26 PENGARUH EKSTRAK MIMBA (Azedirachta indic. SEBAGAI PESTISIDA NABATI TERHADAP JAMUR ANTRAKNOSA ASAL CABAI MERAH SECARA IN VITRO Anisa Intan Aprilia Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jl. KH. Ahmad Dahlan. Dusun i. Dukuhwaluh. Kec. Kembaran. Kabupaten Banyumas. Jawa Tengah, 53182. Indonesia email: anisaintanaprilia@gmail. ABSTRAK Penelitian pengaruh ekstrak Mimba (Azedirachta indic. sebagai pestisida nabati terhadap jamur antraknosa asal cabai merah secara in vitro bertujuan untuk membuat salah satu alternative dalam pengendalian penyakit antraknosa asal cabai merah yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum acutatum sebagai pengganti pestisida sintetik dan diharapkan mampu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida sintetik . Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agroteknologi Dasar Fakultas Pertanian dan Laboratorium terpadu Mikrobiologi Fakultas Biologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Kecamatan Kembaran. Kabupaten Banyumas. Pelaksanaan penelitian akan dimulai pada bulan MaretAeJuni 2019. Data yang dikoleksi dalam percobaan ini diringkas dalam bentuk rata-rata dan simpangan baku dengan lima ulangan. Perbedaan rata-rata dari kombinasi perlakuan dianalisis dengan analisis ragam satu arah (One-way analysis of variance/ANOVA). Rata-rata kombinasi perlakukan dibandingkan lebih lanjut dengan uji jarak berganda Duncan (DuncanAos multiple range test/DMRT). Tingkat signifikasi untuk masing-masing uji ditetapkan pada nilai p = 0,05. Normalitas data dievaluasi dengan uji SmirnoffKolmgorov dan homogenitas data dideteksi dengan uji Levene. Data dalam nilai persentase (%) dilakukan transformasi arcsin . untuk memenuhi asumsi heteroskedisitas pada ANOVA (Gava & Pinto, 2. Sedangkan data dalam bentuk lain akan dilakukan transformasi akar kuadrat untuk memenuhi asumsi kenormalan data dan kesamaan ragam masing-masing kombinasi perlakukan (Bonin dkk, 2. Semua uji statistika yang dilakukan dalam tahapan analisis data ini dibantu dengan perangkat lunak SPSS Statistics for Windows, version 25. 0 (SPSS Inc. Chicago. USA) dan PAST 3. 20 (Hammer dkk, 2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak mimba baik dari daun ataupun biji efektif mengendalikan perkembangan Colletotrichum acutatum. Perlakuan dari ekstrak biji mimba pada konsentrasi 15% mampu menghambat 50% pada perkembangan jamur tersebut secara in vitro. Diamana diameter P6 = 4,27 (P0 = 8,. Presentase penghambat pada perlakuan 6 = 49,8 % (P0 = 0,00%) . Sedangkan jumlah spora pada perlakuan 6 = 3,57 x 10 6 (P0 = 9,50 x 10 . Kata kunci : Pestisida nabati. Antraknosa. Cabai merah ABSTRACT Research on the effect of neem extract (Azedirachta indic. as a vegetable pesticide on anthracnose fungus from red chilies in vitro aims to make an alternative in controlling anthracnose from red chilies caused by the fungus Colletotrichum acutatum as a substitute for synthetic pesticides. In addition, this research is also expected to be able to increase awareness of the environment to reduce environmental pollution due to the use of synthetic pesticides. The research was conducted at the Basic Agrotechnology Laboratory. Faculty of Agriculture and Microbiology Integrated Laboratory. Faculty of Biology. Muhammadiyah University. Purwokerto. Kembaran District. Banyumas Regency. The research will begin in MarchAeJune 2019. The data collected in this experiment is summarized in the form of the mean and standard deviation with five replications. The mean difference of the treatment combinations was analyzed by one-way analysis of variance (ANOVA). The mean treatment combinations were further compared with Duncan's multiple range test (DMRT). The significance level for each test was set at p = 0. Data normality was evaluated by Smirnoff-Kolmgorov test and data homogeneity was detected by Levene test. Data in percentage values (%) were transformed by arcsin . to meet the assumption of heteroscedasticity in ANOVA (Gava & Pinto, 2. Meanwhile, data in other forms will be transformed into square roots to meet the assumptions of data normality and similarity of variance for each treatment combination (Bonin et al, 2. All statistical tests performed during the data analysis stage were assisted by SPSS Statistics for Windows software, version 25. 0 (SPSS Inc. Chicago. USA) and PAST 3. (Hammer et al, 2. The results of this study indicate that the concentration of neem extract from either the leaves or the seeds is effective in controlling the development of Colletotrichum acutatum. Treatment of neem seed extract at a concentration of 15% was able to inhibit 50% of the growth of the fungus in vitro. Where the diameter of P6 = 4. 27 (P0 = 8. , the percentage of inhibition in treatment 6 = 49. 8% (P0 = 0. 00%), while the number of spores in treatment 6 = 3. 57 x 106 (P0 = 9 . 50 x . Keywords: Botanical pesticides, anthracnose, red chilies ramah lingkungan perlu dikembangkan salah satunya yaitu dengan menggunakan pestisida nabati karena memang sudah terbukti lebih aman Antraknosa merupakan salah satu penyakit dan dapat menjaga keseimbangan lingkungan tanaman yang menyerang berbagai jenis tanaman (Kardinan,2. Penggunaan pestisida nabati dan menyebabkan kerusakan hasil dan kerugian merupakan salah satu cara untuk mengurangi ekonomi yang sangat signifikan. Penyakit yang pencemaran lingkungan dan harganya relatif murah disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp. jamur ini dibandingkan menggunakan pestisida sintetik dikenal sebagai golongan jamur patogen yang (Kusno, 1. memiliki kisaran inang paling luas, terutama yang Pestisida Nabati yaitu pestisida yang terbuat tumbuh di wilayah tropis (Freeman,et al. ,1. dari bahan yang ada di alam dari bahan-bahan nabati Colletotrichum dapat menginfeksi organ mudah didapatkan yaitu bisa dari tumbuhan atau tanaman seperti pucuk, daun muda, buah, dan bagian dari tumbuhannya seperti : akar, biji , daun Jaringan tanaman yang lunak akan mudah batang atau buah dan untuk pembuatannya bisa terinfeksi penyakit ini ketika masih lunak. Namun dibuat sendiri dengan praktis, bisa dilakukan serangan utama pathogen ini adalah bagian dengan pengetahuan yang ada. Jenis pestisida ini tanaman yang bernilai ekonomis yaitu pada buah mudah terurai karena terbuat dari bahan alami (Dickman, 1. Gejala serangan pada buah juga tidak mencemari lingkungan dan relative ditandai dengan gejala awal berupa bintik-bintik aman digunkan. Salah satu bahan nabati yang ada kecil yang yang berwarna kehitam-hitaman dan di alam yang dapat digunakan sebagai bahan Serangan lanjut pembuatan pestisida nabati adalah tanaman atau mengakibatkan buah mengkerut, kering dan tumbuhan mimba. membusuk (Syamsudin,2. Kerusakan akibat Tanaman mimba (Azedirachta indic. sudah penyakit antraknosa akan berkembang lanjut lama dikenal dan mulai banyak digunakan sebagai selama proses penyimpanan . , pestisida nabati sebagai pengganti pestisida kimia. terutama ketika dalam kondisi yang panas dan Tanaman ini dapat digunakan sebagai insektisida, lembab yang mengakibatkan tanaman yang bakterisida, fungisida, acarisida, nematisida, dan terserang terutama pada buahnya busuk dan virisida. Senyawa aktif yang dikandung terutama Oleh karena itu perlu adanya tindakan terdapat pada bijinya yaitu azadirachtin, meliantriol, yang efektik dan aman untuk mengendalikan salanin, dan nimbin (BPPT, 2. Menurut jamur Debashri dan Tamal . , bagian Tanaman Mimba Colletotrichum sp. yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati adalah Sampai saat ini petani masih sering daun dan bijinya. Ekstrak daun dan biji mimba menggunakan pestisida kimia sintetik sebagai mengandung senyawa aktif utama azadirachtin. upaya pengendalian penyakit antraknosa pada (Tjahjani dan Rahayu, 2. tanaman, namun pemakaian pestisida sintetik Hasil penelitian Ningsih . membuktikan yang kurang bijaksana berdampak negative bahwa ekstrak daun mimba fraksi alkohol 90% dapat terhadap lingkungan, pencemaran residu , hasil menekan diameter koloni dan menghambat jumlah panen, juga bisa membahayakan manusia spora Colletotrichumcapsicisecara Laboratoris. (Mulyani, 1. Tindakan alternatif yang lebih PENDAHULUAN Ekstrak dari daun tanaman mimba. mampu mengendalikan sekitar 127 jenis hama dan berperan sebagai fungisida, bakterisida, antivirus. Analsis data nematisida serta moluskisida (Kardinan, 2. Mengingat pentingnya pengendalian penyakit Data yang dikoleksi dalam percobaan ini antraknosa terhadap tanaman cabai merah, maka diringkas dalam bentuk rata-rata dan simpangan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai baku dengan lima ulangan. Perbedaan rata-rata potensi ekstrak daun dan biji mimba sebagai dari kombinasi perlakuan dianalisis dengan salah satu alternative dalam pengendalian analisis ragam satu arah (One-way analysis of penyakit antraknosa asal cabai merah yang variance/ANOVA). Rata-rata disebabkan oleh jamur Colletotrichum acutatum perlakukan dibandingkan lebih lanjut dengan uji sebagai pengganti pestisida sintetik. Selain itu, jarak berganda Duncan (DuncanAos multiple range penelitian ini juga diharapkan mampu test/DMRT). Tingkat signifikasi untuk masingmeningkatkan kepedulian terhadap lingkungan masing uji ditetapkan pada nilai p = 0,05. untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat Normalitas data dievaluasi dengan uji Smirnoffpenggunaan pestisida sintetik. Kolmgorov dan homogenitas data dideteksi dengan uji Levene. Data dalam nilai persentase BAHAN DAN METODE (%) dilakukan transformasi arcsin . untuk memenuhi asumsi heteroskedisitas pada ANOVA Lokasi penelitian (Gava & Pinto, 2. Sedangkan data dalam Penelitian dilaksanakan di Laboratorium bentuk lain akan dilakukan transformasi akar Agroteknologi Dasar Fakultas Pertanian dan kuadrat untuk memenuhi asumsi kenormalan data Laboratorium terpadu Mikrobiologi Fakultas dan kesamaan ragam masing-masing kombinasi Biologi Universitas Muhammadiyah perlakukan (Bonin dkk, 2. Namun demikian Purwokerto. Kecamatan Kembaran. Kabupaten data yang disajikan dalam hasil tetap dalam bentuk Banyumas. Pelaksanaan penelitian akan dimulai persen dan nilai aslinya (Gava & Pinto, 2. Semua uji statistika yang dilakukan dalam tahapan pada bulan MaretAeJuni 2019. analisis data ini dibantu dengan perangkat lunak Bahan SPSS Statistics for Windows, version 25. 0 (SPSS Bahan yang digunakan pada penelitian ini Inc. Chicago. USA) dan PAST 3. 20 (Hammer dkk, yaitu ekstrak daun dan biji mimba. Potato Dextrose Agar, aquades,alkohol 70%, dan isolat antraknosa. Alat yangdigunakan dalam penelitian ini yaituLaminar Air Flow (LAF) cawan petri, jarum ose, pinset, tabung reaksi, inkubator, gelas ukur, kaca preparat, mikroskop, autoklaf. Bunsen, beaker glas, magnetic stirrer, filler pump, aluminium foil, nampan, plastik wrapping, blender, pisau, pengaduk. Erlenmeyer, masker dan sarung Rancangan percobaan Penelitian ini rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) 1 faktor yang terdiri atas 9 perlakuan masingmasing di ulang 5 kali didapat 45 unit. Perlakuan pada penelitian ini adalah konsentrasi ekstrak daun dan biji mimba yaitu P0 : 0 %. P1 : 5 % daun mimba. P2 : 5% biji mimba. P3 : 10 % daun mimba. P4 : 10 % biji mimba. P5 : 15 % daun mimba. P6 : 15 % biji mimba. P7 : 20 % daun mimba. P8 : 20 % biji mimba. Jumlah Spora Presentase Penghambat (%) Keterangan: : Berbeda nyata. : Tidak Berbeda nyata. Tabel 2 Matrik Hasil Analisis Pengaruh ekstrak mimba (Azedirachta indic. sebagai pestisida nabati terhadap Jamur Antraknosa asal Cabai Merah secara in Diameter Presentase Jumlah Koloni Penghambat Spora 0,002 0,030 8,17 c 0,00 c 7,57 b 11,04 a 7,56 b 11,13 a 6,92 b 18,61 a 7,24 b 14,91 a 7,00 b 17,72 a 4,27 a 49,87 b 7,38 b 11,32 a 6,81 b 20,00 a Perlakuan Hitung 4,738 9,50 x 7,23 x 6,70 x 106 bc 6,24 x 106 bc 6,29 x 106 bc 6,81 x 106 bc 3,57 x 5,62 x 106 ab 4,27 x 106 ab 2 HSI 4 HSI 6 HSI 8 HSI Koloni Diameter . Perlakuan Varieabel Pengamatan No. Hasil analisis statistik dari masing-masing variabel pengamatan yang diamati yaitu pada diameter koloni. Presentase penghambat. Jumlah Tabel 1 Matrik Hasil Analisis Sidik Ragam Pengaruh ekstrak mimba (Azedirachta indic. sebagai pestisida nabati terhadap Jamur Antraknosa asal Cabai Merah secara in vitro. Keterangan: Tabel 2 menunjukan hasil ratarata dan ringkasan hasil analisis dengan perangkat lunak SPSS pada variabel Diameter koloni . Presentase penghambat dan jumlah spora jamur Colletotrichum acutatum penyakit antraknosa asal cabai merah secara in vitro setiap perlakuan dengan berbagai konsentrasi ekstrak daun dan biji mimba setelah 14 Hsi. Pertumbuhan diameter koloni jamur Coletotrichum acutatum pada perlakuan setiap konsentrasi ekstrak daun dan biji mimba menunjukkan nilai rata-rata lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Hal ini karena semakin kecil diameter koloni maka semakin besar efektivitas dari pengaruh ekstrak Coletotrichum Begitupun dengan hasil presentase penghambat mengikuti berdasarkan hasil diameter koloni, ketika hasil rata-rata semakin kecil maka penghambat semakin besar karena adanya pengaruh besar dari ekstrak mimba. Sedangkan pada jumlah spora pada perlakuan kontrol menghasilkan jumlah spora yang lebih tinggi karena tidak adanya antifungi yang menekan pertumbuhan beberapa konsentrasi ekstrak daun dan biji mimba setelah 14 hari setelah inokulasi. Pertumbuhan diameter koloni jamur pada media PDA 14Hsi yang sudah dicampur ekstrak mimba sesuai perlakuan masing-masing. P0 Kontrol . P1 ekstrak daun mimba 5% . P2 ekstrak biji mimba 5% . P3 ekstrak daun mimba 10% . P4 ekstrak biji mimba 10% . P5 ekstrak daun mimba 15% . P6 ekstrak biji mimba 15% . P7 ekstrak daun mimba 20% I) P8 ekstrak biji mimba 20%. DIAMETER KOLONI HASIL DAN PEMBAHASAN 10 HSI 12 HSI 14 HSI UMUR JAMUR Grafik 1 menunjukan hasil rata-rata perkembangan diameter koloni pada Jamur Colletotrichum acutatum setiap dilakukan pengamatan atau setiap 2 hari sekali. Dapat dilihat bahwa pada 2 Hsi rata-rata diameter koloni paling tinggi ditunjukan pada Perlakuan 3 (Ekstrak daun 10% = 1,. Pada 4 Hsi rata-rata diameter koloni paling tinggi ditunjukan pada Perlakuan 3 (Ekstrak daun 10% = 2,. Pada 6 Hsi rata-rata diameter koloni paling tinggi ditunjukan pada Perlakuan 1 (Ekstrak daun 5% = 4,. Pada 8 Hsi rata-rata diameter koloni paling tinggi ditunjukan pada perlakuan 1 (Ekstrak daun 5% = 5,. Pada 10 Hsi rata-rata diameter koloni paling tinggi ditunjukan pada perlakuan kontrol (Tanpa ekstak mimba = 6,. Pada 12 Hsi rata-rata diameter koloni paling tinggi ditunjukan pada perlakuan kontrol (Tanpa ekstrak mimba = 7,. Pada 14 Hsi rata-rata diameter koloni paling tinggi ditunjukan pada (Tanpa ekstrak mimba = 8,. Sedangkan hasil rata-rata diameter koloni paling rendah dari mulai 2 Hsi sampai 14 Hsi ditunjukan pada perlakuan 6 dengan ekstrak biji 15%. Pengaruh ekstrak mimba (Azedirachta terhadapdiameter koloni dan presentase antraknosa asal cabai merah secara in Dari hasil analisis data perlakuan beberapa konsentrasi ekstrak daun dan biji mimba Pada 1 diketahui bahwa pemberian ekstrak daun dan biji mimba pada pertumbuhan Jamur acutatum penyebab antraknosa asal cabai merah dengan berbagai konsentrasi menunjukan hasil berbeda nyata pada variabel diameter koloni dan presentase penghambat. Karena dengan demikian semakin banyak dosis yang diberikan maka kandungan senyawa antifungi dalam ekstrak mimba akan lebih banyak dalam menghambat pertumbuhan koloni jamur Coletotrichum Sesuai dengan pernyataan Gunawan . , bahwa semakin tinggi konsentrasi suatu formulasi maka semakin tinggi pula bahan aktif yang dikandung sehingga kemampuannya dalam menekan patogen akan lebih optimum . Dengan tidak diberikannya ekstrak mimba atau perlakuan kontrol , koloni jamur Coletotrichum acutatum tumbuh dan berkembang dengan baik hingga memnuhi cawan petri disebabkan karena pada perlakuan kontrol . %) tidak terdapat senyawa antifungi, sehingga tidak ada yang berperan sebagai penghambat. Sedangkan dengan pemberian konsentrasi tinggi terlihat koloni jamur terhambat pertumbuhannya. Koloni jamur dengan konsentrasi lain yaitu seperti 5%, 10%, 15% dan 20% terlihat sedikit normal dan juga sedikit terhambat pertumbuhannya. Hal ini disebabkan terjadi reaksi antara senyawa antifungi yang terdapat pada ekstrak daun maupun biji mimba. Pada konsentrasi lebih rendah kurang maksimal daya hambatnya tehadap pertumbuhan jamur dibandingkan dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak mimba yang diberikan diduga kandungan bahan aktif nimbin dan nimbidin semakin banyak dan reaksi yang ditimbulkan semakin kuat. Hal ini jga sesuai dengan pendapat Ruskin . dalam Syamsudin . yang menyatakan bahwa senyawa nimbin dan nimbidin yang terkandung dalam ektstak daun mimba mempunyai efek fungisidal yang lebih tinggi dan menyebabkan konsentrasi >10%. Pada tabel 2 menunjukan hasil rata-rata diameter koloni dan presentase penghambat jamur Coletotrichum acutatum. Dapat dilihat bahwa pada perlakuan 6 yaitu ekstrak biji mimba dengan konsentrasi 15% lebih rendah pada hasil pengamatan diameter koloni dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Hal ini berarti pada perlakuan 6 yaitu ekstrak biji 15% lebih efektif dan lebih baik dalam menekan pertumbuhan jamur dengan presentase penghambat = 49,8% dibandingkan dengan perlakuan 8 dengan ekstrak biji mimba 20% . Hal terserbut diduga karena ekstrak mimba memiliki batas taraf konsentrasi dalam menghambat pertumbuhan diameter koloni jamur Coletotrichum acutatum secara in vitro. Sedangkan pada konsentrasi yang lebih rendah efek penghambatannya juga lebih rendah hal ini disebabkan karena kandungan senyawa yang terkandung lebih sedikit dibandingkan dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Terlihat bahwa semakin tinggi konsentrasi yang diberikan tidak selalu diikuti Coletotrichum acutatum. Hal yang sama dilaporkan oleh Suharjo dan Aeny . yang menyatakan bahwa tingkat konsentrasi 40% ekstrak kasar gulma siam lebih baik dibandingkan dengan konsentrasi 10%, 20%, 30% dan 50% untuk menghambat Phytopthora palmivora secara in vitro. Hal ini diduga efektivitas ekstrak tanaman dalam menghambat pertumbuhan diameter koloni jamur yang efektif tidak selalu dari taraf konsentrasi yang semakin tinggi. Hal ini selaras dengan hasil penelitian Suharjo & Aeny . yang menyatakan bahwa ekstrak kasar gulma jamur C. acutatum diambil dengan cara siam mempunyai batas taraf konsentrasi menuangkan aquades steril 10ml dan kemudian pertumbuhan dikerok menggunakan batang L sehingga didapat Phytopthora palmivora. Hasil ini menguatkan suspensi Selanjutnya dugaan bahwa ekstrak mimba memiliki batas pengenceran berikutnya dan hasil suspensi menghambat diteteskan pada haemocytometer kemudian jamur ditutup dengan kaca objek dan di amati dibawah Coletotrichum acutatum secara in vitro. Ekstrak daun ataupun biji mimba pada Hasil rata-rata konsentrasi yang efektif diduga karena perlakuan dibandingkan lebih lanjut dengan uji mengandung bahan aktif azadirachtin, salanin, jarak bergandan Duncan (DuncanAos multiple melontriol, dan nimbin yaitu suatu senyawa range test/DMRT) menunjukan bahwa perlakuan triterpenoid yang berfungsi sebagai zat aktif ekstrak daun dan biji mimba berbeda nyata yang mengganggu pertumbuhan sel sehingga terhadap jumlah spora Coletotrichum acutatum mengakibatkan sel jamur mati (Zakiah dkk. , pada 14 hsi. Pada tabel 2 menunjukkan jumlah spora Selain itu mimba juga mengandung dihitung disetiap ulangan pada perlakuan untuk belerang yang merupakan salah satu bahan aktif mengetahui perbedaan jumlah spora pada media pembunuh jamur, serta senyawa nimbin yang perlakuan ataupun kontrol. Hasil pengamatan berfungsi sebagai aktivitas antimikroba , jumlah spora secara mikroskopis menunjukan dan antiviral dapat terjadi perbedaan jumlah spora perlakuan menghambat diameter koloni. dengan jumlah spora kontrol. Perlakuan yang Menurut Martoredjo . ekstrak mimba paling efektif terlihat pada perlakuan 6 dengan dapat menurunkan perkecambahan konidium rerata jumlah spora 3,57 x 10 6 artinya kandungan Coletotrichum sehingga dapat menghambat laju ekstrak mimba pada konsentrasi 15% mampu pertumbuhan jamur tersebut. Selain itu ekstrak menghambat pertumbuhan spora. mimba yang mengandung senyawa nimbin dan Jumlah spora jamur Colletotrichum nimbidin menyebabkan efek fungisidal sehingga acutatum pada setiap perlakuan konsentrasi dan ekstrak daun dan biji mimba menghasilkan perkembangan jamur (Ruskin, 1993 dalam jumlah yang berbeda-beda. Pada perlakuan Syamsudin 2. kontrol tanpa pemberian ekstrak mimba rerata Data di atas menunjukkan bahwa dengan jumlah sporanya yaitu 9,50 x 10 6 spora/ml. peningkatan konsentrasi ekstrak mimba yang Sedangkan pada pemberian ekstrak mimba lebih diberikan, presentase penghambat terhadap tinggi menghasilkan rerata jumlah spora lebih pertumbuhan koloni jamur C. acutatum juga sedikit . semakin besar. Kardinan 2005 dalam Emi Minarni Pada perlakuan kontrol menghasilkan . menyatakan bahwa meningkatnya jumlah spora lebih banyak hal ini disebabkan kandungan bahan aktif dalam zat tersebut yang tidak ada campuran ekstrak mimba sebagai berfungsi sebagai pestisida yang mampu membunuh antifungi dalam menghambat pertumbuhan dalam jumlah besar. Hal ini dapat dihubungkan jamur, sama halnya dengan diameter koloni dan dengan pertumbuhan diameter koloni, dimana presentase penghambat yang dihasilkan semakin besar konsentrasi ekstrak yang diberikan perlakuan kontrol. Ketika diameter koloninya maka rerata pertumbuhan diameter koloni semakin menghasilkan lebih tinggi artinya tidak terjadi Semakin kecilnya diameter koloni yang penghambat pada pertumbuhan jamur perlakuan dihasilkan berarti telah terjadi penghambatan pada kontrol dan jumlah spora yang dihasilkan akan pertumbuhan jamur C. lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan Pengaruh ekstrak mimba (Azedirachta yang telah dicampur ekstrak mimba. Ekstrak mimba umumnya dimanfaatkan terhadap Jumlah spora jamur sebagai sumber pestisida yang diketahui antraknosa asal cabai merah secara in mengandung antibakteri dan anti jamur terhadap Jumlah spora jamur C. acutatum dihitung menghambat pertumbuhan spora dari Fusarium dengan cara mengambil semua spora yang tumbuh pxysforum dan Colletotrichum lindemuthianum pada cawan petri dalam setiap ulangan. Spora (Usha, 2. Penurunan jumlah spora pada perlakuan perlakuan 6 = 3,57 x 10 6 (P0 = 9,50 x 10 6. dengan ekstrak mimba diduga karena kualitas miselium sudah dirusak terlebih dahulu oleh DAFTAR PUSTAKA senyawa-senyawa yang terkandung dalam ekstrak daun atau biji mimba, terjadinya penekanan sehingga miselium tersebut tidak Affandi, 2005. Pengenalan dan Pengendalian OPT Pascapanen Tanaman Buah. Makalah. mampu menghasilkan spora yang lebih banyak. disampaikan pasa Pertemuan Penyusunan Hal ini sangat menguntungkan karena spora Pedoman Pengendalian OPT merupakan alat penyebaran patogen yang paling Pascapanen Tanaman Hortikultura. Bogor. Alex. Usaha Tani Cabai: Kiat Jitu Pengaruh ekstrak mimba (Azedirachta Bertanam Cabai di Segala Musim. Pustaka