JURNAL BASICEDU Volume 9 Nomor 6 Tahun 2025 Halaman 1769 - 1778 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Dampak Pembelajaran Lingkungan dalam Kurikulum Merdeka terhadap Karakter Peduli Lingkungan Siswa SMP Sulis Tiana Indah1A. John Bimasri2. Etty Safriyani3 Ilmu Lingkungan. Pascasarjana Universitas Musi Rawas. Indonesia1,2,3 E-mail: indahsulistiana22@gmail. Abstrak Latar belakang penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka berusaha menghadirkan pendidikan yang lebih relevan, mudah disesuaikan dan inklusif sehingga rasa peduli lingkungan semakin kuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi porsi mata pelajaran yang memuat materi pendidikan lingkungan pada Kurikulum Merdeka di Sekolah Menengah Pertama. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan cara mewawancarai responden secara langsung selama proses pembelajaran. Sampel penelitian ditetapkan secara acak berlapis (Stratified Random Samplin. Analisis data menggunakan metode campuran . ixed method. , yaitu berupa data kualitatif dari wawancara dan observasi serta data kuantitatif dari quisioner yang diberikan kepada peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan Kurikulum Merdeka pada tingkat SMP memfokuskan pada 11 mata pelajaran, mata pelajaran yang memuat materi lingkungan terdapat 4 mata pelajaran, mata pelajaran yang tidak memuat materi lingkungan terdapat 7 mata pelajaran. Kesimpulan pada penelitian bahwa Kurikulum Merdeka belum mampu membentuk karakter peserta didik untuk peduli lingkungan. Kata Kunci: Dampak. Lingkungan. Karakter. Kurikulum Merdeka. Pembelajaran Abstract The background of the study indicates that the Independent Curriculum strives to provide a more relevant, adaptable, and inclusive education, thereby strengthening environmental awareness. This study aims to identify the proportion of subjects that include environmental education material in the Independent Curriculum in Junior High Schools. This study used a survey method by interviewing respondents directly during the learning process. The sample was selected using stratified random sampling. Data analysis employed mixed methods, including qualitative data from interviews and observations, and quantitative data from questionnaires administered to The results show that the Independent Curriculum at the junior high school level focuses on 11 subjects, 4 subjects that contain environmental material, there are seven subjects that do not contain environmental The conclusion of the study is that the Independent Curriculum has not been able to shape the character of students who care about the environment. Keywords: Impact. Environment. Character. Merdeka Curriculum. Learning Copyright . 2025 Sulis Tiana Indah. John Bimasri. Etty Safriyani A Corresponding author : Email : indahsulistiana22@gmail. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1770 Dampak Pembelajaran Lingkungan dalam Kurikulum Merdeka terhadap Karakter Peduli Lingkungan Siswa SMP Ae Sulis Tiana Indah. John Bimasri. Etty Safriyani DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan kerusakan lingkungan adalah Pendidikan sangat diperlukan untuk membentuk generasi muda yang berakhlak mulia dan bertanggung jawab (Giawa et al. , 2. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan kualitas sumber daya manusia dan kemajuan suatu bangsa. Pelaksanaan pendidikan bertujuan untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman kepada individu dan kelompok, sehingga memungkinkan peningkatan kualitas sumber daya Pendidikan dibutuhkan dalam memahami berbagai nilai dan konsep untuk mengembangkan sikap dan keterampilan dalam membangun hubungan antara sesama manusia, budaya, dan lingkungan (Idris et al. , 2. Salah satu aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam penyelenggaraan pendidikan adalah kurikulum. Kebijakan pendidikan yang tepat, responsif, dan terbuka terhadap perubahan tercermin dalam perancangan dan implementasi kurikulum (Ramadhan, 2024. Siregar et al. , 2. Kurikulum merupakan seperangkat rencana pembelajaran yang berkaitan dengan tujuan, isi, bahan ajar dan cara yang digunakan dan dijadikan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan nasional (Hamzah et al. , 2. Kurikulum berfungsi sebagai adaptasi, integrasi, diferensiasi, persiapan, pemilihan dan diagnostik (Efendi et al. , 2. Kurikulum diindonesia sudah mengalami perubahan sebanyak 11 kali sejak kemerdekaan, yaitu Kurikulum 1947. Kurikulum 1951. Kurikulum 1964. Kurikulum 1968. Kurikulum 1975. Kurikulum 1984. Kurikulum 1994. Kurikulum, 2004. Kurikulum 2006 (KTSP). Kurikulum 20013, dan sejak tahun 2022 hingga sekarang kurikulum yang digunakan pada satuan pendidikan adalah Kurikulum Merdeka. Tujuan perubahan kurikulum adalah memaksimalkan fungsi kurikulum sebagai penguat dalam pengembangan proses pembelajaran (Mustofa dan Sueb, 2. Implementasi dari Kurikulum Merdeka diharapkan dapat berdampak terhadap perubahan karakter siswa, seperti religius . ersikap santun terhadap orang lai. , disiplin . aat atura. , pekerja keras . enyelesaikan tugas dengan bai. , bertanggung jawab . elaksanakan kewajiba. , kreatif . enghasilkan produ. , peduli sosial . erempati terhadap sesam. , dan peduli lingkungan . enjaga kelestarian lingkunga. (Nuari dan Ulfah, 2. Penerapan kurikulum di SMP mulai dari perangkat pembelajaran, media, dan kesiapan guru dalam melaksanakan pembelajaran selama satu tahun ajaran akan berlangsung dengan konsep Kurikulum Merdeka (Malikah et al. , 2. Tahap pelaksanaan, penerapan kurikulum merdeka menimbulkan dampak yang dirasakan oleh peserta didik, pendidik, dan juga tenaga kependidikan. Kendala utama dalam penerapan kurikulum ini adalah kurangnya pengertian dari guru, siswa, dan orang tua, sehingga menghambat tujuan pembelajaran. Hambatan juga muncul karena kurangnya fasilitas dan sarana yang tersedia untuk menjalankan kurikulum ini (Miladiah et al. , 2. Penerapan kurikulum merdeka diharapkan dapat memaksimalkan kekuatan dan meminimalkan kelemahan, sehingga mampu meningkatkan hasil belajar, prestasi, motivasi, dan kemampuan collaboration, communication, critical thinking, creative thinking . C) dari peserta didik (Dewi, 2. Implementasi kurikulum merdeka juga diharapkan akan membawakan dampak perubahan karakter bagi peserta didik diantaranya religius . emiliki sikap sopan santun terhadap sesam. , disiplin . ematuhi atura. , kerja keras . enyelesaikan tugas dengan bai. , bertanggung jawab . elaksanakan kewajiba. , kreatif . enghasilkan produ. , peduli sosial . mpati terhadap sesam. dan peduli lingkungan . enjaga kelestarian lingkunga. (Indriani et al. , 2. Implementasi Kurikulum Merdeka di Kabupaten Musi Rawas. Sumatera Selatan, telah menunjukkan perkembangan positif dengan dukungan Pemerintah Daerah, yaitu melalui penerapan dan dukungan Pemerintah Kabupaten Musi Rawas yang secara aktif mendukung implementasi Kurikulum Merdeka melalui pelatihan dan pendidikan dan pelatihan internal bagi guru, khususnya guru SMP (Negeri dan Swast. Melalui pendidikan dan Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1771 Dampak Pembelajaran Lingkungan dalam Kurikulum Merdeka terhadap Karakter Peduli Lingkungan Siswa SMP Ae Sulis Tiana Indah. John Bimasri. Etty Safriyani DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. kurikulum yang berlaku di satuan pendidikan diharapkan terwujud sistem pendidikan lingkungan yang merupakan usaha menumbuh kembangkan dan meningkatkan kesadaran komunitas untuk berperilaku ramah terhadap lingkungan sehingga keberlanjutan ekosistem tetap terjaga. Pendidikan berwawasan lingkungan merupakan upaya yang harus dilaksanakan demi keberlanjutan kehidupan generasi mendatang. Pendidikan berwawasan lingkungan memberikan kontribusi agar para peserta didiik lebih menyadari pentingnya kebersihan dan dampak negatif membuang sampah sembarangan, sehingga peserta didik juga dapat lebih terdidik tentang tanggung jawab terhadap lingkungan (Natapraja et al. , 2. Integrasi nilai-nilai lingkungan dalam tujuan pembelajaran menjadi lebih jelas dan terarah, sehingga tujuan pembelajaran tidak hanya bersifat akademis tetapi juga mengandung aspek kepedulian lingkungan. lingkungan efektif ketika nilai-nilai lingkungan terintegrasi dalam setiap aspek pembelajaran (Handiyati et al. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Efendi et al. , . menunjukkan bahwa literasi ekologi relevan dalam proses pembelajaran dan efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter peduli lingkungan pada Melalui pembentukan rasa cinta lingkungan dalam pembentukan karakter, siswa mampu menghayati, mengamalkan, dan memaknai literasi ekologi dalam kehidupan sehari-hari siswa baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat (Aminah, 2. Kurikulum yang diterapkan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah Kurikulum Merdeka yang memuat muatan pembelajaran tentang lingkungan (Sitorus et al. , 2. Namun. Kurikulum Merdeka masih memiliki kekurangan, antara lain kesiapan guru dan siswa serta sarana dan prasarana. Seberapa banyak muatan materi pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka yang diterapkan pada jenjang SMP. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak proses pembelajaran yang menerapkan Kurikulum Merdeka pada peserta didik tingkat Sekolah Menengah Pertama terhadap pembentukan karakter peduli lingkungan pada peserta didik. METODE Penelitian ini dilakukan pada Sekolah Menengah Pertama di Kabupten Musi Rawas. April sampai Juni Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei, data dikumpulkan menggunakan berbagai instrumen untuk memperoleh tanggapan dari responden yang merupakan sampel dan bersifat langsung selama proses pembelajaran. Sampel penelitian ditentukan secara acak berlapis (Stratifed Random Samplin. , dengan memperhatikan sampel berdasarkan status sekolah Negeri dan Swasta di tingkat SMP dengan kecamatan yang berbeda di Kabupaten Musi Rawas diantaranya Kecamatam Stl. Ulu Terawas. Kecamatan Sumber Harta. Kecamatan Muara Beliti dan Kecamatan Puwodadi. Survei dilakukan pada 7 sekolah menengah pertama di Kabupaten Musi Rawas dengan jumlah guru yang menjadi responden adalah 28 orang ditentukan dengan cara purposive sampling sampling, sementara itu responded atasan atau kepala sekolah sebanyak 7 orang di setiap sekolah ditentukan secara sensus atau sengaja. Siswa yang ditetapkan sebagai responden sebanyak 210 orang yang meliputi siswa laki-laki dan perempuan yang duduk di kelas tujuh sampai sembilan yang diambil dari total sampling menggunakan rumus solvin. Pengumpulan data telah disetujui oleh pihak kampus dan peneliti merahasiakan identitas responden. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan berbagai metode, yaitu metode observasi, metode wawancara, metode kuesioner, dan metode studi pustaka. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa jenis data mata pelajaran pada Kurikulum Merdeka tingkat SMP. Proporsi jumlah pertemuan tiap mata pelajaran, perilaku peserta didik terhadap lingkungan sekolah, dan upaya peserta didik dalam kebersihan lingkungan sekolah. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode mixed medhot, berupa data kualitatif yang didapat dari hasil wawancara, observasi untuk kemudian menarik kesimpulan. Responden yang akan diwawancarai terdiri dari guru dan kepala sekolah yang dilakukan secara sensus dan secara langsung. Data kuantitatif berupa quisioner yang dibagikan kepada siswa. Teknik triangulasi digunakan untuk memastikan keabsahan data. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1772 Dampak Pembelajaran Lingkungan dalam Kurikulum Merdeka terhadap Karakter Peduli Lingkungan Siswa SMP Ae Sulis Tiana Indah. John Bimasri. Etty Safriyani DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kurikulum Merdeka pada tingkat SMP bermuatan 11 mata pelajaran inti. Jenis mata pelajaran pada Kurikulum Merdeka untuk satuan pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama di sajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Jenis Mata Pelajaran di Kurikulum Merdeka Tingkat SMP yang memuat Materi Pendidikan Lingkungan. Materi Pendidikan Lingkungan No. Mata Pelajaran Ada Tidak Ada PAI PPKN Bahasa Indonesia Matematika IPA IPS Bahasa Inggris PJOK Oo Informatika Oo Bahasa Daerah Oo Prakarya Oo Jumlah Sumber: Hasil Olahan Data Penelitian, 2025. Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa mata pelajaran yang memuat materi lingkungan terdapat 4 mata pelajaran, yaitu Ilmu Pengetahuan Alam. Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Agama Islam dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Mata pelajaran yang tidak memuat materi lingkungan terdapat 7 mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia. Matematika. Bahasa Inggris. Pendidikan Jasmani Olahraga Kesehatan. Informatika. Bahasa Daerah, dan Prakarya. Tiap-tiap mata pelajaran mendapatkan porsi melaksanakan tatap muka dalam tiap semester dengan alokasi pertemuan berbeda beda secara proporsional tergantung bobot masing-masing mata pelajaran. Proporsi jumlah pertemuan dan jam pelajaran tiap-tiap mata pelajaran pada Kurikulum Merdeka untuk tingkat SMP disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Proporsi Jumlah Pertemuan dan Jam Pelajaran Kurikulum Merdeka di SMP. Jumlah Jumlah Jam Jumlah jam Jumlah Alokasi Pertemuan Pelajaran Waktu Pertemuan No. Mata Pelajaran per Semester Tiap Pertemuan per Semester Per Semester . (Ja. (Ja. (Meni. PAI PPKN Bahasa Indonesia Matematika IPA IPS Bahasa Inggris PJOK Informatika Bahasa Daerah Prakarya Jumlah Sumber: Hasil olahan data Tahun, 2025. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1773 Dampak Pembelajaran Lingkungan dalam Kurikulum Merdeka terhadap Karakter Peduli Lingkungan Siswa SMP Ae Sulis Tiana Indah. John Bimasri. Etty Safriyani DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Berdasarkan Tabel 2. diketahui bahwa jumlah pertemuan mata pelajaran dalam 1 semester antara 16 dan 32 kali dengan lama tiap pertemuan antara 2 sampai 3 jam pelajaran, dan tiap satu jam pelajaran dilakukan selama 40 menit. Mata pelajaran yang jumlah pertemuannya sebanyak 16 kali dalam satu semester adalah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Pendidikan Kewarganegaraan (PK. Bahasa Inggris. Pendidikan Jasmani Olahraga Kesehatan (PJOK). Informatika. Bahasa Daerah dan Prakarya yang setiap kali pertemuan selama 2 jam sehingga dalam satu semester sebanyak 32 jam dengan alokasi waktu selama 1. 280 menit. Mata pelajaran yang diberikan sebanyak 32 kali pertemuan tiap semesternya adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia. Matematika. Ilmu Pengetahuan Alam, dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Mata pelajaran Matematika dan IPA setiap kali pertemuan dilakukan selama 3 jam, sehingga dalam satu semester sebanyak 96 jam dengan alokasi waktu 840 menit. Sedangkan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan IPS dilakukan sebanyak 32 kali yang masing-masing pertemuan selama 2 jam sehingga lama belajar selama 64 jam atau selama 2. 560 menit dalam satu semester. Penerapan Kurikulum Merdeka terhadap karakter peserta didik memiliki dampak diantaranya perilaku peserta didik terhadap kepedulian lingkungan sekolah. Berikut perilaku peserta didik terhadap kepedulian lingkungan sekolah tersaji dalam tabel 3. Tabel 3. Perilaku Peserta Didik terhadap Lingkungan Sekolah. Persentase (%) No. Uraian Tidak Ya Kriteria Tidak Cukup 0,5 Sangat Buruk 9,0 Sangat Buruk 18,1 Sangat Buruk Cukup Buruk Rata-rata Buruk Sumber: Hasil Olahan Data Tahun, 2025. Keterangan: A : Kepedulian peserta didik terhadap lingkungan sekolah. B : Kepatuhan peserta didik terhadap perintah guru. C : Ketaatan peserta didik terhadap peraturan sekolah. D : Empati peserta didik terhadap lingkungan. E : Tanggung jawab peserta didik terhadap lingkungan. F : Kedisiplinan peserta didik. Sangat Baik : 81 Ae 100 % Baik : 61 Ae 80 % Cukup : 42 Ae 60 % Buruk : 21 Ae 40 % Sangat Buruk : 0 - 20 % Berdasarkan Tabel 3. diketahui bahwa kepatuhan peserta didik terhadap perintah guru, ketaatan terhadap peraturan sekolah, dan empati terhadap lingkungan masing-masing menunjukkan kriteria yang sangat buruk. Kepedulian siswa terhadap lingkungan sekolah dan tanggung jawab terhadap lingkungan hanya 44,2% dan 52,4% dengan kriteria cukup. Sedangkan tingkat kedisiplinan siswa sekitar 21,0% dengan kriteria buruk. Secara rata-rata perilaku siswa terhadap lingkungan sekolah berada pada persentase 24,2% dengan kategori buruk. Beberapa upaya yang dilakukan sekolah dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih. Upaya yang dilakukan sekolah dalam rangka mewujudkan dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah tersaji dalam Tabel Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1774 Dampak Pembelajaran Lingkungan dalam Kurikulum Merdeka terhadap Karakter Peduli Lingkungan Siswa SMP Ae Sulis Tiana Indah. John Bimasri. Etty Safriyani DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Tabel 4. Upaya Peserta Didik Pengelolaan Kebersihan Lingkungan di Sekolah. Persentase Kriteria No. Uraian Tidak Ya Tidak Ya Mematuhi Jadwal Piket 100,0 0,00 Sangat Buruk Membawa Alat Kebersihan 167 43 79,5 20,5 Buruk Rata-rata 10,0 Sangat Buruk Sumber: Hasil Olahan Data Tahun, 2025. Keterangan: Sangat Baik Baik Cukup Buruk Sangat Buruk : 81 Ae 100 % : 61 Ae 80 % : 42 Ae 60 % : 21 Ae 40 % : 0 - 20 % Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa semua siswa tidak mematuhi jadwal piket untuk membersihkan dan menjaga lingkungan di masing-masing kelas. Sebanyak 79,5% siswa tidak membawa alat kebersihan untuk menjaga kebersihan sekolah. Rata-rata persentase skor upaya siswa dalam membersihkan dan menjaga kebersihan sekolahnya hanya sebesar 10,0% dengan kriteria sangat buruk. Pembahasan Kepatuhan, ketaatan, dan empati peserta didik terhadap perintah guru, peraturan sekolah, dan lingkungan menunjukkan kriteria sangat buruk yang terlihat pada tabel 3. Hal ini dikarenakan kepatuhan, ketaatan, dan empati peserta didik masih terbilang kurang, sehingga tanpa bimbingan guru para peserta didik belum mampu menunjukkan kepatuhan dan empati yang diperlukan untuk menjaga dan merawat alam sekitar. Maka dari itu peran guru berpotensi besar terhadap peserta didik dalam menjaga lingkungan agar tetap bersih. Peserta didik akan taat kepada aturan yang ada disekolah atau langsung dari guru untuk menjaga lingkungan. Peran guru sebagai teladan ditunjukkan oleh tutur kata, sikap, dan kepribadiannya, seperti sopan santun, tanggung jawab, jujur, toleransi serta kepedulian terhadap sesama dan orang lain (Aini & Ramadhan, 2. Riset sebelumnya oleh (Setiyono, 2. bahwa ketaatan terhadap aturan ialah anak-anak sekolah yang memiliki sikap disiplin akan patuh terhadap aturan dan tata tertib yang ditetapkan di sekolah. Mereka mengikuti jadwal pelajaran, mematuhi peraturan tentang seragam sekolah, dan menghormati aturan main yang ditetapkan oleh guru dan staf sekolah. Empati ialah anak-anak yang memahami pentingnya karakter akan cenderung memiliki empati terhadap orang lain. Mereka akan belajar untuk memahami perasaan dan pengalaman orang lain, serta berusaha untuk memperlakukan orang lain dengan baik. Kedisiplinan peserta didik juga berada pada level buruk dan tergolong rendah, tercermin dari kebiasaan peserta didik yang kurang menjaga lingkungan sekolah seperti membuang sampah tidak pada tempatnya. Kriteria buruk menunjukkan kepedulian dan tanggung jawab peserta didik terhadap lingkungan sekolah hanya ketikan mendapat arahan dari guru, namun kurang menunjukkan perhatian atau kepedulian saat tanpa pengawasan (Efendi et al. , 2. Serupa halnya dengan perhatian dan tanggung jawab peserta didik terhadap Penelitian yang sama dilakukan oleh Setiyono, . bahwa disiplin adalah kualitas atau sikap yang mencakup kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri, mengikuti aturan atau tata tertib yang ditetapkan, dan melakukan tindakan atau perilaku yang sesuai dengan harapan atau norma yang ada. Ini melibatkan ketegasan terhadap diri sendiri dan konsistensi dalam menjalankan tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai atau tujuan yang diinginkan, bahkan dalam menghadapi godaan atau tantangan. Disiplin juga mencakup kesediaan untuk menerima tanggung jawab atas tindakan atau keputusan yang diambil serta bersedia menghadapi konsekuensi dari tindakan tersebut. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1775 Dampak Pembelajaran Lingkungan dalam Kurikulum Merdeka terhadap Karakter Peduli Lingkungan Siswa SMP Ae Sulis Tiana Indah. John Bimasri. Etty Safriyani DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Faktor lain yang mencerminkan kurangnya karakter peduli lingkungan siswa adalah terbatasnya jumlah mata pelajaran terkait. Kurikulum Merdeka pada tingkat SMP yang memfokuskan pada 11 mata pelajaran. Mata pelajaran yang memuat materi lingkungan terdapat 4 mata pelajaran, yaitu Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Kewarganegaraan. Ilmu Pengetahuan Alam, dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Hal ini dikarenakan dapat memberikan pembekalan kompetensi pengetahuan, sikap dan perilaku dalam menjaga dan melestarikan lingkungan (Putra et al. , 2024. Setiawan, 2. Sementara mata pelajaran yang tidak memuat materi lingkungan terdapat 7 mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia. Matematika. Bahasa Inggris. Pendidikan Jasmani Olahraga Kesehatan. Informatika. Bahasa Daerah, dan Prakarya. Berikut disajikan rangkuman mata pelajaran berisi materi lingkungan sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Mata pelajaran PAI di SMP, materi yang diajarkan di kelas VII semester ganjil membantu siswa cara bersuci sebelum solat, yang juga mengajarkan peserta didik dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Pada semester genap kelas VII, peserta didik belajar syarat-syarat mendirikan sholat jumat. Di kelas Vi semester ganjil, peserta didik dipandu untuk memahami pesan Al-Quran tentang menjaga alam . an menjadi pribadi yang jujur serta bertanggung jawab. Pada semester genap kelas Vi pembelajaran hadist menekankan mengkonsumsi makan dan minuman yang halal, berbuat baik serta hormat dan taat pada orang tua dan guru. Kelas IX semester ganjil mengajarkan sikap hormat dan taat pada orang tua serta guru, sementara di semester genap standar kompetensi untuk dikembangkan dalam pembelajaran juga dapat peserta didik dalam mengakhiri kebiasaan buruk dan memahami aturan penyembelihan hewan yang benar. Mata pelajaran PKn untuk SMP kelas VII Semester Ganjil standar kompetensi yang dikembangkan bertujuan mengembangkan kompetensi pengetahuan, sikap dan perilaku terhadap lingkungan hidup dan pelestarian lingkungan hidup. Kelas VII semester genap, memahami keberagaman suku, agama, ras, dan antar golongan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Untuk kelas Vi semester ganjil implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dengan menerapkan perilaku serta memelihara lingkungan hidup sesuai dengan Pancasila. Pada kelas Vi semester genap peserta didik diajarkan kebebasan mengeluarkan pendapat di lingkungan sekolah dan masyarakat secara bertanggung jawab. Kelas IX semester ganjil fokus memahami tentang keberagaman sosial masyarakat Indonesia. Sedangkan pada kelas IX semester genap peserta didik di ajarkan tentang dampak negatif globalisasi terhadap lingkungan. Di kelas VII semeter ganjil. pelajaran IPA peserta didik mempelajari tentang bagian-bagian tanpa makhluk hidup . dan makhluk hidup . , hubungan antar makhluk hidup dan rantai makanan. Pada semester genap, peserta didik memahami tentang pencemaran lingkungan dan dampaknya bagi ekosistem serta memahami tentang pencemaran tanah, air dan udara. Pada kelas Vi semester ganjil fokus pada erosi tanah dan menjaga kebersihan lingkungan. Pada semester genap, fokus pada pengaruh lingkungan terhadap makhluk hidup lainnya. Pada kelas IX semester ganjil, peserta didik belajar tentang menjaga kebersihan lingkungan. Sedangkan pada semester genap belajar tentang teknologi ramah lingkungan. Pada mata pelajaran IPS di SMP pada kelas VII semester ganjil peserta didik untuk memahami konsep ruang . lora dan faun. dan interaksi antarruang di Indonesia serta pengaruhnya terhadap kehidupan manusia Indonesia dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan serta keberagaman lingkungan (Hartono et al. Sedangkan pada kelas VII semester genap standar kompetensi yang diajarkan adalah untuk memahami aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan. Pada kelas Vi semester ganjil standar kompetensi untuk memahami pelestarian SDA. Sedangkan pada kelas Vi semester genap standar kompetensi untuk memahami peran kelembagaan dalam pengelolaan SDA. Pada kelas IX semester ganjil standar kompetensi untuk memahami perubahan sosial. Sedangkan pada kelas IX semester genap standar kompetensi yang diajarkan adalah untuk memahami tentang mengurangi perilaku masyarakat dan perubahan sosial-budaya di era global dan keragaman lingkungan alam dan masyarakat dunia (Arrohman. L, 2. Terbatasnya waktu tatap muka turut menggambarkan rendahnya karakter kepedulian lingkungan pada peserta didik. Hal ini disebabkan pada jenjang SMP, para peserta didik masih menitik beratkan perhatian pada Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1776 Dampak Pembelajaran Lingkungan dalam Kurikulum Merdeka terhadap Karakter Peduli Lingkungan Siswa SMP Ae Sulis Tiana Indah. John Bimasri. Etty Safriyani DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. penguasaan materi pokok guna mengembangkan ilmu pengetahuan mereka. Tujuan mata pelajaran dalam Kurikulum Merdeka adalah menyelaraskan proses pembelajaran dengan kemajuan ilmu pengetahuan, memenuhi kebutuhan belajar siswa di era modern, serta mempersiapkan mereka untuk jenjang pendidikan berikutnya (Giawa et al. , 2. Demikian pula dengan kepatuhan peserta didik dalam menjalankan arahan Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Hamzah et al. , . , bahwa pendidikan adalah upaya membina dan membimbing segala aspek kemanusiaan anak didik. Anak didik ingin mencapai manusia merdeka karena ingin memaknai eksistensinya sebagai manusia yang beradab . , tidak bergantung pada orang Pendidikan dan pengajaran merupakan sarana membina, menuntun pola berpikir anak didik baik akal budi teoritis maupun akal budi praktis mereka demi membentuk pribadi yang berpengetahuan dan beretika, sehingga lahirlah kurikulum merdeka yang menggagas profil pelajar Pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan Sarana dan prasarana kebersihan sekolah memegang peranan krusial dalam membentuk karakter peduli lingkungan peserta didik tergolong sangat buruk. Kondisi ini tercermin dari belum patuhnya seluruh siswa terhadap jadwal piket kelas yang telah ditetapkan. Ketidakpatuhan tersebut timbul lantaran ketersediaan sarana dan prasarana kebersihan yang belum optimal, sehingga menurunkan motivasi siswa dalam menjalankan tugas piket mereka (Ahbabuna et al. , 2025. Efendi et al. , 2. Hasil penelitian yang sama dilakukan Arodani et al. , . ditemukan bahwa meskipun sebagian besar siswa menunjukkan kepatuhan terhadap aturan sekolah, masih terdapat sejumlah siswa yang mengalami kesulitan dalam mengatur waktu dan menyelesaikan tugas secara konsisten. Faktor penyebab ketidakdisiplinan mencakup pengaruh teman sebaya, minimnya pembiasaan disiplin di rumah, serta rendahnya motivasi intrinsik Strategi keteladanan oleh guru dan sinergi peran orang tua menjadi solusi utama dalam pembentukan karakter disiplin siswa. Lemahnya karakter peduli lingkungan juga tercermin dengan kurangnya kepedulian dan tanggung jawab peserta didik terhadap lingkungan sekitar serta sarana prasarana sekolah yang mendukung kebersihan lingkungan yang masih kurang memadai atau belum tersedia. KESIMPULAN Dari hasil maka ditarik kesimpulan bahwa peserta didik di tingkat SMP dalam proses pembelajaran yang menerapkan Kurikulum Merdeka belum sepenuhnya memiliki karakter peduli lingkungan, hal ini disebabkan pada saat materi pembelajaran yang terdapat pada Kurikulum merdeka masih sangat minim mata pelajaran yang mengandung materi pembelajaran tentang lingkungan, serta alokasi waktu yang sangat terbatas dalam proses Kurikulum Merdeka belum sepenuhnya dapat membentuk karakter peduli lingkungan pada peserta didik, sehingga diperlukan program dari di Dinas Pendidikan atau instansi terkait seperti Program Adiwiyata Sekolah, untuk mendukung pengembangan kesadaran lingkungan secara lebih optimal. Meski begitu, wawancara tidak dapat dilakukan di semua sekolah untuk melengkapi data. Karena itu, peneliti selanjutnya diharapkan bisa melakukan studi di seluruh sekolah yang ada di Kabupaten Musi Rawas. perlukan kebijakan strategis dari kepala sekolah dalam penerapan Kurikulum Merdeka, agar materi pembelajaran yang menumbuhkan karakter peduli lingkungan dapat diimplementasikan secara optimal. DAFTAR PUSTAKA