Jurnal Ayurveda Medistra e-ISSN 2656-3142iCp-ISSN 2656-5609iCVolume 7 Nomor 1 . | pages:1-5 Available online at http://ojs. stikesmedistra-indonesia. Studi Fenomenologi Perilaku Merokok Pada Remaja Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Samarinda Octavia Alvina1*,Dwi Hendriani2,Emelia Tonapa3 1Politeknik Kesehatan Kalimantan Timur, octalvina12@gmail. com, 081255642989 2Program Studi Kesehatan Masyarakat (S. Politeknik Kesehatan Kalimantan Timur, dwihendriani@gmail. com, 082150210001 3Program Studi Kesehatan Masyarakat (S. Politeknik Kesehatan Kalimantan Timur, emeltonapa@gmail. Abstrak Isu kesehatan sekarang ini terkait dengan tingginya angka prevalensi merokok. Awal mula remaja merokok adalah dorongan ingin mencoba, sedangkan kebiasaan merokok terjadi akibat ketidaktahuan yang memadai mengenai risiko merokok. Studi ini bertujuan mengidentifikasi gambaran fenomenologi tentang faktor-faktor yang memengaruhi perilaku merokok di kalangan pelajar SMK Negeri 1 Samarinda. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan desain fenomenologi. Penelitian dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi. Sampel penelitian berjumlah 7 informan SMK 1 Samarinda yang ditentukan dengan teknik purposive Pada faktor predisposisi, remaja sekolah memiliki pengetahuan dan sikap yang rendah tentang merokok sehingga terbentuknya perilaku merokok. Pada faktor pemungkin, remaja sekolah mendapat uang saku yang dipergunakan untuk membeli rokok serta awal mula merokok pada saat duduk dibangku SMP dengan dikenalkan langsung oleh teman sebaya dan beranggapan bahwa iklan rokok tidak mempengaruhi remaja sekolah untuk merokok. Pada faktor penguat, orang-orang terdekat . eluarga dan gur. mengetahui dan melakukan teguran bila remaja sekolah merokok, sementara teman sebaya mengabaikan perilaku Terdapat faktor pendahulu, pemicu, dan pengokoh yang berperan dalam munculnya kebiasaan merokok di kalangan remaja. Diharapkan guru dan wali murid memperketat aturan serta sarana yang berhubungan dengan rokok di lingkungan sekolah dan memberikan bantuan kepada remaja agar berhenti Remaja diharapkan dapat mengikuti seluruh kegiatan program kesehatan dengan upaya mengurangi kebiasaan merokok. Kata Kunci: Perilaku Merokok,Remaja. Rokok Abstract The current health problems were the high prevalence of smoking. The decision to smoke in teenagers began with the desire to try, while smoking behavior was due to not having enough knowledge about the dangers of This research aimed to determine the phenomenological picture, namely the factors that influence smoking behavior in teenagers at SMK Negeri 1 Samarinda. This type of research was qualitative with a phenomenological design. The research was conducted through in-depth interviews and observations. The research sample consisted of 7 informants at SMK 1 Samarinda who were determined using the purposive sampling technique have been. In predisposing factors, school teenagers have low knowledge and attitudes about smoking, which leads to smoking behavior. In enabling factors, school teenagers received pocket money that was used to buy cigarettes and the beginning of smoking when they were in junior high school, they were introduced directly by peers and assumed that cigarette advertisements did not influence school teenagers to smoke. In reinforcing factors, the closest people . amily and teacher. knew and reprimand school teenagers when they smoke, while peers ignored the behavior. There were predisposing, enabling factors and reinforcing factors that influenced smoking behavior in teenagers. It was expected that teachers and parents improve regulations and facilities related to smoking in the school environment and provided support for teenagers to stop smoking. Teenagers are expected to be able to participate in all health program activities with an effort to reduce smoking habits. Keywords: Smoking Behavior,Teenagers,Cigarettes Jurnal Ayurveda Medistra Volume 7 Nomor 1 Tahun 2025 iCSekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Medistra Indonesia PENDAHULUAN Rokok adalah produk lintingan kecil yang terbuat dari tembakau, kira-kira seukuran jari kelingking, yang dibungkus dengan daun lontar atau kertas. Rokok pada dasarnya adalah barang buatan yang dibuat dari daun tembakau kering, dibentuk menjadi bentuk yang mirip dengan cerutu. Sebagian besar rokok dibuat terutama dari tembakau dan tanaman terkait seperti Nicotiana tabacum. Nicotiana rustica, atau spesies lain yang mengandung nikotin dan tar, terkadang dikombinasikan dengan zat tambahan. Merokok itu berbahaya untuk kesehatan individu dan masyarakat, karena rokok merupakan kecanduan dan membutuhkan berbagai tindakan pengamanan. Menurut laporan dari badan kesehatan dunia atau WHO tentang konsumsi tembakau di dunia. AuJumlah perokok aktif mencapai 62,8 juta, sebanyak 40% berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawahAy. Indonesia menempati peringkat teratas negara dengan prevalensi merokok tertinggi, dengan sekitar 46,8% pria dewasa dan 3,1% wanita dewasa berusia 10 tahun ke atas diidentifikasi sebagai perokok . Konsumsi tembakau tersebar luas di Indonesia baik di kalangan dewasa maupun populasi yang lebih muda. Tingkat merokok di kalangan orang dewasa sebagian besar tetap tidak berubah selama lima tahun terakhir . Data terbaru dari Global Youth Tobacco Survey tahun 2019 menunjukkan bahwa Au40,6% pelajar di Indonesia . sia 1315 tahu. , 2 dari 3 anak laki-laki, dan hampir 1 dari 5 anak perempuan sudah pernah menggunakan produk tembakau: 19,2% pelajar saat ini merokok dan di antara jumlah tersebut, 60,6% bahkan tidak dicegah ketika membeli rokok karena usia mereka, dan dua pertiga dari mereka dapat membeli rokok eceranAy Data GYTS menunjukkan Auhampir 7 dari 10 pelajar melihat iklan atau promosi rokok di televisi atau tempat penjualan dalam 30 hari terakhir, dan sepertiga pelajar merasa pernah melihat iklan di internet atau media sosialAy Ay GYTS, . Berdasarkan data Riskesdas . Aupersentase menurut kebiasaan perilaku merokok dengan karakteristik perokok . etiap har. pada umur 10 tahun keatas di Indonesia sebesar 24,3%, sedangkan perilaku merokok dengan karakteristik perokok . sebesar 4,6%Ay. Provinsi Kalimantan Timur sebesar 21,9% untuk perilaku merokok dengan karakteristik perokok . etiap har. Berdasarkan perilaku merokok . sia 15 - 19 tahu. di Indonesia sebesar 48,2%, sedangkan berdasarkan kelompok . sia 15 - 19 tahu. di Provinsi Kalimantan Timur sebesar 45,5%. Persentase perokok menurut jenis kelamin didapatkan hasil bahwa laki laki lebih tinggi dari pada perempuan yaitu sebesar 48,7% laki-laki, perempuan yaitu sebesar 28,5% . Berdasarkan BPS Aupersentase merokok pada umur Ou 15 tahun menurut provinsi Kalimantan Timur sebesar 22,97%Ay. Menurut BPS Samarinda . Auberdasarkan persentase kelompok perilaku merokok . sia 15 - 24 tahu. sebesar 13,01% dan meningkat sebesar 17,94% pada tahun 2022Ay. Keputusan awal bagi banyak orang dewasa muda untuk mencoba merokok sering kali berasal dari rasa ingin tahu atau kebiasaan merokok yang berkelanjutan sebagian besar dipertahankan karena kurangnya kesadaran tentang konsekuensi kesehatan negatifnya. Pengalaman merokok pertama kali pada masa remaja di Indonesia menunjukkan kemiripan dengan temuan dari sebuah penelitian yang dilakukan di Iran . , yang menemukan bahwa pengalaman merokok di usia dini terkait dengan kecanduan di kemudian hari. Berdasarkan merokok wilayah kerja Puskesmas Segiri di SMK Negeri 1 Samarinda 2022. Auterdapat populasi siswa yaitu sebanyak 1. Berdasarkan jenis kelamin didapatkan hasil bahwa Aulaki laki sebanyak 374 siswa dan jenis kelamin perempuan sebanyak 799 siswiAy. Dari hasil pendataan screening merokok yang dilakukan oleh Puskesmas Segiri didapatkan hasil yaitu populasi siswa/i yang berada duduk dibangku kelas 11 sebanyak 404 siswa. Jika dibagi berdasarkan jenis kelamin, penelitian ini melibatkan 126 siswa laki-laki dan 278 siswa perempuan yang duduk di kelas sebelas. Berdasarkan kategori seluruh populasi di SMK Negeri 1 Samarinda yaitu . ernah merokok walaupun hanya 1 hisapa. Berdasarkan pendataan screening merokok di kelas 11 dengan kategori . ernah merokok walaupun hanya 1 hisapa. sebanyak 83 siswa dan berdasarkan kategori . idak pernah merokok Jurnal Ayurveda Medistra Volume 7 Nomor 1 Tahun 2025 iCSekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Medistra Indonesia walaupun hanya 1 hisapa. sebanyak 321 Merokok di kalangan remaja juga cukup umum di Samarinda. Beberapa penelitian pendahuluan telah dilakukan, termasuk penelitian yang dilakukan di SMK Negeri 1 Samarinda. Investigasi awal di SMK Negeri 1 Samarinda melibatkan wawancara terperinci dengan tokoh-tokoh penting seperti wakil kepala sekolah yang bertanggung jawab atas urusan kesiswaan, serta pengamatan langsung yang dilakukan oleh para peneliti. Didapatkan screening merokok selalu diadakan 1 tahun sekali oleh pihak Puskesmas Segiri dan sesuai data tersebut ada beberapa remaja sekolah yang mempunyai perilaku merokok hingga membawa rokok konvensional Hal ditunjukkan dengan adanya kegiatan razia sekolah untuk mengetahui beberapa siswa disekolah tersebut membawa atau tidak rokok konvensional maupun rokok elektrik. Pihak sekolah berpendapat tidak ada siswa yang merokok dalam lingkungan sekolah, akan tetapi membawa kesekolah sudah termasuk kedalam merokok di area lingkungan sekolah. Hasil dari penelitian pendahuluan ini mendorong para peneliti untuk melakukan studi fenomenologis yang lebih terfokus pada kecanduan merokok di kalangan siswa sekolah menengah kejuruan di SMK Negeri 1 Samarinda. Bukti menunjukkan bahwa kecanduan merokok pada remaja masih menjadi masalah yang signifikan di wilayah Samarinda. Oleh karena itu, peneliti bermaksud melakukan penelitian di SMK Negeri 1 Samarinda untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang gambaran fenomenologi yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok dapat terjadi pada remaja SMK Negeri 1 Samarinda. METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan pendekatan yang bertujuan untuk memahami dan pengalaman, persepsi, dan pendapat orangorang yang terlibat. Penelitian kualitatif mengeksplorasi makna, pemahaman sosial, dan kompleksitas subjek yang diteliti. Dengan desain penelitian studi fenomenologi dengan tujuan menyelidiki pengalaman manusia, fenomenologi bermakna metode pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang ada dengan langkahlangkah logis, sistematis kritis, tidak berdasarkan apriori/prasangka dan tidak Metode Pengumpulan Data Penelitian ini mengumpulkan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan perekaman, dengan menggunakan metode partisipan secara sengaja berdasarkan tujuan dan sasaran penelitian tertentu. Populasi yang dipilih melalui metode ini terdiri dari individu atau sumber informasi substansial yang relevan dengan tujuan penelitian, meliputi satu informan kunci, lima informan primer, dan satu informan Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pedoman wawancara terstruktur, lembar observasi, dan alat Pengolahan dan penyajian data dilakukan secara manual dengan cara transkripsi, pengenalan data, pengkodean, identifikasi tema, interpretasi, dan penyusunan informasi ke dalam tabel matriks. HASIL Berdasarkan hasil wawancara dengan informan kunci tentang faktor predisposisi yang berhubungan dengan kecanduan rokok, ditemukan bahwa semua informan memiliki keterbatasan pengetahuan dan sikap negatif terhadap bahaya rokok dan zat yang Mereka Berikut adalah pernyataan informan utama: AuAsebenernya sih kayak ngga terlalu berbahaya juga sih soalnya kebutuhan juga kan rokok tu. Bahaya nya ya bisa menyebabkan kanker, kanker paru-paru, kanker mulutAy . Tahun. Remaja Sekolah Meroko. Kemudian informan utama menyatakan tidak mengetahui zat yang terkandung pada Berikut adalah pernyataan informan AuAkurang tau sihAy . Tahun. Remaja Sekolah Meroko. Selain wawancara diatas, informan utama Jurnal Ayurveda Medistra Volume 7 Nomor 1 Tahun 2025 iCSekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Medistra Indonesia keinginan untuk berhenti merokok. Berikut pernyataan informan utama : AuAuntuk saat ini ngga ada ya, ya karena, enak gitu kalo ngerokokAy . Tahun. Remaja Sekolah Meroko. Kemudian informan utama menyatakan dalam kurun waktu sehari bisa membeli 1 hingga 2 kotak rokok. Berikut pernyataan informan utama : AuAkalo memang hari sekolah itu biasanya bukan, ehh biasanya tu hari sekolah tu 2 hari sekali 1 kotak. Kalo hari libur tu biasanya kadang sehari tu bisa sampe 2 kotakan kek missal malam mingguAy . Tahun. Remaja Sekolah Meroko. Selain wawancara diatas, informan utama juga menyatakan awal bermula merokok yaitu dikenalkan oleh teman sebaya. Berikut pernyataan informan utama : AuAalasannya penasaran sama mau cobacoba, keknya liat teman ni kayak enak, saya cobai, baru kecanduan sampe sekarangAy . Tahun. Remaja Sekolah Meroko. AuAawalnya coba-coba kak, penasaran aja sama rasanya, soalnya ngeliat teman-teman tu kek enak gitu ngerokokAy . Tahun. Remaja Sekolah Meroko. Kemudian informan menyatakan bahwa bila orang tua hingga guru mengetahui bila remaja merokok dan melakukan teguran. Berikut pernyataan informan utama : AuAteguran nya disuruh kurangin sama suruh sadar diri lah dibilang gituAy . Tahun. Remaja Sekolah Meroko. AuAseminggu pertama tu ketahuan, seminggu full dimarahi kak, pokoknya seminggu itu diomelin hari-harianAy . Tahun. Remaja Sekolah Meroko. AuAsetengah keknya, sebagian tau kak. soalnya pernah ketahuan. Ay . Tahun. Remaja Sekolah Meroko. Selain itu tanggapan teman sebaya berbanding tebalik yang dilakukan orang tua dan guru. Informan menyatakan teman sebaya hanya mengabaikan bila informan Berikut informan utama : AuAbiasa ajaAy . Tahun. Remaja Sekolah Meroko. AuAkurang tau ya, kek nya no coment juga si mereka, ya cuek ajaAy . Tahun. Remaja Sekolah Meroko. AuAmereka biasa aja kak, ngga ada negur. Ay . Tahun. Remaja Sekolah Meroko. PEMBAHASAN Berdasarkan pembahasan diatas pada remaja sekolah perokok dapat disimpulkan data demografi yang diambil saat penelitian yaitu informan sebagian besar berjenis kelamin laki-laki dengan usia kisaran 16 hingga 17 tahun. Dan mereka mengatakan yakni awal mula merokok pada saat duduk dibangku SMP. Kemudian berdasarkan faktor predisposisi diatas pada remaja sekolah perokok dapat disimpulkan remaja sekolah mengenai bahaya merokok dan zat yang Lalu berdasarkan faktor pemungkin diatas pada remaja sekolah perokok dapat disimpulkan bahwa remaja sekolah mendapat uang saku dari orang tua yang dipergunakan untuk membeli rokok konvensional 1 hingga 2 kotak sehari. Selanjutnya berdasarkan faktor penguat diatas pada remaja sekolah perokok dapat disimpulkan bahwa orang-orang terdekat . eluarga dan gur. mengetahui dan melakukan teguran bila remaja sekolah mengabaikan perilaku tersebut. SIMPULAN DAN SARAN Faktor predisposisi, remaja sekolah memiliki pengetahuan yang cukup rendah mengenai bahaya merokok dan zat yang terkandung dalam rokok sehingga terbentuknya perilaku Pada faktor pemungkin, remaja sekolah mendapat uang saku dari orang tua yang dipergunakan untuk membeli rokok konvensional di warung atau swalayan dengan membeli rokok konvensional 1 hingga 2 kotak sehari. Remaja sekolah memberikan tanggapan yakni ditengah sehari-hari meluangkan waktu untuk merokok. Remaja sekolah menyatakan bahwa awal mula merokok dilakukan pada saat duduk dibangku SMP serta dikenalkan langsung oleh teman sebaya dan mereka beranggapan bahwa iklan rokok sama sekali tidak Kemudian pada faktor penguat, orang-orang terdekat . eluarga dan gur. mengetahui dan melakukan teguran bila Jurnal Ayurveda Medistra Volume 7 Nomor 1 Tahun 2025 iCSekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Medistra Indonesia remaja sekolah merokok, sementara teman sebaya mengabaikan perilaku tersebut. DAFTAR PUSTAKA