https://doi. org/10. 37731/log. PENGARUH KEADAAN POLITIK TERHADAP KONSEP KERAJAAN MESIANIK PADA MASA INTERTESTAMENTAL Theodorus Miraji Sekolah Tinggi Teologi Berea. Salatiga luvjesus@gmail. Diterima : 5 Oktober 2020 Direvisi : 30 Oktober 2020 Disetujui : 8 Desember 2020 Abstrak Keadaan politik pada masa Intertestamental tidak dapat dipisahkan dari keadaan politik di Perjanjian lama, dan sangat berpengaruh pada keadaan politik di Perjanjia Baru. Keadaan politik juga membentuk konsep Bangsa Israel tentang Mesias dan kerajaan Mesianik yang sudah dijanjikan oleh para Nabi sebelum akhirnya Tuhan seolah diam pada masa intertestamental. Kondisi politik yang berubah ubah sangat mempengaruhi pemikiran bangsa Israel. Perubahan kekuasaan dari Persia ke Romawi membuat bangsa Israel mengharapkan sosok Mesias seperti Alexander Agung atau raja raja lain. Helenisme yang ada membuat bangsa Israel meyakini bahwa Mesias akan menyatukan Israel yang sudah terpecah. Gerakan Makabe yang sempat meledak, membuat bangsa Israel mengharapkan ada pemulihan harga diri sebagai sebuah bangsa pilihan. Namun konsep kerajaan Mesianik seperti itu ternyata tidak terjadi dan kenyataannya Yesus sang Mesias datang untuk menaklukkan dosa, menyatukan manusia dalam kebenaran, memulihkan hubungan dengan Allah dan membangun kerajaan Allah bagi manusia. Kata Kunci : Keadaan Politik. Kerajaan Mesianik. Intertestamental Abstrack The political situation in the Intertestamental period was inseparable from the political situation in the Old Testament, and greatly influenced the political situation in the New Testament. The political situation also shaped Israel's concept of the Messiah and the Messianic kingdom that had been promised by the Prophets before God seemed to be silent in intertestamental times. The changing political conditions greatly influenced the thinking of the Israelites. The change in power from Persia to Rome made the Israelites expect a Messiah like Alexander the Great or other kings. The existing Hellenism led the Israelites to believe that the Messiah would unite a divided Israel. The Maccabean movement which had exploded, made the Israelites hope for a restoration of their dignity as a chosen nation. But the concept of a Messianic kingdom like that did not happen and in fact Jesus the Messiah came to conquer sin, unite people in righteousness, restore relations with God and build God's kingdom for humans. Keywords: Political Situation. Messianic Kingdom. Intertestamental https://doi. org/10. 37731/log. PENDAHULUAN Topik tentang Mesianik adalah topik yang menarik perhatian banyak teolog. Secara historis. Stenschke dalam Zaluchu. Waruwu. Gulo menjelaskan bahwa mesianik/Mesias dibayangkan sebagai sosok pembebas, pahlawan dan penyelamat dari situasi tertindas dalam pemikiran kebanyakan orang Yahudi. 1 Orang orang membayangkan dan menginginkan bahwa Mesias akan datang dan berada di garda terdepan dalam membebaskan bangsa Israel. Klausner menjelaskan, bahwa hal ini dilatar belakangi Perjanjian Lama (PL) yang merupakan kitab pegangan utama orang Yahudi pada masa itu, dan melalui nubuatan para nabi. 2 Para Nabi menyampaikan berita tentang kedatangan seorang raja dari keturunan Daud yang akan memulihkan kerajaan Daud yang telah runtuh. Mesias ini sangat kuat dan perkasa karena ada Roh Allah padaNya sehingga kerajaanNya adalah kerajaan yang mampu memulihkan keadaan dan memerintah dengan damai sejahtera, aman dan limpah. 3 Kata Mesias berasal dari bahasa Ibrani Mashiah (Mashia. yang berarti diurapi. 4 tidak dapat dikesampingkan, bahwa konsep diurapi yang dipahami dan dipegang oleh bangsa Yahudi pada waktu itu dilambangkan dengan pencurahan minyak. Dan pencurahan minyak ini dilakukan kepada seorang raja yang dipilih oleh Tuhan untuk menduduki takhta kerajaan Israel. Kebutuhan bangsa Israel terhadap kehadiran Kerajaan Mesianik ini diakibatkan oleh realita bahwa bangsa Israel secara politik sedang dan sering berada di bawah pemerintahan bangsa lain. Sebab itu Kerajaan Mesianik dirindukan untuk segera datang agar memberikan kebebasan dan kemerdekaan politik bagi bangsa Israel. Nuansa dan keadaan politik mempunyai tempat yang signifikan dalam pengharapan bangsa Israel pada perjanjian Lama. Periode Intertestamental, juga masa Perjanjian Baru. Bahkan sampai saat ini, sebagian besar orang Yahudi Sonny Zaluchu. Nur Juniati Waruwu, and Eirene Kardiani Gulo. AuPengharapan Mesianik Di Dalam Kitab Ester Melalui Pendekatan Teologis-Akrostik-Plot,Ay VOX DEI: Jurnal Teologi dan Pastoral 1, no. : 1Ae15. J Klausner. The Messianic Idea in Israel Form Its Beginning to the Completion in the Mishnah (London: Creative Media Partners. LLC, 1. Kuncoro Condro. AuNubuatan Tentang Mesias Dari Kitab Para Nabi,Ay Sanctum Domine: Jurnal Teologi 5, 1 . : 23Ae34. Christof Hardmeier. AuOld Testament Exegesis and Linguistic Narrative Research,Ay Poetics 15, no. 1Ae2 . : 89Ae109. Sook-young Kim. AuThe Trajectory of the " Warrior Messiah " Motif in Scripture and Intertestamental Writings Andrews University Digital Library of Dissertations and Theses . Ay . https://doi. org/10. 37731/log. masih menantikan Mesias hadir untuk mendirikan sebuah kerajaan politik yang disebut sebagai Kerajaan Mesianik, meskipun Zaluchu menjelaskan bahwa dewasa ini ada golongan orang Yahudi yang percaya bahwa Mesias sudah digenapi dalam pribadi Yesus yang disebut sebagai golongan Yahudi Mesianik. Bagaimana pengaruh keadaan politik bangsa Israel terhadap konsep Kerajaan Mesianik yang ada di perjanjian Lama. Periode Intertestamental dan Perjanjian Baru akan dibahas dalam tulisan ini. Penekanan secara khusus diberikan pada periode Intertestamental karena periode ini merupakan gambaran dari kondisi di Perjanjian Lama, dan sekaligus akan memberikan gambaran tentang bagaimana dampaknya terhadap kondisi pada masa Perjanjian baru. Kondisi politik yang dilihat adalah kondisi politik Bangsa Israel yang merupakan Central dari isi Alkitab, dimana Tuhan menyatakan pribadi dan karyaNya dalam dan melalui kehidupan suatu bangsa, yaitu bangsa Israel. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif dengan cara mencari informasi tentang topik yang diteliti dan melakukan sistematisasi terhadap informasi tersebut agar lebih mudah dipahami. Teknik yang digunakan untuk mencari infomasi adalah dengan melakukan studi pustaka yaitu mencari dan mengumpulkan data dan sumber informasi yang relevan dengan topik yang sedang Data tersebut didapatkan dari berbagai literatur yang sudah diteliti kredibilitas dari penulis dan tulisannya untuk dijadikan pendukung ide dan gagasan penulis. TEMUAN DAN PEMBAHASAN Pengertian Politik Politik dari bahasa Yunani AupolitikosAy, yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara, adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. 7 Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik. Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut Sonny Eli Zaluchu. Shofar (Semarang: Golden Gate Publishing, 2. WIBOWO. AuPenanaman Nilai-Nilai Nasionalisme Melalui Pendidikan Agama Pada Sekolah Menengah Atas Di Perbatasan Negara,Ay Penamas 28, no. : 395Ae412. https://doi. org/10. 37731/log. pandang berbeda, yaitu antara lain: politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama . eori klasik Aristotele. politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara. politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik. Kondisi Politik Periode Perjanjian Lama Kondisi Politik bangsa Israel pada masa perjanjian lama merupakan sebuah masa yang panjang dam dapat dibagi dalam 2 periode besar waktu, yaitu Politik Teokrasi Peran Allah dalam perjanjian Lama begitu sentral dan penting bagi kehidupan bangsa Israel. dimulai dari janji berkat kepada Abraham yaitu menjanjikan negeri, keturunan, dan berkat universal kepada Abraham (Kejadian 3 Ae . Allah secara konsisten menggenapinya hingga salah satu keturunannya yaitu Yakub memiliki 12 anak, lalu sebagai sebuah bangsa mereka dijajah oleh bangsa Mesir dan pada akhirnya Tuhan sendiri menuntun mereka keluar dari Mesir dengan perbuatan perbuatan yang ajaib. Sejarah tentang penjajahan dan penebusan tidak boleh lepas dari sejarah politik bangsa Israel namun menjadi dasar dan landasan bagi kehidupan bangsa Israel. Teokrasi di Padang Gurun Setelah Tuhan menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan di Mesir. Ia membawa mereka ke Gunung Sinai, di mana Ia mengatur dan menyusun mereka menjadi suatu bangsa. menjadikan mereka suatu "kerajaan imam" (Kel. dengan Tuhan sendiri sebagai penguasa atas bangsa Israel ini. Dalam hal ini. Allah memakai Musa sebagai pemimpin yang ditentukan oleh Allah dan kepadanya dilimpahkan semua otoritas atas umat-Nya, meskipun pada akhirnya melalui saran dari Yitro musa mengangkat pemimpin 1000, 100, 50, dan 10 orang (Kel. Selama masa ini, tidak ada garis pembatas yang jelas antara hukum perdata dan hukum agama, karena semua perkara pada akhirnya akan diperhadapkan kepada Tuhan yang mengadili segala sesuatu sebagai penguasa atas bangsa Israel. Ivan Sampe Buntu. AuMembaca Teks Dalam Pandangan Poskolonial: Catatan Kritis Atas Bacaan Terhadap Teks Kitab Suci,Ay BIAAo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual 1, no. : 179Ae190. Hardmeier. AuOld Testament Exegesis and Linguistic Narrative Research. Ay https://doi. org/10. 37731/log. Selain para pemimpin 1000,100,50 dan 10 orang, dalam kondisi Politik ini Musa dibantu oleh para imam dan orang Lewi untuk bertanggung jawab atas masalah agama. Jadi, pada masa ini kondisi Politik Bangsa Israel adalah merupakan sebuah bangsa yang baru bebas dari penjajahan, dan diperintah oleh Allah sendiri melalui Musa sebagai wakil Allah, pemimpin sebagai pembantu Musa dalam hal non agama, serta para imam dan orang lewi sebagai pembantu Musa dalam hal yang bersifat agama. Teokrasi di Tanah Perjanjian Setelah melalui perjalanan panjang di padang gurun selama 40 tahun. Bangsa Israel masuk dan menguasai tanah perjanjian dibawah kepemimpinan Yosua sebagai pengganti Musa, namun Allah tetap menjadi penguasa dan pemimpin utama bangsa Israel. Namun, dapat ditemukan perbedaan pada masa ini adalah mereka tidak lagi menjadi suku pengembara di padang gurun, namun tinggal di kota kota yang sudah ditetapkan. 10 schreiner menjelaskan bahwa pada periode ini bangsa Israel mengalami perubahan dari bangsa jajahan menjadi bangsa penguasa. schreiner melanjutkan bahwa kegagalan bangsa Israel mempercayai Allah dan melakukan kehendakNya, membuat mereka gagal hidup dengan benar dan akhirnya. Allah mengirim berbagai bangsa untuk menindas dan menjajah bangsa Israel demi menyadarkan mereka akan dosa dan kesalahan mereka. 12 namun, ditengah penindasan dan penjajahan. Allah tetap mengasihi bangsa Israel sehingga Ia mengutus para Hakim untuk melepaskan mereka dari 13 banyaknya hakim yang Tuhan kirim kepada Bangsa Israel menunjukkan bahwa bangsa Israel tidak melihat Tuhan sebagai pemimpin dan penguasa utama mereka, dan selalu jatuh di pemberontakan yang sama. Apabila dilihat dari penjelasan diatas, maka dalam Kondisi Politik Teokrasi, bangsa Israel selalu memerlukan sosok manusia untuk dapat menyadarkan mereka akan dosa mereka dan akhirnya membebaskan mereka dari penjajahan dan kesulitan. Musa. Yosua, dan para Hakim Gideon Sapir and Daniel Statman. AuState and Religion in Israel,Ay State and Religion in Israel . : 107Ae Thomas R Schreiner. New Testament Theology (Grand Rapids. Michigan: Baker Academic, 2. Ibid. John Drane. Memahami Perjanjian Lama 1 (Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab, 2. Chul Min Jun. AuThe Paradigm Shift of Practical Theology and Theological Practice to Overcome Modernism and Postmodernism,Ay Pacific Science Review 16, no. : 156Ae166, http://dx. org/10. 1016/j. https://doi. org/10. 37731/log. adalah contoh dari orang orang pilihan Tuhan dalam politik TeokrasiNya. Kondisi Politik Teokrasi ditutup dengan kegagalan Bangsa Israel untuk takut akan Allah dan diperparah dengan keinginan mereka untuk memiliki raja seperti bangsa bangsa lain di sekitar mereka. Politik Monarki Keinginan bangsa Israel untuk memiliki seorang Raja disetujui oleh Tuhan sendiri. namun motivasi mereka salah, karena mereka mengharapkan raja yang akan pergi berperang bersama mereka melawan musuh. 16 nissim menguatkan, bahwa bangsa Israel menginginkan seorang pemimpin militer yang tetap yang akan terus membebaskan mereka dari pemerintahan bangsa-bangsa lain. Dimulai dari Saul. Bangsa Israel memiliki seorang Raja. Dari Saul, pemerintahan jatuh kepada Daud dan akhirnya kepada Salomo sebelum kerajaan Israel justru terbagi menjadi dua yaitu kerajaan Israel utara dan Yehuda di Selatan. Scheiner menjelaskan bahwa Setiap raja dari kerajaan utara. Israel tidak saleh dan menyembah berhala. Bangsa itu mengalami masa kejatuhan politik, dan hukuman Tuhan tidak dapat dihindari. Pada 722 SM, bangsa Asyur menaklukkan kerajaan utara dan membuang penduduknya. Kerajaan selatan yang mempertahankan garis keturunan Daud memang tidak sesuram itu, pada akhirnya Yehuda menyusuri jejak Israel dan memberontak kepada Tuhan. Sampai akhirnya Babel mengirim Yehuda ke pembuangan, menaklukkan Yerusalem dan membakar bait suci pada 586 SM. Selama masa pembuangan. Tuhan tidak berhenti mengasihi dan berbicara kepada Bangsa Israel. Tuhan memberikan janji melalui nubuatan Nabi-nabiNya bahwa Bangsa Israel akan dibebaskan dan disinilah Janji mengenai Mesias dan kerajaanNya dimulai dan ditangkap oleh Bangsa Israel. Nabi Yesaya, nabi Yeremia, yehezkiel. Daniel. Hosea. Amos. Mikha. Zakharia. Schreiner. New Testament Theology. R France. AuJesus the Saviour: Studies in New Testament Theology,Ay Scottish Journal of Theology 45, no. ): 413Ae415. Nissim Amzallag. AuYahweh, the Canaanite God of Metallurgy?,Ay Journal for the Study of the Old Testament 33, no. : 387Ae404. Schreiner. New Testament Theology. https://doi. org/10. 37731/log. Maleakhi, menubuatkan tentang kehadiran Mesias yang kerajaanNya akan kekal, bahkan sampai selama lamanya (Yes. 9 : 5-. Jadi, selama Periode Perjanjian Lama, bangsa Israel tidak lepas dari penjajahan dan Mereka gagal hidup sebagai umat Tuhan yang kudus dalam masa Politik Teokrasi, dan mengulang sejarah untuk jatuh dalam penjajahan pada masa Politik Monarki. Keadaan politik Bangsa Israel tidak lepas dari penjajahan, dan di akhir periode Perjanjian Lama mereka mengharapkan kedatangan sang Mesias yang akan mendirikan kerajaanNya. Unsur Spiritual Agama masih cukup terasa dalam periode ini karena masih dinyatakanNya nubuatan dan pesanNya melalui para nabiNya. Kondisi Politik Periode Intertestamental Asyur mengalahkan Bangsa Israel pada 722SM. Dan sebagai dampak, diangkutlah ribuan orang Israel untuk ditempatkan di wilayah bagian Asyur. Sedangkan bangsa Yehuda mengalami pembuangan sebanyak tiga kali. Tahun 597SM, 587 SM, dan tahun 582SM ke wilayah Babel. dan Ketika mereka berada di masa pembuangan tersebut Allah tetap berbicara melalui nabi-nabiNya bahkan sampai setelah masa pembuangan tersebut. Allah tetap berbicara. Namun tidak dapat dipungkiri sejarah bahwa ada satu masa, dimana Allah seolah berdiam dan tidak berbicara kepada bangsa Israel. Masa tersebur, sering disebut masa antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru atau masa intertestament. Kitab Maleakhi dan Kitab Tawarikh adalah dua kitab yang dipercaya sebagai kitab terakhir penulisannya dalam perjanjian Lama. Kitab Maleakhi diperkirakan ditulis pada tahun 450 SM atau sebelum itu22 sedangkan Kitab Tawarikh diperkirakan ditulis tahun 475-425 SM 23 Sedangkan kitab di Perjanjian Baru yang pertama ditulis adalah adalah Injil Markus, yang diperkirakan ditulis pada Zaluchu. Nur Juniati Waruwu, and Eirene Kardiani Gulo. AuPengharapan Mesianik Di Dalam Kitab Ester Melalui Pendekatan Teologis-Akrostik-Plot. Ay Ahmad M. Mansour et al. AuThe Eye in the Old Testament and Talmud,Ay Survey of Ophthalmology 49, no. : 446Ae453. Stalling D. G and K. A Kichen. Lahir. Kelahiran Kembali (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2. Karl William Weyde. Prophecy and Teaching (New York: Wolter de Gruyte, 2. Issac Kalimi. The Reshaping of Ancient Israelity History in Chronicles (Indiana: Eisenbrouns Publisher, https://doi. org/10. 37731/log. tahun 55-65 M 24 Jadi ada sekitar 485 tahun tenggang waktu dari penulisan kitab Perjanjian Lama terakhir dan penulisan kitab Perjanjian Baru yang pertama. Pergantian Kekuasaan Dari Persia ke Romawi Yanto Paulus dalam tulisannya secara rinci menceritakan bagaimana sejarah dan peristiwa pergantian kekuasaan ini terjadi Bahwa dimulai dari Media Persia yang mampu mengalahkan wilayah wilayah Yunani Pada tahun 499-494 SM kemudian jatuh ke tangan Makedonia bersama Alexander Agung yang merupakan anak bimbingan dari Aristoteles. Pada akhirnya negara yang menguasai daerah daerah Israel adalah bangsa Romawi sampai kepada masa Yesus. kondisi Politik di Israel tidak stabil akibat dari segala perebutan kekuasaan yang terjadi diantara bangsa bangsa lain disekitarnya, yang secara langsung berdampak pada kondisi politik Israel karena Israel ada dibawah kekuasaan bangsa bangsa tersebut sebagai jajahan dan orang buangan dengan segala akibatnya seperti ketidak bebasan, pajak kepada bangsa lain. Sambil terus bergumul dengan moralitas agamawi, mereka menantikan janji Allah yang diberikan melalui para Nabi yaitu sang Mesias yang akan mendirikan kerajaanNya, agar Israel terhindar dan terbebas dari perbudakan oleh bangsa bangsa lain yang pada masa itu berebut kekuasaan. Helenisme Helenisasi dimulai sejak kekuasaan Makedonia oleh Alexander Agung. Setelah menaklukan kekaisaran Persia tahun 334 SM, ia terus bergerak ke timur bersama tentaranya menaklukan seluruh asia barat daya. Kemudian ke selatan menaklukan Rusia dan terus melintasi lembah sungai Indus ke India. Alexander pun menjelajahi selatan dari Asia kecil. Syria. Mesir dan akhirnya membawa Palestina di bawah pemerintahannya. Di Mesir. Alexander mendirikan sebuah kota baru di pesisir pantai dan di namai Alexandria. Alexander tidak pernah kembali ke Yunani, dan malah mendirikan pengadilan di Babel. Penaklukan yang dilakukan oleh Alexander berdampak cukup besar dan lama. G and Kichen. Lahir. Kelahiran Kembali. Yanto Paulus Hermanto. AuKarya Allah Pada Masa Intertestamen,Ay Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat 3, no. : 162. Ibid. https://doi. org/10. 37731/log. Penaklukan yang dilakukan oleh Alexander ini disebut sebagai Helenistik (AuSeperti YunaniA. kareaa di hampir semua daerah yang dia taklukkan akan diperkenalkan kepada kebudayaan dan bahasa Yunani. Hasrat utama politik dari Aleksander adalah mempersatukan negara dan rakyat Makedonia dan Persia. 27 lebih lanjut lagi. Jagersma menjelaskan bahwa untuk mencapai tujuan ini. Aleksander beserta dengan sedikitnya sepuluh ribu orang Makedonia kawin secara massal dengan wanita wanita Persia. 28 meskipun pada akhirnya usaha dari Aleksander tidaklah menghasilkan dampak yang maksimal karena perbedaan tradisi dan spiritual diantara kedua bangsa tersebut. Dari uraian diatas, perlu dipahami kekuasaan Aleksander dan kebijakan politik Helenismenya tidak menghilangkan derita dan keberatan Israel sebagai bangsa buangan dan Bangsa Israel harus tetap membayar pajak yang ditetapkan. Pemberontakan Makabe Nama Makabe diambil dari julukan Yudas AuSi MakabeAy yang berarti AuSi PaluAy, anak Imam Matatias yang memimpin sebuah gerakan pemberontakan pada zaman intertestamental. Cerita dan gerakan Makabe ini dapat dilihat dan dibaca dalam surat surat 1 dan 2 Makabe yang merupakan kitab Deutorokanonika. Jagersma menjelaskan bahwa gerakan Makabe awalnya dimulai dari perang saudara di tempat bernama Modein, kampung halaman Matatias. Peperangan terjadi antara kaum petani yang miskin, melawan kaum imam yang kaya. Tidak terlepas dari Helenisasi yang sedang terjadi saat itu, pemberontakan ini dimulai ketika Matatias menolak permintaan seorang pasukan Yunani untuk mempersembahkan babi hutan di bait suci bagi para dewa Yunani. Matatias melakukannya sebagai bentuk kesetiannya kepada Tuhan. Spiro menceritakan, bahwa Matatias bukan hanya menolak permintaan pasukan Yunani tersebut, namun juga membunuhnya. 30 saat itu, pengikut Makabe sekitar 12. 000 orang, dan pasukan Yunani terlatih yang siap membalaskan peristiwa ini ada sekitar 40. 000 orang. Setelah 3 tahun, maka Yahudi Makabe berhasil merebut kembali Yerusalem dan melakukan segala macam upaya penyucian dan pembersihan bait suci yang sudah dicemari oleh orang H Jagersma. Dari Aleksander Agung Sampai Bar Kokhba (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. Ibid. Ibid. RabbiKen Spiro. The Revolt of the Maccabees (Jerusalem: Jewish Pathway, 2. https://doi. org/10. 37731/log. Yunani. 31 setelah kemenangan tersebut, banyak pertempuran yang terjadi antara pasukan Yunani yang mencoba merebut kembali kekuasaan, melawan orang Yahudi yang ingin tetap merasakan kebebasan dan kemenangan yang sudah didapatkan hingga pada akhirnya pada tahun 113 SM. Raja Seleukus Demetrius II yang sedang berkuasa, melakuan perjanjian damai dengan Simon, keturunan Matatias yang masih hidup saat itu. 32 Simon adalah seorang Imam besar yang agung, namun juga seorang Jenderal dan pemimpin pasukan Yahudi. Sesuai aturan, seharusnya Simon sebagai keturunan Lewi tetap menjadi iman, namun karena berbagai dorongan dan keinginannya sendiri maka Simon memutuskan untuk menjadi pemimpin utama Israel. Spiro menjelaskan bahwa sebenarnya, sebagai seorang Lewi. Simon tahu bahwa dia dapat mengambiil seorang dari keturunan Daud menjadi seorang pemimpin politik bagi orang Yahudi. 33 bila dilihat sejarah secara detail, maka pada akhirnya dapat ditemukan bahwa orang Romawi membantai orang Yahudi melalui Jenderal Pompeii dan menjadikan Hyrcanus sebagai penguasanya pada tahun 63SM. mulai saat itulah dimulai kekuasaan Roma atas bangsa Yahudi secara khusus dan bangsa Israel secara umum seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Namun, pemulihan harga diri Bangsa yang dibawa oleh Gerakan Makabe ini menjadi sebuah catatan penting dan bersejarah dalam perjalanan Bangsa Israel. Pengaruh Kondisi Politik terhadap konsep Kerajaan Mesianik pada periode Intertestamental Dari semua penjelasan diatas, dapat dilihat bahwa Bangsa Israel mengalami penderitaan dan kesusahan yang berkepanjangan. Kondisi politik yang tidak stabil dan berubah ubah nyatanya semakin membuat bangsa Israel menderita dan berada dalam kesusahan. Masalah menjadi semakin rumit karena pada masa Intertestamental. Tuhan seakan diam dan tidak menyatakan pesan pesanNya seperti pada periode Perjanjian Lama. Akibatnya terjadi pergeseren pemikiran di masa itu, dimana gagasan tentang Mesias tidak lagi berfokus pada nubuatan nabi-nabi tetapi lebih mengarah pada kitab-kitab apokripha yang tidak diwahyukan oleh Allah karena keabsenan Allah dalam berbicara melalui nabi nabiNya. Hermanto. AuKarya Allah Pada Masa Intertestamen. Ay 168 Jagersma. Dari Aleksander Agung Sampai Bar Kokhba. Spiro. The Revolt of the Maccabees. Hermanto. AuKarya Allah Pada Masa Intertestamen. Ay 170 Craig A Evans. AuMessianic Hopes and Messianic FiguresAy 3 . : 9Ae40. Jody Magness. The Archaeology of the Holy Land (Cambridge: Cambridge University Press, 2. https://doi. org/10. 37731/log. Sebagai contoh dalam Mazmur Salomo, orang Yahudi berdoa untuk Kerajaan Allah (Mazmur Salomo 17:. 37, melalui raja yang dijanjikan, yaitu Anak Daud (Mazmur Salomo 17:5, . 38, raja ini akan menjadi raja yang diurapi oleh Tuhan (Mazmur Salomo 17:. Bila Ia bangkit, akan menghajar bumi dengan mulutNya, akan membersihkan dunia dari dosa, akan menghacurkan bangsa-bangsa kafir serta membebaskan Yerusalem, dan Ia akan memerintah orang Yahudi untuk selama-lamanya. Itulah pernyataan doa orang Yahudi. Kerajaan yang mereka inginkan ini adalah bersifat duniawi dengan politik dan keagamaan yang kuat, karena itulah realita yang sedang mereka lihat pada masa intertestamental ini. Sebagai contoh lain, dalam perumpamaan di Kitab Henokh yang ada di bagian kedua, dijelaskan bahwa Anak Manusia yang ada sebelum dunia dijadikan, dikemudian hari akan mendirikan kerajaan di bumi. Anak Manusia ini disebut Mesias. 41 kerajaan semacam ini yang dinantikan oleh Bangsa Israel. Kerajaan yang kokoh, yang tidak dapat dikalahkan seperti bangsa bangsa lainnya dalam sejarah politik mereka. Dalam kitab barukh, digambarkan bahwa Mesias akan datang dan memerintah dalam kerajaan Mesianik dan akan mengalahkan semua kerajaan lain yang ada karena kehebatan sang Mesias. Masih banyak lagi pendapat lain berkaitan dengan Mesias pada masa Intertestamental. Itulah sebabnya banyak orang Yahudi yang tidak mau percaya bahwa Yesus Kristus dari Nazaret itu adalah Mesias. Hal ini terjadi karena mereka berpikir bahwa Mesias itu seorang pembebas secara revolusioner. Kondisi Politik dan ditambah kondisi spiritual yang terjadi pada masa Intertestamental membuat konsep mereka kepada seorang Mesias adalah : Penakluk Seperti Alexander Agung Bangsa Israel membayangkan bahwa Mesias akan berperang melawan musuh dengan kekuatan bala tentera dari sorga untuk memerangi penindas-penindas Israel seperti yang mereka Crawford Howell Toy. AuJewish Encyclopedia,Ay last modified 2012, accessed September 3, 2020, http://w. com/articles/12411-psalms-of-solomon-the. Ibid. Ibid. Condro. AuNubuatan Tentang Mesias Dari Kitab Para Nabi. Ay 33 Iwan Steven. AuKitab Henokh: Buku Untuk Generasi Akhir Zaman,Ay last modified 2016, accessed September 4, 2020, https://kitabhenokh. com/2016/08/31/kitab-henokh-buku-untuk-generas-akhirzaman/. William Dyrness. Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2. https://doi. org/10. 37731/log. lihat dalam diri Alexander Agung, dan raja raja lain yang kuat. Bangsa Israel akan berhasil menaklukkan semua musuh dan tidak akan terkalahkan lagi dibawah pemerintahan Raja Mesias dengan Kerajaan MesianikNya seperti yang dilakukan oleh Alexander Agung. Tidak heran, apabila Jogersma menulis bahwa pengharapan Mesianik yang ada pada Bangsa Israel adalah pemegang peranan penting dari gerakan gerakan pembebasan dan penaklukan seperti gerakan Zelot dan bar Kokhba. Pemersatu Seperti Helenisme Mesias ini diharapkan akan menyatukan kembali kerajaan yang terpecah diantara bangsa Israel menjadi satu kesatuan seperti kerinduan dan spirit dari Helenisme. 44 pada masa Intertestamental. Gerakan mesianik adalah gerakan yang paling banyak pengikutnya. Pengharapan seorang Mesias dengan kerajaan MesianikNya ini bagi rakyat Israel, utamanya rakyat pedesaan yang miskin adalah merupakan satu satunya harapan atas hidup yang 45 sebab itu, untuk dapat menyatukan kembali bangsa Israel yang terpecah, bukanlah merupakan hal mustahil bagi sang Mesias. Apalagi dengan segala macam janji yang disematkan dalam kedatanganNya. Meskipun tidak dapat disangkal bahwa ada sisi negatif dari Helenisme yang dirasakan oleh bangsa Yahudi seperti praktek penyembahan berhala yang dianggap merusak kepercayaan monoteistik mereka 47, namun spirit menyatukan sesuatu yang selama ini sudah rusak atau pecah adalah sebuah kerinduan dari bangsa Israel kepada Mesias. Tidak heran juga bahwa saat Yesus yang digadang gadang sebagai Mesias itu datang, maka banyak orang dari segala latar belakang mengikuti Dia dan mendesakNya untuk segera menjadi Raja atas seluruh Israel. Pemulih seperti Makabe Jagersma. Dari Aleksander Agung Sampai Bar Kokhba. Kim. AuThe Trajectory of the " Warrior Messiah " Motif in Scripture and Intertestamental Writings Andrews University Digital Library of Dissertations and Theses . Ay 354 Jagersma. Dari Aleksander Agung Sampai Bar Kokhba. Klausner. The Messianic Idea in Israel Form Its Beginning to the Completion in the Mishnah. Arnaud Syrandour. AuOn the Appearance of a Monotheism in the Religion of Israel . rd Century BC or Later?),Ay Diogenes 52, no. : 33Ae45. Daniel Johansson. AuThe Identity of Jesus in the Gospel of Mark: Past and Present Proposals,Ay Currents in Research 9, no. : 364Ae393. https://doi. org/10. 37731/log. Dengan demikian, seperti Pemberontakan makabe yang mengembalikan harga diri mereka sebagai sebuah bangsa, sang Mesias akan mengembalikan harga diri bangsa Israel setelah periode kesuraman sebagai bangsa jajahan dan buangan. 49 bangsa yang dalam sejarahnya memiliki catatan menakjubkan, harus dibuang dan menjadi bangsa jajahan berkali kali. Ini adalah catatan suram dari bangsa Israel yang harus dipulihkan. Dan pengharapan akan pemulihan ini tentu diberikan kepada janji akan kehadiran Mesias dan kerajaan Mesianiknya. Hal inilah yang berperan penting dalam fakta, bahwa bangsa Israel hanya mau menerima Mesias yang adalah raja, pemimpin besar yang perkasa. Apalagi ketika mereka menyaksikan kematian Yesus Kristus di kayu salib sebagai orang terkutuk, mereka menjadi antipati akan ke Mesiasan Yesus. Itulah sebabnya Yahudi ortodok hingga kini masih menunggu kedatangan Mesias yang dijanjikan sebagai pembebas dan raja itu. Kematian Yesus membuat mereka teringat kepada sejarah pembantaian oleh bangsa lain yang membuat mereka tidak berdaya, sehingga mereka menganggap Yesus pun bukan sang Mesias itu karena tidak berdaya menghadapi kematian diatas kayu salib. Hal ini dapat dipercaya sebagai salah satu penyebab, mengapa diatas kayu salib Yesus mendengar teriakan AuOrang lain Ia selamatkan, tetapi diriNya sendiri tidak dapat Ia Selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari Salib itu dan kami akan percaya kepadaNyaAy. (Mat. Bangsa Israel tidak dapat membayangkan apabila pengharapan dan harga diri mereka digantungkan kepada pribadi yang mengalami kematian secara terkutuk diatas kayu Salib. Konsep Mesias dana Kerajaan Mesianik dalam Pribadi Yesus Penakluk Dosa Mesias yang diharapkan Bangsa Israel adalah penakluk kerajaan dan musuh musuh seperti pribadi Alexander Agung, namun konsep Mesias yang Yesus bawa adalah menaklukkan dosa dan kerajaan Iblis di dunia ini. Yesus membawa misi untuk menebus dosa manusia sebeagai sumber paling utama kejatuhan dan kesengsaraan Bangsa Israel. Condro. AuNubuatan Tentang Mesias Dari Kitab Para Nabi. Ay 34 Hasan Sutanto. Perjanjian Baru Interinear Yunani-Indonesia Dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK) Jilid 1 Dan 2 (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2. Jurnal Teologi. Yonatan Alex Arifianto, and Joseph Christ Santo. AuMemahami Hukuman Salib Dalam Perspektif Intertestamental Sampai Dengan Perjanjian Baru,Ay soteria: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani 3, no. : 43Ae52. Jelita Sihite. AuBerteologi Dan Melayani,Ay Kurios 1, no. : 67. https://doi. org/10. 37731/log. Pada akhirnya sekalipun mengalami penolakan yang bertubi tubi, tugas dan karya Yesus sebagai Mesias tetap digenapi dan selesai diatas kayu Salib. Pada masa Intertestamental, fokus bangsa Israel hanyalah kepada penaklukan teritorial saja, karena selama masa tersebut mereka tidak menerima wahyu Allah sehingga tulisan dan pengajaran yang berkembang sangat minim dalam sisi Spiritualitas dan keagamaan. Hal ini terbukti kemudian, bahwa kitab kitab yang ditemukan pada masa itu hanya berfungsi sebagai pelengkap sejarah dan tidak dapat diterima sebagai kebenaran yang dikanonkan. Pemersatu dalam Kebenaran Yesus dalam pelayananNya yang relatif singkat di bumi ini, mengajarkan ajaran ajaran yang mendobrak norma dan etika yang berlaku sebelumnya selama turun temurun, namun itulah kebenaran yang sejati. 54 lebih lanjut Kristiyanto menuliskan bahwa Yesus mengubah semua sistem kebenaran yang dipegang selama ini dan mengajak semua pendengarNya untuk menjadi satu dalam kebenaran yang Dia ajarkan. Pemulih Hubungan Dengan Allah Di masa Intertestamental, konsep bangsa Israel tentang Mesias dan kerajaan Mesianiknya adalah bahwa Mesias akan mengembalikan dan memulihkan harga diri mereka sebagai sebuah bangsa yang besar dan bangsa pilihan. Namun, dalam pelayanan Yesus sang Mesias, konsep ini tidak terjadi. Yesus memulihkan hubungan manusia dengan Allah secara umum, dan hubungan bangsa Israel dengan Allah secara khusus. Harga diri dan kebesaran bangsa Israel terletak pada hubungan yang benar dengan Allah. Ajaran Yesus menekankan pentingnya pemulihan hubungan Allah dengan manusia yang sudah rusak oleh dosa para leluhur bangsa Israel. Dalam sudut pandang Allah dan karya keselamatanNya melalui Mesias, hubungan dengan Allah harus mendahului dan lebih penting daripada harga diri sebagai sebuah bangsa. Wismoady Wahono. Di Sini Kutemukan: Petunjuk Mempelajari Dan Mengajarkan Alkitab (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Kristriyanto Kristriyanto. AuYesus Kristus Juru Ruwat Manusia: Sebuah Pendekatan Semiotika Dalam Gereja Kristen Jawa,Ay Kurios 4, no. : 39. Ibid. Hery Sihaloho. AuNubuatan Tentang Mesias Dalam Perjanjian Lama Berdasarkan Kitab Sejarah,Ay Kurios 3, 1 . : 12. Adi Putra. AuMemahami Bangsa-Bangsa Lain Dalam Injil Matius,Ay BIAAo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual 1, no. : 243Ae252. https://doi. org/10. 37731/log. Kerajaan Allah Schreiner menjelaskan bahwa Kerajaan Allah merupakan sentral atau pusat dari berita dan pelayanan Yesus sebagai Mesias. Kerajaan Mesianik yang diidamkan Bangsa Israel sebelumnya diubah oleh pengajaran Yesus. Yesus membawa kerajaan Allah sebagai kerajaan yang paling dibutuhkan oleh manusia secara umum dan bangsa Israel secara khusus. Memahami kerajaan Allah yang Yesus beritakan sebenarnya membawa bangsa Israel pada sejarah para leluhur dimana Allah menjadi satu satunya penguasa dan pemimpin dalam hidup. Sebab itu, bangsa Israel tidak bisa melupakan Teokrasi dalam kehidupan politik maupun kehidupan mereka sehari hari. Kekerasan hati Bangsa Israel pada masa Perjanjian Lama dan bahkan sampai Intertestamental membuat Tuhan terus mengirimkan bangsa penindas, hanya dengan satu tujuan yaitu menyadarkan mereka tentang pemerintahan Allah dalam hidup mereka. Kondisi Politik Periode Perjanjian Baru Latar belakang politik dalam dunia Perjanjian Baru adalah kekaisaran Romawi. Negara Romawi berdiri tahun 753 SM, yang sebelumnya hanya terdiri dari beberapa kelompok masyarakat dan akhirnya merebut banyak kota dan menjadi kerajaan yang besar tahun 265 SM. Merrill C. Tenney dalam bukunya Survei Perjanjian Baru telah memberikan uraian terperinci tentang hal ini : Pertama adalah Kaisar Agustus pada 27 SM Ae 14 M, dimana kaisar ini memerintah saat Yesus Lahir. Kedua adalah kaisar Tiberius pada tahun 14-37 M, yang memerintah saat Yesus dewasa sampai Yesus mati. Ketiga adalah Kaisar Caligula pada tahun 37-41 M yang dikenal sebagai kaisar yang jahat dan kejam, dimana orang Kristen mula mula banyak mati ditangannya, karena merasa bahwa dia adalah dewa yang layak dan harus disembah. Keempat adalah Kaisar Nero pada tahun 54-68 M, seorang kaisar kejam yang membunuh Paulus dan Petrus. Kelima adalah kaisar Vespasian pada tahun 69-79 M, yang menghancurkan bait Allah dan seluruh Yerusalem setelah pada masa sebelumnya dibangun ulang. Dan keenam adalah Kaisar Domitianus pada tahun 81-96 M, yang seperti pendahulunya, melakukan penindasan yang sangat kejam. Schreiner. New Testament Theology. Ibid. Hermanto. AuKarya Allah Pada Masa Intertestamen. Ay 76 Packer et al. Dunia Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 2. https://doi. org/10. 37731/log. Di bagian sebelumnya sudah dijelaskan bahwa kondisi di Perjanjian Baru adalah dampak dari konsep kerajaan Mesianik pada masa Perjanjian Lama dan Intertestamental. Melihat rincian kerajaan diatas, jelas bahwa konsep yang diharapkan oleh Bangsa Israel tentang Mesias dan Kerajaan Mesianiknya tidak terjadi. Mesias Politik yang diharapkan tidak terjadi, namun Mesias Rohanilah yang hadir dan memberikan pembebasan dari belenggu dosa bukan penjajahan politik. Namun seperti schreiner menjelaskan, meskipun Kerajaan Mesianik politik yang diharapkan tidak terjadi, namun kerajaan Mesianik rohani yang Yesus bawa dan beritakan inilah yang justru merupakan kerajaan paling kekal, penting dan kuat dalam sejarah kehidupan bangsa Israel sampai selama lamanya. KESIMPULAN Kondisi politik bangsa Israel sangat mempengaruhi bagaimana konsep mereka tentang Mesias dan Kerajaan MesianikNya. Kondisi politik pada perjanjian lama menimbulkan pengharapan akan kehadiran Mesias sesuai dengan Nubuatan para Nabi, dimana pada masa ini Tuhan masih berbicara sehingga aspek spiritual dari nubuat dan janji Mesias ini masih dapat Kondisi Politik di zaman Intertestamental yang dapat dibagi menjadi 3 garis besar waktu yaitu Perpindahan kekuasaan dari Persia ke Romawi. Helenisme, dan Pemberontakan Makabe membentuk konsep pengharapan bangsa Israel terhadap Mesias yaitu, sang Mesias akan menjadi Penakluk seperti Alexander Agung dan atau pemimpin lain. Mesias akan menyatukan kembali bangsa yang sudah terpecah, dan akan mengembalikan harga diri bangsa seperti yang pernah dilakukan oleh gerakan Makabe. Hal ini diperparah dengan ketiadaan pesan Tuhan pada periode waktu ini, sehingga pegangan bangsa Israel hanyalah kitab kitab yang tidak berasal dari wahyu Allah, dan keadaan yang ada didepan mereka. Sedangkan saat akhirnya Sang Mesias datang dalam pribadi Yesus. Dia tidak membawa dan menggenapi konsep bangsa Israel pada masa Intertestamental, namun justru menaklukkan dosa bukan kerajaan, mempersatukan dalam kebenaran bukan hanya penyatuan teritorial, memulihkan hubungan dengan Allah bukan memulihkan harga diri bangsa, serta membawa kerajaan Allah sebagai berita sentral untuk mengembalikan bangsa Israel kepada kesadaran Teokrasi dalam hidup mereka. Schreiner. New Testament Theology. https://doi. org/10. 37731/log. Hal ini dikuatkan dengan fakta bahwa pada perjanjian Baru bahkan sampai kepada pelayanan para Rasul, bangsa Israel tidak terbebas secara politik dan masih terus ada dibawah penjajahan kekaisaran Romawi yang jahat. Politik bangsa Israel belum mengalami kemerdekaan, namun secara spiritual bangsa ini telah mengalami kemerdekaan sejati. Dan dampak dari ajaran Yesus ini begitu mendunia serta berhasil AumenaklukkanAy ajaran lain secara masif dan tidak terbendung melalui pelayanan para Rasul dan orang percaya. IMPLIKASI BAGI ORANG PERCAYA Tuhan Tidak dapat dibatasi oleh konsep konsep manusia Konsep manusia dibatasi oleh situasi dan kondisi. Namun, keagungan dan kebesaran Tuhan tidak dapat dibatasi oleh hal tersebut. Hal ini terbukti, semua konsep manusia pada masa intertestamental tentang Mesias dan kerajaanNya tidak dapat membatasi Tuhan dalam melaksanakan dan menggenapi karyaNya. Mesias tidak mengikuti apa yang manusia dapat pikirkan melalui pikirannya, namun menggenapi apa yang Tuhan rancangkan bagi manusia. Mesias memberikan pembebasan Rohani Sang Mesias yaitu Yesus memberikan pembebasan Rohani kepada semua orang percaya. Kebebasan dari dosa adalah awal dan akar dari kehidupan yang baik bagi manusia. Orang percaya jangan hanya terfokus kepada hal yang bersifat badani atau material saja, namun juga rohani. Yesus melalui karyaNya sudah membebaskan manusia dari belenggu dosa, itulah konsep Mesias yang harus dipegang dan dipahami oleh manusia. Kerajaan Allah harus diberitakan Kerajaan Allah yang dimaknai dengan pemerintahan Allah dalam hidup manusia harus dapat menaklukkan kerajaan lain yang secara metafora diidentikkan dengan kerajaan dosa atau kerajaan dunia ini. Orang percaya perlu membawa berita kerajaan Allah kemanapun mereka pergi dan dimanapun mereka ada. Berita kerajaan Allah harus tersebar sampai ke ujung ujung bumi dan kepada suku suku bangsa. Inilah kerajaan Mesianik yang sejati. https://doi. org/10. 37731/log. DAFTAR PUSTAKA