PENANGGULANGAN TINGKAT KERAWANAN DAERAH BANJIR DI JALAN WAHID HASYIM II KOTA SAMARINDA Muhammad Rio Risanta Pembimbing I : Dr. Ir. Yayuk Sri Sundari. ,M. Pembimbing II : Suharto,ST. ,M. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda ABSTRACT Banjir yang terjadi di Jalan Wahid Hasyim II ini merupakan dasar yang melatar belakangi pelaksanaan penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja yang menjadi penyebab banjir dikawasan tersebut, mengetahui nilai kapasitas yang cukup untuk daya tampung saluran drainase nya, dan juga mengetahui bagaimana cara penanganan menanggulangi banjir nya di Jalan Wahid Hasyim II tersebut. Dalam pelaksanaannya diperlukan survey di lapangan mengenai dimensi saluran yang ada, panjang lintasan terjauh, waktu konsentrasi, dan cacthmen area. Dalam menganalisis data sekunder diperlukan perhitungan mengenai luas DAS, data curah hujan dari BMKG setempat, penentuan hujan rencana, dan menganalisis intensitas hujan rencana. Dalam menganalisis data primer diperlukan cara survey langsung di lapangan untuk pengambilan data dokumentasi, survey batas daerah tangkapan air dan luas total perencanaan. Dari hasil studi di lapangan didapatkan panjang lintasan terjauh yang dilalui air yaitu . ,003 k. Analisis intensitas hujan rencana untuk periode ulang 2, 5, 10 dan 25 tahun berturut-turut. Setelah dilakukan pengecekan maka didapatkan bahwa kapasitas yang tersedia tidak memadai dalam menampung debit hujan maksimum yang terjadi sehingga diperlukan perbaikan sistem drainase. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah dengan membuat saluran drainase pengalih, yang di rencanakan di Gang Ahim. Kata kunci : Banjir. Drainase. Waktu konsentrasi. Intensitas hujan. Periode ulang. Debit Maksimum. Saluran Drainase Pengalih ABSTRACT The flood that occurred in Wahid Hasyim II street is the basis of the background of the implementation of this research. The purpose of this study is to find out what are the causes of the flood of the area, to know the value of sufficient capacity for the capacity of its drainage channel, and also to know how to handle the flood in Wahid Hasyim II street. In practice, field surveys of available channel dimensions, longest track lengths, concentration time, and cacthmen area are required. In analyzing the secondary data it is necessary to calculate the area of the watershed, rainfall data from local BMKG, rainfall plan, and analyze the rain intensity of the plan. In analyzing the primary data is needed a direct survey in the field for documentation data collection, boundary watershed survey and total area of planning. The study results can be obtained through the farthest path length through which the water is . ,003 k. Rain intensity analysis of plans for repeat periods of 2, 5, 10 and 25 years in a row. After checking it was found that the available capacity is inadequate to accommodate the maximum rainfall occurring discharge so that the necessary improvement of the drainage system. One solution that can be implemented to create a drainage channel switcher, which was planned in Ahim alley. Keywords : flooding, drainage, time of concentration, intensity of rain, repeated periods, debit Maximum. Drainage Channel Diversion. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Banjir adalah ancaman alam yang paling sering terjadi dan paling banyak merugikan, baik dari segi kemanusiaan maupun ekonomi. Kerugian yang diakibatkan banjir seringkali sulit diatasi baik oleh masyarakat maupun instansi terkait. Banjir biasanya terjadi karena sungai atau saluran tidak mampu mengalirkan sejumlah air hujan yang mengalir di atas permukaan. Aliran permukaan dari semua arah dan dari semua tempat menuju buangan alami dalam bentuk sungai atau saluran. Aliran permukaan dari segenap lokasi dalam kawasan DAS (Daerah Aliran Sunga. akan mengalir ke sungai. Masalah banjir merupakan masalah yang sering terjadi di Indonesia, salah satunya terjadi di Kota Samarinda. Kota Samarinda merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Timur. Sebagai Ibu Kota Provinsi Kota Samarinda yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan, pusat sektor industri, pusat sektor perdagangan, sektor pendidikan sekaligus sebagai pusat dari sektor pariwisata. Seiring dengan berjalannya waktu. Kota Samarinda berkembang dengan pesat. Pada saat musim hujan debit permukaan yang berasal dari daerah limpasan air permukaan setiap tahun semakin besar, karena air yang meresap ke dalam tanah semakin berkurang seiring dengan perubahan tata guna lahan tersebut. Disamping permasalahan banjir sebagai akibat adanya perubahan tata guna lahan, adapun pembahasan mengenai tentang penanggulangan banjir di daerah Jalan Wahid Hasyim II Samarinda. Tentu hal ini lah yang akan menjadi pertanyaan, bagaimana bisa terjadinya banjir di daerah tersebut. Hal-hal apa saja yang mempengaruhi terjadinya banjir di daerah tersebut. Bagaimana cara menanggulangi nya. Dan hal-hal apa saja yang perlu di perhitungkan agar di daerah tersebut tidak terjadi banjir lagi. Rumusan Masalah Apa penyebab yang mempengaruhi banjir di Jl. Wahid Hasyim II ? Berapa kapasitas daya tampung drainase di Jl. Wahid Hasyim II ? Bagaimana penanggulangan banjir di Jl. Wahid Hasyim II ? Batasan Masalah Lokasi yang ditinjau adalah sistem saluran drainase yang ada di Jl. Wahid Hasyim II. Faktor Ae faktor yang mempengaruhi terjadinya banjir di Jl. Wahid Hasyim II. Perhitungan kapasitas daya tampung saluran drainase di Jl. Wahid Hasyim II. Perhitungan curah hujan efektif dengan metode log Person Type i dan Metode Gumbel untuk kala ulang 2, 5, 10 dan 25 Perhitungan dimensi saluran yang dapat menampung hingga 2027 Maksud Penelitian Mengetahui mempengaruhi dan penyebab banjir di Jl. Wahid Hasyim II. Mengetahui berapa kapasitas daya tampung saluran drainase yang cukup untuk menanggulangi banjir di Jl. Wahid Hasyim II. Mengetahui menanggulangi banjir di Jl. Wahid Hasyim II. Tujuan Penilitian Untuk mendapatkan hal-hal apa saja yang menjadi penyebab banjir di Jl. Wahid Hasyim II. Untuk mendapatkan nilai kapasitas daya tampung saluran drainase yang cukup untuk menanggulangi banjir di Jl. Wahid Hasyim II. Untuk mendapatkan cara bagaimana penanganan menanggulangi banjir di Jl. Wahid Hasyim II. Manfaat Penilitian Dengan adanya penanggulangan tingkat kerawanan banjir di Jl. Wahid Hasyim II, dapat membantu atau memberikan solusi kepada pemerintah Kota Samarinda untuk mengatasi banjir khususnya di daerah Jl. Wahid Hasyim II Sebagai saran masukan pemerintah kota Samarinda untuk mengatasi banjir di daerah Jl. Wahid Hasyim II dan DASAR TEORI Pengertian Drainase Secara umum drainase didefinisikan sebagai ilmu pegetahuan yang mempelajari usaha untuk mengalirkan air yang berlebihan dalam suatu konteks pemanfaatan tertentu. Sedangkan drainase perkotaan adalah ilmu drainase yang mengkhususkan pengkajian pada kawasan perkotaan yang erat kaitannya dengan kondisi Lingkungan Fisik dan Lingkungan Sosial Budaya yang ada di kawasan kota tersebut. Drainase perkotaan merupakan sistem pengeringan dan pengaliran air dari wilayah perkotaan yang meliputi : Pemukiman, kawasan industri dan perdagangan, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas umum lainnya, lapangan olah raga, lapangan parker, instalasi militer, instalasi listrik & telekomunikasi, pelabuhan udara, pelabuhan laut/sungai serta tempat lainnya yang merupakan bagian dari sarana kota. Analisa Hidrologi Analisa hidrologi merupakan tahapan paling penting sebelum perhitungan hidrolika dari bangunan drainase, untuk menentukan laju aliran, limpasan permukaan . un of. dan debit . (Subarkah, 1. Data curah hujan merupakan data hidrologi yang penting. Data curah hujan ini diperoleh dari stasiun hujan yang mewakili di sekitar kajian. Data hujan yang diambil dari berbagai stasiun hujan diuji untuk mengetahui apakah data tersebut konsisten atau tidak. Uji konsistensi merupakan uji kebenaran data lapangan yang mengambarkan keadaan Untuk rancangan maksimum dipergunakan analisa frekuensi yang sesuai dengan data yang adda sedangkan untuk mengetahui kebenaran dari analisa frekuensi tersebut diperlukan uji distribusi frekuensi (Subarkah, 1. Perhitungan Curah Hujan Rancangan Dalam perhitungan curah hujan rancangan ini digunakan analisa frekuensi. Sistem Drainase Perkotaan yang BerkelanjutanAy Frekuensi adalah besarnya kemungkinan suatu besaran hujan disamai atau dilampaui. Sebaliknya kala ulang . periode adalah waktu hipotetik dimana hujan dengan suatu besaran tertentu akan disamai atau Adapun untuk menghitung analisa frekuensi digunakan metode-metode sebagai berikut (Suripin 2. Metode E. Gumbel Apabila jumlah populasi yang terbatas maka menggunakan persamaan (Suripin 2. X A X A sK Dengan : = Harga rerata sample = Standar deviasi K dihitung dengan persamaan : Yt A Yn Keterangan : = Reduced tergantung jumlah sample/data . = Reduced variate, yang dapat dihitung dengan persamaan ataupun dengan tabel. = Reduced standard deviation yang juga tergantung pada jumlah sample/data n . impangan bak. = Faktor frekuensi Substitusikan persamaan . ke dalam persamaan . , maka akan didapat persamaan berikut : Y A Yn Xt A X A t Yn S Yt S A Atau X t A b A Yt A X A Dimana, aA dan b A X A n Metode Log Person Tipe i Adapun dalam studi ini, curah hujan rancangan dihitung dengan menggunakan metode Log Person Tipe i, karena metode ini dapat dipakai untuk semua sebaran data tanpa harus memenuhi syarat koefisien kemencengan . dan koefisien kepuncakan . Distribusi Log Person i mempunyai koefisien kemencengan (Coefisien of Skwenne. atau Cs, koefisien kurtosis (Coefisien Curtosi. atau Ck dan koefisien varians atau Cv. LangkahAelangkah penggunaan Distribusi Log Person i Ubah data ke dalam bentuk logaritmis. X = log X Hitung Harga rata Ae rata Eu Log xi Log X A i A1 (Dr. Ir. Drs. Nugroho Hadisusanto. Dipl. H, 2010. Dimana : Log X = Nilai curah hujan rata-rata = Nilai curah hujan rata-rata = Jumlah data Hitung harga simpangan baku (Dr. Ir. Drs. Nugroho Hadisusanto. Dipl. H, 2010. E n E Eu Log X A Log X S A E i A1 n A1 A EE Dimana : S = Standar Deviasi Log X = Jumlah nilai curah hujan Log xi = Nilai curah hujan rata-rata = Jumlah data Hitung Koefesien Variasi Cv = S : Log xi (Dr. Ir. Drs. Nugroho Hadisusanto. Dipl. H, 2010. Dimana : Cv = Koefesien variasi = Standar deviasi Log xi = Nilai curah hujan rata-rata Hitung koefisien kemencengan Cs A A nEu Log X A Log X i A1 An A 1AAn A 2As 3 (Dr. Ir. Drs. Nugroho Hadisusanto. Dipl. H, 2010. Dimana : Cs = Koefesien kemencengan Log xi = Nilai curah hujan rata-rata Log xi = Jumlah nilai curah hujan = Jumlah data = Standar deviasi Hitung koefisien Kortusis : Ck A A n Eu Log Xi A Log X i A1 An A . A . A . A . S 4 (Dr. Ir. Drs. Nugroho Hadisusanto. Dipl. H, 2010. Dimana : Ck = Koefesien kemencengan Log xi = Nilai curah hujan rata-rata Log X = Jumlah nilai curah hujan = Jumlah data = Standar deviasi Log Person Tyipe i mempunyai syarat perhitungan nilai dari Koefesien kemencengan atau Cs O 0. Hitung logaritma hujan atau banjir dengan periode ulang T dengan rumus : Keterangan : Log X T A Log X A K E s = X yang terjadi dalam kala ulang T = Rata-rata dari seri data X = Seri data maksimum tiap tahun = Simpangan baku = Faktor frekuensi = Jumlah data Dimana K adalah variabel standar . tandardized variabl. untuk X yang besarnya tergantung Tabel memperlihatkan harga K untuk berbagai nilai Uji Smirnov Kolmogorov Diperlukan penguji parameter untuk menguji kecocokan . he goodness of fittest tes. distribusi frekuensi sampel data terhadap fungsi distribusi peluang yang diperkirakan dapat menggambarkan atau mewakili distribusi tersebut, untuk keperluan analisis uji kesesuaian digunakan dua metode statistik, yaitu Uji Chi Square dan Uji Smirnov Kolmogorov (Suripin, 2. Uji Smirnov Kolmogorov Uji Smirnov Kolmogorov digunakan untuk maksimum antara distribusi empiris dan distribusi teoritis yang disebut Amaks-Prosedur, perhitungan uji smirnov kolmogorov adalah sebagai berikut : Data diurutkan dari kecil ke besar. Menghitung peluang empiris (P. dengan Weibull (Hadisusanto, 2. Pe = Dengan : Pe = peluang empiris m = nomor urut data n = banyaknya data Menghitung peluang teoritis (R) dengan Pt Ae 1 - Pr Dengan : Pt = Peluang teoritis (Probabilita. Pr = Probabilitas yang terjadi Menghitung simpangan maksimum (OImak. dengan rumus : OImaks = iCPt - PeiC Dengan : OImaks = Selisih data probabilitas teoritis dan empiris. Pt = Peluang teoritis (Probabilita. Pe = Peluang empiris. Menentukan nilai OItabel Menyimpulkan hasil perhitungan, yaitu apabila OImaks < OItabel maka distribusi teoritis persamaan distribusi dapat diterima, dan apabila OImaks < OItabel maka distribusi teoritis persamaan distribusi tidak dapat diterima (Suripin, 2. Uji Chi Square / Uji Chi-Kuadrat Uji Chi Square dimaksudkan untuk menentukan apakah persamaan distribusi peluang yang telah dipilih dapat mewakili dari distribusi statistik sampel data yang dianalisis. Pengambilan keputusan uji ini menggunakan Parameter N2. Parameter N2 dapat dihitung dengan mengunakan rumus (Suripin, 2. Oi = 2 A EuA O A E A i A1 Jumlah kelas distribusi dihitung dengan persamaan : K = 1 3,322 x log n Dengan :2h = Parameter Chi Square terhitung. G = Jumlah sub kelompok. Oi = Jumlah nilai pengamatan pada sub kelompok i. Ei = Jumlah nilai teoritis pada sub kelompok i. n = Banyaknya data. K = Jumlah Kelas Prosedur uji Chi Square adalah sebagai berikut (Suripin, 2. Urutkan data pengamatan . ari besar ke kecil atau sebalikny. Kelompokkan data menjadi G sub grup, tiaptiap sub grup minimal empat data pengamatan. Jumlahkan data pengamatan sebesar Oi tiaptiap sub grup. Jumlahkan data dari persamaan distribusi yang digunakan sebesar Ei. Tiap-tiap sub grup dihitung nilai : Oe ) dan Jumlah seluruh G sub group nilai menetukan nilai Chi Square Tentukan derajat kebebasan dk = G - R - 1 . ilai R = 2 untuk distribusi normal dan Cacthman Area Catchment cakupan/tangkapan apabila terjadi hujan. Semakin besar catchment area maka semakin besar pula debit yang terjadi. Prinsip dasar dari penentuan daerah tangkapan adalah dengan prinsip beda tinggi. Air akan mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Untuk kawasan yang cenderung datar pembagian catchment area dapat diasumsikan terbagi rata pada tiap sisi menuju saluran drainase. Untuk daerah-daerah berbukit, penentuan catchment area berpatokan pada titik tertinggi, yang kemudian akan mengalir ketempat yang rendah berdasar alur Koefisien Pengaliran/Limpasan (C) Salah satu konsep penting dalam upaya mengendalikan banjir adalah koefisien aliran permukaan . yang biasa dilambangkan dengan C. Koefisien C didefinisikan sebagai nisbah antara laju puncak aliran permukaan terhadap intensitas hujan. Faktor utama yang mempengaruhi nilai C adalah laju infiltrasi tanah, tanaman penutup tanah dan intensitas hujan (Arsyad, 2. Koefisien pengaliran ini merupakan cerminan dari karakteristik daerah pengaliran yang dinyatakan dengan angka 0-1 bergantung pada banyak faktor. Di samping faktor meteorologis, faktor daerah aliran, faktor yang mempunyai pengaruh besar terhadap koefisien pengaliran adalah campur tangan manusia dalam merencanakan tata guna lahan. Koefisien pengaliran pada suatu dearah (Sosrodarsono dan Takeda, 1. Kondisi hujan. Luas dan bentuk daerah aliran. Kemiringan daerah aliran dan kemiringan dasar sungai. Daya infiltrasi dan perkolasi tanah. Kebasahan tanah. Suhu udara, angin dan evaporasi. Tata guna lahan. Jika DAS terdiri dari berbagai macam penggunaan lahan dengan koefisisen pengaliran yang berbeda, maka nilai koefisien pengaliran (C) yang dipakai adalah koefisien DAS yang dapat dihitung dengan persamaan berikut (Suripin. Dengan : C1. C2. atau C = i=1 Ci . i=1 . = Koefisien pengaliran yang sesuai dengan tipe kondisi permukaan. A1. A2. A3 = Luas daerah pengaliran yang diperhitungkan sesuai dengan kondisi permukaan = Luas lahan dengan jenis penutup = Koefisien pengaliran jenis penutup = Jumlah jenis penutup lahan Intensitas Curah Hujan Intensitas curah hujan adalah jumlah hujan yang dinyatakan dalam tinggi hujan . tiap satu satuan tahun . Waktu Konsentrasi . adalah waktu yang diperlukan untuk mengalirkan air dari titik yang paling jauh menuju ke titik control yang ditentukan di bagian hilir saluran. Pada prinsipnya waktu konsentrasi dapat dibagi menjadi : - Inlet Time . yaitu waktu yang diperlukan untuk mengalir di atas permukaan tanah menuju saluran. Conduit Time . yaitu waktu yang diperlukan air untuk mengalir di sepanjang saluran menuju titik kontrol yang ditentukan dibagian hilir. Waktu konsentrasi sangat bervariasi dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut : - Luas daerah pengaliran. - Panjang saluran drainase. - Debit dan kecepatan aliran. - Kemiringan dasar drainase. Untuk menghitung intensitas curah hujan menggunakan rumus Metode Mononobe dengan rumus ( Suripin, 2004 ) : ( ) / Dimana : = Intensitas hujan selama waktu konsentrasi . m/ja. = Curah hujan . = Waktu konsentrasi (Ja. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya intensitas curah hujan adalah kala ulang dan waktu Kala Ulang Adalah periode jatuhnya hujan pada intensitas hujan tertentu yang digunakan sebagai dasar periode perencanaan saluran. Saluran drainase terbagi menjadi dua, yaitu drainase wilayah perkotaan . rainase kot. dan drainase wilayah regional . rainase regiona. Drainase kota dibagi menjadi lima (Moduto, 1. Saluran Drainase Induk Utama (DPS > 100 h. Saluran Drainase Induk Madya (DPS 50 Ae 100 Saluran Drainase Cabang Utama (DPS 25 Ae 50 Saluran Drainase Cabang Madya (DPS 5 Ae 25 h. Saluran Drainase Tersier (DPS 0 Ae 5 h. Saluran drainase induk . tama dan madya dengan DPS > 50 h. dapat dikategorikan ke dalam system drainase mayor karena akibat kerusakan banjir dianggap besar, sedangkan saluran drainase cabang utama . ekunder DPS < 50 h. dapat dikategorikan ke dalam system drainase minor karena akibat kerusakan banjir dinggap kecil. Sistem Drainase Minor Sistem drainase minor merupakan bagian dari sistem drainase yang menerima debit limpasan maksimum dari mulai aliran awal, yang terdiri dari inlet limpasan permukaan jalan, saluran dan parit drainase tepi jalan, gorong Ae gorong, got air hujan, saluran air terbuka dan lain-lain, yang didesain untuk menangani limpasan banjir minor sampai DPS sama dengan 50 ha. Saluran drainase minor didesain untuk Periode Ulang Hujan (PUH) 2 Ae 10 tahun, tergantung dari tata guna lahan di sekitarnya (Moduto. Sistem Drainase Mayor Selain untuk menerima limpasan banjir minor, sarana drainase harus dilengkapi dengan suatu saluran yang dapat mengantisispasi terjadinya kerusakan-kerusakan besar akibat limpasan banjir yang mungkin terjadi setiap 25 Ae 100 tahun sekali. Sarana system drainase mayor meliputi saluran alami dan buatan, daerah banjir, dan jalur saluran drainase pembawa aliran limpasan besar serta bangunan pelengkapnya (Moduto, 1. Waktu Konsentrasi (T. Waktu konsentrasi (T. adalah waktu yang diperlukan untuk mengalirkan air dari titik yang paling jauh pada daerah aliran ke titik kontrol yang ditentukan di bagian hilir suatu saluran. Waktu konsentrasi dapat dihitung dengan membedakannya menjadi dua komponen, yaitu . waktu yang diperlukan air untuk mengalir di permukaan lahan sampai saluran terdekat dan . waktu perjalanan dari pertama masuk saluran sampai titik keluaran, waktu konsentrasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus ( Suripin, 2004 ) : 3,28 ) menit Dimana : Dan Oo ) menit Keterangan : = Waktu konsentrasi (Ja. = Waktu yang diperlukan air dari titik yang terjauh ke saluran terdekat . = Waktu perjalanan dari pertama masuk saluran sampai titik keluaran . nd = Koefisien Hambatan = Panjang lintasan aliran diatas permukaan lahan . S = Kemiringan lahan. V = Kecepatan air rata-rata disalurkan . /dt. Debit Banjir Rancangan Debit banjir rancangan adalah debit banjir terbesar yang mungkin terjadi pada suatu daerah dengan peluang kejadian tertentu. Debit banjir rancangan untuk perencanaan suatu system jaringan drainase diperhitungkan dari debit air hujan dan debit buangan penduduk denganperiode ulang T . Metode untuk memperkirakan laju aliran permukaan puncak yang umum dipakai adalah metode Rasional USSCS . Metode ini sangat simpel dan mudah pengunaannya. Metode ini masih cukup akurat apabila diterapkan pada suaatu wilayah perkotaan yang kecil sampai sedang. Persamaan matematik metode rasional dinyatakan dalam bentuk ( Soewarno, 1995 ) : Q = 0,278. Dengan : Q = Debit banjir . 3/dt. C = Koefisien pengaliran A = Luas DAS . I = Intensitas hujan . /dt. Atau Q = 0,00278. Dengan : Q = Debit banjir . 3/dt. C = Koefisien pengaliran A = Luas DAS (H. I = Intensitas hujan . /dt. Anilsa Hidraulika Kapasitas Saluran Perhitungan dimensi saluran digunakan rumus kontinuitas dan rumus Manning, sebagai berikut: Q = A . Dimana : A : Luas penampang melintang saluran . A) V : Kecepatan rata-rata aliran . /dt. Kecepatan aliran air merupakan salah satu parameter penting dalam mendesain dimensi saluran, dimana kecepatan minimum yang diperbolehkan tidak akan menimbulkan pengendapan dan mencegah pertumbuhan tanaman dalam saluran. Sedangkan kecepatan maksimum yang diperbolehkan tidak akan menimbulkan penggerusan pada bahan saluran. Rumus : V = 1/n. R Ii . Dimana : V : kecepatan rata-rata aliran . /dt. n : Koefisien manning R : Jari Ae jari hidrolis S : Kemiringan saluran ( m ) Kemiringan Saluran Kemiringan saluran disesuaikan dengan keadaan topografi dan energi yang diperlukan untuk mengalirkan air secara gravitasi dan kecepatan yang ditimbulkan harus sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Kemiringan saluran samping jalan ditentukan berdasarkan bahan yang digunakan, hubungan antara bahan yang digunakan dengan kemiringan saluran samping jalan arah memanjang yang dikaitkan dengan erosi aliran. memperlihatkan hubungan kemiringan saluran samping jalan dan jenis material. Tinggi Jagaan Tinggi jagaan untuk saluran terbuka dengan pertimbangan-pertimbangan antara lain : ukuran saluran, kecepatan aliran, arah belokan saluran dan debit banjir. Tinggi jagaan biasanya diambil antara 15 sampai 60 cm Bangunan Pelengkap Bangunan-bangunan dimaksud adalah bangunan yang ikut mengatur dan mengontrol sistem aliran air hujan yang ada dalam perjalanannya menuju pelepasan . agar aman dan mudah melewati daerah curam atau melintasi jalan-jalan raya. Bangunan-bangunan dimaksud berupa: gorong-gorong . , dan pintu otomatis . intu kle. Penampang Saluran Tipe saluran drainase ada dua macam, yaitu: saluran tertutup dan saluran terbuka. Dalam saluran tertutup kemungkinan dapat terjadi aliran bebas maupun aliran tertekan pada saat berbeda, misalnya gorong-gorong untuk drainase, pada saat normal alirannya bebas sedangkan pada saat banjir yang menyebabkan gorong-gorong penuh maka alirannya adalah tertekan. Aliran pada saluran terbuka mempunyai bidang kontak hanya pada dinding dan dasar saluran. Saluran terbuka dapat berupa: C Saluran alamiah atau buatan, yang terdiri dari: C Galian tanah, dengan atau tanpa lapisan penahan. C Terbuat dari pipa, beton, pasangan batu. C Berbentuk persegi, segitiga, trapesium, lingkaran, tapal kuda, atau tidak beraturan. METODOLOGI PENELITIAN Lokasi Penelitian Secara administrasi lokasi kegiatan berada di Kota Samarinda. Provinsi Kalimantan Timur. Lokasi Penelitian tersebut berada pada daerah kawasan Jl. Wahid Hasyim II. Sempaja Selatan. Samarinda Utara. Kota Samarinda. Populasi dan Sample Lokasi kajian berada di daerah permukiman yang padat sehingga dipilih proyek penelitian di Jalan Wahid Hasyim II Samarinda dengan panjang penanganan saluran drainase bagian kanan dan kiri 3,003 Km. Teknik Pengumpulan Data Untuk yang melakukan penyusunan tugas akhir ini, penulis mengumpulkan data-data yang dipakai untuk melakukan analisa dan perhitungan pada penelitian ini didapat dari beberapa sumber, antara lain : Pengumpulan data sekunder Data sekunder diperoleh dari instansi terkait yaitu dinas. Badan Metereologi. Klimatologi dan Geofisika (Stasiun Metereologi Temindung Samarind. Dinas Pekerjaan Umum (PU), dan instansi terkait lainnya. Pengumpulan Data Primer Data Primer diperoleh dengan cara survey langsung di lapangan (Jl. Wahid Hasyim II). Seperti pengambilan dokumentasi, survey batas daerah tangkapan air dan luas total perencanaan. Tahap Analisa Data Tahapan analisa data dalam melakukan penelitian ini adalah : Analisa Hidrologi - Analisa data curah hujan - Analisa curah hujan rata - Analisa debit banjir Analisa Hidrolika - Analisa saluran existing - Analisa data lapangan - Perencanaan saluran existing Waktu Penelitian Untuk menyelesaikan tugas akhir tentang penelitian ini, penulis memprediksikan waktu dari awal pengajuan judul selesainya penyusunan tugas akhir ini dengan waktu yang di berikan selama 3 . bulan dari pihak fakultas teknik. PEMBAHASAN Penyebab Yang Mempengaruhi Banjir Penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab terjadinya banjir di daerah Jalan Wahid Hasyim II. Berikut faktor Ae faktor penyebab yang mempengaruhi banjir yaitu sedimentasi dan Hasil Analisa Dalam studi ini dipakai data curah hujan harian kota Samarinda dari stasiun pencatat curah hujan Bandara Temindung kota Samarinda di mulai dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2016 . yang disajikan pada tabel. Dalam pengolahan data curah hujan ini digunakan curah hujan harian maksimum . tiap tahunnya. Tabel Curah Hujan Harian Rata Ae Rata Tahun 2000 sampai dengan Tahun 2016 . No. Tahun Curah Hujan Harian Maksimum . Tabel Perhitungan Curah Hujan Rancangan Menggunakan Metode Log Person Type i Curah og X . og X . og X . og X No Tahun Hujan (X) Log X log Xr. log Xr. 2 log Xr. 3 log Xr. 4 1,80956 -0,52640 0,27710 -0,14587 0,07679 1,94300 -0,39296 0,15442 -0,06068 0,02385 1,80956 -0,52640 0,27710 -0,14587 0,07679 1,94300 -0,39296 0,15442 -0,06068 0,02385 2,07262 -0,26335 0,06935 -0,01826 0,00481 2,03342 -0,30254 0,09153 -0,02769 0,00838 2,48643 0,15047 0,02264 0,00341 0,00051 2,53110 0,19513 0,03808 0,00743 0,00145 2,69984 0,36387 0,13240 0,04818 0,01753 2,49010 0,15414 0,02376 0,00366 0,00056 2,50529 0,16932 0,02867 0,00485 0,00082 2,50406 0,16810 0,02826 0,00475 0,00080 2,57054 0,23458 0,05503 0,01291 0,00303 2,56003 0,22406 0,05020 0,01125 0,00252 2,65108 0,31512 0,09930 0,03129 0,00986 2,53757 0,20160 0,04064 0,00819 0,00165 2,56419 0,22823 0,05209 0,01189 0,00271 Rata - Rata (Sumber : Hasil Perhitunga. Jumlah Tabel Perhitungan Curah Hujan Metode Gumbel Curah (Xi No Tahun Hujan (X) Xr. (Xi - Xr. 2 (Xi - Xr. 3 (Xi - Xr. 4 -201,41 40566,70 -8170610,43 1645657064,67 -201,41 40566,70 -8170610,43 1645657064,67 -178,21 31759,43 -5659904,62 1008661589,54 -178,21 31759,43 -5659904,62 1008661589,54 -157,91 24936,13 -3937707,57 621810351,59 -147,71 21818,77 -3222888,35 476058525,00 40,59 1647,40 66865,26 2713942,72 43,19 1865,22 80555,72 3479059,33 53,29 2839,64 151319,19 8063532,73 54,19 159116,43 8622238,50 73,79 5444,70 401755,08 29644798,03 6223,35 490949,39 38730130,87 9445,55 917996,64 89218472,98 100,69 10138,12 1020789,49 102781491,87 106,09 11254,71 1193992,71 126668579,74 181,89 33083,33 6017468,54 1094506733,05 235,09 55266,48 12992498,87 3054383631,83 -11328318,70 10965318796,65 Jumlah 4520,50 Rata - Rata 265,9118 Tahun Curah Hujan (X) 1,8096 1,8096 Log Xi Tabel Uji Smirnov Kolmogorof P`(X) P(X) = =(XiP. <) = m/. Xr. /S - . - P' . -1,6672 9 = nilai 1 - 8 0,0556 6=1-5 0,9444 0,0625 0,9375 10 = 6 - 9 0,0069 0,1111 0,8889 -1,6672 0,1250 0,8750 0,0139 1,9430 0,1667 0,8333 -1,2446 0,1875 0,8125 0,0208 1,9430 0,2222 0,7778 -1,2446 0,2500 0,7500 0,0278 2,0334 0,2778 0,7222 -0,9582 0,3125 0,6875 0,0347 2,0726 0,3333 0,6667 -0,8341 0,3750 0,6250 0,0417 2,4864 0,3889 0,6111 0,4766 0,4375 0,5625 0,0486 2,4901 0,4444 0,5556 0,4882 0,5000 0,5000 0,0556 2,5041 0,5000 0,5000 0,5324 0,5625 0,4375 0,0625 2,5053 0,5556 0,4444 0,5363 0,6250 0,3750 0,0694 2,5311 0,6111 0,3889 0,6180 0,6875 0,3125 0,0764 2,5376 0,6667 0,3333 0,6385 0,7500 0,2500 0,0833 2,5600 0,7222 0,2778 0,7097 0,8125 0,1875 0,0903 2,5642 0,7778 0,2222 0,7229 0,8750 0,1250 0,0972 2,5705 0,8333 0,1667 0,7430 0,9375 0,0625 0,1042 2,6511 0,8889 0,1111 0,9981 1,0000 0,0000 0,1111 2,6998 0,9444 0,0556 1,1525 1,0625 -0,0625 0,1181 4520,500 39,711 Jumlah P'. <) Rata - rata 265,912 2,336 (Sumber : Hasil Perhitunga. Tabel Perhitungan intensitas curah hujan periode ulang 10 tahun Saluran L . Siope Tc (Ja. Tc . R24 . I . m/ja. Saluran 1 0,004517 0,320 19,175 512,24 379,908 Saluran 2 0,004575 0,317 19,010 512,24 382,101 Saluran 3 0,008780 0,192 11,530 512,24 533,266 Saluran 4 0,008767 0,191 11,455 512,24 535,608 Saluran 5 0,011325 0,139 8,358 512,24 660,866 Saluran 6 0,011205 0,143 8,555 512,24 650,673 Saluran 7 0,004373 0,152 9,144 512,24 622,427 0,004423 0,149 8,934 512,24 632,110 Saluran 8 Sumber : Hasil Perhitungan Tabel Perhitungan Debit Aliran Periode Ulang 10 Tahun Saluran Saluran 1 I . m/ja. A . Qbr . 3/d. 0,308 379,908 0,22522 7,332 Saluran 2 0,401 382,101 0,31845 13,554 Saluran 3 0,401 533,266 0,15410 9,162 Saluran 4 0,240 535,608 0,16513 5,909 Saluran 5 0,407 660,866 0,06814 5,100 Saluran 6 0,358 650,673 0,07436 4,811 Saluran 7 0,356 622,427 0,08992 5,543 Saluran 8 0,410 632,110 0,06620 Sumber : Hasil Perhitungan 4,768 Perhitungan Kapasitas Saluran Drainase Pada Kondisi Tahun 2017 DIMENSI EXISTING SALURAN Saluran 3 Saluran 4 Saluran 5 Saluran 6 Saluran 7 Saluran 8 B . A . ) P . R . V Q . 3/d. Jumlah 38. Tabel Saluran Drainase yang direncanakan hingga 2027 ( 10 Tahun ) DIMENSI EXISTING SALURAN Saluran 3 Saluran 4 Saluran 5 Saluran 6 Saluran 7 Saluran 8 A . ) P . R . Jumlah 66. B . V Q . /d. Panjang Saluran 274 m. Q Saluran Drainase Pengalih = Jumlah Q saluran rencana periode 10 ulang tahun Ae Jumlah Q saluran existing. Jadi. Q saluran Drainase Pengalih : 66,006 m3/dt Ae 38,420 m3/dt = 27,586 m3/dt. Presentase air yang di alihkan ke saluran pengalih sebanyak 42% dari total Q saluran rencana dan Q saluran existing. PENUTUP Kesimpulan Dari hasil perhitungan pada penelitian ini maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Penyebab yang mempengaruhi banjir di Jalan Wahid Hasyim II pada kota Samarinda dapat disimpulkan sebagai - Sedimentasi yang terjadi akibat sisa Ae sisa material pekerjaan tambang batu - Pengendapan sampah dari daerah pemukiman padat penduduk yang ada di sekitar saluran drainase. - Kondisi dimensi penampang saluran yang tidak mencukupi. Kapasitas debit banjir pada saluran rancangan periode ulang 10 tahun adalah sebagai berikut: - Saluran 1 = 7,332 m3/detik - Saluran 2 = 13,554 m3/detik - Saluran 3 = 9,162 m3/detik - Saluran 4 = 5,909 m3/detik - Saluran 5 = 5,100 m3/detik - Saluran 6 = 4,811 m3/detik - Saluran 7 = 5,543 m3/detik - Saluran 8 = 4,768 m3/detik Penanggulangan Banjir di Jalan Wahid Hasyim II Kota Samarinda sebagai Dimensi saluran rencana > dimensi saluran Dalam perhitungan kapasitas daya tampung saluran drainase rancangan periode ulang 10 tahun sebenarnya Akan tetapi kenyataan yang ada di lapangan tidak bisa di aplikasikan untuk perhitungan perencanaan nya. Kondisi di daerah Jalan Wahid Hasyim II tidak memungkinkan lagi untuk di bongkar untuk rehabilitasi saluran drainase nya, karena adanya pemukiman padat penduduk di ruas jalan utama, dari arah kiri Jalan Wahid Hasyim II tidak bisa dilebarkan karena ada nya bangunan permanen, dari arah kanan jalan juga tidak memungkinkan untuk di lebarkan karna ada nya bangunan permanen serta bahu jalan yang sempit, untuk menanggulangi hal tersebut di rencanakan nya saluran pengalih sebagai salah satu solusi untuk mengatasi banjir di daerah Jalan Wahid Hasyim II. Kapasitas drainase pengalih yang mampu menampung sisa debit banjir : - Lebar Saluran (B) : 2,00 m - Tinggi Saluran penampang basah. : 1,70 m - Tinggi Jagaan . : 0,60 m Penampang yang digunakan yaitu berbentuk Persegi. Saran C Perlu adanya perubahan dimensi ukuran pada saluran yang mengalami limpasan/banjir. C Perlu adanya pembuatan saluran pengalih, setidaknya dapat mengurangi proses terjadinya banjir, karna sebagian air yang mengalir di limpahakan ke lain area, jadi air tidak tertumpuk dalam satu area saja. C Dilakukan normalisasi atau pengerukkan pada saluran agar sampah dan sedimentasi dapat dibuang sehingga air dapat mengalir dengan lancar dan cepat. C Perlu dilakukannya rehabilitasi secara menyeluruh terhadap saluran drainase agar dapat mengoptimalkan laju aliran air secara C Perlu ada nya penyuluhan buang sampah pada tempat nya untuk warga setempat. DAFTAR PUSTAKA