Moderasi : Journal of Islamic Studies | Page : 725-746 Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | e-ISSN/p-ISSN : 2809-2872/2809-2880 Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan Ika Fiisyatil Kamila1. Juhairiyah2, dan Dina Kamilia3 Universitas Islam Negeri Madura. Indonesia. rikavi220@gmail. Universitas Islam Negeri Madura. Indonesia. juhairiyahadiba@gmail. Universitas Islam Negeri Madura. Indonesia. dk650949@gmail. Submit : 20/05/2025 | Review : 02/10/2025 s. d 21/10/2025 | Publish : 01/12/2025 Abstract Penelitian ini bertujuan menganalisis internalisasi nilai-nilai moderasi beragama melalui perayaan hari besar keagamaan di Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPA) MADATA. Pamekasan. Nilai moderasi yang ditelaah meliputi tawassuth . , tasamuh . , iAotidal . , dan musawah . Kegiatan keagamaan seperti Maulid Nabi. IsraAo MiAoraj. Nuzulul QurAoan. Idul Fitri, dan Idul Adha menjadi media utama pembentukan karakter moderat pada santri, guru, dan masyarakat sekitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus naturalistik. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pengelola, guru, santri, serta wali murid, disertai observasi non-partisipatif dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles. Huberman, dan Saldaya, melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan Keabsahan data diperkuat dengan teknik member checking, audit trail, dan deskripsi konteks penelitian secara rinci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tawassuth tercermin dalam keseimbangan antara aspek ritual dan sosial yang ditekankan guru dalam setiap kegiatan hari besar. Nilai tasamuh muncul melalui penghargaan terhadap perbedaan latar belakang santri serta keterlibatan masyarakat yang beragam. Nilai iAotidal tampak dalam pembagian peran yang proporsional dan kesempatan yang adil bagi seluruh santri untuk berpartisipasi dalam kegiatan. Sementara nilai musawah terlihat dari kesetaraan antara santri laki-laki dan perempuan, serta kolaborasi setara antara guru, orang tua, dan masyarakat dalam setiap kegiatan keagamaan. Keywords : moderasi beragama, hari besar keagamaan. TPA, pendidikan agama Islam, (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan Pendahuluan Indonesia dikenal sebagai negara dengan tingkat keragaman agama, etnis, dan budaya yang sangat tinggi. Berdasarkan data Kementerian Agama . , terdapat lebih dari 270 juta penduduk dengan enam agama resmi yang diakui negara (Kementerian Agama RI. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai laboratorium sosial bagi praktik kehidupan beragama yang damai dan harmonis. Namun, dinamika sosial-keagamaan di era digital menunjukkan bahwa moderasi beragama menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan beragama dan kohesi sosial nasional (Aini & Rohman, 2. Fenomena meningkatnya ujaran kebencian berbasis agama, polarisasi sosial, hingga klaim kebenaran tunggal yang kerap muncul di media sosial menegaskan pentingnya penguatan nilai-nila i moderasi beragama sejak dini (Suprapto, 2. Kementerian Agama Republik Indonesia . menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan salah satu program prioritas nasional yang diarahkan untuk memperkuat komitmen kebangsaan, menumbuhkan sikap toleransi, menolak kekerasan atas nama agama, serta mengakomodasi nilai-nilai kearifan lokal (Kemenag RI, 2. Dalam dokumen Buku Saku Moderasi Beragama dijelaskan bahwa moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang menempatkan esensi ajaran agama sebagai sumber kedamaian, bukan sumber konflik (Kemenag RI, 2. Pendekatan ini mengedepankan prinsip keseimbangan . , keadilan . Aotida. , dan toleransi . , yang kesemuanya berakar kuat pada ajaran Islam rahmatan lil Aoalamin (Kemenag RI, 2. Dalam konteks pendidikan, moderasi beragama memiliki relevansi yang sangat penting. Lembaga pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai wahana pembentukan karakter dan internalisasi nilai didik (Lestari, 2. Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah maupun lembaga nonformal Vol. 05 No. 2 Desember 2025 | 726 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan seperti Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPA) memiliki tanggung jawab moral untuk menanamkan nilai-nilai moderasi kepada peserta didik (Nurhasanah & Fadilah, 2. TPA sebagai lembaga pendidikan berbasis masyarakat memiliki karakter unik: fleksibel, partisipatif, serta dekat dengan realitas sosial budaya masyarakat (Hidayat, 2. Oleh karena itu. TPA dapat menjadi agen strategis dalam membumikan nilainilai moderasi beragama melalui pembiasaan, keteladanan, dan kegiatan keagamaan yang kontekstual (Fathurrahman & Rosyidah, 2. Salah satu momentum yang paling efektif dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama di TPA adalah perayaan hari besar Hari besar keagamaan seperti Maulid Nabi Muhammad SAW. IsraAo MiAoraj. Nuzulul QurAoan, dan Idul Fitri bukan hanya momen ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ruang sosial-keagamaan yang dapat mempertemukan berbagai elemen masyarakat (Azzahra, 2. Dalam momen tersebut, anak-anak, guru, dan orang tua dapat berinteraksi dalam suasana religius, sekaligus belajar menghargai keberagaman dan menumbuhkan semangat kebersamaan (Wahyudi, 2. Kegiatan seperti tadarus bersama, lomba keagamaan, pawai keislaman, bakti sosial, dan santunan anak yatim dapat menjadi media pembelajaran moderasi yang sangat efektif jika dirancang dengan pendekatan edukatif dan inklusif (Handayani & Hadi, 2. Sejumlah penelitian terdahulu menegaskan bahwa penguatan moderasi beragama melalui kegiatan keagamaan mampu meningkatkan sikap toleransi dan semangat kebangsaan peserta didik. Misalnya, penelitian Hadi . menunjukkan bahwa kegiatan berbasis kearifan lokal di Madura berhasil memperkuat nilai kebersamaan dan mengurangi sikap eksklusif dalam praktik beragama (Hadi, 2. Demikian pula, studi oleh Nurlaili dan Nasution . menemukan bahwa penguatan moderasi beragama di lembaga pendidikan Islam mampu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara keimanan dan kebangsaan (Nurlaili & Nasution, 2. Meskipun Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 727 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan demikian, sebagian besar penelitian tersebut berfokus pada lembaga pendidikan formal seperti sekolah dan madrasah, sedangkan praktik moderasi beragama di lembaga nonformal seperti TPA masih jarang dikaji secara empiris (Rahman, 2. Dalam konteks inilah penelitian di Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPA) MADATA menjadi relevan. TPA MADATA, yang berlokasi di . ebutkan lokas. , merupakan salah satu lembaga pendidikan Al-QurAoan yang aktif melaksanakan kegiatan sosial-keagamaan, termasuk perayaan hari besar Islam. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana pembelajaran agama, tetapi juga wahana pembentukan karakter peserta didik agar memiliki sikap moderat, toleran, dan cinta tanah air (Azizah & Mukhlis, 2. Namun, sejauh mana nilai-nilai moderasi beragama benar-benar terinternalisasi dalam kegiatan hari besar keagamaan di TPA MADATA masih perlu dikaji secara mendalam (Azizah & Mukhlis, 2. BAHAN DAN METODE Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus naturalistik. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berupaya memahami fenomena sosial secara mendalam, dalam konteks alamiah, dan melalui perspektif partisipan (Creswell, 2. Peneliti tidak bermaksud melakukan generalisasi, melainkan menggambarkan dan menafsirkan realitas nilai-nilai moderasi beragama yang terwujud dalam kegiatan hari besar keagamaan di Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPA) MADATA. Studi kasus naturalistik digunakan untuk menelusuri fenomena secara menyeluruh dan kontekstual dalam kehidupan nyata lembaga pendidikan keagamaan. Yin . menyatakan bahwa studi kasus merupakan strategi penelitian yang tepat ketika peneliti ingin menelusuri AubagaimanaAy suatu fenomena terjadi serta memahami dinamika sosial dan budaya yang menyertainya. Dalam hal ini, fokus penelitian diarahkan pada Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 728 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan diinternalisasikan, dan dihidupkan dalam setiap kegiatan hari besar keagamaan di TPA MADATA (Sugiyono, 2. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menangkap makna di balik praktik dan pengalaman sosial yang berlangsung, termasuk proses pembentukan sikap moderat peserta didik, peran guru dan pengelola TPA, serta dukungan masyarakat dalam menjaga tradisi keagamaan yang inklusif dan toleran (Afwadzi, 2020. Anggraeni, 2. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPA) MADATA, yang berlokasi di Jl. Brawijaya. Kabupaten Pamekasan. TPA ini dipilih secara purposive . karena aktif menyelenggarakan kegiatan hari besar keagamaan dengan partisipasi tinggi dari santri, guru, dan masyarakat sekitar (Dewi, 2. Selain itu. TPA MADATA dikenal sebagai lembaga pendidikan Al-QurAoan yang memiliki orientasi pembinaan karakter penguatan nilai-nilai sosial keagamaan berbasis kearifan lokal (Rahmatika, 2. Subjek penelitian meliputi: Pengelola TPA . epala dan koordinator kegiatan keagamaa. , yang memiliki peran strategis dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan hari besar keagamaan. Guru TPA, sebagai pendidik yang berinteraksi langsung dengan santri dan menjadi model keteladanan nilai moderasi. Santri TPA, sebagai peserta didik yang menjadi fokus utama dalam proses internalisasi nilai-nilai moderasi beragama. Orang tua dan tokoh masyarakat, yang terlibat dalam kegiatan hari besar keagamaan dan berkontribusi terhadap pembentukan ekosistem keagamaan yang moderat (Wardati et al. , 2. Sumber Data Penelitian ini menggunakan dua jenis sumber data, yaitu: Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 729 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan Data primer, diperoleh langsung dari hasil wawancara mendalam dengan pengelola, guru, santri, dan masyarakat yang terlibat dalam kegiatan hari besar keagamaan di TPA MADATA (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. Data sekunder, berupa literatur pendukung seperti jurnal, buku, laporan kegiatan, dan sumber lain yang relevan dengan konsep moderasi beragama dan pendidikan Al-QurAoan (Kemenag RI, 2022. Mulyana. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara mendalam . n-depth intervie. sebagai satu-satunya metode Pemilihan teknik ini didasarkan pada tujuan penelitian yang berfokus untuk memahami secara langsung pandangan, pengalaman, serta pemaknaan para informan terhadap nilai-nilai moderasi beragama yang terinternalisasi dalam kegiatan perayaan hari besar keagamaan di TPA MADATA. Wawancara dilakukan terhadap beberapa informan kunci, yaitu pengelola TPA, guru, santri, dan orang tua santri yang dianggap memiliki pengetahuan serta keterlibatan langsung dalam pelaksanaan kegiatan hari besar keagamaan. Jenis wawancara yang digunakan adalah semi-terstruktur, dengan panduan pertanyaan terbuka agar peneliti dapat mengeksplorasi jawaban informan secara mendalam dan fleksibel. Pendekatan ini memungkinkan munculnya data yang kaya, reflektif, dan kontekstual mengenai proses internalisasi nilai-nilai seperti tawassuth . , tasamuh . , iAotidal . , dan musawah . dalam kegiatan keagamaan di lingkungan TPA. Dalam pelaksanaannya, peneliti mencatat hasil wawancara secara sistematis dan melakukan klarifikasi . ember checkin. untuk memastikan keabsahan data yang diperoleh. Teknik ini sejalan dengan pandangan Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 730 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan Creswell . dan Moleong . yang menegaskan bahwa wawancara mendalam merupakan metode efektif dalam penelitian kualitatif untuk menggali makna dan pengalaman sosial partisipan secara langsung. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan secara interaktif sebagaimana model yang dikemukakan oleh Miles. Huberman, dan Saldaya . , yang meliputi tiga tahapan utama: Reduksi Data (Data Reductio. Data disederhanakan sesuai dengan tujuan penelitian. Peneliti menyeleksi informasi yang relevan dengan tema moderasi beragama seperti sikap toleransi, keseimbangan, dan penghargaan terhadap perbedaan. Penyajian Data (Data Displa. Data disajikan dalam bentuk narasi deskriptif atau matriks tematik untuk mempermudah interpretasi hubungan antar kategori nilai seperti tawassuth, tasamuh, iAotidal, dan musawah yang muncul dari hasil Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi (Conclusion Drawing/Verificatio. Kesimpulan diperoleh secara induktif dengan memaknai pola-pola dan hubungan yang muncul dari data wawancara. Peneliti kemudian memverifikasi temuan melalui member check untuk memastikan validitas dan konsistensi hasil. Keabsahan Data (Trustworthines. Untuk memastikan keabsahan data, penelitian ini menggunakan empat kriteria trustworthiness dari Lincoln dan Guba . , yaitu: Kredibilitas (Credibilit. Diperoleh melalui member checking dengan informan utama untuk memastikan kesesuaian makna antara peneliti dan responden. Transferabilitas (Transferabilit. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 731 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan Peneliti mendeskripsikan konteks penelitian secara rinci agar pembaca dapat menilai relevansi hasil penelitian dengan konteks lain (Sugiyono. Dependabilitas (Dependabilit. Diperkuat dengan penyusunan catatan proses penelitian . udit trai. yang memuat seluruh tahapan pengumpulan dan analisis data. Konfirmabilitas (Confirmabilit. Dijaga dengan memastikan objektivitas interpretasi dan mendasarkan kesimpulan pada bukti empiris dari hasil wawancara yang terverifikasi. Tahapan Penelitian Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap utama: Tahap Pra-Lapangan Meliputi studi literatur, perizinan penelitian, serta penyusunan instrumen wawancara. Tahap Lapangan Melaksanakan wawancara mendalam dengan informan kunci yang telah ditentukan secara purposive di TPA MADATA. Tahap Analisis dan Penulisan Melakukan reduksi data, penyusunan tema, interpretasi hasil, serta penyusunan laporan penelitian dalam bentuk artikel ilmiah (Creswell & Poth, 2. Pertimbangan Etika Penelitian Penelitian ini mematuhi prinsip etika penelitian sosial, meliputi: Persetujuan partisipan . nformed consen. Kerahasiaan identitas narasumber. Penggunaan data hanya untuk kepentingan ilmiah. Menghindari manipulasi atau penafsiran data yang menyesatkan (Israel & Hay, 2. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 732 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan HASIL Gambaran Umum Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPA) MADATA Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPA) MADATA merupakan lembaga pendidikan Islam nonformal yang berfokus pada pengajaran Al-QurAoan, pembinaan akhlak, dan penguatan nilai-nilai sosial keagamaan masyarakat. TPA ini berdiri pada tahun 2023 dan berlokasi di Jl. Brawijaya. Kabupaten Pamekasan. Madura, dengan jumlah santri lebih dari 30 anak yang berasal dari beragam latar belakang keluarga, sosial ekonomi, dan tingkat pendidikan orang tua. Keberagaman ini menjadikan TPA MADATA sebagai miniatur masyarakat multikultural, tempat nilai-nilai Islam moderat tumbuh melalui proses interaksi sosial-keagamaan yang alami dan inklusif. Kegiatan belajar mengajar di TPA MADATA tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis membaca dan menghafal Al-QurAoan . ahsin dan tahfid. , tetapi juga diarahkan untuk membentuk karakter religius yang berkeadaban melalui integrasi antara pengajaran Al-QurAoan, praktik sosial, dan penanaman nilai moderasi beragama. Nilai-nilai seperti toleransi . , keseimbangan . , keadilan (Aoitida. , dan kesetaraan . menjadi landasan utama dalam setiap aktivitas pembelajaran Pembelajaran pendekatan kontekstual, yang menghubungkan materi Al-QurAoan dengan realitas sosial anak, seperti sikap hormat kepada orang tua, gotong royong, dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Salah satu ciri khas yang membedakan TPA MADATA dengan lembaga sejenis adalah tradisi kuat dalam memperingati hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad SAW. IsraAo MiAoraj. Nuzulul QurAoan. Idul Fitri, dan Tahun Baru Islam. Setiap perayaan dirancang dengan konsep edukatif, sosial, dan spiritual, di mana unsur pembelajaran agama dipadukan dengan kegiatan partisipatif yang melibatkan seluruh elemen lembaga dan masyarakat (Sari & Nurhalimah, 2. Melalui kegiatan tersebut, santri tidak hanya menjadi peserta pasif, tetapi juga berperan Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 733 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan sebagai pelaku utama dalam menyebarkan pesan moral dan nilai-nilai keislaman yang damai. Kegiatan perayaan hari besar Islam di TPA MADATA disusun sedemikian rupa agar menjadi wadah pendidikan karakter keagamaan yang hidup dan membumi. Misalnya, dalam peringatan Maulid Nabi, para santri dilatih untuk menampilkan drama religi yang mengangkat kisah keteladanan Rasulullah, pembacaan shalawat bersama, hingga lomba dakwah anak yang mengasah kemampuan komunikasi religius. Dalam peringatan IsraAo MiAoraj, kegiatan dikemas dengan tadarus Al-QurAoan bersama dan tausiah ringan yang disampaikan oleh guru dan santri senior, dengan tema penguatan iman dan etika sosial. Sedangkan pada kegiatan Nuzulul QurAoan dan Idul Fitri, diadakan bakti sosial dan santunan anak yatim, yang mengajarkan nilai kepedulian . dan solidaritas . khuwah insaniya. Keterlibatan seluruh unsur TPA mulai dari pengelola, guru, santri, hingga wali murid dan masyarakat sekitar menciptakan atmosfer keagamaan yang partisipatif dan inklusif. Perayaan tersebut bukan hanya seremonial, melainkan juga sarana pembelajaran sosial . ocial learnin. yang memungkinkan peserta didik belajar menghargai perbedaan, menumbuhkan rasa kebersamaan, serta memperkuat identitas keislaman yang moderat. Dengan demikian, kegiatan hari besar di TPA MADATA berfungsi sebagai ruang sosial keagamaan . eligious public spher. tempat nilai-nilai moderasi beragama diinternalisasikan melalui praktik nyata. Dalam perspektif pendidikan Islam, praktik ini sejalan dengan teori pendidikan nilai . alue educatio. yang dikemukakan oleh Thomas Lickona , yang menegaskan bahwa pembentukan karakter tidak cukup hanya dengan pengajaran kognitif, tetapi perlu diinternalisasikan melalui TPA MADATA mengimplementasikan ketiga dimensi tersebut secara sinergis: guru memberikan teladan, kegiatan rutin menumbuhkan kebiasaan baik, dan Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 734 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan partisipasi dalam kegiatan hari besar memperkuat nilai kebersamaan lintas Lebih jauh lagi, pola pendidikan yang diterapkan TPA MADATA juga selaras dengan paradigma pendidikan Islam transformatif, yaitu pendidikan yang tidak berhenti pada aspek ritual, tetapi menumbuhkan kesadaran sosial dan spiritual santri agar mampu menjadi agen perdamaian dan keberagamaan yang moderat di masyarakat. Dalam konteks lokal Madura yang memiliki tradisi keislaman kuat. TPA MADATA berperan penting sebagai ruang reproduksi nilai-nilai Islam rahmatan lil Aoalamin Islam yang ramah, terbuka, dan menebarkan kasih sayang di tengah perbedaan. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa TPA MADATA tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pembelajaran Al-QurAoan, melainkan juga sebagai pusat pembinaan karakter moderat yang memadukan dimensi spiritual, sosial, dan kebangsaan. Nilai-nilai moderasi beragama tumbuh secara organik melalui setiap interaksi, kegiatan, dan perayaan melibatkan seluruh unsur komunitas pendidikan, sehingga menjadi budaya kelembagaan yang hidup dalam keseharian santri dan masyarakat Nilai Tawassuth (Keseimbangan dan Tengah-tenga. Nilai tawassuth di TPA MADATA tercermin dalam sikap dan praktik keagamaan santri maupun guru yang senantiasa berupaya menempatkan ajaran Islam secara proporsional dan menghindari pandangan ekstrem dalam beragama. Prinsip keseimbangan ini tampak dalam berbagai kegiatan keagamaan, khususnya dalam peringatan hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam kegiatan tersebut, pengelola dan pengajar TPA MADATA tidak hanya menonjolkan aspek ritual berupa pembacaan shalawat dan perayaan seremonial, tetapi juga mengarahkan kegiatan ke ranah pembentukan karakter dengan menekankan makna substantif cinta Rasul dalam kehidupan modern. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 735 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan Pada Maulid Nabi, misalnya, pesan-pesan disampaikan dalam ceramah dan kegiatan dakwah anak lebih menyoroti keteladanan akhlak Nabi dalam aspek sosial, seperti kejujuran, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama. Para guru menanamkan pemahaman bahwa mencintai Nabi bukan hanya diwujudkan dalam bentuk ucapan shalawat, tetapi juga dalam implementasi nilai-nilai moral dan perilaku sehari-hari. Melalui kegiatan tersebut, santri diajak memahami bahwa moderasi beragama berarti menempatkan cinta kepada Rasul secara seimbang tidak jatuh pada sikap fanatisme yang berlebihan, namun juga tidak mengabaikan dimensi spiritual dan emosional menjadi dasar kecintaan kepada Nabi. Pendekatan semacam ini menunjukkan adanya pembelajaran kontekstual dan reflektif, di mana nilai tawassuth diterjemahkan ke dalam tindakan nyata yang relevan dengan kehidupan anak-anak. Guru TPA berperan aktif sebagai pembimbing moral yang mendorong santri untuk menginternalisasi nilai keseimbangan antara ibadah ritual dan tanggung jawab sosial, antara ketaatan kepada ajaran agama dan kepedulian Dengan demikian, nilai moderasi tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga menjadi praktik yang dihidupi dalam kegiatan keagamaan di lingkungan TPA. Secara teoretis, praktik ini sejalan dengan pandangan Alwi Shihab . yang menegaskan bahwa tawassuth merupakan kemampuan untuk menempuh jalan tengah di antara dua ekstrem: satu sisi yang terlalu tekstual dan kaku, dan sisi lain yang liberal tanpa batas nilai. Implementasi nilai tawassuth di TPA MADATA menggambarkan bagaimana lembaga membangun tradisi keagamaan yang rasional, kontekstual, dan selaras dengan semangat Islam rahmatan lil Aoalamin. Nilai Tasamuh (Toleransi dan Menghargai Perbedaa. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 736 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan Nilai tasamuh di TPA MADATA tampak nyata dalam praktik kehidupan keagamaan dan interaksi sosial antara santri, guru, serta masyarakat sekitar. Sikap toleransi ini diwujudkan dalam bentuk penghargaan terhadap perbedaan latar belakang sosial, budaya, maupun kebiasaan beribadah di kalangan peserta didik dan wali santri. Pengelola dan guru TPA berupaya menanamkan pemahaman bahwa perbedaan adalah bagian dari kehendak Allah yang harus diterima dengan sikap terbuka dan penuh penghormatan. Nilai ini menjadi dasar penting dalam membangun karakter santri yang tidak hanya taat secara ritual, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan empati terhadap sesama. Dalam pelaksanaan kegiatan hari besar Islam, terutama pada peringatan IsraAo MiAoraj dan Nuzulul QurAoan, pengelola TPA secara sadar melibatkan berbagai pihak dari latar belakang yang beragam baik orang tua santri, masyarakat sekitar, maupun tokoh agama Pada momentum Nuzulul QurAoan, misalnya, selain diadakan tadarus bersama dan tausiyah tematik. TPA MADATA juga menyelenggarakan berbagai lomba keagamaan seperti lomba hafalan surat pendek . , lomba adzan, dan lomba tilawah anak-anak. Kegiatan ini tidak hanya dimaksudkan untuk mengasah kemampuan keagamaan santri, tetapi juga menjadi media pembelajaran sosial yang menumbuhkan semangat kebersamaan, sportivitas, dan saling menghargai di antara peserta dari berbagai latar belakang. Melalui lomba-lomba tersebut, para santri belajar untuk menerima hasil dengan lapang dada dan menghargai kemampuan teman-teman Guru-guru menekankan bahwa kemenangan sejati bukan terletak pada hadiah, tetapi pada usaha, kejujuran, dan kerja keras dalam mengikuti kegiatan. Nilai-nilai ini diinternalisasikan sebagai bagian dari tasamuh yakni kemampuan menerima perbedaan kemampuan dan prestasi dengan hati yang terbuka. Dengan demikian, kegiatan lomba dalam perayaan Nuzulul QurAoan menjadi sarana efektif dalam menanamkan nilai toleransi secara kontekstual dan menyenangkan bagi anak-anak. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 737 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan Bentuk konkret penerapan nilai tasamuh juga tampak dalam proses pembelajaran di kelas. Ketika muncul perbedaan pendapat antar santri misalnya mengenai tata cara berdoa atau kebiasaan keluarga dalam menyambut hari besar Islam guru tidak langsung menilai benar atau salah, tetapi mengarahkan mereka untuk memahami dasar dan konteks dari perbedaan tersebut. Pendekatan ini mendorong santri untuk berpikir kritis namun tetap beradab, serta mengembangkan sikap terbuka terhadap keragaman pemahaman agama. Dengan cara ini, toleransi tidak hanya diajarkan sebagai konsep, tetapi dilatihkan sebagai perilaku sosial yang hidup dalam keseharian santri. Dari hasil wawancara dengan pengelola dan guru, diketahui bahwa semangat toleransi di TPA MADATA tumbuh dari kesadaran kolektif bahwa keberagaman adalah keniscayaan yang harus dirawat melalui dialog, kolaborasi, dan penghargaan terhadap perbedaan. Para guru berpendapat bahwa sikap saling menghormati dan kebersamaan dalam perbedaan perlu ditanamkan sejak dini agar anak-anak tumbuh menjadi generasi yang damai, inklusif, dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu keagamaan yang memecah belah. Karena itu, setiap kegiatan di TPA MADATA termasuk lomba-lomba pada Nuzulul QurAoan dirancang untuk menumbuhkan semangat ukhuwah Islamiyah dan solidaritas sosial di antara peserta didik. Secara konseptual, penerapan nilai tasamuh di TPA MADATA sejalan dengan teori pluralisme agama John Hick . yang menegaskan bahwa toleransi bukan berarti relativisme, melainkan pengakuan terhadap keberagaman jalan menuju kebenaran yang sama. TPA MADATA menafsirkan konsep ini dalam konteks Islam moderat, di mana perbedaan praktik keagamaan dipahami sebagai bagian dari rahmat dan kebijaksanaan Ilahi. Dengan demikian, pendidikan di TPA MADATA berfungsi sebagai ruang dialog dan pembelajaran sosial keagamaan yang sehat, tempat santri belajar menghargai perbedaan dalam bingkai kasih sayang, persaudaraan, dan kebersamaan. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 738 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan Implementasi nilai tasamuh ini menjadikan TPA MADATA bukan sekadar tempat belajar Al-QurAoan, tetapi juga laboratorium sosial bagi pendidikan toleransi berbasis nilai nilai Islam wasathiyah. Melalui kegiatankegiatan keagamaan dan perlombaan yang bernuansa edukatif, lembaga ini berhasil menumbuhkan budaya keagamaan yang damai, terbuka, dan inklusif karakter utama yang sangat dibutuhkan dalam memperkuat moderasi beragama di masyarakat Madura yang plural dan dinamis. Nilai IAotidal (Keadilan dan Keteraturan Sosia. Nilai iAotidal di TPA MADATA tercermin melalui pola kepemimpinan, manajemen kegiatan, serta interaksi sosial yang menjunjung tinggi asas keadilan, keteraturan, dan keseimbangan antara berbagai unsur lembaga baik antara santri, guru, pengelola, maupun masyarakat sekitar. Prinsip keadilan ini tampak jelas dalam penyelenggaraan berbagai keagamaan, terutama saat peringatan Nuzulul QurAoan, di mana setiap santri diberi kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam acara tanpa adanya perbedaan perlakuan berdasarkan usia, kemampuan, atau status sosial keluarga. Dalam kegiatan tersebut, guru dan panitia memastikan pembagian peran dilakukan secara proporsional dan transparan. Ada santri yang bertugas sebagai pembaca ayat suci, ada yang menampilkan puisi religi, sementara yang lain berperan dalam teater dakwah atau menata acara. Guru mengatur peran bukan berdasarkan kedekatan personal, melainkan atas pertimbangan kemampuan dan kesediaan santri, sehingga setiap anak merasa memiliki kontribusi yang setara terhadap keberhasilan acara. Pola manajemen seperti ini menunjukkan bahwa nilai iAotidal tidak hanya diajarkan secara verbal, tetapi dihidupkan melalui praktik organisasi dan kegiatan sosial. Berdasarkan hasil wawancara, guru-guru TPA menggambarkan bahwa dalam setiap kegiatan, mereka berusaha menanamkan prinsip bahwa keadilan bukan hanya berarti Ausama rata,Ay tetapi memberi porsi Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 739 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan sesuai kapasitas dan tanggung jawab masing-masing. Guru menekankan kepada santri bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang memiliki fungsi dan peran berbeda yang harus dijalankan secara seimbang. Dengan cara ini, nilai iAotidal menjadi bagian dari pendidikan sosial praktis yang melatih anak-anak untuk menghargai perbedaan kemampuan, berbagi tanggung jawab, dan menghormati keputusan bersama. Selain itu, nilai keadilan juga tampak dalam pesan-pesan dakwah yang disampaikan selama kegiatan hari besar keagamaan. Ceramah dan tausiah yang dibawakan oleh para pengajar selalu menekankan pentingnya menegakkan keadilan dalam berbagai aspek kehidupan baik Pesan tersebut diperkuat dengan keteladanan sikap para guru yang bersikap objektif terhadap semua santri, tidak membeda- bedakan dalam bimbingan maupun penilaian. Secara teoretis, praktik nilai iAotidal di TPA MADATA sejalan dengan konsep keadilan sosial Al-Farabi . alam Majid, 2. , yang menyatakan bahwa keadilan hanya akan terwujud apabila setiap anggota masyarakat menjalankan peran dan tanggung jawabnya sesuai kapasitas yang dimiliki, serta saling menghormati perbedaan fungsi dan kedudukan. Implementasi prinsip ini dalam lingkungan pendidikan nonformal seperti TPA MADATA menjadi laboratorium sosial mini yang membiasakan santri hidup dalam suasana adil, tertib, dan berimbang. Dengan demikian, penerapan nilai iAotidal di TPA MADATA bukan sekadar teori moral, melainkan pembelajaran sosial yang membentuk kesadaran struktural dan etis santri. Melalui praktik keadilan yang konkret dalam pembagian peran, tanggung jawab, dan kesempatan, lembaga ini telah mengajarkan bentuk moderasi beragama yang memadukan dimensi spiritual, sosial, dan etika dalam satu kesatuan pendidikan karakter yang Nilai Musawah (Kesetaraan dan Kebersamaa. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 740 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan Nilai musawah di TPA MADATA tampak kuat dalam pola interaksi sosial antara guru, santri, dan orang tua, yang menunjukkan prinsip kesetaraan dalam hubungan keagamaan dan sosial. Dalam berbagai kegiatan keagamaan, terutama pada momen Idul Fitri dan Idul Adha, seluruh warga TPA MADATA terlibat aktif dalam proses persiapan dan pelaksanaan acara tanpa membeda-bedakan usia, jenis kelamin, maupun latar belakang Santri laki-laki dan perempuan mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam kegiatan seperti lomba keagamaan, pementasan seni Islami, hingga kegiatan sosial seperti pembagian zakat dan sedekah. Guru dan pengelola TPA berupaya memastikan bahwa setiap anak memiliki ruang untuk mengekspresikan kemampuan dan perannya secara Dalam wawancara, para pengajar menuturkan bahwa prinsip kesetaraan selalu dijaga dalam setiap kegiatan, di mana setiap santri diperlakukan sebagai bagian dari satu keluarga besar tanpa perbedaan perlakuan berdasarkan status ekonomi atau kemampuan akademik. Guru menekankan bahwa semua santri memiliki potensi yang sama di hadapan Allah, dan tugas pendidikan adalah membantu mereka mengembangkan potensi tersebut sesuai dengan karakter masing-masing. Pola hubungan sosial semacam ini menciptakan suasana ukhuwah . ersaudaraan kemanusiaa. yang menjadi ciri khas Islam Nilai musawah tidak hanya dipahami sebagai kesetaraan formal, tetapi juga diimplementasikan sebagai pengakuan terhadap keberagaman dan penghargaan atas kontribusi setiap individu. Dalam berbagai kegiatan hari besar keagamaan, santri, guru, dan wali murid bekerja sama tanpa hierarki yang kaku. Guru dan pengelola lembaga tidak menempatkan diri sebagai otoritas yang dominan, melainkan sebagai fasilitator yang membimbing dan memberi ruang partisipasi yang adil bagi semua pihak. Selain itu, nilai musawah juga dihidupkan dalam praktik sosial kemasyarakatan TPA MADATA. Misalnya, dalam kegiatan bakti sosial menjelang Idul Adha, seluruh santri dilibatkan dalam pembagian daging Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 741 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan kurban kepada masyarakat sekitar tanpa memandang latar belakang Proses ini menjadi pengalaman langsung bagi santri untuk memahami makna kesetaraan dan solidaritas sosial sebagai bagian dari ajaran Islam yang humanis. Secara teoretis, penerapan nilai musawah di TPA MADATA sejalan dengan pandangan Abdurrahman Wahid . yang menekankan bahwa kesetaraan manusia di hadapan Allah adalah dasar bagi lahirnya nilai-nilai demokrasi, penghormatan terhadap kemanusiaan, dan toleransi sosial dalam Islam. Dengan menerapkan prinsip tersebut dalam TPA MADATA pembelajaran sosial yang menanamkan kesadaran akan persamaan hak, tanggung jawab, dan martabat antarindividu. Dengan demikian, kegiatan hari besar keagamaan di TPA MADATA tidak hanya menjadi ritual spiritual, tetapi juga arena pendidikan sosial dan moral yang menumbuhkan kesadaran akan kesetaraan dan kebersamaan Nilai musawah di sini bukan hanya slogan, tetapi menjadi kebiasaan sosial yang hidup dalam interaksi keseharian antara pendidik, peserta didik, dan masyarakat. Melalui praktik ini. TPA MADATA berhasil membentuk budaya lembaga yang berpijak pada prinsip Islam yang inklusif, egaliter, dan menghormati keberagaman. Strategi Internalisasi Nilai Moderasi Beragama di TPA MADATA Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai moderasi beragama dilakukan melalui tiga strategi utama: Keteladanan (Modelin. Guru menjadi figur utama dalam menanamkan nilai moderasi. Sikap terbuka, santun, dan inklusif guru menjadi contoh konkret bagi santri dalam kehidupan sehari-hari. Pembiasaan (Habituatio. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 742 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan Pembiasaan nilai dilakukan melalui kegiatan rutin seperti doa bersama lintas kelas, berbagi takjil, gotong royong, serta lomba keagamaan yang menanamkan semangat kebersamaan. Partisipasi Sosial (Community Engagemen. Pelibatan orang tua dan masyarakat dalam setiap kegiatan hari besar membuat nilai moderasi tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menembus ranah sosial kemasyarakatan. Pendekatan ini sejalan dengan teori pendidikan nilai Lickona . , menyatakan bahwa penanaman nilai efektif dilakukan melalui integrasi antara keteladanan, pembiasaan, dan pelibatan sosial. 4 Faktor Pendukung dan Penghambat Faktor pendukung meliputi: Dukungan penuh dari pengelola TPA dan masyarakat setempat. Antusiasme tinggi santri dalam mengikuti kegiatan hari besar. Adanya sinergi dengan tokoh agama yang berpandangan moderat. Faktor penghambat meliputi: Keterbatasan sarana dan dana kegiatan keagamaan. Masih adanya sebagian kecil masyarakat yang berpandangan eksklusif terhadap tradisi keagamaan tertentu. Kurangnya literasi moderasi beragama di kalangan orang tua santri. Namun, hambatan tersebut diatasi melalui pendekatan dialogis dan edukatif, serta penguatan peran guru sebagai agen moderasi di lingkungan TPA. 5 Analisis Teoretis dan Implikasi Temuan penelitian ini menegaskan bahwa nilai-nilai moderasi beragama dapat diinternalisasikan secara efektif melalui kegiatan hari besar keagamaan berbasis komunitas. Pendekatan TPA MADATA menunjukkan sinergi antara pendidikan nilai Islam klasik dan pendekatan sosial modern. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 743 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan Dari perspektif teori sosial Durkheim . , kegiatan keagamaan berfungsi memperkuat solidaritas sosial. Sementara itu, dalam konteks Islam, hal ini sejalan dengan konsep rahmatan lil Aoalamin yang menempatkan agama sebagai sumber kasih sayang dan harmoni. Dengan demikian, kegiatan hari besar keagamaan di TPA MADATA bukan hanya ritual, tetapi juga instrumen pendidikan karakter yang mengintegrasikan spiritualitas, sosialitas, dan nasionalisme dalam kerangka moderasi beragama. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan melalui observasi non-partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai moderasi beragama di Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPA) MADATA tercermin secara nyata dalam pelaksanaan kegiatan hari besar keagamaan. Kegiatan tersebut hanya menjadi sarana peringatan ritual keagamaan, tetapi juga berfungsi sebagai media pendidikan karakter keagamaan yang menanamkan nilai-nilai tawassuth . , tasamuh . , iAotidal . , dan musawah . kepada seluruh santri dan tenaga pendidik. Penerapan nilai-nilai moderasi beragama di TPA MADATA ini berjalan secara organik dan kontekstual, bukan sekadar formalitas, melainkan menjadi budaya kelembagaan yang hidup dalam keseharian Guru dan pengelola lembaga memiliki peran sentral sebagai teladan . swah hasana. dan fasilitator dalam menanamkan nilai-nilai tersebut melalui kegiatan religius yang edukatif dan partisipatif. Dari sisi teoretis, hasil penelitian ini memperkuat konsep bahwa pendidikan nonformal berbasis Al-QurAoan memiliki potensi besar dalam membentuk sikap keberagamaan yang moderat sejak usia dini, sesuai dengan teori pendidikan nilai dan pendekatan transformatif pendidikan Islam. Secara praktis, penelitian ini memberikan gambaran pembinaan moderasi beragama dapat diintegrasikan ke dalam Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 744 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan kegiatan keagamaan rutin lembaga pendidikan Islam tanpa harus mengubah tradisi lokal yang sudah ada. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa TPA MADATA berhasil menjadi miniatur lembaga pendidikan QurAoani yang mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama secara nyata, baik dalam kegiatan ritual, sosial, maupun pembelajaran. Temuan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan sejenis untuk mengembangkan penguatan moderasi beragama yang lebih sistematis, kontekstual, dan Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 745 (Ika Fiisyatil Kamila. Juhairiyah, dan Dina Kamili. Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pelaksanaan Hari Besar Keagamaan: Studi pada Taman Pendidikan al-QurAoan Referensi