Page . Caring : Jurnal Keperawatan Vol. No. 2, 2024, pp. 41 Ae 48 ISSN 1978-5755 (Onlin. DOI: 10. 29238/caring. Journal homepage: http://e-journal. id/index. php/caring/ Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Depresi Pada Pasien Dengan Hemodialisis Di Rumah Sakit Kalimantan Timur Hesti Arum Wulandari1a*. Mukhripah Damaiyanti1b. Arief Budiman1c Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur Samarinda. Indonesia hstiarumw02@gmail. md356@umkt. ab783@umkt. HIGHLIGHTS A Dukungan Keluarga dan Depresi ARTICLE INFO Article history Received date June 19th 2024 Revised date August 29th 2024 Accepted date September 30th 2024 Keywords: Depresi Dukungan Keluarga Hemodialisis ABSTRACT/ABSTRAK Hemodialysis is a common therapy for patients with chronic kidney failure, aiming to extend life and reduce symptoms due to impaired kidney function. One of the psychological impacts experienced by these patients is depression, which can be exacerbated by a lack of family support. This study aims to determine the relationship between family support and depression in hemodialysis patients at a hospital in East Kalimantan. This research employed a descriptive analytic design with a cross-sectional The sample consisted of 225 hemodialysis patients selected using a cluster random sampling technique. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square test. The results showed a significant relationship between family support and depression in hemodialysis patients . = 0. p < 0. It can be concluded that family support is significantly associated with depression levels in patients undergoing hemodialysis. These findings highlight the importance of strengthening family support to reduce the risk of depression in hemodialysis patients. Copyright A 2024 Caring : Jurnal Keperawatan. All rights reserved *Corresponding Author: Hesti Arum Wulandari. Jurusan Keperawatan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Jl. Ir. Juanda No. Sidodadi. Samarinda Ulu. Samarinda. Email: hstiarum02@gmail. Email: md356@umkt. PENDAHULUAN Hemodialisa adalah salah satu terapi yang sering digunakan pada pasien gagal ginjal kronis. Tujuan hemodialisis adalah untuk membantu memperpanjang umur pasien dengan cara mengurangi gejala yang disebabkan oleh gangguan akibat penurunan fungsi ginjal (Nayana et al. , 2. Meskipun hemodialisa dapat memperpanjang umur pasien, proses terapi ini menuntut pasien untuk melakukan penyesuaian besar dalam Ginjal sendiri merupakan organ vital yang berperan dalam menjaga Page . komposisi darah, mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh, serta memproduksi hormon yang berfungsi mengendalikan tekanan darah, produksi sel darah merah, dan kekuatan tulang (Infodatin, 2. Gangguan fungsi ginjal dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang serius (Manalu, 2. , dan pasien dengan Gagal Ginjal Kronis (GGK) memerlukan terapi hemodialisa secara rutin (Silaban & Agustina, 2. Peningkatan prevalensi GGK sejalan dengan peningkatan usia, berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi GGK meningkat dari 0,3% pada usia 35Ae44 tahun menjadi 0,6% pada usia di atas 75 tahun (Lukmanulhakim & Lismawati, 2. Salah satu dampak psikologis yang sering dialami pasien GGK yang menjalani hemodialisa adalah Terapi hemodialisa dapat mempengaruhi pengeluaran finansial, meningkatkan risiko hospitalisasi, serta menimbulkan rasa putus asa, bahkan keinginan untuk bunuh diri (Putri, 2. Wu . menunjukkan bahwa pasien GGK dengan depresi memiliki risiko komorbiditas yang lebih tinggi dan tingkat mortalitas yang meningkat (Riyadi et al. Angka kejadian depresi tertinggi berada di wilayah Asia Tenggara yaitu sebesar 86,94% . %) dari total 322 juta individu. Indonesia menempati urutan kelima dengan prevalensi depresi sebesar 3,7% (Tobing & Mandasari, 2 C. Depresi ditandai oleh perasaan sedih ekstrem, rasa bersalah, kehilangan minat dalam aktivitas sehari-hari, dan menarik diri dari lingkungan sosial (Dirgayunita, 2. Dukungan keluarga berperan penting dalam proses adaptasi pasien terhadap Studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pasien yang tidak mendapatkan dukungan keluarga memiliki risiko kondisi kesehatan yang memburuk (Manalu, 2. Pasien yang didampingi keluarga selama terapi merasa lebih percaya Keluarga memberikan dukungan moral, tenaga, dan biaya untuk membantu pasien (Argiyati, 2. Dukungan keluarga juga terbukti meningkatkan kemampuan self care management pasien hemodialisa sehingga mereka dapat mencapai derajat kesehatan yang lebih baik (Wijayanti. Dinarwijayata, & Tumini, 2. Namun, masih sedikit penelitian di Indonesia yang secara spesifik mengkaji hubungan antara dukungan keluarga dan tingkat depresi pada pasien hemodialisa, khususnya di wilayah Kalimantan Timur. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga terhadap depresi pada pasien hemodialisa di Rumah Sakit Kalimantan Timur. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan desain rancangan cross-sectional study . tudi potong lintan. , dimana peneliti ingin mengetahui adanya hubungan antara variabel independen . ukungan keluarg. dan variabel dependen . pada suatu saat tertentu. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien hemodialisis dengan depresi di Rumah Sakit Kalimantan Timur. Sampel dalam penelitian ini dihitung menggunakan rumus taro Yamane dan didapatkan sebanyak 225 sampel, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik cluster random Kriteria Inklusi penelitian ini adalah pasien GGK yang sedang menjalani hemodialisis di Rumah Sakit Kalimantan Timur dan mampu bersikap kooperatif selama Kriteria eksklusi yaitu pasien GGK dengan gangguan pendengaran . una rung. dan gangguan penglihatan . una netr. dan kesulitan mengisi kuesioner, serta pasien GGK yang berusia <15 tahun dan >75 tahun. Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai alat pegumpulan data. Kuesioner merupakan alat pengumpul, kuesioner diberikan kepada responden setelah responden mengisi inform consent. Dalam penelitian ini menggunakan kuesioner Back Depression Inventory (BDI) dengan nilai Alpha Croncbach 0,913 dengan nilai corrected item total correlation > 0,3, dan kuesioner Dukungan Keluarga oleh Nurwulan . dengan Alpha Cronbach 0,514 dan nilai reliabilitas 0,757. Page . HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Variabel Usia 17 Ae 25 (Masa remaja akhi. 26 Ae 35 (Masa dewasa awa. 36 Ae 45 (Masa dewasa akhi. 46 Ae 55 (Masa lansia awa. 56 Ae 65 (Masa lansia akhi. 66 Ae 75 (Masa manul. Total Jenis Kelamin Laki Ae laki Perempuan Total Status Marital Belum Menikah Menikah Bercerai Total Pekerjaan Pegawai Negeri/TNI/Polri Swasta Wiraswasta Pensiun Petani Tidak Bekerja Total Tingkat Pendidikan Tidak Sekolah SMP SMA Total Penghasilan < Rp. Rp. 000 Ae 4. > Rp. Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan karakteristik responden dalam Tabel 1, diketahui bahwa sebagian besar responden berada pada rentang usia 46Ae55 tahun yaitu sebanyak 85 orang . ,8%). Berdasarkan jenis kelamin, mayoritas responden adalah perempuan sebanyak 115 orang . ,1%). Dari segi status pernikahan, mayoritas responden telah menikah yaitu sebanyak 165 orang . ,3%). Berdasarkan pekerjaan, sebagian besar responden tidak bekerja yaitu sebanyak 159 orang . ,7%). Pada tingkat pendidikan, mayoritas responden berpendidikan terakhir Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 103 orang . ,8%). Sementara itu, sebagian besar responden memiliki penghasilan kurang dari satu juta rupiah per bulan sebanyak 159 orang . ,7%). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Depresi Kategori Frekuensi . Persentase (%) Page . Tidak Depresi Ringan Sedang Berat Total Berdasarkan hasil pada Tabel 2, dari total 225 responden yang menjalani terapi hemodialisis, diketahui bahwa sebagian besar responden mengalami depresi ringan sebanyak 112 orang . ,8%). Hal ini menunjukkan bahwa hampir separuh pasien hemodialisis dalam penelitian ini berada pada tingkat depresi yang masih dalam kategori Tabel 3. Distribusi Frekuensi Dukungan Keluarga Kategori Rendah Sedang Tinggi Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan Tabel 3, dari total 225 responden yang menjalani terapi hemodialisis, diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat dukungan keluarga dalam kategori sedang, yaitu sebanyak 158 responden . ,2%). Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien mendapatkan dukungan yang cukup dari keluarga selama menjalani terapi hemodialisis . Tabel 4. Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Depresi Pada Pasien Dengan Hemodialisis di Kalimantan Timur Dukungan Keluarga Ringan Sedang Total Tingkat Depresi Ringan Sedang Berat ,7%) ,9%) ,8%) ,9%) ,8%) ,7%) ,8%) ,6%) P Value Berdasarkan hasil chi-square pada Tabel 4, diketahui bahwa dari 225 responden yang menjalani terapi hemodialisis, sebanyak 57 responden . ,3%) mendapatkan dukungan keluarga yang rendah. Temuan ini memberikan gambaran bahwa masih terdapat sejumlah pasien hemodialisis yang tidak memperoleh dukungan optimal dari keluarganya selama menjalani perawatan, yang dapat berdampak pada kondisi psikologis seperti peningkatan risiko depresi. PEMBAHASAN Usia Hasil penelitian menunjukkan jika mayoritas usia pasien hemodialisis yaitu sekitar 46-55 tahun dengan jumlah 85 . ,8%) responden. Mayoritas pasien hemodialisis berusia 46-55 tahun yang tergolong pra lanjut usia dengan usia pertengahan . iddle ag. , peneliti dapat menyimpulkan jika usia seseorang yang semakin tua semakin rentan mengalami depresi karena banyak yang dipikirkan dan menurunnya fungsi kognitif. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Riyadi, . mayoritas responnya berusia 43-54 tahun dengan jumlah 29 . ,3%) Page . Biasanya penurunan fungsi ginjal terjadi dimulai pada usia 40 tahun Ginjal yang berada didalam tubuh manusia memiliki 1 juta nefron, ukuran ginjal dan jumlah nefron akan berkurang sedikit demi sedikit pada saat manusia memasuki usia 40 tahun. Sehingga manusia yang berusia 40 tahun keatas lebih beresiko untuk terkena penyakit GGK karena menurunnya fungsi ginjal yang tidak dapat bekerja dengan baik seperti biasanya. Jenis Kelamin Hasil penelitian didapatkan mayoritas pasien hemodialisis berjenis kelamin Perempuan dengan jumlah 115 . ,1%) responden. Menurut peneliti pasien hemodialisis lebih banyak yang berjenis kelamin perempuan, namun bukan berarti jumlah pasien yang berjenis laki-laki sangat sedikit. Hormon esterogen yang terdapat pada tubuh perempuan diketahui lebih banyak dibanding laki-laki, hormon tersebut memiliki fungsi untuk menghamta pembentukan osteoklas supaya kadar kalsium yang terkandung dalam tulang tidak terserap banyak. Efek protektik dalam kalsium dapat mencegah penyerapan oksalat yang bisa membentuk batu ginjal sebagai salah satu penyebab terjadinya GGK. Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Diyah, . yang menunjukkan bahwa pasien hemodialisis laki-laki dengan depresi sedang berjumlah 4 . ,25%) responden lebih rendah dibanding dengan pasien hemodialisis perempuan dengan depresi ringan yang berjumlah 7 . ,94%) responden. Dalam penelitian Diyah, . juga menjelaskan bahwa perempuan lebih sering mengalami depresi disbanding laki-laki. Banyak faktor yang dapat melatarbelakangi kejadian depresi pada perempuan, contohnya seperti faktor biologis, faktor psikolog, dan faktor sosiobudaya. Status Marital Hasil penelitian didapatkan pasien hemodialisis dengan status menikah sebanyak 165 . ,4%) responden. Dari hasil data tersebut didapatkan hasil bahwa mayoritas responden berstatus menikah dan memiliki pasangan hidup. Memiliki keluarga yang harmonis dapat membantu pasien untuk mengurangi resiko terkena Namun jika pernikahan pasien tidak harmonis dan banyak masalah, akan membuat pasien mengalami depresi berat. Sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan Riyadi, . mayoritas respondennya sudah menikah sebanyak 53 . ,3%) responden. Pasien hemodialisis yang sudah menikah dan memiliki hubungan keluarga yang harmonis dapat membantu memberikan motivasi dan semangat kepada pasien agar semangat dalam menjalani terapi dan pengobatan supaya dapat cepat sembuh. Pekerjaan Hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan data mayoritas pasien hemodialisis tidak bekerja sebanyak 159 . ,7%) responden. Responden yang tidak bekerja merasa tubuhnya mulai melemah dan tidak sekuat dulu untuk melakukan banyak aktivitas, reesponden juga merasa malu dan takut untuk bertemu dengan orang baru. Responden yang tidak bekerja merasa hidupnya tidak membosankan karena tidak bisa melakukan pekerjaan yang disukainya dan tidak bisa bertemu dengan banyak orang, responden juga merasa hidupnya bergantung dengan orang Sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Trimeilia, . yang dilakukan pada pasien hemodialisis di RSUD Cilacap tidak bekerja sebanyak . %) responden dan sebagian besar mengalami depresi ringan . %). Tidak bekerja akan mempengaruhi pendapatan seseorang. Seseorang dengan taraf sosial ekonomi yang lebih rendah akan memiliki resiko depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang memiliki taraf ekonomi menengah keatas. Tingkat Pendidikan Page . Hasil penelitian yang didapat yaitu mayoritas pasien hemodialisis dengan tingkat pendidikan SMA sebanyak 103 . ,8%) responden. Mayoritas responden dengan tingkat pendidikan yang berbeda memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda juga. Hal ini akan mempengaruhi perilaku dan pola pikir responden terhadap gaya hidup yang dijalaninya. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Riyadi, . menunjukkan hasil mayoritas respondennya dengan tingkat pendidikan SMA sebanyak 38 . ,3%) Menurut pengamatannya hasil penelitiannya itu didukung dengan teori Dimana pengetahuan atau fungsi kognitif seseorang merupakan suatu hal yang sangat penting untuk melakukan suatu tindakan yang akan dilakukan nantinya. Perilaku yang dilakukan dengan pengetahuan yang lebih luas akan menimbulkan dampak baik namun jika melakukan sesuatu dengan pengetahuan yang kurang maka akan menimbulkan dampak negatif. Penghasilan Hasil penelitian didapatkan mayoritas respoden memiliki penghasilan