ISSN : 2721-074X (Onlin. - 2301-6698 (Prin. Homepage : http://ejournal. id/index. php/AFP/index Research Article DOI : 10. 36728/afp. PENGARUH KINETIN DAN GACE TERHADAP PERTUMBUHAN ANGGREK HIBRIDA COELOGYNE SECARA IN VITRO Ahmad Yunus1*). Sri Hartati. 1,2 Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Sebalas Maret 1,2 Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Biodiversitas. Universitas Sebelas Maret * Email: yunus@staff. ABSTRACT Anggrek hitam memiliki nilai ornamental dan ekonomi yang tinggi karena munculnya varietas unggul yang dikembangkan melalui hibridisasi dan seleksi. Kultur jaringan menawarkan metode yang efisien untuk perbanyakan massal dari varietas hibrida tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi optimal Kinetin dan GACE untuk perbanyakan in vitro subkultur anggrek hibrida Coelogyne. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial yang terdiri dari dua variabel perlakuan dan empat ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi Kinetin yang terdiri dari tiga taraf: 0 ppm, 0,5 ppm, dan 1 ppm. Faktor kedua adalah konsentrasi GACE yang juga terdiri dari tiga taraf: 0 ppm, 0,5 ppm, dan 1 ppm, sehingga terdapat 9 kombinasi perlakuan. Karakteristik yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah tunas, jumlah daun, jumlah akar, panjang akar, dan berat tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi Kinetin 0,5 ppm dan GACE 1 ppm menghasilkan jumlah tunas terbanyak . ,20 tuna. dan jumlah daun terbanyak . ,38 hela. , sementara kombinasi Kinetin 0,5 ppm dan GACE 1 ppm juga menghasilkan tinggi tanaman optimal . ,41 c. , jumlah akar . ,00 bua. , dan panjang akar . ,61 c. INFORMATION KEYWORD Coelogyne pandurata. Coelogyne rumphii. Kinetin. GA3 This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International Licence Received : 28 Mei 2025 Revised : 18 Juni 2025 Accepted : 23 Juli 2025 Volume : 25 Number : 2 Year : 2025 Copyright A 2025 PENDAHULUAN Anggrek dikenal luas sebagai tanaman hias pot dan bunga potong yang memiliki bunga indah serta memberikan dampak signifikan di sektor hortikultura (Murthy et al. , 2. Coelogyne merupakan genus anggrek Asia terbesar, dengan lebih dari 190 spesies yang menghasilkan bunga harum dan tahan lama (Kaur & Bhutani, 2. Anggrek hitam merupakan salah satu spesies anggrek yang berasal dari Kalimantan. Potensi anggrek sebagai tanaman hias bernilai ekonomi tinggi didorong oleh munculnya varietas-varietas baru yang unik hasil dari persilangan dan seleksi. Salah satu hasil persilangan anggrek adalah penelitian Hartati et al. yang menyilangkan anggrek Coelogyne pandurata dan Coelogyne rumphii. Coelogyne pandurata Lindl. , yang dikenal sebagai anggrek hitam, memiliki bunga berukuran besar JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 25 NO 2 . | 37 berwarna hijau muda dengan lidah bunga berwarna hitam disertai garis-garis hijau berbulu (Hartati & Muliawati, 2. Sementara itu. Coelogyne rumphii Lindl. adalah anggrek cantik dengan bunga berwarna kuning kehijauan hingga krem kekuningan, serta lidah bunga berwarna merah hingga oranye kecokelatan dengan bagian bawah yang keputihan. Untuk memenuhi kebutuhan komersial dan mendukung konservasi anggrek, diperlukan sistem perbanyakan massal anggrek yang efektif dan efisien (Semiarti, 2. Oleh karena itu, upaya konservasi anggrek langka serta peningkatan produksi bibit anggrek hitam dilakukan melalui teknik perbanyakan tanaman secara generatif maupun vegetatif, termasuk kultur in Persentase perkecambahan benih anggrek di alam tergolong rendah karena benih tidak memiliki cadangan makanan . dan memerlukan bantuan mikoriza untuk menyediakan senyawa yang dibutuhkan untuk proses perkecambahan (Hartati et al. , 2017. Lestari, 2. Kultur jaringan menjadi alternatif penting dalam perbanyakan anggrek hasil persilangan, karena mampu menghasilkan tanaman dalam jumlah besar dalam waktu singkat, dengan kualitas yang tetap tinggi. Tanaman hasil kultur in vitro memiliki sifat fisiologis dan morfologis yang sama dengan tanaman induknya. Perkembangan teknik kultur jaringan meningkat pesat seiring dengan ditemukannya zat pengatur tumbuh (ZPT) yang berfungsi membantu dan mempercepat pertumbuhan tanaman. Variasi dalam perbanyakan tanaman dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti sumber eksplan, komposisi media, kondisi kultur. ZPT, serta faktor lainnya. Arah perkembangan kultur ditentukan oleh interaksi dan keseimbangan antara ZPT endogen dan eksogen. Beberapa jenis anggrek membutuhkan ZPT untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan, sehingga ZPT menjadi komponen penting dalam media untuk mendukung pertumbuhan dan diferensiasi tanaman secara in vitro. Dalam teknik kultur jaringan, sitokinin merupakan hormon eksogen penting dalam proses morfogenesis dan perbanyakan. Kinetin merupakan jenis sitokinin yang dapat merangsang pembelahan sel dan pembentukan tunas saat ditambahkan ke dalam media kultur (Talekar et al. , 2. Sementara itu, giberelin (GACE) merupakan ZPT yang berperan dalam pemanjangan sel, aktivitas kambium, dan sintesis protein (Harahap et al. , 2. Penambahan GACE ke dalam media kultur dapat merangsang eksplan untuk mensintesis auksin endogen. Penelitian ini menggunakan ZPT Kinetin dan GACE untuk menyeimbangkan kandungan nutrisi dalam media kultur serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan planlet. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi optimal Kinetin dan GACE dalam perbanyakan in vitro subkultur anggrek hasil persilangan Coelogyne. METODE Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret. Surakarta, pada ruang kultur yang steril dan aseptik dengan suhu berkisar antara 20Ae25 AC dan kelembapan A64% yang dijaga dengan menyalakan pendingin udara selama 24 jam. Bahan yang digunakan berupa planlet anggrek hasil persilangan Coelogyne pandurata dan Coelogyne rumphii yang sehat dan seragam. Planlet ditanam pada media Murashige and Skoog (MS) dengan dua planlet per botol kultur, lalu diinkubasi di rak kultur dengan pencahayaan lampu 10 watt selama 24 jam penuh. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial yang terdiri atas dua faktor, yaitu Kinetin . ppm, 0,5 ppm, dan 1 pp. dan GACE . ppm, 0,5 ppm, dan 1 pp. , dengan empat ulangan sehingga terdapat 9 kombinasi perlakuan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah tunas, jumlah daun, jumlah akar, panjang akar, dan berat tanaman. 38 | JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 25 NO 2 . Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), dan apabila terdapat perbedaan nyata dilakukan uji lanjut menggunakan DuncanAos Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Data disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan gambar sesuai dengan parameter yang diamati. Tabel 1. Pengaruh Interaksi Kinetin Dan GACE Pada 20 Minggu Setelah Penanaman Terhadap Rata-Rata Jumlah Daun. Tunas. Tinggi Tanaman. Jumlah Akar, dan Panjang Akar. Perlakuan Tinggi Tanaman Jumlah Tunas Jumlah Daun Jumlah Akar Panjang Akar K1G1 56 A 0. 50 A 1. 86 A 1. 75 A 0. 31 A 0. 11 ab K1G2 11 A 0. 02 A 1. 99 ab 11,29 A 2. 10 bc 00 A 3. 01 cd 44 A 0. 19 bc K1G3 64 A 0. 10 A 3. 12 ab 7,99 A 3. 90 ab 25 A 0. 22 A 0. 04 ab K2G1 81 A 0. 00 A 1. 12 ab 51 A 1. 50 A 0. 79 ab 26 A 0. 08 ab K2G2 41 A 0. 50 A 4. 77 ab 03 A 2. 99 bc 00 A 3. 61 A 0. K2G3 33 A 0. 26 bc 20 A 4. 12,38 A 2. 75 A 2. 92 bcd 18 A 0. K3G1 70 A 0. 01 A 0. 51 ab 10,06 A 2. 30 bc 75 A 2. 20 abc 27 A 0. 26 ab K3G2 18 A 0. 11 bc 49 A 2. 73 ab 12,24 A 1. 75 A 1. 28 abc 30 A 0. 15 ab K3G3 15 A 0. 73 A 4. 69 A 1. 95 bc 50 A 1. 85 abc 34 A 0. 19 ab Catatan: Pada taraf uji DMRT 5%, angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada setiap kolom menunjukkan tidak berbeda nyata. Gambar 1. Pertumbuhan Subkultur Anggrek Pada 20 Minggu Setelah Tanam . MST). Perbanyakan Tunas dan Daun Pada Perlakuan Kinetin 0,5 ppm dan GACE 1 ppm. (B) Peningkatan Tinggi Planlet Pada Perlakuan Kinetin 0,5 ppm dan GACE 0,5 ppm. JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 25 NO 2 . | 39 HASIL DAN PEMBAHASAN Tujuan utama dari metode kultur jaringan adalah menghasilkan planlet dalam jumlah sebanyak mungkin melalui perbanyakan secara klonal. Penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) pada anggrek hasil persilangan Coelogyne memberikan pengaruh yang nyata terhadap perbedaan parameter pertumbuhan dibandingkan dengan tanaman kontrol . anpa perlakua. Sitokinin dan giberelin sama-sama berperan dalam merangsang perkembangan tanaman, terutama dalam pembelahan sel untuk membentuk bagian tanaman baru serta pemanjangan sel. Penggunaan Kinetin dengan konsentrasi 0,5 ppm memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan konsentrasi 1 ppm, ditandai dengan tinggi tanaman tertinggi, jumlah tunas, daun, dan akar terbanyak, serta akar terpanjang. Peningkatan Tinggi Tanaman Tanaman mengalami pertumbuhan dan perkembangan karena ketersediaan nutrisi dalam media, dan salah satu indikatornya adalah peningkatan tinggi tanaman. Interaksi antara Kinetin dan GACE menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap parameter tinggi tanaman. Perlakuan K2G2 (Kinetin 0,5 ppm dan GACE 0,5 pp. menghasilkan rata-rata tinggi tanaman tertinggi yaitu 1,41 cm dengan simpangan baku 0,16. Hasil perlakuan lain menunjukkan nilai yang berdekatan, seperti K2G3 dengan rata-rata 1,33 cm dan K3G2 sebesar 1,18 cm, tetapi secara statistik berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Nilai simpangan baku yang kecil menunjukkan bahwa data tinggi tanaman tidak banyak mengalami variasi. Peningkatan tinggi tanaman akibat perlakuan GACE disebabkan oleh peningkatan jaringan auksin yang mendorong pembelahan dan pemanjangan sel, fleksibilitas sel yang lebih baik, sintesis protein, dan dominansi apikal yang lebih kuat (Mishra et al. , 2. Kinetin sebagai jenis sitokinin berperan dalam regulasi pembelahan sel dan morfogenesis. Dalam pertumbuhan jaringan, sitokinin dan auksin saling berinteraksi dalam mengatur diferensiasi jaringan yang turut mempengaruhi pertumbuhan tinggi tanaman. Pada berbagai genus anggrek, konsentrasi optimal sitokinin berbeda-beda tergantung pada spesiesnya (Maharjan et al. , 2. Peningkatan Jumlah Tunas Kombinasi perlakuan Kinetin 0,5 ppm dan GACE 1 ppm (K2G. menghasilkan jumlah tunas tertinggi, yaitu rata-rata 11,20 tunas dengan simpangan baku 4,39. Nilai simpangan baku yang tinggi menunjukkan variasi data yang cukup besar. Perlakuan ini berbeda nyata dibandingkan perlakuan lain yang hanya menghasilkan rata-rata kurang dari 5 tunas. Dalam kultur jaringan, sebagian besar tanaman membutuhkan sitokinin untuk membentuk tunas dan daun. Tanpa Kinetin, pertumbuhan tunas akan terhambat, seperti terlihat pada perlakuan kontrol yang hanya menghasilkan 0,5 tunas rata-rata. Penelitian Maharjan et al. pada anggrek Dendrobium chryseum menunjukkan bahwa konsentrasi Kinetin 0,5 ppm menghasilkan tunas terbanyak . GACE juga telah digunakan untuk meningkatkan pemanjangan tunas, laju perbanyakan, pertumbuhan, dan kualitas tunas (Tahir & Mathew, 2. Penelitian pada anggrek Aerides ringens oleh Srivastava et al. menunjukkan bahwa Kinetin efektif dalam mendukung pertumbuhan tunas, dan konsentrasi GACE 1 ppm lebih efektif dibandingkan konsentrasi yang lebih rendah. GACE dikenal sebagai fitohormon penting yang sering digunakan untuk merangsang pertumbuhan baik sendiri maupun dalam kombinasi dengan hormon lain seperti auksin atau sitokinin (Camara et al. , 2. Peningkatan Jumlah Daun Penambahan Kinetin dan GACE dalam media kultur meningkatkan jumlah daun yang terbentuk. Perlakuan K2G3 (Kinetin 0,5 ppm dan GACE 1 pp. menghasilkan jumlah daun tertinggi yaitu 12,38 helai dengan simpangan baku 2,56. Hasil ini sedikit berbeda dengan penelitian 40 | JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 25 NO 2 . Zakizadeh et al. pada anggrek Catasetum pileatum cv. Alba, di mana jumlah daun tertinggi . ,70 hela. diperoleh pada perlakuan Kinetin 1 ppm dengan IBA 1 ppm. Perbedaan hasil dapat disebabkan oleh perbedaan spesies anggrek dan ZPT yang digunakan. Perlakuan K2G3 berbeda nyata dari kontrol . ,86 hela. K1G3 . ,99 hela. , dan K2G1 . ,51 hela. Komposisi media berpengaruh besar terhadap pertumbuhan planlet, dan tanpa penambahan Kinetin pertumbuhan daun tergolong rendah. Jumlah daun cenderung meningkat seiring dengan jumlah tunas yang tumbuh. GACE meningkatkan pembelahan sel mitosis di daerah meristem subapikal serta merangsang pemanjangan sel interkalar dan meningkatkan jumlah meristem aksilar, yang kemudian berkembang menjadi tunas aksilar dan memperbanyak jumlah daun (Shintiavira & Winarto, 2. Peningkatan Jumlah dan Panjang Akar Perlakuan K2G2 (Kinetin 0,5 ppm dan GACE 0,5 pp. menghasilkan jumlah akar terbanyak dengan rata-rata 7,00 dan simpangan baku 3,19. Hasil ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan K1G2 . ,00 A 3,. dan K2G3 . ,75 A 2,. , tetapi berbeda nyata dengan perlakuan Penelitian Maharjan et al. menunjukkan bahwa perlakuan GACE 0,5 ppm ditambah 10% air kelapa menghasilkan akar terbanyak . ,5 bua. dan terpanjang . ,28 c. Konsentrasi GACE yang tinggi justru dapat menghambat pertumbuhan akar. Efek GACE terhadap organogenesis akar dapat bervariasi tergantung konsentrasi dan jenis tanaman (Figueiredo et , 2. Pertumbuhan panjang akar disebabkan oleh aktivitas pembelahan sel pada ujung meristem akar yang diikuti oleh pemanjangan dan diferensiasi sel. Rata-rata panjang akar tertinggi ditemukan pada perlakuan K2G2 sebesar 0,61 cm dengan simpangan baku 0,09. Hasil ini tidak berbeda nyata dengan K1G2 . ,44 A 0,. , tetapi berbeda dari perlakuan lainnya. Meskipun K3G2 juga menggunakan GACE 0,5 ppm, panjang akar tidak optimal, diduga karena tingginya kadar Kinetin yang cenderung merangsang pertumbuhan tunas dan daun daripada akar. Sitokinin dalam jumlah fisiologis dapat mengaktifkan meristem apikal tunas dan menekan meristem apikal akar (Prayoga & Rochmatino, 2. GACE mempengaruhi berbagai fase perkembangan tanaman, termasuk pembelahan sel pada akar, batang, dan daun (Hedden & Thomas, 2. Dalam konsentrasi rendah. GACE dapat merangsang pertumbuhan akar, namun dalam dosis tinggi justru menghambat pertumbuhan ujung akar akibat hilangnya tekanan turgor pada dinding sel (Ria et al. , 2. Peningkatan Berat Tanaman Plant Weigh . Berat segar tanaman berkaitan erat dengan luas daun. Peningkatan fotosintesis memperluas area daun sehingga penyerapan cahaya matahari menjadi optimal dan mendukung proses K1G1 K1G2 K1G3 K2G1 K2G2 K2G3 K3G1 K3G2 K3G3 Treatment Gambar 2. Berat Segar Subkultur Anggrek Coelogyne Pada 20 Minggu Setelah Tanam Dengan Kombinasi Perlakuan Kinetin dan GACE Yang Berbeda. JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 25 NO 2 . | 41 Interaksi antara perlakuan Kinetin dan GACE tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap parameter berat tanaman. Berat tanaman tertinggi diperoleh dari perlakuan K2G3 (Kinetin 0,5 ppm dan GACE 1 pp. dengan rata-rata 1,5 gram. Hal ini konsisten dengan hasil perlakuan K2G3 pada parameter jumlah tunas dan daun terbanyak. Penambahan jumlah tunas dan daun meningkatkan biomassa tanaman. Berat segar tanaman mencerminkan kandungan air dalam jaringan tanaman serta aktivitas metabolisme. Kandungan air dalam jaringan tanaman serta unsur hara dan bahan organik berkontribusi terhadap berat segar (Ria et al. , 2. Perlakuan dengan berat tanaman terendah adalah kontrol (K1G. dengan rata-rata 0,35 gram, yang juga menunjukkan nilai terendah pada semua parameter Hal ini menegaskan bahwa penambahan Kinetin dan GACE berkontribusi dalam meningkatkan pertumbuhan anggrek. KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan mengenai pengaruh konsentrasi Kinetin dan GACE terhadap pertumbuhan anggrek hasil persilangan Coelogyne secara in vitro, dapat disimpulkan bahwa kombinasi Kinetin 0,5 ppm dan GACE 1 ppm menghasilkan jumlah tunas . ,20 tuna. dan daun . ,38 hela. Selain itu, kombinasi Kinetin 0,5 ppm dan GACE 0,5 ppm memberikan hasil terbaik pada parameter tinggi tanaman . ,41 c. , jumlah akar . ,00 bua. , dan panjang akar . ,61 c. UCAPAN TERIMAKASIH Penelitian ini dilaksanakan dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi melalui skema Program Penguatan Kapasitas Grup Riset (PKGR-UNS) C tahun 2025 dengan nomor kontrak 371/UN27. 22/PT. 03/2025. DAFTAR PUSTAKA