Penerapan Metode Flipped Classroom untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Pada Pembelajaran Tematik Secara Online Siswa kelas 5 SD Kristen Pamerdi Malang Kristiani1. Soegeng Wahyoedi 2. Januar Heryanto3 SD Kristen Pamerdi Malang1 FEB Universitas Kristen Krida Wacana2,3 krisgeovan@gmail. com1, swahyoedi@ukrida. id2, januar. heryanto@gmail. ABSTRAK Bernalar kritis merupakan kemampuan untuk memproses, membangun keterkaitan, menganalisis, mengevaluasi dan menyimpulkan informasi. Flipped Classroom merupakan metode belajar yang mengombinasikan metode pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online di mana dalam proses belajarnya siswa mempelajari materi pelajaran terlebih dahulu secara mandiri. Mempertimbangkan rendahnya jumlah siswa yang memenuhi indikator keberhasilan aspek berpikir kritis, peneliti melakukan tindakan untuk meningkatan kemampuan berpikir kritis siswa melalui penerapan metode pembelajaran Flipped Classroom. Peneliti menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari siklus I dan siklus II dengan subyek penelitian siswa kelas 5 SD Kristen Pamerdi Malang. Instrumen yang digunakan berupa pengukuran hasil belajar, rubrik penilaian, dan lembar observasi yang mencakup empat aspek kemampuan berpikir kritis, yaitu diskusi, studi kasus, kinerja produk, dan High Order Thinking Skill (HOTS). Data yang diperoleh berupa nilai tes awal dan tes akhir serta hasil observasi kemampuan berpikir kritis siswa yang dianalisis secara Hasil analisis data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah siswa yang mencapai indikator keberhasilan aspek berpikir kritis dari sebelum dan setelah dilaksanakannyametode pembelajaran Flipped Classroom. Data awal menunjukkan sebanyak 32% dari jumlah siswa berhasil mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada aspek berpikir kritis pembelajaran tematik dan meningkat menjadi 73% pada akhir siklus II. Persentase rata-rata ketercapaian indikator aspek berpikir kritis sebelum PTK hingga siklus II juga menunjukkan peningkatan, yaitu dari 44% menjadi 64% dan meningkat menjadi 73% dari jumlah keseluruhan siswa. Kata Kunci: Flipped Classroom, berpikir kritis, tematik KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 67 Pendahuluan Berpikir kritis merupakan salah satu tujuan dalam pendidikan sebagai perwujudan pelajar Indonesia sebagai Pelajar Pancasila yang tercantum dalam Rencana Strategis Kemendikbud 2020-2024 yakni menciptakan Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global. Dalam upaya menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, pembelajaran dilakukan dengan merangsang dan menstimulus potensi belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skill (HOTS) merupakan program yang dikembangkan oleh Kemendikbud sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran maupun lulusan. Proses pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan penggunaan teknologi digital dan media online oleh siswa secara mandiri menjadi ciri utama pembelajaran High Order Think. Hal ini sesuai dengan arah kebijakan merdeka belajar yang menyatakan bahwa guru berperan sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar, sedangkan siswa sebagai pusat pembelajaran yang membuat pembelajaran itu sendiri lebih bermakna. Peneliti terhadap siswa kelas 5 SD pada proses pembelajaran tematik. Dari hasil pengamatan tersebut, peneliti menemukan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran tematik secara online masih Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya jumlah siswa yang mencapai indikator kemampuan berpikir kritis yaitu sebagian siswa masih kurang maksimal dalam mengikuti proses pembelajaran yang mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa terutama saat mengerjakan soal yang membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah dalam bentuk soal HOTS. Hal ini dibuktikan dengan rendahnya jumlah siswa yang mampu menyelesaikan soal HOTS dengan baik. Siswa yang mampu mencapai nilai ketuntasan minimal masih 54% dari jumlah keseluruhan siswa. Selain itu, siswa juga masih cenderung lebih mudah menyelesaikan bahan evaluasi dengan indikator yang mengukur tingkat pemahaman terhadap materi pembelajaran pada level Low Order Thinking Skill (LOTS). Hal ini juga dibuktikan dengan beberapa kali observasi selama proses diskusi. Dari hasil pengamatan diskusi melalui Google Meet maupun voice note pada grup WhatsApp, siswa cepat sekali merespon pernyataan maupun pertanyaan pada level menghafal. Namun ketika sampai pada pertanyaan AuhowAy and AuwhyAy sebagai indikator level berpikir menganalisa dan mengevaluasi, jumlah siswa yang memenuhi indikator keberhasilan aspek diskusi hanya 32% dari jumlah siswa. Permasalahan yang muncul pada siswa kelas 5 SD Kristen Pamerdi terjadi karena beberapa faktor. Pertama, pembelajaran lebih bersifat transfer knowledge bukan Hal ini menyebabkansiswa kurang mendapat kesempatan untuk mengambil bagian dalam mengemukakan gagasan sebagai hasil dari kemampuan 68 | PENERAPAN METODE FLIPPED CLASSROOM. (Kristiani. Soegeng Wahyoedi. Januar Budima. mengelola informasi dalam berpikir kritis. Kedua, dalam pembelajaran online, interaksi guru dengan siswa sangat bergantung pada gadget sebagai alat komunikasi sekaligus fasilitas belajar sehingga pembelajaran harus dikemas dengan lebih menarik agar lebih efektif dan siswa dapat ikut aktif terlibat. Ketiga, siswa belum siap untuk belajar secara mandiri. Sebagian besar siswa belum mempunyai gambaran tentang apa yang akan dipelajari, sehingga kegiatan pembelajaran banyak diisi dengan penyampaian materi sedangkan evaluasi justru dilakukan oleh siswa secara mandiri tanpa pendampingan guru yang seharusnya bisa mendorong dan mengajak siswa melatih kemampuan berpikir lebih kritis. Upaya terdahulu yang sudah dilakukan adalah dengan melakukan evaluasi dalam bentuk lembar kerja kepada siswa secara Namun karena pembelajaran dilakukan secara online, maka cara ini kurang efektif. Sebagian siswa masih belum mencapai tujuan indikator belajar karena siswa belum memiliki kesadaran belajar dan kurang terbiasa memahami konsep secara mandiri sehingga berdampak pada hasil belajar yang kurang maksimal. Penjelasan langsung . etode cerama. dari guru melalui Google Meet serta lembar kerja yang monoton berisi pertanyaan juga kurang menstimulus kemampuan berpikir kritis dan pemecahan Jika hal ini terjadi secara terus menerus, maka pembelajaran tidak berjalan dengan efektif yang ditunjukkan dengan rendahnya hasil belajar siswa karena kurangnya kemandirian dan kesiapan siswa dalam pembelajaran online dan rendahnya kemampuan menyampaikan ide atau gagasan maupun argumen. Sehingga belum terjadi peningkatan kemampuan dan keterampilan berpikir kritis siswa dengan maksimal selama proses pembelajaran. Khoirotunnisa . melakukan penelitian dengan menerapkan metode pembelajaran Flipped Classroom pada pembelajaran matematika kelas Vi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembelajaran Flipped Classroom tipe Traditional Flipped dengan media video lebih baik daripada model pembelajaran konvensional pada materi bangun ruang. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya kemampuan berpikir kreatif siswa. Begitu juga dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Maolidah et al . degan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran Flipped Classroom efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini dibuktikan peningkatan hasil tes kemampuan berpikir kritis yang signifikan antara sebelum dan setelah diterapkan metode pembelajaran Flipped Classroom pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Haryanto et al . menjelaskan bahwa di era teknologi digital, peran guru bukan lagi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan atau informasi dalam proses Guru cenderunglebih berperan sebagai fasilitator, motivator dan evaluator yang harus menciptakan situasi belajar untuk mendukung keterlibatan siswa secara aktif dalam mengembangkan pengalaman belajar. Flipped Classroom merupakan bentuk pembelajaran blended . elalui KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 69 interaksi tatap muka dan virtual/onlin. yang menggabungkan pembelajaran di kelas secara sinkron dengan pembelajaran mandiri secara asinkron. Aktivitas pembelajaranpada metode Flipped Classroom dilakukan dengan membalik kegiatan pembelajaran yaitu aktivitas pembelajaran yang biasanya dilakukan di sekolah dapat dilakukan dirumah secara mandiri dan sebaliknya, aktivitas pembelajaran yang biasanya dijadikan sebagai tugas mandiri di rumah dapat diselesaikan di kelas (Bergmann & Sams, 2. Siswa membaca materi maupun menonton video pembelajaran sebagai persiapan sebelum mengikuti pembelajaran. Aktivitas pembelajaran di kelas dilakukan dengan berdiskusi, bertukar pengetahuan, menyelesaikan masalah, dengan bantuan siswa lain melalui kelompok belajar maupun guru yang memiliki kontrol dalam proses pembelajaran yang lebih besar. TINJAUAN LITERATUR 1 Berpikir Kritis (Critical Thinkin. Ennis . alam Kurniasari 2. merupakan suatu proses berpikir secara reflektif yang berfokus pada pengambilan keputusan berdasarkan hal yang diyakini atau dilakukan. Lai . alam Zakiah et al 2. menyatakan bahwa berpikir kritis mencakup keterampilan untuk menganalisis argumen, membuat kesimpulan berdasarkan penalaran baik secara induktif maupun deduktif, menilai atau mengevaluasi, dan membuat keputusan atau memecahkan masalah pada pokok bahasan dalam pembelajaran. Hidayah et al . menjelaskan bahwa seseorang yang mampu berpikir kritis dapat menerapkan proses berpikir secara logis, reflektif, sistematis dan produktif yang pertimbangan dalam mengambil keputusan yang benar. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui penerapan metode pembelajaran Flipped Classroom dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada pembelajaran tematik secara online siswa kelas 5 SD Kristen Pamerdi Malang. Dari beberapa definisi tersebutdi atas, peneliti menyimpulkan bahwa berpikir kritis merupakan proses berpikir tingkat tinggi yang ditunjukkan dengankemampuan menggunakan penalaran untuk memproses berdasarkan pengetahuan yang dibangun secara relevan. Proses itu sendiri mencakup menemukan, menganalisa, serta mengambil menyelesaikan suatu permasalahan dan mampu menyampaikan secara jelas dan Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi untuk pengembangan penelitian selanjutnya khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada jenjang sekolah dasar. Butterworth & Thwaites . menyebutkan tiga aspek pokok berpikir kritis yang terdiri 70 | PENERAPAN METODE FLIPPED CLASSROOM. (Kristiani. Soegeng Wahyoedi. Januar Budima. Menganalisis dengan cara mengidentifikasi bagian penting dari sebuah permasalahan dan membangun sebuah pemahaman. Mengevaluasi dengan cara menilai seberapa kuat argumen dalam mendukung kesimpulan. Menyampaikan argumen yang membuka kesempatan siswa untuk memberikan tanggapannya sendiri terhadap suatu permasalahan. 2 Higher Order Thinking Skills (HOTS) Hidayah et al . mengemukakan bahwa berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills/HOTS. Keynes . alam Zakiah 2. , juga menjelaskan bahwa HOTS sama dengan keterampilan berpikir kritis. Berpikir kritis dan HOTS memungkinkan siswa untuk belajar secara efektif sebagai pembelajar mandiri karena keduanya memiliki karakteristik yang sama. Dasar yang digunakan dalam HOTS adalah tingkatan kognitif pada taksonomi Bloom. Indikator mengevaluasi dan mencipta didasarkan pada teori yang dipaparkan dalam revisi Taksonomi Bloom di bawah ini: Gambar 2. 2 AndersonsAos Revised Taxonomy Levels Sumber: Anderson and Krathwohl, 2001 Bila dilihat dari gambar diatas, maka dapat diketahui bahwa indikator HOTS terdapat dalam aspek: Mengevaluasi, terdiri dari keterampilan mengecek dan mengkritisi. Menganalisis, terdiri dari kemampuan atau keterampilan membedakan, mengor- Mencipta, terdiri dari merumuskan, merencanakan, dan menghasilkan. Siswa dilatih mengintegrasikan bagian-bagian tertentu untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan ganisasi dan menghubungkan. KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 71 3 Pembelajaran Tematik Sekolah Dasar Pembelajaran tematik menekankan konsep belajar yang disertai dengan berbagai aktivitas yang relevan sehingga guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar untuk menjadikan proses pembelajaran lebih efektif dan bermakna bagi siswa. Depdiknas . menjelaskan bahwa pembelajaran tematik pada sekolah 4 Flipped Classroom Bergmann & Sams . menjelaskan bahwa pada dasarnya konsep dari metode pembelajaran Flipped Classroom adalah kegiatan yang dilakukan di kelas pada pembelajarankonvensional dikerjakan di rumah, sedangkan pekerjaan di rumah pada pembelajaran konvensional diselesaikandi Flipped Classroom merupakan dasar memiliki beberapa karakteristik, yaitu: metode belajar dengan Blended learning. Dalam Binus Center . Blended learning didefinisikan sebagai suatu metode pembelajaran yang mengkombinasikan metode pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online. Metode pembelajaran bisa berupa tatap muka untuk mendalami materi, ujian maupun kegiatan pembelajaran berupa e-learning. Peran guru di kelas adalah untuk menolong siswa, tidak lagi memberi Berpusat pada siswa . tudent centere. yang menjadikan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dalam melaksanakan aktivitas Memberikan pengalaman langsung . irect experience. dengan menghadapkan siswa pada sesuatu yang nyata . sebagai dasar pemahaman sesuatu yang Mengarahkan fokus pembelajaran kepada pembahasan tema yang berkaitan dengan kehidupan siswa serta meminimalisir pemisahan antar mata pelajaran. Konsep pembelajaran terintegrasi dari beberapa mata pelajaran yang bertujuan agar siswa memahami konsep secara utuh dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran lebih fleksibel yang mengaitkan materi antar mata pelajaran dan kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitar siswa Siswa dapat mengoptimalkan dan mengasah potensi sesuai dengan minat dan Proses belajar dilakukan dengan prinsip sambil bermain dan menyenangkan. informasi tentang materi pembelajaran. Berikut ini merupakan gambar penggunaan taksonmi Bloom dalam Flipped Classroom: Gambar 2. 4 Penerapan Taksonomi Bloom dalam Flipped Classroom Sumber: Bergman. Jonathan . 72 | PENERAPAN METODE FLIPPED CLASSROOM. (Kristiani. Soegeng Wahyoedi. Januar Budima. Pada gambar Taxonomy Bloom dalam sebagai mentor, teman, serta ahli untuk dapat model diamond di atas, sebagian besar guru saling membagikan informasi yang dapat menganggap bahwa model tersebut lebih menjadi pengalaman belajar di dalam kelas realistis dalam menggambarkan waktu yang maupun melalui media video conference. banyak dibutuhkan dan digunakan siswa pada Flipped Classroom. Sebagian besar waktu di kelas atau pertemuan tatap muka digunakan untuk tahap mengaplikasikan dan menganalisa. Waktu di dalam kelas harus digunakan untuk aktivitas yang Metode Penelitian membutuhkan pemikiran lebih mendalam. Dengan demikian siswa akan lebih banyak pertemuan tatap muka. Penerapan Flipped Classroom akan lebih menyederhanakan proses pembelajaran bagi siswa maupun guru yang disertai dengan sumber belajar 1 Rancangan Penelitian 1 Tempat Penelitian Tempat penelitian dilaksanakan di SD Kristen Pamerdi Jl. Raya Kebonagung No. Kec. Pakisaji. Kab. Malang. yang tepat dan menjawab kebutuhan dasar guru saat menghadapi permasalahan pada pembelajaran di tingkat yang lebih kompleks. Bergmann & Sams . menjelaskan beberapa kelebihan dalam metode Flipped Classroom dalam pembelajaran. Pertama, 2 Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2021 hingga bulan Agustus 2021 untuk siklus I dan bulan November 2021 untuk siklus II. flipping mendukung kebutuhan siswa sebagai generasi digital yang terbiasa berkomunikasi melalui media sosial dan mengerjakan 3 Model Penelitian Dalam sesuatu melalui aplikasi pada gadget. Kedua, menggunakan metode Penelitian Tindakan flipping membantu siswa untuk memahami Kelas (PTK) merujuk dari metode PTK oleh materi belajar kapanpun. Ketiga, flipping Kemmis dan McTaggart . Dalam membantu siswa untuk dapat mempelajari metode PTK Kemmis dan McTaggart. PTK materi sesuai dengan kebutuhan masing- dilakukan dalam dua siklus. Masing-masing masing siswa karena materi dapat diakses siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, kapanpun dan dimanapun secara online. Keempat, flipping meningkatkan interaksi dinyatakan dalam gambar siklus penelitian antara siswa dengan guru yang berperan di bawah ini. KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 73 Gambar 3. 1 Siklus Penelitian Tindakan Kelas Sumber: Kemmis. Stephen and McTaggart. Robin. 2 Subjek dan Objek Penelitian 1 Subjek Penelitian Subyek pada penelitian ini adalah siswa kelas 5 SD Kristen Pamerdi Kebonagung Malang yang berjumlah 22 siswa. Pengukuran hasil belajar, terdiri dari: penilaian diskusi, soal studi kasus, soal HOTS, dan penilaian kinerja A Rubrik Lembar pengamatan berupa checklist 2 Objek Penelitian Adapun obyek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah kemampuan siswa berpikir kritis pada pembelajaran tematik secara online. 3 Prosedur dan Instrumen Penelitian 1 Prosedur Penelitian 1 Perencanaan . Menyiapkan skenario pembelajaran. Menyiapkan sarana pendukung yang akan dipakai. Menyiapkan instrumen penelitian: 2 Pelaksanaan Tindakan Peneliti Flipped Classroom. Pelaksanaan tindakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat secara online yang terdiri dari tiga tahap, yaitu sebelum pembelajaran, selama pembelajaran, dan setelah pembelajaran. 3 Observasi Observasi dilaksanakan sebelum dan selama proses pembelajaran berlangsung 74 | PENERAPAN METODE FLIPPED CLASSROOM. (Kristiani. Soegeng Wahyoedi. Januar Budima. menggunakan instrumen-instrumen yang telah dipersiapkan peneliti. Data yang diperoleh dari observasi dikumpulkan dan Hasil analisa akan menjadi bahan refleksi yang dilaksanakan pada akhir siklus. 4 Refleksi Refleksi dilakukan pada saat akhir siklus untuk mengetahui apakah pemberian tindakan kepada siswa bisa meningkatkan kemampuan siswa yang diukur berdasarkan indikator ketercapaian siswa yang sudah Refleksi dilakukan berdasarkan tabel refleksi yang dianalisis. Apabila terdapat beberapa hal yang belum tercapai, maka penulis melakukan analisis faktor penyebab dan rencana tindakan perbaikan yang akan dilakukan pada siklus berikutnya. 2 Instrumen Penelitian . Instrumen Pengukuran Hasil Belajar Instrumen pengukuran hasil belajar berpikir kritis siswa adalah tes ulangan harian pada akhir subtema yang berupa soal HOTS. Instrumen Rubrik Instrumen berupa rubrik merupakan pembelajaran berlangsung yang terdiri dari rubrik penilaian diskusi, rubrik penilaian studi kasus, dan rubrik penilaian kinerja Aspek yang dinilai dalam rubrik penilaian studi kasus meliputi kemampuan memahami informasi dengan benar dan terperinci, kemampuan menyampaikan gagasan secara logis dan disertai alasan yang relevan, memahami masalah, menyusun rencana pemecahan masalah, melaksanakan rencana pemecahan masalah, memeriksa kembali hasil yang diperoleh. Aspek yang dinilai dalam rubrik penilaian diskusi meliputi menyampaikan gagasan secara aktif, memberikan informasi yang didukung oleh fakta, menjawab pertanyaan dengan jelas dan benar. Aspek yang dinilai dalam rubrik penilaian kinerja proyek meliputi kemampuan merencanakan, kemampuan menggunakan teknik untuk membuat produk, kesesuaian produk dengan tema, . Lembar Observasi Intrumen observasi berupa tabel dan ceklist yang berisi aspek-aspek berpikir kritis berdasarkan rubrik. Observasi dilakukan dalam setiap tahap proses pembelajaran dengan metode Flipped Classroom melalui learning platform yang sudah disediakan yaitu kolom diskusi, pertemuan tatap muka secara online dan laporan hasil kinerja produk siswa. 4 Teknik dan Analisis Data 1 Teknik Pengumpulan Data . Hasil Belajar Siswa Hasil belajar siswa diperoleh dengan memberikan soal pre-test dan post test sebagai evaluasi ulangan harian dalam bentuk HOTS untuk mengetahui nilai siswa sebelum dan setelah diberikan tindakan metode pembelajaran Flipped Classroom. Dari hasil tes maka akan diperoleh data berupa nilai siswa. Rubrik Rubrik penilaian diskusi, studi kasus, dan kinerja produk dihitung berdasarkan jumlah nilai yang diperoleh siswa dibagi dengan total nilai maksimal dan kemudian Ketercapaian atau KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 75 keberhasilan siswa dalam pembelajaran diukur berdasarkan perolehan nilai akhir siswa yang memenuhi kriteria angka tertentu. Dalam hal ini penulis menetapkan nilai 70 untuk rubrik penilaian diskusi, studi kasus, dan kinerja produk, sebagai batas minimum yang harus dicapai siswa. Menghitung persentase jumlah siswa yang berhasil mencapai KKM Analisis data pada rubrik . Lembar Observasi Lembar observasi berupa ceklistyang berisi indikator-indikator yang harus dipenuhi siswa berdasakan deskripsi pada rubrik penilaian. Peneliti mengisi lembar observasi yang berupa ceklist untuk menghitung jumlah siswa yang mampu memenuhi semua indikator kemampuan berpikir kritis. Nilai maksimal Menghitung persentase jumlah siswa, dibagi nilai maksimal, kemudian dikalikan 100. n Memenuhi indikator kemampuan berdiskusi: Nilai D Ou 70 2 Teknik Analisis Data n Data yang diperoleh berupa skor tes awal dan tes akhir serta hasil observasi kemampuan berpikir kritis siswa. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini Belum memenuhi indikator kemampuan berdiskusi: Nilai D O 70 Rubrik Penilaian Studi Kasus Nilai Analisis data hasil tes dilakukan dengan menghitung nilai tes yang dicapai oleh setiap siswa dan jumlah siswa yang mengalami peningkatan hasil tes akhir terhadap tes awal dibagi jumlah total siswa lalu dikali A Menghitung nilai tes yang dicapai oleh setiap siswa Skor yang benar Menghitung persentase jumlah siswa, dibagi nilai maksimal, kemudian dikalikan 100. n Memenuhi indikator kemampuan menjawab soal studi kasus: Nilai S Ou Belum memenuhi indikator kemampuan menjawab soal studi kasus: Nilai S O 70 Rubrik Penilaian Kinerja Produk n 76 | PENERAPAN METODE FLIPPED CLASSROOM. (Kristiani. Soegeng Wahyoedi. Januar Budima. Menghitung persentase jumlah siswa, dibagi nilai maksimal, kemudian dikalikan 100. n Memenuhi indikator kemampuan kinerja produk: Nilai P Ou 70 n Belum memenuhi indikator kemampuan kinerja produk: Nilai P O 70 Analisis data hasil observasi dilakukan memenuhi jumlah indikator pencapaian kemampuan berpikir kritis dibagi dengan jumlah keseluruhan siswa lalu dikalikan 100%. Menghitung persentase jumlah siswa yang memenuhi jumlah indikator aspek berpikir kritis dengan menghitung jumlah siswa yang Kriterian Ketuntasan Minimal (KKM) merupakanacuan bagi peneliti sebagai ukuran dalam pencapaian kompetensi pada setiap mata pelajaran yang ditentukan berdasarkan karakteristik siswa, kompleksitas mata pelajaran, dan kondisi atau daya dukung Pada PTK ini, peneliti menetapkan nilai 70 sebagai KKM yang harus dipenuhi siswa pada pembelajaran tematik. oleh peneliti dengan mempertimbangkan kemampuan dan kondisi siswa sebagai subyek penelitian. Peneliti mengamatibahwa secara umum kemampuan siswa cukup baik dan masih bisa ditingkatkan apabila dilakukan tindakan, sehingga peneliti mengukur keberhasilan penelitian dengan menetapkan batasan Ou 70% dari total keseluruhan subyek penelitian. 3 Indikator Keberhasilan Persentase jumlah siswa yang memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada aspek kemampuan berpikir kritis mencapai Ou 70% dari jumlah keseluruhan siswa. Persentase jumlah siswa yang memenuhi indikator pencapaian aspek berpikir kritis pada pembelajaran tematik mencapai Ou 70%. Penentuan standar Ou 70% tersebut di atas sebagai indikator keberhasilan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ditentukan Hasil Penelitian dan Pembahasan Siklus I Pelaksanaan tahap penerapan metode Flipped Classroom direncanakan dalam RPP yang terbagi menjadi 3 proses yaitu kegiatan sebelum pembelajaran . efore clas. , selama pembelajaran . uring clas. , dan setelah pembelajaran . fter clas. Kegiatan tatap muka virtual dilaksanakan sebanyak 6 kali KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 77 Sebelum pembelajaran . efore clas. Dalam kegiatan menyampaikan video pembelajaran yang sudah disiapkan untuk materi yang akan dipelajari bersama saat kegiatan tatap muka Hal ini diharapkan membuat siswa lebih aktif dan mepersiapkan diri dalam memahami materi secara mandiri. Selama pembelajaran . uring clas. Dalam kegiatan inti selama proses pembelajaran, peneliti melakukan kegiatan tatap muka virtual melalui Google Meet. Setelah pembelajaran . fter clas. Setelah kegiatan tatap muka virtual selesai, siswa secara mandiri mengerjakan evaluasi sesuai dengan mata pelajaran, antara lain mengerjakan latihan soal studi kasus secara mandiri, mengerjakan tugas kinerja produk. Untuk peningkatan jumlah siswa yang mencapai KKM setelah pelaksanaan siklus I, peneliti membandingkan nilai diskusi, studi kasus, kinerja produk, dan ulangan harian setelah pelaksanaan tindakan dengan nilai diskusi, studi kasus, kinerja produk, dan ulangan harian sebelum dilaksanakan tindakan yang tedapat pada tabel berikut: Tabel 4. 1 - Data Perbandingan Nilai Diskusi. Studi Kasus. Kinerja Produk, dan Ulangan Siswa Sebelum dan Sesudah elaksanaan PTK Siklus I 78 | PENERAPAN METODE FLIPPED CLASSROOM. (Kristiani. Soegeng Wahyoedi. Januar Budima. keseluruhan siswa, yaitu 16 dari 22 Persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM pada penilaian kinerja produk sebesar 55% dari total keseluruhan siswa, yaitu 12 dari 22 Persentase jumlah siswa yang mencapai KKM pada penilaian ulangan soal HOTS adalah 82% dari total keseluruhan siswa, yaitu 18 dari 22 Berdasarkan data nilai diskusi, studi kasus, kinerja proyek dan ulangan harian siswa setelah pelaksanaan PTK Siklus I, diperoleh hasil sebagai berikut: Persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM pada penilaian diskusi sebesar 45% dari total keseluruhan siswa, yaitu 10 dari 22 siswa. Persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM pada penilaian studi kasus sebesar 73% dari total Tabel 4. 2 Perbandingan Rata-Rata Persentase Jumlah Siswa yang Memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Pada Hasil Tes Aspek Berpikir Kritis Sebelum PTK dan Siklus I Persentase Aspek Berpikir Kritis Persentase Jumlah Siswa yang Memenuhi Kriteria Sebelum PTK Persentase Jumlah Siswa yang Memenuhi Kriteria Setelah Siklus Nilai Diskusi Nilai Studi Kasus Nilai Kinerja Produk Nilai HOTS Persentase Rata-Rata Ketercapaian Indikator Berpikir Kritis Data awal sebelum PTK pada tabel di atas menunjukkan bahwa persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM pada keempat aspek indikator berpikir kritis masihrendah. Rata-rata menunjukkan angka yang masih rendah, yaitu 44%. Pada akhir siklus I ratas-rata persentase tersebut meningkat menjadi 64%. Pada siklus I, jumlah siswa yang mencapai indikator berpikir kritis mengalami peningkatan pada aspek diskusi dari 32% atau 7 siswa menjadi 45% atau 10 siswa, pada aspek studi kasus dari 32% atau 7 siswa menjadi 73% atau 16 siswa, pada aspek soal HOTS dari 54% atau 12 siswa menjadi 82% atau 18 siswa. Pada aspek kinerja produk terjadi sedikit penurunan dari 13 siswa atau 59% menjadi 12 siswa atau 55%. Hal ini terjadi karena adanya kriteria-kriteria tertentu KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 79 pada rubrik penilaian yang harus dicapaioleh siswa pada hasil produk yang mereka Indikator pencapaian yang ditentukan pada kinerja produk sesudah pelaksanaan Flipped Classroom mengalami perubahan untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Siswa masih dalam proses beradaptasi dengan Austandard lebihAy yang diharapkan oleh peneliti sebagai hasil maupun bahan evaluasi dari penerapan metode Flipped Classroom. Selain itu, peneliti tidak menyampaikan secara jelas aspek kriteria penilaian yang diharapkan kepada siswa, sehingga informasi yang diterima siswa untuk memenuhi indikator keberhasilan kurang jelas. Peneliti menyadari hal tersebut setelah melakukan evaluasi dan memberi informasi aspek kriteria penilaian dengan jelas pada siklus II. Selain jumlah siswa yang berhasil mencapai KKM aspek kemampuan berpikir kritis meningkat, peneliti juga memperoleh hasil analisis data adanya peningkatan jumlah aspek berpikir kritis yang berhasil dicapai setiap siswa. Untuk memenuhi indikator pencapaian berpikir kritis, setiap siswa minimal harus memenuhi 3 dari 4 aspek berpikir kritis yang ditunjukkan dengan persentase minimal 75% dari total keseluruhan aspek. Peningkatan tersebut dapat terlihat pada tabel 4. 23 berikut: Tabel 4. 3 Persentase Jumlah Siswa yang Memenuhi Indikator Keberhasilan Aspek Berpikir Kritis Pada Pembelajaran Tematik Peningkatan Jumlah Sebelum PTK Setelah Siklus I Indikator Pencapaian Jumlah Siswa yang Memenuhi Indikator Persentase Jumlah Siswa Setelah siklus I, jumlah siswa yang memenuhi indikator aspek kemampuan berpikir kritis meningkat dari 7 siswa menjadi 15 siswa atau 68% dari jumlah keseluruhan siswa. Pada lembar ceklist ketercapaian jumlah indikator yang terdapat dalam tabel lembar observasi 4. 10 dari 15 siswa yang memenuhi indikator aspek kemampuan berpikir kritis tersebut, terdapat 6 siswa yang berhasil memenuhi 3 aspek dan Berdasarkan hasil peningkatan yang cukup besar dari sebelum PTK hingga siklus I, dapat disimpulkan dengan penerapan metode Flipped Classroom siswa mengalami peningkatan hasil belajar dari beberapa aspek kemampuan berpikir kritis melalui aktivitas selama proses pembelajaran dan bentuk penilaian yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan kemampuan berpikir kritis 9 siswa berhasil memenuhi 4 aspek. 80 | PENERAPAN METODE FLIPPED CLASSROOM. (Kristiani. Soegeng Wahyoedi. Januar Budima. Hal-hal yang menjadi refleksi pelaksanaan PTK siklus I antara lain: Pada aspek diskusi, jumlah siswa yang mencapai KKM meningkat sebesar 45%. Sedangkan pada aspek studi kasus, jumlah siswa yang mencapai KKM hanya sebesar 32%. Hasil ini belum memenuhi kriteria jika dilihat dari indikator keberhasilan penelitian ini, yaitu persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM pada hasil tes mencapai Ou 70% dari jumlah keseluruhan siswa. Terdapat penurunan persentase jumlah siswa yang mencapai KKM pada penilaian kinerja produk, dari data awal yang diperoleh sebesar siswa 59% mencapai KKM. Namun setelah dilaksanakan PTK siklus I, jumlah siswa yang berhasil mencapi KKM pada penilaian kinerja produk menjadi 55%. Persentase jumlah siswa yang memenuhi indikator pencapaian aspek berpikir kritis pada pembelajaran tematik sebesar Video pembelajaran yang diberikan ke- pada siswa lebih baik dibuat oleh guru sendiri sebagai peneliti dan lebih interaktif. dengan prosedur PTMT (Pertemuan Tatap Muka Terbata. Sebanyak 50% dari jumlah siswa belajar di sekolah . dan 50% berikutnya belajar di rumah . dalam waktu yang bersamaan. Interaksi dalam proses diskusi terus mengalami peningkatan dari siklus I hingga siklus II. Siswa semakin aktif dalam merespon pertanyaan maupun menanggapi jawaban siswa lain. Proses diskusi pada siklus II dilakukan dalam kelas secara keseluruhan tanpa membentuk kelompok-kelompok diskusi. Berdasarkan data nilai diskusi, studi kasus, kinerja proyek dan ulangan harian siswa setelah pelaksanaan PTK Siklus II di atas, diperoleh hasil sebagai berikut: Persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM pada penilaian diskusi sebesar 68% dari total keseluruhan siswa, yaitu 15 dari 22 siswa. Persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM pada penilaian studi kasus sebesar 73% dari total keseluruhan siswa, yaitu 16 dari 22 siswa. Persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM pada penilaian kinerja produk sebesar 77% dari total keseluruhan siswa, yaitu 17 dari 22 siswa. Persentase jumlah siswa yang mencapai KKM untuk nilai ulangan soal HOTS adalah 73% dari total keseluruhan siswa, yaitu 16 dari 22 siswa. SIKLUS II Siklus II berjalan dengan baik meskipun ada sedikit penyesuaian dalam proses kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 81 Peneliti menganalisa hasil yang diperoleh selama pelaksanaan PTK siklus II dan diperoleh hasil evaluasi siswa sebagai Pada akhir siklus II ini, diketahui bah- wa seluruh aspek berpikir kritis yang digunakan pada instrumen penelitian mengalami peningkatan jumlah siswa, meskipun pada siklus I dan II ada siswa yang mengalami penurunan. Pada aspek diskusi, jumlah siswa yang mencapai KKM mengalami peningkatan sebesar 68%. Sedangkan pada aspek kinerja produk, jumlah siswa yang mencapai KKM juga meningkat menjadi 77%. Hasil ini sudah memenuhi kriteria jika dilihat dari rata-rata persentase jumlah siswa dengan hasil tes yang memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada aspek berpikir kritis, yaitu mencapai Ou 70% dari jumlah keseluruhan Terdapat persentase jumlah siswa yang tidak mengalami peningkatan maupun penurunan pada siklus II, yaitu pada aspek studi kasus. Namun dengan persentase sebesar 73% ini sudah berhasil mencapai indikator studi kasus. Persentase jumlah siswa yang mengal- ami penurunan terjadi pada aspek soal HOTS, dari siklus I sebesar 82% menjadi 73% pada siklus II. Meskipun terjadi penurunan pada akhir siklus II, persentase tersebut sudah memenuhi indikator keberhasilan penelitian, yaitu persentase jumlah siswa yang mengalami peningkatan hasil tes mencapai Ou 70% dari jumlah keseluruhan siswa. Secara keseluruhan terjadi peningkatan rata-rata persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM pada 4 aspek berpikir kritis dari 44% menjadi 68% pada akhir siklus II. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4. 4 Perbandingan Rata-Rata Persentase Jumlah Siswa yang Memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Pada Hasil Tes Aspek Berpikir Kritis Sebelum PTK. Siklus I, dan Siklus II Persentase Persentase Persentase Persentase Jumlah Siswa Jumlah Jumlah Siswa Aspek Berpikir Setelah Siklus II Siswa Setelah Siklus Kritis Sebelum PTK Nilai Diskusi