Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 62-74 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 PENGARUH KONSELING ASUHAN KEFARMASIAN PADA RESPONDEN DIABETES MELLITUS II UNTUK PENINGKATAN KEPATUHAN MINUM OBAT DALAM PENGENDALIAN GLUKOSA DARAH DI RUMAH SAKIT SIDOARJO Tridoso Sapto Agus Priyono1*. Arifani Siswidiasari1. Henni Wati1 Universitas Kadiri *Email: tridoso@unik-kediri. Artikel diterima: 2025-03-21. Disetujui: 2025-07-14 DOI: https://doi. org/10. 36387/jiis. ABSTRAK Tujuan penelitian untuk mengetahui kepatuhan minum obat dan kadar glukosa darah responden DM II serta pengaruh konseling asuhan kefarmasian terhadap kepatuhan minum obat dan kadar glukosa darah responden diabetes mellitus tipe II (DM II) Rawat Jalan di rumah sakit Sidoarjo dengan sampel sebanyak 47 responden. Metode penelitian berupa penelitian kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif, terkait pengaruh konseling asuhan kefarmasian terhadap kepatuhan minum obat dan kadar glukosa darah responden DM II serta hubungan antara tingkat kepatuhan minum obat dan kadar glukosa darah responden DM II. Tingkat kepatuhan minum obat diperoleh dari hasil kuesioner, sedangkan kadar glukosa darah diperoleh dari pengukuran sebelum dan sesudah pemberian konseling dengan menggunakan uji univariat dengan teknik deskriptif untuk melihat gambaran karateristik responden DM tipe II dan uji bivariat dilakukan dengan uji normalitas dan uji korelasi. Hasil penelitian yaitu ada pengaruh signifikan pemberian konseling asuhan kefarmasian terhadap kepatuhan minum obat dan kadar glukosa darah responden DM II. Pemberian konseling asuhan kefarmasian secara signifikan dapat menurunkan kadar glukosa darah responden DM II, dan didapatkan nilai p=0,000. Rata-rata kadar glukosa darah puasa responden adalah sebesar 190. 98 A74,85,sedangkan sesudah konseling, turun menjadi 73,79 A 97,48, dan kadar glukosa darah responden 2 jam setelah makan adalah 250,70 A 92,36 sedangkan setelah konseling, rata-rata kadar glukosa darah responden 2 jam setelah makan menurun menjadi 218,47 A 113,21. Kesimpulan penelitian adalah konseling asuhan kefarmasian dapat meningkatkan kepatuhan minum obat dan menurunkan kadar glukosa responden DM II rawat jalan di rumah sakit Sidoarjo. Kata kunci : Konseling asuhan kefarmasian. Kepatuhan minum obat. Kadar glukosa Diabetes mellitus II ABSTRACT The purpose of the study was to determine the compliance and glucose levels of patients DM II and the effect of counseling pharmaceutical care on compliance and glucose levels of patients DM II Outpatient at Sidoarjo hospital with a sample of 47 The research method is quantitative with descriptive analysis techniques, related of counseling pharmaceutical care on adherence and glucose levels of patients DM II and the relationship between adherence and glucose levels of patients DM II. Tridoso Sapto Agus Priyono, dkk | 62 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 62-74 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 The compliance is obtained from the results of the questionnaire, while glucose levels are obtained from measurements before and after counseling using univariate tests with descriptive techniques to see a description of the characteristics of patients DM II and bivariate tests are carried out with normality tests and correlation tests. The results was a significant effect of providing counseling pharmaceutical care on compliance and glucose levels of patients DM II. The provision of counseling pharmaceutical care can significantly reduce the glucose levels of patients DM II, and obtained a value of p = 0. The average fasting glucose level of patients was 98 A 74. 85, while after counseling, it dropped to 73. 79 A 97. 48, and the patient's glucose level 2 hours after eating was 250. 70 A 92. 36 while after counseling, the average patient's glucose level 2 hours after eating decreased to 218. 47 A 113. The conclusion of the study is that counseling pharmaceutical care can improve compliance and reduce the glucose levels of outpatients DM II at the Sidoarjo Keywords: Medication counseling. Medication adherence. Blood glucose level. Diabetes mellitus II PENDAHULUAN (DM) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu penyakit kronis melaporkan jumlah penderita DM pada yang paling serius dan umum karena tahun 2021 mencapai 929. 535 kasus. Dari jumlah tersebut diestimasikan komplikasi terjadinya gangguna jiwa, 257 penderita . ,3%) Diabetes Mellitus harapan hidup. Prevalensi DM secara umum yang terjadi pada usia 20-79 (Dinkes Jatim, 2. diperkirakan 536,6 juta orang pada Berdasarkan Centers for Disease 2021 yang akan meningkat menjadi Control 783,2 juta pada tahun 2045. Prevalensi Diabetes Statistics DM terkait jenis kelamin antara pria berbagai komplikasi DM muncul akibat dan wanita adalah sama dan tertinggi dari kebiasaan pada usia 75 Ae 79 tahun. (Hongsun, kurang gerak, tekanan darah tinggi. Kesehatan kolesterol, dan kadar glukosa darah Republik Indonesia melaporkan jumlah yang tinggi. Keadaan ini menyebabkan pasien harus menjalani hospitalisasi, sebanyak 19,47 juta jiwa sedangkan mengeluarkan biaya, kondisi gawat Kementerian Prevention. Report National . Tridoso Sapto Agus Priyono, dkk | 63 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 62-74 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 darurat bahkan kematian. Partisipasi aktif pasien, keluarga, dan masyarakat puasa, pengobatan dikatakan berhasil sangat diperlukan untuk pemberdayaan pasien diabetes mellitus. Selain itu mengalami penurunan menjadi 70-130 dibutuhkan pendidikan kesehatan yang miligram/dl (Nanda, 2. Perilaku komprehensif, dan upaya peningkatan kepatuhan minum obat yang optimal akan memberikan keberhasilan terapi mendampingi pasien untuk mencapai serta meningkatkan kualitas hidup perubahan perilaku sehat (Almain, (Almira,2. Seiring dengan perkembangan Salah satu kegagalan pengobatan kasus diabetes mellitus II di Indonesia pengobatan yang sudah direncanakan. peningkatkan, hal ini secara tidak Salah kepatuhan pengobatan adalah konseling yang lengkap, akurat serta terstruktur mellitus II masih banyak mengalami (Ambar, 2. Kebutuhan konseling muncul dari dalam dan luar tubuh Beragam dikemukakan oleh penderita diabetes mellitus II yang cenderung mengalami bertambah dengan adanya konseling kenaikan kadar glukosa dalam darah dari apoteker mengenai pengobatan yang baik secara farmakologi maupun melakukan aktivitas fisik, dan adanya Konseling juga dapat kebosanan terhadap terapi. Diabetes mengontrol kadar glukosa darah dan mellitus II merupakan penyakit kronis sehingga kepatuhan minum obat perlu diperhatikan, dimana kepatuhan minum Kepatuhan Beberapa obat memegang peranan berarti pada tingkat kepatuhan minum obat dengan keberhasilan penurunan kadar glukosa Pada rumah sakit dengan menggunakan (Mokolomban. Tridoso Sapto Agus Priyono, dkk | 64 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 62-74 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 MMAS-8 kepatuhan minum obat dan kadar bahwa tingkat kepatuhan minum obat DM II sebesar 37,78% sedangkan mellitus II di Rumah Sakit Sidoarjo responden tidak patuh sebesar 62,22%. mengingat terkait penelitian ini yang (Mokolomban, 2. dilakukan pada rumah sakit tersebut Penelitian yang dilakukan oleh belum ada sehingga diharapkan dapat Riza dkk . dan Muhamad Reza tingkat kepatuhan dan keberhasilan . pengobatan diabetes mellitus II. diabetes melitus II dalam minum obat METODE PENELITIAN memberikan hasil yang signifikan Jenis penelitian yang digunakan mengenai penurunan kadar glukosa yaitu kuantitatif berdasar pada data darah pada pasien diabetes mellitus II. Tingginya angka insiden diabetes bilangan (Siswanto, 2. Metode mellitus perlu diwaspadai. Hal ini Quasi menunjukkan bahwa jumlah penderita . retest dan post tes. dengan mengisi diabetes melitus akan semakin banyak. Semakin tingginya kejadian penyakit Adherence Scale-8 (MMAS-. untuk diabetes melitus ini mengukur tingkat kepatuhan minum Experiment. Morisky Medication obat dan kuesioner Diabetes Quality of berdampak bukan hanya pada kualitas Life hidup masyarakat namun juga bagi (DQLCTQ) dimana kuisioner ini untuk menilai kualitas hidup pasien DM II Trial Mengingat Clinical Quesionnaire Pertama-tama kepatuhan minum obat, maka dilakukan MMAS-8 penelitian tentang pengaruh pemberian . konseling asuhan kefarmasian dengan konseling. Setelah jangka waktu satu DQLCTQ Tridoso Sapto Agus Priyono, dkk | 65 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 62-74 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 bulan kedepan, dilakukan kembali pengukuran kepatuhan dan konseling konseling asuhan kefarmasian terhadap untuk kedua kalinya . (John kadar glukosa darah responden DM II Roger, 2. Validitas dan realibilitas serta hubungan kepatuhan minum obat dilakukan terhadap kuisioner untuk dan kadar glukosa darah responden DM memastikan bahwa kuisioner tepat II. kepada pasien dan memberikan hasil yang handal. Dalam penelitian ini HASIL DAN PEMBAHASAN digunakan satu kelompok subjek yaitu Beberapa responden DM II Rawat Jalan Rumah penelitian ini yang menjadi kriteria Sakit di Sidoarjo. Pengambilan data memiliki penyakit penyerta selain DM yaitu pasien yang tidak responden DM II rawat jalan Rumah II, Sakit di Sidoarjo dengan pengambilan kunjungan ulang dan pasien dengan pasien yang tidak melakukan pengambilan sampel secara tidak acak Berdasarkan usia responden, sebagian . on random samplin. dengan teknik besar responden berusia >65 tahun purposive sampling. Teknik analisis . ,6%). Berdasarkan jenis kelamin, univariat dilakukan dengan teknik deskriptif yang akan digunakan untuk perempuan . ,6%). Berdasarkan responden DM II. Teknik kedua yaitu Berdasarkan jenis pekerjaan, karyawan hubungan antar dua variable yaitu swasta . ,8%). Berdasarkan lama menderita DM II, responden dalam terhadap tingkat kadar glukosa darah . ,3%). kurun waktu < 3 tahun . ,2%). Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Usia Jenis Kelamin Pendidikan Kategori <45 Tahun 45 - 55 Tahun 55 - 65 Tahun > 65 Tahun Laki-laki Perempuan Tidak Sekolah Frekuensi . Persentase (%) Tridoso Sapto Agus Priyono, dkk | 66 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 62-74 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Pekerjaan Lama menderita SMP SMA Diploma Sarjana IRT Swasta Tani Buruh Pensiunan Guru Pedagang Tukang < 3 Tahun 3 - 6 Tahun 6 - 9 Tahun >9 Tahun Berdasarkan tabel 1. dapat diketahui diperhatikan dalam hal target terapi dan bahwa penderita dengan usia > 65 tahun dukungan keluarga. Perempuan Pendidikan Analisa dilakukan untuk menguji pengaruh konseling asuhan kefarmasian memiliki penyakit DM II mengingat pada terhadap tingkat kepatuhan minum obat usia tersebut terjadi penuruan fungsi dan kadar glukosa darah responden DM tubuh dan rentan terjadinya komplikasi II, serta hubungan antara kepatuhan penyakit penyerta lainnya. Sehingga minum obat dan kadar glukosa darah pasien DM II dengan usia tersebut perlu responden DM II Tabel 2. Nilai Kuisioner Kepatuhan Minum Obat Sebelum dan Sesudah Pemberian Konseling Asuhan Kefarmasian Tingkat Kepatuhan Rendah Sedang Tinggi Total Sebelum Konseling Frekuensi . Persentase (%) Sesudah Konseling Frekuensi . Persentase (%) Hasil analisa menunjukkan bahwa ada II Hasil perhitungan rata-rata skor pengaruh konseling terhadap kepatuhan kepatuhan sebelum minum obat responden DM II. Hal ini setelah menerima konseling meningkat. Hal konseling terbukti dapat meningkatkan pengaruh positif pemberian konseling. kepatuhan minum obat responden DM Konseling bertujuan untuk mendidik Tridoso Sapto Agus Priyono, dkk | 67 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 62-74 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 dan memantau pengobatan responden obat sebelum dan sesudah konseling apoteker didapatkan berbeda secara (Kementerian Kesehatan, 2. Sebaiknya semua Berdasarkan responden diberikan konseling, tetapi normalitas, diperoleh nilai signifikansi sebelum konseling sebesar 0,001 dan setelah konseling sebesar 0,000. diberikan kepada responden dengan dinyatakan tidak berdistribusi normal kondisi tertentu. Tujuan dari kepatuhan dalam sangat rendah < 0,05 maka uji beda memimum obat pada pasien DM II berpasangan dengan menggunakan uji adalah untuk menjaga agar kadar Rank Wilcoxon glukosa darah terkontrol dan mencegah Berdasarkan terjadinya komplikasi sehingga dapat Wilcoxon sebesar 0,019 yang berarti meningkatkan kualitas hidup pasien ada hasil signifikan dan disimpulkan DM II. Hal ini berkorelasi dengan bahwa ada perbedaan signifikan skor pentingnya patuh dalam minum obat. Hasil Pada tabel 3 disajikan data status dengan penelitian Fatiha & Sabiti sesudah pemberian konseling asuhan . dilakukan pada periode April- kefarmasian pada responden DM II Mei 2019 di Puskesmas Halmahera yang diukur dengan menggunakan Semarang. Dimana kepatuhan minum metode POCT. Tabel 3. Status Diabetes Responden Sebelum dan Sesudah Pemberian Konseling Asuhan Kefarmasian Tingkat Sebelum Konseling Kepatuhan Frekuensi . Persentase (%) Kadar Glukosa Darah Puasa Normal Pra Diabetes Diabetes Total Kadar Glukosa Darah 2 Jam Setelah Makan Normal Sesudah Konseling Frekuensi . Persentase (%) Tridoso Sapto Agus Priyono, dkk | 68 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 62-74 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Pra Diabetes Diabetes Total Hasil konseling dapat menurunkan kadar kefarmasian terhadap kadar glukosa glukosa kadar glukosa puasa maupun darah responden DM II. Penurunan kadar glukosa 2 jam setelah makan. Selanjutnya diabetes dan terjadi peningkatan jumlah rata-rata responden pada status normal dengan Hal ini mengindikasikan kadar glukosa darah puasa < 100 mg/dL pengaruh positif pemberian konseling dan kadar glukosa darah 2 jam PP 140 terhadap penurunan kadar glukosa mg/dL. darah puasa responden DM II. Hal ini Konseling dilakukan di bawah juga terjadi pada hasil pengukuran bimbingan dan motivasi rehabilitasi kadar glukosa darah 2 jam setelah responden, agar responden selalu patuh Konseling pada pengobatan dan diet. Motivasi berfungsi sebagai pendorong untuk beberapa faktor-faktor seperti sosial ekonomi, responden, terapi, dan system untuk menjadi lebih baik. Saran yang Semua faktor tersebut bisa didukung dengan adanya konseling. pengetahuan dan motivasi responden Konseling membantu mendidik dan untuk berobat sesuai anjuran (Satrio memantau pengobatan responden untuk Wibowo, 2. mencapai efek terapetuik yang sesuai Berdasarkan hasil pengukuran dengan perubahan perliaku responden kadar glukosa darah 2 jam setelah makan, hasil menunjukkan penurunan jumlah responden status diabetes. Hasil selama pengobatan. analisis deskriptif pengaruh positif Konseling obat yang diberikan oleh Apoteker berisi tentang edukasi penurunan jumlah responden yang dan pemberian informasi terkait obat Tridoso Sapto Agus Priyono, dkk | 69 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 62-74 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 yang diterima pasien DM II dengan setelah konseling 0,000. Berdasarkan mempertimbangkan kondisi fisiologi hasil pengujian tersebut dinyatakan tidak berdistribusi normal maka uji meningkatkan pemahaman mengenai beda berpasangan menggunakan uji pengobatan yang dijalani oleh pasien Rank Wilcoxon. serta efektifitas terapi sehingga dapat Hasil pengujian sebesar 0,04. menghindari terjadinya efek samping Oleh karena nilai signifikansi yang yang akan berdampak pada kenaikan diperoleh < 0,05 bahwa ada perbedaan kualitas hidup pasien DM II. signifikan rata-rata kadar glukosa darah Hasil sebelum dan sesudah konseling yang dengan hasil penelitian Muhammad bersifat peningkatan, setelah konseling Reza . yang dilakukan di di Banjarmasin. glukosa darah menurun. Analisa menunjukkan bahwa ada perbedaan Berdasarkan hasil perhitungan yang signifikan sebelum dan sesudah yang ada, dapat disimpulkan bahwa konseling kesehatan terhadap kadar konseling asuhan kefarmasian pada glukosa darah. Berdasarkan hasil uji normalitas perbedaan yang dapat dilihat pada tabel diperoleh nilai signifikansi 0,000 dan 4 terkait perbandingan variabel yang signifikansi data kadar glukosa darah digunakan dalam penelitian. Tabel 4. Perbandingan Hasil Variabel Sebelum dan Sesudah Pemberian Asuhan Kefarmasian Konseling Obat Variabel Kepatuhan Minum Obat Glukosa Darah Puasa Glukosa Darah 2 jam setelah makan Sebelum Konseling 5,8085 A 1,8373 Sesudah Konseling 6,4894 A 1,6134 Sign 0,019 Kesimpulan Signifikan 190,98 A 74,85 250,70 A 92,36 173,79 A 97,48 218,47 A 113,21 0,048 0,005 Signifikan Signifikan Hasil yang diperoleh dari semua Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman bahwa konseling asuhan kefarmasian menunjukkan koefisien korelasi skor memberikan hasil yang signifikan kepatuhan minum obat dengan kadar terkait kepatuhan minum obat dan glukosa darah puasa adalah -0,340 kadar glukoa darah. dengan nilai signifikansi sebesar 0,019 Tridoso Sapto Agus Priyono, dkk | 70 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 62-74 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 ada hubungan negatif dan signifikan. adalah -0,470 dengan nilai signifikansi sebesar 0,001, oleh karena koefisien kepatuhan minum obat dengan kadar korelasi negatif dan signifikan < 0,05 glukosa darah 2 jam setelah makan ada hubungan negatif dan signifikan. Koefisien Tabel 5. Hasil Uji Korelasi Rank Spearman Variabel Kepatuhan vs GDS puasa r . 340* . = 0. Kesimpulan korelasi negative Kepatuhan vs GDS 2 jam 470** . = 0. korelasi negative Korelasi yang positif antara minum obat dan kadar glukosa darah responden diabetes diperoleh hasil konseling mengenai DM II memberikan dampak yang signifikan bermakna antara kepatuhan diet dengan terhadap kenaikan kualitas hidup pasien nilai . =0,. (Nursihhah & Wijaya DM II. Hal ini terjadi karena semakin septian, 2. patuh pasien DM II dalam meminum Hasil obat maka akan semakin baik kualitas kepatuhan dalam minum obat memiliki hidup pasien DM karena dengan pasien beberapa tantangan dam hambatan diantaranya tidak adanya dukungan diberikan sesuai dengan aturan minum keluarga dalam mengingatkan minum yang ada dalam etiket, diharapkan akan obat, terkait daya ingat pasien dalam keteraturan minum obat dan jumlah harapan hidup pasien serta kepedulian obat yang diminum terlalu banyak sehingga membuat pasien menjadi kesulitan dalam mengingat penjelasan Riza Alfian Apoteker. menunjukkan hasil hubungan antara Sehingga hambatan dan permasalahan glukosa darah pada responden DM II. Apoteker untuk membvantu pasien DM selain faktor sikap dan pengetahuan. II untuk tetap patuh dalam minum obat Menurut Nursihhah & Wijaya Septian . , hubungan antara kepatuhan Tridoso Sapto Agus Priyono, dkk | 71 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 62-74 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 KESIMPULAN Berdasarkan disimpulkan bahwa konseling asuhan kefarmasian pada responden Diabetes Mellitus tipe II rawat jalan rumah sakit Sidoarjo menurunkan kadar glukosa darah puasa dan kadar glukosa darah 2 jam setelah Rekomendasi dari penelitian ini Apoteker dan farmasi rumah sakit untuk lebih meningkatkan konseling minum obat dan strategi serta inovasi yang dapat dilakukan oleh Apoteker dalam membantu pasien untuk patuh minum obat. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih ini kami Pengembangan Lembaga Pembelajaran Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Kadiri di Kediri yang telah memberikan hibah penelitian internal serta semua pihak yang terlibat dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA