Angklung: Pendidikan dan Musik Kolaboratif . Fahmi Insanul Kamil Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung fahmiinsanull@gmail. Abstrak : Penelitian ini mengeksplorasi historiografi angklung dalam konteks pendidikan dan kolaborasi musik dari tahun 2011 hingga 2024. Diakui sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO, angklung telah bertransformasi dari alat musik ritual menjadi bagian penting dari pendidikan formal dan berbagai genre musik Studi ini menyoroti dua fase utama: pendirian Program Studi Angklung dan Musik Bambu di ISBI Bandung pada tahun 2011, serta adaptasi digital dan kolaborasi lintas genre selama dan pasca-pandemi COVID19. Dengan pendekatan historiografi, penelitian ini menganalisis bagaimana angklung beradaptasi dengan perubahan masyarakat dan kemajuan teknologi, serta kontribusinya terhadap pelestarian warisan budaya Indonesia. Temuan menunjukkan bahwa angklung tidak hanya berhasil bertahan di tengah tantangan zaman, tetapi juga terus berkembang, memperkaya khazanah musik Indonesia, dan menjadi simbol ketahanan budaya. Kata Kunci: Angklung. Pendidikan. Kolaborasi Musik. Historiografi. Warisan Budaya. Adaptasi Digital. PENDAHULUAN Angklung, sebagai salah satu warisan budaya takbenda Indonesia yang diakui UNESCO . memiliki akar sejarah yang dalam sebagai bagian dari tradisi masyarakat Sunda. Pada masa lalu, angklung tidak hanya berfungsi sebagai alat musik, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dalam ritual pertanian, seperti seren taun . pacara syukuran pane. dan ngaseuk . itual menanam pad. Melalui bunyi yang dihasilkan, angklung dipercaya dapat mengundang berkah dan menciptakan suasana harmonis dalam setiap perayaan . Seiring berjalannya waktu, angklung mengalami transformasi yang signifikan. Dari sekadar alat musik yang digunakan dalam konteks ritual, angklung mulai diperkenalkan ke dalam pertunjukan seni yang lebih luas. Pada awal abad ke-20, angklung mulai dikenal di luar komunitas lokal, dan berbagai kelompok seni mulai mengadaptasi dan mengembangkan permainan angklung dalam pertunjukan yang lebih luas. Hal ini menandai awal dari perjalanan angklung sebagai salah satu warisan budaya yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri. Pengakuan angklung oleh UNESCO sebagai Mahakarya Warisan Lisan dan Takbenda Kemanusiaan pada tahun 2010 semakin memperkuat kepentingan budayanya dan memfasilitasi jangkauan globalnya . Angklung tidak hanya menjadi lebih banyak dikenal dikarenakan pengukuhan oleh UNESCO, angklung bertransformasi dari segi organologi yang kemudian memperluas jangkauan nada pada penggunaan angklung sebagai suatu komposisi musik. Angklung memiliki berbagai jenis seperti angklung padaeng, angklung pukul, angklung toel dan angklung robot . Dari berbagai jenis perkembangan yang ada angklung memiliki potensi dapat dikenal lebih luas. Hal ini sejalan dengan inovasi pada angklung seperti Angklung Pentatonik AuRagam LarasAy telah memperluas repertoar musiknya, memungkinkannya digunakan di berbagai industri kreatif dan lingkungan Pendidikan . Memasuki era modern, angklung tidak hanya terbatas pada pertunjukan tradisional, tetapi juga bertransformasi menjadi bagian dari berbagai genre musik. Perkembangan ini dipicu oleh perubahan selera masyarakat dan kemajuan teknologi yang memungkinkan angklung untuk berkolaborasi dengan alat musik lainnya. Hibridisasi ini memungkinkan unsur-unsur tradisional untuk dilestarikan sambil memenuhi kebutuhan estetika modern, sehingga memperluas daya tarik angklung dan memastikan relevansi budayanya . Angklung mulai mendapatkan perhatian yang lebih besar dalam masyarakat, seiring dengan upaya pelestarian budaya dan promosi alat musik tradisional. Masyarakat mulai menyadari nilai-nilai yang terkandung dalam angklung, baik dari segi seni maupun pendidikan. Popularitas angklung semakin meningkat, tidak hanya di kalangan generasi muda, tetapi juga di berbagai kalangan masyarakat. Hal ini mendorong para musisi untuk mengeksplorasi dan mengkolaborasikan angklung dengan berbagai genre musik, seperti pop, jazz, dan musik Perkembangan ini menunjukkan bahwa angklung tidak hanya berfungsi sebagai alat musik tradisional, tetapi juga sebagai sarana ekspresi artistik yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kolaborasi antara angklung dan genre musik lain telah menciptakan ruang baru bagi inovasi dan kreativitas, memperluas jangkauan audiens angklung, serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap alat musik angklung. Penelitian ini dimulai dari menelaah tahun 2011, yang merupakan tahun penting dalam sejarah angklung di Indonesia, terutama dengan berdirinya Program Studi Angklung dan Musik Bambu di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung . Keberadaan prodi ini menjadi tonggak utama dalam pengembangan angklung sebagai bagian dari pendidikan formal. Melalui pendidikan, angklung tidak hanya diajarkan sebagai alat musik, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya yang harus dilestarikan dan dikembangkan. 81 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis perjalanan angklung dari tahun 2011 hingga 2024, dengan fokus pada peranannya dalam pendidikan dan kolaborasi musik. Melalui pendekatan historiografi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika penggunaan angklung dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas, serta kontribusinya terhadap pelestarian warisan budaya Indonesia di era modern. METODE PENELITIAN Penelitian sejarah dengan pendekatan historiografis adalah metode sistematis untuk mengeksplorasi peristiwa masa lalu, masyarakat, dan budaya untuk memahami perkembangan dan dampaknya pada masa sekarang. Ini melibatkan serangkaian langkah, termasuk pemilihan topik, heuristik . engumpulan sumbe. , verifikasi . ritik sumbe. , dan interpretasi . Pertama, tahap heuristik dilakukan dengan mengumpulkan sumber primer dan sekunder terkait perkembangan angklung, seperti dokumen arsip, partitur musik, rekaman pertunjukan dan literatur akademik dari periode 2011-2024. Selanjutnya, pada tahap kritik sumber, peneliti memverifikasi keaslian dan kredibilitas dokumen melalui analisis perbandingan antar sumber. Terakhir, pada tahap analisis dan interpretasi, data yang telah terverifikasi dianalisis untuk memahami transformasi angklung dalam konteks sosial, budaya, dan Metodologi ini bertujuan untuk menyajikan rekonstruksi historis yang komprehensif mengenai perkembangan angklung sebagai warisan budaya dan instrumen yang dapat terhubung pada konteks berbagai HASIL DAN PEMBAHASAN Angklung Pada Institusi Pendidikan Periode ini menjadi babak penting dalam sejarah angklung ketika instrumen tradisional ini secara resmi memasuki ranah pendidikan formal melalui pendirian Program Studi Angklung dan Musik Bambu di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung pada tahun 2011. Berdasarkan Surat Mandat dari Dirjen DIKTI Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan nomor 455/E/2001, tanggal 6 April 2011 Program Studi Angklung dan Musik Bambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung yang sekarang menjadi Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung didirikan untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya manusia (SDM) yang mampu menjadi penata musik pada tingkat sarjana terapan di bidang Angklung dan Musik Bambu . Keberadaan prodi ini merupakan respons terhadap pengakuan UNESCO atas angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda, sekaligus upaya sistematis untuk menjaga keberlangsungan ekosistem angklung. Transformasi ini melibatkan tiga proses fundamental: standarisasi teknik, teoretisasi musikologis, dan inovasi Pada aspek standarisasi, dilakukan pembakuan teknik produksi bunyi, termasuk pola tabuhan dan fingering, melalui modul pelatihan terstruktur. Sementara dari sisi teoretisasi, musik angklung diintegrasikan dengan teori musik Barat dalam mata kuliah seperti Etnomusikologi. Musik Barat dan Kreativitas Musik Bambu. Namun proses institusionalisasi ini menghadapi tantangan kompleks. Dalam sebuah penelitian mengungkap dominasi musik Barat dalam tugas akhir mahasiswa prodi angklung, dimana pola komposisi masih mengikuti struktur harmoni diatonis ketimbang mengembangkan idiom musik tradisi Sunda . Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kurangnya kesadaran akan pentingnya mempelajari musik tradisional dan kurangnya kepekaan akan perubahan perkembangan jaman bagi para pelaku kesenian tradisional yang membutuhkan pola pikir inovatif disertai dengan kemampuan kampus seni dalam merancang kurikulum yang lebih inovatif . Gambar 1. Tugas Akhir Mahasiswa Prodi Angklung Dan Musik Bambu Tahun 2020 Sumber: . Yotube Faseper ISBI Bandung 82 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Di luar institusi Pendidikan tinggi, berkembang berbagai inisiatif institusi yang mendukung angklung pada ranah pendidikan yang turut serta menjaga keberlangsungan angklung. Kompetisi angklung tingkat SD/SMP/SMA se-Jawa Barat yang sering dilaksanakan tiap tahun. Salah satu yang paling menonjol adalah Festival Angklung Pelajar, yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Penggiat Angklung (KGPA) bekerja sama dengan Radio Republik Indonesia (RRI). Festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga platform untuk memperkenalkan dan mengedukasi siswa tentang nilai-nilai budaya yang terkandung dalam permainan Melalui festival ini, siswa dari berbagai sekolah di Bandung berkesempatan untuk menampilkan keterampilan mereka, berkolaborasi dengan teman sebaya, dan belajar dari satu sama lain, sehingga menciptakan rasa kebersamaan dan cinta terhadap budaya lokal. Gambar 2. Festival Angklung Pelajar 2024 Sumber: . https://w. Selain itu, terdapat juga Lomba Musik Angklung Padaeng (LMAP) yang diadakan secara rutin setiap tahun di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. LMAP menjadi ajang kompetisi yang tidak hanya menilai kemampuan teknis peserta dalam memainkan angklung, tetapi juga mendorong kreativitas dalam menciptakan aransemen musik yang inovatif. Dengan melibatkan berbagai sekolah dan komunitas. LMAP berfungsi sebagai sarana untuk memperkuat jaringan antar pelajar dan penggiat angklung, serta meningkatkan apresiasi terhadap musik tradisional di kalangan generasi muda. Gambar 3. Lomba Musik Angklung Padaeng Sumber:. https://berita. Tak kalah pentingnya. Festival Angklung yang diselenggarakan oleh Badan Pelestari Kebudayaan IX pada tahun 2023 juga memberikan kontribusi signifikan dalam mempromosikan angklung. Ajang ini tidak hanya berfokus pada kompetisi, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang sejarah dan filosofi di balik angklung, serta pentingnya pelestarian budaya. 83 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Gambar 4. Festival Angklung BPK IX 2023 Sumber:. https://kebudayaan. Berdasarkan penjelasan diatas, perkembangan angklung dari instrumen ritual tradisional menjadi bagian integral dalam pendidikan formal dan non-formal mencerminkan dinamika yang kompleks dalam pelestarian budaya. Pendirian Program Studi Angklung di ISBI Bandung menandai langkah penting dalam menginstitusionalisasi angklung, meskipun dihadapkan pada tantangan dominasi musik Barat yang dapat mengancam nilai-nilai Di sisi lain, inisiatif dinas Pendidikan dan Kebudayaan seperti Festival Angklung Pelajar. Lomba Musik Angklung Padaeng (LMAP), dan Pasanggiri Angklung menunjukkan bahwa komunitas dan generasi muda memiliki peran aktif dalam menjaga dan mengembangkan angklung. Melalui ajang-ajang ini, siswa tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai budaya yang mendalam, menciptakan rasa kebersamaan, dan mendorong inovasi dalam aransemen musik. Dengan demikian, angklung tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga beradaptasi dan berkembang dalam konteks modern, memastikan keberlanjutannya di tengah tantangan globalisasi dan perubahan sosial. Angklung Sebagai Musik Kolaboratif Pada masa pandemi COVID-19, komunitas angklung menghadapi tantangan signifikan dalam menjaga keberlangsungan aktivitas kesenian mereka. Pembatasan sosial yang ketat memaksa para pelaku seni untuk beralih ke platform digital sebagai medium berkarya. Seniman memang dituntut untuk terus berkreativitas berubah sesuai zaman yang merupakan bagian dari seleksi alam . Bukan hanya seniman yang terdampak. salah satunya Saung Angklung Udjo yang harus bangkit sampai menjual peralatan orchestra angklung untuk menjaga keberlangsungan para musisi dan pegawai karena tantangan pandemi COVID-19 . Pertunjukan kolaboratif dengan memanfaatkan media digital adalah langkah yang banyak ditempuh oleh para seniman angklung. Berkolaborasi dengan berbagai kalangan dengan format video jadi salah satu medium ekspresi seniman pada saat pandemi . Salah satunya adalah Kelompok Paduan Angklung-ITB melakukan pertunjukan angklung dengan berinovasi mengembangkan sistem kolaborasi angklung virtual melalui pendekatan digital yang Hal teknis disampaikan oleh pihak KPA- ITB pada media Dunsanak . AuDengan menggunakan aplikasi Musecore untuk membuat aransemen sederhana, anggota dapat berlatih secara mandiri melalui gabungan gawai dan laptop - satu perangkat untuk memainkan Angklung, satu untuk merekam audio di ruangan yang kondusif, serta laptop untuk mendengarkan panduan lagu dan merekam video melalui fitur Zoom atau rekaman laptop. Proses produksi yang mencakup editing audio menggunakan Studio One dan video melalui Adobe Premier Pro membutuhkan waktu sekitar dua minggu, menciptakan suatu model kolaborasi virtual yang efektif untuk menjaga kesinambungan aktivitas kesenian angklung selama masa pembelajaran jarak jauh. Ay Gambar 5. KPA-ITB Pertunjukan Virtual Angklung Sumber: . https://dunsanak. 84 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Selain KPA-ITB, kelompok Jei Angklung pada tahun 2020 melakukan sebuah inovasi dengan menyebarluaskan aransemen angklung mereka pada media sosial mereka untuk mempersilahkan para seniman menyanyikan lagu Mojang Priangan sebagai bentuk semangat kepada para seniman untuk tetap berkreativitas di masa pandemic COVID-19. Gambar 6. Kolaborasi Virtual Jei Angklung Pada Tahun 2020 Sumber: Instagram Jei Angklung Pasca-pembatasan sosial, pola kolaborasi hybrid yang berkembang selama pandemi terus diadopsi sebagai praktik baru. Pandemi berfungsi sebagai katalis bagi seniman untuk menilai kembali praktik mereka dan mengeksplorasi arah baru. Periode refleksi dan eksperimen ini menyebabkan munculnya bentuk dan ide seni inovatif . Angklung mengalami inovasi yang signifikan berkat eksplorasi kreatif yang dilakukan oleh banyak musisi, yang terlihat dalam kolaborasi dengan genre musik modern. Salah satu contoh nyata adalah pertunjukan Jazzklung pada tahun 2022 yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan . , di mana angklung dipadukan dengan elemen jazz dengan menghadirkan beberapa nama seniman Jazz Indonesia diantara Dwiki Darmawan . Hal ini menciptakan suasana yang segar dan menarik pendengar baru bagi khazanah angklung. Gambar 7. Jazzklung Kuningan 2022 Sumber: Instagram DISPARBUD Jawa Barat Selain itu, inovasi juga terlihat dalam salah satu karya Manshur Angklung yang berjudul Angklung Vibes, yang menggabungkan angklung dengan musik elektronik . Manshur Angklung bahkan dengan berbagai genre lainnya yang menghasilkan suara yang modern dan dinamis. Kolaborasi ini tidak hanya memperluas jangkauan angklung di kalangan generasi muda, tetapi juga memastikan bahwa instrumen tradisional ini tetap relevan dan berkembang dalam konteks musik yang relevan pada zaman. Perkembangan ini menunjukkan bahwa angklung tidak hanya berhasil bertahan di tengah tantangan pandemi, tetapi justru mengalami evolusi artistik yang menjadikannya lebih dinamis dan relevan dalam konteks musik kontemporer global. 85 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Gambar 8 Kolaborasi Manshur Angklung Dengan Musik Eletronik Sumber: Instagram Manshur Angklung Perkembangan angklung selama periode kolaborasi online (COVID-. menunjukkan bahwa instrumen tradisional ini tidak hanya mampu bertahan di tengah tantangan pandemi, tetapi juga berhasil beradaptasi dan berinovasi melalui eksplorasi kreatif yang dilakukan oleh para musisi. Kolaborasi virtual yang dilakukan selama masa pembatasan sosial telah membuka peluang baru bagi seniman angklung untuk bereksperimen dengan berbagai genre musik. Perkembangan genre pada musik dan berubahnya selera masyarakat menjadikan tantangan inovasi dan menjadi contoh nyata dari perkembangan ini. Inovasi-inovasi tersebut tidak hanya memperluas jangkauan dan daya tarik angklung di kalangan generasi muda, tetapi juga memastikan bahwa instrumen ini tetap relevan dan dinamis dalam konteks music kontemporer. Dengan demikian, angklung telah berhasil menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi dan berkembang, menjadikannya sebagai simbol ketahanan budaya di era KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa perjalanan angklung dari tahun 2011 hingga 2024 menunjukkan dinamika adaptasi dan inovasi yang signifikan, terutama dalam konteks pendidikan dan kolaborasi musik. Periodeisasi ini menyoroti dua fase utama: Fase Institusionalisasi dan Pendidikan . : Dimulai dengan pendirian Program Studi Angklung dan Musik Bambu di ISBI Bandung pada tahun 2011, angklung secara resmi memasuki ranah pendidikan Fase ini ditandai dengan upaya standarisasi teknik, teoretisasi musikologis, dan inovasi organologis. Meskipun menghadapi tantangan dominasi musik Barat dalam kurikulum, berbagai inisiatif di luar institusi pendidikan tinggi, seperti Festival Angklung Pelajar dan Lomba Musik Angklung Padaeng, turut berperan aktif dalam menjaga keberlangsungan dan memperkenalkan angklung kepada generasi muda. Ini menunjukkan bahwa angklung tidak hanya diajarkan sebagai alat musik, tetapi juga sebagai bagian integral dari identitas budaya yang harus dilestarikan dan dikembangkan. Fase Adaptasi Digital dan Kolaborasi Lintas Genre . : Pandemi COVID-19 menjadi katalisator bagi angklung untuk beradaptasi melalui kolaborasi online. Komunitas angklung, seperti KPA-ITB dan Jei Angklung, berhasil mengembangkan model pertunjukan virtual yang inovatif, memanfaatkan aplikasi digital untuk aransemen, latihan, dan produksi audio-visual. Periode ini juga menyaksikan eksplorasi kreatif yang intensif oleh para musisi, yang menghasilkan kolaborasi angklung dengan genre musik modern seperti jazz . ontohnya jazzklung pada tahun 2022 di Kuninga. dan musik elektronik . arya Manshur Angklun. Inovasi-inovasi ini tidak hanya memperluas jangkauan audiens angklung dan meningkatkan apresiasi masyarakat, tetapi juga memastikan relevansinya dalam dunia musik kontemporer. Secara keseluruhan, angklung telah membuktikan kemampuannya untuk bertransformasi dari instrumen ritual tradisional menjadi warisan budaya yang dinamis dan adaptif. Melalui institusionalisasi dalam pendidikan dan eksplorasi kolaborasi lintas genre, angklung tidak hanya berhasil bertahan di tengah tantangan zaman, tetapi juga terus berkembang, memperkaya khazanah musik Indonesia, dan menjadi simbol ketahanan budaya di era modern. 86 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l DAFTAR PUSTAKA