Center of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Peningkatan Kapasitas Masyarakat dalam Fardhu Kifayah di Desa Ujung Teran. Kecamatan Salapian. Kabupaten Langkat Satriyadi1. Indra Satia Pohan2. Muhammad Solihin Pranoto3. Syahrin Pasaribu4. Ulen Bangun5. Amru Syahputra6 1,2,3,4,5,6 Institut Syekh Abdul Halim Hasan Binjai. Indonesia Corresponding Author : satriyadi@insan. ABSTRACT Fardhu kifayah merupakan kewajiban kolektif umat Islam yang tidak hanya bernilai ritual, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial masyarakat. Di Desa Ujung Teran. Kecamatan Salapian. Kabupaten Langkat, pelaksanaan fardhu kifayah menghadapi kendala serius karena pemahaman warga yang masih terbatas serta tingginya ketergantungan pada figur Bilal mayit sebagai tokoh Kondisi ini menimbulkan risiko sosial ketika tokoh tersebut berhalangan Penelitian ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pelatihan berbasis multimetode berupa ceramah, demonstrasi, praktik langsung, dan diskusi interaktif. Kegiatan melibatkan 60 warga yang dipilih dengan purposive sampling, dengan pendekatan kualitatif deskriptif menggunakan model Participatory Action Research (PAR). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara singkat, praktik simulasi, dan dokumentasi, lalu dianalisis secara Hasil menunjukkan peningkatan signifikan, di mana warga yang memahami seluruh tahapan fardhu kifayah meningkat dari 15% menjadi 70%, sementara yang tidak memahami sama sekali turun dari 40% menjadi 5%. Selain itu, pelatihan ini mendorong lahirnya kesadaran kolektif bahwa fardhu kifayah adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas individu tertentu. Temuan ini membuktikan bahwa pendidikan nonformal berbasis praktik mampu menjadi strategi efektif dalam mengurangi ketergantungan pada figur tunggal sekaligus memperkuat kaderisasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan tradisi Islam. Keywords Fardhu Kifayah. Pengabdian Masyarakat. Bilal Mayit. Pemberdayaan Masyarakat PENDAHULUAN Fardhu kifayah merupakan salah satu konsep fundamental dalam ajaran Islam yang menegaskan pentingnya tanggung jawab kolektif umat. Pengurusan jenazah yang mencakup memandikan, mengkafani, menyalatkan, hingga menguburkan bukan hanya kewajiban ritual, melainkan juga wujud solidaritas sosial dan spiritual antaranggota masyarakat. Apabila kewajiban ini diabaikan, maka seluruh umat akan menanggung dosa, sehingga urgensi penguasaan fardhu kifayah oleh masyarakat luas menjadi semakin penting (Kasman & Rahman, 2. Dengan demikian, fardhu kifayah tidak dapat dipandang sekadar ritual keagamaan, tetapi juga instrumen sosial yang menjaga keterhubungan antarindividu dalam komunitas Muslim. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 181-191 Dalam konteks masyarakat pedesaan, seperti Desa Ujung Teran. Kecamatan Salapian. Kabupaten Langkat, praktik fardhu kifayah sangat erat kaitannya dengan figur lokal yang ahli dalam bidang ini, yang dikenal sebagai Bilal mayit. Keberadaan Bilal mayit menjadi sentral dalam memastikan pelaksanaan kewajiban keagamaan berjalan sesuai tuntunan syariat. Namun, realitas di lapangan memperlihatkan bahwa keberadaan Bilal mayit semakin terbatas, sementara regenerasi pengetahuan dan keterampilan di kalangan masyarakat belum berjalan optimal. Akibatnya, masyarakat menghadapi ketergantungan berlebihan pada sedikit individu, yang pada saat tertentu dapat menimbulkan keresahan sosial, terutama ketika musibah kematian terjadi secara mendadak (Taqiyuddin, 2. Hasil observasi awal yang dilakukan tim pengabdian menunjukkan bahwa dari sekitar 60 warga Desa Ujung Teran yang diwawancarai secara singkat, hanya 15% yang mampu menjelaskan tata cara pengurusan jenazah secara lengkap. Sebanyak 45% lainnya hanya mengetahui sebagian tahapannya, sedangkan 40% sisanya tidak memahami sama sekali. Kondisi ini menjadi bukti adanya kesenjangan kapasitas masyarakat dalam pemahaman dan keterampilan praktik fardhu kifayah. Fakta ini sejalan dengan temuan (Rahman, 2. , yang menemukan bahwa keterbatasan kemampuan masyarakat dalam penyelenggaraan fardhu kifayah mendorong perlunya pelatihan berbasis Participatory Action Research untuk meningkatkan kapasitas Urgensi penelitian sekaligus program pengabdian ini adalah memberikan solusi nyata atas keterbatasan tersebut dengan merancang pelatihan berbasis multimetode ceramah, demonstrasi, praktik langsung, dan diskusi interaktif yang dapat memperkuat pemahaman sekaligus keterampilan masyarakat. Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kemandirian warga Desa Ujung Teran dalam memenuhi kewajiban fardhu kifayah, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada Bilal mayit. Model pelatihan semacam ini juga relevan dengan temuan di berbagai wilayah, seperti kegiatan PKM di Desa Margamulya yang mampu meningkatkan pemahaman masyarakat hingga 80% setelah dilakukan sosialisasi dan praktik langsung (Muslina & Rahman, 2. Penelitian sebelumnya juga menegaskan pentingnya pendidikan nonformal berbasis agama dalam penguatan kapasitas keagamaan masyarakat. (Hemawati et al. , 2. menekankan bahwa pendidikan berbasis komunitas mampu menjadi sarana peningkatan mutu religiusitas masyarakat, sementara (Fadila & Solihah, 2. menggaris bawahi pentingnya manajemen keagamaan dalam mempertahankan tradisi Islam di tingkat lokal. Sejalan dengan itu, (Firman & Sugianto, 2. dalam program pengabdian di balikpapan Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 181-191 membuktikan bahwa metode ceramah dan praktik langsung dapat meningkatkan keterampilan santri dan masyarakat dalam pengurusan jenazah. Demikian pula, penelitian di Desa Teluk Pulai Luar menunjukkan bahwa pelatihan fardhu kifayah mampu menumbuhkan kader-kader baru yang siap melanjutkan peran Bilal mayit di tingkat desa (Hasanuddin et al. , 2. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi pendekatan akademis dengan praktik sosial yang dirancang sesuai kebutuhan masyarakat Desa Ujung Teran. Jika penelitian terdahulu lebih banyak fokus pada aspek edukatif atau teoritis, maka penelitian ini menghadirkan model pengabdian yang langsung aplikatif, di mana masyarakat menjadi subjek aktif, bukan sekadar Analisis kesenjangan menunjukkan bahwa meskipun terdapat penelitian mengenai pendidikan keagamaan nonformal (Husna et al. , 2. , kajian yang menghubungkan manajemen pendidikan Islam dengan praktik sosial fardhu kifayah masih sangat jarang. Oleh karena itu, penelitian ini hadir sebagai kontribusi nyata bagi pengembangan literatur PKM berbasis Islam sekaligus solusi praktis untuk pemberdayaan masyarakat pedesaan. Dengan memperhatikan kondisi tersebut, dapat dirumuskan permasalahan bahwa masih rendahnya pemahaman dan keterampilan masyarakat Desa Ujung Teran dalam pelaksanaan fardhu kifayah mengakibatkan adanya ketergantungan pada figur Bilal mayit, sehingga berpotensi menimbulkan keresahan sosial ketika tokoh tersebut tidak tersedia. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada upaya penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan berbasis praktik langsung untuk menjawab kebutuhan riil sekaligus mengurangi kesenjangan dalam pelaksanaan kewajiban fardhu kifayah. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan model Participatory Action Research (PAR) yang dipadukan dengan praktik pengabdian masyarakat, karena tujuan utama bukan hanya mendeskripsikan fenomena tetapi juga memberdayakan masyarakat melalui keterlibatan langsung dalam pelatihan fardhu kifayah (Sugiyono, 2. Populasi penelitian adalah masyarakat Desa Ujung Teran. Kecamatan Salapian. Kabupaten Langkat, dengan jumlah peserta sekitar 60 orang yang terdiri dari tokoh masyarakat, pemuda, ibu-ibu, dan perangkat desa, yang dipilih menggunakan metode purposive sampling berdasarkan kesediaan dan relevansi dengan tujuan kegiatan. Instrumen penelitian meliputi panduan observasi, lembar wawancara singkat, serta perlengkapan simulasi pengurusan jenazah . ain kafan, meja praktik, wadah air, dan peralatan lai. , yang digunakan untuk Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 181-191 mengukur pemahaman awal peserta serta mengevaluasi peningkatan keterampilan setelah pelatihan. Prosedur penelitian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu persiapan berupa koordinasi dengan pihak desa dan penyusunan materi, pelaksanaan pada 13 Agustus 2025 pukul 10. 00 WIB yang mencakup ceramah pengantar, demonstrasi tata cara pengurusan jenazah, praktik langsung oleh peserta, dan diskusi interaktif, serta evaluasi dengan memberi kesempatan peserta melakukan praktik ulang secara berkelompok dengan pengamatan tim dosen. Analisis data dilakukan dengan membandingkan pemahaman dan keterampilan sebelum dan sesudah kegiatan melalui observasi, wawancara, dan catatan lapangan yang dianalisis secara tematik untuk menemukan pola perubahan pemahaman masyarakat. Untuk menjaga validitas dan reliabilitas, dilakukan triangulasi data melalui kombinasi observasi langsung, wawancara, serta dokumentasi berupa foto dan catatan Meskipun bersifat kualitatif, evaluasi kuantitatif sederhana digunakan melalui persentase ketercapaian pemahaman berdasarkan hasil tanya jawab dan praktik, tanpa uji statistik lanjutan karena fokus penelitian terletak pada penguatan kapasitas masyarakat. Ruang lingkup penelitian terbatas pada masyarakat Desa Ujung Teran sehingga hasil tidak dapat digeneralisasi, namun model pelatihan yang digunakan bersifat replikatif dan dapat diterapkan di komunitas lain dengan kondisi serupa, sedangkan keterbatasan utama terletak pada waktu pelaksanaan yang singkat sehingga dampak jangka panjang belum dapat diukur secara menyeluruh. HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan Pemahaman dan Keterampilan Masyarakat dalam Fardhu Kifayah Kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Ujung Teran memperlihatkan kondisi awal bahwa mayoritas warga masih memiliki pemahaman yang rendah mengenai tata cara pelaksanaan fardhu kifayah. Wawancara singkat terhadap 60 orang peserta menunjukkan hanya 15% yang mampu menjelaskan seluruh tahapan dengan benar, 45% mengetahui sebagian prosedur, sedangkan 40% sama sekali tidak memahami. Fakta ini memperlihatkan adanya kesenjangan yang cukup besar antara tuntutan syariat yang menegaskan fardhu kifayah sebagai kewajiban kolektif dan keterampilan riil masyarakat dalam Situasi ini jika dibiarkan berpotensi menimbulkan persoalan sosial-keagamaan, karena kewajiban yang bersifat kolektif tidak dapat terpenuhi hanya oleh segelintir individu. Intervensi yang dilakukan melalui pelatihan berbasis ceramah, demonstrasi, praktik langsung, dan diskusi interaktif memberikan hasil yang Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 181-191 Ceramah membantu memperkuat landasan pemahaman normatif tentang urgensi fardhu kifayah, sementara demonstrasi memberikan contoh nyata yang dapat ditiru oleh peserta. Praktik langsung menjadi inti kegiatan karena warga mendapat kesempatan mencoba secara berulang, mulai dari memandikan, mengkafani, menyalatkan, hingga menguburkan jenazah Diskusi interaktif selanjutnya memungkinkan peserta mengklarifikasi kebingungan yang muncul. Setelah seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan, terlihat peningkatan keterampilan warga yang cukup nyata. Perbandingan tingkat pemahaman masyarakat sebelum dan sesudah pelatihan memperlihatkan lonjakan signifikan. Warga yang sebelumnya memahami seluruh tahapan hanya 15%, naik menjadi 70% setelah kegiatan. Sebaliknya, mereka yang tidak memahami sama sekali berkurang drastis dari 40% menjadi 5%. Data ini menegaskan bahwa pelatihan berbasis partisipatif memberikan dampak positif yang substansial. Hal ini memperlihatkan bahwa keterampilan fardhu kifayah bukanlah sesuatu yang sulit dikuasai, melainkan membutuhkan metode pembelajaran yang tepat dan fasilitasi yang memadai dari pihak eksternal seperti dosen atau tokoh agama. Tabel 1. Perbandingan Pemahaman Masyarakat Sebelum dan Sesudah Pelatihan. Tingkat Pemahaman Sebelum (%) Sesudah (%) 1 Tidak memahami sama 2 Memahami sebagian 3 Memahami secara lengkap Gambar 1. Penyampaian Materi Fardhu Kifayah Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 181-191 Hasil ini sejalan dengan penelitian Azkarrula et al. yang menemukan bahwa praktik langsung mampu meningkatkan keterampilan masyarakat dalam pengurusan jenazah secara signifikan. Dukungan juga datang dari (Kasman & Rahman, 2. yang menegaskan bahwa pendidikan berbasis komunitas merupakan instrumen strategis dalam membangun kapasitas religiusitas masyarakat. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini tidak hanya relevan secara lokal, tetapi juga memperkuat temuan empiris sebelumnya mengenai efektivitas pendidikan nonformal berbasis praktik. Selain rendahnya pemahaman, permasalahan lain yang muncul di Desa Ujung Teran adalah tingginya ketergantungan masyarakat pada figur Bilal Sosok ini selama ini dianggap sebagai satu-satunya yang memiliki kompetensi dalam pengurusan jenazah. Ketergantungan tersebut menyebabkan masyarakat menjadi pasif, dan ketika tokoh tersebut berhalangan hadir, prosesi fardhu kifayah terhambat bahkan menimbulkan keresahan sosial. Kondisi ini mencerminkan lemahnya regenerasi pengetahuan keagamaan di tingkat lokal, di mana keterampilan penting tidak diwariskan kepada generasi muda secara Setelah pelatihan berlangsung, terlihat adanya perubahan yang cukup Peserta menunjukkan keberanian dan kepercayaan diri baru dalam melaksanakan prosesi fardhu kifayah. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan Bilal mayit, tetapi mulai menyadari bahwa kewajiban ini merupakan tanggung jawab bersama. Beberapa peserta bahkan menyatakan kesiapan untuk membentuk kelompok khusus yang dapat membantu keluarga berduka di lingkungan sekitar. Perubahan ini menjadi bukti bahwa pelatihan partisipatif dapat berfungsi sebagai strategi efektif dalam mengurangi ketergantungan berlebihan terhadap figur sentral. Temuan ini konsisten dengan penelitian (Aminah, 2. yang menekankan bahwa pendidikan nonformal mampu menjaga keberlanjutan tradisi Islam melalui pembentukan kader-kader baru. Demikian pula, penelitian Arifin et al. di Gowa membuktikan bahwa pelatihan berbasis praktik dalam fardhu kifayah tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga memperkuat kesadaran kolektif masyarakat terhadap kewajiban Dengan demikian, keberhasilan kegiatan di Desa Ujung Teran tidak hanya menyelesaikan persoalan lokal, tetapi juga memberikan kontribusi pada literatur mengenai regenerasi tradisi Islam di Indonesia. Interpretasi lebih lanjut memperlihatkan bahwa keberhasilan pelatihan ini bukan hanya dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang digunakan, tetapi juga oleh dorongan sosial dan spiritual yang kuat dalam masyarakat. Warga merasa bahwa fardhu kifayah adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 181-191 yang tidak boleh diabaikan. Faktor religius ini memperkuat motivasi peserta untuk terlibat secara aktif dan serius dalam kegiatan. Sebagaimana ditegaskan oleh Fadhli . , motivasi religius merupakan salah satu faktor utama keberhasilan program pemberdayaan di masyarakat pedesaan. Implikasi dari hasil penelitian ini sangat penting. Secara praktis, model pelatihan fardhu kifayah berbasis praktik dapat direplikasi di desa lain dengan kondisi serupa, terutama wilayah yang menghadapi keterbatasan figur ahli seperti Bilal mayit. Program yang dilakukan secara berkelanjutan juga dapat melahirkan kaderisasi yang lebih sistematis, sehingga keberlangsungan pelaksanaan fardhu kifayah tetap terjaga. Secara akademis, penelitian ini memperkuat kajian tentang efektivitas pendidikan nonformal berbasis praktik sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat Muslim. Namun, penelitian ini tidak terlepas dari keterbatasan. Kegiatan hanya dilaksanakan dalam satu kali pertemuan intensif dengan cakupan yang terbatas pada satu desa. Oleh karena itu, dampak jangka panjang terhadap perilaku masyarakat belum dapat dipastikan secara menyeluruh. Penelitian lanjutan dengan jangkauan wilayah yang lebih luas dan pengukuran berkelanjutan diperlukan untuk memperkuat temuan ini. Meski demikian, hasil yang diperoleh cukup memberikan gambaran bahwa rendahnya pemahaman dan tingginya ketergantungan masyarakat pada figur Bilal mayit dapat diatasi melalui pendekatan pengabdian berbasis praktik yang sistematis. Gambar 2. Foto Bersama Kegiatan Peningkatan Kapasitas Masyarakat Dalam Fardhu Kifayah Di Desa Ujung Teran Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat ini tidak hanya berhasil menjawab rumusan masalah yang diajukan Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 181-191 dalam pendahuluan, tetapi juga memberikan kontribusi penting baik secara akademis maupun praktis. Secara akademis, penelitian ini memperkaya literatur mengenai penguatan kapasitas keagamaan melalui pendidikan Secara praktis, kegiatan ini menjadi model pemberdayaan masyarakat yang aplikatif dan replikatif, yang dapat diterapkan di berbagai desa di Indonesia dalam upaya memperkuat pelaksanaan fardhu kifayah sebagai kewajiban kolektif umat Islam. Ketergantungan Masyarakat pada Figur Bilal Mayit Salah satu persoalan utama yang teridentifikasi di Desa Ujung Teran adalah tingginya ketergantungan masyarakat pada figur Bilal mayit dalam pengurusan jenazah. Sosok ini secara tradisional berfungsi sebagai otoritas tunggal yang menguasai tata cara fardhu kifayah, mulai dari memandikan hingga menguburkan jenazah. Dalam praktik sehari-hari, warga cenderung menyerahkan sepenuhnya kewajiban kolektif tersebut kepadanya tanpa merasa perlu memiliki keterampilan serupa. Akibatnya, ketika Bilal mayit berhalangan hadir, prosesi fardhu kifayah mengalami hambatan serius, dan hal ini menimbulkan keresahan sosial di tengah masyarakat. Situasi tersebut menggambarkan lemahnya proses regenerasi keagamaan dan keterbatasan distribusi pengetahuan yang seharusnya bersifat kolektif. Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan dalam program pengabdian masyarakat ini memberikan dampak signifikan dalam mengatasi pola ketergantungan tersebut. Melalui pendekatan partisipatif, warga dilibatkan secara aktif dalam simulasi praktik fardhu kifayah. Antusiasme peserta terlihat dari kesiapan mereka mengikuti setiap tahapan kegiatan, bahkan banyak yang secara sukarela mencoba praktik memandikan dan mengkafani jenazah Perubahan sikap ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma masyarakat dari posisi pasif menjadi pelaku aktif. Warga mulai menyadari bahwa tanggung jawab pengurusan jenazah tidak boleh dibebankan hanya pada satu figur, tetapi merupakan kewajiban kolektif yang harus dikuasai Perubahan ini memiliki implikasi sosial yang sangat penting. Dengan meningkatnya kepercayaan diri warga untuk melaksanakan fardhu kifayah, masyarakat Desa Ujung Teran kini memiliki basis kaderisasi baru yang siap mengambil peran ketika diperlukan. Hal ini secara langsung mengurangi ketergantungan pada figur Bilal mayit, sekaligus memperluas distribusi keterampilan keagamaan di tingkat lokal. Dengan demikian, peran Bilal mayit tetap dihormati sebagai tokoh panutan, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya sandaran masyarakat. Perubahan ini mencerminkan keberhasilan program Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 181-191 pengabdian dalam membangun kemandirian masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi Islam. Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian RifaAoi & Fadhli . yang menegaskan bahwa pendidikan nonformal berfungsi sebagai sarana kaderisasi dalam menjaga keberlangsungan tradisi keagamaan. Selain itu, penelitian Arifin et al. di Gowa juga memperlihatkan bahwa pelatihan berbasis praktik fardhu kifayah mampu meningkatkan keterampilan teknis sekaligus memperkuat solidaritas sosial masyarakat. Dengan kata lain, hasil kegiatan di Desa Ujung Teran memperkuat literatur sebelumnya dengan menghadirkan bukti empiris bahwa ketergantungan pada figur tunggal dapat diatasi melalui pendekatan pendidikan berbasis praktik partisipatif. Lebih jauh, keberhasilan program ini tidak hanya disebabkan oleh metode pembelajaran yang tepat, tetapi juga oleh motivasi spiritual yang kuat dalam diri masyarakat. Kesadaran bahwa fardhu kifayah adalah kewajiban kolektif yang berdampak pada dosa bersama jika diabaikan, menjadi faktor pendorong partisipasi aktif warga. Sejalan dengan pandangan Fadhli . , motivasi religius di masyarakat pedesaan sering kali menjadi modal utama dalam keberhasilan program pemberdayaan. Dengan demikian, keberhasilan pengabdian ini dapat dipahami sebagai hasil sinergi antara strategi pedagogis partisipatif dan nilai religius yang sudah tertanam dalam komunitas. Implikasi yang dapat ditarik dari temuan ini adalah pentingnya pelatihan berkelanjutan untuk memperkuat proses kaderisasi. Jika kegiatan hanya dilakukan sekali, maka ada risiko pengetahuan kembali terpusat pada individu Namun, apabila dilakukan secara rutin, akan lahir kader-kader baru yang siap menggantikan peran Bilal mayit dan memastikan keberlangsungan pelaksanaan fardhu kifayah di tengah masyarakat. Dengan demikian, program ini tidak hanya berhasil mengatasi masalah ketergantungan jangka pendek, tetapi juga memberikan dasar bagi penguatan kemandirian umat secara Hal ini menunjukkan bahwa pemberdayaan keagamaan yang dilakukan secara sistematis mampu menghasilkan dampak yang signifikan, baik dari sisi spiritual, sosial, maupun kultural. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Ujung Teran menunjukkan bahwa pelatihan fardhu kifayah berbasis praktik partisipatif efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan warga sekaligus mengurangi ketergantungan pada figur Bilal mayit. Hasil kegiatan membuktikan bahwa masyarakat yang sebelumnya hanya memiliki pemahaman parsial atau bahkan tidak memahami sama sekali, setelah pelatihan mampu melaksanakan tahapan Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 181-191 fardhu kifayah dengan lebih percaya diri dan mandiri. Perubahan ini menegaskan bahwa pendekatan pendidikan nonformal yang mengintegrasikan ceramah, demonstrasi, dan praktik langsung menjadi strategi yang relevan dalam menjawab kesenjangan kapasitas keagamaan masyarakat. Temuan penelitian ini penting karena memberikan kontribusi praktis bagi upaya kaderisasi keagamaan dan penguatan solidaritas sosial umat Islam di tingkat lokal. Model pelatihan semacam ini dapat direplikasi di daerah lain dengan kondisi serupa, sehingga fardhu kifayah dapat tetap terlaksana sebagai kewajiban kolektif yang terjaga keberlangsungannya. Secara akademis, penelitian ini memperkaya literatur tentang efektivitas pendidikan nonformal berbasis praktik dalam konteks pemberdayaan masyarakat Muslim. Dengan demikian, hasil pengabdian ini layak dicatat sebagai upaya strategis dalam memperkuat kemandirian umat sekaligus menjaga tradisi Islam yang esensial dalam kehidupan sosial-keagamaan. DAFTAR PUSTAKA