Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Pelatihan Pembuatan Puding Daun Kelor Sebagai Upaya Pemanfaatan Sumber Daya Lokal Untuk Pencegahan Stunting Di Desa Tosale Jamaluddin1*. Pitriani2. Asriani Hasanuddin3. Novalina Serdiati4. Adrianton5 Department of Pharmacy. Mathematics and Natural Science of Faculty. Tadulako University. Palu. Central Sulawesi, 94148. Indonesia Department of Environmental Health. Public Health Faculty. Tadulako University. Palu. Central Sulawesi, 94148. Indonesia Department of Animal Husbandry. Faculty of Animal Husbandry and Fishery. Tadulako University. Palu. Central Sulawesi, 94148. Indonesia Department of Aquaculture. Faculty of Animal Husbandry and Fishery. Tadulako University. Palu. Central Sulawesi, 94148. Indonesia Department of Agrotechnology. Faculty of Agriculture. Tadulako University. Palu. Central Sulawesi, 94148. Indonesia Email: jamal_farmasi02@yahoo. id 1* Abstrak Stunting merupakan masalah gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, yang berdampak pada penurunan produktivitas dan peningkatan risiko penyakit degeneratif di kemudian hari. Pemberian makanan yang tidak tepat dan kurang gizi menjadi penyebab utama Dalam upaya pencegahan stunting di Desa Tosale, pemanfaatan sumber daya lokal menjadi penting untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak. Oleh karena itu, kegiatan program kerja ini bertujuan memberikan pengetahuan kepada masyarakat Desa Tosale mengenai stunting dan pencegahannya pada bayi berisiko. Pelatihan ini menggunakan metode praktik langsung yang melibatkan 10 ibu-ibu kader Pembuatan Makanan Tambahan (PMT) sebagai pesertanya. Kegiatan inti pelatihan ini adalah praktik pembuatan puding daun kelor sebagai alternatif makanan tambahan pencegah stunting, disertai dengan pemaparan materi terkait stunting dan manfaat daun kelor. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam membuat puding daun kelor sebagai makanan tambahan bergizi. Temuan ini mengindikasikan bahwa pemanfaatan sumber daya lokal seperti daun kelor melalui pelatihan pembuatan makanan tambahan yang variatif perlu terus didukung, dan kegiatan ini memberikan alternatif bagi ibu-ibu kader PMT dalam menyajikan makanan tambahan yang berpotensi mencegah stunting pada bayi berisiko di Desa Tosale. Pelatihan serupa dengan memanfaatkan bahan pangan lokal lainnya disarankan untuk memperkaya pilihan makanan tambahan bergizi. Keywords: Daun kelor. Makanan tambahan. Pencegahan. Puding. Stunting PENDAHULUAN Stunting merupakan suatu kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis yang menjadi ancaman serius bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia dengan menghambat perkembangan kognitif dan potensi bonus demografi (Eko Putro Sandjojo. Rahmadhita, 2. Meskipun prevalensi stunting nasional menurun dari 24,4% pada 2021 menjadi 21,6% pada 2022, upaya berkelanjutan tetap esensial untuk mencapai target nasional (Liza Munira, 2. Provinsi Sulawesi Tengah, dengan angka 28,2% pada 2022, masih di atas rata Ae rata nasional dan termasuk dalam tujuh provinsi dengan stunting tertinggi. Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Kabupaten Donggala mencatat 32,4%, bahkan Kecamatan Banawa Selatan di ibu kota Donggala mencapai 31,4% (Ikram, 2. Berbagai faktor berkontribusi terhadap tingginya angka stunting, salah satunya adalah kurangnya asupan gizi yang memadai selama 1. 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), diperparah oleh pemberian makanan yang tidak tepat (Fitri, 2018. Rahmadhita, 2. Pendidikan ibu memegang peranan krusial, karena ibu dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan gizi yang rendah cenderung kesulitan dalam menyusun dan menyajikan makanan bergizi seimbang (Asahan, 2. Dampak stunting bersifat jangka panjang, mulai dari penurunan produktivitas hingga peningkatan risiko penyakit metabolik. Intervensi efektif idealnya dilakukan sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun, di mana pola asuh dan perilaku pemberian makan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan gizi ibu (Aryastami et al. De Onis, 2011. Demirchyan, 2. Dalam upaya pemenuhan gizi anak balita, pemanfaatan sumber daya lokal dapat menjadi solusi berkelanjutan dan terjangkau. Desa Tosale, yang menghadapi tantangan stunting, memiliki potensi sumber daya pangan lokal yang dapat dioptimalkan. Salah satu sumber daya yang menjanjikan adalah daun kelor (Moringa oleifera L). Di Desa Tosale sendiri, tanaman kelor mudah ditemukan dan telah lama dimanfaatkan secara tradisional oleh Penelitian menunjukkan bahwa daun kelor memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi, termasuk protein . ,7%), lemak . ,65%), karbohidrat . ,92%), kalsium . -50 m. , asam amino lengkap, antioksidan, dan antimikroba (Das et al. , 2012. Nweze et al. , 2. Kandungan nutrisi yang melimpah ini menjadikan daun kelor sebagai sumber daya lokal yang prospektif untuk mendukung program pencegahan stunting di Desa Tosale dan wilayah Oleh karena itu, kegiatan sosialisasi dan praktik pembuatan snack sehat berbahan dasar daun kelor di Desa Tosale menjadi langkah strategis. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu dalam memanfaatkan sumber daya lokal yang kaya gizi untuk mencegah risiko stunting pada anak-anak mereka. Dengan memberdayakan masyarakat Desa Tosale untuk mengolah daun kelor menjadi kudapan sehat, diharapkan dapat meningkatkan asupan gizi anak balita secara berkelanjutan dan berkontribusi pada penurunan angka stunting di wilayah tersebut. METODE KEGIATAN Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat Desa Tosale dalam pencegahan stunting dengan memanfaatkan daun kelor sebagai makanan tambahan bergizi. Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Kegiatan dilaksanakan pada 17-26 Juli 2023 dan melibatkan kader Pemberian Makanan Tambahan (PMT), kader posyandu, dan kader posbindu sebagai sasaran utama. Berikut ini adalah uraian alur kegiatan pelatihan pembuatan Puding kelor yang tersaji pada tabel 1 dibawah ini: Tabel 1. Alur Kegiatan Pelatihan Pembuatan Puding Kelor Tahap Kegiatan Deskripsi Singkat Pendidikan Masyarakat: Penyuluhan Stunting dan Potensi Daun Kelor Sesi pencegahan dini, serta pengenalan daun kelor sebagai sumber nutrisi Difusi Demonstrasi IPTEKS: Pengembanga pembuatan prototipe dan puding daun kelor Sosialisasi yang menarik dan Produk Puding mudah dikonsumsi. Daun Kelor Pelatihan: Praktik Pembuatan Puding Daun Kelor untuk Kader Pelatihan daun kelor, mulai dari persiapan alat dan Mediasi: Koordinasi dengan Kepala Desa Pemangku Kepentingan Lokal Koordinasi dengan kepala desa dan perangkat desa sebelum pelaksanaan Advokasi: Pendampingan Kader dalam Sosialisasi dan Implementasi Pendampingan kepada daun kelor. Pihak yang Terlibat Meningkatkan Kader PMT, pemahaman dan Posyandu. Posbindu. Tim Pelaksana PkM khususnya kader, tentang stunting daun kelor. Mengalih Kader PMT. Posyandu. Posbindu. Tim daun Pelaksana PkM prototipe produk Memberikan Kader PMT. Posyandu, praktis kepada Posbindu. Tim dalam Pelaksana PkM membuat puding dengan kualitas rasa dan tekstur yang sesuai. Membangun Kepala Desa. Perangkat Desa. Tim Pelaksana dukungan, izin PkM pihak desa. Memastikan Kader PMT. Posyandu, dan Posbindu. Ibu Hamil. Ibu Balita. Tim Pelaksana PkM stunting di Desa Tosale. Tujuan Utama Referensi Pendukung BKKBN Olson dan Reiners . Titaley. Sunawang, dan Helmizar Rogers . Knowles et al. Suprihatin & Sari . Moore . Susskind dan Cruikshank Freire . Wallerstein Duran . Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Penjelasan kegiatan dari setiap tahapan diuraikan dibawah ini: Pendidikan Masyarakat: Penyuluhan tentang Stunting dan Potensi Daun Kelor Kegiatan ini diawali dengan sesi penyuluhan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat, khususnya para kader, mengenai definisi stunting, dampak buruknya terhadap tumbuh kembang bayi, serta pentingnya pencegahan sejak dini. Materi penyuluhan juga mencakup pengenalan daun kelor sebagai sumber nutrisi lokal yang kaya akan vitamin, mineral, dan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan, termasuk dalam mendukung pertumbuhan anak. Penyuluhan disampaikan secara interaktif dengan menggunakan media visual dan diskusi untuk memastikan pemahaman yang mendalam (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), 2021 & Olson dan Reiners, 2. Difusi IPTEKS: Pengembangan dan Sosialisasi Produk Puding Daun Kelor Tahap ini berfokus pada alih teknologi pembuatan puding berbahan dasar daun kelor. Melalui demonstrasi dan praktik langsung, para kader diajarkan cara mengolah daun kelor menjadi makanan tambahan yang menarik dan mudah dikonsumsi oleh bayi dan anak-anak. Produk puding dipilih karena teksturnya yang lembut dan rasanya yang dapat dimodifikasi agar disukai. Kegiatan ini menghasilkan prototipe produk puding daun kelor yang dapat direplikasi oleh Masyarakat (Titaley. Sunawang, dan Helmizar, 2019 & Rogers, 2. Pelatihan: Praktik Pembuatan Puding Daun Kelor untuk Kader Pelatihan intensif diberikan kepada para kader PMT, posyandu, dan posbindu mengenai langkah-langkah praktis pembuatan puding daun kelor. Kegiatan ini mencakup persiapan alat dan bahan . gar-agar, santan, gula, susu, ekstrak daun kelo. , teknik pengolahan yang benar, hingga pengemasan sederhana yang menarik. Setiap tahapan didemonstrasikan secara jelas, diikuti dengan praktik langsung oleh para peserta dengan Evaluasi produk puding dilakukan untuk memastikan kualitas rasa dan tekstur yang sesuai (Knowles et al. , 2014 & Suprihatin & Sari, 2. Mediasi: Koordinasi dengan Kepala Desa dan Pemangku Kepentingan Lokal Sebelum pelaksanaan pelatihan, dilakukan koordinasi yang intensif dengan kepala desa dan perangkat desa. Kegiatan ini menunjukkan peran pelaksana PkM sebagai mediator dalam menjalin komunikasi dan mendapatkan dukungan dari pihak-pihak terkait di tingkat Mediasi ini bertujuan untuk memastikan kelancaran kegiatan, mendapatkan izin penggunaan fasilitas desa, serta membangun komitmen bersama dalam upaya pencegahan stunting di Desa Tosale (Moore, 2014 & Susskind dan Cruikshank, 1. Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Advokasi: Pendampingan Kader dalam Sosialisasi dan Implementasi Setelah pelatihan, dilakukan pendampingan kepada para kader dalam mensosialisasikan informasi tentang stunting dan manfaat puding daun kelor kepada masyarakat yang lebih luas, terutama ibu hamil dan ibu yang memiliki balita. Pendampingan juga mencakup bantuan dalam mengimplementasikan pembuatan dan pemberian puding daun kelor sebagai bagian dari program PMT di tingkat posyandu dan rumah tangga. Hal ini bertujuan untuk memastikan keberlanjutan program dan meningkatkan cakupan pencegahan stunting di Desa Tosale (Freire,1970 & Wallerstein dan Duran, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Tosale sukses terlaksana dengan fokus pada pemanfaatan daun kelor sebagai sumber daya lokal dalam pencegahan stunting. Program ini berupa pelatihan pembuatan puding berbahan dasar daun kelor yang diselenggarakan pada 18-19 Januari 2025. Sebanyak 10 ibu-ibu kader Pembuatan Makanan Tambahan (PMT) desa berpartisipasi aktif dalam pelatihan ini. Tujuan utamanya adalah membekali para kader PMT dengan pengetahuan dan keterampilan praktis untuk mengolah daun kelor, yang melimpah di desa tersebut, menjadi makanan tambahan yang menarik dan bergizi. Harapannya, upaya ini dapat berkontribusi signifikan terhadap pencegahan stunting pada bayi dan balita. Tabel 2. Daftar Nama dan Alamat Peserta Pelatihan Pembuatan Puding Berbahan Dasar Daun Kelor No. Nama Peserta Alamat Husna Dusun 1 Atmiyah Dusun 3 Sakinah Dusun 1 Lisda Dusun 2 Sukiyani Dusun 2 Yulianti Dusun 4 Wardah Dusun 2 Lisma Dusun 3 Ratna Dusun 1 Rahmawati Dusun 1 Pelaksanaan pelatihan ini mengadopsi model pemberian edukasi yang dipadukan dengan praktik langsung pembuatan puding daun kelor. Pendekatan ini dipilih berdasarkan temuan penelitian sebelumnya yang menunjukkan efektivitas kombinasi edukasi dan praktik dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan kader PMT terkait materi yang disampaikan serta prosedur pembuatan produk makanan tambahan (Fauzia, 2. Melalui sesi edukasi, para kader diberikan pemahaman mendalam mengenai pentingnya gizi seimbang Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 bagi tumbuh kembang bayi dan balita, bahaya stunting, serta kandungan gizi yang terdapat dalam daun kelor, terutama kandungan zat besi yang signifikan. Sesi praktik pembuatan puding daun kelor menjadi inti dari pelatihan ini. Para peserta secara aktif terlibat dalam setiap tahapan pembuatan puding, mulai dari persiapan bahan baku, proses pengolahan, hingga penyajian produk akhir. Kegiatan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis dalam membuat puding, tetapi juga menumbuhkan kreativitas dan inovasi para kader dalam mengolah sumber daya lokal menjadi produk yang menarik dan disukai oleh target sasaran, yaitu bayi dan balita. Produk puding daun kelor yang dihasilkan dalam pelatihan ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif makanan tambahan yang tidak hanya bergizi tetapi juga mudah diterima oleh bayi dan balita karena teksturnya yang lembut (Septiyanti, 2. Gambar 1. Dokumentasi Kegiatan Pelatihan Pembuatan Puding Daun Kelor Capaian utama dari program pelatihan ini adalah terciptanya variasi makanan tambahan berbasis sumber daya lokal yang dapat disajikan oleh ibu-ibu kader PMT. Sebelumnya, pilihan makanan tambahan mungkin terbatas, sehingga dengan adanya puding daun kelor ini, diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan keberagaman asupan gizi bayi dan balita di Desa Tosale. Puding daun kelor dipilih sebagai produk unggulan karena daun kelor (Moringa oleifer. dikenal memiliki kandungan gizi yang luar biasa, termasuk protein dan zat besi yang tinggi, yang sangat penting dalam mencegah stunting, yaitu kondisi gagal pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis (Armita, 2. Kandungan zat besi dalam daun kelor berperan krusial dalam mencegah anemia defisiensi besi, yang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya Respon positif dari masyarakat Desa Tosale terhadap pelaksanaan pelatihan ini menjadi indikator keberhasilan program. Dukungan yang besar dari masyarakat menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya upaya pencegahan stunting dan penerimaan terhadap inovasi makanan tambahan berbasis sumber daya lokal. Para ibu-ibu kader PMT menyatakan antusiasmenya dalam menerapkan ilmu yang telah diperoleh secara rutin demi menurunkan Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 angka stunting di desa mereka. Hal ini menunjukkan adanya transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas di tingkat masyarakat. Keberhasilan program pelatihan ini tidak terlepas dari potensi besar sumber daya lokal yang dimiliki oleh Desa Tosale, yaitu daun kelor. Pemanfaatan daun kelor sebagai bahan dasar puding tidak hanya memberikan nilai gizi yang tinggi tetapi juga merupakan solusi yang berkelanjutan dan ekonomis karena ketersediaannya di lingkungan sekitar. Dengan demikian, program ini tidak hanya memberikan solusi jangka pendek dalam penyediaan makanan tambahan tetapi juga mendorong kemandirian masyarakat dalam memanfaatkan potensi lokal untuk meningkatkan kesehatan dan gizi anak-anak mereka. Lebih lanjut, kegiatan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menanggulangi stunting melalui pendekatan gizi spesifik dan gizi sensitif. Puding daun kelor sebagai makanan tambahan merupakan intervensi gizi spesifik yang secara langsung memberikan asupan zat gizi penting bagi bayi dan balita. Selain itu, pemberdayaan ibu-ibu kader PMT melalui pelatihan ini juga merupakan bagian dari intervensi gizi sensitif yang meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di tingkat masyarakat dalam mendukung upaya pencegahan Meskipun pelatihan ini telah mencapai hasil yang positif, penting untuk melakukan monitoring dan evaluasi berkelanjutan terhadap implementasi penggunaan puding daun kelor sebagai makanan tambahan di tingkat rumah tangga. Evaluasi ini dapat meliputi tingkat penerimaan bayi dan balita terhadap puding, frekuensi pemberian, serta dampaknya terhadap status gizi anak. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar untuk pengembangan dan penyempurnaan program di masa mendatang. Implikasi dari kegiatan pengabdian ini sangat signifikan bagi upaya pencegahan stunting di Desa Tosale. Dengan adanya kader PMT yang terampil dalam membuat variasi makanan tambahan bergizi berbasis sumber daya lokal, diharapkan ketersediaan makanan yang sehat dan menarik bagi bayi dan balita akan meningkat. Hal ini pada akhirnya dapat berkontribusi pada perbaikan status gizi anak-anak di desa tersebut dan menurunkan prevalensi stunting. Selain itu, keberhasilan program ini juga dapat menjadi model bagi desadesa lain yang memiliki potensi sumber daya lokal serupa dalam upaya pencegahan stunting. Sebagai penutup, program pelatihan pembuatan puding berbahan dasar daun kelor ini merupakan langkah konkret dalam memanfaatkan sumber daya lokal untuk mengatasi masalah stunting di Desa Tosale. Keterlibatan aktif kader PMT, dukungan masyarakat, serta potensi gizi daun kelor menjadi faktor kunci keberhasilan program ini. Diharapkan, inisiatif Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 ini dapat berkelanjutan dan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kesehatan dan tumbuh kembang generasi penerus di Desa Tosale. KESIMPULAN Pelatihan pembuatan puding berbahan dasar kelor telah memberikan edukasi yang berguna dan bermanfaat bagi ibu-ibu kader Pembuatan Makanan Tambahan (PMT) di Desa Tosale. Keterampilan ini tidak hanya memperkaya variasi makanan tambahan yang dapat disajikan, tetapi juga secara langsung memanfaatkan sumber daya lokal, yaitu daun kelor, yang dikenal memiliki kandungan nutrisi penting untuk pencegahan stunting pada bayi Dengan demikian, kegiatan ini berkontribusi pada peningkatan wawasan dan pengetahuan ibu-ibu kader dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam sekitar untuk mengatasi permasalahan stunting di Desa Tosale. Diharapkan, pengetahuan ini dapat diteruskan kepada masyarakat luas, memperkuat upaya kolektif dalam pencegahan stunting di tingkat desa. UCAPAN TERIMAKASIH Kami menyadari bahwa pelaksanaan kegiatan pengabdian ini tidak akan berjalan dengan baik dan selesai sesuai jadwal apabila tidak ada bantuan dari semua pihak, sehingga program-program yang telah direncanakan dapat terealisasi dengan baik dan dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Oleh karena itu perkenankanlah kami menghaturkan ucapan terimakasih kepada Pemerintah Desa, ibu Ae ibu yang turut hadir dalam pelaksanaan kegiatan ini, serta pihak lain yang telah berkontribusi besar dalam pelaksanaan kegiatan ini. DAFTAR PUSTAKA