ISSN 2581-2319 ANALISIS PEMBENTUKAN SLUDGE GRANULAR DARI LUMPUR ANAEROBIK PENGOLAHAN LIMBAH DI EFFLUENT TREATMENT PLANT PT XYZ Dewi Agustin1. Vera Arida2. Shinfi Wazna Auvaria3. Rhenny Ratnawati. * 1,2,3,4 Program Studi Teknik Lingkungan. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya coresspondent author : * ratnawati@uinsa. Diterima : 5 November 2025 Revisi : 7 Januari 2026 Disetujui : 21 Januari 2026 Diterbitkan: 31 Januari 2026 Abstract Wastewater from the palm oil production process contains high levels of organic matter, so the appropriate treatment to remove organic matter is anaerobic processing. At PT XYZ, several types of reactors are used in the anaerobic process, including Upflow Anaerobic Sludge Blanket (UASB). Expanded Granular Sludge Blanket (EGSB). Internal Circulation (IC) Tank, dan Super Internal Circulation Tank. The bacteria used are generally granular in shape, which settle more quickly, but in field conditions, the bacteria used for UASB are sludge powdering, which tends to wash out. This can reduce the efficiency of wastewater treatment. The purpose of this study is to analyze the formation of granular sludge from sludge powdering in UASB reactors. The method used was experimental using a beaker glass reactor operated for 6 weeks. The principle of coagulation flocculation was used with the addition of 0. 3 g/L/hr of urea as nutrients for bacteria and FeCl3 as a binding The stages of this study included sampling, reactor operation, observation & treatment, and data analysis. The results showed that the UASB reactor did not form granular sludge, because the sludge produced was in the form of fine flocs. The addition of FeCl3 and urea caused the pH value of the reactor to fluctuate and tend to be alkaline, resulting in conditions that were not optimal for the activity of granular-forming bacteria. Therefore, granular sludge was not obtained from the experiment using UASB sludge powdering with a glass beaker reactor. Keywords: anaerobic, industrial waste, granular sludge, powdering sludge PENDAHULUAN Kelapa sawit merupakan tanaman Famili Palmae, tanaman tersebut berasal dari Amerika (Brazi. Di Indonesia tanaman kelapa sawit tumbuh subur bahkan menjadi komoditi terbesar di Indonesia. Kelapa sawit merupakan tanaman yang menghasilkan minyak nabati. Minyak nabati tersebut nantinya akan diproses lebih lanjut dan menghasilkan berbagai produk turunan minyak nabati (Latisya. Perkembangan kegiatan industri kelapa sawit juga menyebabkan limbah industri bertambah. Limbah tersebut mempunyai komponen pencemar yang berbahaya bagi lingkungan. Jenis pencemar limbah yang berasal dari industri sangat bervariasi tergantung dari jenis dan besarnya industri serta jenis bahan yang digunakan dalam industri tersebut (Azhari, 2. Salah satu limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan minyak sawit adalah limbah cair yang dikenal dengan istilah Palm Oil Mill Effluent (POME). POME mengandung bahan organik yang tinggi sehingga harus diolah sebelum dibuang ke Jenis bahan organik tersebut diantaranya nilai COD dan BOD yang tinggi, unsur hara seperti nitrogen, phosphor, kalium, dan magnesium, minyak dan lemak, serta nilai pH yang bersifat asam (Sisnayati et al. , 2. Pengolahan secara biologis merupakan metode yang tepat untuk menurunkan kadar beban organik dalam air limbah terlebih secara anaerob. PT XYZ merupakan industri yang bergerak dibidang pengolahan minyak sawit dan juga Air limbah yang dihasilkan dari proses produksi akan dialirkan ke departemen effluent treatment untuk diolah agar sesuai dengan baku mutu yang telah ditetapkan. Pada effluent treatment plant di PT XYZ juga digunakan pengolahan secara biologis baik secara anaerobik maupun aerobik. Pada proses anaerobik digunakan beberapa jenis reaktor, diantaranya Upflow Anaerobic Sludge Blanket (UASB). Expanded Granular Sludge Blanket (EGSB). Internal Circulation tank (IC Tan. , dan Super IC tank. Pada pengolahan aerobic digunakan kolam dengan dilengkapi aerator sebagai penghasil Jurnal TechLINK Vol. 9 No. Oktober 2025 ISSN 2581-2319 Reaktor UASB adalah digester anaerobik untuk pengolahan air limbah, dengan sistem operasional yang dapat digambarkan dengan pemompaan aliran secara vertikal dengan melalui substrat cair termasuk air limbah atau media pertumbuhan melalui lapisan lumpur anaerobik. Mikroba di dalam lapisan lumpur mengonsumsi komponen yang dapat dicerna sebagai substrat dan menguraikannya menjadi senyawa kimia yang lebih kecil. Dalam pengolahan air limbah, pengolahan secara anaerobik bertujuan untuk menguraikan senyawa organik menjadi bentuk yang lebih sederhana sekaligus menghasilkan biogas yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi (Pererva et al. , 2. Reaktor UASB memiliki kelebihan diantaranya efisiensi pengolahan 70Ae90%, tidak memerlukan lahan yang luas serta penggunaan energi yang lebih kecil. Penggunaan UASB digunakan untuk berbagai pengolahan air limbah seperti air limbah industri makanan, kertas, industri gula, dan lainnya (Rasyidah. Ciri khas reaktor UASB adalah terbentuknya kumpulan mikroba, dimana hasil metabolisme dari satu jenis mikroba dapat dimanfaatkan sebagai makanan oleh jenis mikroba lainnya. Kumpulan mikroba ini kemudian berkembang menjadi granula berbentuk bulat seiring berjalannya waktu. Ukuran granula bervariasi, umumnya antara 0,5 hingga 6 mm, dan semakin lama proses berlangsung maka ukuran granula cenderung semakin besar. Pembentukan granula ini didukung oleh keberadaan mikroorganisme yang menghasilkan Zat Polimerik Eksoseluler (EPS). EPS terdiri atas berbagai senyawa yang berfungsi sebagai perekat untuk menyatukan mikroorganisme sekaligus memberikan kekuatan mekanis pada granula (Liu et al. , 2. Granul dalam proses pengolahan air limbah biologis merupakan agregat mikroba padat yang memungkinkan retensi berbagai mikroorganisme dengan konsentrasi lebih tinggi dalam reaktor biologis dan mengendap dengan kecepatan tinggi (Kosar et al. Gabungan antara hubungan trofik antar mikroba dan pengikatan mekanis oleh EPS membuat granula berukuran besar lebih tahan terhadap perubahan mendadak dalam kondisi operasi, seperti perubahan pH, gangguan suhu, peralihan jenis substrat, variasi kekuatan maupun kandungan substrat, serta fluktuasi laju pemberian makan. Namun, dalam beberapa kasus, granula dapat pecah akibat gaya hidrodinamik atau tekanan gas di dalamnya, menjadi fragmen-fragmen kecil yang kemudian dapat berfungsi sebagai inti bagi pembentukan granula baru (Jijai et al. , 2. Konsep UASB yang dijelaskan pada Gambar 1. substrat dipompa ke dalam reaktor melalui sistem distribusi yang mengalirkannya ke lapisan bawah lumpur anaerob. Substrat kemudian tersebar merata di seluruh penampang reaktor dan terdorong ke atas melalui lapisan lumpur, yang disebut Auzona pencernaanAy. Pada zona ini terjadi penguraian senyawa organik sekaligus pembentukan gas. Selain berfungsi sebagai suplai makanan bagi mikroba, aliran vertikal ke atas juga mencegah lumpur mengendap berlebihan sehingga tetap dalam kondisi tersuspensi. Namun, aliran ini dapat mengangkat keluar biomassa yang belum stabil, seperti mikroorganisme bebas atau flok/granula kecil. Di atas lapisan lumpur terdapat Auzona pengendapanAy, yang berperan sebagai area klarifikasi vertikal atau kolom Zona ini membantu mempertahankan biomassa dan padatan sebelum proses pemisahan utama berlangsung. Pemisahan akhir dilakukan pada unit khusus yang disebut pemisah Gas-CairPadatan (GLSS), atau pemisah tiga fase. GLSS umumnya terletak di bagian atas kolom reaktor dan diawali dengan struktur berbentuk baffle di bagian bawahnya. Baffle tersebut berfungsi mengumpulkan serta mengarahkan gelembung gas ke ruang penampung gas utama, sekaligus mencegah gas ikut terbawa keluar bersama efluen (Trulli & Torretta, 2. Jurnal TechLINK Vol. 9 No. Oktober 2025 ISSN 2581-2319 Gambar 1. Konsep operasional reaktor Up-flow Anaerobic Sludge Blanket (UASB) tradisional: dengan pengumpul gas yang dimodifikasi. berbentuk Y. Sumber: Pererva et al. , 2020 Bakteri dalam pengolahan anaerobik di dalam tangki UASB. EGSB, maupun IC biasanya berbentuk butiran . Keuntungan bakteri berbentuk granular adalah bentuknya lebih padat daripada air sehingga memudahkan proses pemisahan lumpur dan memungkinkan untuk mengemas lebih banyak lumpur . akteri anaerobi. di dalam satu tangki (Shameem & Sabumon, 2. Pembentukan bakteri berbentuk granular dipengaruhi oleh komposisi substrat sehingga menghasilkan kumpulan bakteri dengan karakteristik yang berbeda-beda (Hou et al. , 2. Tetapi pada kondisi lapangan, sludge yang digunakan pada reaktor UASB berbentuk powdering dikarenakan pada saat sludge granular dimasukkan ke dalam reaktor UASB kondisi sludge menjadi pecah. Lumpur tipe ini memiliki kelemahan berupa kemampuan settling yang rendah, aktivitas biologis yang tidak terorganisasi dengan baik, serta cenderung menyebabkan sludge washout, yang berdampak pada penurunan efisiensi pengolahan limbah. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pembentukan sludge granular dari sludge powdering reaktor UASB. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan adalah eksperimental dimana dilakukan percobaan dengan prinsip koagulasi flokulasi. Koagulasi flokulasi yang dilakukan yakni dengan dilakukan penambahan bahan kimia koagulan untuk memancing pembentukan sludge granular dengan dilakukan pengadukan secara terus menerus. Analisis ini dilakukan di ruang COD Analyzer ETP PT XYZ Gresik. Waktu penelitian dilakukan selama 6 minggu dari bulan maret-april. Pada analisis ini digunakan alat dan bahan sebagai Gelas beaker . 0 mL) Kertas lakmus Flokulan Hotplate stirrer Sludge powdering Air limbah dari CAF Spatula FeCl3 NaHCO3 Diagram alur mengenai proses analisis pembentukan sludge granular dapat dilihat di Gambar 1. Jurnal TechLINK Vol. 9 No. Oktober 2025 ISSN 2581-2319 Gambar 1. Alur Proses Analisis Pembentukan Sludge Granular Sumber: Analisis Pribadi, 2025 Tahapan Penelitian Pengambilan Sampel Sampel berupa sludge powdering diambil dari outlet UASB sebanyak 250 mL. Sludge tersebut akan ditampung di gelas beaker sebagai reaktor. Ditambahkan air ke dalam gelas beker hingga volume sampel menjadi 1000 mL. Operasi Reaktor Gelas beaker yang telah terisi dengan sludge selanjutnya akan dilakukan pengadukan dengan hotplate stirrer. Reaktor dijalankan dengan kecepatan awal pengadukan 400 rpm. Ditambahkan FeCl3 1 tetes sebagai koagulan dengan tujuan membentuk partikel dan juga urea 0,3 gr sebagai nutrisi bagi bakteri. Perlakuan tersebut dilakukan setiap hari dengan tujuan penyesuaian bakteri terhadap lingkungan baru. Secara bertahap dosis penambahan FeCl3 ditambah menjadi 3-5 tetes, selain sebagai koagulan FeCl3 juga dapat menurunkan pH saat kondisi reaktor bersifat basa. Pada hari ke-5 mulai ditambahkan air limbah yang berasal dari pengolahan CAF dengan nilai pH 6 sebanyak 10 mL setiap dilakukan pengamatan. Pada minggu ke-2 dilakukan penambahan flokulan sebanyak 1 tetes untuk memancing pembentukan sludge granular. Kecepatan pengadukan ditingkatkan menjadi 800 rpm setelah ditambahkan flokulan, tujuannya agar lumpur tidak mengendap dan kontak antar bakteri lebih efektif. Pengamatan & Pemberian Perlakuan Pengamatan kondisi lumpur dilakukan pada hari senin hingga jumat. Dilakukan uji pH sebelum dan sesudah penambahan FeCl3, urea, maupun air limbah dari CAF. Minggu Pertama Hasil pada minggu pertama nilai pH sampel adalah 8, setelah penambahan FeCl 3 nilai pH menjadi 7 yang berarti netral. Penambahan air limbah dari CAF bertujuan sebagai makanan bagi mikroorganisme dan juga untuk mengetahui efektivitas bakteri dalam sampel. Setelah ditambahkan air limbah terbentuk buih yang berada di permukaan reaktor yang ditunjukkan di Gambar 2a & 2b. Hal tersebut menandakan adanya aktivitas dari mikroorganisme yang menghasilkan ammonia. Setelah dilakukan uji pH, nilai pH pada sampel bernilai 9 yakni basa. Jurnal TechLINK Vol. 9 No. Oktober 2025 ISSN 2581-2319 Gambar 2a. Kondisi reaktor minggu Gambar 2b. Kondisi reaktor minggu pertama Minggu Kedua Hasil pada minggu kedua kondisi sludge berwarna hitam tidak terdapat perubahan bentuk menjadi flok yang lebih besar. Setelah penambahan flokulan flok bertambah berat dan lebih besar, tetapi karena adanya kecepatan pengadukan yang tinggi flok hancur menjadi flok halus. Nilai pH berkisar di 7,5-8. Berikut merupakan kondisi reaktor di minggu kedua yang dapat dilihat pada Gambar 3a. Gambar 3b. Gambar 3a. Kondisi reaktor minggu kedua Gambar 3b. Kondisi reaktor minggu kedua Minggu Ketiga Pada percobaan minggu ketiga hasil yang didapat belum berubah, kondisi sludge belum menjadi flok yang lebih besar. Terdapat scum yang mengambang akibat adanya penambahan flokulan dalam air limbah, sehingga suspended solid yang di air limbah mengambang ke permukaan sampel. Lumpur berwarna hitam dan tidak dihasilkan bau yang begitu menyengat. Nilai pH sebelum perlakuan bernilai 9, pH setelah perlakuan adalah 8,5. Berikut merupakan kondisi reaktor di minggu kedua yang dapat dilihat pada Gambar 4a. Gambar 4b. Gambar 4a. Kondisi reaktor minggu ketiga Gambar 4b. Kondisi reaktor minggu ketiga Minggu Keempat Pada minggu keempat dikarenakan sampel pada reaktor tidak menunjukkan perubahan apapun sehingga digunakan sampel baru. Sampel tersebut diambil dari IC tank yang terdapat pecahan Jurnal TechLINK Vol. 9 No. Oktober 2025 ISSN 2581-2319 sludge granular. Diambil 600 mL sampel dari IC tank dan ditambahkan air hingga 800 mL. Perlakuan yang dilakukan yakni penambahan FeCl3 2 tetes, urea 0,85 gr, dan air limbah 200 mL. Kondisi awal sampel pH bernilai netral . Kondisi sampel secara visual yakni berwarna coklat, flok yang terbentuk lebih halus, bau yang dihasilkan sangat menyengat. Berikut merupakan kondisi reaktor di minggu kedua yang dapat dilihat pada Gambar 5a. Gambar 5b. Gambar 5a. Kondisi reaktor minggu Gambar 5b. Kondisi reaktor minggu Minggu Kelima Tidak ada perlakuan yang dilakukan pada reaktor Minggu Keenam Terdapat scum yang menumpuk di permukaan sampel dikarenakan adanya gas CH4 yang Bau yang dihasilkan sangat menyengat. Flok yang terbentuk pada sampel tidak menunjukkan perubahan menjadi granular, melainkan pecah menjadi flok halus. pH yang dihasilkan bernilai basa karena tidak adanya perlakuan pemberian FeCl3 dan urea sebagai nutrisi. Berikut merupakan kondisi reaktor di minggu kedua yang dapat dilihat pada Gambar 6a. Gambar Gambar 6a. Kondisi reaktor minggu Gambar 6b. Kondisi reaktor minggu kelima HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan pembentukan sludge granular dari sludge powdering berlangsung selama A 6 Pada minggu pertama terjadi pembentukan flok yang lebih besar berbentuk bulat dengan adanya benang halus. Diindikasikan bahwa benang halus tersebut sebagai filament dari bakteri. Menurut (Ahn, 2. dalam (Padmono, 2. model granulasi terjadi dalam beberapa tahapan yang disajikan pada Tabel 1. Jurnal TechLINK Vol. 9 No. Oktober 2025 ISSN 2581-2319 Tabel 1. Model Granulasi Reaktor UASB Penampilan Tingkat Diameter Pertumbuhan filament . metanogen dan mikroorganisme lain dalam kondisi tekanan parsial hidrogen Filemen Efek-efek bridging dan rolling pada pertumbuhan filament metanogen <100 m Pertumbuhan sebagai suatu inti lepas asetogen sintrophik kacau disekitar pemikiran inti < 1 mm Pertumbuhan ganul kecil dengan inti 1-2 mm padat, hidronotrop dan asidogen sintrophik kacau di sekitar permukaan granul kecil Pertumbuhan granul besar dengan 2-5 mm struktur lapisan ganda disebabkan akumulasi ekstraseluler polimer oleh Sumber : Ahn 2001 dalam Padmono, 2007 Pendekatan kondisi PH2 . og PH2 at. Rendah Tinggi . ,7 3,. Nilai pH yang dihasilkan mengalami fluktuasi yakni pada pH 7-9. Penambahan flokulan juga merupakan alternatif dalam mempercepat proses granulasi. Pada penelitian (Zhou et al. , 2. digunakan kalsium sulfat dan polimer untuk meningkatkan granulasi dalam reaktor UASB dan meningkatkan pembentukan granul (>0,25 m. dalam 90 hari. Pada minggu kedua hingga minggu ke empat tidak ada perubahan pembentukan, flok yang sebelumnya terbentuk dengan benang halus pecah menjadi flok flok halus. Percobaan tersebut diindikasikan gagal sehingga dibuat sampel baru dari lumpur IC Tank. Dimana pada reaktor IC Tank digunakan sludge granular dalam perlakuannya. Sludge granular merupakan jenis lumpur anaerobik yang tumbuh hingga berukuran fisik berdiameter 1-3 mm. Keuntungan utama lumpur tersebut adalah lebih padat daripada air yang memudahkan proses pemisahan lumpur dan memungkinkan untuk mengemas lebih banyak lumpur . akteri anaerobi. di dalam satu tangki (Kosar et al. , 2. Penggunaan sampel IC Tank bertujuan agar sludge granular dapat dijadikan sebagai pancingan untuk bakteri lain saat saling berkontak. Sehingga dari hal tersebut dapat terbentuk sludge granular. Karena tidak adanya pemantauan dan perlakuan penambahan urea sebagai nutrisi dan juga FeCl 3 sebagai koagulan kondisi reaktor flok menjadi lebih halus. Kemudian scum yang dihasilkan telah memenuhi permukaan reaktor hal tersebut karena terjadi proses metanogenesis dalam reaktor. Dari hasil tersebut sampel dalam reaktor diindikasikan belum berhasil dalam pembentukan sludge granular. Berikut merupakan analisis kegagalan dari pembentukan sludge granular menggunakan lumpur anaerobik UASB. Analisis Kegagalan . Kontrol reaktor Kontrol reaktor yang baik merupakan faktor yang sangat penting untuk pembentukan sludge granular dari sludge powdering. Parameter utama yang memengaruhi kinerja UASB adalah suhu operasi . ezim psikrofilik, mesofilik atau termofili. , pH. HRT. OLR, kecepatan aliran naik. Jurnal TechLINK Vol. 9 No. Oktober 2025 ISSN 2581-2319 yang stabil, mendekati netral, diperlukan untuk mendapatkan lumpur granular berkualitas baik, dengan alkalinitas yang cukup dalam substrat pengumpanan. Suhu optimal untuk bakteri pembentuk asam dapat tumbuh yaitu pada nilai 20-30AC. Pada suhu tersebut terjadi proses hidrolisis, asetogenesis, asidogenesis (Mainardis et al. , 2. Pada tahapan metanogenesis atau pembentukan metana memiliki suhu optimum 35-40AC. Tidak dilakukan pengukuran suhu pada analisis ini, tetapi suhu ruang analisis bernilai 16AC. Hal tersebut dapat mempengaruhi suhu pada reaktor karena suhu dingin menyebar ke seluruh ruangan. Pengadukan reaktor dengan kecepatan awal yang tinggi dapat menjadi faktor kondisi reaktor yang belum stabil karena dapat mempengaruhi struktur awal bakteri. Dari penelitian Padmono . kecepatan upflow reaktor naik secara bertahap, kecepatan awal 0,03 m/jam hingga 12 hari lalu ditingkatkan secara bertahap 0,06 m/jam hingga satu bulan lalu 0,12 m/jam. Pada analisis ini digunakan kecepatan pengadukan 400 rpm, 500 rpm, dan 800 rpm. Untuk pengadukan pada sampel yang berasal dari IC Tank sebesar 980 rpm. Pada variasi pengadukan tersebut didapat pengadukan 400 rpm merupakan pengadukan yang optimal untuk kondisi reaktor. Pengadukan 400 rpm menghasilkan benang-benang halus dan flok yang lebih besar. Nilai pH pada pengadukan 400 rpm tergolong stabil di angka 7-7,5. Waktu proses Waktu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari pembentukan sludge Bakteri yang terdapat dalam sludge powdering memerlukan adaptasi saat dipindahkan ke dalam reaktor baru. Bakteri akan menyesuaikan diri dari perubahan pH, suhu, agar metabolisme bakteri berjalan dengan stabil dan dapat bertahan terhadap adanya inhibitor. Saat penyesuain terjadi, bakteri akan mengalami gaya geser atau kontak antar bakteri yang merupakan faktor pembentukan agregat yang nantinya terbentuk sludge granular. Kemudian pengoperasian HRT pada reaktor yang terlalu rendah dapat menyebabkan kehilangan biomassa sehingga mengganggu pembentukan granula pada tahap stabilisasi (Ghosh & Saswati, 2. Pada analisis ini dilakukan selama A 6 minggu, dimana pada saat kecepatan pengadukan 400 rpm dilakukan selama 5 hari, kecepatan pengadukan 500 rpm selama 5 hari, dan kecepatan pengadukan 800 rpm selama 4 hari. Pada pengadukan 400 rpm kondisi reaktor menjadi optimal yang ditandai dengan warna sampel yang hitam dan nilai pH yang sesuai yakni 7-7,5. Pada penelitian terdahulu pembentukan sludge granular terjadi dengan waktu yang tidak singkat, penelitian oleh (Rekoyoso et al. , 2. menunjukkan reaktor yang dioperasikan sampai hari ke 287 kondisi lumpur belum menunjukkan adanya pembentukan sludge granular. Pada penelitian pembentukan sludge granular dari sludge powdering dengan kurun waktu A 6 minggu percobaan belum didapatkan kondisi reaktor yang stabil dengan ditandai nilai pH yang fluktuasi dan sludge granular belum terbentuk. Sehingga diperlukan durasi penelitian yang lebih panjang agar kondisi reaktor tidak fluktuatif. Konsentrasi nutrisi Menurut (Padmono, 2. persiapan nutrisi untuk pertumbuhan bakteri merupakan hal yang Nutrisi yang digunakan pada penelitian pembentukan sludge granular dari sludge powdering ini adalah urea. Konsentrasi nutrisi yang sesuai sangat penting bagi bakteri untuk bertahan hidup dan melakukan metabolisme. Nutrisi yang digunakan pada analisis ini adalah urea dengan konsentrasi 0,3 gr/L/hr. Kondisi lumpur setelah ditambahkan urea sebagai nutrisi bagi bakteri yakni lumpur tetap berwarna hitam dan tidak merubah nilai pH. Pada penelitian oleh (Rekoyoso et al. , 2. Pada hari ke-288 ditambahkan mikronutrisi sebanyak 1 mL/L dengan komposisi bahan kimia seperti pada Tabel 2. Tabel 2. Bahan kimia dan konsentrasi dari mikronutrisi Bahan Kimia Konsentrasi FeCl2. 4H2O 1,250 mg MnCl2. 4H2O 300 mg CuCl2. 2H2O 20 mg ZnCl2 50 mg CoCl2. 6H2O 80 mg Jurnal TechLINK Vol. 9 No. Oktober 2025 ISSN 2581-2319 Bahan Kimia Konsentrasi NiCl2. 6H2O 60 mg (NH. 6Mo7O24 60 mg H3BO3 20 mg Aquadest menjadi liter Sumber: Rekoyoso et al. , 2014 Penambahan nutrisi dilakukan setiap hari, hingga pada hari ke 169 setelah penambahan nutrisi terbentuk sludge granular dalam reaktor dengan kondisi visual berwarna hitam kecoklatan. Penambahan mikronutrisi tersebut dapat memicu produksi EPS . xtracellular polymeric substance. atau lem biologis sehingga dapat terbentuk sludge granular (Liu et al. , 2. Sehingga urea sebagai nutrisi yang diberikan kedalam lumpur belum cukup untuk memacu pembentukan sludge granular. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kesimpulan dari analisis ini adalah pembentukan sludge granular dari lumpur anaerobik UASB tipe powdering dengan kurun waktu selama A 6 minggu tidak menunjukkan adanya perubahan menjadi sludge granular. Hal tersebut dikarenakan sludge yang dihasilkan berbentuk flok halus. Penambahan bahan FeCl3 dan urea membuat nilai pH reaktor naik turun dan cenderung basa mengakibatkan terciptanya kondisi yang tidak optimal bagi aktivitas bakteri pembentuk granular. Sehingga belum didapatkan sludge granular dari percobaan menggunakan sludge powdering UASB dengan reaktor gelas beker. Saran Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar pada percobaan selanjutnya dilakukan pengaturan kondisi operasional reaktor yang lebih stabil, terutama dalam menjaga pH agar tetap berada pada rentang optimal bagi aktivitas bakteri pembentuk granular, yaitu sekitar 6,8 hingga 7,5. DAFTAR PUSTAKA