MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STATUS GIZI BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEKAR KOTA KENDARI Factors Relating To Toddler Nutrition Status Events In The Work Area Of Mekar City Kendari Health Center Sri Ayu Lestari1. Rosmiati Pakkan2. Toto Surianto S3 Program Studi Kesehatan Masyarakat STIKES Mandala Waluya Kendari (Sriayulestariskm@gmail. com / 085399863. ABSTRAK Masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia maupun negara Kekurangan gizi pada umumnya terjadi pada balita. Setiap tahun kurang lebih 11 juta balita di seluruh dunia meninggal oleh karena penyakit-penyakit infeksi seperti ISPA. Diare, malaria, campak dan lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah ada hubungan antara asupan energi protein, riwayat penyakit, pola asuh dan pendidikan ibu terhadap status gizi balita. Jenis penelitian adalah penelitian observasi analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional study. Populasi penelitian ini adalah seluruh balita yang berada di wilayah kerja puskesmas mekar kendari yaitu 2035 orang/balita. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 96 orang/balita. Uji statistik yang digunakan adalah Chi Square dan uji I. Hasil penelitian, menunjukan asupan makanan energi dan protein X2 hitung 16,350. I = 0,31, riwayat penyakit infeksi X2 hitung 0,00, pola asuh ibu terhadap X2 hitung 9,853. I = 0,01, dan pendidikan ibu X2 hitung 0,42. Kesimpulan ada hubungan asupan makanan energi protein dan pola asuh dengan status gizi balita, tidak ada hubungan riwayat penyakit infeksi dan pendidikan ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja puskesmas mekar kota kendari. Kata Kunci : Asupan makanan energi dan protein, riwayat penyakit, pola asuh, pendidikan ibu, status gizi balita ABSTRACT Nutritional problems are still a public health problem in Indonesia and developing countries. Malnutrition generally occurs in toddlers. Every year approximately 11 million toddlers worldwide die from infectious diseases such as ARI, diarrhea, malaria, measles and others. malnutrition, such as respiratory infections, diarrhea, gastroenteritis, measles and The purpose of this study was to see whether there was a relationship between protein energy intake, disease history, parenting and mother's education on the nutritional status of children. This type of research is analytic observation research using a cross sectional study approach. The population of this study was all toddlers who were in the working area Mekar health center city of Kendari namely 2035 people / toddlers. The sample size in this study was 96 people / toddlers. The statistical test used is Chi Square and test I. The results of the study showed that energy and protein intake X2 count 16,350. I = 0,31 history of infectious diseases X2 count 0,00, parenting style X2 count 9,853. I = 0. 01, and maternal education X2 count 0,4. The conclusion is that there is a relationship between protein energy food intake and parenting with nutritional status of children under five, there is no correlation between infectious disease history and education of mothers with underfive nutritional status in the working area Mekar health center city of Kendari. Keywords: Energy and protein food intake, disease history, parenting, mother's education, nutritional status of children under five MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 menghadapi masalah kekurangan gizi yang PENDAHULUAN Masalah gizi masih merupakan masalah cukup besar. Kurang gizi pada balita terjadi kesehatan masyarakat di Indonesia maupun karena pada usia tersebut kebutuhan gizi lebih negara berkembang. Kekurangan gizi pada besar dan baita merupakan tahapan usia yang umumnya terjadi pada balita, karena pada umur rawan gizi. pertumbuhan yang Balita yang kurang gizi mempunyai Balita termasuk kelompok yang rentan risiko meninggal lebih tinggi dibandingkan gizi di suatu kelompok masyarakat dimana balita yang tidak kurang gizi. Setiap tahun masa itu merupakn masa peralihan saat mulai kurang lebih 11 juta balita di seluruh dunia mengikuti pola makan orang dewasa. tersebut anak mengalami penyakit-penyakit Salah satu usaha pelayanan kesehatan infeksi seperti ISPA, diare, malaria, campak adalah perbaikan gizi keluarga, dimana masalah dan lainnya. Ironisnya 50% dari kematian gizi di Indonesia dan di Negara berkembang tersebut berkaitan dengan adanya kurang gizi. pada umumnya masih didominasi oleh masalah Kekurangan gizi pada balita ini meliputi kurang Kurang energy protein serta kekurangan zat gizi seperi Energi Protein (KEP), Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY), vitamin A, zat besi, yodium dan zinc. Kurang Kurang Vitamin A (KVA). Pada berbagai Energi Protein (KEP) fenomena yang terjadi, telah terungkap bahwa disebabkan oleh kurangnya makanan sumber Indonesia mengalami masalah gizi ganda yang energi secara umum dan kekurangan sumber artinya sementara masalah gizi kurang belum dapat diatasi secara meneluruh, sudah muncul konsumsi energi melalui makanan kurang masalah baru yaitu berupa gizi lebih, obesitas, energi yang dikeluarkan, tubuh akan mengalami terutama di kota-kota besar. Masalah gizi keseimbangan energi negatif, akibatnya berat kurang umumnya di sebabkan oleh kemiskinan, badan kurang dari berat badan seharusnya. penyediaan pangan, kurang baiknya kualitas Anak disebut KEP apabila berat badannya kurang dari 80% indeks berat badan menurut . Kekurangan (BB/U) (WHO-NCHS). pengetahuannya masyarakat tentang gizi, menu KEP seimbang dan kesehatan. merupakan defisiensi gizi . nergi dan protei. Kurang Energi Protein (KEP) adalah yang paling berat dan meluas terhadap anak salah satu masalah gizi utama yang banyak Pada umumnya penderita KEP berasal dijumpai pada balita di Indonesia maupun dari keluarga yang berpenghasilan rendah. KEP Faktor utama penyebab terjadinya gizi berdampak pada pertumbuhan, perkembangan buruk secara langsung adalah makanan yang dan produktivitas antara 20-30%, tidak seimbang dan adanya penyakit infeksi. selain itu juga dampak langsung terhadap Penyebab tidak langsung terjadinya gizi buruk kesakitan dan kematian. Indonesia sebagai salah yaitu tingkat pendapatan, pendidikan, pola asuh satu Negara yang sedang berkembang masih Negara-negara MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 menyebabkan kurangnya ketersedian pangan keluarga dan lain sebagainya. e- ISSN: 2622-7762 (KEP) Berdasarkan mengalami peningkatan jumlah balita yang hasil penelitian yang dilakukan oleh Zakaria di menderita gizi kurang dalam 3 tahun terkahir. kabupaten Pangkep Prov. Sulawesi Selatan, pada tahun 2015 jumlah balita yang menderita ditemukan bahwa umur, penyakit infeksi, gizi kurang sebanyak 37 dari 1898 balita, tahun tingkat pendapatan, konsumsi energi dan 2016 sebanyak 44 dari 1947 balita, dan tahun protein, dan perolehan imunisasi 2017 jumlah balita yang menderita gizi kurang faktor determinan terhadap kejadian KEP pada sebanyak 62 dari 1977 balita. Kejadian ini anak umur 6 bualan sampai 5 tahun. menunjukan bahwa maslah gizi perlu adanya Pola pengasuhan yang diterapkan oleh ibu kepada penyebab tingginya jumlah balita gizi kurang. anak berkaitan dengan cara dan situasi makan. Beberapa Selain pola asuh makan, pola asuh kesehatan terhadap kejadian gizi kurang adalah seperti yang dimiliki ibu turut mempengaruhi status kesehatan balita, dimana secara tidak langsung gastroenteritis, campak dan lain-lain. akan mempengaruhi status gizi balita. Dalam Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tumbuh kembang anak, peran ibu sangat faktor-faktor dominan untuk mengasuh dan mendidik anak kejadian status gizi balita di wilayah kerja agar umbuh dan berkembang menjadi anak puskesmas mekar kota kendari. yang bekualitas. Pola asuh makan pada balita berkaitan dengan kebiasaan makan yang telah ditanamkan sejak awal pertumbuhan manusia. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi pendekatan cross sectional study. Penelitian ini Pendidikan merupakan suatu proses merubah telah dilaksanakan pada bulan September pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua atau sampai dengan bulan Oktober tahun 2018. masyarakat untuk mewujudkan satus gizi yang Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Semakin puskesmas mekar kendari yang berjumlah 2035 pengetahuan, sikap dan perilaku yang lebih Sampel penelitian ini adalah sebagian Tingkat pendidikan merupakan salah satu balita yang berada di wilayah kerja puskesmas faktor yang menentukan mudah tidaknya mekar kendari yang berjumlah 96 balita. Tehnik pengetahuan gizi yang mereka peroleh. random sampling. Analisis data dilakukan Dari 15 puskesmas yang ada di Kota dengan menggunakan program komputerisasi Kendari , khususnya puskesmas mekar yang IBM statistical product and service solution terbagi dalam 12 posyandu, di temukan angka (SPSS) versi 16. analisis data terdiri dari MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 univariat dan bivariat menggunakan uji chi- 18 orang . ,7%). pendidikan Sarjana yang square dan uji keeratan. terendah yaitu sebanyak 17 orang . ,8%). Distribusi balita menurut jenis kelamin di wilayah kerja puskesmas mekar kendari pada HASIL PENELITIAN Distribusi responden menurut Kelompok Tabel Umur di wilayah Kerja Puskesmas Mekar Kota menunjukan jenis kelamin yang lebih banyak Kendari pada Tabel 1 terlihat dari 96 responden yaitu Laki-Laki sebanyak 52 orang . ,1%) menunjukan bahwa responden terbanyak yaitu dibandingkan dengan balita yang berjenis pada kelompok umur 25-34 tahun sebanyak 51 kelamin perumpuan yaitu sebanyak 44 orang orang . ,2%), . ,9%). selanjutnya pada kelompok umur 35-44 tahun sebanyak 23 orang . ,9%). Distribusi balita menurut keompok umur dan kelompokumur 15-24 tahun sebanyak 22 di wilayah kerja puskesmas mekar kendari pada orang . ,9%). tabel 1 terlihat bahwa dari 96 balita kelompok Distribusi responden menurut pendidikan umur lebih banyak yaitu 12-23 bulan sebanyak di wilayah Kerja Puskesmas Mekar Kota 39 0rang . ,6%), kemudian kelompok umur Kendari pada Tabel 1 terlihat dari 96 responden 24-35 bulan sebanyak 28 orang . ,2%), menunjukan bahwa pendidikan terbanyak yaitu responden yang tamat SMP sebanyak 34 orang sebanyak 27orang . ,1%) dan paling sedikit . ,4%), pendidikan Tamat SMA sebanyak 27 pada kelompok umur >47 bulan sebanyak 2 orang . ,1%), pendidikan Tamat SD sebanyak orang . ,1%). Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Umur (Tahu. Tingkat Pendidikan SMP SMA Sarjana Jenis Kelamin Balita Laki-laki Perempuan Umur Balita (Bula. >47 Sumber : Data Primer, 2018 n . MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 Status gizi balita diukur berdasarakan indeks BB/U menurut baku standar WHO- e- ISSN: 2622-7762 anak bersumber karbohidrat, protein dan lemak yang dikonversi kedalam kalori . dan NCHS yang dinyatakan dengan nilai Z-score. Status gizi balita terlihat pada tabel 2 terlihat protein nabati dan protein hewani yang bahwa distribusi status gizi pada balita di dikonversi kedalam gram . Asupan Energi wilayah kerja puskesmas mekar kendari lebih Potein balita di wilayah kerja puskesmas mekar banyak yang gizi baik yaitu sebanyak 59 orang kendari pada tabel 2 terlihat bahwa distribusi . ,5%) dibandingkan dengan yang gizi kurang berdasarkan asupan energi protei balita lebih yaitu sebanyak 37 orang . ,5%). banyak yang cukup yaitu sebanyak 66 orang Asupan makanan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah makanan yang dikonsumsi Riwayat . ,7%) dibandingkan dengan asupan energi protein yang kurang yaitu 40 orang . ,3%). pada balitadi wilayah kerja puskesma mekar dimaksud dalam penelitian ini adalah penyakit dapat dilihat pada Tabel 2 menunjukan bahwa yang dialami anak dilihat dengan ada tidaknya salah satu atau lebih penyakit menular seperti penyakit infeksi pada balita lebih banyak yang TBC, diare, campak atau penyakit infeksi tidak adariwayat yaitu sebanyak 91 orang ringan lainnya yang pernah diderita oleh balita . ,8%) dibandingkan dengan yang ada riwayat penyakit infeksi yaitu 5 orang . ,2%). wawancara dilakukan. riwayat penyakit infeksi Pola asuh anak yang dimaksud dalam . ,5%) penelitian ini adalah praktek dirumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan kategori rendah yaitu 42 orang . ,5%). dan perawatan kesehatan serta sumber lainnya Hubungan untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan dan dengan status gizi balita di wilyah kerja perkembangan anak yang terlihat pada Tabel 2 puskesmas mekar kota kendari tahun 2018 dapat terlihat pada Tabel 2 menunjukan bahwa berdasarkan polah asuh anaklebi banyak yang balita yang memiliki asupan energi protein kurang yaitu sebanyak 52 orang . ,2%) cukup dengan satus gizi balita baik lebih dibandingkan dengan polah asuh anak yang banyak yaitu 50 orang . 8%) dibandingakan baik yaitu 44 orang . ,8%). dengan status gizi kurang yaitu 16 orang Pendidikan ibu yang dimaksud dalam . 2%). dan balita yang memiliki asupan penelitian ini adalah jenjang sekolah formal energi protein kurang dengan status gizi balita kurang lebih banyak yaitu 21 orang . 0% ) dibandingkan dengan gizi balita baik yaitu menunjukan bahwa tingkat pendidikan ibu sebanyak 9 orang . 0%). balita di wilayah kerja puskesmas mekar Hasil uji statistik diperoleh nilai X2 kendari lebih banyak yang kategori tinggi hitung = 16,350 > X2 tabel . dan P Value MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 = 0. 00 < . sehingga H0 di tolak berarti puskesmas mekar kendari tahun 2018 dengan ada hubungan antara asupan energi dan protein tingkat kepercayaan 95% berdasarkan hasil uji terhadapa status gizi balita daai wilayah kerja keeratan diperoleh nilai Phi(I) 0. Table 2. Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mekar Kota Kendari Status Gizi Balita Baik Variabel Asupan Energi Protein Cukup Kurang Riwayat Penyakit Infeksi Ada Riwayat Tidak Ada Riwayat Pola Asuh Baik Kurang Tingkat Pendidikan Tinggi Rendah Sumber : Data Primer, 2018 Jumlah X Hit Kurang Value Phi 0,02 0,421 0,51 0,40 0,00 0,31 0,00 1,00 1,00 9,85 9,85 Hubungan penyakit infeksi dengan status gizi dengan status gizi balita di wilayah kerja balita di wilayah kerja puskesmas mekar puskesmas mekar kendari dengan tingkat kendari terlihat pada Tabel 2 menunjukan kepercayan 95%. bahwa balita yang memiliki riwayat penyakit Hubungan pola asuh dengan status gizi dengan status gizi baik lebih banyak yaitu 3 balita diwilayah kerja puskesmas mekar orang . 0%) dibandingakan dengan status kendari tahun 2018 dapat dilihat pada Tabel 2 gizi kurang yaitu 2 orang . 0%). Dan balita menunjukan bahwa balita yang memiliki pola yang tidak memeiliki riwayat penyakit dengan asuh baik dengan status gizi balita baik lebih status gizi baik lebih banyak yaitu 56 orang banyak yaitu 35 orang . ,5%) dibandingkan . ,5%) dibandingkan dengan status gizi dengan status gizi balita kurang yaitu 9 orang kurang yaitu 35 orang . 5%). ,5%). Balita yang memiliki polah asuh Hasil uji statistik diperoleh X hit = kurang dengan status gizi balita kurang, lebih 0,00< X2 tabel . dan P Value = 1,00 > banyak yaitu 28 orang . ,8%) dibandingkan . sehingga H0 diterima, berarti tidak ada dengan status gizi balita baik yaitu 24 orang hubungan antara riwayat penyakit infeksi ,2%) MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 Hasil uji statistik diperoleh nilai X2 e- ISSN: 2622-7762 diberikan pada balita, pendidikan orang tua, hitung = 9,853 > X tabel . dan P value riwayat penyakit dan pola asuh orang tua =0,02< . sehingga H0 ditolak, berarti terhadap balita, serta kondisi ekonomi orang ada hubungan antara pola asuh dengn status tua secara keseluruhan. gizi balita di wilayah kerja puskesmas mekar Gizi kurang merupakan masalah yang kendari tahun 2018 dengan tingkt kepercayaan masih berkembang di Berdasarkan hasil uji keeratan hubungan maupun di negara lain. Masalah gizi kurang diperoleh nilai Phi (I) sebesar 0,01 sehingga antara pola asuh dan status gizi balita memiliki penyedian pangan, kurang baiknya kualitas hubungan lemah. Hubungan Negara Indonesia . , pengetahuan masyarakat tentang gizi, menu dengan staus gizi balita di wilayah kerja seimbang dan kesehatan. Gizi kurang pada puskesmas mekar kendari dapat dilihat pada balita membawa dampak negatif terhadap Tabel 2 menunjukan bahwa tingkat pendidikan pertumbuhan fisik maupun mental yang ibu tinggi dengan status gizi balita baik lebih selanjutnya akan menghambat prestasi belajar. banyak yaitu 25 orang . ,8%) dibanding Akibat lainnya adalah penurunan daya tahan dengan status gizi kurang yaitu 19 orang menyebabkan hilangnya masa hidup sehat . ,2%). Dan tingkat pendidikan ibu rendah balita, serta dampak yang lebih serius adalah dengan status gizi baik lebih banyak yaitu 34 orang . ,4%) dibanding dengan status gizi kesakitan dan percepatan kematian. kurang yaitu 18 orang . ,4%). Pada saat ini balita sebagai generasi penerus bangsa yang diharapkan menjadi hitung = 0,42 < X tabel . dan P value = sumberdaya manusia yang berkualitas di masa 0,51 > . sehingga H0 diterima, berarti depan memerlukan perhatian khusus. Usia tidak ada hubugan antara tingkat pendidikan ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja pembentukan sumberdaya manusia baik dari puskesmas mekar kendari dengan tingkat segi pertumbuhan fisik maupun kecerdasan, di kepercayaan 95%. mana hal ini harus didukung oleh status gizi Hasil uji statistik diperoleh nilai X Auusia emasAy yang baik karena status gizi berperan dalam PEMBAHASAN Status gizi pada masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor kondisi sosial merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status Bila kondisi sosial baik maka status gizi diharapkan semakin baik. Status gizi anak balita akan berkaitan dengan kondisi sosial keluarga antara lain asupan makanan yang peningkatan sumberdaya manusia. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa balita yang memiliki gizi baik lebih banyak yaitu 61,5%. Hal ini dikarenakan kondisi tubuh balita sehat yang ditimbang BB/U kebutuhan balita dalam pemenuhan gizi MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 Sedangkan status gizi kurang lebih yang diberikan oleh orang tua balita sudah sedikit yaitu 38,5%, prevalensi status gizinya berada di Bawah Garis Merah (BGM). Hal ini nasi/bubur, telur, kacang-kacangan dan ikan. Selain itu makanan tersebut juga mudah mengakibatkan status gizi tersebut kurang di diperoleh dan tersedia di wilayah kerja antaranya asupan makan dan pola asuh orang Puskesmas Mekar kendari. tua balita tersebut. Gangguan pertumbuhan Dari hasil analisis bivariat antara asupan dapat terjadi pada perubahan berat badan balita energi dan protein dengan status gizi balita sebagai akibat menurunnya nafsu makan, sakit juga menunjukan bahwa balita yang memiliki misalnya diare dan infeksi saluran pernapasan asupan energi dan protein kurang lebih banyak akut (ISPA) atau karena tidk cukup konsumsi yang memiliki status gizi kurang . ,0%) Sedangkan gangguan pertumbuhan namun ada 30% balita yang walaupun asupan makanan kurang tetapi status gizi balita pertambahan tinggi badan. Faktor langsung penyebab gizi kurang tersebut baik, ini disebabkan karena pola makanan dan nutrisi lain yang diberikan adalah asupan gizi yang rendah dan penyakit infeksi, sedangkan faktor tidak langsung mempengaruhi status gizi balita tersebut. adalah persediaan pangan, pola asuh, sanitasi. Sementara balita yang memiliki asupan energi sumber air bersih dan pealyanan kesehatan. dan protein cukup lebih banyak yang memiliki Penykit infeksi merupakan salah satu faktor status gizi baik . ,8%) tetapi 24,2% masih yang berpengaruh dalam proses pertumbuhan memiliki gizi yang kurang, ini di karenakan Masa balita adalah masa berisiko beberapa nutrisi yang tidak terpenuhi untuk terjadinya infeksi selain masa pertumbuhan. Hasil Uji Chi Square menunjukkan Peralihan dari ASI ke MP-ASI merupakan bahwa antara asupan energi dan protein salah satu faktor penyebab penurunan berat berhubungan dengan status gizi balita di badan dan status gizi balita. wilayah kerja Puskesmas Mekar Kendari tahun Rendahnya konsumsi energi dan protein 2018 dengan kekuatan hubungan sedang. Hal juga mikronutrien dalam kehidupan sehari-hari ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan dalam jangka waktu lama akan menyebabkan oleh NurAoaeni mengenai hubungan antara gizi buruk. Kurang energi protein disebabkan asupan energi dan protein dan faktor lain pada oleh kekurangan makanan sumber energi status gizi baduta . -23 bula. diwilyah kerja secara umum dan kekurngan sumber protein. puskesmas depok jaya. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh Telah lama diketahui adanya interaksi bahwa balita yang asupan energi dan protein sinergis antara mainutrisi dan penyakit infeksi, cukup lebih banyak . ,7%) dibandingkan dimana infeksi ringan pun dapat memperburuk dengan asupan energi dan protein kurang keadaan gizi, sementara malnutrisi meskipun . ,3%). Hal ini disebabkan menu makanan ringan mempunyai pengaruh negatif pada daya MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 tubuh, sehingga daya tahan tubuhnya pun Penyakit infeksi merupakan salah satu faktor Balita yang memiliki riwayat penyakit resiko terjadinya kurang energi protein (KEP) infeksi dengan gizi baik lebih banyak . ,0%) pada balita. Beberapa jenis penyakit yang ini disebabkan karena penyakit yang diderita berpotensi terhadap kejadian kurang energi balita tidak berkepanjangan dan daya tahan tubuh balita yang stabil. e- ISSN: 2622-7762 pernafasan, diare, gastroenteritis, campak dan lain-lain. Kekurangan Energi dan Protein (KEP) dan infeksi penyakit saling berkaitan ada Riwayat hubungan sebab akibat. Pada kasus KEP yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penyakit berkepanjangan akan menyebabkan daya tahan yang dialami dan dilihat dengan ada tidaknya tubuh seseorang menurun dan selanjutnya salah satu atau lebih penyakit menular seperti akan rentan atau mudah terinfeksi penyakit. TBC, diare, campak atau penyakit infeksi Demikian juga pada kasus infeksi yang ringan lainya yang pernah diderita oleh balita berkepanjangan akan menyebabkan gangguan dalam bulan terkhir sampai saat wawancara sistemik yang berkibat nafsu makan berkurang atau menurun, sehingga asupan makanan baik Berdasarkan diperoleh bahwa responden yang memiliki berkurang yang akhirnya akan mengakibatkan gangguan gizi buruk. penyakit infeksi yaitu 100%. Berdasarakan hasil penelitian diperoleh Pola asuh merupakan faktor risiko bahwa balita yang tidak memiliki riwayat terjadinya gizi kurang. Orangtua memiliki . ,8%) anak-anak dibandingkan dengan yang memiliki riwayat penyakit infeksi . ,2%). Hal ini disebabkan Salah satu contoh pengasuhan yang karena balita yang memiliki gizi kurang masih baik adalah ibu memperhatikan frekuensi dan jenis makanan yang di konsumsi oleh anaknya agar kebutuhan zat gizinya terpenuhi. Setiap mempengaruhi daya tahan tubuh balita. orangtua memiliki pengasuhan yang berbeda Dari hasil analisis bivariat antara riwayat penyakit infeksi dengan status gizi balita Sehingga strategi perilaku tertentu untuk mengontrol apa penyakit infeksi dengan gizi baik lebih banyak saja yang diberikan pada anak. Pola asuh anak . ,5%) namun ada pula beberapa balita yang dimaksud dalam penelitian ini adalah walaupun tidak memiliki riwayat penyakit praktek di rumah tangga yang diwujudkan tetapi masih juga mempunyai status gizi yang dengan tersedianya pangan dan perawatan kurang, ini disebabkan karena balita kurang masing-masing. mengkonsumsi makanan yang dibutuhkan oleh MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 perkembangan anak. e- ISSN: 2622-7762 dengan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Ranata Kec Wanea. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa Semua orang harus memberikan hak pola asuh orang tua terhadap balita di wilayah anak untuk tumbuh. Semua anak harus kerja puskesmas mekar kendari masih banyak memperoleh yang terbaik agar dapat tumbuh yang kurang . ,2%) dibandingkan dengan sesuai dengan apa yang mungkin dicapainya pola asuh yang cukup . ,%). Hal ini dan sesuai dengan kemampuan tubuhnya. disebabkan karena beberapa orang tua balita Untuk itu perlu perhatian/dukungan orang tua. khususnya ibu balita masih kurang paham Untuk tumbuh dengan baik tidak cukup dengan cara asuh anak balita yang baik seperti dengan memberinya makan, asal memilih pemberian makanan pada balita dan perhatian menu makanan dan asal menyuapi anak nasi. terhadap tumbuh kembang balitanya. Akan tetapi anak membutuhkan sikap orang Dari hasil analisis bivariat menunjukan tuanya dalam memberikan makanan. Semasa juga bahwa pola asuh orang tua yang kurang anak hanya menelan apa saja yang lebih banyak ditemukan dengan status gizi diberikan ibunya. Sekaliapun yang diberikanya balita yang kurang 53,8%, sedangkan 46,2% tidak cukup dan kurang bergizi. lainnya berstatus gizi baik ini dapat terjadi Pendidikan adalah proses belajar yang karena asupan makanan dan prioritas terhadap berarti didalam pendidikan terjadi proses gizi yang baik di berikan kepada balita perkembangan atau perubahan kearah yang tersebut, sehingga status gizi balita tetap baik. lebih baik dari individu, kelompok dan Dan balita yang memiliki status gizi baik masyarakat yang lebih luas. Pendidikan sejalan dengan pola asuh yang baik lebih banyak dengan pengetahuan dimana pengetahuan 79,5%, namun 20,5% lainnya masih memiliki status gizi yang kurang yang disebabkan penginderaan terhadap suatu objek tertentu karena beberapa orang tua masih kurang dan pengetahuan atau kognitif merupakan pahamnya dengan pola asuh balita yang baik dan kurangnya asupan nutrisi lainnya yang terbentuknya tindakan seseoarang. diberikan terhadap balita serta pemberian Ibu merupakan pendidikan pertama makanan yang tidak teratur dapat juga dalam keluarga, untuk itu ibu perlu menguasai meyebabkan kurangnya gizi pada balita. Hasil uji Chi Square menunjukan bahwa antara pola Pendidikan ibu disamping merupakan modal asuh berhubungan dengan status gizi balita di utama untuk mununjang perekonomian rumah wilayah kerja puskesmas mekar kendari tahun tangga juga berperan dalam pola penyusunan 2018 dengan kekuatan hubungan lemah. Hal makanan untuk rmah tangga. Pendidikan ibu ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Reska mengenai hubungan antara pola asuh jenjang sekolah formal terakhir yang ditempuh MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 Berdasarkan hasil penelitian di peroleh e- ISSN: 2622-7762 Oleh bahwa tingkat pendidikan ibu balita lebih karena itu kegiatan Komunikasi Informasi dan banyak kategori rendah . ,2%) dibandingkan Edukasi (KIE) oleh tenaga kesehatan kepada dngan kategori tinggi . ,8%). Hal ini disebabkan karena banyak orang tua/ibu balita pendidikan ibu balita. Dengan demikian yang memiliki riwayat pendidikan hanya tamat SMP . ,4%). Dari hasil analisi bivariat mencapai sasaran yang diinginkan. menunjukan bahwa ibu balita yang memiliki tingkat pendidikan tinggi lebih banyak balita KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan yang memiliki status gizi baik 56,8% dan masih ada juga balita yang memiliki status gizi kurang sebanyak 43,2%, ini dikarenakan beberapa pendidikan kesehatan tidak mencapai sasaran yang diinginkan. Sedangkan ibu balita yang memiliki tingkat pendidikan rendah lebih banyak memiliki status gizi balita baik 65,4% karena walaupun tingkat pendidkan rendah, pengetahuan melalui masing-masing posyandu Hasil uji Chi Square menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan status gizi balita, ini disebabkan karena informasi mengenai gizi pada balita banyak ibu balita memperoleh dari setiap pengetahuan meraka tentang gizi balita itu cukup seperti pengetahuan asupan makanan untuk balita dan lain sebagainya. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Erledis S, mengenai faktor resiko kurang yang berhubungan kerja Puskesmas Mekar Kendari, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: ada hubungan sedang asupan makanan energi dan protein dengan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Mekar Kendari tahun 2018, tidak terhadap status gizi balita di wilayah kerja hubungan lemah pola asuh terhadap status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Mekar Kendari tahun 2018, tidak ada hubungan tingkat pendidikan ibu terhadap status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Mekar Kendari tahun 2018. Berdasarkan kesimpulan yang telah dijelaskan maka saran yang diajukan pada pemerintah, agar penanggulangan gizi kurang pada balita dilakukan secara terpadu dengan kerjasama lintas program dan kerjasama lintas ketenagakerjaan, lembaga swadaya masyarakat energi protein pada balita di kota medan. Tingkat dengan kejadian status gizi balita di wilayah puskesmas mekar kendari, sehingga walaupun faktor-faktor Puskesmas Mekar Kendari tahun 2018, ada yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. lain-lain. Kepada senantiasa memperhatikan kesehatan anak MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 upaya-upaya Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Vol pencegahan terhadap penyakit infeksi melalui 6, no. Diakses tanggal 14 februari 2019. imunisasi, pemenuhan nutrisi dan perbaikan Suryani. Linda. Faktor-Faktor yang hygiene dan sanitasi lingkungan. Mempengaruhi Status Gizi Balita di menjaga pola asuh pada anak balitanya Wilayah Kerja Puskesmas Payung Sekaki terutama perhatian mengenai jenis makanan Pekanbaru. Journal Of Midwifery Science, dan frekuensi makanan balita sesuai umur. Vol 1. No. Penyuluhan kesehatan kepada masyarakat pencegah gizi kurang pada balita. Puskesmas Mekar Kendari. Profil Kesehatan Puskesmas Mekar 2016. Handayani. Hubugan Antara Sosial Ekonomi dengan Status Gizi Balita Indonesia. DAFTAR PUSTAKA