadapi tantangan jumlah siswa besar. Siswa pembelajaran menyenangkan-interaktif dan diskusi kelompok, namun mengalami kesulitan memahami taktik kompleks, keterbatasan waktu, partisipasi teman yang rendah, dan penggunaan lapangan bersama kelas Kompleksitas ini menunjukkan perlunya pendekatan holistik dalam mengoptimalkan implementasi bernalar kritis. Selly Purnama. Juhrodin. Dwi Yulia Nur Mulyadi Eksplorasi Peran Guru Pjok Dalam Mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila Elemen Bernalar Kritis Model Pembelajaran Efektif Analisis menunjukkan konvergensi pandangan tentang model pembelajaran efektif untuk bernalar kritis. Wakasek Kurikulum menilai pembelajaran berbasis masalah-proyek dan kooperatif paling efektif. Guru PJOK secara spesifik mengidentifikasi TGfU sebagai model utama karena mengutamakan pemahaman taktik, didukung pembelajaran kooperatif dan Siswa memvalidasi efektivitas ini melalui respons positif terhadap pembelajaran berbasis permainan yang dianalisis bersama, diskusi kelompok untuk memahami strategi, dan penyelesaian masalah dalam FHK menegaskan bahwa belajar sambil bermain dan berdiskusi membuat mereka lebih kritis. Temuan mengindikasikan pendekatan student-centered dengan penekanan pemahaman konseptual lebih efektif dibanding pendekatan drill-based tradisional dalam mengembangkan kemampuan bernalar kritis siswa. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | X-XX ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. Dampak terhadap Proses dan Hasil Belajar Implementasi Manajemen mencatat peningkatan partisipasi aktif, problem solving, dan pemahaman konseptual siswa dalam aspek psikomotor, kognitif, dan afektif secara holistik. Guru mengobservasi siswa bertanya-menganalisis, meningkatkan kerjasama tim, dan memahami taktik-teknik permainan. Siswa (NI dan FHK) merasa lebih percaya diri mengambil keputusan, memahami alasan strategi, aktif berdiskusi, berpikir lebih berkembang, dan dapat menerapkan kemampuan analisis dalam kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan, implementasi elemen bernalar kritis dalam PJOK berjalan efektif meskipun menghadapi tantangan operasional. Terdapat alignment baik antara kebijakan, praktik, dan persepsi siswa, menghasilkan transformasi pembelajaran yang lebih partisipatif, analitis, dan bermakna. Selly Purnama. Juhrodin. Dwi Yulia Nur Mulyadi Eksplorasi Peran Guru Pjok Dalam Mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila Elemen Bernalar Kritis PEMBAHASAN Pemahaman Guru PJOK terhadap Elemen Bernalar Kritis dalam Konteks Profil Pelajar Pancasila Temuan penelitian menunjukkan bahwa pemahaman terhadap elemen bernalar kritis dalam pembelajaran PJOK terkonstruksi secara bertingkat sesuai dengan posisi dan peran stakeholder dalam ekosistem Pemahaman Wakasek Kurikulum menekankan aspek berpikir analitis dan sistematis dalam pengambilan keputusan pembelajaran bahwa berpikir kritis merupakan pemikiran reflektif yang masuk akal dan difokuskan pada pengambilan keputusan tentang apa yang harus dipercaya atau dilakukan. Perspektif kebijakan ini kemudian mengoperasionalisasikan bernalar kritis sebagai kemampuan menganalisis gerakan, memecahkan masalah taktik, dan membuat keputusan strategis dalam olahraga. Kontekstualisasi bernalar kritis ke dalam domain PJOK ini pentingnya pemahaman taktik dalam pendidikan jasmani (Arfanda, 2. Mereka berpendapat bahwa pembelajaran yang efektif dalam PJOK tidak hanya menekankan pada penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga pada pemahaman konseptual tentang kapan, mengapa, dan bagaimana menggunakan keterampilan tersebut dalam konteks permainan yang sebenarnya (Ashar & Marhani, 2. Hal ini mengindikasikan adanya teknis-mekanistik pendekatan kognitif-strategis dalam pembelajaran PJOK. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | X-XX ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. Menariknya, siswa NI dan FHK menunjukkan pemahaman operasional yang lebih sederhana namun aplikatif, yakni kemampuan berpikir sebelum bertindak dan mempertimbangkan strategi. Pemahaman ini mencerminkan proses internalisasi konsep abstrak ke dalam praktik nyata, yang merupakan hasil dari proses mediasi sosial dan scaffolding dalam zona perkembangan proksimal. Perbedaan tingkat pemahaman ini bukan merupakan indikasi ketidaksesuaian, melainkan representasi dari proses pembelajaran yang berlangsung secara konstruktif dan kontekstual. Strategi dan Pendekatan Pembelajaran yang Digunakan Guru PJOK dalam Mengimplementasikan Elemen Bernalar Kritis Implementasi pendekatan Teaching Games for Understanding (TGfU) oleh AS merepresentasikan pergeseran paradigma pedagogis dalam pembelajaran PJOK. Pendekatan ini, menekankan pemahaman taktik sebelum penguasaan teknik, yang secara fundamental berbeda dengan pendekatan tradisional yang bersifat drill-based. Dalam konteks pengembangan bernalar kritis. TGfU menyediakan struktur pembelajaran yang mendorong siswa untuk terlibat dalam proses kognitif tingkat tinggi seperti menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta strategi permainan (Iskandar & Rustanto, 2. Penggunaan situasi permainan yang memerlukan analisis taktik, diskusi kelompok untuk evaluasi strategi, dan refleksi pasca-pembelajaran prinsip-prinsip konstruktivis sosial. TGfU memfasilitasi pembelajaran yang berpusat pada siswa di mana pemahaman dikonstruksi melalui interaksi sosial dan refleksi. Konfirmasi FHK mengindikasikan bahwa siswa tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi aktif mengkonstruksi pemahaman mereka tentang taktik dan strategi Integrasi problem-based learning dan project-based learning yang didorong oleh IS melengkapi pendekatan TGfU dengan menyediakan konteks pembelajaran yang otentik dan bermakna. Problem-based learning mendorong siswa untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan memecahkan Selly Purnama. Juhrodin. Dwi Yulia Nur Mulyadi Eksplorasi Peran Guru Pjok Dalam Mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila Elemen Bernalar Kritis masalah yang kompleks dan tidak terstruktur, yang merupakan esensi dari bernalar kritis. Dalam konteks PJOK, masalah-masalah taktis dalam permainan menyediakan konteks yang ideal untuk pengembangan kemampuan ini. Strategi pembelajaran saintifik yang mencakup tahapan mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan juga memperkuat proses pengembangan bernalar kritis siswa dalam setiap fase Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Elemen Bernalar Kritis dalam Pembelajaran PJOK Analisis mengungkapkan dialektika kompleks antara kebijakan, sumber daya, dan praktik pembelajaran. Kebijakan Kurikulum Merdeka yang memberikan fleksibilitas, sebagaimana diidentifikasi oleh IS, merupakan enabling factor yang signifikan. Namun, implementasi kebijakan ini menghadapi berbagai constraining factors seperti keterbatasan waktu pembelajaran, perbedaan pemahaman antar guru, dan inersia kebiasaan pembelajaran konvensional. Perubahan pendidikan adalah proses yang kompleks yang melibatkan tidak hanya perubahan struktural, tetapi juga transformasi budaya dan praksis (Fullan, 2. Kebiasaan pembelajaran konvensional yang masih mengakar, sebagaimana diidentifikasi dalam penelitian ini, mencerminkan apa yang disebut Fullan sebagai "implementation dip" ketidaknyamanan dengan praktik baru. Hal ini mengindikasikan bahwa transformasi pedagogis memerlukan waktu dan dukungan berkelanjutan. Dari perspektif operasional, jumlah siswa yang besar dalam satu kelas dan kemampuan siswa yang beragam yang diidentifikasi AS merupakan tantangan yang signifikan dalam implementasi pembelajaran yang mengembangkan bernalar kritis. Pembelajaran yang efektif harus mempertimbangkan diferensiasi berdasarkan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa. Dalam konteks kelas besar dengan heterogenitas tinggi, guru menghadapi kompleksitas dalam menyediakan scaffolding yang tepat untuk setiap siswa. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | X-XX ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. Perspektif siswa tentang kesulitan memahami konsep taktik yang kompleks dan kurangnya partisipasi aktif beberapa teman mengungkapkan dimensi lain dari tantangan implementasi. Hal ini sejalan dengan teori zone of proximal development Vygotsky yang menekankan pentingnya penyesuaian tingkat kompleksitas tugas dengan kemampuan siswa. Faktor pendukung seperti antusiasme siswa, ketersediaan sarana olahraga, dan kolaborasi antar guru menjadi modal penting yang perlu dioptimalkan untuk mengatasi berbagai hambatan yang ada. Dukungan manajemen sekolah dan program pelatihan guru yang berkelanjutan juga menjadi kunci keberhasilan implementasi jangka panjang. Model Pembelajaran PJOK yang Efektif dalam Mengembangkan Kemampuan Bernalar Kritis Peserta Didik Konvergensi TGfU, pengembangan bernalar kritis. Karakteristik-karakteristik ini meliputi: . pembelajaran yang berpusat pada siswa, . penggunaan masalah atau situasi otentik sebagai konteks pembelajaran, . penekanan pada proses kognitif tingkat tinggi, . interaksi sosial dan kolaborasi, dan . refleksi sebagai bagian integral dari pembelajaran (Asmara & Septiana, 2. Pernyataan FHK bahwa model pembelajaran yang memberikan tantangan dan masalah untuk dipecahkan lebih menarik mencerminkan prinsip optimal challenge dalam teori motivasi. individu mengalami flow kondisi keterlibatan penuh dan motivasi intrinsik - ketika tantangan yang Dalam pembelajaran PJOK, situasi permainan yang memerlukan analisis taktik menyediakan tantangan kognitif yang optimal yang mendorong siswa untuk berpikir kritis. Preferensi siswa terhadap pembelajaran yang dimulai dengan permainan kemudian dianalisis bersama, sebagaimana dinyatakan oleh NI, sejalan dengan prinsip experiential learning yang menekankan siklus pengalaman konkret, observasi reflektif, konseptualisasi abstrak, dan Selly Purnama. Juhrodin. Dwi Yulia Nur Mulyadi Eksplorasi Peran Guru Pjok Dalam Mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila Elemen Bernalar Kritis eksperimentasi aktif. Dalam konteks ini, permainan menyediakan pengalaman konkret, diskusi kelompok memfasilitasi observasi reflektif, dan analisis taktik mendorong konseptualisasi abstrak yang kemudian diterapkan kembali dalam permainan berikutnya. Model inquiry learning yang mendorong siswa untuk bertanya, menyelidiki, dan menemukan solusi sendiri juga terbukti efektif dalam mengembangkan kemampuan bernalar kritis karena menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses Dampak Implementasi Elemen Bernalar Kritis dalam Pembelajaran PJOK terhadap Proses dan Hasil Belajar Peserta Didik Dampak positif implementasi bernalar kritis terhadap aspek kognitif, afektif, dan psikomotor mengindikasikan terjadinya pembelajaran yang holistic (Febriliana et al. , 2. Peningkatan partisipasi aktif siswa, kemampuan problem solving, dan pemahaman konseptual yang lebih mendalam mencerminkan transformasi dari pembelajaran pasif-reseptif menuju pembelajaran aktif-konstruktif. Hal ini sejalan dengan taksonomi Bloom menempatkan kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta sebagai proses kognitif tingkat tinggi. Observasi AS bahwa siswa mampu membuat keputusan strategis mengindikasikan transfer learning dari domain kognitif ke domain psikomotor dan afektif. Pembelajaran kooperatif tidak hanya meningkatkan pencapaian akademik, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial, meningkatkan harga diri, dan mempromosikan hubungan interpersonal yang positif. Dalam konteks PJOK, kolaborasi dalam menganalisis dan mengembangkan strategi permainan memfasilitasi pembelajaran sosial yang bermakna. Pernyataan NI tentang peningkatan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan dan FHK tentang kemampuan menerapkan analisis dalam kehidupan sehari-hari mengungkapkan dampak yang melampaui konteks pembelajaran formal. Hal ini sejalan dengan konsep transfer of learning tentang high-road transfer - proses di mana individu secara sadar Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | X-XX ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. mengabstraksi prinsip dari satu konteks dan menerapkannya ke konteks Kemampuan siswa untuk mentransfer keterampilan bernalar kritis dari PJOK sehari-hari pembelajaran telah mencapai tingkat pemahaman yang mendalam dan Dampak pada proses pembelajaran juga terlihat dari meningkatnya keterlibatan siswa dalam diskusi, kemampuan mengajukan pertanyaan kritis, dan keaktifan dalam mengevaluasi kinerja diri dan kelompok. Sementara pada hasil belajar, terjadi peningkatan tidak hanya pada aspek keterampilan gerak, tetapi juga pada pemahaman konsep, kemampuan analisis taktik, dan keterampilan sosial. Transformasi ini menunjukkan bahwa implementasi bernalar kritis berkontribusi pada pencapaian tujuan PJOK pengembangan Profil Pelajar Pancasila secara holistic. KESIMPULAN Berdasarkan implementasi elemen bernalar kritis dalam pembelajaran PJOK telah berjalan efektif melalui pemahaman yang bertingkat dari seluruh stakeholder pendidikan, mulai dari perspektif kebijakan manajemen hingga aplikasi praktis di tingkat siswa. Penggunaan pendekatan Teaching Games for Understanding (TGfU) yang didukung oleh model problem-based learning, project-based learning, dan pembelajaran kooperatif terbukti efektif dalam mengembangkan kemampuan bernalar kritis siswa dengan menekankan pemahaman taktik sebelum penguasaan teknik. Meskipun terdapat berbagai tantangan operasional seperti keterbatasan waktu pembelajaran, jumlah siswa yang besar, kemampuan siswa yang beragam, dan inersia kebiasaan pembelajaran konvensional, implementasi bernalar kritis menunjukkan dampak positif yang multidimensional terhadap pemahaman konseptual yang mendalam, serta transformasi proses pembelajaran yang lebih partisipatif, analitis, dan bermakna. Keberhasilan ini didukung oleh alignment yang baik antara kebijakan Kurikulum Merdeka. Selly Purnama. Juhrodin. Dwi Yulia Nur Mulyadi Eksplorasi Peran Guru Pjok Dalam Mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila Elemen Bernalar Kritis praktik pembelajaran di lapangan, dan persepsi positif siswa, serta menghasilkan pembelajaran holistik yang tidak hanya meningkatkan aspek psikomotor tetapi juga aspek kognitif dan afektif, bahkan mampu ditransfer siswa ke dalam kehidupan sehari-hari mereka. REFERENSI