Center of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Tari Sandar di Pura Luhur Ulun Swi Desa Adat Seseh. Kecamatan Mengwi. Kabupaten Badung I Putu Ananta Wira Adhyatma1. Ida Ayu Trisnawati2. I Ketut Sariada3 1,2,3 Institut Seni Indonesia Bali. Indonesia Corresponding Author : anantawira00@gmail. ABSTRACT Tari Sandar merupakan salah satu tari upacara yang dipentaskan dalam rangkaian upacara Dewa Yadnya di Pura Luhur Ulun Swi. Desa Adat Seseh. Kecamatan Mengwi. Kabupaten Badung. Penelitian ini bertujuan untuk memahami Tari Sandar yang ada di Pura Luhur Ulun Swi. Desa Adat Seseh. Kecamatan Mengwi. Kabupaten Badung. Rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi: . Awal mula Tari Sandar. Bentuk pertunjukan Tari Sandar. Makna yang terkandung dalam pertunjukan Tari Sandar. Teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi teori religi, teori estetika Hindu serta teori Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . Kemunculan Tari Sandar ditandai dengan peristiwa tapel Barong Ket dihanyutkan dari wilayah Jimbaran karena dianggap tidak layak, lalu terdampar di pesisir Desa Adat Seseh. Peristiwa tersebut diyakini sebagai pawisik, kemudian tapel itu diabadikan sebagai benda suci di Pura Luhur Ulun Swi, peristiwa tersebut kemudian diyakini sebagai cikal bakal lahirnya Tari Sandar. Bentuk pertunjukan Tari Sandar dapat dikategorikan sebagai dramatari, yang melibatkan beberapa lakon yaitu penari Sandar. Jauk Kembar. Topeng Tua, dan Topeng Telek. Makna yang terkandung dalam Tari Sandar terepresentasi melalui alur pertunjukan tersusun atas dasar penanda dan petanda yang dapat dibaca secara denotatif, konotatif, maupun dalam bentuk mitos. Sebagai kesenian sakral. Tari Sandar menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Desa Adat Seseh dan terus dijaga keberlanjutannya melalui siklus upacara dan keterlibatan kolektif warga Keywords Tari Sandar. Pura Luhur Ulun Swi. Sakral. Bentuk. Makna PENDAHULUAN Tari Bali merupakan bagian penting dalam kehidupan yang sudah diwarisi sejak jaman dahulu, berupa berbagai macam bentuk kesenian. Bentukbentuk kesenian itu masih dijaga hingga saat ini dalam kehidupan masyarakat yang didukung oleh ritual keagamaan. Dalam setiap pelaksanaan upacara di pura, seni pertunjukan menjadi elemen yang tidak terpisahkan. Berbagai bentuk kesenian hadir sebagai sarana persembahan sekaligus media komunikasi antara manusia dan alam niskala. Kesenian yang ditampilkan dalam upacara umumnya memiliki nilai sakral dan diwariskan secara turun- Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 151-167 temurun sebagai bagian dari tradisi masyarakat. Salah satu bentuk seni sakral yang berkembang di Bali adalah tari Wali, yaitu tarian yang berfungsi sebagai bagian dari ritual keagamaan dan hanya dapat dipentaskan dalam konteks tertentu seperti upacara keagamaan agama hindu di Bali yang biasanya disebut Piodalan. Tari di Bali sering hadir dalam berbagai upacara keagamaan dalam berbagai fungsi dan tujuan. Secara umum tari Bali dapat diklasifikasikan menjadi 3 sesuai dengan fungsinya, yakni Tari Wali. Tari Bebali dan Tari BalihBalihan. (Dibia, 1999:. Keberadaan berbagai tarian sakral di Desa Adat Seseh. Kecamatan Mengwi. Kabupaten Badung menunjukkan bahwa seni tari memiliki peran sentral dalam kehidupan keagamaan masyarakat setempat. Beragam bentuk kesenian, termasuk tari Wali dan pertunjukan sakral lainnya, menjadi bagian dari pelaksanaan ritual di pura-pura yang ada di Desa ini. Setiap tarian memiliki fungsi dan makna tersendiri, yang berhubungan dengan estetika, aspek spiritual dan sosial budaya. Tarian-tarian tersebut diwariskan secara turun-temurun melalui mekanisme adat yang ketat, menjadikannya bagian dari identitas masyarakat. Dilihat dari banyaknya kesenian yang berkembang di Desa Adat Seseh. Kecamatan Mengwi. Kabupaten Badung, terdapat satu tarian yang hanya dimiliki oleh beberapa daerah atau Desa tertentu, yaitu Tari Sandar. Tari Sandar merupakan tarian sakral yang berkaitan erat dengan pementasan dalam upacara keagamaan di Pura Luhur Ulun Suwi. Dengan demikian, eksistensi tari sakral seperti Tari Sandar menunjukkan keberagaman seni pertunjukan di Bali, mencerminkan bagaimana kesenian berperan dalam menjaga keberlangsungan tradisi dan sistem kepercayaan masyarakat khususnya di Desa Adat Seseh. Kecamatan Mengwi. Kabupaten Badung. Berdasarkan hal tersebut di atas membuktikan bahwasannya kajian mengenai seni tari Bali telah banyak dilakukan oleh berbagai peneliti, terutama yang berkaitan dengan perannya dalam upacara keagamaan. Seni tari di Bali tidak semata-mata berfungsi sebagai hiburan tetapi juga memiliki peran sakral dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali. Koentjaraningrat . menjelaskan bahwa dalam masyarakat tradisional, seni tidak dapat dipisahkan dari aspek religi dan adat, karena keduanya saling berkelindan dalam praktik sosial dan budaya. Penelitian-penelitian tentang tari Bali umumnya berfokus pada tari Wali sebagai bagian dari ritual sakral yang diwariskan secara turuntemurun. Beberapa kajian lebih menitikberatkan pada struktur pertunjukan, simbolisme, hingga keterkaitannya dengan ajaran Hindu di Bali. Selain itu, ada pula penelitian yang menelaah bagaimana keberlanjutan tari sakral dalam menghadapi perubahan zaman dan pengaruh modernisasi terhadap pelestariannya di tengah masyarakat adat. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 151-167 Namun, di tengah banyaknya kajian tentang tari sakral di Bali, terdapat sejumlah tarian yang belum mendapat perhatian akademis yang cukup Penelitian lebih banyak berpusat pada tari-tarian yang sudah dikenal luas, sementara beberapa tarian yang hanya dimiliki oleh Desa tertentu belum banyak dikaji, baik dari segi sejarah, fungsi, maupun proses Fenomena ini menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk mengeksplorasi lebih jauh aspek seni pertunjukan tradisional yang belum terdokumentasi secara akademis. Salah satu tarian yang masih minim pembahasannya adalah Tari Sandar di Pura Luhur Ulun Suwi. Desa Adat Seseh. Kecamatan Mengwi. Kabupaten Badung. Meskipun Tari Sandar telah menjadi bagian penting dalam tradisi masyarakat di Desa Adat Seseh. Kecamatan Mengwi. Kabupaten Badung, kajian akademis mengenai tarian ini masih sangat terbatas. Beberapa penelitian sebelumnya memang telah membahas Tari Sandar, tetapi cakupan dan fokus kajiannya masih beragam. Sebagian besar penelitian menyoroti Tari Sandar dalam konteks fungsinya sebagai tari sakral dalam upacara keagamaan, tanpa menggali lebih dalam aspek-aspek lain yang turut membentuk keberadaan tarian ini. Penelitian ini memiliki perbedaan mendasar dibandingkan kajian yang telah ada. Jika penelitian sebelumnya lebih banyak menyoroti aspek ritual dan keberlanjutan Tari Sandar dalam tradisi keagamaan, penelitian ini akan mengisi celah kajian dengan menelaah aspek yang lebih spesifik terkait keberadaan Tari Sandar di Pura Luhur Ulun Swi. Untuk itu, penelitian ini diarahkan untuk menggali secara mendalam keberadaan Tari Sandar sebagai tari upacara yang sarat makna dalam konteks kehidupan religius masyarakat Desa Adat Seseh. Tari Sandar sebagai tari upacara memiliki akar yang dalam sejarah dan tradisi masyarakat Fungsi sosial dan keagamaannya tidak dapat dipisahkan dari sistem kepercayaan lokal yang hidup dan berkembang di Desa Adat Seseh. Penelitian ini menjadi penting karena mampu mengungkap bagaimana Tari Sandar hadir sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat, sekaligus menyampaikan nilai-nilai spiritual yang diwariskan secara turuntemurun melalui gerak, kostum, properti, dan iringan musik yang sarat Penelitian ini juga menguraikan makna simbolik yang terkandung dalam setiap unsur pertunjukan yang berkontribusi secara langsung terhadap kekhidmatan upacara. Dalam konteks globalisasi dan modernisasi yang kian menggerus keberadaan tradisi lisan dan praktik budaya lokal, penelitian ini menjadi upaya strategis dalam pelestarian dan pendokumentasian pengetahuan tradisional agar tidak punah. Selain itu, penelitian ini juga dapat mengidentifikasi perubahan dan adaptasi yang terjadi dalam praktik Tari Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 151-167 Sandar, mengungkap faktor-faktor yang memengaruhinya, serta melihat bagaimana respons masyarakat dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai sakral tersebut di tengah dinamika zaman. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma naturalistik untuk memahami fenomena Tari Sandar di Pura Luhur Ulun Swi. Desa Adat Seseh secara mendalam melalui pengalaman langsung, wawancara, observasi, dan studi pustaka. Lokasi penelitian dipilih di Desa Adat Seseh. Kecamatan Mengwi. Kabupaten Badung karena keunikan tradisi Tari Sandar serta ketersediaan informan yang relevan (Ratna, 2. Data yang digunakan adalah data kualitatif yang diperoleh dari sumber primer, berupa hasil observasi partisipatif dan wawancara dengan tokoh adat, pemangku, seniman tari, dan masyarakat terkait, serta data sekunder yang berasal dari literatur, artikel, dan dokumen pendukung. Peneliti berperan sebagai instrumen utama, dibantu pedoman wawancara, alat perekam, dan catatan lapangan (Moleong. Informan ditentukan melalui teknik purposive sampling untuk memilih tokoh kunci, dan snowball sampling untuk menjaring penari dan pelaku seni Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif terhadap pementasan dan persiapan Tari Sandar, wawancara tak terstruktur, dokumentasi foto, video, dan audio, serta studi pustaka dari literatur seni pertunjukan dan ritual Bali. Analisis data menggunakan model interaktif Miles & Huberman yang meliputi reduksi data untuk memfokuskan informasi penting, penyajian data dalam bentuk uraian naratif dan dokumentasi visual, serta penarikan kesimpulan yang diverifikasi untuk memastikan akurasi (Sugiyono, 2. Hasil analisis disajikan secara formal dalam bentuk tabel, diagram, atau gambar, dan secara informal dalam narasi deskriptif untuk memberikan gambaran sistematis mengenai Tari Sandar (Sudaryanto, 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Makna Semiotika Gerak Tari Sandar Dalam Tari Sandar, gerak tubuh penari, arah pandangan mata . , posisi tangan . , serta dinamika kaki dan irama tubuh secara keseluruhan, berfungsi sebagai tanda nonverbal yang menyampaikan pesan Gerakan ini merepresentasikan tindakan atau narasi dalam tari yang menjadi media komunikasi simbolik yang membawa pesan moral dan Oleh karena itu, setiap unsur gerak dalam Tari Sandar dapat dianalisis sebagai bagian dari sistem tanda yang menyampaikan makna secara eksplisit maupun implisit. Gerak dalam Tari Sandar tetap mempertahankan struktur Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 151-167 dasar Tari Telek, seperti pola gerak frontal, gestur tangan yang lembut namun bertenaga, serta penekanan pada pakem tapel yang digunakan. Namun, yang menjadi menarik untuk dikaji adalah bagaimana struktur dasar ini kemudian dibaurkan dengan kehadiran tokoh-tokoh lainnya. Misalnya, karakter Jauk Kembar membawa energi gerak yang lebih agresif dan kontrastif dibandingkan kelembutan karakter utama penari Telek. Demikian pula Topeng Kelek dan Topeng Tua menghadirkan dinamika gerak yang menambah warna dramatik, serta menyumbang pesan-pesan moral dan sosial yang lebih kompleks. Dalam kerangka teori semiotika Roland Barthes, pendekatan analisis dua tahap atau two orders of signification menjadi landasan penting dalam menafsirkan makna yang dikandung oleh setiap elemen gerak dalam Tari Sandar. Tatanan pertama yaitu denotasi akan mengulas makna literal dari gerakan, seperti arah gerak tangan, ekspresi wajah, atau perubahan posisi Sementara itu, tatanan kedua yaitu konotasi akan menggali maknamakna yang tersembunyi di balik gestur tersebut, seperti nilai-nilai kearifan lokal, pesan spiritual, atau refleksi etika masyarakat Bali yang hidup dalam pertunjukan tari tersebut. Lebih jauh lagi, lapisan konotatif ini dapat memunculkan konstruksi mitos, sebagaimana dijelaskan oleh Barthes, yaitu AuKetika suatu tanda memiliki makna tersirat, makna tersebut akan mengarahkan pada pembentukan narasi kolektif masyarakatAy. Dalam hal ini, pemaknaan tentang perlindungan desa, kekuatan spiritual, atau representasi nilai-nilai kesucian yang diwujudkan melalui tokoh-tokoh tari yang berkesinambungan dalam pertunjukan Tari Sandar. Oleh sebab itu, analisis terhadap Tari Sandar bersifat deskriptif dan interpretatif terhadap sistem tanda dan makna yang dikandungnya dalam kerangka sosial, budaya, dan religius masyarakat Bali khususnya masyarakat di Desa Adat Seseh. Analisis Pesan Moral Denotasi Tari Sandar Dalam kajian semiotika Roland Barthes, makna denotasi dipahami sebagai tingkatan pertama dalam proses penandaan yang bersifat langsung dan Dalam konsep two orders of signification yang dikemukakan oleh Roland Barthes, makna denotatif merupakan tahap pertama dalam sistem penandaan. Tahap ini menunjukkan hubungan langsung antara penanda . , yaitu bentuk atau tampilan fisik tanda, dan petanda . , yaitu makna yang dirujuk secara objektif. Berdasarkan pemaparan konsep tersebut, peneliti akan menguraikan bentuk makna denotatif yang terkandung dalam Tari Sandar di Pura Luhur Ulun Swi, khususnya berkaitan dengan pesan moral yang ditampilkan melalui gerak dan unsur pertunjukannya. Analisis akan difokuskan pada tataran Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 151-167 pertama semiotika Barthes, yakni penanda dan petanda yang tampil secara langsung dalam pertunjukan. Beberapa ciri khas dalam struktur pertunjukan seperti karakteristik gerak dari tokoh Sandar, kehadiran tokoh Jauk Kembar. Topeng Kelek, dan Topeng Tua akan dibahas lebih lanjut sebagai unsur-unsur yang memiliki fungsi penanda dan membentuk makna denotatif yang dapat ditangkap oleh penonton secara kasat mata. Melalui pendekatan ini, pemaknaan terhadap nilai moral dalam Tari Sandar akan dikaji secara mendalam berdasarkan hubungan nyata antara tampilan visual dan nilai-nilai yang ingin disampaikan oleh pertunjukan tersebut. Tabel 1. Analisis Tataran Pertama Semiotika Roland Barthes Gambar 1. Ngotes Oncer Gelungan Penari Sandar Dokumentasi : Ananta Wira . Penanda Petanda Gerakan tangan penari Simbol penghormatan terhadap kesucian menyentuh benang putih benang kemong sebagai pengikat spiritual, . ncer/benang kemon. pada lambang kemurnian pikiran, ketulusan gelungan secara halus dan bakti, penyucian diri, keheningan batin, dilakukan dan penyatuan dengan kekuatan sakral. serempak oleh empat penari Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 151-167 Gambar 2. Gerakan Metaruman Penari Sandar Dokumentasi : Ananta Wira. Penanda Petanda Dua penari Sandar bergerak Melambangkan melakukan keharmonisan gerakan malpal serentak menyama braya sebagai wujud keterikatan kepala spiritual, budaya, dan sosial antara berlawanan, menciptakan penari dan masyarakat. harmoni dan dinamika Gambar 3. Gerakan Ngrajeg Wibawa Penari Sandar Dokumentasi : Ananta Wira. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 151-167 Penanda Dua melakukan ngenjet sambil perlahan, sementara dua lainnya berdiri melakukan malpal dengan kipas secara tegas, membentuk kontras gerak yang tetap harmonis. Petanda Simbol peneguhan posisi dan otoritas yang menjaga keseimbangan ruang sakral desa, ditunjukkan melalui sikap tubuh terkontrol sebagai kesiapan spiritual menyambut penjaga atau pelindung niskala. Gambar 4. Penangkilan Jauk Kembar Dokumentasi : Ananta Wira. Penanda Petanda Empat penari malpal sambil Simbol penyambutan tokoh Jauk Kembar menuju sebagai penjaga keseimbangan dan Barong Ket, lalu mesile keharmonisan, berlandaskan konsep . dengan tangan di nyegara gunung yang merepresentasikan kaki seolah menyambut keterpaduan spiritual dan hubungan kedatangan penari Jauk sekalaAeniskala. Kembar. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 151-167 Gambar 5. Gerakan Gandang Arep Sandar Dokumentasi : Ananta Wira. Penanda Petanda Dua penari Jauk Kembar Simbol pemanggilan dan pembukaan gerakan ruang komunikasi spiritual dari alam gandang-gandang disertai manusia (Bhu. ke alam tengah (Bwa. , tanjek ke arah depan penari menandai akan hadirnya tokoh atau Sandar. kekuatan sakral berikutnya. Gambar 6. Penangkilan Topeng Kelek dan Topeng Tua Dokumentasi : Ananta Wira. Penanda Petanda Dua penari Jauk Kembar Simbol peran Jauk Kembar sebagai duduk mesila dengan tubuh penetralisir yang menjaga harmoni Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 151-167 tegak dan tangan di kaki, kosmik antara Betara Wisnu. Brahma, menunggu dan menyambut dan Siwa, sekaligus penghubung dunia Topeng Kelek serta Topeng manusia dengan dunia para dewa. Tua. Gambar 7. Agem Ngarep Sandar Dokumentasi : Ananta Wira. Penanda Petanda Setelah Jauk Simbol tugas spiritual Topeng Kelek Kembar. Topeng Kelek (Betara Brahm. untuk menetralkan malpal mendekati pusat energi pertunjukan sebagai bentuk keharmonisan, dengan Topeng Tua kepada sebagai pengawas yang memastikan Sandar, sementara Topeng keseimbangan sesuai nilai-nilai para Tua dari dewa. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 151-167 Gambar 8. Gerakan Nyogroh Sandar Dokumentasi : Ananta Wira. Penanda Petanda Topeng Kelek. Topeng Tua. Simbol Jauk Kembar menetralkan melakukan malpal sesuai mencerminkan masing-masing, penyeimbangan bergerak mendekati Sandar kesatuan peran seluruh tokoh. Topeng Tua mengawasi dari belakang. Gambar 9. Gerakan Nuding Sandar Dokumentasi : Ananta Wira. Penanda Petanda Topeng Kelek melakukan Simbol dimulainya proses pembersihan dengan energi negatif desa, menandai AuperangAy Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 151-167 tangan menunjuk langsung melawan ke Sandar sebagai bentuk memulihkan dan keharmonisan. Gambar 10. Gerakan Siat Kober Dokumentasi : Ananta Wira. Penanda Petanda Jauk Kembar. Topeng Simbol pertarungan kosmis DharmaKelek. Sandar Adharma untuk menetralisir energi berhadapan dalam formasi negatif desa, dengan Topeng Tua sebagai AupeperanganAy spiritual penyalur harmoni. Menjadi ciri khas dengan kain kober sebagai kesakralan Tari Sandar dan momen penanda visual, sementara tedun-nya sesuhunan menyaksikan ritus Topeng Tua berjalan pemurnian. Analisis Pesan Moral (Konotasi ) Semiotika Roland Barthes pada Tari Sandar Dari hasil pengamatan terhadap pertunjukan Tari Sandar, dapat diidentifikasi sejumlah pesan moral yang disampaikan melalui makna Pertama, keseimbangan antara baik dan buruk tercermin dalam gerakan Siat Kober, yaitu adegan pertarungan antara tokoh Sandar. Gelek, dan Jauk Kembar. Meskipun tampak sebagai konflik fisik, pertarungan ini justru merepresentasikan dinamika kosmis antara Dharma dan Adharma. Gerak tersebut bukan sekadar simbol peperangan, melainkan cerminan dari nilai moral masyarakat tentang pentingnya menjaga harmoni dalam kehidupan. Kedua, pentingnya ketulusan dan pengabdian dapat dilihat dari kehadiran tokoh Topeng Tua yang tidak terlibat langsung dalam pertarungan, tetapi justru Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 151-167 berjalan tenang di sekitar arena. Ia tidak menunjukkan dominasi, melainkan menjadi sosok penyeimbang yang merepresentasikan kebijaksanaan dan pengawasan spiritual. Tokoh ini menggambarkan bahwa dalam menghadapi kekacauan, diperlukan sikap batin yang tenang, penuh pengabdian, dan tidak Ketiga, perlunya kerja sama dalam menjaga keharmonisan desa ditunjukkan melalui koordinasi gerak antara tokoh Jauk Kembar. Topeng Kelek, dan Sandar. Setiap tokoh memiliki karakter dan peran masing-masing, namun semuanya saling melengkapi dan bergerak dalam kesatuan. Hal ini menjadi simbol bahwa kesejahteraan masyarakat hanya dapat tercapai melalui sinergi berbagai unsur, bukan dari satu kekuatan tunggal. Keempat, penghormatan terhadap kekuatan spiritual dan leluhur juga menjadi pesan penting dalam pementasan ini. Pementasan dilakukan di Pura Luhur Ulun Swi, dan diyakini disaksikan oleh sesuhunan yang melinggih di pura tersebut secara niskala. Maka, setiap gerak, atribut, dan prosesi memiliki nilai sakral, sebagai bentuk persembahan kepada kekuatan spiritual. Kelima, kesadaran akan siklus kehidupan tersirat melalui karakterisasi tokoh. Topeng Kelek merepresentasikan kekuatan dan semangat yang membara. Jauk Kembar sebagai penjaga keseimbangan, dan Topeng Tua melambangkan kebijaksanaan akhir hayat. Komposisi ini mengajarkan bahwa hidup berjalan dalam lingkaran: dari kelahiran, pertumbuhan, hingga kematian, dan bahwa setiap fase memiliki makna yang perlu dijalani dengan penuh kesadaran. Ideologi (Mito. Tari Sandar Dalam teori semiotika Roland Barthes, mitos adalah bentuk tanda tingkat kedua yang mengandung ideologi budaya, dan menjadi bagian dari cara masyarakat memahami dunia melalui simbol dan praktik yang diwariskan. Mitos terwujud dalam bentuk praktik ritual, simbol-simbol upacara, dan kepercayaan kolektif yang dijalankan oleh komunitas secara turun-temurun. Dalam konteks ini. Tari Sandar yang dipentaskan di Pura Luhur Ulun Swi. Desa Adat Seseh, merupakan manifestasi budaya sakral yang mengandung lapisan-lapisan tanda yang dapat dianalisis secara mitologis. Tahapan awal yang menunjukkan hadirnya mitos adalah proses nyanyan, yaitu ritual untuk menentukan penari yang layak membawakan Tari Sandar. Proses ini dilakukan secara spiritual di jeroan pura dan melibatkan pemangku serta krama desa untuk Aumeminta petunjukAy kepada niskala siapa yang akan di jadikan penari Sandar. Masyarakat percaya bahwa yang dipilih melalui proses ini bukan karena keahlian semata, melainkan karena telah ditunjuk oleh kekuatan gaib yang bersemayam di pura. Setelah penari ditunjuk, ia akan menjalani prosesi pawintenan, yaitu proses penyucian diri secara spiritual untuk mempersiapkan tubuh, pikiran, dan jiwa menjadi media persembahan. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 151-167 Pawintenan ini melibatkan penggunaan air suci, tirta pengelukatan, dan pengulapan simbolik melalui mantra-mantra yang dilantunkan oleh Prosesi ini mengukuhkan bahwa penari yang bersangkutan secara spiritual telah sah dan siap menjadi perantara bagi Ida Betara yang akan AunyuratangAy atau menyatu saat pertunjukan. Selanjutnya, setelah upacara pementasan selesai, penari diberikan banten penguleman, yaitu banten persembahan yang berisi simbol-simbol perlindungan dan pemeliharaan Banten penguleman diberikan kepada penari untuk dibawa pulang sebagai bentuk AupengulemanAy atau sambutan dari Betara yang telah bersatu dengannya, agar energi sakral tetap menyertainya dalam kehidupan seharihari. Hal ini menunjukkan adanya keyakinan mendalam bahwa pertunjukan Tari Sandar bukan hanya terjadi di ranah sekala . , tetapi juga menyangkut relasi spiritual antara manusia dengan kekuatan ilahiah yang diyakini hadir dalam prosesi tersebut. Keyakinan semacam ini memperkuat pemahaman bahwa Tari Sandar menyimpan sistem kepercayaan dan simbolisme yang kompleks, di mana seluruh rangkaian ritual tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dalam kerangka nilai-nilai adat dan Dalam praktik masyarakat Desa Adat Seseh, salah satu bentuk konkret keyakinan tersebut tampak pada pelaksanaan nawur sesangi, yaitu sebuah kewajiban spiritual untuk menepati janji kepada niskala. Pelaksanaan nawur sesangi juga menjadi bagian penting dalam struktur mitos Tari Sandar. Nawur sesangi berarti menepati janji spiritual yang pernah diucapkan kepada niskala. Praktik ini dapat dianalisis sebagai mitos karena: Ia lahir dari keyakinan bahwa janji kepada niskala bersifat mengikat dan wajib ditepati. Ia dijalankan sebagai bagian dari pengembalian utang spiritual . arma rn. atas pertolongan atau permohonan yang dikabulkan. Masyarakat meyakini bahwa jika sesangi tidak ditepati, dapat membawa akibat buruk secara sekala maupun niskala. Beberapa contoh nyata yang memperlihatkan praktik nawur sesangi antara lain: masyarakat yang pernah mengalami sakit keras dan sembuh setelah memohon kepada Ida Sesuhunan ring Pura Luhur Ulun Swi, kemudian menggelar Tari Sandar sebagai bentuk penepatan janji. atau keluarga yang merasa usahanya lancar setelah berjanji akan melaksanakan tari ini dan kemudian memenuhi janjinya sebagai bentuk bakti. Dengan pendekatan semiotika Roland Barthes, analisis terhadap Tari Sandar tidak cukup hanya pada tataran denotasi dan konotasi. Penjabaran mitos yang melekat pada tarian ini membuka ruang pemahaman yang lebih Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 151-167 dalam terhadap bagaimana masyarakat Seseh membangun, memelihara, dan mentransmisikan kepercayaan melalui praktik ritual. Mitos-mitos dalam Tari Sandar meliputi kepercayaan bahwa penari dipilih secara niskala melalui proses nyanyan, bahwa kekuatan spiritual menyatu melalui pawintenan, bahwa perlindungan gaib menyertai melalui banten penguleman, serta bahwa janji spiritual seperti nawur sesangi harus ditepati agar kehidupan berjalan selaras. Keseluruhan sistem tanda ini menunjukkan bahwa Tari Sandar sebagai bentuk pertunjukan manifestasi ideologi spiritual yang hidup dan dihayati oleh masyarakat secara kolektif. KESIMPULAN Tari Sandar merupakan salah satu bentuk tari sakral yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan masyarakat Desa Adat Seseh. Kecamatan Mengwi. Kabupaten Badung. Keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari sistem kepercayaan dan praktik adat yang dijalankan secara turun-temurun, terutama dalam rangkaian upacara Piodalan di Pura Luhur Ulun Swi. Tari ini diyakini muncul setelah masa keruntuhan Kerajaan Mengwi dan menjadi bagian penting dalam upaya pemulihan spiritual serta perlindungan niskala terhadap wilayah desa. Dari segi bentuk. Tari Sandar tergolong dramatari karena memiliki struktur pementasan yang berpola dan disertai lakon. Tokoh utama bernama Sandar berperan sentral dalam jalannya pertunjukan, yang berinteraksi dengan tokoh-tokoh pendukung seperti Jauk Kembar. Topeng Kelek, dan Topeng Tua. Pementasan ditampilkan melalui penggunaan tapel, tata rias, dan busana khas, serta diiringi oleh barungan Gamelan Gong Kebyar. Seluruh unsur tersebut membentuk satu kesatuan pertunjukan yang khas dan menjadi bagian tak terpisahkan dari struktur piodalan di Pura Luhur Ulun Swi. Makna dari Tari Sandar dapat dijabarkan ke dalam tiga lapisan yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Pada tataran denotatif, makna terlihat melalui simbol-simbol visual seperti waarna tapel penari Sandar yang merepresentasikan kekuatan dewa-dewa sebagai lambang keseimbangan dan penciptaan dalam sistem kepercayaan masyarakat Hindu. Secara konotatif, makna muncul melalui adegan seperti Siat Kober yang merefleksikan pertarungan antara dharma dan adharma. Sementara itu, pada tataran mitos. Tari Sandar dipercaya memiliki kekuatan sebagai pelindung Desa Adat Seseh. Pada tataran mitos, makna Tari Sandar terlihat melalui prosesi naur sesangi, yaitu janji suci dari warga yang telah menerima pewangsulan untuk mewujudkan pertunjukan ini. Naur sesangi menjadi penanda kepercayaan masyarakat bahwa Tari Sandar adalah bentuk pengabdian sakral dan pelindung Desa Adat Seseh. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 151-167 Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan. Tari Sandar merupakan representasi nyata dari kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Bali khususnya Desa Adat Seseh. Kecamatan Mengwi. Kabupaten Badung. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadikan tari ini sebagai warisan budaya, sebagai simbol ketahanan tradisi dan ekspresi kepercayaan masyarakat terhadap alam dan kekuatan tak kasatmata. Eksistensinya hingga kini menunjukkan bahwa Tari Sandar senantiasa dijaga kelestariannya sebagai bagian penting dari sistem budaya Desa Adat Seseh. DAFTAR PUSTAKA