Jurnal Nasional Holistic Science Vol. No. Agustus 2025, pp. ISSN: 2721-3838. DOI: 10. 30596/jcositte. Analysis of Students' Learning Difficulties in Solving Story Problems in Mathematics Learning for Class II of SD Negeri 091254 Batu Anam Cindy Clara Tinambunan1. Natalina Purba2. Sukardo Sitohang3 1,2,3Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar. Indonesia Email: cindyytinambunan2409@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk dan faktor kesulitan belajar siswa kelas II SD Negeri 091254 Batu Anam dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap lima siswa dengan tingkat prestasi berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami konteks soal, mengubah informasi ke bentuk matematika, serta melakukan operasi hitung dasar seperti penjumlahan dan pengurangan. Faktor penyebab kesulitan terdiri atas faktor internal, yaitu rendahnya pemahaman konsep matematika, kemampuan membaca, dan motivasi belajar, serta faktor eksternal, seperti kurangnya latihan soal cerita, metode pembelajaran yang monoton, dan minimnya dukungan lingkungan belajar. Penelitian ini merekomendasikan penerapan strategi pembelajaran kontekstual, variatif, dan interaktif untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap soal cerita matematika. Temuan ini diharapkan menjadi rujukan bagi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna bagi siswa sekolah dasar. Keyword: Kesulitan Belajar. Soal Cerita Matematika. Pembelajaran Matematika ABSTRACT This study aims to analyze the forms and factors of learning difficulties of second-grade students of SD Negeri 091254 Batu Anam in solving mathematical story problems. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through interviews, observations, and documentation of five students with different achievement levels. The results showed that students experienced difficulties in understanding the context of the problem, converting information into mathematical form, and performing basic arithmetic operations such as addition and subtraction. Factors causing difficulties consisted of internal factors, namely low understanding of mathematical concepts, reading ability, and learning motivation, as well as external factors, such as lack of practice of story problems, monotonous learning methods, and minimal learning environment support. This study recommends the implementation of contextual, varied, and interactive learning strategies to improve students' understanding of mathematical story problems. These findings are expected to be a reference for teachers in designing more effective and meaningful learning for elementary school students. Keyword: Learning Difficulties. Math Story Problems. Mathematics Learning Corresponding Author: Cindy Clara Tinambunan. Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar. Jl. Sangnawaluh No. Siopat Suhu. Kec. Siantar Tim. Kota Pematang Siantar. Sumatera Utara 21136. Indonesia Email: cindyytinambunan2409@gmail. INTRODUCTION Sekolah dasar merupakan lembaga yang dikelola dan diatur oleh pemerintah yang bergerak dalam bidang pendidikan formal yang berlangsung selama enam tahun, dari kelas satu sampai kelas enam. Sekolah dasar bertujuan untuk memberikan dasar pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai karakter sebagai bekal dalam melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sekolah dasar berfungsi sebagai tempat pembentukan kemampuan dasar literasi seperti membaca, menulis, dan berhitung. Pembelajaran di sekolah dasar mencakup mata pelajaran seperti Matematika. Bahasa Indonesia. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Ilmu Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/HS Jurnal Nasional Holistic Science A Pengetahuan Sosial (IPS). Pendidikan Agama. Pendidikan Pancasila, serta mata pelajaran muatan lokal pilihan seperti Bahasa Daerah dan Bahasa Inggris. Seorang anak pada umumnya memasuki jenjang pendidikan sekolah dasar pada usia enam tahun, di mana diperkirakan siswa tersebut sudah mampu menerima kegiatan pembelajaran. Walaupun demikian, sebagian siswa pada usia tersebut ada yang belum mampu mengikuti pembelajaran yang diberikan, dan ketidakmampuan tersebut dapat menyebabkan kemalasan belajar. Hal ini dapat dipandang sebagai perbedaan yang terjadi pada anak usia sekolah dasar dalam hal menguasai suatu materi pelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, siswa sering dihadapkan pada berbagai macam masalah. Sebagian siswa dapat menerima kegiatan pembelajaran dengan baik, namun ada juga yang mengalami kesulitan dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Sari dan Yulianti . , kesulitan belajar dapat dikatakan sebagai suatu kekurangan dalam satu bidang akademik atau lebih. Definisi lain diungkapkan oleh Wulandari dkk. 3:890Ae. yang menyatakan bahwa kesulitan belajar mencerminkan ketidaksesuaian antara tuntutan akademik dan kemampuan individu yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti psikologis, lingkungan, dan metode pengajaran. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut, penulis menyimpulkan bahwa kesulitan belajar adalah kondisi di mana siswa mengalami hambatan dalam mencapai hasil belajar yang optimal, baik dalam satu atau lebih mata pelajaran, yang disebabkan oleh ketidaksesuaian antara tuntutan akademik dan kemampuan individu. Hambatan ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kondisi psikologis, lingkungan, serta metode pengajaran yang kurang sesuai. Berdasarkan studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Indonesia menempati peringkat ke-69 dari 81 negara dalam bidang matematika. Meskipun skor rata-rata Indonesia mengalami penurunan sebesar 13 poin dibandingkan PISA 2018, peringkatnya naik lima posisi. Hal ini disebabkan oleh penurunan skor rata-rata global yang lebih besar akibat dampak pandemi Covid-19. Hanya sekitar 18% siswa Indonesia yang mencapai tingkat kemahiran minimum . dalam matematika. Selain itu, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai level 5 atau 6 yang menunjukkan kemampuan matematika tingkat tinggi. Data tersebut menunjukkan masih rendahnya budaya literasi siswa, khususnya literasi Faktor-faktor yang memengaruhi kesulitan belajar terdiri atas faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari dalam diri anak, meliputi kurangnya minat belajar, kemampuan intelektual di bawah ratarata, kesulitan fokus terhadap instruksi guru, kesulitan membaca dan memahami teks, daya ingat yang lemah, rendahnya kemampuan pemecahan masalah, serta kurangnya motivasi belajar. Sementara itu, faktor eksternal berasal dari luar diri anak, seperti kurangnya dukungan atau perhatian dari orang tua, metode pembelajaran yang kurang bervariasi, siswa yang asyik bermain saat guru menjelaskan, bahasa soal yang terlalu rumit, serta lingkungan belajar di sekolah yang kurang mendukung. Sejalan dengan perkembangan kurikulum yang semakin meluas, kemampuan berpikir kritis semakin ditekankan pada abad ke-21 karena dianggap sebagai salah satu keterampilan utama yang harus dimiliki oleh individu di era modern dalam dunia pendidikan, dunia kerja, dan teknologi. Untuk mempersiapkan hal tersebut, guru dan siswa dituntut untuk menguasai kemampuan Higher Order Thinking Skills (HOTS). HOTS adalah konsep pembelajaran yang dikemukakan oleh Benjamin S. Bloom dkk. dalam buku berjudul Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals . yang mengkategorikan berbagai tingkat pemikiran dari yang terendah hingga tertinggi, dikenal dengan Taksonomi Bloom. Konsep ini mencakup tiga ranah pembelajaran, yaitu kognitif . , afektif . , dan psikomotor . HOTS merupakan hasil pengembangan dari konsep sebelumnya yang meliputi kemampuan memecahkan masalah, berpikir kreatif, berpikir kritis, berargumen, serta mengambil keputusan (Rahma, 2022:. Dari beberapa mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit untuk dipahami, terutama dalam bentuk soal cerita. Matematika adalah ilmu pengetahuan yang berperan penting dalam berbagai aspek kehidupan. Perkembangan ekonomi, teknologi, dan industri tidak terlepas dari peranan matematika. Mengingat pentingnya peran tersebut, maka matematika mulai diajarkan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pembelajaran matematika tidak hanya bertujuan untuk melatih kecepatan berhitung, tetapi juga untuk menanamkan pemahaman konsep agar siswa mampu berpikir kritis, kreatif, logis, dan bernalar dalam menyelesaikan masalah. Kesulitan belajar matematika dapat dilihat dari berbagai kesalahan yang dilakukan siswa dalam mengerjakan soal, seperti kesalahan memahami simbol, perhitungan, nilai tempat, dan penulisan. Dalam kegiatan pembelajaran, pemecahan masalah merupakan bagian integral dari proses belajar yang memainkan peran penting karena sebagian besar pembelajaran merupakan hasil dari proses pemecahan Dengan demikian, pemecahan masalah bukan hanya menjadi tujuan pembelajaran, tetapi juga sebagai cara dalam mencapai hasil belajar. Namun, pembelajaran di kelas masih banyak yang menekankan pemahaman (Cindy Clara Tinambuna. A Jurnal Nasional Holistic Science tanpa melibatkan kemampuan berpikir siswa. Siswa sering tidak diberi kesempatan untuk menemukan cara atau jawaban yang berbeda dari yang telah diajarkan guru. Agar pembelajaran matematika menjadi bermakna, maka prosesnya harus melibatkan kegiatan mengamati, bertanya, bernalar, dan mengkaji. Dalam hal ini, guru berperan sebagai faktor pendukung yang sangat penting. Guru dapat berperan sebagai motivator yang bertujuan untuk menumbuhkan motivasi belajar Motivasi dalam pembelajaran merupakan kekuatan mental yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas belajar dengan sungguh-sungguh dalam rangka mencapai prestasi yang diinginkan (Yuliana & Sari, 2021:. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran di mana sebagian besar siswa kelas II SD kurang berminat terhadap mata pelajaran matematika, terutama dalam bentuk soal cerita pada materi penjumlahan dan pengurangan yang membutuhkan kemampuan pemecahan masalah matematis. Akibatnya, hasil belajar siswa kurang memuaskan. Siswa menganggap soal cerita matematika sulit karena tidak memahami konsep dari soal Berdasarkan hasil penilaian tugas, ulangan harian, dan ujian tengah semester, banyak peserta didik yang belum mampu memperoleh nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan, yaitu 65 untuk mata pelajaran matematika. Tabel 1. Data Jumlah Siswa dengan Nilai Rata-rata. Nilai Tugas. Ulangan Harian, dan Ujian Tengah Semester Matematika di bawah KKM dan di atas KKM kelas II Kelas Bentuk ujian Materi Nilai Tugas Nilai Ulangan Harian Ujian Tengah Semester Jumlah Soal cerita dalam Pembelajaran Matematika Hasil <65 > 65 24 Siswa Pada tabel di atas diperoleh data jumlah siswa dan berbagai hasil nilai matematika siswa pada materi soal cerita kelas II di SD Negeri 091254 Batu Anam, di mana masih banyak peserta didik yang belum mampu memperoleh nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Pada nilai tugas terdapat sebanyak 12 siswa yang mendapatkan nilai di bawah 65 dan 12 siswa yang mendapatkan nilai di atas 65, sehingga jumlahnya Pada ulangan harian terjadi peningkatan jumlah siswa yang mendapatkan nilai di bawah 65, yaitu sebanyak 14 siswa, sedangkan yang memperoleh nilai di atas 65 berjumlah 10 siswa. Pada ujian tengah semester terdapat 13 siswa yang mendapatkan nilai di bawah 65 dan 11 siswa yang mendapatkan nilai di atas Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa ketuntasan belajar siswa pada materi soal cerita masih belum mencapai hasil yang diharapkan. Berdasarkan data di atas, salah satu faktor yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami soal cerita adalah keterbatasan kemampuan membaca dan memahami bacaan secara menyeluruh. Banyak siswa mengalami kesulitan dalam mengenali kosakata yang digunakan di dalam soal, terutama jika menggunakan bahasa yang tidak familiar atau struktur kalimat yang kompleks. Selain itu, faktor lain yang memengaruhi kesulitan siswa dalam memahami soal cerita antara lain kurangnya minat membaca, perhatian siswa yang mudah teralihkan, serta kurangnya latihan dalam menyelesaikan soal secara rutin. Matematika hendaknya mampu mengubah pandangan siswa bahwa matematika bukan hanya sebatas perhitungan angka. Oleh karena itu, perlu adanya pembaruan dalam pembelajaran matematika agar siswa dapat terlibat aktif dalam proses belajar, memperoleh pengalaman bermakna, serta dapat mempelajari matematika dengan lebih mudah, cepat, efektif, dan menyenangkan. RESEARCH METHOD Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Sugiyono . alam Septiani dkk. , 2022:. , penelitian deskriptif kualitatif merupakan metode yang melukiskan, mendeskripsikan, serta memaparkan apa adanya kejadian atau objek yang diteliti berdasarkan situasi dan kondisi ketika penelitian dilakukan di lapangan, bukan untuk menguji hipotesis. Penelitian deskriptif memiliki dua tujuan, yaitu: menggambarkan dan mengungkapkan, serta menggambarkan dan menjelaskan suatu fenomena. Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif karena sesuai dengan masalah serta tujuan penelitian yang ingin dicapai. Pendekatan kualitatif bersifat deskriptif karena semua hasil pengumpulan data di lapangan dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif, analisis data yang diperoleh berupa kata-kata, perilaku, atau gambar, dan tidak dituangkan dalam bentuk angka statistik. Data disajikan dengan paparan atau penggambaran mengenai situasi, keadaan, atau kondisi yang diteliti untuk memperoleh informasi tentang AuKesulitan Belajar Jurnal Nasional Holistic Science Vol. No. Agustus 2025: 274 Ae 281 Jurnal Nasional Holistic Science A Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita pada Pembelajaran Matematika Kelas II SD Negeri 091254 Batu Anam. Ay Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 091254 Batu Anam. Sekolah ini berstatus sekolah negeri dengan akreditasi B, terletak di Jl. Asahan Km 6. Kecamatan Siantar. Kabupaten Simalungun. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan JuliAeAgustus semester ganjil Tahun Ajaran 2025/2026. Subjek dan Objek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas II SD Negeri 091254 Batu Anam. Jl. Asahan Km 6. Tahun Ajaran 2025/2026. Jumlah siswa yang dijadikan subjek penelitian adalah 5 orang. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik Non-Probability Sampling dengan jenis Purposive Sampling. Objek dalam penelitian ini adalah analisis kesulitan belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada pembelajaran matematika di SD Negeri 091254 Batu Anam. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik berikut: Wawancara Dilakukan kepada siswa untuk menggali informasi mengenai jenis dan faktor-faktor kesulitan yang dialami siswa. Observasi Dilakukan selama kegiatan proses pembelajaran untuk melihat secara langsung bagaimana siswa menghadapi soal cerita. Dokumentasi Meliputi soal-soal latihan dan foto kegiatan selama proses pembelajaran berlangsung. Teknik Analisis Data Penelitian ini menggunakan teknik analisis data model Miles dan Huberman (Qomaruddin, 2024:. yang terdiri dari tiga tahapan, yaitu: Reduksi Data Proses menyederhanakan data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penyajian Data Menyusun data dalam bentuk narasi, tabel, atau diagram agar lebih mudah dipahami dan ditarik . Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi Merupakan proses menyimpulkan data yang telah diperoleh. Pengambilan kesimpulan perlu diverifikasi selama penelitian berlangsung dengan beberapa cara, yaitu memikirkan kembali selama penulisan, meninjau catatan yang diperoleh di lokasi, dan mengkaji ulang hasil temuan. RESULTS AND DISCUSSION Berdasarkan hasil wawancara dan observasi . yang dilakukan oleh peneliti dapat diketahui dari berbagai pihak untuk mengumpulkan informasi terkait penelitian kesulitan belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada pembelajaran matematika siswa kelas II SD Negeri 091254 Batu Anam yaitu siswa yang berjumlah 5 sebagai subjek. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Nonprobability Sampling, saya memilih sampel dari peringkat 1 sampai 5 karena siswa dengan prestasi tinggi dianggap sudah memiliki kemampuan akademik yang baik. Dengan begitu, penelitian ini ingin melihat apakah siswa yang berprestasi pun masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Hal ini penting, karena kesulitan soal cerita bukan hanya dialami siswa dengan nilai rendah, melainkan juga bisa terjadi pada siswa yang berprestasi. Selain itu, siswa peringkat 1Ae5 biasanya mampu menyampaikan ide dengan lebih jelas sehingga memudahkan saya dalam menggali data secara mendalam. Maka pada pembahasan ini peneliti mendeskripsikan uraian pembahasan sesuai dengan dengan rumusan masalah penelitian dan tujuan penelitian tentang kesulitan belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada pembelajaran matematika siswa kelas II SD Negeri 091254 Batu Anam diperoleh hasil dari penelitian sebagai berikut: Hasil wawancara dan observasi . yang dilakukan peneliti menyatakan bahwa ada 3 siswa atau sekitar 60% siswa yang mengalami kesulitan belajar dalam menyelesaikan soal cerita pada pembelajaran matematika dan ada 2 atau sekitar 40% siswa yang mampu menyelesaikan soal cerita matematika. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa secara umum siswa memiliki sikap yang positif terhadap pembelajaran matematika, khususnya soal cerita. Hasil wawancara menunjukkan bahwa seluruh siswa menyukai pelajaran matematika karena dianggap seru dan menarik. Mereka juga merasa senang saat mengerjakan soal cerita, bahkan menganggapnya mudah. Namun, di balik sikap positif tersebut, teridentifikasi adanya kesulitan yang spesifik, yaitu pada bagian memahami soal dan proses berhitung, terutama penjumlahan. (Cindy Clara Tinambuna. A Jurnal Nasional Holistic Science Temuan ini selaras dengan tahapan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika. Menurut teori Polya (Rizqiani dkk. , 2023:. proses penyelesaian soal cerita melibatkan beberapa tahapan, seperti memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, dan memeriksa kembali hasil. Dalam kasus ini, meskipun siswa merasa mampu memahami soal cerita . ahap memahami masala. , mereka menemui hambatan signifikan pada tahap melaksanakan rencana, yang tercermin dari kesulitan dalam proses Hal ini terlihat dari pengakuan siswa sendiri saat wawancara bahwa bagian yang paling sulit adalah Auproses berhitungnyaAy atau Aupenjumlahan. Ay Hasil wawancara dengan siswa YA subjek 1 mengatakan bahwa siswa tersebut menyukai pelajaran matematika karena pelajaran tersebut sangat seru, perasaan siswa tersebut saat mengerjakan soal cerita itu merasa mudah, siswa tersebut mengatakan terkadang bagian yang paling sulit dalam menyelesaikan soal cerita matematika pada bagian berhitung. YA mengatakan jika tidak mengerti dalam menyelesaikan soal ia meminta bantuan kepada guru dan berpikir sendiri. Saat di kelas jika ia merasa kurang memahami isi soal tersebut ia meminta bantuan kepada guru dan teman sebangkunya. Jika disuruh memilih YA seorang anak laki-laki tersebut mengatakan lebih menyukai soal cerita dibandingkan dengan soal hitungan biasa karena menurut ia soal cerita itu tidak terlalu sulit. Ini diperkuat dengan penelitian menurut Sofiyah . metode cerita dalam pembelajaran matematika bertujuan untuk mengaitkan konsep bilangan dengan situasi atau pengalaman sehari-hari yang lebih dekat dengan kehidupan siswa. Dengan demikian, siswa dapat lebih mudah memahami hubungan antara angka dan objek nyata. Cerita yang menarik dan mengandung pesan-pesan matematika akan membuat siswa lebih tertarik untuk belajar dan secara tidak langsung memperkuat pemahaman mereka terhadap konsep bilangan. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, penggunaan cerita dapat membantu anak membayangkan konsep-konsep matematika dengan cara yang menyenangkan dan imajinatif. Pada saat proses observasi kegiatan belajar dalam menyelesaikan soal cerita matematika YA membaca soal dengan pelan dan fokus mengerjakan sendiri sehingga ia memahami kemudian mengubah informasi soal ke dalam bentuk angka di buku tulis dan menuliskan jawaban. Hasil wawancara dengan siswa WY subjek 2 mengatakan bahwa siswa tersebut juga menyukai pelajaran matematika karena seru, perasaan siswa tersebut saat mengerjakan soal cerita merasa mudah, siswa tersebut mengatakan bagian yang sulit di dalam penjumlahannya. Siswa tersebut mengatakan jika tidak mengerti dalam menyelesaikan soal ia meminta bantuan kepada guru, jika di rumah ia bertanya kepada orang Hal ini diperkuat oleh penelitian menurut Fawzyah (Saputri, 2022:. dukungan orang tua merupakan dukungan yang diberikan kepada anak berupa dukungan emosional, informasional, dan pendampingan yang bertujuan agar individu mampu menghadapi semua permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Saat siswa tersebut sering mengalami kesulitan, yang sering membantu adalah guru dan teman saat di sekolah, tetapi di rumah abang dan kakaknya sendiri. Jika disuruh memilih WY seorang anak perempuan mengatakan lebih menyukai soal cerita dibanding dengan soal hitungan biasa karena seru. Ini diperkuat dengan penelitian menurut Sofiyah . metode cerita dalam pembelajaran matematika bertujuan untuk mengaitkan konsep bilangan dengan situasi atau pengalaman sehari-hari yang lebih dekat dengan kehidupan siswa. Dengan demikian, siswa dapat lebih mudah memahami hubungan antara angka dan objek nyata. Cerita yang menarik dan mengandung pesan-pesan matematika akan membuat siswa lebih tertarik untuk belajar dan secara tidak langsung memperkuat pemahaman mereka terhadap konsep bilangan. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, penggunaan cerita dapat membantu anak membayangkan konsep-konsep matematika dengan cara yang menyenangkan dan imajinatif. Pada saat proses observasi kegiatan belajar dalam menyelesaikan soal cerita matematika WY membaca soal dengan pelan dan fokus mengerjakan sendiri sehingga ia memahami kemudian mengubah informasi soal ke dalam bentuk angka di buku tulis dan menuliskan jawaban. Hasil wawancara dengan siswa EA subjek 3 mengatakan bahwa siswa tersebut suka dengan soal cerita matematika karena menyenangkan. Pada saat mengerjakan soal ia merasa senang, tetapi ia mengatakan terkadang mengalami kesulitan di bagian perhitungan. Jika di sekolah ia tidak mengerti menyelesaikan soal tersebut, ia bertanya kepada Ibu/Bapak guru. Saat di rumah, siswa tersebut tidak mengerti dalam mengerjakan soal, ia meminta bantuan kepada orang tua. Hal ini diperkuat oleh penelitian menurut Fawzyah (Saputri, 2022:. bahwa dukungan orang tua merupakan dukungan yang diberikan kepada anak berupa dukungan emosional, informasional, dan pendampingan yang bertujuan agar individu mampu menghadapi semua permasalahan yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. EA, seorang anak perempuan, mengatakan lebih menyukai soal cerita dibandingkan dengan soal hitungan biasa karena lebih seru. Ini diperkuat dengan penelitian menurut Sofiyah . bahwa metode cerita dalam pembelajaran matematika bertujuan untuk mengaitkan konsep bilangan dengan situasi atau pengalaman sehari-hari yang lebih dekat dengan kehidupan Dengan demikian, siswa dapat lebih mudah memahami hubungan antara angka dan objek nyata. Cerita yang menarik dan mengandung pesan-pesan matematika akan membuat siswa lebih tertarik untuk belajar dan secara tidak langsung memperkuat pemahaman mereka terhadap konsep bilangan. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, penggunaan cerita dapat membantu anak membayangkan konsep-konsep matematika dengan Jurnal Nasional Holistic Science Vol. No. Agustus 2025: 274 Ae 281 Jurnal Nasional Holistic Science A cara yang menyenangkan dan imajinatif. Namun, pada saat proses observasi kegiatan belajar dalam menyelesaikan soal cerita matematika. EA membaca soal dengan lambat dan membutuhkan waktu cukup lama dalam mengerjakan. Ia kurang memahami maksud isi soal jika soal tersebut terlalu panjang, mengalami kesulitan dalam menentukan operasi matematika, serta kesulitan memahami jalan cerita soal. Siswa tersebut terus membaca ulang soal untuk memahami maksud isi soal dan selalu berusaha mengerjakan sendiri. Hasil wawancara dengan siswa EN subjek 4 mengatakan bahwa siswa tersebut suka dengan soal cerita matematika karena menyenangkan. Pada saat mengerjakan soal, ia merasa kesulitan di bagian berhitung. Jika ia tidak mengerti menyelesaikan soal tersebut, ia bertanya kepada Ibu guru, dan jika di rumah bertanya kepada orang tua. Hal ini diperkuat oleh penelitian menurut Fawzyah (Saputri, 2022:. bahwa dukungan orang tua merupakan dukungan yang diberikan kepada anak berupa dukungan emosional, informasional, dan pendampingan yang bertujuan agar individu mampu menghadapi semua permasalahan yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Saat di sekolah, siswa tersebut mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal cerita, ia meminta bantuan kepada teman-temannya dan guru. EN, seorang anak laki-laki, mengatakan lebih menyukai soal cerita dibandingkan dengan soal hitungan biasa karena seru dalam mengerjakan. Ini diperkuat dengan penelitian menurut Sofiyah . bahwa metode cerita dalam pembelajaran matematika bertujuan untuk mengaitkan konsep bilangan dengan situasi atau pengalaman sehari-hari yang lebih dekat dengan kehidupan Dengan demikian, siswa dapat lebih mudah memahami hubungan antara angka dan objek nyata. Cerita yang menarik dan mengandung pesan-pesan matematika akan membuat siswa lebih tertarik untuk belajar dan secara tidak langsung memperkuat pemahaman mereka terhadap konsep bilangan. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, penggunaan cerita dapat membantu anak membayangkan konsep-konsep matematika dengan cara yang menyenangkan dan imajinatif. Namun, pada saat proses observasi kegiatan belajar dalam menyelesaikan soal cerita matematika. EN membaca soal sedikit lambat. Saat mengerjakan, siswa tersebut kurang konsentrasi, sulit memahami isi soal dan jalan cerita dari soal yang panjang, serta mengalami kesulitan menentukan informasi yang diperlukan dan menyelesaikan soal cerita secara matematis. Oleh karena itu, siswa tersebut terus membaca ulang soal untuk lebih memahami dan selalu berusaha mengerjakan sendiri. Hasil wawancara dengan siswa FA subjek 5 mengatakan bahwa siswa tersebut juga menyukai pelajaran matematika karena pelajarannya menyenangkan. Menurut FA, seorang anak perempuan, pada saat mengerjakan soal cerita ia merasa senang, tetapi terkadang mengalami kesulitan di bagian penjumlahan. Saat ia tidak mengerti dalam menyelesaikan soal, ia meminta bantuan kepada guru, dan ketika sering mengalami kesulitan FA selalu dibantu oleh guru. jika di rumah dibantu oleh orang tua. Hal ini diperkuat oleh penelitian menurut Fawzyah (Saputri, 2022:. bahwa dukungan orang tua merupakan dukungan yang diberikan kepada anak berupa dukungan emosional, informasional, dan pendampingan yang bertujuan agar individu mampu menghadapi semua permasalahan yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga lebih menyukai soal cerita dibandingkan soal hitungan biasa karena menurutnya soal cerita lebih menyenangkan. Ini diperkuat dengan penelitian menurut Sofiyah . bahwa metode cerita dalam pembelajaran matematika bertujuan untuk mengaitkan konsep bilangan dengan situasi atau pengalaman sehari-hari yang lebih dekat dengan kehidupan siswa. Dengan demikian, siswa dapat lebih mudah memahami hubungan antara angka dan objek Cerita yang menarik dan mengandung pesan-pesan matematika akan membuat siswa lebih tertarik untuk belajar dan secara tidak langsung memperkuat pemahaman mereka terhadap konsep bilangan. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, penggunaan cerita dapat membantu anak membayangkan konsep-konsep matematika dengan cara yang menyenangkan dan imajinatif. Pada saat proses observasi kegiatan belajar dalam menyelesaikan soal cerita matematika. FA mampu mengerjakan sendiri, tetapi sedikit bingung memahami soal dan kurang fokus sehingga kesulitan dalam berhitung. Siswa tersebut juga kesulitan dalam menentukan informasi yang diperlukan, menggunakan rumus yang tepat sesuai soal, serta memahami konteks matematika atau jalan cerita soal. Oleh karena itu, siswa tersebut selalu membaca ulang soal agar lebih dipahami untuk Untuk mengetahui bentuk, jenis, dan faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa adalah sebagai berikut. Sebagian siswa mengalami kesulitan dalam memahami konteks soal cerita, tidak paham dalam menyelesaikan soal yang ditanya, kurang konsentrasi dalam menyelesaikan soal, dan mengubahnya ke dalam bentuk matematika. Kesulitan berhitung juga menjadi masalah utama, terutama pada operasi penjumlahan dan Ini menunjukkan bahwa siswa belum sepenuhnya menguasai konsep dasar matematika. Faktor Penyebab Kesulitan Faktor internal: kurangnya pemahaman konsep matematika dan rendahnya kemampuan membaca menjadi penghambat utama. Beberapa siswa juga terlihat kurang percaya diri saat mengerjakan soal. Faktor eksternal: minimnya latihan soal cerita turut mempengaruhi kesulitan belajar siswa. Strategi Siswa dalam Mengatasi Kesulitan Siswa yang lebih mandiri cenderung mencoba memahami soal secara perlahan sebelum mengerjakan. Sementara itu, siswa yang mengalami kesulitan lebih bergantung pada bantuan guru, orang tua, atau teman. (Cindy Clara Tinambuna. A Jurnal Nasional Holistic Science CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian mengenai analisis kesulitan belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada pembelajaran matematika kelas II SD Negeri 091254 Batu Anam, ditemukan bahwa bentuk utama kesulitan yang dialami siswa terletak pada ketidakmampuan mereka dalam memahami konteks soal cerita dan mengubah informasi tersebut ke dalam bentuk matematika. Selain itu, kesulitan dalam melakukan operasi berhitung, terutama penjumlahan dan pengurangan, juga menjadi hambatan yang signifikan. Beberapa siswa mengalami kendala dalam menentukan langkah-langkah penyelesaian yang tepat serta menuliskan jawaban akhir secara sistematis. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk penguatan kemampuan dasar matematika dan keterampilan pemecahan masalah. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar tersebut terdiri dari faktor internal dan Faktor internal meliputi kurangnya pemahaman konsep matematika, rendahnya kemampuan membaca, serta minimnya motivasi dan rasa percaya diri siswa. Sementara itu, faktor eksternal yang turut berkontribusi antara lain adalah minimnya latihan soal cerita yang diberikan kepada siswa, metode pembelajaran yang kurang variatif dan menarik, serta terbatasnya dukungan dari lingkungan belajar baik di sekolah maupun di rumah. Faktor-faktor ini secara keseluruhan memperkuat pentingnya penerapan pendekatan pembelajaran yang lebih komprehensif dan kontekstual. Dalam menghadapi kesulitan tersebut, strategi yang digunakan oleh siswa pun bervariasi. Siswa yang memiliki kemandirian belajar cenderung mencoba memahami soal secara perlahan dan mandiri, sementara siswa yang mengalami kesulitan lebih mengandalkan bantuan guru atau teman sekelas. Menariknya, sebagian besar siswa menyatakan bahwa mereka menyukai soal cerita karena dianggap lebih menarik dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari, meskipun tetap menghadapi tantangan teknis dalam proses penyelesaiannya. Hal ini menunjukkan adanya potensi untuk mengembangkan model pembelajaran berbasis kontekstual yang mampu meningkatkan minat sekaligus kompetensi siswa dalam matematika. REFERENCES