Penerapan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Sosiodrama untuk Mengurangi Perilaku Bullying pada Peserta Didik di SMP Negeri 19 Surabaya PENERAPAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK SOSIODRAMA UNTUK MENGURANGI PERILAKU BULLYING PADA PESERTA DIDIK DI SMP NEGERI 19 SURABAYA Sabina Ezra Arzettisyah Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya 21043@mhs. Retno Tri Hariastuti Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya retnotri@unesa. Abstrak Maraknya perilaku bullying yang dilakukan oleh peserta didik di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji bimbingan kelompok teknik sosiodrama dapat mengurangi perilaku bullying pada peserta didik di SMP Negeri 19 Surabaya. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pre-experimental one group pre-test and post-test design. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket untuk mengukur perilaku bullying pada peserta didik di SMP Negeri 19 Surabaya yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Pengambilan subjek ini berdasarkan rekomendasi dari guru BK sebanyak delapan subjek. Pada penelitian ini terlihat adanya perubahan pada peserta didik yang diperoleh dari hasil angket pre-test dan post-test. Berdasarkan dari analisis data dalam penelitian ini menggunakan Uji Wilcoxon yang menunjukkan adanya perbedaan hasil dari perilaku bullying peserta didik sebelum treatment dan sesudah diberikan treatment. Maka dapat disumpulkan, bahwa bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama dapat mengurangi perilaku bullying pada peserta didik di SMP Negeri 19 Surabaya. Kata Kunci: Bimbingan kelompok, teknik sosiodrama, perilaku bullying, peserta didik Abstract The rise of bullying behavior committed by students in the school environment. This research aims to test the group guidance of sociodrama techniques can reduce bullying behavior in students at SMP Negeri 19 Surabaya. The method in this study uses quantitative methods with pre-experimental one group pre-test and post-test design. Data collection in this study used a questionnaire to measure bullying behavior in students at SMP Negeri 19 Surabaya which had been tested for validity and reliability. This subject was taken based on the recommendation of the counseling teacher as many as eight subjects. In this study, there were changes in students obtained from the results of the pre-test and post-test questionnaires. Based on the data analysis in this study using the Wilcoxon Test which shows the difference in the results of students' bullying behavior before treatment and after treatment. So it can be concluded, that group guidance with sociodrama techniques can reduce bullying behavior in students at SMP Negeri 19 Surabaya. Keywords: Group guidance, sociodrama technique, bullying behavior, students pada fisik, status sosial, gender, dan permasalahan lainnya yang dinilai sangat berbeda antara pelaku dengan korban. Perilaku bullying ini akan menyebabkan dampak yang akan mempengaruhi korban bullying dalam gangguan fisik hingga gangguan mental. Salah satu permasalahan yang terus muuncul dalam dunia pendidikan dari waktu ke waktu adalah tindakan kekerasan di sekolah, baik verbal maupun non verbal. Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh peserta didik yang melakukan kekerasan di lingkungan sekolah terhadap peserta didik yang lainnya. Hal ini selaras dengan temuan dari penelitian yang dilakukan oleh Longa & Anggraini . menurut Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia PENDAHULUAN Secara umum, makna dari kata bully ini memiliki arti suka mengganggu orang lain yang dinilai lebih lemah dari Lalu istilah dari kata bullying ini sendiri memiliki arti yang merujuk pada tindakan serta perilaku agresif yang dilakukan oleh suatu individu maupun sekelompok individu yang dilakukan secara berulang-ulang yang memiliki tujuan untuk menyakiti korban dari tindakan tersebut dari segi fisik hingga psikis korban Gustiwan et . Pada perilaku bullying ini dapat terjadi disebabkan oleh faktor adanya ketidakseimbangan antara pelaku bullying dengan korban, seperti adanya perbedaan Penerapan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Sosiodrama untuk Mengurangi Perilaku Bullying pada Peserta Didik di SMP Negeri 19 Surabaya selama tiga tahun terakhir ini tindakan perundungan atau bullying yang dilakukan peserta didik meningkat secara Dari tahun 2022 mencapai 194 kasus bullying, di tahun 2023 mencapai 285 kasus bullying, dan di tahun 2024 ini meningkat drastis mencapai 573 kasus, sehingga kasus bullying ini mengalami lonjakan yang signifikan. Di Indonesia sendiri kasus bullying sudah menjadi fenomena yang seringkali terjadi di sekolah Putri . menyatakan dari 10% hingga 60% peserta didik yang ada di Indonesia mendapatkan ejekan, cemooh, perundungan, dan juga kekerasan fisik. Hal ini menunjukan bahwa presentase bullying mencapai 66,1% pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), sedangkan untuk gambaran perilaku bullying pada salah satu kota terbesar yaitu Surabaya mencapai presentase 59,8%. Kondisi ini mencerminkan bahwa banyak peserta didik yang belum sepenuhnya menyadari dampak negative dari tindakan bullying, yang terlihat dari masih maraknya peserta didik yang melakukan bully hingga tindakan kekerasan terhadap peserta didik yang lainnya. Terdapat berbagai macam bullying yang kerap dilakukan oleh peserta didik menurut Safaat . , yaitu dengan cara verbal, non verbal, dan juga sosial. Contoh perilaku bullying secara verbal, seperti menghina, melakukan ancaman, serta melecehkan korban dengan kata-kata yang cenderung menyakitkan serta merendahkan korban tersebut. Sedangkan perilaku bullying non verbal dilakukan dengan cara memukul korban, menendang, menarik rambut korban, hingga kekerasan fisik. Adapun tindakan bullying secara sosial, yang dimana hal ini dilakukan dengan cara menyebarkan fitnah hingga mengucilkan korban. Bullying yang dilakukan oleh peserta didik dapat menimbulkan dampak pada korban yang dimana akan membuat korban merasa cemas, depresi, dan juga akan merasakan ketakutan setiap saat. Dalam permasalahan yang sedang marak antara peserta didik mengenai perilaku bullying tersebut dapat diterapkan dengan layanan bimbingan dan konseling, yaitu salah satunya dengan bimbingan kelompok. Terdapat beberapa metode dan teknik dalam bimbingan kelompok yang dapat diberikan kepada peserta didik. Bimbingan kelompok memiliki beberapa fungsi lain yang dapat memfokuskan suatu masalah atau dapat membahas secara berkelompok mengenai topik tertentu dengan tujuan yang ingin dicapai sehingga dapat memfokuskan layanan bimbingan kelompok dengan dinamika kelompok, sehingga suasana bimbingan kelompok ini dapat terbangun dan dapat membantu peserta didik dalam mengatasi permasalahan dari perilaku bullying. Layanan bimbingan ini perlu diberikan kepada peserta didik agar tidak terpengaruh hingga terjerumus oleh lingkungan negatif yang akan berdampak pada peserta didik. Dalam layanan bimbingan kelompok ini akan membahas permasalahan yang berkaitan dengan fenomena yang sedang maupun sering terjadi. Bimbingan kelompok ini membantu peserta didik dalam memahami permasalahan bullying dalam dinamika kelompok yang ditujukan agar dapat mencegah timbulnya suatu masalah Putri et al. Guru dari bimbingan konseling berperan penting dalam membantu peserta didik mencegah atau menyelesaikan permasalahan yang peserta didik dan dapat membantu peserta didik agar saling berinteraksi, lebih terbuka, serta dapat menyampaikan pendapat mereka dengan bebas tanpa merasa dihakimi oleh orang lain (Anita & Hidayani, 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Putri et , . teknik sosiodrama ini dapat digunakan oleh peserta didik sebagai suatu permainan drama agar peserta didik dapat merasakan langsung untuk merasakan menjadi korban dari bullying, sehingga dapat memikirkan dampak yang akan didapat karena dapat mempengaruhi pada fisik dan juga psikis terhadap korban. Sosiodrama ini merupakan suatu permainan peran yang bertujuan untuk memecahkan suatu masalah sosial yang muncul pada suatu individu. Sosiodrama ini sendiri digunakan untuk memberikan suatu pemahaman serta penghayatan terhadap berbagai masalah sosial guna untuk mengembangkan kemampuan peserta didik guna untuk memecahkan suatu masalah dalam dinamika kelompok dan terdapat kesempatan untuk peserta didik dalam menyampaikan gagasan serta pemikirannya. Berdasarkan dari observasi dengan guru bimbingan dan konseling di SMP Negeri 19 Surabaya bahwasannya peserta didiknya masih ada yang melakukan perilaku bullying berupa verbal, non verbal, dan juga sosial seperti mengolok-olok, memanggil teman dengan pukulan, ataupun kebiasaan untuk menggosip mengenai kekurangan teman. Hal tersebut selaras dengan temuan dari penelitian Rahmahdiyanti & Prasetiawan . yang mengemukakan bahwa perilaku bullying merupakan suatu perilaku yang kerap terjadi di lingkungan peserta didik. Melalui teknik sosiodrama dapat meningkatkan pemahaman peserta didik untuk mengetahui bahwa perilaku bullying dapat memberikan dampak negatif bagi pelaku maupun bagi korban. Hal ini, dapat membuat peserta didik mampu menumbuhkan dan menanamkan rasa empati kepada sebayanya, sehingga dapat membantu mereka mengurangi perilaku bullying. Teknik ini dinilai berkaitan dengan permasalahan atau kejadian yang berkaitan dengan sosial, seperti permasalahan individu yang melibatkan individu lainnya dan adanya interaksi antar individu tersebut dan dituangkan dalam bentuk drama maupun naskah yang akan diperankan oleh sekelompok individu berdasarkan petunjuk yang telah Dari penjelasan yang sudah dijelaskan di atas, peneliti tertarik untuk menerapkan bimbingan kelompok Penerapan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Sosiodrama untuk Mengurangi Perilaku Bullying pada Peserta Didik di SMP Negeri 19 Surabaya dengan teknik sosiodrama untuk mengurangi perilaku bullying pada peserta didik di SMP Negeri 19 Surabaya. Subjek 4 Sedang Subjek 5 Tinggi METODE Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif, dengan desain pre-eksperimental dan model one group pre-test and post-test design. Penelitian ini melibatkan satu kelompok tanpa adanya kelompok kontrol. Kelompok yang diteliti lebih dulu diberikan pre-test, kemudian dilakukan menggunakan teknik sosiodrama dalam jangka waktu yang akan ditentukan lalu diakhiri dengan pemberian angket post-test yang sama dengan pretest. Subjek penelitian yang akan digunakan adalah dari kelas Vi yang terdiri dari empat kelas yang dilakukan di SMP Negeri 19 Surabaya. Atas dari beberapa pertimbangan dan rekomendasi dari guru BK serta telah disetujui oleh pihak sekolah maka akan diambil delapan subjek dengan rincian empat peserta didik laki-laki dan empat peserta didik perempuan yang dilakukan pertemuan selama lima Setelah uji validitas dan uji reliabilitas pada angket perilaku bullying, maka diberikan kepada delapan subjek sebagai angket pengukuran awal atau sebagai pre-test. Penelitian penghimpunan data dengan memodifikasi angket perilaku bullying oleh Angraini . dengan 32 yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya sebesar 0,833. Teknik analisis data yang digunakan, yaitu non parametric dengan uji Wilcoxon. Subjek 6 Tinggi Subjek 7 Sedang Subjek 8 Sedang Rata-rata 63,12 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Dari hasil dari skor yang telah diberikan oleh delapan subjek dikategorikan menjadi 3, yaitu tinggi, sedang, dan rendah, mendapatkan hasil sebagai berikut: Nama Responden Skor Pretest Kategori Subjek 1 Sedang Subjek 2 Sedang Subjek 3 Sedang Dari hasil pengkategorian di atas maka peserta didik yang akan dilakukan treatment adalah yang mendapatkan kategori tinggi hingga sedang. Treatment dilakukan yaitu bimbingan kelompok teknik sosiodrama guna menurunkan perilaku bullying peserta didik yang dilakukan selama lima kali pertemuan dimulai dari tanggal 19 Februari 2025 hingga 25 Februari 2025 dengan waktu kurang lebih 50 menit. Setelah dilakukan treatment pada delapan peserta didik pelaku bullying sedang hingga tinggi. Dari delapan peserta didik tersebut diberikan angket perilaku bullying yang dimana angket tersebut diberikan juga pada saat pretest. Angket ini diberikan untuk melihat ada tidaknya perubahan perilaku dari sebelum diberikannya treatment dan sesudah diberikan treatment. Berikut hasil post-test dari delapan peserta didik: Nama Skor Kategori Responden Post-test Subjek 1 Rendah Subjek 2 Rendah Subjek 3 Rendah Subjek 4 Rendah Subjek 5 Sedang Subjek 6 Sedang Subjek 7 Rendah Subjek 8 Rendah Rata-rata 54,25 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui dari hasil post-test adanya penurunan skor dari delapan peserta didik setelah diberikan treatment. Hasil pre-test dan post-test selanjutnya dianalisis dengan cara saling membandingkan supaya dapat mengetahui perbedaan dari sebelum dan Analisis menggunakan uji Wilcoxon (Wilcoxon Signed Rank Tes. Penerapan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Sosiodrama untuk Mengurangi Perilaku Bullying pada Peserta Didik di SMP Negeri 19 Surabaya digunakan karena pertimbangan data yang digunakan saling berpasangan dan berhubungan. Analisis data dengan uji Wilcoxon menggunakan bantuan SPSS 25 sebagai berikut: observasi bersama guru BK di SMP Negeri 19 Surabaya diperoleh data bahwasannya sering ditemukan peserta didik yang melakukan perilaku bullying verbal, non verbal, dan sosial. Bullying dapat terjadi secara sadar atau tidak sadar dengan alasan bercanda tanpa menyadari dampak yang dirasakan oleh korban. Hal ini sejalan dengan (Putri et al. , 2. bahwa perilaku bullying sering terjadi dikalang an remaja terutama peserta didik SMP. Maka dari itu, penelitian tersebut mengambil delapan subjek yang melakukan perilaku bullying dan diberikan teknik sosiodrama, dari hasil penelitian tersebut dibuktikan bahwa perilaku bullying dapat berkurang pada peserta didik yang diberikan perlakuan. Penggunaan angket ini berdasarkan yang dikemukakan oleh Tridhonanto . bahwa perilaku bullying ditandai dengan beberapa ciri, seperti mengucilkan individu dari lingkungan sosial, menyebarkan rumor dan memberikan julukan yang bersifat merendahkan, bertindak usil yang mengintimidasi atau mengancam korban, melakukan kekerasan fisik, dan memeras atau memalak korban. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini menggunakan bimbingan kelompok agar membantu peserta didik meningkatkan dan mengembangkan pemikiran dan juga pemahaman peserta didik. Dari bimbingan kelompok ini peserta didik juga dapat belajar untuk bersosialisasi, menghargai orang lain, dan dapat memahami dirinya sendiri dalam membangun suatu hubungan dengan orang lain, sehingga peserta didik mengetahui bagaimana perilaku bullying dan dampak yang ditimbulkan dari perilaku tersebut. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian Mendrofa et al. , . bahwa bimbingan kelompok dapat membantu individu menghadapi permasalahan melalui proses dalam kelompok, dengan tujuan mengembangkan potensi diri dari setiap anggota. Bimbingan ini membimbing individu agar mampu mengasah keterampilan social, berani menyampaikan pendapat di depan orang lain, dan memiliki sikap toleran sehingga bisa membentuk pribadi yang lebih positif. Sosiodrama merupakan salah satu teknik layanan bimbingan kelompok dan permasalahan yang berkaitan dengan social, oleh karena itu penelitian ini menggunanak teknik tersebut. Penggunaan sosiodrama dalam bimbingan kelompok ini peserta didik tidak hanya memahami dengan cara teoritis mengenai perilaku bullying tetapi dapat merasakan langsung dalam situasi simulatif. Hal ini selaras dengan penelitian yang dikemukakan oleh Astria . bahwasannya sosiodrama adalah teknik peran yang dapat dilakukan untuk mengurangi permasalahan melalui interaksi dalam dinamika kelompok. Tujuannya adalah untuk mengatasi persoalan social yang muncul dalam hubungan antar individu. Peserta didik akan memerankan tokoh-tokoh sesuai dengan peran yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil di atas maka dapat diketahui bahwa: Nilai negative ranks menunjukkan adanya perbedaan antara skor pre-test dan post-test, dengan jumlah subjek (N) sebanyak 8. Mean Rank bernilai 4,50, dan Sum of Ranks sebesar 36,00. Hal ini mengindikasikan terjadinya penuruan atau pengurangan antara hasil pre-test dan posttest. Nilai positive ranks bernilai 0, yang berarti tidak ditemukan adanya peningkatan skor dari pre-test dan posttest. Nilai ties juga sebesar 0, yang berarti tidak ada skor yang sama antara hasil pre-test dan post-test Maka dasar pengambilan keputusan, sebagai berikut: Ha diterima Jika nilai Asymp. Sig. -taile. kurang dari O 0,05 Sebaliknya. Ha ditolak dan Ho diterima jika nilai Asymp. Sig. -taile. lebih dari Ou 0,05 Dari hasil AuTest StatisticsAy terlihat bahwa Asymp. Sig. -taile. adalah 0,012 lebih kecil dari O 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima yang berarti adanya perbedaan hasil dari perilaku bullying peserta didik dari sebelum dan sesudah treatment dengan menggunakan bimbingan kelompok teknik sosiodrama, sehingga dapat disimpulkan bahwa AuBimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama dapat mengurangi perilaku bullying pada peserta didik di SMP Negeri 19 SurabayaAy Pembahasan Penelitian ini didasarkan pada suatu fenomena tindakan bullying diantara peserta didik. Berdasarkan Penerapan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Sosiodrama untuk Mengurangi Perilaku Bullying pada Peserta Didik di SMP Negeri 19 Surabaya semenara peserta lain yang tidak berperan akan berfungsi sebagai pengamat yang mencermati jalannya cerita dan peran yang dimainkan. Selama proses pelaksanaan penelitian, menunjukkan para anggota kelompok mengalami perkembangan yang Pada awal pertemuan peserta didik cenderung pendiam dan belum berani untuk mengutarakan pendapatnya, namun pada saat perkenalan diri, membahas hobi, serta melakukan kegiatan kelompok, peserta didik mulai membentuk kedekatan dan kepercayaan satu sama lain sehingga peserta didik mulai terbuka dan berani untuk mengutarakan pendapatnya. Setiap peserta didik melakukan perilaku bullying yang berbeda-beda mencangkup bullying verbal, bullying non verbal, dan bullying sosial, tetapi setelah mengikuti treatment selama lima pertemuan peserta didik mulai menyadari dampak yang akan dirasakan korban jika melakukan bullying tersebut sehingga peserta didik berkomitmen untuk tidak melakukan perilaku bullying dan menciptakan lingkungan pertemanan yang positif. Berdasarkan pelaksanaan penelitian ini menggunakan delapan subjek atas rekomendasi guru BK dan persetujuan dari pihak sekolah. Pada pertemuan pertama, peneliti memusatkan kegiatan pada membangun hubungan antar anggota kelompok dengan cara saling memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama, kelas, dan memperagakan Selain itu, peserta juga diminta mengisi pre-test untuk mengetahui tingkat perilaku bullying sebelum dilakukan treatment. Pada sesi pertama ini, materi yang dibahas meliputi pengertian perilaku bullying, jenisjenisnya, dan faktor-faktor penyebabnya, dengan tujuan peserta didik mampu memahami dan saling berdiskusi mengenai isu tersebut. Sesi pertama masih terasa kaku, karena peserta didik berasal dari kelas yang berbeda dan sebagain besar belum saling mengenak secara dekat. Hal ini bisa dilihat dari subjek 1,2,3, dan 4 yang masih malumalu untuk memperkenalkan dirinya masing-masing dan belum berani untuk mengemukakan pendapatnya dalam sesi diskusi. Subjek 5 dan 6 justru menunjukkan sikap kurang serius dan suka bercanda pada saat kegiatan sedang berlangsung, tetapi subjek 5 dan 6 masih mengikuti arahan dari peneliti. Subjek 7 dan subjek 8 cenderung lebih tenang tapi masih pasif dalam berdiskusi. Pada tahap ini, peserta didik masih belum memahami bahwa perilaku seperti mengejek, menggosip, ataupun mempermalukan teman di depan umum termasuk dalam perilaku bullying. Meskipun dalam pertemuan ini peserta didik belum berpartisipasi secara aktif, tetapi peserta didik mulai memahami dan menunjukkan ketertarikan terhadap materi yang sudah disampaikan. Dalam pertemuan kedua, kegiatan bimbingan kelompok ini mulai mengarah kepada keterlibatan secara aktif melalui teknik sosiodrama. Dalam pertemuan kedua ini mengangkat topik AuSuara di Balik DiamAy, yang dimana peserta didik mulai bermain peran yang berkaitan dengan perilaku bullying secara verbal. Pada awalnya, peserta didik masih terlihat canggung pada saat memainkan peran, seperti subjek 1 dan subjek 3 namun dengan arahan peniliti, subjek 1 dan subjek 3 mulai menunjukkan keterlibatan secara baik. Lalu untuk subjek 2 meskipun termasuk peserta didik yang pendiam tetapi mulai menunjukkan respon ketika ditunjuk secara langsung ketika berdiskusi, begitu juga dengan subjek 5. Subjek 6 mulai menunjukkan perubahan yang positif dengan mengikuti alur bermain peran dengan baik. Sementara itu, subjek 7 dan subjek 8 dapat memainkan peran dengan baik meskipun masih belum banyak berimprovisasi. Setelah selesai bermain peran dan dilanjutkan ke tahap diskusi, mayoritas peserta didik mulai memahami bahwa berkata kasar maupun mengolok-olok teman dapat menyebabkan dampak yang buruk bagi korban. Pertemuan ketiga ini, mengangkat topik mengenai AuBerteman Tidak Harus MenyakitiAy diangkat guna mengetahui bagaimana tindakan fisik maupun verbal yang sering terjadi di lingkungan sekolah. Subjek 1 dan 3 dapat tampil percaya diri dan dapat mengikuti bermain peran dengan baik. Subjek 2 yang awalnya pasif, pada pertemuan ini mulai berani untuk menyampaikan pendapatnya terkait isi drama dan ikut berdiskusi. Subjek 5 dan 6 yang pada pertemuan sebelumnya kurang serius, mulai menunjukkan sikap lebih fokus tetapi cenderung pasif pada saat sesi diskusi. Subjek 7 dan subjek 8 pun juga dapat menyampaikan pendapatnya terkait drama yang sudah dilaksanakan. Sehingga pada pertemuan ini peserta didik mulai memahami mengenai dampak negatif dari tindakan bullying yang sudah dilakukan maupun kejadian bullying yang ada di sekitarnya. Pada pertemuan keempat, mengangkat topik mengenai AuBerani Melawan BullyingAy yang dimana peserta didik dapat menghadapi tindakan bullying dan membangun keberanian dalam menghadapi bullying yang ada Subjek 1 dan subjek 2 dapat mengikuti bermain peran dengan baik. Subjek 3 dan subjek 4 juga dapat mengikuti permainan peran ini dengan baik sehingga menumbuhkan pemahaman mereka mengenai makna cerita yang sudah dimainkan. Subjek 5 dan subjek 6 dalam sesi diskusi juga mengutarakan bahwa tindakan bullying yang awalnya dianggap sebagai suatu candaan ternyata juga bisa menyakiti korban. Subjek 7 juga mengutarakan bahwa sebelumnya mengalami bullying dari temannya tetapi ia juga melakukan bullying kepada teman yang lain agar tidak direndahkan sebagai suatu pengulangan dari pola bullying yang pernah ia alami. Sama seperti subjek 4 yang terbuka karena pernah menerima ajakan teman untuk melakukan bullying pada temannya yang lain. Subjek 8 juga berkomitmen untuk Penerapan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Sosiodrama untuk Mengurangi Perilaku Bullying pada Peserta Didik di SMP Negeri 19 Surabaya memperbaiki kesalahan yang dilakukan pada temannya dengan berani untuk meminta maaf. Pada pertemuan kelima yang dimana akan menjadi pertemuan terakhir dari rangkaian treatment dengan mengangkat topik AuPemalakan Antar Teman Bukan SolusiAy yang berisi mengenai perilaku memalak, intimidasi pada teman, dan bentuk tekanan sosial yang sering terjadi tanpa disadari. Dalam permainan drama pada pertemuan ini, para pemain dapat bermain peran dengan baik dan menghayati perannya masing-masing sehingga pada saat sesi diskusi semua anggota kelompok pendapatnya masing-masing. Mayoritas peserta didik menceritakan pengalaman bullying yang sudah dilakukan tetapi mulai menyadari bahwa perilaku tersebut dapat memberikan dampak negatif kepada korban sehingga delapan subjek tersebut berkomitmen untuk menghindari perilaku bullying dan ingin menciptakan lingkungan sosial yang lebih sehat. Setelah diberikan treatment pada pertemuan terakhir, peserta didik diperkenankan untuk mengisi post-test yang dimana angket yang digunakan sama seperti angket pada saat pre-test. Dari hasil post-test yang sudah diisi oleh peserta didik mendapatkan hasil yang signifikan, dengan adanya penurunan skor perilaku bullying dari masing-masing anggota kelompok. Perbedaan perilaku bullying pada kedelapan subjek yang paling siginifikan ada pada subjek perempuan, yaitu Hal ini ini dapat dilihat dari hasil skor post-test yang mengalami penurunan paling signifikan hingga 20 skor setelah diberikan treatment. Pada subjek perempuan, mayoritas melakukan bullying secara verbal dan sosial sehingga setelah mengikuti treatment selama lima pertemuan mulai menyadari bagaimana perilaku bullying dan dampak dari bullying tersebut. Subjek perempuan lebih menunjukkan perubahan karena dilihat dari subjek 7 yang setelah pertemuan kelima usai meminta waktu untuk saling bercerita dan bertukar pendapat terkait perilaku bullying yang telah subjek 7 alami sebelumnya dan perilaku bullying yang tanpa disadari subjek 7 lakukan kepada teman yang lain. Sedangkan untuk subjek laki-laki ini mayoritas melakukan perilaku bullying verbal dan non Dari subjek laki-laki ini terdapat dua subjek yang mendapatkan skor tinggi pada subjek 5 dan subjek 6 dan setelah diberikan treatment kedua subjek ini mendapatkan kategori sedang yang dapat dilihat dari skor pre-test dan post-test yang sudah dilakukan sehingga pada saat akhir pertemuan subjek laki-laki mulai memahami dampak dari bullying dan menyesali perbuatannya. Dari subjek perempuan dan laki-laki, perubahan perilaku subjek perempuan terlihat lebih menyesal hingga berkomitmen untuk meminta maaf dan ada keinginan untuk saling bertukar pendapat dan bertukar cerita pada saat pertemuan telah usai, sedangkan untuk subjek laki-laki terlihat lebih cuek namun mulai menyadari dan memahami dampak dari perilaku bullying. Hal ini dapat membuktikan bahwa sosiodrama mampu menurunkan tindakan perundungan pada peserta didik di SMP Negeri 19 Surabaya. Hal berikut selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh NakhmaAoussolikhah et al. penggunaan bimbingan kelompok menggunakan teknik sosiodrama guna menunrunkan perilaku bullying efektif karena peserta didik dapat meningkatkan dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih positif dengan membantu peserta didik dalam berkomunikasi maupun resolusi konflik yang dapat memperkuat peserta didik untuk saling menghormati dan toleransi terhadap Dalam hal ini juga memberikan peserta didik ruang yang aman untuk saling berbagi pengalaman maupun perasaan tanpa adanya intimidasi dari anggota kelompok yang lain. PENUTUP Simpulan Berdasarkan penelitian pada SMP Negeri 19 Surabaya terhadap delapan peserta didik dari kelas Vi C. I, dan K memiliki kesimpulan yaitu, bimbingan kelompok menggunakan teknik sosiodrama mampu menurunkan bullying pada peserta didik. Hal ini dapat dibuktikan melalui penurunan skor dari angket perilaku bullying dari pre-test ke post-test. Sebelum dilakukan treatment bimbingan kelompok menggunakan teknik sosiodrama, dari delapan peserta didik mendapatkan ratarata nilai 63,12 dan setelah diberikan treatment delapan peserta didik tersebut mendapatkan rata-rata nilai 54,25. Setelah dilakukan analisis statistik dengan Uji Wilcoxon menunjukkan hasil yang signifikan dengan nilai Asymp. Sig. -taile. adalah 0,012 lebih kecil dari O 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima yang berarti adanya perbedaan hasil dari perilaku bullying peserta didik dari sebelum treatment dan sesudah treatment menggunakan teknik sosiodrama. Sehingga, kesimpulan yang didapatkan adalah bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama dapat mengurangi perilaku bullying pada peserta didik. Saran Dari kesimpulan tersebut, maka peneliti memberikan saran pada beberapa pihak, sebagai berikut: Sekolah Sekolah diharapkan dapat terus mengembangkan layanan bimbingan kelompok dengan menerapkan teknik sosiodrama sebagai alternative intervensi dalam menangani permasalahan perilaku bullying dengan memberikan dukungan dalam bentuk penyediaan ruang maupun fasilitas yang memadai. Guru Bimbingan dan Konseling Penerapan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Sosiodrama untuk Mengurangi Perilaku Bullying pada Peserta Didik di SMP Negeri 19 Surabaya Guru BK ini diharapkan menggunakan teknik sosiodrama secara berkelanjutan dalam layanan bimbingan kelompok dengan merancang program layanan yang lebih menyenangkan, seperti menggunakan pendekatan yang lebih kreatif. Peserta Didik Setelah penelitian ini, diharapkan seluruh peserta didik mampu berpartisipasi secara aktif dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok, khususnya dalam membentuk hubungan sosial yang sehat, saling menghargai dengan orang disekitarnya, dan bisa bebas dari perilaku bullying. Peneliti Selanjutnya Selanjutnya, peneliti dapat mengembangkan penelitian ini dengan subjek yang lebih banyak, melakukan intervensi dengan jangka waktu yang lebih panjang, dan dapat dikombinasikan dengan pendekatan lainnya. Efektivitas Bimbingan Kelompok Melalui Teknik Sosiodrama Dalam Meningkatkan Sikap Respek. CONSEILS (Jurnal Bimbingan Dan Konseling Isla. , https://doi. org/10. 55352/bki. NakhmaAoussolikhah. Muna. Sulistianingsih. Marliani. , & Kurniawan. Implementation Of The Roots Program To Reduce Bullying Behavior In Junior High Schools. Annual Guidance and Counseling Academic Forum. Putri. Kasus Bullying di Lingkungan Sekolah : Dampak Serta Penanganannya. Keguruan: Jurnal Penelitian. Pemikiran Dan Pengabdian, 10. Putri. Wardani. , & Khohar. DAFTAR PUSTAKA