Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 4 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Konstruksi Teologis dalam Sistem Pemujaan oiwa-Buddha di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda Desa Tajun I Wayan Kariarta Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia laksmigayatri8@gmail. Abstract Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda is a temple built upon the theological values of oiva and Buddha. The effort to actualize these oiva-Buddha theological values serves as a concrete manifestation of mahayu-hayuning bhuana . reserving the harmony of natur. The existence of the oiva-Buddha concept in Tajun Village has raised questions from various parties regarding the theological construction present in the Bali Aga region. This study uses observation, interviews, and documentation studies as data collection methods. A qualitative descriptive method is employed to present the research Based on the results, it was found that Sang Hyang oiva and Sang Hyang Buddha are regarded as a single entity . a Buddha ya oiv. by the people of Tajun Village. Sang Hyang oiva is worshipped through a pelinggih prasada, while Sang Hyang Buddha is venerated through a pelinggih stupa. The oiva-Buddha syncretism in Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda has shaped the religious patterns and theological understanding of the Tajun community. A society that once viewed rwa-bhineda . as something dichotomous now perceives it as paradoxical. Regardless of the chosen path whether through oiva or Buddha, it ultimately leads to the same goal. This understanding is essentially aligned with the concept of Saguna Brahman found in Smriti texts. Engaging actively in worship of the Divine does not imply neglecting the social dimension of life, as life must remain balanced between the profane and the sacred. Furthermore, social solidarity must be built upon the principle of tatwamasi in order to be free from personal interest and to offer solutions to human problems. The theological values of oiva-Buddha that have thus far succeeded in maintaining harmony among religious communities should continue to be preserved at all times. Keywords: Construction. Theology. Shiva-Buddhism Abstak Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda adalah pura yang dibangun dengan belandaskan nilai-nilai teologi oiwa dan Buddha. Upaya untuk mengaktualisasikan nilainilai teologi Siwa-Buddha merupakan wujud kongkrit dari mahayu-hayuning bhuana . enjaga keharmonisan ala. Eksisnya konsepsi Siwa-Buddha di Desa Tajun mengundang tanda tanya dari berbagai pihak, terkait konstruksi teologis yang terjadi di daerah Bali Aga. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan studi dokumentasi dalam mengumpulkan data. Metode deskriptif kualitatif dipergunakan untuk menyajikan hasil dari penelitian. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan ditemukan bahwa Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Buddha dianggap sebagai entitas yang tunggal . a Buddha ya oiv. oleh masyarakat Desa Tajun. Sang Hyang Siwa dipuja melalui pelinggih prasada, sedangkan Sang Hyang Buddha melalui palinggih stupa. Sinkretisme Siwa-Buddha di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda telah mengkonstruksi pola keberagamaan dan pemahaman teologi masyarakat Desa Tajun. Masyarakat yang awalnya memandang rwa-bhineda sebagai hal yang dikotomis, kini melihatnya sebagai hal yang paradoks. Apapun ajaran yang dipilih, baik melaui oiwa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH maupun Buddha akan mengantarkan pada tujuan yang sama. Pemahan ini sejatinya sejalan dengan konsep ketuhanan Saguna Brahman dalam teks-teks Smerti. Aktif melakukan pemujaan terhadap Tuhan bukan berarti mengabaikan dimensi sosial, karena hidup harus selaras antara hal yang profan dengan hal yang sakral. Selain itu, solidaritas sosial harus dibangun dengan landasan tattwam asi agar terbebas dari kepentingan pribadi, dan memberi solusi bagi permasalahan manusia. Nilai-nilai teologi Siwa-Buddha yang selama ini telah berhasil menjaga harmonisasi antar umat beragama, hendaknya terus dijaga disetiap generasi. Kata Kunci: Konstruksi. Teologi. oiwa-Budha Pendahuluan Tuhan dengan segala manifestasinya merupakan sebuah topik yang selalu hangat untuk diperbincangkan. Umat beragama meyakini bahwa Tuhan sebagai sumber dari segala yang ada dan mempengaruhi interaksi antar manusia. Bagi umat Hindu, konsepkonsep teologis yang terkandung dalam Weda bukan hanya sebatas petunjuk untuk melakukan keterhubungan dengan Tuhan, namun merupakan panduan hidup yang digariskan oleh Tuhan itu sendiri. Hampir segala aspek kehidupan umat Hindu di Bali mengacu pada nilai-nilai Hinduisme, seperti satya . , dharma . anggung jawa. , ahimsa . anpa kekerasa. , yajna . dan bhakti . sangat mempengaruhi kehidupan sosial umat Hindu di Bali. Umat Hindu di Bali berusaha menciptakan Bali yang jagadhita melalui penghayatan nilai-nilai keagamaan. Penghayatan nilai-nilai keagamaan tersebut dapat dilihat dari berbagai ritus keagamaan, sarana ritual . yang disajikan, dan berbagai bangunan suci . yang didirikan. Upaya untuk mengaktualisasikan nilai-nilai keagamaan, merupakan wujud kongkrit dari mahayu-hayuning bhuana . enjaga keharmonisan ala. Untuk menjaga keseimbangan antara alam sekala dan niskala, umat Hindu di Bali seringkali melaksanakan berbagai aktifitas keagamaan yang berpusat di suatu pura tertentu. Situasi ini secara tidak langsung menempatkan pura sebagai titik sentral dari kehidupan sosioreligius masyarakat Bali. Pura akan dibangun dengan seindah dan seikonik mungkin agar mampu menumbuhkan rasa nyaman, takjub dan tentram saat melakukan persembahyangan. Umat Hindu memandang pura sebagai replika dari kahyangan . , sehingga struktur pura akan dibangun dengan pakem tertentu dan dilengkapi dengan berbagai ornament yang menggambarkan alam surga. Berbagai sumber ajaran Hindu mulai dari Weda sampai dengan susastra Hindu mengungkapkan tentang keberadaan pura sebagai reflika dari kahyangan . lam sorg. Dalam Isanasivagurudevapaddhati i. 16 menyebutkan: Prasadham yacchiva saktyatmakam tacchaktyantaih syadvisudhadyaistu tatvaih, saivi murtih khalu devalakhyetyasmad dhyeya prathamam cabhipujya (Titib, 2. Terjemahannya: Pura yang merupakan replika dari surga sengaja dibangun untuk memohon kehadiran Sang Hyang oiwa dan Sakti yang merupakan kekutan dasar dari segala manifestasi-Nya, dari element hakikat yang pokok (Prthiv. sampai kepada SaktiNya. Wujud kongkrit . Sang Hyang oiwa merupakan sthana Ida Sang Hyang Widhi. Hendaknya seseorang melakukan perenungan dan memuja-Nya. Dari petikan sloka Isanasivagurudevapaddhati diatas dapat dipahami bahwa pura memang diperuntukkan untuk menstanakan manifestasi Brahman (Tuha. , dan memohon tuntunan-Nya agar kehidupan mengarah pada jagadhita. Begitu pula halnya dengan Pura https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda yang terletak di Desa Tajun. Kecamatan Kubutambahan. Kabupaten Buleleng. Selain memiliki keunikannya tersendiri, pura ini sangat berpengaruh terhadap sosioreligius dari masyarakat Desa Tajun. Mengacu dari nama pura ini saja yakni Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda, kita dapat mengetahui bahwa pura ini dibangun berlandaskan nilai-nilai teologi oiwa dan Buddha. Adnyana . menegaskan ajaran oiwa dan Buddha merupakan dua mazab besar yang berpengaruh di India, hingga menyebar ke Nusantara. Jika di India ajaran oiwa dan Buddha sering bertentangan dan berusaha mendominasi keagamaan masyarakat, maka berkebalikanlah hal itu di Nusantara. Ajaran oiwa dan Budhha justru dapat saling melengkapi dan membentuk harmonisasi (Dewi et al. , 2. Puncak dari harmonisasi ini terjadi pada masa kerajaan Majapahit. Kedua ajaran ini sama-sama eksis dan berusaha menciptakan tatanan hidup yang baik bagi Sinkretisme yang terjadi di Majapahit terletak pada ranah esoteris, sedangkan untuk pelembagaanya tetaplah berdiri secara indefendent. Dari catatan sejarah kita dapat mengetahui bahwa Pulau Bali sempat mengalami Jawanisasi terkait keberagamaan ketika berada dalam dominasi Majapahit. Melalui Majapahitlah terbentuk dinasti baru di Bali yang mengusung nilai-nilai Jawanisasi dan Indianisasi (Hinduism. Meskipun pengaruh India tetap berlangsung namun dalam perkembangannya telah mengalami perubahan (Ardika et al. , 2. Konsepsi keagamaan yang dianut oleh Majapahit adalah kesetaraan atau paralelisme antara oiwa dan Buddha. Dua agama yang berbeda dalam praktik keagamaan . iwa dan Buddh. dipandang sebagai suatu ajaran yang tidak berbeda. Hal tersebut diungkapkan dalam kakawin Sutasoma gubahan Mpu Tantular sebagai berikut: Rwaneka dhatu winuwus wara Budha Wiswa. bhineka rakwa ringapan kena parwanosen. mangkana jinatwa kalawan oiwatwa tunggal. bhineka tunggal ika tan hana dharma marwa (Sugriwa, 1. Terjemahannya: Zat yang satu disebut dua, yaitu Buddha dan oiwa. Berbedalah konon, tetapi betapakah dapatnya memberi dua. Demikianlah keadaan Buddha dan oiwa itu Berbeda, tetapi satu itu, tidak ada kebenaran itu mendua. Berdasarkan kakawin Sutasoma diatas kita dapat mengetahui bahwa oiwa dan Buddha merupakan agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat dikala itu. Kedua ajaran ini sama-sama mengajarkan tentang Satya . dan upaya untuk mencapai nirwana . ebasnya jiwa dari pengaruh duniaw. Kedua ajaran ini memang beda dalam laku spiritual, namun secara umum sama dalam kewajiban dan tujuan. Umat beragama dimasa itu memiliki kebebasan penuh dalam memilih salah satu ajaran diantara oiwa atau Buddha, karena jalan manapun yang diambil akan mencapai tujuan atau kebenaran yang sama. Harus pula dipahami bahwa tingkat percampuran oiwa dengan Buddha tidak sama kohesitasnya pada setiap zaman (Wastawa, 2. Dalam artian, sinkretisme tersebut mengalami evolusi dari satu zaman kepada zaman berikutnya. Hingga akhirnya pada zaman tertentu terdapat momentum sejarah yang membuatnya semakin rekat, semakin menguat, hingga ajaran Siwa-Buddha muncul kepanggung sejarah sebagai agama tunggal. Sebagaimana diketahui momentum itu muncul di Jawa Timur pada Zaman Majapahit (Suwantana, 2. Jika ditarik kebelakang, jauh sebelum datangnya pengaruh Majapahit, masyarakat Bali sesungguhnya telah mengenal Agama oiwa dan Buddha. Sinkretisme oiwa-Buddha di Bali sudah ada sejak zaman Bali Kuno, yakni di abad ke 8-14 M, sebagaimana dapat dibuktikan melalui berbagai peninggalan arkeologi dan literatur. Prasasti Blanjong menjelaskan bahwa raja yang berkuasa di Bali saat itu mencari https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH perlindungan dari Buddha demi kesejahteraan negerinya, seperti dijelaskan dalam paragraf ini: buddhahsaranah kertih Balidvipa (Widya, 2. Hal ini menunjukkan bahwa Agama Buddha adalah agama yang pertama kali datang ke Bali, sedangkan agama Hindu . adalah yang pertama kali datang ke Nusantara. Sinkretisme oiwa-Buddha di Bali tidak hanya terjadi diberbagai pura yang terdapat di Bali Selatan (Kiriana, 2. Bali utara yang merupakan basis dari masyarakat Bali Aga juga terpengaruh dari sinkretisme oiwa-Buddha, seperti yang terjadi di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Fenomena ini menjadi suatu hal menarik untuk diteliti, agar memperoleh pemahaman yang komperhensif terhadap sinkretisme oiwaBuddha di Desa Tajun. Bagaimana bentuk pemujaan oiwa-Buddha yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Tajun, dan seberapa jauh pengaruhnya terhadap kehidupan sosilokultural masyarakat. Apabila kita sembahyang ketika piodalan, maka kita akan melihat ornament dari masing-masing mazab mewarnai kemeriahan upacara piodalan tersebut. Walaupun demikian, keberadaan ornament dari masing-masing mazab tersebut tidak mengurangi kekhusukan umat dalam melakukan pemujaan. Situasi ini merupakan cerminan dari toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan yang telah terbangun antara umat Hindu dan Buddha. Secara tidak langsung Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda telah menjadi tempat interaksi antara agama dengan budya, dan meningktnya fleksibelitas agama yang berevolusi dari waktu ke waktu. Masyarakat secara umum telah mengetahui bahwa umat Hindu yang berada di Desa Tajun, merupakan salah satu umat yang mengaktualisasikan nilai teologi Hindu sebelum proses Jawanisasi Majapahit. Mereka sanggat bangga akan kebudayaan dan agama yang mereka anut. Agama bukan hanya menjadi identitas, namun telah menjadi pedoman hidup dari zaman dahulu hingga sekarang. Upaya masyarakat Desa Tajun untuk menjaga keseimbangan antara sekala dan nislaka merupakan salah satu wujud kongkrit dari sinkretisme oiwa-Buddha. Melalui penelitian ini kita akan berusaha membedah konstruksi teologis yang terjadi di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Mengulas berbagai bentuk sinkretisme oiwa-Buddha di pura ini, dan mendeskripsikan kontribusi dari sikretisme oiwa-Buddha dalam menunjang eksistensi masyarakat Desa Tajun di era Pada utamaning mandala . agian paling utam. dari Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda berdiri dua buah pelinggih utama, yakni Prasada yang merupakan sthana dari oiwa, dan stupa yang merupakan sthana dari Buddha. Keberaan prasada dan stupa pada pura yang sama menunjukkan bahwa sinkretisme yang terjadi di pura ini berada dalam ranah esoteris, sedangkan pelembagaannya tetaplah indefendent. Fenomena ini menunjukkan adanya hibriditas agama dalam masyarakat Desa Tajun. Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda yang awalnya berperan sebagai tempat peribadatan, kini berkembangn menjadi tempat tumbuhnya pemahaman manusia terhadap teologi, dan menjadi wadah akulturasi budaya. Sinkretisme oiwa-Buddha di Desa Tajun nampaknya tidak hanya berpengaruh terhadap tradisi keberagamaan dan budaya masyarakat, namun berpengaruh besar bagi karakter masyarakat setempat. Masyarakat Desa Tajun terbuka terhadap perbedaan dan menganngapnya sebagai sebuah keniscayaan. Dari berbagai penjelasan diatas, penelitian ini akan menggali landasan kontruksi teologis di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda hingga diterimanya oiwa-Buddha sebagai salah satu manifestasi Tuhan. Melalui penelitian ini diharapkan akan mampu membangun pemahaman teologis yang sistematis dan terukur terkait sikretisme oiwa dan Buddha di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Metode Penelitian yang berjudul Konstruksi Teologis dalam Sistem Pemujaan oiwaBuddha di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda Desa Tajun merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan sosioreligius. Berbagai penjabaran yang disajikan dalam penelitian bertujuan untuk memaparkan upaya masyarakat Desa Tajun dalam mengejawantahkan spirit oiwa-Buddha dikehidupan sehari-hari. Berusaha memberikan pemahaman bahwa suka-duka sebagai bagian dari kehidupan, dan harmonisasi merupakan dasar dari kesejahteraan. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini meliputi hasil observasi dan wawancara dengan narasumber, sedangkan untuk data sekunder dalam penelitian ini berupa pustaka atau literatur yang berkaitan dengan objek penelitian. Teknik penentuan informan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik snowball. Terdapat 20 informan dalam penelitian ini, mulai dari akademisi, tokoh masyarakat, hingga krama Desa Adat Tajun yang beragama Hindu. Informan kunci dari penelitian ini adalah jero mangku Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Terkait metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi beberapa cara, seperti: observasi di Desa Tajun Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng, melakukan wawancara berdasarkan pedoman yang telah ditetapkan, dan melakukan studi dokumentasi. Setelah data penelitian terkumpul, data tersebut dianalisis dengan cara mengorganisasikannya kedalam kategori-katagori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih bagian-bagian yang akan dipelajari, dan yang terakhir adalah membuat kesimpulan yang mudah dipahami oleh peneliti. Peneliti beserta rekan-rekan sejawat juga melakukan FGD terkait hasil penelitian yang telah dilakukan, dengan harapan agar hasil penelitian ini sesuai dengan koridor ilmiah dan mendapat masukan dari berbagai pihak yang kompeten. Hasil analisis dari penelitian ini selanjutnya disajikan secara sistematis dengan menggunakan narasi yang mudah untuk dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Hasil dan Pembahasan Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda merupakan salah satu tempat suci Agama Hindu. Pura ini memiliki peranan strategis dalam menjaga tatanan sosial masyarakat pendukungnya. Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda tidak hanya difungsikan sebagai tempat pemujaan, namun juga dapat berperan sebagai salah satu media penyatuan dari paham teologis yang berbeda. Tidak sembarang tempat dapat dijadikan sebagai pura. Dalam tradisi Bali . ang termuat dalam beberapa lonta. menyebutkan bahwa tanah yang layak dijadikan sebagai lokasi pura adalah tanah yang berbau harum, yang gingsih dan tidak berbau busuk. Kitab Bhavisya Purana secara eksplisit menyebutkan bahwa tempat yang ideal untuk membangun pura adalah tanah yang mengandung unsur segara-giri adumukha. Berbagai kriteria yang sangat rijit dan filosofis menjadi acuan baku dalam memilih lokasi bagi suatu pura. Istilah pura dengan pengertian sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Hindu khususnya di Bali, tampaknya bersal dari zaman yang tidak begitu tua (Gunawan, 2. Kata pura yang berasal dari bahasa sanskerta pada mulanya berarti benteng, dan setelah perkembangan zaman mengalami berubah arti menjadi tempat pemujaan bagi Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasi-Nya. Sebelum dipergunakannya kata pura untuk menamai tempat suci/tempat pemujaan bagi umat Hindu, dipergunakanlah kata kahyangan atau hyang. Hal tersebut tercatat pada prasasti Sukawana AI yang berangkatahun 882 M (Titib, 2. Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda yang menjadi objek dalam penelitian ini memiliki berbagai keunikannya tersendiri. Pura ini berdiri di areal hutan lindung Desa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Tajun dan terdiri dari tri mandala, yakni jaba pura atau jaba pisan . alaman lua. , jaba tengah . alaman tenga. , dan jeroan . alaman dala. Untuk mencapai areal Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda dibutuhkan semangat dan tenaga yang cukup tinggi, karena harus melalui puluhan anak tangga yang menuruni tebing. Gambar 1. Jalan Menuju Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2024 Hal yang unik dalam struktur pura ini adalah adanya penempatan stupa disebelah timur, sedangkan prasada yang merupakan stana dari oiwa ditempatkan dibagian barat. Penempatan prasada . oiwa disebelah barat dan stupa disebelah timur merupakan hal yang pertamakali peneliti temui. Biasanya pura yang mengusung konsep oiwa Buddha akan menempatkan stana dari oiwa disebelah timur . arena diyakini sebagai purus. , dan stupa akan ditempatkan disebelah barat . iyakini sebagai pradan. Hal yang menggelitik inipun sempat peneliti tanyakan kepada jero mangku Nyoman Sukrai, yang merupakan pemangku di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Beliau menerangkan bahwa: AuKeberadaan stana oiwa disebelah barat dan stupa disebelah timur sejatinya mengilustrasikan perjalanan dari biksu Tong Samcong yang mencari kitab suci ke barat (Indi. Perjalanan biksu Tong Samcong ke barat sejatinya bukanlah pencari kitab suci, namun sebuah ilustrasi dalam upaya pencarian jatidiri. Berbagai macam kendala dan makhluk yang ditemui dalam perjalanannya ke barat sejatinya merupakan berbagai macam musuh serta rintangan yang ada dalam diri manusia. Musuh dan rintangan yang ada dalam diri ini merupakan kendala terbesar dari manusia dalam melaksanakan sadhana dan mencapai penyadaran. Apabila para bhakta telah mampu melewati berbagai rintangan tersebut, maka jatidiri yang merupakan perwujudan dari oiwa itu akan dapat dicapaiAy (Wawancara, 3 Juni 2. Dari pemaparan diatas kita dapat mengetahui bahwa Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda merupakan pura yang sarat akan nilai teologi. Terdapat perpaduan antara kebudayaan Hindu dan Buddha yang disajikan di pura ini. Para pemedek yang bersembahyang di pura ini akan merasakan keheningan yang ketika melakukan Hal ini merupakan efek logis dari Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda berdiri ditepi tebing yang cukup curam dan merupakan bagian dari hutan lindung Desa Tajun, sehingga suasananya begitu hening dan serasa menyatu dengan alam. Adapun luas dari hutan lindung Desa Tajun yang merupakan areal berdirinya Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda adalah seluas 15 hektar. Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam terkait konstruksi teologi yang terjadi dalam sistem pemujaan masyarakat Desa Tajun, maka pembicaraan akan diawali dengan membahas: . Bangunan suci yang terdapat di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda, . Pemujaan yang dilaksanakan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda, dan . Solidaritas dari Umat Hindu dan Buddha yang terjadi di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Bangunan Suci yang Terdapat di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda Pendirian suatu pura . hususnya di Bal. pasti didasarkan pada sradha, historis, dan menngacu pada susastra suci Hindu. Setiap bangunan suci yang didirikan berfungsi untuk memuliakan Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasinya. Bangunan suci tersebut sarat akan makna simbolik, baik berupa simbol dari kekuatan alam ataupun sebagai pertanda dari kisah-kisah perjalanan orang suci. Berdasarkan pengamatan dan hasil observasi yang telah dilakuakn di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda, dapat diterangkan bentuk bangunan suci yang terdapat didalamnya adalah sebagai berikut: Prasada Prasada merupakan salah satu bangunan suci yang diperuntukkan untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa dan manifestasi-Nya. Dilihat dari bentuk bangunannya, prasada adalah sebuah bentuk bangunan suci yang merupakan kelanjutan atau peralihan dari bentuk candi di Jawa Tengah atau Jawa Timur dengan bangunan meru di Bali (Titib,2. Karena merupakan bangunan peralihan, maka prasada dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk bangunan suci dengan arsitektur yang sudah tua. Di Bali, terdapat beberapa banguan suci yang berbentuk prasada sangat terkenal, seperti prasada yang ada di Pura Prasada . i Desa Kapal. Kecamatan Mengwi. Kabupaten Badun. Candi Margarana . i Desa Dauh Puri. Kecamatan Marga. Kabupaten Tabana. , dan prasada di Pura Maospahit (Kelurahan Tonja. Kecamatan Denpasar Utara. Kota Denpasa. Adapun ciri khas dari prasada adalah bentuknya yang seperti tugu, yang terdiri atas tiga bagian, yaitu dasar, badan dan atap. Atapnya memiliki bentuk yang unik, yakni berbentuk seperti mahkota, yang semakin keatas semakin mengecil. Denah bangunan prsada berbentuk bujur sangkar dengan sisi sekitar depa ali, depa madia atau depa agung. Tinggi dari prasada sangatlah bervariasi, tergantung dari lokasi yang dimiliki, dan bahan bangunan yang dipakai adalah bahan dari batu alam. Untuk prasada yang terdapat di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda terbuat dari batu Karangasem. Gambar 2. Prasada yang Ada di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda Sumber: Dokumentasi Peneliti Tahun 2024 Pradasa yang terdapat di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda merupakan bangunan suci yang diperuntukkan untuk memuja Tuhan dalam manifesatasinya sebagai Dewa oiwa. Dewa oiwa dalam mitologi Hindu adalah dewa yang bertugas untuk mempralina . enyerap, menghancurkan atau memperbaharu. segala yang tidak berguna lagi di alam ini. Kata oiwa sendiri artinya yang memberikan keberuntungan, yang baik hati, ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, yang tenang dan membahagiakan (Wirta, 2. Selain itu, oiwa juga dinyatakan sebagai ahli yoga . di Umat Hindu yang melakukan persembahyang di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda memuja Sang Hyang oiwa agar mendapatkan ketenangan bhatin dan keselamatan dalam melaksanakan atifitas sehari-hari. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH b. Stupa Buda Mahayana Stupa merupakan salah satu bangunan yang merupakan cirikhas dari agama Buddha. Stupa memiliki berbentuk seperti mangkuk terbalik. Pada stupa yang berukuran besar biasanya terdapat sebuah arca Buddha dengan menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu. Secara umum dikenal lima golongan mudra, seperti: Abhaya Mudara merupakan mudra untuk arah utara. Bhumisparsa Mudra merupakan mudra untuk arah timur. Wara Mudra merupakan mudra untuk arah selatan. Dhyana Mudra merupakan mudra untuk arah barat. Witarka Mudra dan Dharmachakra Mudra merupakan mudra untuk arah Tengah. Kelima golongan mudra yang ditampilkan oleh arca Buddha mengacu pada lima arah utama kompas menurut ajaran Mahayana, yang diwakili oleh masing-masing Dhyani Buddha. Stupa Buddha yang terdapat pada Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda merupakan Stupa dari Buddha Mahayana. Hal tersebut dapat diketahui dari betuk mudra yang timpilkan oleh arca Buddha dalam stupa. Menurut Jero mangku Nyoman Sukrai selaku jero mangku di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda menuturkan bahwa Stupa yang terdapat dalam Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda merupakan stupa Buddha aliran Mahayana. Arca Buddha yang terdapat dalam stupa menampilkan Wara Mudra, yang melambangkan kedermawanan. Maka sangat tepatlah umat yang besembahyang di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda memohon kemurahan hati dari Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud sang Buddha, agar mendapatkan berkah berupa kesejahteraan hidup lahir dan bhatin . awancara, 3 Juni Gambar 3. Stupa yang Ada di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2024 Arsitektur prasada yang menjulang tinggi keatas, sedangakan arsitektur stupa yang melebar kesamping menekankan pada konsep keseimbangan. Umat Hindu menyebut keseimbangan ini dengan istilah tapak dara . Hal-hal yang bersifat sakral harus memiliki keseimbangan dengan hal-hal yang bersifat profan. Hidup ini merupakan dualitas yang saling berkaitan. Kemajuan dalam spiritual harus di topang dengan material, begitu pula pencapaian material harus berlandaskan spiritual agar tidak menyesatkan Arsitektur prasada dan arsitektur stupa mengisyaratkan sinkronisasi kepercayaan yang berbeda antara oiwa dengan Buddha demi mencapai tujuan yang sama. Umat Hindu memandang penyatuan antara oiwa dengan Buddha merupakan penyatuan antara purusa dengan prakerti untuk mencapai Brahman. Stupa Buda Mahayana dan prasada yang terdapat di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda melambangkan konsep rwa-bhineda. Pelinggih prasada melambangkan purusa, sedangkan pelinggih stupa melambangkan pradana. Kedua hal ini . urusa dan pradan. merupakan dualitas yang selalu ada dialam ini. Keduanya harus diterima dan ditempatkan sesuai dengan proforsinya, karena hidup ini memang tidak akan bisa lepas dari suka dan duka. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Ajaran Hindu memandang suka dan duka sebagai kondisi yang harus dilampaui oleh manusia. Apabila manusia hanya berjibaku dalam suka dan duka, maka selamanya ia akan berada dalam siklus samsara. Oleh karenanya pusatkanlah pikiran pada oiwaBuddha untuk mencapai pencerahan terkait esensi dari hidup. oiwa-Buddha adalah manifestasi dari Brahman dalam dimensi Saguna Brahman, dengan memahami oiwaBuddha maka individu yang bersangkutan akan memiliki cara pandang yang tidak mendikotomikan perbedaan. Melainkan memandang perbedaan sebagai bagian integral dari keutuhan kosmis. Rwa-bhineda yang dilambangkan oleh oiwa-Buddha merupakan perbedaan yang saling melengkapi. Bukan pertentangan namun upaya saling memahami, yang nantinya akan membuka ruang hidup berdampingan dalam perbedaan. oiwa-Buddha dalam konsep Saguna Brahman merupakan landasan teologis bagi toleransi, iklusi dan multikulturarisme (Saitya, 2. Selain itu, keberadaan dari oiwa-Buddha sebagai pengejawantahan dari konsep Saguna Brahman, memberikan flesibelitas bahwa Tuhanan dapat dipahami dan didekati melalui berbagai nama, bentuk, serta simbol, tanpa kehilangan keesaan-Nya. Palinggih Apit Lawang Palinggih Apit Lawang merupakan bangun suci yang berada di jaba tengah Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Sesuai dengan namanya yaitu apit lawang maka pelinggih ini berjumlah dua, yang bertempat di depan samping jalan masuk ke jeroan Palinggih Apit Lawang di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda dibangun dengan mempergunakan batu Karangasem dengan tujuan agar bisa lebih awet dan tahan terhadap cuaca yang lembab diseputaran hutan lindung Desa Tajun. Berikut ini merupakan gambar dari Palinggih Apit Lawang di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Gambar 4. Palinggih Apit Lawang di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2024 Kedua palinggih ini telah tegak berdiri semenjak 24 tahun yang lalu, dimana pemugaran pura ini terakhir kali dilakukan pada tahun 2000. Areal hutan lindung Desa Tajun prasadapakan areal yang jarang sekali dikunjungi oleh masyarakat. Hal ini karena lokasinya yang terpencil dan memiliki kemiringan yang cukup ekstrims. Oleh karenanya dibutuhkanlah material yang kuat untuk membangun bangunan palinggih, dan pilihlah batu Karangasem sebagai materialnya. Selain itu, diareal jaba pisan Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda didirikan dua buah patung singa yang cukup ikonik. Patung singa ini diyakini sebagai salah satu penjaga utama . secara niskala yang ada di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Hal ini dituturkan oleh jero mangku Nyoman Sukrai selaku jero mangku di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda menjelaskan bahwa Patung singa yang berada di jaba pisan Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda prasadapakan perwujudan dari rencangan Ida Bhatara yang melinggih . di Pura https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Kedua patung ini sengaja didirikan untuk melukiskan secara kongkrit bahwa terdapat perpaduan antara kebudayaan Hindu dan Buddha di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Singa dalam mitologi masyarakat China diyakini sebagai hewan yang sangat kuat, dan memiliki idealisme. Hal ini prasadapakan salah satu persyaratan yang harus dimiliki oleh umat jika ingin mendekatkan diri terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Umat harus memiliki sradha yang kuat dan paham akan teks keagamanya, agar mampu mencapai karunia Tuhan . awancara, 3 Juni 2. Gambar 5. Patung Singa di Jaba Pisan Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda Sumber: Dokumentasi Peneliti Tahun 2023 Selain bangunan suci yang telah disebutkan diatas, terdapat juga sebuah bangunan yang tidak kalah pentingnya dalam menopang eksistensi dari Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Bangunan tersebut adalah balai piyasan yang terletak dijeroan pura. Walaupun balai piyasan ini ukurannya tidak terlau besar dan dibuat dengan sangat sederhana, namun memiliki peranan yang fundamental dalam menopang upacara yang dilaksanakan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Bale piyasan ini merupakan sebuah tempat untuk meletakkan berbagai upakara yang akan dipersembahkan oleh para Tirtha, bija dan berbagai hal yang berkaitan dengan upacara di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda diletakkan di bale piyasan ini. Kontruksi teologis yang terjadi di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda berada dalam ranah teologis-praktis. oiwa dan Buddha dalam dimensi teologis dinyatakan sebagai entitas yang tunggal . a Buddha ya oiv. , namun dalam praktiknya masih merupakan mazab yang terpisah dengan tetap mempertahankan identitasnya masingmasing. Hal ini dapat diamati dengan berdirinya prasada untuk memuja oiwa, dan stupa untuk memuja Buddha di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Kedua bangun ini berdiri sendiri . dalam suatu areal yang sama, dan memiliki arsitektur yang berbeda sebagai identitas dari masing-masing mazab. Hal senada juga dinyatakan oleh Suwantana . yang menyatakan bahwa penyatuan oiwa-Buddha yang terjadi di Bali masih berada dalam wilayah agama . eologis-prakti. , sedangkan dalam ranah teometafisis penyatuan yang terjadi berada dalam sebuah proses. Di dalam agama terdapat tata cara pemujaan, keyakinan, permohonan dan objek pemujaan yang ada diluar tubuh Sedangkan dalam proses akan menekankan pada upaya untuk menjadi sesuatu yang lain, yang berada dalam tubuh manusia itu sendiri. Eksistensi oiwa-Buddha di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda menunjukkan toleransi yang sangat tinggi. Toleransi yang dikembangkan bukanlah toleransi semu, namun benar-benar dilakukan untuk mencapai kebahagiaan yang disebut nirwana atau moksa. Tidak hanya sampai disana, upaya kearah penunggalan dalam tataran tattwa, agama, etika . dan ritual keagamaan semakin diusahakan oleh https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pemujaan yang dilaksanakan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda Pemujaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari upacara Kata pemujaan berasal dari kata puja. Pemujaan berarti proses, cara, perbuatan memuja dan penghormatan kepada dewa-dewa dan makhluk suci lainnya (Suharyanto, 2. Pemujaan yang dilakukan oleh umat beragama bertujuan untuk mendapatkan tuntunan dari Tuhan Yang Maha Esa, dan membangun spirit solidaritas antar umat beragama. Pemujaan yang dilaksanakan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda adalah pemujaan yang dilaksanakan berdasarkan perhitungan pancawara dengan saptawara, serta ada pula pemujaan yang dilaksanakan berdasarkan perhitungan sasih. Terkait upacara piodalan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda jatuh setiap satu tahun sekali, yaitu pada hari ke lima sebelum purnamaning kapat. Menurut Jero Made Sumarka yang merupakan Bendesa Adat Desa Tajun menjelasksan bahwa upacara piodalan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda dilaksanakan setiap satu tahun sekali, yaitu lima hari sebelum piodalan di Pura Bukit Sinunggal. Piodalan di Pura Bukit Sinunggal dilaksanakan pada purnamaning kapat. Piodalan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda dilaksanakan hanya satu hari saja, dan diikuti oleh seluruh krama adat Desa Tajun (Wawancara, 3 Juni 2. Dari pemaparan Bendesa Adat Tajun diatas kita dapat mengetahui bahwa kerama . Desa Adat Tajun sangat antusias dalam melaksanakan piodalan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Hal ini dapat dilihat dari ramainya pemedek . yang sembahyang pada waktu piodalan, dan sangat antusiasnya masyarakat dalam mempersiapkan upakara yang akan dipergunakan saat upacara piodalan. Masyarakat Desa Adat Tajun saling bahu membahu dalam persiapan upacara piodalan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda, mereka memandang aktifitas yang tengah dilakukan merupakan bentuk pengabdian . terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat tidak pernah membeda-bedakan antara aspek oiwa yang di stanakan di palinggih prasada dengan aspek Buddha yang di stanakan di palinggih stupa, karena masyarakat menganggap keduanya sebagai manifestasi dari Tuhan, dan merupakan dewa bagi masyarakat Desa Adat Tajun. Pemahaman ini tidak muncul dengan begitu saja. Ajaran Hindu terkait dengan konsep ketuhanan Saguna Brahman memainkan peranan peting dalam mengkonstruksi sistem pemujaan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Konsep ketuhanan Saguna Brahman menempatkan Tuhan sebagai entitas yang terwujud dan memiliki atribut. Tuhan berusaha diimani melalui bentuk, simbol, dan sifat-sifat tertentu yang dapat dipahami oleh pikiran dan hati manusia (Somawati, 2. Tuhan digambarkan dalam berbagai wujud dan nama, agar para penyembah Tuhan dapat lebih mudah dalam menapaki jalan spiritual menuju Tuhan. Upaya dalam memahami Tuhan melalui bentuk dan simbol bukanlah bentuk lain dari kelemahan intelektualitas manusia, namun hanya sebagai pijakan awal dalam memahami Tuhan yang mahasempurna . Dalam kitab Rg. Veda XII. 46 menyebutkan: Indram mittram varunam agnim ahur atho divyah sa suparno gurutman ekam sadviprah bahudhavadanty agnim yamam matarisvanam ahuh. Terjemahannya: Mereka menyebut-Nya Indra. Mitra. Varuna. Agni dan Dia pula adalah burung bersayap indah di angkasa (Garutma. Yang Esa itu, disebut oleh para bijak dengan banyak nama mereka menyebut-Nya Agni. Yama, dan MAtariuvan (Titib, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Berdasarkan penjelasan dari pustaka suci di atas, kita dapat lebih memahami bahwa bahwa Tuhan sejatinya adalah tunggal dan transenden (Nirguna Brahma. , hanya saja Beliau diwujudkan dalam berbagai simbol yang dikenal melalui konsepsi Saguna Brahman. Konsep ketuhanan Saguna Brahman bertujuan untuk menjalin hubungan spiritual yang lebih dekat dengan Tuhan, melalui simbol-simbol keagamaan (Sariani. Dalam perspektif Saguna Brahman, para dewa bukanlah entitas yang terpisah dengan Tuhan, tetapi merupakan manifestasi dari Tuhan yang Esa. Oleh karena itu, menyembah Tuhan dalam wujud apapun . aik melaui Nirguna atau Saguna Brahma. , jika dilakukan dengan pengabdian yang tulus dan keyakinan yang kuat, tetap merupakan jalan yang sah serta mulia. Pemujaan melalui Saguna Brahman merupakan bentuk pemujaan yang paling sering dipraktikkan oleh umat Hindu dibandingkan pemujaan melalui Nirguna Brahman. Hal ini karena pendekatan Saguna Brahman memudahkan umat dalam memahami Tuhan melalui wujud atau simbol-simbol yang nyata dan bisa dibayangkan. Simbol-simbol ini diyakini sebagai manifestasi dari Tuhan dan telah menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Hindu (Subawa. Umat Hindu yang melakukan pemujaan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda memahami bahwa arca yang mereka puja hanyalah simbol dari Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud oiwa dan Buddha. Pemahaman ini masih berada pada tataran simbolik, karena penerimaan mereka terhadap oiwa-Buddha telah dimulai dari dikenalnya agama. Umat Hindu di Bali telah terbiasa menganggap Sang Hyang Buddha sebagai bagian dari Hindu, meskipun dalam sejarahnya maupun pendekatannya merupakan mazab yang Ajaran oiwa tergolong dalam kelompok astika, sedangkan ajaran Buddha berada dalam kelompok nastika. Walaupun demikian, bukan berarti tidak ada umat yang memahami kedua mazab tersebut secara mendalam. Dari banyaknya umat yang melakukan pemujaan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda, terdapat umat yang memahami dengan baik dokrin dari kedua mazab tersebut. Mereka tidak pernah mempertentangkan antara ajaran oiwa maupun Buddha, dan tetap menyakini bahwa oiwa dan Buddha sebagai entitas yang Keyakinan ini menunjukkan pemahaman yang menganggap mazab oiwa maupun Buddha sebagai mazab yang setara, yang sama-sama berusaha untuk membebaskan manusia dari penderitaan. Kirianan . menyatakan: secara teologis, keesaan oiwa-Buddha disebut dengan Sanghyang Tunggal. Dalam ajaran oiwa yang kemudian diwujudkan dengan menggunakan simbol Ongkara. Sedangkan dalam ajaran Buddha disimbolkan dengan Hrih. Dimana kemudian muncul sebuah konsep yang disebut dengan purusa dan Kedua konsep ini kemudian dikenal dengan istilah Rwabhineda. Adanya kesamaan teologis antara ajaran oiwa dan Buddha telah menyatukan kedua agama tersebut. Seiring berjalannya waktu dan melalui proses alkuturasi antara oiwaisme dengan Buddhisme, membuat kedua mazab tersebut menjadi satu kesatuan yang saling menopang dan dikenal dengan istilah oiwabuddha. Dalam teks sastra Jawa Kuna kenyataan itu berpuncak dalam sebutan Auya Buddha ya oivaAy, yang artinya tidak ada perbedaan apakah anda seorang penganut oiwa atau Buddha (Widnya, 2. Adanya persamaan asfek teologis antara ajaran oiwa dengan ajaran Buddha telah berpengaruh besar dalam konstruksi teologi yang terjadi di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Bertemuanya dokrin ajaran oiwa dengan ajaran Buddha telah membetuk pandangan baru dalam keberagamaan masyarakat setempat. Ajaran Buddha dengan konsep madyamika . alan tenga. , dan ajaran oiwa dengan konsep monistiknya samasama menekankan pada kewaspadaan. Kewaspadaan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan merupakan salah satu hasil dialektikan dari ajaran oiwa dengan ajaran Buddha https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dalam ranah idiologis. Hidup harus dijalani dengan kewaspadaan, tidak perlu terlau keras dan tidak boleh juga lalai. Apabila umat terlalu keras dalam menjalani hidup, maka manusia akan kehilangan makna dari hidup itu sendiri, namun apabila hidup dijalankan seacara lalai maka peneritaan akan selalu menyertai kehidupan. Meskipun masyarakat secara umum belum menyadari nilai teologi sosial dari ajaran oiwabuddha ini, namun terdapat pula umat yang telah mempraktikkannya. Berdirinya prasada dan stupa di jeroan Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda berperan sebagai tanda pengingat kepada para tokoh masyarakat Desa Adat Tajun dan para pangempon yang lain bahwa dualitas harus dilampaui dalam kehidupan ini. Terdapat hal yang lebih tinggi dari pada pencapaian materi yang harus dicapai. Benda-benda materi hanyalah alat bantu untuk mencapai tujuan tertinggi, dan ajaran oiwabuddha merupakan petunjuk menuju tujuan tersebut. Ajaran oiwa dengan ajaran Buddha yang sama-sama berasal dari India memiliki tujuan yang sama, yanki membebaskan diri dari siklus samsara. Ajaran oiwa menyatakan kebebasan dari samsara dengan istilah moksa, sedangkan ajaran Buddha menyebutnya dengan nirwana. Nirwana . irbAn. dan moksa mengilustrasikan keadaan sukha tan pawali dukha . ebahagiaan yang tidak diikuti oleh penderitaa. Umat Buddha dapat mencapai nirwana dan umat Hindu . dapat mencapai moksa apabila telah memiliki keikhlasan dalam berbagai asfek hidupnya. Ajaran agama dengan keikhlasan ibaratnya percampuaran garam didalam air, yang hasilnya berupa penghilangan dualitas dan memunculkan non-dualitas. Perkembangan ajaran oiwabuddha di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda tidak hanya memberi pengaruh dalam ranah teologis. Asfek budaya . pakara dan tradis. juga berdampak dalam pelaksanaan piodalan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Terjadi dialektika antara ajaran Siwa dengan ajaran Buddha dalam bidang ritus. Hal ini diejawantahkan dengan adanya tradisi bakar kertas emas saat piodalan. Aktifitas pujawali yang disertai dengan tradisi bakar kertas emas merupakan perpaduan kebudayaan Hindu dengan tradisi asli dari masyarakat Tiongkok yang menganut agama Buddha. Terjadinya perpaduan tradisi kagamaan ini, secara tidak langsung telah menjadi identitas, mempengaruhi idiologi dan memainkan peran sebagai atribut sosial bagi masyarakat Desa Adat Tajun. Persembahyangan yang dilaksanakan pada saat piodalan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda berlangsung dengan hikmat. Piodalan yang hanya dilaksanakan selama satu hari membuat masyarakat Desa Adat Tajun yang bekerja di luar desa, meluangkan waktu untuk pulang ke kampung halaman dan mengikuti persembahyangan. Mulai pagi hari sampai dengan malam hari, ada saja masyarakat yang datang untuk Bahkan pada malam harinya banyak umat yang mekemit . di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Selain krama Desa Adat Tajun, ternyata banyak pula umat Buda yang sembahyang ke Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Hanya saja mereka melakukan persembahyangan tidak pada hari piodalan, namun pada hari yang dianggap baik oleh umat Buda. Menurut Jero mangku Nyoman Sukrai yang merupakan jero mangku di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda menjelaskan bahwa selain umat Hindu. Umat Buda juga melakukan persembahyangan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Hanya saja mereka bersembahyangnya pada hari-hari tertentu yang dianggap baik oleh mereka. Mereka tidak hanya sembahyang pada stupa Budha Mahayana, namun juga melakukan persembahyangan pada prasada yang ada di pura ini. Pertama mereka bersembahyang di palinggih Buddha, setelah itu dilanjukan melakukan persembahyangan di palinggih oiwa. Adapun ritual yang dilaksanakan oleh penganut Buddha disesuaikan dengan ritual yang mereka yakini (Wawancara, 3 Juni 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pemujan umat Buddha yang diawali dengan pemujaan di palinggih stupa dan dilanjutkan di palinggih prasada, secara tidak langsung menunjukkan adanya internalisasi ajaran Hindu pada umat yang lain. Terkait dengan upakara yang dipersembahkan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda memiliki keluasan Dalam artian umat yang ingin bersembahyang di pura ini memiliki kebebasan dalam persembahan yang hendak dihaturkan. Asalkan persembahan tersebut didasarkan atas rasa tulus iklhas, apapun bentuk persembahan yang hendak dipersembahkan diberikan kebebasan asalkan tidak betentangan dengan norma yang berlaku, dan berdasarkan atas hati yang tulus ikhlas. Solidaritas Umat Hindu dan Buddha yang terjadi di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian kata solidaritas adalah, sifat . solider, sifat satu rasa . , perasaan setia kawan yang pada suatu kelompok anggota wajib memilikinya. Soedijati . menjelaskan bahwa solidaritas merupakan suatu keadaan yang saling percaya antara para anggota didalam suatu kelompok ataupun didalam komunitas. Apabila setiap orang saling percaya maka mereka akan menjadi satu kesatuan, saling menghormati terdorong untuk membatu sesamanya. Solidaritas dalam penelitian ini dapat dipahami sebagai suatu hubungan yang terjalin dengan baik terhadap kelompok ataupun individu, sebagai landasan moral untuk saling menghormati dan saling membantu. Solidaritas merupakan pondasi dari berbagai aktivitas keagamaan yang dilaksanakan oleh umat Hindu dan Buddha di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda. Hal ini menempatkan solidaritas sebagai bagian dari konstruksi teologis yang berada di ranah sosial. Umat Hindu dan Buddha yang melakukan pemujaan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda merasa memiliki kedekatan sosial dengan umat yang lain. Meskipun sampai saat ini belum ada lembaga sosial bersama antara umat Hindu dan Buddha yang menjadi wadah kedekatan sosial antar umat Hindu dan Buddha, namun rasa persaudaraan tetap eksis diantara mereka. Umat Hindu di Bali berusaha memanfaatkan keberadaan Desa Adat untuk menjaga stabilitas sosial masyarakat, dan kedekatan sosial diantara umat Hindu dan Buddha. Kedekatan sosial ini tumbuh secara alami melalui pertemuan yang kontinyu diantara mereka. Pemayun . menyebutkan: efektipitas dalam berkomunikasi merupakan salah satu penyebab terbentuknya solidaritas sosial dalam Masyarakat memiliki cara yang unik untuk saling mepengaruhi diantara Kebudayaan dimanfaatkan sebagai media komunikasi dalam menjalin kerja sama atau mempengaruhi budaya lain tanpa menghilangkan kebudayaan setempat. Proses ini disebut dengan istilah pembudayaan. Pembudayaan atau institutionalization berproses dalam ritme yang lambat, namun sangat efektif dalam menumbuhkan rasa memiliki. Hal ini senada dengan terori interaksional simbolik yang dinyatakan oleh Herbert Blumer, bahwa kedekatan sosial merupaka suatu hal yang dibentuk melalui komunkasi antar Terdapat tiga premis untama dalam teori ini: . Manusia bertindak berdasarkan makna yang mereka miliki. makan tersebut muncul dari interaksi sosial. Makna dapat diubah dan diinterpretasikan lagi melalui proses interpretatif dalam diri Umat Hindu dan Buddha yang melakukan pemujaan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda merasa memiliki hubungan kekerabatan diantra mereka. Hal ini dilatarbelakangi oleh dokrin yang menyatakan Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Buddha merupakan kakak beradik (Yanti, 2. Dokrit terkait adanya hubungan kekeluargaan antara Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Buddha bukan hanya beredar dimasyarakat Desa Tajun, namun juga terdapat di daeraha yang lain. Melalui pemaknaan ini umat Hindu dan Buddha melakukan interaksi sosial yang lebih mendalam, hingga menumbuhkan rasa saling percaya. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Rasa memiliki terhadap keberadaan Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda juga menjadi dasar dari tumbunya solidaritas antar umat Hindu dan Buddha. Para pangempon dari Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda akan bersedian dengan iklhas melakukan gotong-royong memperbaiki pura jika dibutuhkan. Bukan hanya sumbangsih dalam wujud waktu atau tenaga yang bersedia diberikan, punia yang berupa materi juga bersedia dilakukan dengan sukacita. Rasa sukacita dalam memberi menunjukkan nilainilai keagamaan telah terinternalisasi dengan baik. Kedekatan secara emosional ini tidak hanya terjadi dalam lingkup religi, tetapi juga berpengaruh dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Dapak sosial dari solidaritas antar umat Hindu dan Buddha memiliki pengaruh besar dalam membangun kerukunan antar umat Hindu dan Buddha (Sumertha, 2. Solidaritas sosial akan mampu mengantisipasi konflik sosial dan menumbuhkan keterbukaan antara umat Hindu dan Buddha. Keterbukaan merupakan modal sosial dari terjalinnya toleransi antar masyarakat. Melalui toleransi masyarakat akan lebih bijak dalam menyikapai ritual dan tradisi yang berbeda. Secara lahiriah, ritual dan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat hanyalah hiasan dalam beragama. Esensi dari pelaksanaan berbagai ritual adalah penguatan iman dan solidaritas social (Arjawa, 2. Melaksanakan ritual dengan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan merupakan tindakan yang sia-sia. Oleh karenanya, pelaksanaan suatu ritual keagamaan dalam dimensi sosioreligius memposisikan manusia sebagai agent yang membentuk harmonisasi secara sosial terhadap sesama. Dalam hal ini tindakan rasional menjadi landasan dari sikap religius, yang akhirnya mengarahkan manusia menuju perubahan sikap yang positif. Salah satu cara untuk mengarahkan sikap manusia menuju arah yang positif dapat ditempuh dengan menumbuhkan solidaritas sosial saat pelaksanaan piodalan. Menurut Jro Made Sumarka yang merupakan jero mangku di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda menjelaskan sebelum upacara atau piodalan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda, masyarakat pengempon pura dan termasuk masyarakat setempat di Desa Tajun dilibatkan dalam kegiatan ngayah . otong royon. membersihkan arela pura. Kegitan mereresik . otong rorong melakukan pemebersiha. diareal Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda menjadi bagian penting dalam menyambut datangnya piodalan, mengingat keberada pura yang berdiri dipinggir tebing pada kawasan hutan Lindung Desa Adat Tajun (Wawancara, 3 Juni 2. Melalui hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa kegiatan ngayah dijadikan sebagai salah satu media dalam meningkatkan solidaritas antar masyarakat, dan sebagai upaya menjaga kebersihan pura yang berada dikawasan hutang lindung. Masyarakat tidak pernah merasa keberatan untuk melaksanakan kegiatan mereresik. Hal ini didasari atas pemahaman bahwa oiwa dan Buddha merupakan dua realitas yang tidak dapat dipisahkan, layaknya jiwa dan raga. Jiwa akan sehat apabila raga juga sehat, begitu pula sebalikknya kesehtan raga akan berpengaruh terhadap kestabilan dari jiwa. Kehadiran Sang Hyang oiwa dan Sang Hyang Buddha di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda sebagai pertanda untuk mewujudkan solidaritas sosial meskipun berdeda dalam Yanti . menyatakan: oiwaisme dan Budhisme yang berkembang di Indonesia merupakan konsekuensi langsung dari adanya kontak kebudayaan antara dua kebudayaan besar yaitu India dan Indonesia pada masa lalu. Pengaruh ini sangat besar dan meresap sangat dalam pada masyarakat yang heterogen. Evolusi dari oiwaisme dan Budhisme di Indonesia berusaha menciptakan keserasian dan keseimbangan pada berbagai dimensi. Baik dalam dimensi religius, sosiologis maupun kebudayaan. Secara teologis ajaran oiwa dan Buddha sangat fleksibel dalam penerapan ajarannya, sedangkan secara kulural masyarakat Indonesia (Bali khususny. bersikap terbuka dalam menyikapi Situasi yang memadai ini melahirkan akulturasi dan solidaritas sosial, yang memanfaatkan keberadaan pura sebagai media penyatuan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kesimpulan Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda merupakan pura yang belandaskan teologi oiwa dan Buddha. Pura ini berdiri di areal hutan lindung Desa Tajun dan terdiri atas tri mandala. Pelinggih utama dari pura ini berupa pelinggih prasada yang merupakan sthana dari Sang Hyang oiwa, dan palinggih stupa yang merupakan sthana dari Sang Hyang Buddha. Kontruksi teologis yang terjadi di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda berada dalam ranah teologis-praktis. oiwa dan Buddha dalam dimensi teologis dinyatakan sebagai entitas yang tunggal . a Buddha ya oiv. , namun dalam praktiknya masih merupakan mazab yang terpisah dengan tetap mempertahankan identitasnya masing-masing. Sinkretisme oiwabuddha di pura ini berdampak pada pemahaman masyarakat Desa Tajun terkait konsep Rwa-Bhineda dan aktualisasinya dalam menyikapi Dualitas dipandang sebagai keniscayaan, dan harus disikapi dengan bijak. Pradigma masyarakat terkait teologi saat ini tidak hanya sebatas hubungan manusia dengan Tuhan atau berbagai ritus keagamaan, namun terkait dengan kebermanfaatannya dalam menghadapi dinamikan kehidupan. Semakin matang pemahaman umat akan hakikat dari Siwabuddha, maka semakin toleran dalam keseharian. Nilai-nilai teologi Siwabuddha yang telah terbukti berhasil menyatukan masyarakat Desa Tajun hendaknya disebarluaskan agar masyarakat diberbagai daerah dapat hidup berdampingan dengan Solidaritas antar umat bergama akan terbangun apabila berbagai ruang perjumpaan mampu memberikan hak dan kewajiban secara berdab. Hal inilah yang selalu diupayakan oleh umat Hindu dan Buddha saat terjadi perjumpaan di Pura Dasar Buana Amerta Jati oiwa Buda, yang secara tidak langsung menempatkan solidaritas sebagai bagian konstruksi teologis diranah sosial. Daftar Pustaka