DE_JOURNAL (Dharmas Education Journa. http://ejournal. id/index. php/de_journal E-ISSN : 2722-7839. P-ISSN : 2746-7732 Vol. 6 No. , 108-115 Pengaruh Pemahaman Moderasi Beragama Terhadap Karakter Toleransi Siswa Buddha Di SMA Negeri 1 Ampel Metta SetyawatiA. Partono NyanasuryanadiA. SukisnoA e-mail: Asetyametta012@email. A Psnadi@gmail. A sukisno. sukis@smaratungga. STIAB Smaratungga. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia Abstrak Keberagaman agama di Indonesia menuntut penguatan karakter toleransi untuk menjaga harmoni sosial, terutama di kalangan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemahaman moderasi beragama terhadap karakter toleransi siswa beragama Buddha di SMA Negeri 1 Ampel. Boyolali. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, data dikumpulkan dari 18 siswa Buddha melalui kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis regresi linier sederhana menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,766, yang mengindikasikan hubungan kuat antara moderasi beragama dan karakter toleransi, dengan kontribusi sebesar 58,6%. Temuan ini menegaskan bahwa pemahaman moderasi beragama yang lebih tinggi berkorelasi dengan peningkatan karakter toleransi. Penelitian ini mematuhi prinsip etika, termasuk informed consent dari responden. Hasil penelitian menawarkan dasar untuk mengembangkan strategi pendidikan karakter berbasis moderasi beragama, khususnya dalam pendidikan agama Buddha, guna mempromosikan sikap inklusif di lingkungan sekolah. Kata Kunci : Moderasi Beragama. Karakter Toleransi. Siswa Buddha. Pendidikan Karakter Abstract Religious diversity in Indonesia necessitates strengthening tolerance to maintain social harmony, particularly among students. This study aims to analyze the influence of understanding religious moderation on the tolerance character of Buddhist students at SMA Negeri 1 Ampel. Boyolali. Employing a descriptive quantitative approach, data were collected from 18 Buddhist students using a validated and reliable structured questionnaire. Simple linear regression analysis revealed a correlation coefficient of 0. 766, indicating a strong relationship between religious moderation and tolerance character, with a contribution of 58. These findings confirm that a higher understanding of religious moderation correlates with enhanced tolerance. The study adhered to ethical principles, including obtaining informed consent from respondents. The results provide a foundation for developing character education strategies based on religious moderation, particularly in Buddhist religious education, to foster inclusive attitudes in school settings. Keywords: Religious Moderation. Tolerance Character. Buddhist Students. Character Education Info Artikel : Diterima Mei 2025 | Disetujui Juni 2025 | Dipublikasikan Juni 2025 Metta Setyawati. Dkk | Pengaruh Pemahaman Moderasi Beragama Terhadap Karakter Toleransi Siswa Buddha Di SMA Negeri 1 Ampel Pendahuluan Indonesia dikenal sebagai negara dengan keberagaman agama, budaya, dan etnis yang tinggi, menjadikannya salah satu masyarakat multikultural terbesar di dunia. Namun, keberagaman ini sering kali memicu tantangan, seperti konflik berbasis agama yang dapat mengganggu harmoni sosial. Laporan Kementerian Agama Republik Indonesia . mencatat bahwa 27% kasus intoleransi di kalangan remaja terkait dengan sikap diskriminatif terhadap kelompok agama minoritas, termasuk Buddha. Fenomena ini menggarisbawahi urgensi penguatan karakter toleransi, terutama pada generasi muda sebagai penerus bangsa (Wahid & Sari, 2. Sekolah, sebagai institusi pendidikan formal, memiliki peran strategis dalam membentuk sikap toleran melalui pendidikan karakter yang berbasis nilai-nilai inklusif. Toleransi, yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghormati dan menerima perbedaan, menjadi kunci dalam menciptakan masyarakat yang harmonis di tengah pluralitas. Survei Komnas HAM . mengungkapkan bahwa 34% siswa SMA di Indonesia menunjukkan sikap intoleran, terutama terhadap agama minoritas seperti Buddha, yang hanya dianut oleh sekitar 0,7% penduduk Indonesia (BPS, 2. Sikap intoleran ini sering kali berakar dari kurangnya pemahaman tentang nilai-nilai keberagaman dan minimnya pendidikan yang menekankan moderasi beragama (Albana & Pratama, 2. Oleh karena itu, pendekatan berbasis moderasi beragama, yang menekankan keseimbangan dalam beragama, menjadi relevan untuk mengatasi masalah ini. Moderasi beragama, menurut Saifudin . , adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang seimbang untuk menghindari ekstremisme dan radikalisme. Dalam konteks agama Buddha, moderasi beragama tercermin dalam konsep Majjhima Patipada atau Jalan Tengah, yang mengajarkan keseimbangan dalam berpikir dan bertindak serta penghormatan terhadap keberagaman (Suryadharma, 2. Konsep ini mendorong praktik seperti metta . inta kasi. dan upekkha . eseimbangan bati. , yang dapat menjadi dasar pembentukan karakter toleransi. Namun, penerapan moderasi beragama dalam pendidikan agama Buddha di sekolah masih terbatas, terutama dibandingkan dengan agama mayoritas seperti Islam dan Kristen. Penelitian sebelumnya telah banyak membahas moderasi beragama dalam konteks agama Misalnya. Umar et al. mengeksplorasi bagaimana moderasi beragama dapat mencegah radikalisme dalam pendidikan Islam, sementara Wahid dan Sari . mengkaji toleransi dalam komunitas Kristen. Namun, kajian tentang moderasi beragama dalam konteks agama Buddha, khususnya terkait pembentukan karakter toleransi siswa, masih sangat minim. Kesenjangan ini menjadi dasar penelitian ini, yang berfokus pada siswa beragama Buddha di SMA Negeri 1 Ampel. Boyolali, sebuah sekolah dengan populasi siswa yang beragam secara agama. Secara teoretis, moderasi beragama memiliki keterkaitan erat dengan karakter toleransi. Menurut Theory of Planned Behavior (Fishbein & Ajzen, 2. , sikap individu terhadap suatu perilaku, seperti toleransi, dipengaruhi oleh pemahaman dan keyakinan mereka terhadap nilai-nilai Dalam hal ini, pemahaman moderasi beragama dapat membentuk sikap toleran melalui internalisasi nilai-nilai seperti komitmen nasional, anti kekerasan, dan penerimaan kearifan lokal (Saifudin, 2. Selain itu, teori pendidikan multikultural oleh Banks . menegaskan bahwa pendidikan yang menghargai keberagaman dapat memperkuat karakter toleransi dengan mengajarkan siswa untuk menghormati perbedaan budaya dan agama. Kurikulum Merdeka, yang diterapkan sejak 2022, telah mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama melalui tema Bhinneka Tunggal Ika dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi, 2. Namun, implementasi kurikulum ini untuk siswa beragama Buddha masih menghadapi tantangan, seperti kurangnya materi pembelajaran yang kontekstual dan guru yang terlatih dalam pendekatan multikultural (Albana & Pratama, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan menganalisis sejauh mana pemahaman moderasi beragama memengaruhi karakter toleransi siswa beragama Buddha di SMA Negeri 1 Ampel. Untuk memperjelas hubungan antar konsep, kerangka konseptual penelitian ini divisualisasikan dalam tabel berikut: Tabel 1. Kerangka Berpikir Penelitian Variabel Independen Pemahaman Moderasi Beragama (Komitmen nasional, toleransi, anti kekerasan, penerimaan kearifan loka. Proses Pendidikan karakter berbasis moderasi Variabel Dependen Karakter Toleransi (Kemampuan menerima perbedaan, sikap menghargai, pengendalian emosi, penghormatan terhadap keberagama. Penelitian ini memiliki relevansi teoritis dan praktis. Secara teoritis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model pendidikan berbasis moderasi beragama yang inklusif, khususnya untuk agama minoritas seperti Buddha. Secara praktis, hasil penelitian dapat digunakan untuk merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. , dengan menekankan diskusi dan refleksi kritis tentang keberagaman (Kumala et al. , 2. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat mendukung pembentukan generasi muda yang toleran dan harmonis di tengah keberagaman Indonesia. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif untuk menganalisis pengaruh pemahaman moderasi beragama terhadap karakter toleransi siswa beragama Buddha di SMA Negeri 1 Ampel. Boyolali. Desain ini dipilih untuk mengukur hubungan antarvariabel secara sistematis melalui data numerik tanpa manipulasi eksperimental. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober hingga November 2023 di SMA Negeri 1 Ampel, yang memiliki populasi siswa beragam secara agama, termasuk Buddha sebagai kelompok minoritas. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa beragama Buddha di SMA Negeri 1 Ampel, yang berjumlah 18 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh, di mana semua anggota populasi dijadikan sampel karena jumlahnya relatif kecil. Kriteria inklusi untuk responden adalah: . siswa yang terdaftar sebagai penganut agama Buddha di sekolah, . berusia 15Ae18 tahun, dan . bersedia berpartisipasi dengan memberikan informed consent. Kriteria eksklusi meliputi siswa yang tidak hadir selama pengumpulan data atau tidak melengkapi kuesioner. Sebanyak 18 siswa memenuhi kriteria dan menjadi responden penelitian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang dirancang untuk mengukur dua variabel: pemahaman moderasi beragama . ariabel independe. dan karakter toleransi . ariabel depende. Kuesioner moderasi beragama terdiri dari 20 item yang mencakup empat subvariabel: komitmen nasional, toleransi, anti kekerasan, dan penerimaan kearifan lokal. Kuesioner karakter toleransi terdiri dari 16 item yang mengukur kemampuan menerima perbedaan, sikap menghargai, pengendalian emosi, dan penghormatan terhadap keberagaman. Setiap item menggunakan skala Likert 1Ae5 . = sangat tidak setuju, 5 = sangat setuj. Validitas dan reliabilitas kuesioner diuji sebelum pengumpulan data. Validitas isi divalidasi oleh dua ahli, yaitu dosen Pendidikan Agama Buddha dari STIAB Smaratungga dan psikolog pendidikan dari Universitas Sebelas Maret, menggunakan teknik content validity index (CVI). Hasil CVI menunjukkan skor 0,92 untuk kuesioner moderasi beragama dan 0,89 untuk kuesioner toleransi, yang menunjukkan validitas isi yang baik (>0,. Validitas konstruk diuji dengan analisis faktor konfirmatori (CFA), menghasilkan nilai factor loading >0,50 untuk setiap item. Reliabilitas diuji dengan CronbachAos Alpha, dengan hasil 0,87 untuk kuesioner moderasi beragama dan 0,84 untuk kuesioner toleransi, yang menunjukkan reliabilitas tinggi (>0,. Metta Setyawati. Dkk | Pengaruh Pemahaman Moderasi Beragama Terhadap Karakter Toleransi Siswa Buddha Di SMA Negeri 1 Ampel Pengumpulan data dilakukan secara langsung oleh peneliti dengan protokol etika yang ketat. Setiap responden menerima penjelasan tentang tujuan penelitian dan memberikan informed consent sebelum mengisi kuesioner. Proses pengisian kuesioner dilakukan di ruang kelas setelah jam pelajaran untuk meminimalkan gangguan. Data dikumpulkan dalam satu sesi untuk memastikan konsistensi kondisi Analisis data menggunakan statistik inferensial dan deskriptif. Statistik deskriptif digunakan untuk menyajikan rata-rata, persentase, dan distribusi skor moderasi beragama dan karakter toleransi. Statistik inferensial, khususnya regresi linier sederhana, digunakan untuk menguji pengaruh pemahaman moderasi beragama terhadap karakter toleransi. Sebelum analisis regresi, data diuji normalitasnya dengan uji ShapiroWilk . arena sampel <. dan homogenitasnya dengan uji ANOVA. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 21, dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel dan narasi untuk memudahkan interpretasi. Penelitian ini mematuhi prinsip etika penelitian, termasuk menjaga kerahasiaan data responden dan memastikan partisipasi sukarela. Informed consent diperoleh dari siswa dan persetujuan dari orang tua/wali untuk siswa di bawah 17 tahun. Tidak ada insentif finansial yang diberikan kepada responden untuk menghindari bias. Penelitian ini juga telah mendapatkan persetujuan etik dari STIAB Smaratungga sebelum Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Data penelitian dikumpulkan dari 18 siswa beragama Buddha di SMA Negeri 1 Ampel. Boyolali, pada OktoberAeNovember 2024, menggunakan kuesioner terstruktur untuk mengukur pemahaman moderasi beragama . ariabel independe. dan karakter toleransi . ariabel depende. Analisis dilakukan dengan statistik deskriptif dan inferensial menggunakan SPSS versi 21. Berikut adalah temuan utama yang disusun berdasarkan analisis variabel, uji prasyarat, dan hubungan Analisis Deskriptif Tabel 2. Rekapitulasi Variabel Moderasi Beragama Sub Variabel Rata-rata Presentase Kategori Komitmen Nasional Toleransi Anti Kekerasan Penerimaan Terhadap Kearifan Lokal Rata-rata Sangat Tinggi Sangat Tinggi Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sumber: Diolah oleh peneliti Tabel 2 menunjukkan bahwa pemahaman moderasi beragama memiliki rata-rata skor total 43,6 . %) dengan standar deviasi 4,1, tergolong sangat tinggi. Subvariabel komitmen nasional mencatat skor tertinggi . ,8. 90%), menunjukkan pemahaman kuat siswa terhadap nilai-nilai Toleransi . ,3. 88%) dan penerimaan kearifan lokal . ,2. 86%) juga sangat tinggi, sedangkan anti kekerasan . ,0. 83%) berada pada kategori tinggi dengan variasi skor yang sedikit lebih besar (SD = 4,. Tabel 3. Hasil Rekapitulasi Variabel Motivasi Belajar Indikator Kemampuan Menerima Perbedaan Rata-rata Presentase Kategori Tinggi Sikap Menghargai Pengendalian emosi Penghormatan Terhadap Keberagaman Rata-rata Sumber: Diolah oleh peneliti Tinggi Tinggi Tinggi 39,07 Tinggi Tabel 3 mengindikasikan bahwa karakter toleransi memiliki rata-rata skor total 39,1 . %) dengan standar deviasi 4,9, tergolong tinggi. Subvariabel penghormatan terhadap keberagaman memiliki skor tertinggi . ,7. 80%), mencerminkan sikap positif siswa terhadap pluralitas. Sikap menghargai . ,8. 78%) mengikuti, sedangkan kemampuan menerima perbedaan dan pengendalian emosi sama-sama mencapai 76% dengan variasi skor yang lebih besar (SD = 5,1 dan 5,. , menunjukkan adanya perbedaan individu dalam aspek ini. Uji Prasyarat Analisis Sebelum analisis inferensial, data diuji untuk memastikan memenuhi asumsi statistik. Uji normalitas dengan Shapiro-Wilk . < . menghasilkan nilai signifikansi 0,613 untuk moderasi beragama dan 0,077 untuk karakter toleransi . > 0,. , menunjukkan distribusi data normal. Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Tests of Normality Kolmogorov-SmirnovA Shapiro-Wilk Statistic Sig Statistic Sig Pemahaman Moderasi Karakter Toleransi Sumber: Output SPSS 21 Selanjutnya untuk memastikan keseragaman data yang diperoleh dari penyebaran kuesioner peneliti melakukan uji homogenitas. Data dapat dipastikan seragam jika memiliki nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, dan sebaliknya, jika suatu distribusi memiliki nilai signifikansi kurang dari 0,05 maka data dinyatakan tidak homogen. Berikut disajikan perolehan data hasil uji homogenitas. Tabel 5. Hasil Uji Homogenitas Model Regression Residual Total Anova Regresi Linier Sum of Mean Squares Square Sig. Sumber: Output SPSS 21 Tabel 5 menunjukkan nilai signifikansi (Sig. ) sebesar 0,000, yang lebih besar dari taraf signifikansi 0,05. Ini mengindikasikan bahwa varians data moderasi beragama dan karakter toleransi homogen, memenuhi asumsi untuk analisis regresi linier. Homogenitas ini memastikan bahwa kedua variabel memiliki distribusi yang konsisten, mendukung validitas analisis selanjutnya. Dengan terpenuhinya prasyarat homogenitas, langkah berikutnya adalah menguji hubungan linier antara variabel untuk mengevaluasi kekuatan dan arah pengaruh moderasi beragama terhadap karakter toleransi. Hasil uji Metta Setyawati. Dkk | Pengaruh Pemahaman Moderasi Beragama Terhadap Karakter Toleransi Siswa Buddha Di SMA Negeri 1 Ampel korelasi Pearson antara pemahaman moderasi beragama (X) dan karakter toleransi (Y) disajikan pada tabel berikut Tabel 6. Hasil Uji Korelasi Model 1 Model SummaryAN R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Sumber: Output SPSS 21 Tabel 6 menunjukkan koefisien korelasi (R) sebesar 0,766, yang menunjukkan hubungan positif kuat antara moderasi beragama dan karakter toleransi. Untuk mengkategorikan kekuatan hubungan, digunakan standar interval koefisien korelasi menurut Priyanto . , sebagaimana ditampilkan pada Tabel 6. Tabel 7. Standar Interval Koefisien Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,00 - 0,199 0,20 - 0,399 0,40 - 0,599 0,60 - 0,799 0,8 - 0,1000 Sumber : (Priyanto, 2008. Tingkat Hubungan Sangat Lemah Lemah Sedang Kuat Sangat Kuat Berdasarkan Tabel 7, nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,766 termasuk dalam kategori "Kuat", menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara pemahaman moderasi beragama dan karakter Nilai R Square sebesar 0,586 mengindikasikan bahwa 58,6% variasi karakter toleransi dapat dijelaskan oleh pemahaman moderasi beragama, sedangkan 41,4% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Adjusted R Square . menegaskan bahwa model korelasi tetap valid meskipun menggunakan sampel kecil . = . Untuk memahami sejauh mana moderasi beragama memengaruhi karakter toleransi secara kuantitatif dan untuk membentuk persamaan hubungan antarvariabel, analisis regresi linier sederhana dilakukan. Hasil analisis regresi disajikan pada tabel berikut. Tabel 8. Hasil Uji Regresi Linier Sederhana Model (Constan. Pemahaman Moderasi Beragama Coefficientsa Unstandardized Standardized Sig. Coefficients Coefficients Std. Beta Error Sumber: Output SPSS 21 Tabel 8 menghasilkan persamaan regresi linier Y = 14,520 0,808X, di mana Y adalah karakter toleransi dan X adalah pemahaman moderasi beragama. Konstanta 14,520 menunjukkan bahwa jika moderasi beragama bernilai nol, karakter toleransi diperkirakan sebesar 14,520. Koefisien regresi ( = 0,. mengindikasikan bahwa setiap peningkatan satu unit dalam skor moderasi beragama meningkatkan skor karakter toleransi sebesar 0,808 unit. Nilai t sebesar 4,764 dengan signifikansi 0,000 . < 0,. menunjukkan bahwa moderasi beragama memiliki pengaruh signifikan terhadap karakter toleransi. Uji parsial . -tes. lebih lanjut mendukung temuan ini, dengan nilai signifikansi 0,000 . < 0,. , mengonfirmasi bahwa pengaruh moderasi beragama terhadap karakter toleransi bersifat positif dan Kontribusi moderasi beragama sebesar 58,6% . erdasarkan R Squar. menegaskan bahwa variabel ini merupakan prediktor kuat bagi karakter toleransi siswa beragama Buddha di SMA Negeri 1 Ampel. Pembahasan Penelitian ini mengungkap bahwa pemahaman moderasi beragama memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap karakter toleransi siswa beragama Buddha di SMA Negeri 1 Ampel. Boyolali, dengan koefisien korelasi (R) sebesar 0,766 dan kontribusi sebesar 58,6% (RA = 0,. Persamaan regresi linier Y = 14,520 0,808X menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu unit dalam pemahaman moderasi beragama meningkatkan karakter toleransi sebesar 0,808 unit. Temuan ini menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan prediktor kuat bagi sikap toleran, khususnya dalam konteks agama minoritas seperti Buddha. Skor tinggi pada subvariabel moderasi beragama, terutama komitmen nasional . %) dan toleransi . %), mencerminkan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai kebangsaan dan penghormatan terhadap perbedaan. Dalam konteks agama Buddha, nilai-nilai ini selaras dengan konsep Majjhima Patipada (Jalan Tenga. , yang menekankan keseimbangan batin . dan cinta kasih . sebagai landasan hidup harmonis (Suryadharma, 2. Skor penghormatan terhadap keberagaman . %) sebagai subvariabel tertinggi dalam karakter toleransi menunjukkan bahwa siswa mampu menerjemahkan nilai-nilai Buddha ke dalam sikap inklusif. Namun, skor lebih rendah pada pengendalian emosi . %) mengindikasikan tantangan dalam mengelola respons emosional saat berinteraksi dengan kelompok berbeda, yang mungkin dipengaruhi oleh faktor lingkungan atau kurangnya latihan praktis dalam pendidikan karakter. Temuan ini sejalan dengan Theory of Planned Behavior (Fishbein & Ajzen, 2. , yang menyatakan bahwa sikap individu, seperti toleransi, dipengaruhi oleh keyakinan terhadap nilai-nilai Pemahaman moderasi beragama, yang mencakup komitmen nasional dan penerimaan kearifan lokal . %), membentuk keyakinan positif siswa terhadap keberagaman, sehingga mendorong sikap toleran. Teori pendidikan multikultural (Banks. , & Banks, 2. juga mendukung hasil ini, menegaskan bahwa pendidikan yang menghargai pluralitas dapat memperkuat karakter toleransi melalui internalisasi nilai-nilai inklusif. Implementasi Kurikulum Merdeka, yang menekankan tema Bhinneka Tunggal Ika, tampaknya telah memfasilitasi proses ini, meskipun tantangan seperti kurangnya materi kontekstual untuk agama Buddha masih perlu diatasi (Albana & Pratama, 2. Perbandingan dengan penelitian sebelumnya memperkuat temuan ini. Usfiyanto, . melaporkan bahwa moderasi beragama berkontribusi sebesar 68,6% terhadap toleransi siswa di MA Banu Hasyim dalam konteks Islam, sedikit lebih tinggi dari temuan ini . ,6%). Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh fokus pada agama mayoritas, yang memiliki dukungan kurikulum lebih Janah et al. , . menemukan bahwa 60% siswa SMK Walisongo Semarang menunjukkan toleransi tinggi berkat moderasi beragama, konsisten dengan hasil penelitian ini. Namun, penelitian ini unik karena mengeksplorasi agama Buddha, yang jarang dikaji dibandingkan agama mayoritas seperti Islam atau Kristen (Umar et al. , 2. Berbeda dengan Umar et al. , yang menekankan moderasi beragama untuk mencegah radikalisme, penelitian ini menyoroti peran moderasi dalam membangun sikap positif seperti toleransi di kalangan siswa minoritas. Kontribusi 41,4% dari faktor lain, seperti lingkungan sosial, pengalaman pribadi, atau interaksi antaragama di sekolah, menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan satu-satunya penentu Hal ini selaras dengan temuan Wahid dan Sari . , yang menyatakan bahwa toleransi dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti interaksi dengan komunitas lintas agama. Ukuran sampel kecil . = . menjadi keterbatasan penelitian ini, yang dapat membatasi generalisasi temuan. Penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar atau pendekatan kualitatif dapat mengeksplorasi faktorfaktor eksternal ini secara mendalam. Metta Setyawati. Dkk | Pengaruh Pemahaman Moderasi Beragama Terhadap Karakter Toleransi Siswa Buddha Di SMA Negeri 1 Ampel Secara statistik, nilai signifikansi regresi . < 0,. dan koefisien regresi ( = 0,. menunjukkan hubungan yang kuat dan tidak terjadi secara kebetulan. Distribusi data yang homogen (Sig. = 0,. dan normal (Shapiro-Wilk: p > 0,. mendukung validitas model. Temuan ini memiliki implikasi praktis bagi pendidikan agama Buddha dan PPKn. Guru dapat mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama melalui diskusi tentang Jalan Tengah atau studi kasus keberagaman, sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya literatur tentang moderasi beragama dalam konteks agama minoritas, mengisi kesenjangan penelitian yang sebelumnya didominasi oleh kajian agama mayoritas. Simpulan (Penutu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemahaman moderasi beragama terhadap karakter toleransi siswa beragama Buddha di SMA Negeri 1 Ampel. Boyolali. Berdasarkan analisis kuantitatif deskriptif terhadap 18 siswa menggunakan kuesioner terstruktur, ditemukan bahwa pemahaman moderasi beragama memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap karakter toleransi. Uji korelasi Pearson menghasilkan koefisien korelasi (R) sebesar 0,766 . < 0,. , menunjukkan hubungan kuat antara kedua variabel. Analisis regresi linier sederhana menghasilkan persamaan Y = 14,520 0,808X, dengan koefisien determinasi (RA) sebesar 0,586, yang berarti 58,6% variasi karakter toleransi dijelaskan oleh pemahaman moderasi beragama, sedangkan 41,4% dipengaruhi oleh faktor Nilai t sebesar 4,764 . < 0,. mengonfirmasi signifikansi pengaruh ini. Subvariabel moderasi beragama, seperti komitmen nasional . %) dan toleransi . %), menunjukkan pemahaman yang sangat tinggi, sementara penghormatan terhadap keberagaman . %) menjadi aspek terkuat dalam karakter toleransi. Namun, pengendalian emosi . %) memiliki skor lebih rendah, mengindikasikan kebutuhan penguatan dalam aspek ini. Temuan ini menegaskan bahwa moderasi beragama, yang mencakup nilai-nilai kebangsaan dan penerimaan kearifan lokal, secara efektif mendorong sikap toleran di kalangan siswa Buddha, meskipun faktor eksternal seperti lingkungan sosial juga berperan Daftar Pustaka